Aktivitas fisik dan pola tidur dapat mempengaruhi jumlah kalori yang
terbakar.
Perhitungan ini menganalisis pengaruh jumlah langkah harian dan jam
tidur terhadap kalori yang terbakar
Model regresi yang digunakan:
\[ Y = \beta_0 + \beta_1 X_1 + \beta_2 X_2 + \epsilon \]
Keterangan:
# Data Penelitian
data <- data.frame(
kalori = c(181,197,0,174,223,149,140,38,1,40,
101,152,150,113,49,86,6,99,143,125,
129,6,9,10,72,150,141,156,57,72,
17,181,197,131,154,137,193,19,101,139,
164,137,22,17,9,145,192,146,234,167),
langkah = c(5464,6041,25,5461,6915,4545,4340,1230,61,1258,
3148,4687,4732,3519,1580,2822,181,3158,4383,3881,
4037,202,292,330,2209,4550,4435,4779,1831,2255,
539,5464,6041,4068,4683,4033,6314,614,3149,4005,
4880,4136,705,570,269,4275,5999,4421,6930,5195),
tidur = c(5,8,5,4,5,6,6,7,5,6,
8,5,6,7,5,6,8,5,4,5,
6,8,5,6,5,8,5,4,5,4,
5,4,3,2,9,5,6,4,5,8,
4,5,6,5,6,5,6,5,6,5)
)
dim(data)
## [1] 50 3
head(data)
## kalori langkah tidur
## 1 181 5464 5
## 2 197 6041 8
## 3 0 25 5
## 4 174 5461 4
## 5 223 6915 5
## 6 149 4545 6
summary(data)
## kalori langkah tidur
## Min. : 0.00 Min. : 25 Min. :2.00
## 1st Qu.: 42.25 1st Qu.:1338 1st Qu.:5.00
## Median :134.00 Median :4035 Median :5.00
## Mean :109.42 Mean :3373 Mean :5.52
## 3rd Qu.:153.50 3rd Qu.:4721 3rd Qu.:6.00
## Max. :234.00 Max. :6930 Max. :9.00
Data yang digunakan terdiri dari 50 observasi dengan 3 variabel yaitu kalori sebagai variabel respon, serta langkah dan tidur sebagai variabel penjelas. Berdasarkan statistik deskriptif, nilai kalori memiliki rata-rata 109,42 dengan nilai minimum 0 dan maksimum 234. Variabel langkah memiliki rata-rata 3373 langkah per hari, sedangkan rata-rata waktu tidur adalah 5,52 jam.
model <- lm(kalori ~ langkah + tidur, data = data)
summary(model)
##
## Call:
## lm(formula = kalori ~ langkah + tidur, data = data)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -12.8564 -1.4888 -0.0443 0.9848 8.4340
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) -2.0429421 2.2629204 -0.903 0.371
## langkah 0.0327597 0.0002416 135.623 <2e-16 ***
## tidur 0.1758174 0.3567561 0.493 0.624
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 3.485 on 47 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.9975, Adjusted R-squared: 0.9974
## F-statistic: 9292 on 2 and 47 DF, p-value: < 2.2e-16
coef(model)
## (Intercept) langkah tidur
## -2.04294212 0.03275966 0.17581739
\[ Kalori = -2.0429 + 0.0328 × Langkah + 0.1758 × Tidur \] Koefisien langkah bernilai positif yang menunjukkan bahwa semakin banyak langkah yang dilakukan maka kalori yang terbakar cenderung meningkat, sedangkan variabel tidur memiliki pengaruh positif namun sangat kecil terhadap kalori.
shapiro.test(model$residuals)
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: model$residuals
## W = 0.90595, p-value = 0.00076
qqnorm(model$residuals)
qqline(model$residuals, col="red")
Berdasarkan uji Shapiro–Wilk diperoleh p-value sebesar 0,00076 yang
lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa residual tidak
berdistribusi normal. Hal ini menunjukkan bahwa asumsi normalitas pada
model regresi belum terpenuhi.
plot(data$langkah, data$kalori,
xlab="Langkah",
ylab="Kalori",
main="Hubungan Kalori dan Langkah")
plot(data$tidur, data$kalori,
xlab="Tidur",
ylab="Kalori",
main="Hubungan Kalori dan Tidur")
Berdasarkan scatterplot hubungan antara kalori dengan langkah dan tidur,
titik-titik data menunjukkan pola yang cenderung mengikuti garis lurus,
khususnya pada variabel langkah yang memiliki tren positif kuat. Dengan
demikian, asumsi linearitas pada model regresi dapat dikatakan
terpenuhi.
plot(model$fitted.values, model$residuals,
xlab="Nilai Prediksi",
ylab="Residual",
main="Plot Residual vs Fitted")
abline(h=0, col="red")
library(lmtest)
bptest(model)
##
## studentized Breusch-Pagan test
##
## data: model
## BP = 7.6934, df = 2, p-value = 0.02135
Hasil uji Breusch–Pagan menunjukkan p-value sebesar 0,02135 yang lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi heteroskedastisitas. Hal ini menunjukkan bahwa varians residual tidak konstan sehingga asumsi homoskedastisitas pada model tidak terpenuhi.
dwtest(model)
##
## Durbin-Watson test
##
## data: model
## DW = 2.0837, p-value = 0.6016
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0
Hasil uji Durbin–Watson menghasilkan nilai DW sebesar 2,0837 dengan p-value 0,6016 yang lebih besar dari 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi pada residual model.
library(car)
vif(model)
## langkah tidur
## 1.01109 1.01109
Nilai Variance Inflation Factor (VIF) untuk variabel langkah dan tidur masing-masing sebesar sekitar 1,01. Karena nilai VIF lebih kecil dari 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen dalam model.
summary(model)
##
## Call:
## lm(formula = kalori ~ langkah + tidur, data = data)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -12.8564 -1.4888 -0.0443 0.9848 8.4340
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) -2.0429421 2.2629204 -0.903 0.371
## langkah 0.0327597 0.0002416 135.623 <2e-16 ***
## tidur 0.1758174 0.3567561 0.493 0.624
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 3.485 on 47 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.9975, Adjusted R-squared: 0.9974
## F-statistic: 9292 on 2 and 47 DF, p-value: < 2.2e-16
Hasil uji F menunjukkan p-value < 2,2e-16 yang lebih kecil dari 0,05 sehingga secara simultan variabel langkah dan tidur berpengaruh signifikan terhadap kalori. Pada uji t, variabel langkah memiliki p-value < 0,05 sehingga berpengaruh signifikan terhadap kalori, sedangkan variabel tidur memiliki p-value 0,624 sehingga tidak berpengaruh signifikan secara parsial.
\[ Y = -2.0429 + 0.0328 langkah + 0.1758 tidur \]
par(mfrow=c(2,2))
plot(model)
par(mfrow=c(1,1))
Berdasarkan grafik diagnostik model, sebagian besar asumsi regresi cukup terpenuhi meskipun terdapat penyimpangan pada normalitas residual dan indikasi heteroskedastisitas ringan. Namun tidak ditemukan pengamatan yang memiliki pengaruh ekstrem terhadap model.
Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda, variabel langkah memiliki pengaruh signifikan terhadap jumlah kalori yang terbakar, sedangkan variabel tidur tidak berpengaruh signifikan. Secara simultan kedua variabel mampu menjelaskan variasi kalori dengan sangat baik, meskipun terdapat beberapa asumsi klasik yang belum sepenuhnya terpenuhi.