Cryptocurrency merupakan salah satu bentuk aset digital yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan teknologi blockchain serta meningkatnya minat investor terhadap aset digital telah mendorong pertumbuhan pasar cryptocurrency secara signifikan di berbagai negara. Dua jenis cryptocurrency yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar dan paling banyak diperdagangkan di dunia adalah Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Kedua aset digital tersebut sering dijadikan indikator utama dalam melihat kondisi pasar cryptocurrency secara keseluruhan.
Bitcoin merupakan cryptocurrency pertama yang diperkenalkan pada tahun 2009 dan hingga saat ini masih menjadi aset digital dengan kapitalisasi pasar terbesar. Sementara itu, Ethereum merupakan platform blockchain yang memungkinkan pengembangan berbagai aplikasi terdesentralisasi (decentralized applications) serta kontrak pintar (smart contracts). Meskipun memiliki karakteristik teknologi yang berbeda, pergerakan harga Bitcoin dan Ethereum sering kali menunjukkan pola yang saling berkaitan karena keduanya diperdagangkan dalam pasar yang sama serta dipengaruhi oleh faktor ekonomi global, sentimen investor, dan dinamika permintaan serta penawaran di pasar cryptocurrency.
Perubahan harga cryptocurrency umumnya terjadi secara dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi makroekonomi, regulasi pemerintah, perkembangan teknologi, serta aktivitas perdagangan di pasar global. Dalam praktiknya, pergerakan harga Bitcoin sering dianggap sebagai salah satu indikator utama yang dapat memengaruhi pergerakan harga cryptocurrency lainnya, termasuk Ethereum. Oleh karena itu, analisis hubungan antara harga Bitcoin dan Ethereum menjadi penting untuk memahami keterkaitan pergerakan kedua aset digital tersebut.
Tujuan dari analisis ini adalah:
Data yang digunakan dalam analisis ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Investing.com, yaitu sebuah situs penyedia informasi keuangan global yang menyediakan data historis berbagai instrumen keuangan termasuk cryptocurrency. Dataset yang digunakan berupa data historis harga harian dari dua jenis cryptocurrency utama, yaitu Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Data yang digunakan terdiri dari 152 observasi yang mencakup periode 27 Juli 2025 hingga 31 Desember 2025, di mana setiap observasi merepresentasikan harga penutupan harian dari masing-masing cryptocurrency pada tanggal tertentu. Dalam penelitian ini digunakan tiga variabel utama, yaitu variabel tanggal (date) yang menunjukkan waktu pengamatan, variabel harga Bitcoin (btc), serta variabel harga Ethereum (eth). Pada proses analisis regresi yang dilakukan, harga Bitcoin digunakan sebagai variabel independen (X), sedangkan harga Ethereum digunakan sebagai variabel dependen (Y) untuk menganalisis hubungan serta pengaruh perubahan harga Bitcoin terhadap pergerakan harga Ethereum.
data <- read_delim(
"C:/Semester 6/Komlan/Tugas 1 Lakhan/BTC-ETH Historical Data.csv",
delim = ";"
)
head(data)
## # A tibble: 6 × 3
## date btc eth
## <chr> <dbl> <dbl>
## 1 12/31/2025 87613. 2972.
## 2 12/30/2025 88470. 2975.
## 3 12/29/2025 87218. 2939.
## 4 12/28/2025 87904. 2950.
## 5 12/27/2025 87851. 2949.
## 6 12/26/2025 87358. 2928.
str(data)
## spc_tbl_ [152 × 3] (S3: spec_tbl_df/tbl_df/tbl/data.frame)
## $ date: chr [1:152] "12/31/2025" "12/30/2025" "12/29/2025" "12/28/2025" ...
## $ btc : num [1:152] 87613 88470 87218 87904 87851 ...
## $ eth : num [1:152] 2972 2975 2939 2950 2949 ...
## - attr(*, "spec")=
## .. cols(
## .. date = col_character(),
## .. btc = col_number(),
## .. eth = col_number()
## .. )
## - attr(*, "problems")=<externalptr>
library(lubridate)
df <- data %>%
mutate(date = mdy(date)) %>%
arrange(date)
head(df)
## # A tibble: 6 × 3
## date btc eth
## <date> <dbl> <dbl>
## 1 2025-10-01 118576. 4344.
## 2 2025-10-02 120566. 4484.
## 3 2025-10-03 122224. 4511.
## 4 2025-10-04 122387. 4487.
## 5 2025-10-05 123476. 4514.
## 6 2025-10-06 124725. 4686.
str(df)
## tibble [152 × 3] (S3: tbl_df/tbl/data.frame)
## $ date: Date[1:152], format: "2025-10-01" "2025-10-02" ...
## $ btc : num [1:152] 118576 120566 122224 122387 123476 ...
## $ eth : num [1:152] 4344 4484 4511 4487 4514 ...
Berdasarkan hasil proses pembersihan data, diperoleh dataset yang
terdiri dari 152 observasi dengan tiga variabel utama yaitu
date, btc, dan eth. Variabel
date telah berhasil dikonversi menjadi format tanggal
(Date) sehingga dapat merepresentasikan waktu pengamatan secara tepat.
