Analisis regresi merupakan salah satu metode statistika yang digunakan untuk mempelajari hubungan antara suatu variabel dependen dengan satu atau lebih variabel independen. Metode ini banyak digunakan dalam berbagai bidang seperti ekonomi, teknik, kesehatan, dan ilmu sosial untuk mengetahui bagaimana suatu variabel dipengaruhi oleh variabel lainnya.
Salah satu bentuk regresi yang sering digunakan adalah regresi linear berganda. Regresi linear berganda digunakan ketika terdapat lebih dari satu variabel independen yang diduga memengaruhi variabel dependen. Model ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan linear antara variabel dependen dengan beberapa variabel independen secara simultan.
Dalam analisis ini digunakan dataset bawaan dari perangkat lunak R yaitu mtcars. Dataset ini berisi informasi mengenai karakteristik beberapa mobil, seperti efisiensi bahan bakar, jumlah silinder, tenaga mesin, berat kendaraan, dan variabel lainnya. Variabel yang akan dianalisis adalah mpg (miles per gallon) sebagai ukuran efisiensi bahan bakar kendaraan. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah horsepower (hp), berat kendaraan (wt), dan jumlah silinder (cyl). Analisis ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketiga variabel tersebut terhadap efisiensi bahan bakar kendaraan menggunakan metode regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak R.
Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat beberapa masalah yang akan dipecahkan melalui analisis ini, yaitu:
Tujuan dari analisis ini adalah sebagai berikut:
Regresi linear merupakan metode statistika yang digunakan untuk memodelkan hubungan antara variabel dependen dan variabel independen dalam bentuk hubungan linear. Model regresi linear sederhana dapat dituliskan sebagai:
\[ Y=\beta_0+\beta_1X+\epsilon \]
dimana,
\(Y\) = variabel dependen
\(X\) = variabel independen
\(\beta_0\) = intercept
\(\beta_1\) = koefisien regresi
\(\epsilon\) = error
Regresi linear berganda merupakan pengembangan dari regresi linear sederhana dengan lebih dari satu variabel independen.
Model regresi linear berganda dapat dituliskan sebagai:
\[ Y=\beta_0+\beta_1X_1+\beta_2X_2+...+\beta_kX_k+\epsilon \]
Metode ini digunakan untuk mengetahui pengaruh beberapa variabel independen terhadap satu variabel dependen.
Parameter regresi umumnya diduga menggunakan metode Ordinary Least Squares (OLS). Metode ini bertujuan untuk meminimalkan jumlah kuadrat selisih antara nilai observasi dengan nilai prediksi model.
\[ \sum_{i=1}^n(Y_i-\hat{Y}_i)^2 \]
Parameter regresi adalah \(\beta\), untuk mencari nilai \(\beta\) dalam regresi digunakan rumus berikut.
\[ \beta=(X^TX)^{-1}(X^TY) \]
dengan \(X\) adalah matriks dari variabel independen dan \(Y\) adalah matriks dari variabel dependen.
Pendugaan parameter menggunakan metode ini menghasilkan estimator yang bersifat BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) apabila asumsi klasik terpenuhi.
Pengujian ini bertujuan untuk memeriksa pengaruh koefisien regresi variabel independen secara bersamaan. Pengujian signifikansi parameter secara simultan menggunakan uji F.
Hipotesis
\(H_0:\beta_1=\beta_2=...=\beta_k=0\)
\(H_1:\) minimal terdapat salah satu \(\beta_i\ne0\), dengan \(i= 1, 2, .., k\)
Statistik Uji
| Sumber Keragaman | Derajat Bebas | Jumlah Kuadrat | Kuadrat Tengah | Fhitung |
|---|---|---|---|---|
| Regresi | \(k-1\) | \(JKR\) | \(\frac{JKR}{(k-1)}\) | \(\frac{KTR}{KTG}\) |
| Galat | \(n-k\) | \(JKG\) | \(\frac{JKG}{(n-k)}\) | |
| Total | \(n-1\) | \(JKT\) |
\[ JKR=\beta^T(X^T)Y-n\bar{Y}^2 \]
\[ JKT=Y^TY-n\bar{Y}^2 \]
\[ JKG=JKT-JKR \]
Daerah Kritis
\(H_0\) ditolak jika \(F_{hitung}> F_{tabel}\) atau \(p-value<\alpha\)
Pengujian ini bertujuan untuk memeriksa pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian signifikansi parameter secara parsial menggunakan uji t.
