ANALISIS DATA KUANTITATIF
Pendekatan Konseptual, Manual Statistik, dan Implementasi R untuk Riset Sosial

Penulis: Dr. Cece Mulyadi, M.Si.


KATA PENGANTAR

Buku ini disusun sebagai jembatan antara metodologi penelitian kuantitatif dan praktik analisis data menggunakan R. Dalam banyak situasi pembelajaran, dua ranah ini sering dipisahkan: metodologi dibahas secara teoretik, sedangkan komputasi statistik diajarkan sebagai keterampilan teknis semata. Naskah ini dirancang untuk menghindari pemisahan tersebut.

Setiap bab disusun dengan pola tetap agar pembaca memperoleh alur yang konsisten:

  1. fondasi konsep,
  2. penurunan rumus atau logika manual,
  3. contoh aplikasi pada konteks sosial,
  4. implementasi R,
  5. interpretasi substantif,
  6. latihan terstruktur.

Dengan struktur tersebut, mahasiswa, dosen, peneliti pemula, dan praktisi kebijakan diharapkan dapat menggunakan buku ini baik sebagai buku ajar, modul praktikum, maupun rujukan awal untuk penelitian kuantitatif terapan.


PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU

Sasaran pembaca

  • Mahasiswa S1/S2 ilmu sosial, pendidikan, kebijakan publik, dan manajemen.
  • Dosen pengampu metodologi penelitian kuantitatif.
  • Peneliti lembaga survei dan instansi pemerintah.

Prasyarat dasar

  • Pemahaman statistik deskriptif dasar.
  • Kemampuan membaca tabel dan grafik.
  • Minat menggunakan R sebagai perangkat analisis.

Strategi belajar yang disarankan

  • Baca konsep sebelum menjalankan kode R.
  • Ulangi perhitungan manual minimal satu contoh tiap bab.
  • Simpan skrip analisis per bab agar dapat direplikasi.
  • Tulis interpretasi hasil dalam kalimat substantif, bukan hanya angka.

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari buku ini, pembaca diharapkan mampu:

  1. merumuskan masalah kuantitatif yang terukur;
  2. menyusun desain penelitian yang koheren;
  3. mengembangkan instrumen yang valid dan reliabel;
  4. menyiapkan, membersihkan, dan mengelola data;
  5. menerapkan uji statistik yang tepat beserta pemeriksaan asumsi;
  6. menginterpretasikan hasil secara metodologis dan substantif;
  7. menyusun laporan kuantitatif yang transparan, replikabel, dan siap publikasi.

BAGIAN I - FONDASI METODOLOGI KUANTITATIF

1 Bab Paradigma dan Pendekatan, serta Jenis Penelitian Kuantitatif

1.1 Paradigma penelitian kuantitatif

Paradigma penelitian adalah sistem keyakinan ilmiah yang membimbing peneliti dalam melihat realitas, memformulasikan pertanyaan, memilih metode, dan menafsirkan bukti empiris (Kuhn, 1962; Creswell, 2014). Dalam penelitian kuantitatif, paradigma yang dominan adalah positivisme dan post-positivisme.

  • Positivisme: realitas sosial diasumsikan dapat diamati dan diukur secara objektif melalui variabel teramati.
  • Post-positivisme: tetap menekankan pengukuran empiris, namun mengakui keterbatasan observasi, instrumen, dan kemungkinan bias (Neuman, 2014).

Contoh:

  • Positivisme: menguji perbedaan rata-rata nilai ujian antara kelas metode A dan B.
  • Post-positivisme: menguji topik yang sama sambil mengontrol variabel latar belakang (kemampuan awal, status sosial-ekonomi).

1.2 Pendekatan kuantitatif

Pendekatan kuantitatif adalah pendekatan yang mengubah fenomena sosial menjadi data numerik agar dapat dianalisis secara statistik (Babbie, 2013). Ciri utama pendekatan ini:

  • variabel didefinisikan operasional,
  • instrumen terstandar,
  • prosedur sampling jelas,
  • pengujian hipotesis sistematis,
  • hasil dapat direplikasi.

