Prestasi akademik siswa tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari diri sendiri maupun dari luar. Pada studi kasus kali ini, diberikan dua faktor, yaitu kecerdasan intelektual serta tingkat kehadiran siswa dikelas. IQ merepresentasikan kemampuan kognitif siswa dalam memahami materi, mengolah informasi, serta menyelesaikan permasalahan secara logis. Sementara itu, tingkat kehadiran mencerminkan seberapa aktif dan konsisten siswa terlibat dalam proses pembelajaran serta interaksi di dalam kelas.
Diberikan data tentang IQ dan tingkat kehadiran sepuluh siswa di kelas yang diperkirakan mempengaruhi nilai UAS.
# Input data
kehadiran <- c(60,70,75,80,80,90,95,95,100,100)
IQ <- c(110,120,115,130,110,120,120,125,110,120)
nilai <- c(65,70,75,75,80,80,85,95,90,98)
# Gabungkan jadi data frame
data <- data.frame(kehadiran, IQ, nilai)
# Tampilkan data
data## kehadiran IQ nilai
## 1 60 110 65
## 2 70 120 70
## 3 75 115 75
## 4 80 130 75
## 5 80 110 80
## 6 90 120 80
## 7 95 120 85
## 8 95 125 95
## 9 100 110 90
## 10 100 120 98
## INPUT DATA
kehadiran <- c(60,70,75,80,80,90,95,95,100,100)
IQ <- c(110,120,115,130,110,120,120,125,110,120)
nilai <- c(65,70,75,75,80,80,85,95,90,98)
## BENTUK MATRIKS X dan Y
X <- cbind(1, kehadiran, IQ)
Y <- matrix(nilai, ncol = 1)
# 1. Hitung Beta Manual
Xt <- t(X)
Xt## [,1] [,2] [,3] [,4] [,5] [,6] [,7] [,8] [,9] [,10]
## 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
## kehadiran 60 70 75 80 80 90 95 95 100 100
## IQ 110 120 115 130 110 120 120 125 110 120
## kehadiran IQ
## 10 845 1180
## kehadiran 845 73075 99900
## IQ 1180 99900 139650
## kehadiran IQ
## 34.62208967 -0.0188185492 -0.2790840870
## kehadiran -0.01881855 0.0006311333 -0.0002924764
## IQ -0.27908409 -0.0002924764 0.0025745622
## [,1]
## 813
## kehadiran 69925
## IQ 96060
## [,1]
## 23.0544545
## kehadiran 0.7372330
## IQ -0.0343275
## (Intercept) kehadiran IQ
## 23.0544545 0.7372330 -0.0343275
Dari hasil di atas, perbandingan antara cara manual dengan menggunakan fungsi lm menghasilkan output yang sama, yaitu: Y = β0 + β1X1 + β2X2 di mana, pada kasus ini menghasilkan Y = -20.XX + 0.7X1 + 0.3X2 yang artinya setiap kenaikan 1% kehadiran, maka nilai UAS yang akan di dapat siswa akan naik sebesar 0.7. Selanjutnya setiap kenaikan 1 poin IQ maka nilai UAS akan meningkat sebesar 0.3. Dari hal ini, dapat dilihat bahwa kehadiran lebih berpengaruh dalam peningkatan nilai UAS dibanding dengan IQ.
## Analysis of Variance Table
##
## Response: nilai
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## kehadiran 1 899.43 899.43 47.6218 0.0002312 ***
## IQ 1 0.46 0.46 0.0242 0.8806861
## Residuals 7 132.21 18.89
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Jika nilai p-value < 0,05, maka model signifikan. dari hasil di atas, diperoleh nilai p-value yang lebih kecil dari 0,05. Sehingga dapat dikatakan bahwa model regresi yang digunakan, yaitu IQ dan kehadiran berpengaruh signifikan terhadap nilai UAS siswa.
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 23.0544545 25.5716101 0.9015644 0.3972467061
## kehadiran 0.7372330 0.1091797 6.7524718 0.0002644133
## IQ -0.0343275 0.2205125 -0.1556715 0.8806860631
Jika nilai p-value < 0,05, maka model signifikan. Pada uji t, kedua variabel menunjukan nilai p-value yang lebih kecil dari 0,05. Sehingga ini menunjukkan bahwa kedua variabel ini berpengaruh signifikan pada nilai UAS siswa.
## [1] 0.8719029
## [1] 0.8353038
Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,8719 menunjukkan bahwa sebesar 87,19% variasi nilai UAS dapat dijelaskan oleh variabel kehadiran dan IQ. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 12,81% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model.
Nilai Adjusted R² sebesar 0,8353 menunjukkan bahwa setelah dilakukan penyesuaian terhadap jumlah variabel dalam model, sebesar 83,53% variasi nilai UAS masih dapat dijelaskan oleh model. Hal ini menunjukkan bahwa model yang digunakan cukup baik.
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: residuals(model)
## W = 0.95125, p-value = 0.6833
Dengan menggunkaan uji Shapiro-Wilk, diperoleh nilai p-value lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa residual berdistribusi normal. Artinya, asumsi normalitas telah terpenuhi.
## Loading required package: carData
## kehadiran IQ
## 1.055571 1.055571
Berdasarkan nilai Variance Inflation Factor (VIF), kehadiran serta IQ memiliki nilai VIF kurang dari 10, artinya tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen dalam model.
## Loading required package: zoo
##
## Attaching package: 'zoo'
## The following objects are masked from 'package:base':
##
## as.Date, as.Date.numeric
##
## studentized Breusch-Pagan test
##
## data: model
## BP = 5.905, df = 2, p-value = 0.05221
Berdasarkan uji Breusch-Pagan yang telah dilakukan, diperoleh nilai p-value lebih besar dari 0,05, ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas, yaitu varians residual bersifat homogen.
##
## Durbin-Watson test
##
## data: model
## DW = 2.594, p-value = 0.8013
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0
Berdasarkan uji Durbin-Watson yang dilakukan, diperoleh nilai p-value lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi pada residual model.
## Warning: package 'car' is in use and will not be installed
Berdasarkan plot diagnostik, dari 4 diagram tersebut terlihat bahwa:
Dengan demikian, model regresi memenuhi asumsi klasik.