Hipotesis
\(H_0:\beta_i=0\) (tidak ada pengaruh signifikan variabel independen ke- \(i\) pada varaiabel dependen)
\(H_1:\beta_i\ne0\) (terdapat pengaruh signifikan variabel independen ke- \(i\) pada varaiabel dependen)
Statistik Uji
\[ t_{hitung}=\frac{\hat\beta_i-\hat\beta_0}{SE(\beta)} \]
Daerah Kritis
\(H_0\) ditolak jika \(t_{hitung}>t_{tabel}\) atau \(p-value<\alpha\)
Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen.
\[ R^2=\frac{JKR}{JKT} \]
nilai \(R^2\) berkisar antara 0 hingga 1. Semakin besar \(R^2\), menunjukkan semakin baik model dalam menjelaskan variasi variabel dependen.
Asumsi normalitas menyatakan bahwa residual atau galat dari model regresi harus berdistribusi normal. Residual merupakan selisih antara nilai observasi dengan nilai prediksi dari model regresi. Pemenuhan asumsi normalitas penting agar pengujian statistik seperti uji t dan uji F dapat dilakukan secara valid.
Pengujian normalitas residual dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain melalui uji statistik maupun metode grafis. Metode grafis yang sering digunakan adalah histogram residual dan Normal Q-Q Plot. Jika titik-titik pada Q-Q Plot mengikuti garis diagonal, maka residual dapat dikatakan berdistribusi normal.
Selain itu, pengujian normalitas data juga dapat dilakukan menggunakan uji statistik seperti uji Saphiro-Wilk atau uji Kolmogorov-Smirnov. Pengujian Saphiro-Wilk dilakukan ketika data < 50, sedangkan uji Kolmogorv-Smirnov digunakan jika data > 50.
Hipotesis
\(H_0\) : residual berdistribusi normal
\(H_1\) : residual tidak berdstribusi normal
Statistik Uji
\[ W=\frac{(\sum_{i=1}^n a_ix_{(i)})^2}{\sum_{i=1}^n (x_i-\bar x)^2} \]
dengan,
\(x_{(i)}=\) data yang telah diurutkan
\(n_i=\) konstanta Shapiro-Wilk
\(n=\) jumlah observasi
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika nilai \(p-value<\alpha\)
Asumsi homoskedastisitas menyatakan bahwa varians residual harus konstan pada setiap nilai variabel independen. Jika varians residual berbeda-beda pada setiap tingkat variabel independen, maka kondisi tersebut disebut heteroskedastisitas.
Model regresi yang baik adalah model yang tidak mengalami heteroskedastisitas. Pelanggaran terhadap asumsi ini dapat menyebabkan estimasi varians menjadi tidak efisien sehingga mempengaruhi ketepatan pengujian statistik.
Pengujian homoskedastisitas dapat dilakukan dengan metode grafis yaitu dengan membuat scatter plot antara nilai prediksi dengan residual. Jika titik-titik pada grafik menyebar secara acak dan tidak membentuk pola tertentu, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas.
Selain itu, pengujian juga dapat dilakukan menggunakan uji statistik seperti uji Breusch-Pagan atau uji Glejser.
Hipotesis
\(H_0:\) tidak terjadi heteroskedastisitas
\(H_1:\) terjadi heteroskedastisitas
Statistik Uji
\[ BP=nR^2 \]
dengan,
\(n=\) jumlah observasi
\(R^2=\) koefisien determinasi
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika nilai \(BP>\chi^2_{(\alpha,k)}\) atau \(p-value<\alpha\)
Asumsi non-autokorelasi menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan atau korelasi antara residual pada satu observasi dengan residual pada observasi lainnya. Autokorelasi umumnya terjadi pada data runtun waktu (time series), dimana residual pada suatu periode dipengaruhi oleh residual pada periode sebelumnya.
