Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel Kehadiran (X1) dan IQ (X2) terhadap Nilai Uas (Y) yang menggunakan metode regresi linier berganda. Model ini digunakan untuk melihat seberapa besar kontribusi kedua variabel independen dalam menjelaskan variasi nilai yang diperoleh siswa.
IQ <- c(110,120,115,130,110,120,120,125,110,120)
Kehadiran <- c(60,70,75,80,80,90,95,95,100,100)
Nilai <- c(65,70,75,75,80,80,85,95,90,98)
data <- data.frame(Kehadiran, IQ, Nilai)
data
## Kehadiran IQ Nilai
## 1 60 110 65
## 2 70 120 70
## 3 75 115 75
## 4 80 130 75
## 5 80 110 80
## 6 90 120 80
## 7 95 120 85
## 8 95 125 95
## 9 100 110 90
## 10 100 120 98
Data ini terdiri dari 10 observasi dengan variasi nilai kehadiran, IQ dan Nilai UAS. Dapat dilihat bahwa semakin tinggi kehadiran, nilai cenderung meningkat, sedangkan IQ perlu dianalisis lebih lanjut melalui model.
#REGRESI LINIER BERGANDA (MANUAL)
X <- cbind(1, Kehadiran, IQ)
Y <- as.matrix(Nilai)
beta <- solve(t(X) %*% X) %*% t(X) %*% Y
beta
## [,1]
## 23.0544545
## Kehadiran 0.7372330
## IQ -0.0343275
Berdasarkan hasil perhitungan manual diperoleh persamaan regresi linier berganda dalam bentuk Ŷ = β0 (23.0545) + β1X1 (0.7372) + β2X2 (-0.0343). Nilai intercept sebesar 23.0545 menunjukkan nilai dasar ketika Kehadiran dan IQ bernilai nol (meskipun secara praktis kondisi ini tidak terjadi, tetapi tetap penting sebagai titik awal model).Koefisien Kehadiran bernilai positif (0.7372), artinya setiap peningkatan 1 satuan kehadiran akan meningkatkan Nilai UAS sebesar 0.7372 poin, dengan asumsi IQ konstan.Koefisien IQ bernilai negatif (-0.0343), yang menunjukkan bahwa peningkatan IQ justru sedikit menurunkan nilai, namun perlu diuji lebih lanjut apakah efek ini signifikan atau tidak.
#Prediksi dan Residual
Y_pred <- X %*% beta
residual <- Y - Y_pred
Y_pred
## [,1]
## [1,] 63.51241
## [2,] 70.54147
## [3,] 74.39927
## [4,] 77.57052
## [5,] 78.25707
## [6,] 85.28613
## [7,] 88.97229
## [8,] 88.80065
## [9,] 93.00173
## [10,] 92.65846
residual
## [,1]
## [1,] 1.4875890
## [2,] -0.5414662
## [3,] 0.6007312
## [4,] -2.5705215
## [5,] 1.7429286
## [6,] -5.2861266
## [7,] -3.9722917
## [8,] 6.1993458
## [9,] -3.0017318
## [10,] 5.3415432
Hasil prediksi menunjukkan nilai estimasi dari model regresi, sedangkan residual merupakan selisih antara nilai aktual dan nilai prediksi. Nilai residual yang relatif kecil mengindikasikan bahwa model mampu mendekati data aktual dengan cukup baik.
#Koefisien Determinasi (R^2)
SST <- sum((Y - mean(Y))^2)
SSE <- sum(residual^2)
SSR <- SST - SSE
R2 <- SSR / SST
R2
## [1] 0.8719029
Dari hasil perhitungan diperoleh nilai R² sebesar 0.8719, artinya Sebesar 87.19% variasi Nilai UAS dapat dijelaskan oleh variabel Kehadiran dan IQ secara bersama-sama. Sisanya sebesar 12.81% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model, seperti motivasi belajar, metode pengajaran, atau faktor eksternal lainnya. Nilai ini menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan penjelasan yang sangat kuat.
