Balita stunting merupakan salah satu permasalahan gizi kronis yang masih menjadi tantangan di Provinsi Jawa Barat, di mana kondisi ini menggambarkan keterlambatan pertumbuhan anak akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang. Tingginya angka stunting dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan lingkungan, seperti persentase penduduk miskin, jumlah posyandu aktif, serta tingkat sanitasi di setiap kabupaten/kota. Kemiskinan berperan dalam keterbatasan akses terhadap pangan bergizi dan layanan kesehatan, sementara keberadaan posyandu aktif berfungsi sebagai sarana penting dalam pemantauan tumbuh kembang anak. Selain itu, sanitasi yang buruk dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi yang berdampak pada kondisi gizi anak. Untuk menganalisis hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan jumlah balita stunting secara lebih komprehensif dan mempertimbangkan variasi antarwilayah serta waktu, digunakan pendekatan regresi data panel, yang memungkinkan penggabungan dimensi waktu dan individu (kabupaten/kota) sehingga menghasilkan estimasi yang lebih akurat dan informatif.
Analisis data panel adalah salah satu dari metode statistik yang digunakan untuk melihat pengaruh pada beberapa variabel bebas terhadap satu variabel terikat dengan struktur berupa data panel.
Metode yang menggabungkan seluruh data, baik data cross section, maupun data time series dengan diabaikannya waktu dan tempat penelitian. Metode ini diasumsikan nilai intercept masing-masing variabel adalah sama. Hal ini berlaku juga pada slope koefisien untuk semua unit cross section dan time series.
Metode yang mengestimasikan data panel dengan menambahkan variabel dummy. Pada asumsinya terdapat efek yang berbeda antar individu, dapat diakomodasikan melalui perbedaan interpretasinya. Maka dari itu, pada FEM setiap individu adalah parameter yang tidak diketahui dan kemudian akan diestimasi menggunakan variabel dummy, sehingga metode ini dapat juga disebut dengan Least Square Dummy Variable (LSDV).
Metode yang melakukan estimasi pada regresi data panel dengan adanya perbedaan karakteristik individu dan waktu yang diakomodasikan melalui galat atau error dari model. Terdapat dua komponen yang berkontribusi, yaitu individu dan waktu. Sehingga random error pada REM ini perlu dilakukan penguraian.
Uji Chow merupakan uji yang digunakan untuk memilih model regresi data panel mana yang lebih baik, FEM atau CEM Dengan Uji Hipotesisnya :
Uji Hausman merupakan uji regresi yang digunakan untuk memilih model regresi data panel mana yang lebih baik antara FEM dengan REM.
Uji Lagrange Multiplier merupakan pengujian regresi yang digunakan untuk memilih model regresi data panel yang lebih baik antara CEM dengan REM.
Penggunaannya untuk mencari tahu apakah adanya hubungan antar variabel dengan ketentuan nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang kurang dari 10 untuk menerima asumsi bahwa korelasinya tidak terjadi adanya multikolinearitas.
Penggunaannya untuk mengetahui apakah ada ketidaksamaan varians dari residual pengamatan yang satu dengan pengamatan lainnya. Apabila diperoleh nilai dari probabilitas lebih kecil dari nilai taraf signifikansi = 5%, maka kesimpulan yang diperoleh adalah model regresi yang dianalisis terdapat heteroskedastisitas. Maka dari itu, uji heteroskedastisitas ini wajib dilakukan pada model yang menggunakan teknik estimasi OLS, seperti Common Effect Model dan Fixed Effect Model, sedangkan jika menggunakan teknik estimasi GLS yaitu Random Effect Model tidak wajib melakukan uji heteroskedastisitas.
Autokorelasi adalah kondisi ketika error pada suatu periode berkorelasi dengan error periode lain. Jika terdapat korelasi, maka disebut masalah autokorelasi. Untuk mendeteksi autokorelasi dapat dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji Durbin-Watson (DW test). Angka D-W dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif Angka D-W dibawah -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi Angka D-W dibawah +2 berarti ada autokorelasi negatif
Pada uji signifikansi simultan, penggunaannya untuk mengetahui apakah terdapat variabel independen secara bersamaan yang berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis yang digunakan untuk analisisnya, yaitu:
Statistik uji yang digunakan, yaitu apabila nilai pada p-value lebih kecil dari taraf signifikansi yang digunakan atau =5% maka kesimpulannya akan menolak H0.
Pengujian signifikansi parsial ini digunakan untuk mengetahui apakah pada masing-masing variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen secara individu. Hipotesis yang digunakan, yaitu:
Statistik uji yang digunakan, yaitu apabila nilai pada p-value lebih kecil dari taraf signifikansi yang digunakan atau =5% maka kesimpulannya akan menolak H0.