Jika terjadi autokorelasi, maka estimasi parameter regresi tetap tidak bias namun menjadi tidak efisien. Selain itu, standar error yang dihasilkan menjadi tidak akurat sehingga pengujian hipotesis dapat memberikan kesimpulan yang salah.
Salah satu metode yang sering digunakan untuk mendeteksi autokorelasi adalah uji Durbin-Watson.
Hipotesis
\(H_0\) : tidak terjadi autokorelasi
\(H_1\) : terjadi autokorelasi
Statistik Uji
\[ DW=\frac{\sum_{i=2}^{n}(e_i - e_{i-1})^2}{\sum_{i=1}^{n} e_i^2} \]
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika \(p-value<\alpha\) atau sesuai dengan kriteria berikut:
\(0<DW<dU:\) menolak \(H_0\), terdapat autokorelasi positif
\(dL\le DW \le dU:\) daerah keragu-raguan, tidak ada keputusan
\(dU\le DW \le 4-dU:\) menerima \(H_0\), tidak terdapat autokorelasi
\(4-dU\le DW \le 4-dL:\) menolak \(H_0\), daerah keragu-raguan, tidak ada keputusan
\(4-dL\le DW \le 4:\) menolak \(H_0\), terdapat autokorelasi negatif
Multikolinearitas merupakan kondisi dimana terdapat hubungan linear yang kuat antara dua atau lebih variabel independen dalam model regresi. Jika terjadi multikolinearitas, maka estimasi koefisien regresi menjadi tidak stabil dan sulit untuk diinterpretasikan.
Model regresi yang baik adalah model yang tidak memiliki hubungan yang kuat antar variabel independennya. Salah satu cara untuk mendeteksi multikolinearitas adalah dengan menggunakan Variance Inflation Factor (VIF).
Nilai VIF menunjukkan seberapa besar varians koefisien regresi meningkat akibat adanya korelasi antar variabel independen.
Hipotesis
\(H_0:\) tidak terjadi multikolinearitas
\(H_1:\) terjadi multikolinearitas
Statistik Uji
\[ VIF=\frac{1}{1-R_i^2} \]
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika \(VIF \ge 10\).
Data yang digunakan dalam analisis ini adalah dataset mtcars yang merupakan dataset bawaan dari perangkat lunak R. Dataset ini berisi 32 observasi dengan 11 variabel yang menggambarkan karakteristik kendaraan.
Variabel yang digunakan dalam analisis ini, antara lain:
mpg (miles per gallon) sebagai \(Y\)
hp (housepower) sebagai \(X_1\)
wt (berat kendaraan) sebagai \(X_2\)
cyl (jumlah silinder) sebagai \(X_3\)
Tahapan analisis yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Mengimpor dataset mtcars
Melakukan analisis statistik deskriptif
Membentuk model regresi linear berganda
Melakukan uji signifikansi parameter
Menghitung koefisien determinasi
Melakukan pengujian asumsi model
data(mtcars)
head(mtcars)
## mpg cyl disp hp drat wt qsec vs am gear carb
## Mazda RX4 21.0 6 160 110 3.90 2.620 16.46 0 1 4 4
## Mazda RX4 Wag 21.0 6 160 110 3.90 2.875 17.02 0 1 4 4
## Datsun 710 22.8 4 108 93 3.85 2.320 18.61 1 1 4 1
## Hornet 4 Drive 21.4 6 258 110 3.08 3.215 19.44 1 0 3 1
## Hornet Sportabout 18.7 8 360 175 3.15 3.440 17.02 0 0 3 2
## Valiant 18.1 6 225 105 2.76 3.460 20.22 1 0 3 1
Dataset yang digunakan dalam analisis ini adalah dataset mtcars yang merupakan data bawaan dari perangkat lunak R. Dataset ini berisi 32 observasi dengan beberapa variabel yang menggambarkan karakteristik kendaraan seperti konsumsi bahan bakar, tenaga mesin, berat kendaraan, dan jumlah silinder.