1.3 Jenis penelitian kuantitatif

  1. Deskriptif: menggambarkan karakteristik populasi. Contoh: proporsi rumah tangga pengguna internet di Kabupaten X.
  2. Komparatif: membandingkan kelompok. Contoh: perbedaan nilai siswa penerima vs non-penerima beasiswa.
  3. Korelasional: menguji kekuatan hubungan variabel. Contoh: hubungan jam belajar dan IPK.
  4. Eksplanatori: menguji pengaruh variabel penjelas. Contoh: pengaruh literasi digital, dukungan keluarga, dan jam belajar terhadap prestasi.
  5. Eksperimen/kuasi-eksperimen: menguji dampak intervensi. Contoh: dampak pelatihan kerja terhadap peluang kerja formal.

1.4 Kapan pendekatan kuantitatif tepat digunakan

Pendekatan kuantitatif tepat ketika peneliti ingin:

  • mengukur besaran efek,
  • menguji hipotesis inferensial,
  • membandingkan kelompok secara objektif,
  • melakukan generalisasi dari sampel ke populasi.

1.5 Latihan bab 1

  1. Jelaskan perbedaan positivisme dan post-positivisme dalam konteks penelitian sosial.
  2. Buat satu contoh topik penelitian deskriptif, komparatif, dan eksplanatori.
  3. Jelaskan mengapa pendekatan kuantitatif tepat untuk evaluasi dampak program.

1.6 Kunci jawaban bab 1 (ringkas)

  1. Positivisme menekankan objektivitas pengukuran; post-positivisme menambahkan kesadaran atas keterbatasan observasi dan kebutuhan kontrol bias.
  2. Deskriptif: profil literasi digital siswa. Komparatif: beda nilai siswa urban-rural. Eksplanatori: faktor penentu peluang kerja formal.
  3. Evaluasi dampak membutuhkan estimasi perubahan yang terukur dan dapat diuji statistik.

2 Bab Hubungan Paradigma, Teori, dan Metodologi

2.1 Definisi dan relasi konsep

  • Paradigma: landasan filosofis penelitian.
  • Teori: penjelasan konseptual hubungan antarfenomena.
  • Metodologi: strategi/prosedur untuk menguji teori.

Relasinya: paradigma memayungi teori, teori menurunkan hipotesis, metodologi memilih cara menguji hipotesis (Creswell, 2014; Kerlinger & Lee, 2000).

2.2 Skema hubungan

Paradigma -> Teori -> Model konseptual -> Hipotesis -> Desain -> Data -> Analisis -> Interpretasi

Jika salah satu mata rantai tidak sinkron, hasil penelitian berisiko bias walau secara statistik tampak signifikan.

2.3 Contoh terpadu

Kasus: kepuasan layanan administrasi kampus.

  • Paradigma: post-positivisme.
  • Teori: kualitas layanan (service quality).
  • Model konseptual: responsiveness, assurance, empathy -> kepuasan.
  • Hipotesis: setiap dimensi kualitas layanan berpengaruh positif terhadap kepuasan.
  • Metodologi: survei kuantitatif cross-sectional, analisis regresi linear.

2.4 Kesalahan yang sering terjadi

  • Teori tidak dipakai untuk membangun hipotesis.
  • Metode dipilih karena kebiasaan, bukan kebutuhan pertanyaan penelitian.
  • Variabel tidak selaras dengan konstruk teoritik.

2.5 Latihan bab 2

  1. Pilih satu topik sosial, susun rantai paradigma -> teori -> hipotesis -> metode.
  2. Berikan satu contoh mismatch teori dan metode.
  3. Buat model konseptual sederhana minimal 3 variabel.

2.6 Kunci jawaban bab 2 (ringkas)

  1. Contoh: topik serapan kerja; paradigma post-positivisme; teori human capital; hipotesis pendidikan/pelatihan meningkatkan kerja formal; metode survei + logistik.
  2. Mismatch: hipotesis kausal, tetapi metode hanya deskriptif.
  3. Model: pelatihan kerja + pendidikan + pengalaman -> kerja formal.

3 Bab Posisi Teori dan Pemilihan Teori dalam Metode Penelitian Kuantitatif

3.1 Posisi teori dalam penelitian kuantitatif

Teori adalah mesin penjelasan. Dalam riset kuantitatif, teori berfungsi untuk:

  • menentukan variabel relevan,
  • menentukan arah hubungan,
  • merumuskan hipotesis,
  • menjadi dasar interpretasi hasil (Neuman, 2014).

Tanpa teori, analisis cenderung menjadi pencarian angka signifikan tanpa makna substantif.

