Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas kehidupan suatu bangsa. Ketersediaan pangan yang tidak seimbang dengan kebutuhan dapat menimbulkan berbagai permasalahan, seperti ketidakstabilan ekonomi, masalah kesehatan, hingga gejolak sosial. Oleh karena itu, ketersediaan pangan menjadi faktor utama dalam menjamin ketahanan pangan suatu wilayah. Dalam penelitian ini dilakukan analisis mengenai pengaruh ketersediaan pangan sebagai variabel independen (X) terhadap ketahanan pangan sebagai variabel dependen (Y). Hubungan antara kedua variabel tersebut dianalisis menggunakan model regresi linier sederhana untuk mengetahui seberapa besar pengaruh ketersediaan pangan terhadap ketahanan pangan.
data <- read_excel("DATA LAPRAK ANAREG.xlsx")
data$`KETERSEDIAAN PANGAN` <- as.numeric(data$`KETERSEDIAAN PANGAN`)
data$`KETAHANAN PANGAN` <- as.numeric(data$`KETAHANAN PANGAN`)
flextable(data) |> autofit()NO | PROVINSI | KETERSEDIAAN PANGAN | KETAHANAN PANGAN |
|---|---|---|---|
1 | Aceh | 66.25 | 70.16 |
2 | Sumatera Utara | 64.44 | 71.22 |
3 | Sumatera Barat | 71.84 | 79.45 |
4 | Riau | 69.81 | 67.59 |
5 | Jambi | 67.04 | 69.50 |
6 | Sumatera Selatan | 61.29 | 69.64 |
7 | Bengkulu | 61.53 | 67.99 |
8 | Lampung | 67.72 | 78.61 |
9 | Kep. Bangka Belitung | 77.54 | 71.71 |
10 | Kepulauan Riau | 72.53 | 63.83 |
11 | DKI Jakarta | 81.12 | 78.25 |
12 | Jawa Barat | 73.71 | 77.55 |
13 | Jawa Tengah | 80.69 | 82.95 |
14 | Di Yogyakarta | 79.97 | 80.88 |
15 | Jawa Timur | 74.27 | 79.85 |
16 | Banten | 62.79 | 73.78 |
17 | Bali | 82.08 | 85.19 |
18 | Nusa Tenggara Barat | 67.81 | 76.58 |
19 | Nusa Tenggara Timur | 60.55 | 68.42 |
20 | Kalimantan Barat | 56.29 | 70.81 |
21 | Kalimantan Tengah | 67.55 | 69.96 |
22 | Kalimantan Selatan | 69.01 | 81.05 |
23 | Kalimantan Timur | 79.43 | 77.65 |
24 | Kalimantan Utara | 72.21 | 71.04 |
25 | Sulawesi Utara | 71.42 | 74.30 |
26 | Sulawesi Tengah | 70.88 | 75.92 |
27 | Sulawesi Selatan | 71.22 | 81.38 |
28 | Sulawesi Tenggara | 74.38 | 75.04 |
29 | Gorontalo | 71.91 | 80.35 |
30 | Sulawesi Barat | 65.42 | 74.04 |
31 | Maluku | 62.27 | 60.20 |
32 | Maluku Utara | 60.61 | 58.39 |
33 | Papua Barat | 56.17 | 45.92 |
34 | Papua | 42.34 | 37.80 |
Tabel di bawah ini menunjukkan data ketersediaan pangan sebagai variable X dan data tingkat ketahanan pangan sebagai variabel Y pada 34 provinsi di Indonesia tahun 2022.
NO PROVINSI KETERSEDIAAN PANGAN KETAHANAN PANGAN
Min. : 1.00 Length:34 Min. :42.34 Min. :37.80
1st Qu.: 9.25 Class :character 1st Qu.:63.20 1st Qu.:69.53
Median :17.50 Mode :character Median :69.41 Median :73.91
Mean :17.50 Mean :68.65 Mean :71.97
3rd Qu.:25.75 3rd Qu.:73.42 3rd Qu.:78.52
Max. :34.00 Max. :82.08 Max. :85.19
(Intercept) X
7.4299499 0.9401444
Berdasarkan output R Studio diatas, diperoleh model awal, yaitu:
\(\hat{\beta}_0\) = 7,4299 ≈ 7.430
\(\hat{\beta}_1\) = 0,9401 ≈ 0.940
Sehingga dapat dibangun model regresi awal yaitu :
\[Y = 7.430 + 0.940X + ε \]
1 2 3 4 5 6
0.4454819 3.2071433 4.4800745 -5.4714323 -0.9572322 4.5885982
Pada Normal Q-Q Plot of Unstandardized Residual dapat dilihat bahwa plotplot mengikuti garis lurus, sehingga dapat disimpulkan bahwa residual berdistribusi normal. Maka asumsi normalitas terpenuhi secara visual.
