Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) adalah rancangan percobaan dimana seluruh perlakuan dicobakan pada setiap kelompok (blok). Blok digunakan untuk mengendalikan keragaman yang berasal dari faktor yang tidak diteliti tetapi mempengaruhi respon.
Tujuan pengelompokan adalah untuk mengurangi galat percobaan sehingga perbandingan antar perlakuan menjadi lebih akurat.
Pada RAKL:
Misalkan:
Jumlah pengamatan:
\[ N = t \times b \]
Contoh layout pengacakan untuk 4 perlakuan dan 5 blok:
| Blok | Plot1 | Plot2 | Plot3 | Plot4 |
|---|---|---|---|---|
| 1 | A | B | C | D |
| 2 | C | A | D | B |
| 3 | B | D | A | C |
| 4 | D | C | B | A |
| 5 | A | C | B | D |
Urutan perlakuan dalam setiap blok ditentukan secara acak.
\[ Y_{ij} = \mu + \tau_i + \beta_j + \epsilon_{ij} \]
Keterangan:
\(Y_{ij}\): nilai pengamatan pada perlakuan ke-\(i\) dan blok ke-\(j\)
\(\mu\) : rataan umum
\(\tau_i\) : pengaruh perlakuan ke-i
\(\beta_j\) : pengaruh blok ke-j
\(\epsilon_{ij}\) : galat percobaan
Asumsi: \(\epsilon_{ij} \sim N(0,\sigma^2)\)
Hipotesis perlakuan:
\[ H_0 : \tau_1 = \tau_2 = ... = \tau_t = 0 \]
\[ H_1 : \text{minimal ada satu } \tau_i \ne 0 \]
Faktor koreksi: \(FK = \frac{T^2}{N}\)
Jumlah kuadrat total: \(JKT = \sum Y_{ij}^2 - FK\)
Jumlah kuadrat perlakuan: \(JKP = \sum \frac{Y_{i.}^2}{b} - FK\)
Jumlah kuadrat blok: \(JKB = \sum \frac{Y_{.j}^2}{t} - FK\)
Jumlah Kuadrat Galat: \(JKG = JKT - JKP - JKB\)
Derajat Bebas:
| Sumber Keragaman | Derajat Bebas |
|---|---|
| Perlakuan | t-1 |
| Blok | b-1 |
| Galat | (t-1)(b-1) |
| Total | tb-1 |
Kuadrat tengah: rasio antara jumlah kuadrat dengan derajat bebasnya \(KT_{perlakuan} = \frac{JKP}{t-1}\) \(KT_{galat} = \frac{JKG}{(t-1)(b-1)}\)
Statistik uji: \(F = \frac{KT_{perlakuan}}{KT_{galat}}\)
Kriteria Penolakan hipotesis nol: \(p\text{-value} < \alpha\) atau \(F_{hitung} > F_{tabel}\)
Seorang ahli kimia ingin menguji pengaruh empat bahan kimia terhadap kekuatan kain.
Karena terdapat variasi antar gulungan kain, maka gulungan digunakan sebagai blok.
Perlakuan: 4 bahan kimia
Blok: 5 gulungan kain
bahan <- factor(rep(1:4, each=5))
blok <- factor(rep(1:5, times=4))
kekuatan <- c(
73,68,74,71,67,
73,67,75,72,70,
75,68,78,73,68,
73,71,75,75,69
)
data <- data.frame(bahan, blok, kekuatan)
data
## bahan blok kekuatan
## 1 1 1 73
## 2 1 2 68
## 3 1 3 74
## 4 1 4 71
## 5 1 5 67
## 6 2 1 73
## 7 2 2 67
## 8 2 3 75
## 9 2 4 72
## 10 2 5 70
## 11 3 1 75
## 12 3 2 68
## 13 3 3 78
## 14 3 4 73
## 15 3 5 68
## 16 4 1 73
## 17 4 2 71
## 18 4 3 75
## 19 4 4 75
## 20 4 5 69
\[ Y_{ij} = \mu + \tau_i + \beta_j + \epsilon_{ij} \]
Keterangan:
\(Y_{ij}\): kekuatan kain pada bahan kimia ke-\(i\) dan gulungan kain ke-\(j\)
\(\mu\) : rataan umum
\(\tau_i\) : pengaruh bahan kimia ke-i
\(\beta_j\) : pengaruh gulungan kain ke-j
\(\epsilon_{ij}\) : galat percobaan
Hipotesis perlakuan:
\[ H_0 : \tau_1 = \tau_2 = ... = \tau_t = 0 \]
\[ H_1 : \text{minimal ada satu } \tau_i \ne 0 \]
model <- aov(kekuatan ~ bahan + blok, data=data)
summary(model)
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## bahan 3 12.95 4.32 2.376 0.121
## blok 4 157.00 39.25 21.606 2.06e-05 ***
## Residuals 12 21.80 1.82
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Tabel Anova dapat pula dipanggil dengan cara berikut ini.