Analisis koefisien determinasi pada uji parameter model terbaik digunakan untuk mencari persentase sumbangan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersamaan. Nilainya berada di antara nol dan satu dengan menggunakan nilai Adjusted R2, nilai yang mendekati satu memiliki arti variabel-variabel independennya memberikan hampir seluruh informasi yang dibutuhkan untuk pengestimasian pada variabel independen.
Data yang SAYA gunakan berasal dari Portal Data Terbuka Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2019-2024 (Open Data Jabar) yang diterbitkan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat melalui laman:
Open Data JabarVariabel yang digunakan terdiri dari variabel respon (𝑌) yaitu jumlah balita stunting, serta variabel prediktor (𝑋) yang mencakup persentase penduduk miskin (X1), jumlah posyandu aktif (X2), dan sanitasi (X3).
library(readxl)
## Warning: package 'readxl' was built under R version 4.3.3
dataku<-read_excel(path = "C:\\Users\\Kevin Melky\\OneDrive\\Gambar\\gabut\\Semester 5 Kristin\\Statistika Pemerintahan\\Data kelompok 1 tugas 1 statpem.xlsx")
## New names:
## • `` -> `...7`
## • `` -> `...8`
## • `` -> `...9`
dataku
## # A tibble: 162 × 9
## KabKota Tahun Stunting Kemiskinan Posyandu Sanitasi ...7 ...8 ...9
## <chr> <dbl> <dbl> <dbl> <dbl> <dbl> <lgl> <lgl> <dbl>
## 1 KABUPATEN BAND… 2019 19121 5.94 4234 80 NA NA NA
## 2 KABUPATEN BAND… 2020 29581 6.91 4308 75.5 NA NA NA
## 3 KABUPATEN BAND… 2021 20461 7.15 4238 90.3 NA NA NA
## 4 KABUPATEN BAND… 2022 21018 6.8 4010 100 NA NA NA
## 5 KABUPATEN BAND… 2023 13321 6.4 3696 99.7 NA NA NA
## 6 KABUPATEN BAND… 2024 21362 6.19 4199 96.8 NA NA NA
## 7 KABUPATEN BAND… 2019 9322 9.38 1307 74 NA NA NA
## 8 KABUPATEN BAND… 2020 15440 10.5 2315 96.4 NA NA NA
## 9 KABUPATEN BAND… 2021 12488 11.3 1858 100 NA NA NA
## 10 KABUPATEN BAND… 2022 9304 10.8 2057 91.1 NA NA NA
## # ℹ 152 more rows
library(plm)
## Warning: package 'plm' was built under R version 4.3.3
pdata <- pdata.frame(dataku, index = c("KabKota", "Tahun"))
library(ggplot2)
## Warning: package 'ggplot2' was built under R version 4.3.3
ggplot(dataku, aes(x = Sanitasi, y = Stunting)) +
geom_point() +
geom_smooth(method = "lm") +
labs(title = "Hubungan Sanitasi dan Stunting",
x = "Sanitasi",
y = "Stunting")
## `geom_smooth()` using formula = 'y ~ x'
ggplot(dataku, aes(x = Posyandu, y = Stunting)) +
geom_point() +
geom_smooth(method = "lm") +
labs(title = "Hubungan Posyandu dan Stunting",
x = "Jumlah Posyandu",
y = "Stunting")
## `geom_smooth()` using formula = 'y ~ x'
ggplot(dataku, aes(x = Kemiskinan, y = Stunting)) +
geom_point() +
geom_smooth(method = "lm") +
labs(title = "Hubungan Kemiskinan dan Stunting",
x = "Kemiskinan",
y = "Stunting")
## `geom_smooth()` using formula = 'y ~ x'
pool <- plm(Stunting ~ Sanitasi + Kemiskinan + Posyandu,
data = pdata,
model = "pooling")
fe <- plm(Stunting ~ Sanitasi + Kemiskinan + Posyandu,
data = pdata,
model = "within",
effect = "individual")
re <- plm(Stunting ~ Sanitasi + Kemiskinan + Posyandu,
data = pdata,
model = "random",
effect = "individual")
pFtest(fe, pool)
##
## F test for individual effects
##
## data: Stunting ~ Sanitasi + Kemiskinan + Posyandu
## F = 5.4792, df1 = 26, df2 = 132, p-value = 2.07e-11
## alternative hypothesis: significant effects
Berdasarkan Redundant Fixed Effects Test, didapatkan bahwa Pvalue adalah 2.07e-11. Pada taraf signifikansi 𝛼=5%, 𝐻0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa estimasi Fixed Effect Model (FEM) lebih baik daripada Common Effect Model (CEM).
