Inflasi merupakan salah satu indikator penting dalam perekonomian. Salah satu ukuran ekspektasi inflasi adalah 10-Year Breakeven Inflation Rate. Variabel ini dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi seperti jumlah uang beredar (M2), indeks harga konsumen (CPI), serta harga minyak dunia (WTI).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh M2, CPI, dan WTI terhadap 10-Year Breakeven Inflation Rate menggunakan model regresi linear berganda.
## Y X1 X2 X3
## 1 2.08 261.582 19367.3 52.00
## 2 2.18 263.014 19514.3 59.04
## 3 2.28 264.877 19932.2 62.33
## 4 2.35 267.054 20255.0 61.72
## 5 2.47 269.195 20299.5 65.17
## 6 2.34 271.696 20419.4 71.38
Dataset yang digunakan berisi data 10-Year Breakeven Inflation Rate (Y) sebagai variabel respon dan tiga variabel prediktor yaitu M2 (X1), CPI (X2), dan WTI (X3). Data ini digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel ekonomi terhadap ekspektasi inflasi jangka panjang.
## Y X1 X2 X3
## Min. :2.080 Min. :261.6 Min. :19367 Min. : 52.00
## 1st Qu.:2.295 1st Qu.:276.0 1st Qu.:20660 1st Qu.: 71.63
## Median :2.345 Median :296.2 Median :20972 Median : 77.91
## Mean :2.388 Mean :289.4 Mean :20963 Mean : 80.14
## 3rd Qu.:2.460 3rd Qu.:302.2 3rd Qu.:21486 3rd Qu.: 86.12
## Max. :2.880 Max. :307.8 Max. :21863 Max. :114.84
Rata-rata Y adalah 2.3875
Rata-rata M2 adalah 289.4420833
Rata-rata CPI adalah 2.09628^{4}
Rata-rata WTI adalah 80.1366667
Regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel respon dengan beberapa variabel prediktor.
Bentuk umum persamaan regresi linier: \[ y = \beta_0 + \beta_1 X_1 + \beta_2 X_2 + \beta_3 X_3 + \epsilon \] dengan:
Y = 10-Year Breakeven Inflation Rate
X1 = Uang Beredar dalam Arti Luas (M2)
X2 = Indeks Harga Konsumen (CPI)
X3 = Harga Minyak Mentah (WTI)
ε = error
##
## Call:
## lm(formula = Y ~ X1 + X2 + X3, data = data)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -0.229065 -0.051136 -0.002841 0.049257 0.226439
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 1.613e+00 7.624e-01 2.116 0.0422 *
## X1 -5.655e-03 1.132e-03 -4.994 2.02e-05 ***
## X2 8.110e-05 3.974e-05 2.041 0.0496 *
## X3 8.875e-03 1.740e-03 5.102 1.48e-05 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 0.08985 on 32 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.7576, Adjusted R-squared: 0.7349
## F-statistic: 33.34 on 3 and 32 DF, p-value: 5.755e-10
Diperoleh:
\(\beta_0 = 1.613\)
\(\beta_1 = -0.00566\)
\(\beta_2 = 8.11\times 10^{-5}\)
\(\beta_3 = 0.00887\)
Model Awal \[ y = 1.613 - 0.00566 X_1 + 8.11\times 10^{-5} X_2 + 0.00887 X_3 + \epsilon \]
Secara Formal
Hipotesis
H₀ : Residual berdistribusi normal
H₁ : Residual tidak berdistribusi normal
Taraf Signifikansi
α = 5% = 0,05
Statistik Uji
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: error
## W = 0.97228, p-value = 0.4912
Berdasarkan output R diperoleh nilai statistik uji Shapiro-Wilk sebesar
W = 0.9723
dengan p-value = 0.4912.
Daerah Kritis
Tolak H₀ jika Sig < α = 0,05
Keputusan
Karena nilai sig = 0.4912 > 0,05 maka H₀ gagal ditolak.
Kesimpulan
Residual berdistribusi normal sehingga asumsi normalitas terpenuhi.