anova(model)
## Analysis of Variance Table
##
## Response: kekuatan
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## bahan 3 12.95 4.317 2.3761 0.1211
## blok 4 157.00 39.250 21.6055 2.059e-05 ***
## Residuals 12 21.80 1.817
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Kesimpulan
Jika p-value < 0.05 maka bahan kimia memberikan pengaruh signifikan terhadap kekuatan kain.
Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial adalah rancangan percobaan dimana dua atau lebih faktor dicobakan secara bersamaan sehingga dapat diketahui:
pengaruh faktor A
pengaruh faktor B
pengaruh interaksi A dan B
Misalkan:
faktor A memiliki \(a\) taraf
faktor B memiliki \(b\) taraf
ulangan sebanyak \(r\) kali
Jumlah pengamatan: \(N = abr\)
Misalkan terdapat dua faktor percobaan:
Jumlah unit percobaan:
\[ N = a \times b \times r = 2 \times 3 \times 2 = 12 \]
Sehingga terdapat 12 unit percobaan.
Pada RAL diasumsikan bahwa seluruh unit percobaan bersifat homogen, sehingga tidak perlu dilakukan pengelompokan seperti pada RAKL. Karena homogen, seluruh kombinasi perlakuan dapat diacak langsung ke semua unit percobaan.
Kombinasi faktor yang mungkin adalah:
| Kombinasi | Faktor A | Faktor B |
|---|---|---|
| 1 | A1 | B1 |
| 2 | A1 | B2 |
| 3 | A1 | B3 |
| 4 | A2 | B1 |
| 5 | A2 | B2 |
| 6 | A2 | B3 |
Karena terdapat 2 ulangan, maka setiap kombinasi muncul dua kali.
Daftar unit perlakuan:
| Unit | Perlakuan |
|---|---|
| 1 | A1B1 |
| 2 | A1B1 |
| 3 | A1B2 |
| 4 | A1B2 |
| 5 | A1B3 |
| 6 | A1B3 |
| 7 | A2B1 |
| 8 | A2B1 |
| 9 | A2B2 |
| 10 | A2B2 |
| 11 | A2B3 |
| 12 | A2B3 |
Pengacakan dapat dilakukan dengan membangkitkan bilangan acak untuk setiap unit percobaan.
set.seed(123)
perlakuan <- c("A1B1","A1B1",
"A1B2","A1B2",
"A1B3","A1B3",
"A2B1","A2B1",
"A2B2","A2B2",
"A2B3","A2B3")
acak <- runif(12)
data_random <- data.frame(perlakuan, acak)
data_random
## perlakuan acak
## 1 A1B1 0.2875775
## 2 A1B1 0.7883051
## 3 A1B2 0.4089769
## 4 A1B2 0.8830174
## 5 A1B3 0.9404673
## 6 A1B3 0.0455565
## 7 A2B1 0.5281055
## 8 A2B1 0.8924190
## 9 A2B2 0.5514350
## 10 A2B2 0.4566147
## 11 A2B3 0.9568333
## 12 A2B3 0.4533342
Kemudian data diurutkan berdasarkan bilangan acak.
layout <- data_random[order(data_random$acak),]
layout
## perlakuan acak
## 6 A1B3 0.0455565
## 1 A1B1 0.2875775
## 3 A1B2 0.4089769
## 12 A2B3 0.4533342
## 10 A2B2 0.4566147
## 7 A2B1 0.5281055
## 9 A2B2 0.5514350
## 2 A1B1 0.7883051
## 4 A1B2 0.8830174
## 8 A2B1 0.8924190
## 5 A1B3 0.9404673
## 11 A2B3 0.9568333
Misalnya diperoleh urutan perlakuan berikut setelah diurutkan berdasarkan bilangan acak.