summary(mtcars[,c("mpg","hp","wt","cyl")])
## mpg hp wt cyl
## Min. :10.40 Min. : 52.0 Min. :1.513 Min. :4.000
## 1st Qu.:15.43 1st Qu.: 96.5 1st Qu.:2.581 1st Qu.:4.000
## Median :19.20 Median :123.0 Median :3.325 Median :6.000
## Mean :20.09 Mean :146.7 Mean :3.217 Mean :6.188
## 3rd Qu.:22.80 3rd Qu.:180.0 3rd Qu.:3.610 3rd Qu.:8.000
## Max. :33.90 Max. :335.0 Max. :5.424 Max. :8.000
Variabel mpg menunjukkan efisiensi bahan bakar kendaraan memiliki rata-rata sebesar 20.09. Variabel hp menunjukkan kekuatan mesin kendaraan memiliki rata-rata 146.7, wt menunjukkan berat kendaraan memiliki rata-rata sebesar 3.217, sedangkan cyl menunjukkan jumlah silinder pada mesin kendaraan memiliki rata-rata sebesar 6.188.
Pendugaan parameter regresi dilakukan menggunakan metode Ordinary Least Squares (OLS) untuk memperoleh estimasi koefisien regresi yang menggambarkan hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen.
Model regresi linear berganda yang digunakan dalam analisis ini adalah
\[ mpg=\beta_0+\beta_1hp+\beta_2wt+\beta_3cyl+\varepsilon \]
dengan,
\(mpg=\) efisiensi bahan bakar kendaraan
\(hp=\) horsepower
\(wt=\) berat kendaraan
\(cyl=\) jumlah silinder
model <- lm(mpg ~ hp + wt + cyl, data = mtcars)
summary(model)
##
## Call:
## lm(formula = mpg ~ hp + wt + cyl, data = mtcars)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -3.9290 -1.5598 -0.5311 1.1850 5.8986
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 38.75179 1.78686 21.687 < 2e-16 ***
## hp -0.01804 0.01188 -1.519 0.140015
## wt -3.16697 0.74058 -4.276 0.000199 ***
## cyl -0.94162 0.55092 -1.709 0.098480 .
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 2.512 on 28 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.8431, Adjusted R-squared: 0.8263
## F-statistic: 50.17 on 3 and 28 DF, p-value: 2.184e-11
Berdasarkan hasil analisis menggunakan perangkat lunak R, diperoleh estimasi parameter regresi sebagai berikut:
\[ \hat{mpg}=38.75179-0.01804hp-3.16697wt-0.94162cyl \]
Interpretasi dari koefisien regresi tersebut adalah sebagai berikut:
Pengujian signifikansi parameter dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah variabel independen yang digunakan dalam model regresi memiliki pengaruh terhadap variabel dependen. Pengujian ini dilakukan melalui uji simultan (Uji F) dan uji parsial (uji t).
Hipotesis
\(H_0:\beta_1=\beta_2=\beta_3=0\)
\(H_1:\) minimal terdapat salah satu \(\beta_i\ne0\), dengan \(i= 1, 2, 3\)
Taraf Signifikansi
\(\alpha=0.05\)
Statistik Uji
anova(model)
## Analysis of Variance Table
##
## Response: mpg
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## hp 1 678.37 678.37 107.5438 4.287e-11 ***
## wt 1 252.63 252.63 40.0494 7.597e-07 ***
## cyl 1 18.43 18.43 2.9213 0.09848 .
## Residuals 28 176.62 6.31
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
fstat <- summary(model)$fstatistic
p_value <- pf(fstat[1], fstat[2], fstat[3], lower.tail = FALSE)
p_value
## value
## 2.184178e-11
Daerah Kritis
\(H_0\) ditolak jika \(F_{hitung}> F_{tabel}\) atau \(p-value<\alpha\)
Keputusan
Karena \(p-value=2.18417e^{-11}\) yang artinya lebih kecil dari nilai \(\alpha\) maka terdapat cukup bukti untuk menolak \(H_0\).
