Data yang digunakan merupakan data harian selama 60 periode.
Berikut data yang digunakan dalam analisis.
data <- c(
98, 102, 101, 99, 100, 103, 97, 101, 100, 99,
102, 98, 101, 100, 97, 103, 99, 100, 102, 98,
101, 99, 100, 103, 97, 101, 100, 98, 102, 99,
100, 101, 97, 103, 98, 100, 102, 99, 101, 98,
100, 103, 97, 101, 100, 99, 102, 98, 101, 100,
97, 103, 99, 100, 101, 98, 102, 99, 100, 101
)
periode <- 1:60
data_ts <- ts(data, start = 1, frequency = 1)
summary(data_ts)## Min. 1st Qu. Median Mean 3rd Qu. Max.
## 97 99 100 100 101 103
Rata-rata data adalah 100
Simpangan baku data adalah 1.79
Metode Single Exponential Smoothing (SES) digunakan untuk meramalkan data runtun waktu yang relatif stabil dan tidak memiliki pola tren.
Bentuk umum model Single Exponential Smoothing adalah:
\[ \hat{Y}_{t+1} = \alpha Y_t + (1-\alpha)\hat{Y}_t \]
dengan \(\alpha\) merupakan parameter pemulusan yang nilainya berada pada interval 0 sampai 1.
Sebelum melakukan pemodelan, data terlebih dahulu diuji kestasioneritasannya.
##
## Augmented Dickey-Fuller Test
##
## data: data_ts
## Dickey-Fuller = -7.5171, Lag order = 3, p-value = 0.01
## alternative hypothesis: stationary
Jika nilai p-value lebih kecil dari 0.05 maka data dapat dianggap stasioner dalam mean.
Data dibagi menjadi data training dan
testing.
Model Single Exponential Smoothing dibangun menggunakan data
training.
train <- window(data_ts, end = 50)
test <- window(data_ts, start = 51)
library(forecast)
model <- ses(train, h = length(test))
model## Point Forecast Lo 80 Hi 80 Lo 95 Hi 95
## 51 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 52 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 53 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 54 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 55 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 56 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 57 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 58 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 59 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 60 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
Nilai parameter smoothing yang diperoleh adalah
alpha = 10^{-4}
Berikut hasil peramalan menggunakan model Single Exponential Smoothing.
## Point Forecast Lo 80 Hi 80 Lo 95 Hi 95
## 51 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 52 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 53 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 54 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 55 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 56 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 57 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 58 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 59 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
## 60 99.99994 97.67471 102.3252 96.44381 103.5561
Kinerja model dievaluasi menggunakan ukuran kesalahan peramalan.
## ME RMSE MAE MPE MAPE MASE
## Training set 3.807056e-05 1.777728 1.440090 -0.03159620 1.441270 0.5040314
## Test set 6.394477e-05 1.732051 1.400013 -0.02995585 1.400752 0.4900045
## ACF1 Theil's U
## Training set -0.6518984 NA
## Test set -0.6666667 0.4853233
Plot berikut menunjukkan data harian beserta hasil peramalan.
Plot Data dan Hasil Peramalan
Berdasarkan hasil analisis, data terlebih dahulu diuji
kestasioneritasannya dalam mean dan varian.
Selanjutnya metode Single Exponential Smoothing
digunakan untuk melakukan peramalan terhadap data harian.
Hasil peramalan kemudian dievaluasi menggunakan ukuran akurasi untuk
melihat performa model yang diperoleh.