| Plot | Perlakuan |
|---|---|
| 1 | A2B1 |
| 2 | A1B2 |
| 3 | A2B3 |
| 4 | A1B1 |
| 5 | A1B3 |
| 6 | A2B2 |
| 7 | A1B2 |
| 8 | A2B1 |
| 9 | A1B3 |
| 10 | A2B2 |
| 11 | A1B1 |
| 12 | A2B3 |
Karena RAL mengasumsikan unit percobaan homogen, maka perlakuan tersebut langsung ditempatkan pada 12 plot percobaan sesuai urutan hasil pengacakan. Dengan demikian setiap kombinasi perlakuan memiliki peluang yang sama untuk menempati setiap unit percobaan, yang merupakan prinsip dasar randomisasi dalam Rancangan Acak Lengkap.
\[ Y_{ijk} = \mu + \alpha_i + \beta_j + (\alpha\beta)_{ij} + \epsilon_{ijk} \]
Keterangan:
\[ H_0 : \alpha_1 = \alpha_2 = ... = 0 \]
\[ H_0 : \beta_1 = \beta_2 = ... = 0 \]
\[ H_0 : (\alpha\beta)_{ij} = 0 \]
\[ FK = \frac{T^2}{N} \]
\[ JKT = \sum Y_{ijk}^2 - FK \]
\[ JKA = \sum \frac{Y_{i..}^2}{br} - FK \]
\[ JKB = \sum \frac{Y_{.j.}^2}{ar} - FK \]
Untuk memudahkan, dapat lebih dulu dihitung jumlah kuadrat perlakuan (total).
\[ JKP = \sum \sum \frac{Y_{ij}^2}{r}-FK \] Selanjutnya, karena didefinisikan bahwa \(JKP=JKA+JKB+JKAB\) maka jumlah kuadrat interaksi dapat dihitung sebagai berikut.
\[ JK_{AB} = JK_{perlakuan} - JKA - JKB \]
\[ JKG = JKT - JKA - JKB - JK_{AB} \]
| Sumber | DB |
|---|---|
| A | a-1 |
| B | b-1 |
| A×B | (a-1)(b-1) |
| Galat | ab(r-1) |
| Total | abr-1 |
\[ KT_A = \frac{JKA}{a-1} \]
\[ KT_B = \frac{JKB}{b-1} \]
\[ KT_{AB} = \frac{JK_{AB}}{(a-1)(b-1)} \]
\[ KT_G = \frac{JKG}{ab(r-1)} \]
\[ F_A = \frac{KT_A}{KT_G} \]
\[ F_B = \frac{KT_B}{KT_G} \]
\[ F_{AB} = \frac{KT_{AB}}{KT_G} \]
Tolak \(H_0\) jika: \(p\text{-value} < \alpha\) atau \(F_{hitung} > F_{tabel}\).
Catatan : Pada percobaan faktorial, kita utamakan pengujian hipotesis interaksi dulu. Jika terdapat pengaruh interaksi yang signifikan maka kita tidak perlu melanjutkan pengujian hipotesis untuk masing-masing faktor A dan B.
Dalam percobaan ini ingin diketahui apakah jenis material dan suhu mempengaruhi daya tahan baterai (dalam jam). Selain itu ingin diketahui apakah terdapat interaksi antara jenis material dan suhu, yaitu apakah material tertentu bekerja lebih baik pada suhu tertentu.