Kesimpulan
Pada taraf signifikansi \(\alpha=0.05\), diperoleh nilai \(p-value<\alpha\) yang berarti terdapat cukup bukti untuk menolak \(H_0\), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel hp, wt, dan syl secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadapa variabel mpg.
Hipotesis
\(H_0:\beta_i=0\) (tidak ada pengaruh signifikan variabel independen ke- \(i\) pada varaiabel dependen)
\(H_1:\beta_i\ne0\) (terdapat pengaruh signifikan variabel independen ke- \(i\) pada varaiabel dependen)
Taraf Signifikansi
\(\alpha=0.05\)
Statistik Uji
\[ t_{hitung}=\frac{\hat\beta_i-\hat\beta_0}{SE(\beta)} \]
summary(model)$coefficients
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 38.7517874 1.78686403 21.687038 4.799399e-19
## hp -0.0180381 0.01187625 -1.518838 1.400152e-01
## wt -3.1669731 0.74057588 -4.276365 1.994765e-04
## cyl -0.9416168 0.55091638 -1.709183 9.848010e-02
Daerah Kritis
\(H_0\) ditolak jika \(t_{hitung}>t_{tabel}\) atau \(p-value<\alpha\)
Keputusan dan Kesimpulan
| Variabel | p-value | Keputusan | Kesimpulan |
|---|---|---|---|
| hp | \(p-value>\alpha\) | \(H_0\) diterima | tidak berpengaruh signifikan |
| wt | \(p-value<\alpha\) | \(H_0\) ditolak | berpengaruh signifikan |
| cyl | \(p-value>\alpha\) | \(H_0\) diterima | tidak berpengaruh signifikan |
Variabel berat kendaraan (wt) memiliki p-value lebih kecil dari 0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap mpg. Koefisien regresi yang bernilai negatif menunjukkan bahwa semakin besar berat kendaraan, maka nilai mpg cenderung menurun yang berarti konsumsi bahan bakar kendaraan menjadi lebih tinggi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel berat kendaraan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap efisiensi bahan bakar kendaraan dalam model regresi yang digunakan, sedangkan variabel horsepower dan jumlah silinder tidak memberikan pengaruh yang signifikan secara parsial.
Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen dalam model regresi yang digunakan. Nilai koefisien determinasi ditunjukkan oleh nilai \(R^2\) yang diperoleh dari hasil analisis regresi. Nilai \(R^2\) berada pada rentang antara 0 hingga 1. Semakin besar nilai \(R^2\) , maka semakin besar pula kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen.
summary(model)$r.squared
## [1] 0.84315
summary(model)$adj.r.squared
## [1] 0.8263446
Berdasarkan hasil analisis regresi yang dilakukan, diperolah nilai koefisien determinasi \(R^2\) sebesar 0.84135 dan nilai adjusted \(R^2\) sebesar 0.8263446.
Nilai \(R^2\) menunjukkan bahwa sebesar \(84.135%\) variasi pada variabel mpg dapat dijelaskan oleh variabel horsepower (hp), berat kendaraan (wt), dan jumlah silinder (cyl) yang tedapat pada model regresi. Sementara itu, sisanya sebesar \(15.685%\) dipengaruhi oleh faktor lain di luar model yang tidak dicantumkan dalam analisis ini.
Nilai Adjusted\(R^2\) digunakan untuk memberikan penyesuaian terhadap jumlah variabel independen yang digunakan dalam model. Nilai ini dianggap lebih akurat dalam menilai kemampuan model regresi, terutama ketika jumlah variabel independen lebih dari satu.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan memiliki kemampuan cukup baik dalam menjelaskan variasi efisiensi bahan bakar kendaraan, meskipun masih terdapat faktor lain di luar model yang juga dapat mempengaruhi nilai mpg.
SECARA VISUAL
hist(residuals(model))
qqnorm(residuals(model))
qqline(residuals(model))
Uji visual dilakukan dengan menggunakan Normal Q-Q Plot dari residual model regresi. Berdasarkan grafik Q-Q plot yang diperoleh, terlihat bahwa titik-titik residual cenderung mengikuti dan berada di sekitar garis diagonal. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi residual mendekati distribusi normal.