3.2 Kriteria pemilihan teori

Teori dipilih jika:

  • relevan dengan fenomena,
  • proposisinya dapat diuji,
  • kompatibel dengan variabel terukur,
  • didukung literatur empiris.

3.3 Contoh pemilihan teori

Topik: prestasi akademik mahasiswa.

  • Teori motivasi belajar.
  • Teori modal sosial keluarga.
  • Teori literasi digital.

Model: literasi digital + dukungan keluarga + motivasi belajar -> prestasi akademik.

3.4 Teori utama dan teori pendukung

  • Teori utama: menjelaskan mekanisme inti.
  • Teori pendukung: memperkaya variabel kontrol/moderator.

Contoh:

  • Teori utama: human capital.
  • Teori pendukung: signaling theory untuk peran sertifikasi.

3.5 Latihan bab 3

  1. Pilih satu topik, tentukan 1 teori utama dan 2 teori pendukung.
  2. Jelaskan alasan pemilihan teori.
  3. Turunkan minimal 3 hipotesis terarah.

3.6 Kunci jawaban bab 3 (ringkas)

  1. Topik kerja formal pemuda: teori utama human capital; pendukung social capital dan signaling.
  2. Human capital menjelaskan keterampilan; social capital akses jaringan; signaling nilai sertifikat.
  3. Hipotesis: pendidikan (+), pelatihan (+), jaringan sosial (+) terhadap peluang kerja formal.

4 Bab Fondasi Data Sosial dan Penentuan Topik Penelitian Kuantitatif

4.1 Fondasi data sosial

Data sosial adalah representasi empiris fenomena masyarakat dalam bentuk numerik atau kategori terstruktur yang dapat dianalisis secara statistik (Babbie, 2013; Neuman, 2014). Dalam penelitian kuantitatif, data sosial tidak hanya berfungsi sebagai "bahan hitung", tetapi sebagai dasar inferensi ilmiah untuk menjawab pertanyaan kebijakan, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan tata kelola publik.

4.1.1 4.1 Karakter utama data sosial

  1. Terikat konteks sosial: angka selalu merepresentasikan realitas sosial tertentu (wilayah, kelompok, periode waktu).
  2. Mengandung potensi bias: bias pengukuran, bias respon, bias cakupan, dan bias seleksi.
  3. Memerlukan dokumentasi: kode variabel, definisi indikator, sumber data, dan prosedur cleaning harus tertulis.
  4. Berorientasi inferensi: kualitas data menentukan sahih atau tidaknya kesimpulan.

4.1.2 4.2 Sumber data sosial

  • Data primer: dikumpulkan langsung oleh peneliti (survei, tes, observasi terstruktur).
  • Data sekunder: dipublikasikan institusi resmi (BPS, kementerian, lembaga riset, survei nasional).
  • Data administratif/digital: jejak data dari sistem layanan (dashboard, log aplikasi, rekam layanan publik).

4.1.3 4.3 Dimensi mutu data

Kualitas data sosial ditentukan oleh:

  • validitas: apakah instrumen benar-benar mengukur konsep yang dimaksud;
  • reliabilitas: apakah hasil pengukuran konsisten;
  • representativitas: apakah sampel mencerminkan populasi;
  • integritas pengolahan: apakah cleaning, rekoding, dan agregasi terdokumentasi dengan benar.

Tabel ringkas indikator mutu data:

Dimensi Pertanyaan audit Risiko jika lemah
Validitas Apakah indikator sesuai konstruk teori? Salah tafsir konsep
Reliabilitas Apakah item konsisten antar responden/waktu? Hasil tidak stabil
Representativitas Apakah sampel mewakili populasi sasaran? Generalisasi bias
Integritas data Apakah perubahan data tercatat? Replikasi gagal

4.2 Penentuan topik penelitian kuantitatif

Topik yang baik harus:

  1. relevan secara sosial,
  2. memiliki pijakan teori,
  3. terukur secara operasional,
  4. feasible secara waktu dan data,
  5. berkontribusi ilmiah/praktis.

Formula praktis: Isu penting + variabel terukur + data tersedia + metode layak + kontribusi jelas.

4.2.1 4.4 Alur menentukan topik kuantitatif

Langkah praktis:

  1. Pemetaan isu: pilih isu yang berdampak sosial dan relevan kebijakan.
  2. Pemetaan data: cek apakah variabel dapat diukur dengan instrumen/data yang realistis.
  3. Pemetaan teori: tentukan teori yang menjelaskan hubungan antarvariabel.
  4. Pemetaan metode: cocokkan jenis variabel dengan teknik analisis.
  5. Pemetaan kontribusi: jelaskan manfaat akademik dan praktis.

