negara <- c("Singapura","Brunei","Thailand","Timor Leste","Malaysia",
"Laos","Kamboja","Filipina","Indonesia","Vietnam","Myanmar")
epi <- c(50.9,45.7,38.1,35.1,35.0,30.7,30.1,28.9,28.2,20.1,19.4)
pie(epi,
labels = negara,
main = "Persentase Skor Lingkungan Negara ASEAN",
col = rainbow(length(epi)))
Interpretasi:
Pie chart menunjukkan proporsi skor EPI negara ASEAN. Singapura memiliki
skor tertinggi (50,9), sedangkan Myanmar terendah (19,4). Hal ini
menunjukkan adanya perbedaan tingkat kualitas lingkungan antar
negara.
barplot(epi,
names.arg = negara,
col = "lightgreen",
main = "Skor Lingkungan Negara ASEAN",
ylab = "Skor EPI",
las = 2)
Interpretasi:
Bar chart memperlihatkan perbandingan skor EPI tiap negara. Singapura
dan Brunei berada di atas rata-rata, sedangkan beberapa negara lain
berada di bawahnya, sehingga terlihat adanya kesenjangan kinerja
lingkungan di ASEAN.
hist(epi,
col = "skyblue",
main = "Histogram Skor EPI ASEAN",
xlab = "Skor EPI",
border = "black")
Interpretasi:
Histogram menunjukkan sebagian besar skor EPI berada pada kisaran 28–38,
yang berarti mayoritas negara ASEAN memiliki kinerja lingkungan pada
tingkat menengah.
plot(density(epi),
main = "Density Plot Skor EPI ASEAN",
xlab = "Skor EPI",
col = "blue",
lwd = 2)
Interpretasi:
Density plot menunjukkan kepadatan data tertinggi berada di sekitar
nilai 30–35, sehingga sebagian besar negara memiliki skor lingkungan
pada kisaran tersebut.
boxplot(epi,
col = "orange",
main = "Boxplot Skor EPI ASEAN",
ylab = "Skor EPI")
Interpretasi:
Boxplot menunjukkan median sekitar 30,7 dengan sebagian besar data
berada antara Q1 dan Q3. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas negara
ASEAN memiliki skor lingkungan pada tingkat menengah.
mean(epi)
## [1] 32.92727
median(epi)
## [1] 30.7
quantile(epi)
## 0% 25% 50% 75% 100%
## 19.40 28.55 30.70 36.60 50.90
range(epi)
## [1] 19.4 50.9
var(epi)
## [1] 92.09818
sd(epi)
## [1] 9.59678