Pendahuluan

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu yang lama.
Analisis ini menggunakan data stunting Provinsi Banten berdasarkan kabupaten/kota.

Sumber data: Satu Data Indonesia.


Data Stunting Banten

kabupaten <- c("Pandeglang","Lebak","Tangerang",  "Serang",
               "Kota Tangerang","Cilegon","Kota Serang","Tangerang Selatan")

balita_dites <- c(85000,90000,210000,120000,75000,35000,45000,40000)

anak_pendek <- c(2264,2717,6794,4011,1359,582,971,453)

anak_sangat_pendek <- c(1236,1483,3706,2189,741,318,529,247)

total_stunting <- c(3500,4200,10500,6200,2100,900,1500,700)

data <- data.frame(kabupaten, balita_dites, anak_pendek, anak_sangat_pendek, total_stunting)

data
##           kabupaten balita_dites anak_pendek anak_sangat_pendek total_stunting
## 1        Pandeglang        85000        2264               1236           3500
## 2             Lebak        90000        2717               1483           4200
## 3         Tangerang       210000        6794               3706          10500
## 4            Serang       120000        4011               2189           6200
## 5    Kota Tangerang        75000        1359                741           2100
## 6           Cilegon        35000         582                318            900
## 7       Kota Serang        45000         971                529           1500
## 8 Tangerang Selatan        40000         453                247            700

Pie Chart

kategori <- c("Anak Pendek","Anak Sangat Pendek")
jumlah <- c(19151,10471)

pie(jumlah,
    labels = kategori,
    col = c("orange","red"),
    main = "Persentase Stunting Banten")

Interpretasi:

Pie chart menunjukkan bahwa jumlah anak dengan kategori pendek lebih besar dibandingkan anak sangat pendek.


Bar Chart

barplot(total_stunting,
        names.arg = kabupaten,
        col = "skyblue",
        main = "Jumlah Stunting per Kabupaten/Kota",
        xlab = "Kabupaten/Kota",
        ylab = "Jumlah Kasus",
        las=2)

Interpretasi:

Grafik menunjukkan perbandingan jumlah kasus stunting di setiap kabupaten/kota di Provinsi Banten.


Histogram

hist(total_stunting,
     main="Histogram Total Stunting",
     xlab="Jumlah Kasus",
     col="lightgreen")

Interpretasi:

Histogram menunjukkan distribusi jumlah kasus stunting pada berbagai wilayah di Provinsi Banten.


Density Plot

plot(density(total_stunting),
     main="Density Plot Total Stunting",
     col="blue",
     lwd=2)

Interpretasi:

Density plot menunjukkan kepadatan distribusi jumlah kasus stunting.


Boxplot

boxplot(total_stunting,
        main="Boxplot Kasus Stunting",
        col="orange",
        ylab="Jumlah Kasus")

Interpretasi:

Boxplot menunjukkan penyebaran data serta kemungkinan adanya outlier pada jumlah kasus stunting di beberapa wilayah.


Statistik Deskriptif

mean(total_stunting)
## [1] 3700
median(total_stunting)
## [1] 2800
quantile(total_stunting)
##    0%   25%   50%   75%  100% 
##   700  1350  2800  4700 10500
range(total_stunting)
## [1]   700 10500
var(total_stunting)
## [1] 11002857
sd(total_stunting)
## [1] 3317.055

Penjelasan:


Kesimpulan

Berdasarkan analisis data stunting di Provinsi Banten, terdapat perbedaan jumlah kasus antar kabupaten/kota. Kabupaten Tangerang memiliki jumlah kasus tertinggi dibandingkan wilayah lainnya, sedangkan Tangerang Selatan memiliki jumlah kasus paling rendah.