Faktor yang digunakan dalam percobaan adalah:
Setiap kombinasi perlakuan diulang 4 kali, sehingga jumlah pengamatan:
\[ N = a \times b \times r = 3 \times 3 \times 4 = 36 \]
Karena menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), seluruh unit percobaan diasumsikan homogen, sehingga semua kombinasi perlakuan diacak langsung ke seluruh unit percobaan.
\[ Y_{ijk} = \mu + \alpha_i + \beta_j + (\alpha\beta)_{ij} + \epsilon_{ijk} \]
Keterangan:
\[ H_0 : \alpha_1 = \alpha_2 = \alpha_3 = 0 \]
\[ H_1 : \text{minimal terdapat satu } \alpha_i \ne 0 \]
\[ H_0 : \beta_1 = \beta_2 = \beta_3 = 0 \]
\[ H_1 : \text{minimal terdapat satu } \beta_j \ne 0 \]
\[ H_0 : (\alpha\beta)_{11} = (\alpha\beta)_{12} = ... = (\alpha\beta)_{33}= 0 \]
\[ H_1 : \text{minimal terdapat satu } (\alpha\beta)_{ij} \ne 0 \]
Pembahasan perhitungan Anova secara manual untuk ilustrasi ini terdapat pada: https://www.youtube.com/watch?v=MU9z5gPcHhI
material <- factor(c( rep("A",12), rep("B",12), rep("C",12)))
suhu <- factor(rep(c(15,70,125),12))
daya <- c( 130,34,20, 74,80,82, 155,40,70, 180,75,58,
150,136,25, 159,106,70, 188,122,58, 126,115,45,
138,174,96, 168,150,82, 110,120,104, 160,139,60 )
data <- data.frame(material,suhu,daya)
data
## material suhu daya
## 1 A 15 130
## 2 A 70 34
## 3 A 125 20
## 4 A 15 74
## 5 A 70 80
## 6 A 125 82
## 7 A 15 155
## 8 A 70 40
## 9 A 125 70
## 10 A 15 180
## 11 A 70 75
## 12 A 125 58
## 13 B 15 150
## 14 B 70 136
## 15 B 125 25
## 16 B 15 159
## 17 B 70 106
## 18 B 125 70
## 19 B 15 188
## 20 B 70 122
## 21 B 125 58
## 22 B 15 126
## 23 B 70 115
## 24 B 125 45
## 25 C 15 138
## 26 C 70 174
## 27 C 125 96
## 28 C 15 168
## 29 C 70 150
## 30 C 125 82
## 31 C 15 110
## 32 C 70 120
## 33 C 125 104
## 34 C 15 160
## 35 C 70 139
## 36 C 125 60
Analisis dilakukan menggunakan ANOVA dua arah dengan interaksi.
model <- aov(daya ~ material * suhu, data=data)
summary(model)
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## material 2 10684 5342 7.911 0.00198 **
## suhu 2 39119 19559 28.968 1.91e-07 ***
## material:suhu 4 9614 2403 3.560 0.01861 *
## Residuals 27 18231 675
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Grafik interaksi digunakan untuk melihat apakah terdapat interaksi antara material dan suhu.
library(ggplot2)
library(dplyr)
# Menghitung rata-rata tiap kombinasi perlakuan
mean_data <- data %>%
group_by(material, suhu) %>%
summarise(mean_daya = mean(daya))
mean_data
## # A tibble: 9 × 3
## # Groups: material [3]
## material suhu mean_daya
## <fct> <fct> <dbl>
## 1 A 15 135.
## 2 A 70 57.2
## 3 A 125 57.5
## 4 B 15 156.
## 5 B 70 120.
## 6 B 125 49.5
## 7 C 15 144
## 8 C 70 146.
## 9 C 125 85.5
ggplot(mean_data, aes(x = suhu,
y = mean_daya,
color = material,
group = material)) +
geom_line(linewidth = 1) +
geom_point(size = 3) +
labs(
title = "Plot Interaksi Material dan Suhu",
x = "Suhu (°F)",
y = "Rata-rata Daya Tahan Baterai",
color = "Material"
) +
theme_minimal()
Jika garis tidak sejajar atau saling berpotongan, maka terdapat indikasi interaksi antara material dan suhu.
anova(model)
## Analysis of Variance Table
##
## Response: daya
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## material 2 10684 5341.9 7.9114 0.001976 **
## suhu 2 39119 19559.4 28.9677 1.909e-07 ***
## material:suhu 4 9614 2403.4 3.5595 0.018611 *
## Residuals 27 18231 675.2
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Keputusan diambil berdasarkan nilai p-value pada tabel ANOVA dengan taraf nyata \(\alpha = 0.05\)
Kriteria keputusan:
Perhatikan pada output di atas bahwa nilai \(F_{hitung}\) pada interaksi kedua faktor adalah sebesar \(3.5595\) dengan \(p-value=0.018611\). Oleh karenanya, kita dapat menolak hipotesis nol pada pengujian interaksi antara kedua faktor, dan menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari interaksi antara jenis material dengan suhu terhadap daya yang diamati, pada uji dengan taraf nyata 5%.
Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh tingkat ground clutter dan jenis filter terhadap kemampuan sistem radar dalam mendeteksi target. Ground clutter merupakan kebisingan latar pada layar radar yang dapat mempengaruhi kejelasan sinyal target. Dalam percobaan ini digunakan tiga tingkat ground clutter, yaitu Low, Medium, dan High, serta dua jenis filter, yaitu Filter 1 dan Filter 2.
Percobaan dirancang sebagai percobaan faktorial (3 ) sehingga terdapat enam kombinasi perlakuan. Respon yang diamati adalah intensitas sinyal target pada saat pertama kali dapat dideteksi oleh operator pada layar radar.
Karena kemampuan operator dalam menggunakan sistem radar dapat berbeda-beda, maka operator diperlakukan sebagai blok untuk mengendalikan variasi yang berasal dari perbedaan tersebut. Empat operator dipilih secara acak dan setiap operator menjalankan seluruh kombinasi perlakuan.
Dengan demikian percobaan ini merupakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial, dengan operator sebagai blok. Data hasil percobaan kemudian dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) faktorial dengan blok untuk mengetahui pengaruh ground clutter, jenis filter, serta interaksi keduanya terhadap kemampuan deteksi radar.
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ground clutter (tingkat kebisingan radar) dan jenis filter terhadap intensitas target pada deteksi radar.
Percobaan menggunakan:
Operator radar memiliki kemampuan yang berbeda sehingga operator digunakan sebagai blok. Empat operator dipilih secara acak sehingga percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial 3 × 2.
Perhitungan manual untuk ilustrasi ini dapat diakses pada: https://www.youtube.com/watch?v=nX36exW60ns
operator <- factor(rep(1:4, each=6))
filter <- factor(rep(c(1,2),12))
clutter <- factor(rep(c("Low","Medium","High"), each=2, times=4))
response <- c( 90,86,102,87,114,93, 96,84,106,90,112,91,
100,92,105,97,108,95, 92,81,96,80,98,83 )
data <- data.frame(operator,filter,clutter,response)
data
## operator filter clutter response
## 1 1 1 Low 90
## 2 1 2 Low 86
## 3 1 1 Medium 102
## 4 1 2 Medium 87
## 5 1 1 High 114
## 6 1 2 High 93
## 7 2 1 Low 96
## 8 2 2 Low 84
## 9 2 1 Medium 106
## 10 2 2 Medium 90
## 11 2 1 High 112
## 12 2 2 High 91
## 13 3 1 Low 100
## 14 3 2 Low 92
## 15 3 1 Medium 105
## 16 3 2 Medium 97
## 17 3 1 High 108
## 18 3 2 High 95
## 19 4 1 Low 92
## 20 4 2 Low 81
## 21 4 1 Medium 96
## 22 4 2 Medium 80
## 23 4 1 High 98
## 24 4 2 High 83
Model ANOVA dengan operator sebagai blok.
model <- aov(response ~ clutter * filter + operator, data=data)
summary(model)
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## clutter 2 335.6 167.8 15.132 0.000253 ***
## filter 1 1066.7 1066.7 96.192 6.45e-08 ***
## operator 3 402.2 134.1 12.089 0.000277 ***
## clutter:filter 2 77.1 38.5 3.476 0.057507 .
## Residuals 15 166.3 11.1
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Model tersebut menguji:
library(ggplot2)
library(dplyr)
mean_data <- data %>% group_by(clutter,filter) %>%
summarise(mean_response = mean(response), .groups="drop")
ggplot(mean_data, aes(x = clutter, y = mean_response, color = filter,
group = filter)) + geom_line(linewidth = 1) + geom_point(size = 3) +
labs( title = "Plot Interaksi Ground Clutter dan Filter", x = "Ground
Clutter", y = "Rata-rata Intensitas Deteksi", color = "Filter" ) +
theme_minimal()
Jika garis tidak sejajar atau berpotongan maka terdapat indikasi interaksi antara ground clutter dan filter.