SECARA FORMAL
Hipotesis
\(H_0\) : residual berdistribusi normal
\(H_1\) : residual tidak berdstribusi normal
Taraf Signifikansi
\(\alpha=0.05\)
Statistik Uji
\[ W=\frac{(\sum_{i=1}^n a_ix_{(i)})^2}{\sum_{i=1}^n (x_i-\bar x)^2} \]
shapiro.test(residuals(model))
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: residuals(model)
## W = 0.93455, p-value = 0.05252
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika nilai \(p-value<\alpha\)
Keputusan
Karena nilai \(p-value=0.05252\) yang berarti lebih besar dari \(\alpha\) maka terdapat tidak terdapat cukup bukti untuk menolak \(H_0\).
Kesimpulan
Pada taraf signifikansi \(\alpha=0.05\), diperoleh nilai \(p-value>\alpha\) yang berarti terdapat tidak terdapat cukup bukti untuk menolak \(H_0\), sehingga dapat disimpulkan bahwa residual data berdistribusi normal.
SECARA VISUAL
plot(model$fitted.values, residuals(model),
xlab="Nilai Prediksi",
ylab="Residual")
abline(h=0)
Uji visual dilakukan menggunakan Scatter Plot antara residual dengan nilai prediksi (fitted values). Berdasarkan grafik scatter plot yang diperoleh, terlihat bahwa titik-titik residual menyebar secara acak di sekitar garis nol dan tidak membentuk pola tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat indikasi heteroskedastisitas dalam model regresi.
SECARA FORMAL
Hipotesis
\(H_0:\) tidak terjadi heteroskedastisitas
\(H_1:\) terjadi heteroskedastisitas
Taraf Signifikansi
\(\alpha=0.05\)
Statistik Uji
\[ BP=nR^2 \]
library(lmtest)
## Warning: package 'lmtest' was built under R version 4.4.2
## Loading required package: zoo
## Warning: package 'zoo' was built under R version 4.4.1
##
## Attaching package: 'zoo'
## The following objects are masked from 'package:base':
##
## as.Date, as.Date.numeric
bptest(model)
##
## studentized Breusch-Pagan test
##
## data: model
## BP = 2.9351, df = 3, p-value = 0.4017
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika nilai \(BP>\chi^2_{(\alpha,k)}\) atau \(p-value<\alpha\)
Keputusan
Karena nilai \(p-value=0.4017\) yang berarti lebih besar dari \(\alpha\) maka terdapat tidak terdapat cukup bukti untuk menolak \(H_0\).
Kesimpulan
Pada taraf signifikansi \(\alpha=0.05\), diperoleh nilai \(p-value>\alpha\) yang berarti terdapat tidak terdapat cukup bukti untuk menolak \(H_0\), sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengalami gejala heteroskedastisitas atau dengan kata lain asumsi homoskedastisitas.
Hipotesis
\(H_0\) : tidak terjadi autokorelasi
\(H_1\) : terjadi autokorelasi
Taraf Signifikansi
\(\alpha=0.05\)
Statistik Uji
\[ DW=\frac{\sum_{i=2}^{n}(e_i - e_{i-1})^2}{\sum_{i=1}^{n} e_i^2} \]
library(lmtest)
dwtest(model)
##
## Durbin-Watson test
##
## data: model
## DW = 1.6441, p-value = 0.1002
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika \(p-value<\alpha\) atau sesuai dengan kriteria berikut:
\(0<DW<dU:\) menolak \(H_0\), terdapat autokorelasi positif
\(dL\le DW \le dU:\) daerah keragu-raguan, tidak ada keputusan
\(dU\le DW \le 4-dU:\) menerima \(H_0\), tidak terdapat autokorelasi
\(4-dU\le DW \le 4-dL:\) menolak \(H_0\), daerah keragu-raguan, tidak ada keputusan
\(4-dL\le DW \le 4:\) menolak \(H_0\), terdapat autokorelasi negatif
Keputusan
Karena nilai \(p-value=0.1002\) yang berarti lebih besar dari \(\alpha\) maka terdapat tidak terdapat cukup bukti untuk menolak \(H_0\).