4.2.2 4.5 Kriteria topik level buku nasional

Topik layak untuk standar buku ajar nasional jika:

  • ruang lingkupnya jelas (populasi, wilayah, periode),
  • berbasis kebutuhan sosial aktual,
  • memiliki novelty (konteks baru, variabel baru, atau model baru),
  • dapat direplikasi di kampus/daerah lain,
  • relevan untuk pembelajaran metodologi dan praktik statistik.

4.3 Contoh pemilihan topik

Isu umum: pengangguran pemuda.

  • Topik lemah: “Pengangguran pemuda di Indonesia” (terlalu luas).
  • Topik kuat: “Pengaruh pelatihan kerja, pendidikan, dan pengalaman magang terhadap peluang kerja formal pemuda usia 18-24 tahun di Kota X tahun 2026.”

4.3.1 4.6 Contoh lain lintas sektor

  1. Pendidikan
  • Lemah: "Rendahnya kualitas pendidikan."
  • Kuat: "Pengaruh literasi digital, dukungan keluarga, dan jam belajar terhadap nilai statistika mahasiswa semester 2 di Universitas X tahun ajaran 2026."
  1. Kesehatan masyarakat
  • Lemah: "Kesehatan remaja di Indonesia."
  • Kuat: "Hubungan aktivitas fisik, kualitas tidur, dan pola makan terhadap indeks massa tubuh remaja SMA di Kota Y tahun 2026."
  1. Administrasi publik
  • Lemah: "Pelayanan publik perlu ditingkatkan."
  • Kuat: "Pengaruh waktu tunggu, kejelasan prosedur, dan kualitas interaksi petugas terhadap kepuasan layanan administrasi kependudukan di Kabupaten Z tahun 2026."

4.4 Uji kelayakan topik (feasibility check)

  • Apakah variabel dapat diukur?
  • Apakah populasi bisa dijangkau?
  • Apakah data dapat dikumpulkan sesuai waktu penelitian?
  • Apakah teknik analisis sesuai dengan data?
  • Apakah hasilnya bernilai untuk kebijakan/ilmu?

4.4.1 4.7 Rubrik uji kelayakan (skor 1-5)

Kriteria Deskripsi Skor (1-5)
Relevansi sosial Tingkat urgensi isu di masyarakat
Kejelasan variabel Variabel dapat didefinisikan operasional
Ketersediaan data Data primer/sekunder dapat diperoleh
Kelayakan waktu-biaya Sesuai jadwal dan sumber daya penelitian
Kelayakan analitik Teknik statistik sesuai level data
Kontribusi ilmiah Memberi nilai tambah bagi literatur
Kontribusi praktis Bermanfaat bagi kebijakan/program

Interpretasi skor:

  • 30-35: sangat layak,
  • 23-29: layak dengan revisi minor,
  • 16-22: perlu revisi besar,
  • <16: ganti topik.

4.5 Latihan bab 4

  1. Buat 3 kandidat topik kuantitatif dari isu sosial berbeda.

  2. Nilai tiap topik dengan kriteria relevansi, keterukuran, dan kelayakan.

  3. Pilih 1 topik terbaik disertai justifikasi.

  4. Untuk topik terpilih, tulis:

  • unit analisis,
  • variabel dependen dan independen,
  • sumber data potensial,
  • teknik analisis awal yang mungkin dipakai.
  1. Buat matriks mini "masalah-data-metode-kontribusi" untuk topik final Anda.