#Uji F (Simultan)
n <- length(Y)
k <- 2
MSR <- SSR / k
MSE <- SSE / (n - k - 1)
F_hitung <- MSR / MSE
F_hitung
## [1] 23.82303
Nilai F hitung sebesar 23.823. Nilai F hitung yang cukup besar menunjukkan bahwa secara simultan variabel Kehadiran dan IQ berpengaruh terhadap Nilai UAS. Hal ini mengindikasikan bahwa model regresi yang dibangun layak digunakan untuk menjelaskan hubungan antar variabel.
#Uji t (Parsial)
sigma2 <- MSE
var_beta <- sigma2 * solve(t(X) %*% X)
se_beta <- sqrt(diag(var_beta))
t_hitung <- beta / se_beta
t_hitung
## [,1]
## 0.9015644
## Kehadiran 6.7524718
## IQ -0.1556715
Variabel Kehadiran memiliki nilai t (6.7525) yang sangat besar, sehingga dapat disimpulkan bahwa Kehadiran berpengaruh signifikan terhadap Nilai UAS. Variabel IQ memiliki nilai t yang sangat kecil (-0.1557 / mendekati nol), sehingga dapat disimpulkan bahwa IQ tidak berpengaruh signifikan terhadap Nilai UAS dalam model ini.
#REGRESI LINIER BERGANDA MENGGUNAKAN FUNCTION DALAM R
model <- lm(Nilai ~ Kehadiran + IQ, data = data)
summary(model)
##
## Call:
## lm(formula = Nilai ~ Kehadiran + IQ, data = data)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -5.2861 -2.8939 0.0296 1.6791 6.1993
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 23.05445 25.57161 0.902 0.397247
## Kehadiran 0.73723 0.10918 6.752 0.000264 ***
## IQ -0.03433 0.22051 -0.156 0.880686
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 4.346 on 7 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.8719, Adjusted R-squared: 0.8353
## F-statistic: 23.82 on 2 and 7 DF, p-value: 0.0007523
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai koefisien yang diperoleh konsisten dengan perhitungan sebelumnya. Nilai signifikansi yang dihasilkan menunjukkan bahwa variabel yang memiliki nilai lebih kecil dari 0,05 dapat dikatakan berpengaruh signifikan terhadap Nilai.
#Uji Normalitas
shapiro.test(residuals(model))
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: residuals(model)
## W = 0.95125, p-value = 0.6833
Nilai signifikansi sebesar 0.6833 menunjukkan bahwa data residual berdistribusi normal karena nilainya lebih besar dari 0,05.
#Uji Multikolinearitas
library(car)
## Loading required package: carData
vif(model)
## Kehadiran IQ
## 1.055571 1.055571
Nilai VIF < 10 menunjukkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas antar variabel independen. Artinya, Kehadiran dan IQ tidak saling mempengaruhi secara kuat.
#Uji homoskedastisitas
plot(model, which = 3)
Pola sebaran residual yang acak menunjukkan bahwa varians residual
bersifat konstan (homoskedastisitas terpenuhi), sehingga model tidak
mengalami masalah heteroskedastisitas.
#Autokolerasi
library(lmtest)
## Warning: package 'lmtest' was built under R version 4.5.3
## Loading required package: zoo
##
## Attaching package: 'zoo'
## The following objects are masked from 'package:base':
##
## as.Date, as.Date.numeric
dwtest(model)
##
## Durbin-Watson test
##
## data: model
## DW = 2.594, p-value = 0.8013
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0
Nilai statistik Durbin-Watson yang mendekati 2 menunjukkan bahwa tidak terdapat autokorelasi antar residual.
#Kesimpulan Hasil analisis menunjukan bahwa model regresi yang terbentuk mampu menjelaskan 87.19% variasi Nilai UAS, dengan Kehadiran sebagai faktor berpengaruh positif dan signifikan, sementara IQ tidak menunjukan pengaruh yang berarti. Temuan ini menegaskan bahwa dalam konteks data yang dianalisis, kehadiran siswa menjadi kunci utama dalam menentukan hasil belajar jauh malampaui peran IQ.