Kesimpulan
Pada taraf signifikansi \(\alpha=0.05\), diperoleh nilai \(p-value>\alpha\) yang berarti terdapat tidak terdapat cukup bukti untuk menolak \(H_0\), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi pada model regresi yang digunakan.
Hipotesis
\(H_0:\) tidak terjadi multikolinearitas
\(H_1:\) terjadi multikolinearitas
Taraf Signifikansi
\(\alpha=5%\)
Statistik Uji
\[ VIF=\frac{1}{1-R_i^2} \]
library(car)
## Warning: package 'car' was built under R version 4.4.3
## Loading required package: carData
## Warning: package 'carData' was built under R version 4.4.2
vif(model)
## hp wt cyl
## 3.258481 2.580486 4.757456
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika \(VIF \ge 10\).
Keputusan
Karena nilai \(VIF<10\) untuk seluruh variabel maka terdapat tidak terdapat cukup bukti untuk menolak \(H_0\).
Kesimpulan
Pada taraf signifikansi \(\alpha=0.05\), diperoleh nilai \(VIF<10\) untuk seluruh variabel maka tidak terdapat cukup bukti untuk menolak \(H_0\), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat indikasi multikolinearitas pada model regresi yang digunakan.
Berdasarkan hasil uji signifikansi parsial diperoleh bahwa variabel horsepower (hp) dan jumlah silinder (cyl) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel mpg. Oleh karena itu kedua variabel tersebut dikeluarkan dari model regresi.
Model regresi akhir yang diperoleh hanya melibatkan variabel berat kendaraan (wt) sebagai variabel independen, yaitu:
modelAkhir <- lm(mpg ~ wt, data = mtcars)
summary(modelAkhir)
##
## Call:
## lm(formula = mpg ~ wt, data = mtcars)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -4.5432 -2.3647 -0.1252 1.4096 6.8727
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 37.2851 1.8776 19.858 < 2e-16 ***
## wt -5.3445 0.5591 -9.559 1.29e-10 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 3.046 on 30 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.7528, Adjusted R-squared: 0.7446
## F-statistic: 91.38 on 1 and 30 DF, p-value: 1.294e-10
Berdasarkan hasil analisis menggunakan perangkat lunak R, diperoleh model akhir sebagai berikut:
\[ \hat mpg=37.2851-5.3445wt \]
Interpretasi dari koefisien regresi tersebut adalah sebagai berikut:
Model ini menunjukkan bahwa berat kendaraan memiliki pengaruh terhadap efisiensi kendaraan, dimana semakin besar berat kendaraan maka nilai mpg cenderung menurun.
Nilai \(R^2\) menunjukkan bahwa sebesar \(75.28\%\) variasi pada variabel mpg dapat dijelaskan oleh variabel berat kendaraan (wt) yang tedapat pada model regresi. Sementara itu, sisanya sebesar \(24.72\%\) dipengaruhi oleh faktor lain di luar model yang tidak dicantumkan dalam analisis ini.
Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda yang telah dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel horsepower (hp), berat kendaraan (wt), dan jumlah silinder (cyl) terhadap miles per gallon (mpg), maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, beberapa saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk menambahkan variabel independen lain yang diduga dapat mempengaruhi nilai mpg, seperti kapasitas mesin, jenis transmisi, atau ukuran mesin, sehingga model regresi yang diperoleh dapat menjelaskan variasi data dengan lebih baik.
Penelitian selanjutnya juga dapat menggunakan metode analisis lain atau pendekatan model regresi yang berbeda untuk memperoleh hasil yang lebih komprehensif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berat kendaraan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi bahan bakar kendaraan, sehingga dalam pengembangan kendaraan disarankan untuk mempertimbangkan aspek berat kendaraan guna meningkatkan efisiensi bahan bakar.
Daria, D. 2016. Statistika Deskriptif. Universitas Islam Indonesia. Diakses dari: https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/898/05.3%20bab%203.pdf?sequence=9&isAllowed=y
Nizam, Muhammad. 2024. Regresi Beserta Asumsinya di R. Diakses dari: https://rpubs.com/Senpai16p/1189639