Sementara itu, variabel btc dan eth telah
terbaca sebagai data numerik sehingga dapat digunakan dalam proses
analisis statistik. Data juga telah tersusun secara kronologis
berdasarkan tanggal pengamatan. Dengan demikian, dataset yang telah
dibersihkan memiliki struktur data yang sesuai dan siap digunakan pada
tahap analisis selanjutnya.
sum(is.na(df$btc))
## [1] 0
sum(is.na(df$eth))
## [1] 0
Berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan fungsi
sum(is.na()), diperoleh nilai 0 pada
variabel btc dan 0 pada variabel
eth. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat nilai yang
hilang pada kedua variabel tersebut. Selain itu, pemeriksaan menggunakan
fungsi filter() juga tidak menampilkan baris data yang
mengandung nilai kosong. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dataset
yang digunakan tidak memiliki missing value sehingga data telah
lengkap dan siap digunakan untuk tahap analisis selanjutnya.
Tahap eksplorasi data dilakukan untuk memperoleh gambaran awal mengenai karakteristik data yang digunakan dalam analisis. Melalui eksplorasi data, dapat diketahui pola hubungan antara variabel harga Bitcoin (BTC) dan harga Ethereum (ETH) sebelum dilakukan pemodelan regresi. Pada tahap ini dilakukan analisis statistik deskriptif, visualisasi hubungan antar variabel menggunakan scatter plot, serta pengukuran kekuatan hubungan menggunakan koefisien korelasi.
summary(df[,c("btc","eth")])
## btc eth
## Min. : 62858 Min. :1827
## 1st Qu.: 86568 1st Qu.:2832
## Median : 90551 Median :3049
## Mean : 91980 Mean :3098
## 3rd Qu.:103116 3rd Qu.:3419
## Max. :124725 Max. :4686
Berdasarkan hasil statistik deskriptif, harga Bitcoin (BTC) selama periode pengamatan berkisar antara 62,858 hingga 124,725 dengan rata-rata sebesar 91,980. Sementara itu, harga Ethereum (ETH) berkisar antara 1,827 hingga 4,686 dengan rata-rata sebesar 3,098. Nilai median yang mendekati rata-rata pada kedua variabel menunjukkan bahwa sebaran data relatif seimbang, serta terdapat variasi harga yang cukup besar pada kedua cryptocurrency selama periode pengamatan.
ggplot(df, aes(x = btc, y = eth)) +
geom_point(color = "blue") +
labs(
title = "Scatter Plot Harga Bitcoin dan Ethereum",
x = "Harga Bitcoin (BTC)",
y = "Harga Ethereum (ETH)"
)
Berdasarkan scatter plot, terlihat adanya pola hubungan positif yang kuat antara harga Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Titik-titik data menunjukkan kecenderungan meningkat dari kiri bawah ke kanan atas, yang menandakan bahwa ketika harga Bitcoin meningkat, harga Ethereum juga cenderung meningkat. Pola yang relatif linear ini menunjukkan bahwa model regresi linear dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antara kedua variabel tersebut.
cor(df$btc, df$eth)
## [1] 0.9929366
Berdasarkan hasil perhitungan korelasi diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0.9929366. Nilai tersebut sangat mendekati 1, yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat kuat antara harga Bitcoin (BTC) dan harga Ethereum (ETH). Hal ini berarti bahwa ketika harga Bitcoin meningkat, harga Ethereum juga cenderung meningkat, dan sebaliknya ketika harga Bitcoin menurun maka harga Ethereum juga cenderung mengalami penurunan. Hubungan yang sangat kuat ini menunjukkan bahwa kedua cryptocurrency tersebut memiliki pergerakan harga yang sangat berkaitan dalam periode pengamatan.
Pada penelitian ini digunakan model regresi linear sederhana untuk menganalisis hubungan antara harga Bitcoin (BTC) dan harga Ethereum (ETH). Dalam model ini, harga Bitcoin digunakan sebagai variabel independen (X), sedangkan harga Ethereum digunakan sebagai variabel dependen (Y).