4.6 Kunci jawaban bab 4 (contoh lebih lengkap)

  1. Contoh 3 kandidat topik:
  • Pendidikan: pengaruh literasi digital terhadap capaian akademik.
  • Kesehatan: faktor risiko obesitas remaja sekolah menengah.
  • Ketenagakerjaan: pengaruh pelatihan kerja terhadap peluang kerja formal pemuda.
  1. Contoh penilaian singkat:
  • Topik pendidikan: skor 28 (layak, perlu penguatan data).
  • Topik kesehatan: skor 24 (layak, perlu perbaikan akses responden).
  • Topik ketenagakerjaan: skor 31 (sangat layak).
  1. Topik terpilih (contoh): ketenagakerjaan pemuda, karena:
  • variabel jelas (pelatihan, pendidikan, magang, kerja formal),
  • data feasible (survei responden + data dinas),
  • metode cocok (regresi logistik),
  • kontribusi kebijakan tinggi (evaluasi program pelatihan).
  1. Contoh rincian topik terpilih:
  • Unit analisis: individu pemuda 18-24 tahun.
  • Variabel dependen: status kerja formal (0/1).
  • Variabel independen: pelatihan kerja, pendidikan, pengalaman magang.
  • Sumber data: survei primer + data administratif dinas ketenagakerjaan.
  • Analisis awal: deskriptif, uji bivariat, regresi logistik multivariat.
  1. Contoh matriks mini:
  • Masalah: serapan kerja formal pemuda rendah.
  • Data: survei pemuda + data program pelatihan.
  • Metode: logistik biner.
  • Kontribusi: rekomendasi targeting dan desain pelatihan kerja daerah.

5 Bab Menentukan Masalah Penelitian Kuantitatif

5.1 Pengantar: Mengapa bab ini sangat penting

Banyak proposal penelitian kuantitatif gagal bukan karena analisis statistiknya lemah, melainkan karena fondasi awalnya keliru: masalah penelitian tidak tajam, variabel tidak operasional, dan pertanyaan penelitian tidak selaras dengan data yang tersedia. Pada tahap proposal, kelemahan ini sering belum terlihat karena dokumen masih dipenuhi pernyataan umum yang terdengar meyakinkan. Namun, saat masuk tahap pengumpulan data dan analisis, kelemahan desain segera muncul. Akibatnya, data yang dikumpulkan tidak menjawab pertanyaan inti, hipotesis tidak dapat diuji secara valid, dan simpulan penelitian menjadi lemah.

Bab ini dirancang sebagai panduan teknis yang sangat rinci untuk memastikan peneliti mampu mengubah isu sosial yang luas menjadi masalah penelitian kuantitatif yang spesifik, terukur, dan dapat diuji. Fokus bab ini bukan sekadar definisi, tetapi keterampilan berpikir metodologis: bagaimana menyeleksi isu, memvalidasi urgensi dengan data awal, membaca celah literatur, merumuskan variabel, menulis rumusan masalah, menurunkan tujuan-pertanyaan-hipotesis, hingga memilih teknik analisis yang konsisten.

Jika bab ini dikuasai dengan baik, maka proses penelitian pada bab-bab berikutnya menjadi lebih terarah, efisien, dan bermakna. Peneliti tidak lagi sekadar “mengolah angka”, melainkan membangun argumen ilmiah berbasis data yang sahih untuk menjawab persoalan sosial secara bertanggung jawab.

5.2 Definisi masalah penelitian kuantitatif

Masalah penelitian kuantitatif adalah kesenjangan antara kondisi empiris dan penjelasan ilmiah yang dapat diuji menggunakan data numerik (Creswell, 2014). Kesenjangan ini dapat berupa:

  • fenomena sosial yang terjadi, tetapi faktor penentunya belum diketahui secara empiris,
  • kebijakan/program yang dijalankan, tetapi efektivitasnya belum terukur,
  • hasil penelitian terdahulu yang tidak konsisten,
  • variabel penting yang belum diuji dalam konteks populasi tertentu.

Masalah penelitian kuantitatif yang baik harus memuat unsur berikut:

  • variabel utama yang jelas,
  • unit analisis yang tegas,
  • populasi sasaran yang terdefinisi,
  • konteks ruang dan waktu yang spesifik,
  • potensi pengujian statistik yang realistis.

Masalah penelitian bukan slogan. Kalimat seperti “kualitas pendidikan rendah” atau “pengangguran pemuda tinggi” belum bisa disebut masalah penelitian kuantitatif jika belum dirumuskan menjadi hubungan antarvariabel yang dapat diukur.

5.3 Perbedaan isu, topik, masalah, dan rumusan masalah

Dalam praktik akademik, banyak mahasiswa mencampuradukkan istilah isu, topik, masalah, dan rumusan masalah. Padahal keempatnya berada pada level abstraksi yang berbeda.

  • Isu: persoalan sosial yang luas dan bernilai publik.
  • Topik: area kajian yang dipilih dari isu.
  • Masalah penelitian: celah ilmiah spesifik dalam topik.
  • Rumusan masalah: kalimat penelitian yang menyatakan hubungan/perbedaan/pengaruh variabel secara terukur.