Hipotesis :
\(H_0\) : Residual berdistribusi
normal
\(H_1\) : Residual tidak berdistribusi
normal
Taraf Signifikansi : \(α = 5%\)
Statistik Uji :
Shapiro-Wilk normality test
data: residual
W = 0.97409, p-value = 0.5827
Berdasarkan output Shapiro-Wilk normality test menggunakan R Studio diperoleh nilai statistik Shapiro-Wilk sebesar \(0.97409\) dengan nilai \(p-value\) sebesar \(0.5827\).
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika nilai \(Sig < α (0,05)\).
Keputusan
\(H_0\) gagal ditolak karena nilai
\(sig > α\) yaitu \(0,5827 > 0,05\).
Kesimpulan
Pada taraf signifikansi 5%, dapat disimpulkan bahwa residual data
berdistribusi normal.
Berdasarkan output Residuals vs Fitted di atas, dapat dilihat bahwa plot data menyebar secara acak atau tidak membentuk pola tertentu, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi linearitas terpenuhi.
Hipotesis :
\(H_0\) : Terdapat hubungan yang
linear
\(H_1\) : Tidak terdapat hubungan yang
linear
Taraf Signifikansi : \(α = 5%\)
Statistik Uji :
RESET test
data: model
RESET = 2.9296, df1 = 2, df2 = 30, p-value = 0.06883
Berdasarkan output uji Ramsey RESET menggunakan R Studio diperoleh nilai p-value sebesar \(0.06883\).
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika nilai \(Sig < α (0,05)\).
Keputusan
\(H_0\) gagal ditolak karena nilai
\(sig > α\) yaitu \(0,06883 > 0,05\).
Kesimpulan
Pada taraf signifikansi 5%, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan
linear antar data.
Berdasarkan grafik SRESID by ZPRED scatterplot dapat dilihat bahwa asumsi Homoskedastisitas terpenuhi karena residual menyebar secara acak dan tidak membentuk pola.
Hipotesis :
\(H_0\) : Tidak terjadi gejala
heteroskedastisitas (varians residual konstan)
\(H_1\) : Terdapat gejala
heteroskedastisitas (varians residual tidak konstan)
Taraf Signifikansi : \(α = 5%\)
Statistik Uji :
Call:
lm(formula = abs(residual) ~ X, data = data_reg)
Residuals:
Min 1Q Median 3Q Max
-4.8406 -2.2776 -0.3294 1.5784 7.6814
Coefficients:
Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
(Intercept) 17.72231 4.56939 3.878 0.000492 ***
X -0.18772 0.06609 -2.841 0.007769 **
---
Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Residual standard error: 3.179 on 32 degrees of freedom
Multiple R-squared: 0.2014, Adjusted R-squared: 0.1764
F-statistic: 8.068 on 1 and 32 DF, p-value: 0.007769
Pada output R studio diatas didapatkan \(t value\) sebesar \(-2.841\) dengan nilai \(p-value\) sebesar \(0.0077 ≈ 0.008\)
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika nilai \(thitung > ttabel\) atau \(Sig < α\)
Keputusan dan Kesimpulan
Pada taraf signifikansi 5%, \(H_0\)
ditolak karena nilai \(Sig < α\)
yaitu \(0,008 < 0.05\), sehingga
dapat disimpulkan bahwa terdapat gejala Heteroskedastisitas atau asumsi
Homoskedastisitas tidak terpenuhi (varians residual tidak konstan)
Hipotesis :
\(H_0\) : Tidak ada autokorelasi
\(H_1\) : Terjadi autokorelasi
Taraf Signifikansi : \(α = 5%\)
Statistik Uji :
Durbin-Watson test
data: model
DW = 1.2447, p-value = 0.007601
alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0
Pada output Durbin-Watson test menggunakan R Studio diatas, didapatkan nilai Durbin-Watson sebesar \(1.2447 ≈ 1.245\) dengan nilai \(p-value\) sebesar \(0.007601\).
Dengan \(α = 5%\), \(n = 34\), dan \(k
= 1\) didapatkan nilai sebagai berikut :
\(dL\) = 1.3929
\(dU\) = 1.5136
\(4 - dL\) = 2.6071
\(4 - dU\) = 2.4864
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika nilai
p-value < \(\alpha\).
Kriteria keputusan berdasarkan statistik Durbin–Watson (DW):
Keputusan dan Kesimpulan
Didapatkan nilai DW berada diantara nilai 0 dan \(dL\) yaitu 0 < 1.245 < 1.3929 dengan
nilai \(p-value\) < \(α\) yaitu sebesar 0.007601 < 0.05,
sehingga pada taraf signifikansi 5% menolak \(H_0\) yang berarti bahwa terdapat
autokorelasi positif pada data yang diobservasi.
