install.packages(“psych”) library(psych)
data <- read.csv(“valorant_games.csv”, sep=“;”)
data_num <- data[, sapply(data, is.numeric)]
buang kolom yg tidak terpakai
data_num\(game_id <- NULL
data_num\)episode <- NULL data_num$act <- NULL
hilangin NA
data_num <- na.omit(data_num)
standarisasi
data_scale <- scale(data_num)
Bartlett awal
cortest.bartlett(data_scale)
setelah liat hasil KMO, buang yang MSA < 0.5
data_fix <- data_num[, c( “kills”, “kdr”, “avg_dmg_delta”,
“headshot_pct”, “avg_dmg”, “acs”, “num_frag” )]
standarisasi ulang
data_scale2 <- scale(data_fix)
KMO lagi
KMO(data_scale2)
Bartlett lagi
cortest.bartlett(data_scale2)
eigen value
eigen(cor(data_scale2))$values
Selanjutnya, berdasarkan hasil perhitungan eigenvalue, diperoleh
satu nilai eigen yang lebih besar dari 1. Sesuai dengan kriteria Kaiser
(eigenvalue > 1), maka hanya terdapat satu faktor yang dapat
dipertahankan. Faktor tersebut merupakan komponen utama yang dominan
dalam menjelaskan variasi data.
dilanjutkan PCA dan FA
pca <- prcomp(data_scale2)
lihat ringkasan variansi
summary(pca)
lihat loading (kontribusi tiap variabel ke komponen)
pca$rotation
ambil cuma PC1
loading_pc1 <- pca$rotation[,1] loading_pc1
scree plot
plot(pca, type=“l”)
FA
fa1 <- fa(data_scale2, nfactors = 1, rotate = “none”)
fa1 fa1$loadings
Secara keseluruhan, faktor yang terbentuk dapat diinterpretasikan
sebagai “Performa Keseluruhan Pemain”, karena didominasi oleh indikator
yang berkaitan dengan damage dan efektivitas permainan.