Secara umum model regresi linear sederhana dapat dituliskan sebagai berikut:
ETH = β0 + β1 BTC + ϵ
dengan:
ETH = harga Ethereum (variabel dependen)
BTH = harga Bitcoin (variabel independen)
β0 = intercept atau konstanta
β1 = koefisien regresi
ϵ = error atau residual
Model regresi ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perubahan harga Bitcoin terhadap perubahan harga Ethereum.
model <- lm(eth ~ btc, data = df)
summary(model)
##
## Call:
## lm(formula = eth ~ btc, data = df)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -237.94 -41.15 14.39 52.83 225.70
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) -1.049e+03 4.101e+01 -25.59 <2e-16 ***
## btc 4.508e-02 4.399e-04 102.50 <2e-16 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 82.62 on 150 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.9859, Adjusted R-squared: 0.9858
## F-statistic: 1.051e+04 on 1 and 150 DF, p-value: < 2.2e-16
Berdasarkan hasil estimasi model regresi linear diperoleh persamaan regresi sebagai berikuRT
ETH = −1049 + 0.04508 BTC
Nilai intercept (β₀) sebesar −1049 menunjukkan bahwa apabila harga Bitcoin bernilai nol, maka harga Ethereum diperkirakan sebesar −1049. Namun secara praktis nilai ini hanya berfungsi sebagai konstanta dalam model dan tidak memiliki interpretasi ekonomi yang langsung karena harga Bitcoin tidak mungkin bernilai nol.
Koefisien regresi BTC (β₁) sebesar 0.04508 menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga Bitcoin sebesar 1 unit akan meningkatkan harga Ethereum sebesar 0.04508 unit, dengan asumsi faktor lain tetap.
Berdasarkan nilai p-value < 2e−16, koefisien BTC signifikan secara statistik pada tingkat signifikansi 5%. Hal ini menunjukkan bahwa harga Bitcoin memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga Ethereum.
Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0.9859 menunjukkan bahwa sekitar 98.59% variasi harga Ethereum dapat dijelaskan oleh perubahan harga Bitcoin, sedangkan sisanya sebesar **1.41% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model.
Selain itu, nilai F-statistic sebesar 10510 dengan p-value < 2.2e−16 menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan signifikan secara keseluruhan dalam menjelaskan hubungan antara harga Bitcoin dan Ethereum.
Dalam analisis regresi linear terdapat beberapa asumsi yang perlu dipenuhi agar model yang dihasilkan dapat dianggap valid. Asumsi-asumsi tersebut meliputi normalitas residual, tidak adanya multikolinearitas, tidak adanya heteroskedastisitas, serta tidak adanya autokorelasi pada residual. Oleh karena itu, pada tahap ini dilakukan beberapa pengujian terhadap residual dari model regresi yang telah diperoleh.
res <- residuals(model)
shapiro.test(res)
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: res
## W = 0.95917, p-value = 0.0001847
Hipotesis
H₀ : Residual berdistribusi normal
H₁ : Residual tidak berdistribusi normal
Taraf Signifikansi
α = 0.05
Statistik Uji
Berdasarkan hasil uji Shapiro-Wilk diperoleh nilai statistik uji W sebesar 0.95917 dengan p-value sebesar 0.0001847.
Daerah Kritis
H₀ ditolak jika p-value < α (0.05).
Keputusan
Karena nilai p-value (0.0001847) < 0.05, maka H₀ ditolak.
Kesimpulan
Pada taraf signifikansi 5% dapat disimpulkan bahwa residual dari model regresi tidak berdistribusi normal.
# Transformasi Log
df <- df %>%
mutate(
log_btc = log(btc),
log_eth = log(eth)
)
model_log <- lm(log_eth ~ log_btc, data = df)
summary(model_log)
##
## Call:
## lm(formula = log_eth ~ log_btc, data = df)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -0.068311 -0.016256 0.000554 0.022538 0.077397
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) -7.67175 0.15481 -49.56 <2e-16 ***
## log_btc 1.37393 0.01356 101.32 <2e-16 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 0.02834 on 150 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.9856, Adjusted R-squared: 0.9855
## F-statistic: 1.027e+04 on 1 and 150 DF, p-value: < 2.2e-16
# Uji Ulang Normalitas Residual
res_log <- residuals(model_log)
shapiro.test(res_log)
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: res_log
## W = 0.98309, p-value = 0.05923
Hipotesis
H₀ : Residual berdistribusi normal
H₁ : Residual tidak berdistribusi normal
Taraf Signifikansi
α = 0.05
Statistik Uji
Berdasarkan hasil uji Shapiro-Wilk diperoleh nilai statistik uji W sebesar 0.95917 dengan p-value sebesar 0.0001847.
Daerah Kritis
H₀ ditolak jika p-value < α (0.05).
Keputusan
Karena nilai p-value (0.05923) > 0.05, maka H₀ gagal ditolak.