Keputusan diambil berdasarkan nilai p-value pada tabel ANOVA dengan taraf nyata \(\alpha = 0.05\).
Kriteria keputusan:
Berdasarkan hasil yang Anda peroleh, bagaimana kesimpulan dari hasil pengujian tersebut?
Dokumen ini berisi tiga latihan soal yang berkaitan dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL), Faktorial RAL, dan Faktorial RAKL. Setiap soal dapat dianalisis menggunakan ANOVA di R.
Seorang peneliti ingin mengetahui pengaruh 4 jenis pupuk terhadap hasil panen padi. Karena kondisi lahan tidak seragam, lahan dibagi menjadi 5 blok berdasarkan tingkat kesuburan tanah.
Setiap blok menerima seluruh perlakuan pupuk. Respon yang diamati adalah hasil panen (ton/ha).
| Blok | Pupuk A | Pupuk B | Pupuk C | Pupuk D |
|---|---|---|---|---|
| 1 | 4.5 | 5.2 | 5.0 | 4.8 |
| 2 | 4.7 | 5.3 | 5.1 | 4.9 |
| 3 | 4.6 | 5.1 | 5.2 | 4.7 |
| 4 | 4.8 | 5.4 | 5.3 | 5.0 |
| 5 | 4.7 | 5.2 | 5.1 | 4.9 |
Sebuah perusahaan baterai ingin mempelajari pengaruh jenis material baterai dan suhu operasi terhadap daya tahan baterai (jam).
Faktor yang diteliti:
Material (A) A1, A2, A3
Suhu (B) 15°C, 70°C, 125°C
Setiap kombinasi perlakuan diuji 3 kali.
| Material | Suhu | Daya Tahan |
|---|---|---|
| A1 | 15 | 130 |
| A1 | 15 | 135 |
| A1 | 15 | 128 |
| A1 | 70 | 74 |
| A1 | 70 | 80 |
| A1 | 70 | 82 |
| A1 | 125 | 20 |
| A1 | 125 | 25 |
| A1 | 125 | 22 |
| A2 | 15 | 150 |
| A2 | 15 | 160 |
| A2 | 15 | 155 |
| A2 | 70 | 105 |
| A2 | 70 | 110 |
| A2 | 70 | 108 |
| A2 | 125 | 60 |
| A2 | 125 | 65 |
| A2 | 125 | 63 |
| A3 | 15 | 138 |
| A3 | 15 | 140 |
| A3 | 15 | 142 |
| A3 | 70 | 120 |
| A3 | 70 | 118 |
| A3 | 70 | 122 |
| A3 | 125 | 96 |
| A3 | 125 | 100 |
| A3 | 125 | 98 |
Suatu percobaan radar dilakukan untuk mempelajari pengaruh tingkat ground clutter dan jenis filter terhadap intensitas deteksi target.
Faktor yang digunakan:
Ground Clutter (A) Low, Medium, High
Filter (B) Filter 1, Filter 2
Percobaan dilakukan oleh 4 operator radar. Karena kemampuan operator berbeda, maka operator digunakan sebagai blok.
| Operator | Clutter | Filter | Respon |
|---|---|---|---|
| 1 | Low | 1 | 90 |
| 1 | Low | 2 | 86 |
| 1 | Medium | 1 | 102 |
| 1 | Medium | 2 | 87 |
| 1 | High | 1 | 114 |
| 1 | High | 2 | 93 |
| 2 | Low | 1 | 96 |
| 2 | Low | 2 | 84 |
| 2 | Medium | 1 | 106 |
| 2 | Medium | 2 | 90 |
| 2 | High | 1 | 112 |
| 2 | High | 2 | 91 |
| 3 | Low | 1 | 100 |
| 3 | Low | 2 | 92 |
| 3 | Medium | 1 | 105 |
| 3 | Medium | 2 | 97 |
| 3 | High | 1 | 108 |
| 3 | High | 2 | 95 |
| 4 | Low | 1 | 92 |
| 4 | Low | 2 | 81 |
| 4 | Medium | 1 | 96 |
| 4 | Medium | 2 | 80 |
| 4 | High | 1 | 98 |
| 4 | High | 2 | 83 |