Laporan ini menganalisis data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai jumlah sekolah dasar, guru, dan murid menurut provinsi di Indonesia tahun 2025/2026. Fokus utama analisis adalah distribusi pendidikan dasar antar wilayah, statistik deskriptif, visualisasi, serta perbandingan rasio murid per guru antara Jawa dan luar Jawa.
Sumber data: Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah sekolah dasar menurut provinsi tahun 2025/2026.
Tujuan analisis ini adalah: 1. Mendeskripsikan distribusi jumlah sekolah, guru, dan murid SD antar provinsi. 2. Menyajikan visualisasi data yang informatif dan profesional. 3. Menghitung statistik deskriptif variabel utama. 4. Melakukan analisis inferensia sederhana untuk membandingkan Jawa dan luar Jawa.
Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik umum variabel jumlah sekolah, jumlah guru, dan jumlah murid antar provinsi.
Secara umum, statistik deskriptif menunjukkan bahwa distribusi jumlah sekolah, guru, dan murid antar provinsi memiliki variasi yang besar. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan persebaran pendidikan dasar antar wilayah di Indonesia.
Grafik batang memperlihatkan sepuluh provinsi dengan jumlah murid SD tertinggi. Semakin panjang batang, semakin besar jumlah peserta didik di provinsi tersebut.
Histogram menunjukkan sebaran jumlah guru SD antar provinsi. Jika sebagian besar observasi terkonsentrasi pada rentang tertentu dan hanya sedikit provinsi sangat tinggi, maka distribusi tenaga pendidik belum merata.
Density plot menunjukkan kepadatan distribusi jumlah murid SD antar provinsi. Puncak kurva menggambarkan rentang jumlah murid yang paling umum muncul.
Boxplot memperlihatkan perbedaan median, kuartil, dan outlier rasio murid per guru antara Jawa dan luar Jawa. Grafik ini digunakan untuk melihat apakah terdapat perbedaan pola distribusi antara kedua kelompok wilayah.
Nilai p-value uji normalitas adalah 0,00002.
Interpretasi: Karena p-value < 0,05, maka data tidak berdistribusi normal.
Nilai p-value uji Wilcoxon adalah 0,01623.
Interpretasi: Karena p-value < 0,05, maka terdapat perbedaan signifikan rasio murid per guru antara wilayah Jawa dan luar Jawa.
hitung_statistik <- function(x) {
data.frame(
Mean = mean(x, na.rm = TRUE),
Median = median(x, na.rm = TRUE),
Modus = mfv(x, na_rm = TRUE)[1],
Q1 = as.numeric(quantile(x, 0.25, na.rm = TRUE)),
Q3 = as.numeric(quantile(x, 0.75, na.rm = TRUE)),
Minimum = min(x, na.rm = TRUE),
Maksimum = max(x, na.rm = TRUE),
Range = max(x, na.rm = TRUE) - min(x, na.rm = TRUE),
Varians = var(x, na.rm = TRUE),
`Standar Deviasi` = sd(x, na.rm = TRUE)
)
}
Berdasarkan analisis data BPS mengenai sekolah dasar menurut provinsi di Indonesia tahun 2025/2026, terdapat variasi yang besar dalam jumlah sekolah, guru, dan murid antar provinsi. Visualisasi menunjukkan bahwa persebaran pendidikan dasar belum merata antar wilayah. Hasil uji inferensia juga menunjukkan adanya perbedaan signifikan rasio murid per guru antara Jawa dan luar Jawa.