Kesimpulan
Pada taraf signifikansi 5% dapat disimpulkan bahwa residual dari model regresi setelah transformasi log berdistribusi normal. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi logaritma berhasil memperbaiki masalah normalitas residual pada model regresi sebelumnya.
bptest(model_log)
##
## studentized Breusch-Pagan test
##
## data: model_log
## BP = 0.45038, df = 1, p-value = 0.5022
Hipotesis
H₀ : Tidak terdapat heteroskedastisitas pada residual
H₁ : Terdapat heteroskedastisitas pada residual
Taraf Signifikansi
α = 0.05
Statistik Uji
Berdasarkan hasil Breusch–Pagan Test diperoleh nilai statistik BP sebesar 0.45038 dengan p-value sebesar 0.5022.
Daerah Kritis
H₀ ditolak jika p-value < α (0.05).
Keputusan
Karena nilai p-value (0.5022) > 0.05, maka H₀ gagal ditolak.
Kesimpulan
Pada taraf signifikansi 5% dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala heteroskedastisitas pada residual model regresi. Hal ini menunjukkan bahwa varians residual bersifat konstan sehingga asumsi homoskedastisitas dalam model regresi telah terpenuhi.
dwtest(model_log)
##
## Durbin-Watson test
##
## data: model_log
## DW = 0.32499, p-value < 2.2e-16
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0
Hipotesis
H₀ : Tidak terdapat autokorelasi pada residual
H₁ : Terdapat autokorelasi pada residual
Taraf Signifikansi
α = 0.05
Statistik Uji
Berdasarkan hasil Durbin–Watson Test diperoleh nilai statistik DW sebesar 0.32499 dengan p-value < 2.2e−16.
Daerah Kritis
H₀ ditolak jika p-value < α (0.05).
Keputusan
Karena nilai p-value < 0.05, maka H₀ ditolak.
Kesimpulan
Pada taraf signifikansi 5% dapat disimpulkan bahwa hasil uji Durbin–Watson menunjukkan bahwa terdapat autokorelasi positif pada residual model regresi. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh sifat data yang merupakan data deret waktu (time series), sehingga nilai pada suatu periode cenderung dipengaruhi oleh nilai pada periode sebelumnya. Meskipun demikian, model regresi masih dapat memberikan gambaran mengenai hubungan antara harga Bitcoin dan Ethereum
model_log <- lm(log_eth ~ log_btc, data = df)
summary(model_log)
##
## Call:
## lm(formula = log_eth ~ log_btc, data = df)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -0.068311 -0.016256 0.000554 0.022538 0.077397
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) -7.67175 0.15481 -49.56 <2e-16 ***
## log_btc 1.37393 0.01356 101.32 <2e-16 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 0.02834 on 150 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.9856, Adjusted R-squared: 0.9855
## F-statistic: 1.027e+04 on 1 and 150 DF, p-value: < 2.2e-16
Berdasarkan hasil estimasi model regresi diperoleh persamaan sebagai berikut:
log(ETH) = −7.67175 + 1.37393 log(BTC)
Nilai intercept sebesar −7.67175 merupakan konstanta dalam model regresi yang menunjukkan nilai log Ethereum ketika log Bitcoin bernilai nol. Nilai ini berfungsi sebagai parameter dalam persamaan model dan tidak memiliki interpretasi ekonomi secara langsung.
Koefisien regresi log_btc sebesar 1.37393 menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga Bitcoin sebesar 1% akan meningkatkan harga Ethereum sebesar sekitar 1.37%, dengan asumsi faktor lain tetap. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan harga Ethereum sangat dipengaruhi oleh perubahan harga Bitcoin.
Berdasarkan hasil estimasi diperoleh nilai p-value < 2e−16 pada variabel log_btc. Nilai tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi α = 0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel log_btc berpengaruh signifikan secara statistik terhadap harga Ethereum.
Selain itu, nilai F-statistic sebesar 1.027 × 10⁴ dengan p-value < 2.2e−16 menunjukkan bahwa model regresi secara keseluruhan signifikan dalam menjelaskan hubungan antara harga Bitcoin dan Ethereum.
Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0.9856 menunjukkan bahwa sekitar 98.56% variasi harga Ethereum dapat dijelaskan oleh perubahan harga Bitcoin dalam model regresi yang digunakan. Sementara itu, sisanya sebesar 1.44% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model regresi.
Berdasarkan hasil analisis regresi linear antara harga Bitcoin dan Ethereum diperoleh bahwa harga Bitcoin memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga Ethereum. Model regresi dengan transformasi log menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara kedua variabel, dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0.9856 yang berarti sekitar 98.56% variasi harga Ethereum dapat dijelaskan oleh perubahan harga Bitcoin. Hasil uji asumsi regresi menunjukkan bahwa residual model telah berdistribusi normal dan tidak mengalami heteroskedastisitas, meskipun terdapat autokorelasi pada residual yang kemungkinan disebabkan oleh sifat data yang merupakan deret waktu. Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan pergerakan harga Ethereum selama periode pengamatan.