phtest(fe, re)
##
## Hausman Test
##
## data: Stunting ~ Sanitasi + Kemiskinan + Posyandu
## chisq = 70.229, df = 3, p-value = 3.813e-15
## alternative hypothesis: one model is inconsistent
Berdasarkan Hausman Test, didapatkan bahwa Pvalue sebesar 3.813e-15. Pada taraf signifikansi 𝛼=5%, 𝐻0 ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa estimasi Fixed Effect Model (FEM) lebih baik daripada Random Effect Model (CEM).
fem <- plm(Stunting ~ Sanitasi + Kemiskinan + Posyandu,
data = pdata,
model = "within")
summary(fem)
## Oneway (individual) effect Within Model
##
## Call:
## plm(formula = Stunting ~ Sanitasi + Kemiskinan + Posyandu, data = pdata,
## model = "within")
##
## Balanced Panel: n = 27, T = 6, N = 162
##
## Residuals:
## Min. 1st Qu. Median 3rd Qu. Max.
## -11888.44 -1420.26 -228.14 810.43 16283.92
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t-value Pr(>|t|)
## Sanitasi 10.67723 22.49104 0.4747 0.63576
## Kemiskinan 188.35899 581.28335 0.3240 0.74642
## Posyandu -1.36872 0.63689 -2.1491 0.03345 *
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Total Sum of Squares: 2016700000
## Residual Sum of Squares: 1948500000
## R-Squared: 0.033817
## Adj. R-Squared: -0.17845
## F-statistic: 1.54002 on 3 and 132 DF, p-value: 0.20716
library(car)
## Warning: package 'car' was built under R version 4.3.3
## Loading required package: carData
## Warning: package 'carData' was built under R version 4.3.3
vif(lm(Stunting ~ Sanitasi + Kemiskinan + Posyandu, data = dataku))
## Sanitasi Kemiskinan Posyandu
## 1.020213 1.025255 1.007894
Pada taraf signifikansi 𝛼=5%, Correlations pada masing-masing variabel < 0.85. Maka, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas.
library(lmtest)
## Warning: package 'lmtest' was built under R version 4.3.3
## Loading required package: zoo
## Warning: package 'zoo' was built under R version 4.3.3
##
## Attaching package: 'zoo'
## The following objects are masked from 'package:base':
##
## as.Date, as.Date.numeric
bptest(fe)
##
## studentized Breusch-Pagan test
##
## data: fe
## BP = 19.96, df = 3, p-value = 0.0001731
Dari output diatas diperoleh bahwa nilai p-value=0.0001731 Nilai p-value ini ≤ 0,05 maka terjadi heteroskedastisitas.
pbgtest(fem)
##
## Breusch-Godfrey/Wooldridge test for serial correlation in panel models
##
## data: Stunting ~ Sanitasi + Kemiskinan + Posyandu
## chisq = 45.586, df = 6, p-value = 3.579e-08
## alternative hypothesis: serial correlation in idiosyncratic errors
Nilai p-value lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa model regresi mengalami masalah autokorelasi.
summary(fe)
## Oneway (individual) effect Within Model
##
## Call:
## plm(formula = Stunting ~ Sanitasi + Kemiskinan + Posyandu, data = pdata,
## effect = "individual", model = "within")
##
## Balanced Panel: n = 27, T = 6, N = 162
##
## Residuals:
## Min. 1st Qu. Median 3rd Qu. Max.
## -11888.44 -1420.26 -228.14 810.43 16283.92
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t-value Pr(>|t|)
## Sanitasi 10.67723 22.49104 0.4747 0.63576
## Kemiskinan 188.35899 581.28335 0.3240 0.74642
## Posyandu -1.36872 0.63689 -2.1491 0.03345 *
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Total Sum of Squares: 2016700000
## Residual Sum of Squares: 1948500000
## R-Squared: 0.033817
## Adj. R-Squared: -0.17845
## F-statistic: 1.54002 on 3 and 132 DF, p-value: 0.20716
Variabel signifikan yang signifikan adalah ketika p-value <= 0.05. Maka dapat disimpulkan model tidak signifikan.
summary(fe)
## Oneway (individual) effect Within Model
##
## Call:
## plm(formula = Stunting ~ Sanitasi + Kemiskinan + Posyandu, data = pdata,
## effect = "individual", model = "within")
##
## Balanced Panel: n = 27, T = 6, N = 162
##
## Residuals:
## Min. 1st Qu. Median 3rd Qu. Max.
## -11888.44 -1420.26 -228.14 810.43 16283.92
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t-value Pr(>|t|)
## Sanitasi 10.67723 22.49104 0.4747 0.63576
## Kemiskinan 188.35899 581.28335 0.3240 0.74642
## Posyandu -1.36872 0.63689 -2.1491 0.03345 *
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Total Sum of Squares: 2016700000
## Residual Sum of Squares: 1948500000
## R-Squared: 0.033817
## Adj. R-Squared: -0.17845
## F-statistic: 1.54002 on 3 and 132 DF, p-value: 0.20716
Variabel signifikan yang signifikan adalah ketika Pr(>|t|)<= 0.05. Maka dari variabel yang digunakan, variabel yang signifikan hanyalah Posyandu.