Secara Visual
Q-Q plot residual:
Secara Formal
Hipotesis
H₀ : Ada hubungan linear antara variabel independen dan variabel dependen
H₁ : Tidak terdapat hubungan linear antara variabel independen dan variabel dependen
Taraf Signifikansi
α = 5% = 0,05
Statistik Uji
##
## RESET test
##
## data: model
## RESET = 2.1705, df1 = 2, df2 = 30, p-value = 0.1317
Berdasarkan hasil uji Ramsey RESET Test menggunakan R diperoleh nilai statistik uji sebesar
RESET = 2.1705
dengan p-value sebesar
Sig = 0.1317.
Daerah Kritis
Tolak H₀ jika Sig < α = 0,05
Keputusan
Karena nilai Sig = 0.1317 > 0,05 maka H₀ gagal ditolak.
Kesimpulan
Model memenuhi asumsi linearitas sehingga terdapat hubungan linear
antara variabel independen dan variabel dependen.
Secara Visual
Variabel Y dengan X1
Variabel Y dengan X2
Variabel Y dengan X3
Hipotesis
H₀ : Tidak terdapat multikolinearitas antar variabel independen
H₁ : Terdapat multikolinearitas antar variabel independen
Statistik Uji
Pengujian multikolinearitas dilakukan dengan menggunakan nilai Variance Inflation Factor (VIF).
## X1 X2 X3
## 1.247203 2.584067 2.708746
Berdasarkan output R diperoleh:
VIF X₁ = 1.247
VIF X₂ = 2.584
VIF X₃ = 2.709
Daerah Kritis
H₀ ditolak jika VIF ≥ 10
Keputusan
Karena seluruh nilai VIF < 10 maka H₀ gagal ditolak.
Kesimpulan
Tidak terdapat multikolinearitas antar variabel independen sehingga asumsi non-multikolinearitas terpenuhi.
res <- abs(residuals(model))
glejser <- lm(res ~ X1 + X2 + X3, data=data)
g <- summary(glejser)$coefficientsHipotesis
H₀ : Varian residual homogen (tidak terdapat heteroskedastisitas)
H₁ : Varian residual tidak homogen (terdapat heteroskedastisitas)
Taraf Signifikansi
α = 5% = 0,05
Statistik Uji
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 5.810281e-02 4.507617e-01 0.1288992 0.89824420
## X1 -1.224901e-03 6.694844e-04 -1.8296184 0.07663776
## X2 1.144537e-05 2.349746e-05 0.4870899 0.62951469
## X3 1.498889e-03 1.028558e-03 1.4572732 0.15478514
Berdasarkan uji Glejser menggunakan regresi absolut residual diperoleh nilai signifikansi sebagai berikut:
Sig X₁ = 0.077
Sig X₂ = 0.630
Sig X₃ = 0.155
Daerah Kritis
Tolak H₀ jika Sig < α = 0,05
Keputusan
Karena seluruh nilai Sig > 0,05 maka H₀ gagal ditolak.
Kesimpulan
Varian residual homogen sehingga asumsi homoskedastisitas terpenuhi.
Hipotesis
H₀ : Tidak terdapat autokorelasi
H₁ : Terdapat autokorelasi
Taraf Signifikansi
α = 5% = 0,05
Statistik Uji
##
## Durbin-Watson test
##
## data: model
## DW = 1.3156, p-value = 0.003851
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0
Berdasarkan uji Durbin-Watson menggunakan R diperoleh nilai statistik uji
DW = 1.3156
dengan p-value = 0.0039.
Daerah Kritis
0 < d < dL → terjadi autokorelasi positif
dL < d < dU → daerah ragu-ragu
dU < d < 4 − dU → tidak terdapat autokorelasi
4 − dU < d < 4 − dL → daerah ragu-ragu
4 − dL < d < 4 → terjadi autokorelasi negatif
Keputusan
Nilai DW yang diperoleh adalah d = 1.316.
Berdasarkan tabel Durbin-Watson untuk n = 36 dan k = 3 diperoleh:
dL = 1.2953
dU = 1.6539
Karena
1.2953 < 1.316 < 1.6539
maka nilai DW berada pada daerah ragu-ragu.