Hipotesis
\(H_0 ∶ β_1 = 0\) (model regresi tidak
sesuai)
\(H_0 ∶ β_1 ≠ 0\) (model regresi
sesuai)
Taraf Signifikansi:
\(α = 5%\)
Statistik Uji
Call:
lm(formula = Y ~ X, data = data_reg)
Residuals:
Min 1Q Median 3Q Max
-14.3179 -4.4112 0.5192 4.5615 10.4593
Coefficients:
Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
(Intercept) 7.4299 8.8023 0.844 0.405
X 0.9401 0.1273 7.385 2.12e-08 ***
---
Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Residual standard error: 6.123 on 32 degrees of freedom
Multiple R-squared: 0.6302, Adjusted R-squared: 0.6187
F-statistic: 54.54 on 1 and 32 DF, p-value: 2.119e-08
Berdasarkan output R diatas dapat diketahui:
\[
F = \frac{JKR/1}{JKS/(n - k - 1)} = 54.538 \approx 54.54
\] dengan nilai significance (Sig.) sebesar 0.000.
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika nilai \(Sig. < α\)
Keputusan dan Kesimpulan
Pada taraf signifikansi 5%, H_0 ditolak karena nilai Sig < α yaitu 0.000 < 0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa model cocok atau model regresi dapat digunakan untuk memprediksi Y.
Hipotesis
\(H_0 ∶ β_1 = 0\) (Koefisien parameter
tidak berpengaruh signifikan)
\(H_0 ∶ β_1 ≠ 0\) (Koefisien parameter
berpengaruh signifikan)
Taraf Signifikansi:
\(α = 5%\)
Statistik Uji
Call:
lm(formula = Y ~ X, data = data_reg)
Residuals:
Min 1Q Median 3Q Max
-14.3179 -4.4112 0.5192 4.5615 10.4593
Coefficients:
Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
(Intercept) 7.4299 8.8023 0.844 0.405
X 0.9401 0.1273 7.385 2.12e-08 ***
---
Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Residual standard error: 6.123 on 32 degrees of freedom
Multiple R-squared: 0.6302, Adjusted R-squared: 0.6187
F-statistic: 54.54 on 1 and 32 DF, p-value: 2.119e-08
Berdasarkan tabel Coefficients menggunakan SPSS dan output R di atas, diperoleh nilai statistik uji sebagai berikut:
\[ t = \frac{\hat{\beta}_i}{S(\hat{\beta}_i)} = 7.385 \]
dengan nilai significance (Sig.) sebesar 0.000.
Daerah Kritis
Tolak \(H_0\) jika:
Keputusan dan Kesimpulan
Pada taraf signifikansi 5% (\(\alpha = 0.05\)), diperoleh nilai Sig. \(< \alpha\), yaitu \(0.000 < 0.05\), sehingga \(H_0\) ditolak.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa koefisien parameter signifikan, yang berarti variabel \(X\) berpengaruh signifikan terhadap variabel \(Y\).
Call:
lm(formula = Y ~ X, data = data_reg)
Residuals:
Min 1Q Median 3Q Max
-14.3179 -4.4112 0.5192 4.5615 10.4593
Coefficients:
Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
(Intercept) 7.4299 8.8023 0.844 0.405
X 0.9401 0.1273 7.385 2.12e-08 ***
---
Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Residual standard error: 6.123 on 32 degrees of freedom
Multiple R-squared: 0.6302, Adjusted R-squared: 0.6187
F-statistic: 54.54 on 1 and 32 DF, p-value: 2.119e-08
Berdasarkan kedua output SPSS dan R di atas didapatkan nilai koefisien determinasi:
\[ R^2 = \frac{JKR}{JKS} = 0.6302 \approx 0.630 \]
Artinya sebesar 63% variabilitas dari variabel \(Y\) dapat dijelaskan oleh model, sedangkan sisanya sebesar 37% dijelaskan oleh faktor lain di luar model atau error.
Berdasarkan uji F, model regresi yang dibuat cocok digunakan untuk melakukan analisis lebih lanjut, dan berdasarkan uji t, koefisien parameter regresi X yaitu \(\hat{\beta}_1\) berpengaruh signifikan terhadap Y, sehingga model akhirnya sama dengan model awal yaitu:
\[ Y = 7{,}430 + 0{,}940X + \varepsilon \]
Dengan demikian, dari analisis yang sudah dilakukan diatas, dapat disimpulkan bahwa ketersediaan pangan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap ketahanan pangan, sehingga peningkatan ketersediaan pangan di suatu wilayah cenderung diikuti oleh meningkatnya tingkat ketahanan pangan.