summary(fe)
## Oneway (individual) effect Within Model
##
## Call:
## plm(formula = Stunting ~ Sanitasi + Kemiskinan + Posyandu, data = pdata,
## effect = "individual", model = "within")
##
## Balanced Panel: n = 27, T = 6, N = 162
##
## Residuals:
## Min. 1st Qu. Median 3rd Qu. Max.
## -11888.44 -1420.26 -228.14 810.43 16283.92
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t-value Pr(>|t|)
## Sanitasi 10.67723 22.49104 0.4747 0.63576
## Kemiskinan 188.35899 581.28335 0.3240 0.74642
## Posyandu -1.36872 0.63689 -2.1491 0.03345 *
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Total Sum of Squares: 2016700000
## Residual Sum of Squares: 1948500000
## R-Squared: 0.033817
## Adj. R-Squared: -0.17845
## F-statistic: 1.54002 on 3 and 132 DF, p-value: 0.20716
Berdasarkan hasil estimasi model, diperoleh nilai Adjusted R-Squared sebesar -0,17845. Nilai tersebut menunjukkan bahwa variabel independen yang digunakan dalam model, yaitu sanitasi, kemiskinan, dan posyandu, belum mampu menjelaskan variasi tingkat stunting dengan baik.
Nilai Adjusted R-Squared yang bernilai negatif mengindikasikan bahwa kemampuan model dalam menjelaskan variabilitas variabel dependen lebih rendah dibandingkan dengan model yang hanya menggunakan nilai rata-rata variabel dependen tanpa memasukkan variabel independen. Dengan kata lain, model yang dibangun masih memiliki kemampuan penjelasan yang sangat rendah terhadap perubahan tingkat stunting pada unit observasi yang diteliti.
Kondisi ini juga mengindikasikan bahwa terdapat kemungkinan variabel lain di luar model yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap tingkat stunting dan belum dimasukkan dalam analisis.
fixef(fem)
## KABUPATEN BANDUNG KABUPATEN BANDUNG BARAT KABUPATEN BEKASI
## 24240.148 9266.976 6911.170
## KABUPATEN BOGOR KABUPATEN CIAMIS KABUPATEN CIANJUR
## 22432.111 3238.305 8516.181
## KABUPATEN CIREBON KABUPATEN GARUT KABUPATEN INDRAMAYU
## 14009.792 19903.225 6902.766
## KABUPATEN KARAWANG KABUPATEN KUNINGAN KABUPATEN MAJALENGKA
## 3994.782 3368.869 1671.232
## KABUPATEN PANGANDARAN KABUPATEN PURWAKARTA KABUPATEN SUBANG
## -31.278 1856.831 1626.018
## KABUPATEN SUKABUMI KABUPATEN SUMEDANG KABUPATEN TASIKMALAYA
## 15476.060 5672.996 14040.918
## KOTA BANDUNG KOTA BANJAR KOTA BEKASI
## 8058.914 -887.095 7936.378
## KOTA BOGOR KOTA CIMAHI KOTA CIREBON
## 2179.218 1582.673 -103.555
## KOTA DEPOK KOTA SUKABUMI KOTA TASIKMALAYA
## 4047.324 -620.034 4078.062
Hasil uji asumsi klasik menunjukkan bahwa model mengalami pelanggaran asumsi, yaitu terdapat heteroskedastisitas dan autokorelasi pada residual model. Kondisi ini menunjukkan bahwa varians error tidak konstan dan terdapat hubungan antar residual pada periode waktu yang berbeda, sehingga estimasi parameter yang diperoleh berpotensi menjadi kurang efisien.
Berdasarkan hasil uji F, diperoleh bahwa secara simultan variabel sanitasi, kemiskinan, dan posyandu tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat stunting. Hal ini menunjukkan bahwa secara bersama-sama ketiga variabel tersebut belum mampu menjelaskan variasi tingkat stunting pada kabupaten/kota yang diamati.
Namun berdasarkan uji t, diketahui bahwa hanya variabel posyandu yang memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat stunting. Sementara itu variabel sanitasi dan kemiskinan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara parsial.
Temuan ini mengindikasikan bahwa keberadaan dan aktivitas posyandu memiliki peran yang lebih nyata dalam mempengaruhi penurunan tingkat stunting dibandingkan dengan variabel lainnya dalam model penelitian ini.