Contoh alur transformasi:

  • Isu: pengangguran pemuda meningkat.
  • Topik: ketenagakerjaan lulusan SMK.
  • Masalah penelitian: belum ada bukti kuantitatif lokal mengenai faktor pelatihan, sertifikasi, dan magang terhadap peluang kerja formal.
  • Rumusan masalah: “Apakah pelatihan kerja, sertifikasi kompetensi, dan pengalaman magang berpengaruh terhadap peluang kerja formal lulusan SMK di Kota X tahun 2026?”

Dengan memahami perbedaan ini, peneliti dapat menghindari proposal yang terlalu normatif dan tidak operasional.

5.4 Kriteria masalah penelitian kuantitatif yang kuat

Sebuah masalah penelitian kuantitatif disebut kuat jika memenuhi delapan kriteria berikut:

  1. Signifikan secara sosial: persoalan berdampak pada kelompok atau kebijakan nyata.
  2. Berbasis bukti awal: ada data pendukung awal yang menunjukkan masalah memang terjadi.
  3. Didukung literatur: ada dasar teori dan hasil penelitian terdahulu.
  4. Spesifik: tidak terlalu luas, tidak ambigu.
  5. Terukur: semua konsep dapat dioperasionalkan menjadi variabel.
  6. Feasible: data, waktu, biaya, dan akses lapangan realistis.
  7. Etis: prosedur dapat dijalankan sesuai prinsip etika penelitian.
  8. Kontributif: memberi nilai tambah akademik dan/atau kebijakan.

Jika satu atau lebih kriteria ini tidak terpenuhi, peneliti perlu merevisi masalah sebelum masuk ke tahap desain dan instrumen.

5.5 Sumber masalah penelitian kuantitatif

Masalah penelitian kuantitatif umumnya berasal dari beberapa jalur berikut.

  • Kesenjangan literatur: variabel tertentu belum diuji pada konteks lokal.
  • Masalah kebijakan publik: program berjalan tetapi dampak belum terukur.
  • Data deskriptif yang belum terjelaskan: ada tren tetapi faktor penentunya belum diuji.
  • Kontradiksi studi terdahulu: hasil penelitian sebelumnya tidak konsisten.
  • Masalah institusional: perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, atau pemerintah daerah membutuhkan bukti kuantitatif untuk pengambilan keputusan.

Contoh singkat:

  • Kesenjangan literatur: banyak studi global tentang literasi digital, tetapi minim data untuk mahasiswa tingkat awal di kota non-metropolitan.
  • Kebijakan publik: pelatihan kerja pemuda dibiayai APBD, tetapi efek pada kerja formal belum dievaluasi.
  • Tren deskriptif: angka putus kuliah naik, namun determinan akademik dan ekonomi belum diuji bersama.

5.6 Langkah sistematis menentukan masalah penelitian

Langkah berikut dapat digunakan sebagai alur kerja standar.

  1. Identifikasi isu prioritas. Pilih isu dengan urgensi sosial dan relevansi akademik.

  2. Kumpulkan bukti awal. Gunakan data deskriptif awal dari sumber resmi untuk memvalidasi bahwa masalah benar-benar ada.

  3. Tinjau literatur. Cari teori utama, variabel yang sering dipakai, temuan konsisten/kontradiktif, dan celah konteks.

  4. Tentukan variabel inti. Tentukan outcome (Y), prediktor utama (X), serta variabel kontrol jika diperlukan.

  5. Tentukan unit analisis dan populasi. Pastikan siapa yang dianalisis: individu, rumah tangga, sekolah, organisasi, atau wilayah.

  6. Batasi konteks ruang dan waktu. Tentukan lokasi dan periode secara eksplisit.

  7. Tulis rumusan masalah. Gunakan kalimat yang bisa langsung diturunkan menjadi pertanyaan, hipotesis, dan teknik analisis.

  8. Lakukan uji konsistensi logis. Cek keselarasan masalah -> tujuan -> pertanyaan -> hipotesis -> metode.

5.7 Kerangka 5W1H untuk merumuskan masalah

Agar rumusan masalah tajam, gunakan kerangka 5W1H.