Kesimpulan
Karena nilai DW berada pada daerah ragu-ragu, maka perlu dilakukan pengujian lanjutan menggunakan Runs Test.
fstat <- summary(model)$fstatistic
Fvalue <- fstat[1]
pF <- pf(fstat[1], fstat[2], fstat[3], lower.tail = FALSE)Hipotesis
H₀ : β₁ = β₂ = β₃ = 0 (Model regresi tidak cocok)
H₁ : Paling sedikit ada βᵢ ≠ 0 (Model regresi cocok)
Taraf Signifikansi
α = 5% = 0,05
Statistik Uji
Berdasarkan output R diperoleh nilai statistik uji
F-Statistic
\[ F = \frac{RKR}{RKS} = 33.342 \]
dengan nilai signifikansi sebesar
\[ Sig = 5.76\times 10^{-10} \]
Daerah Kritis
Tolak H₀ jika Sig < α = 0,05
Keputusan
Karena nilai Sig = 0.000 < 0,05 maka H₀ ditolak.
Kesimpulan
Model regresi signifikan atau model regresi cocok digunakan untuk memprediksi variabel Y.
coef_table <- summary(model)$coefficients
t1 <- coef_table[2,3]
t2 <- coef_table[3,3]
t3 <- coef_table[4,3]
p1 <- coef_table[2,4]
p2 <- coef_table[3,4]
p3 <- coef_table[4,4]Hipotesis
H₀ : βⱼ = 0 (Koefisien parameter tidak signifikan)
H₁ : βⱼ ≠ 0 (Koefisien parameter signifikan)
Taraf Signifikansi
α = 5% = 0,05
Statistik Uji
Berdasarkan output R diperoleh nilai statistik uji sebagai berikut:
Nilai t hitung \[ t_1 = \frac{b_1}{S_{b_1}} = -4.994 \] dengan Sig = 0.000
\[ t_2 = \frac{b_2}{S_{b_2}} = 2.041 \] dengan Sig = 0.050
\[ t_3 = \frac{b_3}{S_{b_3}} = 5.102 \] dengan Sig = 0.000
Daerah Kritis
Tolak H₀ jika Sig < α = 0,05
Keputusan
Karena nilai Sig dari t1, t2, dan t3 semuanya lebih kecil dari 0,05 maka H₀ ditolak.
Kesimpulan
Koefisien parameter regresi signifikan sehingga variabel X1 (M2), X2 (CPI), dan X3 (WTI) berpengaruh signifikan terhadap variabel Y (10-Year Breakeven Inflation Rate).
nilai koefisien determinasi sebesar
\[ R^2 = 0.758 \]
atau sebesar 75.8%.
Interpretasi
Nilai R² sebesar 0.758 menunjukkan bahwa sebesar 75.8 % variasi variabel Y dapat dijelaskan oleh variabel X1, X2, dan X3 dalam model regresi, sedangkan sisanya sebesar 24.2 % dijelaskan oleh faktor lain di luar model.
## [1] 0.007176167
\[ MSE = 0.007 \]
Interpretasi
Nilai MSE sebesar 0.007 menunjukkan bahwa rata-rata kesalahan kuadrat antara nilai aktual dan nilai prediksi pada model regresi relatif kecil sehingga model dapat dikatakan cukup baik dalam melakukan prediksi.
\[ \hat{y} = 1.613 - 0.00566 X_1 + 8.11\times 10^{-5} X_2 + 0.00887 X_3 \]
Model regresi yang diperoleh menunjukkan bahwa variabel M2 (X1), CPI (X2), dan WTI (X3) memiliki pengaruh terhadap 10-Year Breakeven Inflation Rate (Y).
Koefisien regresi untuk variabel M2 sebesar -0.006 menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu satuan M2 akan menurunkan nilai Breakeven Inflation Rate sebesar 0.006, dengan asumsi variabel lain konstan.
Koefisien regresi untuk variabel CPI sebesar 8.11^{-5} menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu satuan CPI akan meningkatkan Breakeven Inflation Rate sebesar 8.11^{-5}.
Koefisien regresi untuk variabel WTI sebesar 0.009 menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga minyak mentah WTI sebesar satu satuan akan meningkatkan Breakeven Inflation Rate sebesar 0.009.
Dengan demikian, model regresi yang diperoleh dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara variabel M2, CPI, dan WTI terhadap 10-Year Breakeven Inflation Rate.