  • What: variabel apa yang diteliti?
  • Who: siapa unit analisis/populasi?
  • Where: di wilayah mana?
  • When: periode waktu kapan?
  • Why: mengapa penting diteliti?
  • How: bagaimana hubungan/perbedaan/pengaruh diuji?

Contoh:

  • What: peluang kerja formal (Y); pelatihan, sertifikasi, magang (X).
  • Who: lulusan SMK usia 18-24 tahun.
  • Where: Kota X.
  • When: tahun 2026.
  • Why: tingkat pengangguran pemuda tinggi.
  • How: analisis regresi logistik.

5.9 Dari masalah ke tujuan penelitian

Tujuan penelitian harus merupakan transformasi langsung dari rumusan masalah. Jika masalah berbunyi “pengaruh X terhadap Y”, maka tujuan harus berbunyi “menguji pengaruh X terhadap Y”, bukan “mengetahui secara umum”.

Contoh tujuan umum:

  • Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi peluang kerja formal lulusan SMK.

Contoh tujuan khusus:

  1. Menguji pengaruh pelatihan kerja terhadap peluang kerja formal.
  2. Menguji pengaruh sertifikasi kompetensi terhadap peluang kerja formal.
  3. Menguji pengaruh pengalaman magang terhadap peluang kerja formal.
  4. Menguji pengaruh simultan ketiga variabel terhadap peluang kerja formal.

5.10 Dari tujuan ke pertanyaan penelitian

Pertanyaan penelitian adalah versi interogatif dari tujuan.

Contoh:

  1. Apakah pelatihan kerja berpengaruh terhadap peluang kerja formal?
  2. Apakah sertifikasi kompetensi berpengaruh terhadap peluang kerja formal?
  3. Apakah pengalaman magang berpengaruh terhadap peluang kerja formal?
  4. Seberapa besar peluang kerja formal berubah ketika ketiga variabel meningkat?

Pertanyaan harus jelas, terukur, dan tidak normatif.

5.11 Dari pertanyaan ke hipotesis

Hipotesis kuantitatif ditulis dalam pasangan H0 dan H1.

Contoh:

  • H01: Pelatihan kerja tidak berpengaruh terhadap peluang kerja formal.
  • H11: Pelatihan kerja berpengaruh positif terhadap peluang kerja formal.
  • H02: Sertifikasi kompetensi tidak berpengaruh terhadap peluang kerja formal.
  • H12: Sertifikasi kompetensi berpengaruh positif terhadap peluang kerja formal.
  • H03: Pengalaman magang tidak berpengaruh terhadap peluang kerja formal.
  • H13: Pengalaman magang berpengaruh positif terhadap peluang kerja formal.

Jika outcome biner, model yang sesuai adalah regresi logistik. Jika outcome kontinu, gunakan regresi linear.

5.12 Menentukan teknik analisis sejak tahap masalah

Pemilihan teknik analisis harus konsisten dengan bentuk variabel dependen.

  • Outcome kontinu: regresi linear, ANOVA, uji t.
  • Outcome kategorik biner: regresi logistik.
  • Outcome ordinal: regresi ordinal atau metode nonparametrik sesuai konteks.
  • Outcome hitungan: poisson/negative binomial (sesuai distribusi).

Kesalahan umum adalah menulis masalah dengan istilah “pengaruh” tetapi memilih analisis yang tidak mendukung inferensi tersebut.

5.13 Contoh kasus lengkap 1: ketenagakerjaan pemuda

5.13.1 Latar isu

Data daerah menunjukkan tingkat pengangguran lulusan SMK lebih tinggi dibanding lulusan jenjang lain. Pemerintah daerah telah menjalankan program pelatihan kerja, namun efektivitas program belum dievaluasi dengan desain kuantitatif yang memadai.

5.13.2 Bukti awal

  • Tingkat pengangguran lulusan SMK Kota X meningkat dalam dua tahun terakhir.
  • Cakupan program pelatihan bertambah, tetapi tidak jelas apakah berhubungan dengan kerja formal.

5.13.3 Gap literatur

  • Studi nasional ada, tetapi konteks kota menengah dengan struktur pasar kerja lokal belum banyak diteliti.
  • Variabel sertifikasi dan magang sering dianalisis terpisah, belum terintegrasi dalam satu model lokal.

5.13.4 Rumusan masalah final

“Apakah pelatihan kerja, sertifikasi kompetensi, dan pengalaman magang berpengaruh terhadap peluang kerja formal lulusan SMK usia 18-24 tahun di Kota X pada tahun 2026?”

5.13.5 Tujuan

  • menguji pengaruh parsial tiap variabel,
  • menguji model simultan,
  • mengestimasi probabilitas kerja formal berdasarkan profil responden.

5.13.6 Pertanyaan

  1. Apakah pelatihan kerja meningkatkan peluang kerja formal?
  2. Apakah sertifikasi meningkatkan peluang kerja formal?
  3. Apakah magang meningkatkan peluang kerja formal?
  4. Variabel mana yang paling dominan?

5.13.7 Hipotesis

H01/H11, H02/H12, H03/H13 dengan arah positif untuk H1.

5.13.8 Teknik analisis

Regresi logistik biner dengan outcome kerja formal (1=ya, 0=tidak).

5.13.9 Nilai kebijakan

Hasil dapat menjadi dasar revisi targeting peserta pelatihan, penyesuaian kurikulum vokasi, dan integrasi sertifikasi-magang.

5.14 Contoh kasus lengkap 2: minat baca mahasiswa

5.14.1 Isu

Kampus melaporkan rendahnya budaya baca pada mahasiswa tahun pertama.

5.14.2 Rumusan masalah

“Apakah frekuensi kunjungan perpustakaan, akses e-book, dukungan dosen, dan beban kerja akademik berpengaruh terhadap skor minat baca mahasiswa semester 1 di Universitas X tahun ajaran 2026?”

5.14.3 Variabel

  • Y: skor minat baca (kontinu)
  • X1: kunjungan perpustakaan
  • X2: akses e-book
  • X3: dukungan dosen
  • X4: beban kerja akademik

5.14.4 Analisis

Regresi linear berganda.

5.14.5 Manfaat

  • bahan perbaikan layanan perpustakaan,
  • kebijakan dosen terkait strategi membaca,
  • desain intervensi literasi akademik.

5.15 Contoh kasus lengkap 3: kepuasan layanan publik

5.15.1 Isu

Pengguna mengeluhkan antrean layanan administrasi kependudukan.

5.15.2 Rumusan masalah

“Apakah waktu tunggu, kejelasan prosedur, keramahan petugas, dan kemudahan kanal digital berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pengguna layanan administrasi kependudukan di Kabupaten Z tahun 2026?”

5.15.3 Analisis

Jika kepuasan diukur kontinu: regresi linear. Jika dikategorikan puas/tidak puas: logistik.

5.15.4 Implikasi

Penelitian memberi dasar numerik untuk redesign antrean, SOP layanan, dan integrasi kanal daring.

5.16 Template praktis menulis masalah penelitian

Template 1 (pengaruh):

“Apakah [X1], [X2], dan [X3] berpengaruh terhadap [Y] pada [populasi] di [wilayah] pada [periode]?”

Template 2 (komparatif):

“Apakah terdapat perbedaan [Y] antara [kelompok A] dan [kelompok B] pada [populasi] di [wilayah] [periode]?”

Template 3 (prediksi):

“Sejauh mana [X1], [X2], [X3] memprediksi [Y] pada [populasi] di [wilayah] [periode]?”

Checklist sebelum finalisasi:

  • variabel lengkap,
  • unit analisis jelas,
  • populasi jelas,
  • lokasi jelas,
  • periode jelas,
  • potensi analisis jelas.

5.17 Kesalahan umum dan cara memperbaikinya

  1. Masalah terlalu luas Perbaikan: batasi populasi, lokasi, periode.

  2. Masalah normatif Perbaikan: ubah menjadi relasi variabel terukur.

  3. Variabel belum operasional Perbaikan: tulis indikator dan skala pengukuran.

  4. Tidak ada data awal Perbaikan: tampilkan statistik deskriptif pendukung dari sumber kredibel.

  5. Tidak selaras dengan metode Perbaikan: tentukan outcome dulu, lalu pilih analisis sesuai tipe data.

  6. Hipotesis tidak diturunkan dari teori Perbaikan: cantumkan teori dan mekanisme hubungan.

  7. Tidak ada kontribusi jelas Perbaikan: pisahkan kontribusi akademik dan kontribusi kebijakan.

  8. Mencampur banyak isu Perbaikan: fokus pada satu outcome utama dalam satu studi.

5.18 Risiko bias sejak tahap perumusan masalah

Bias bisa muncul bahkan sebelum data dikumpulkan.

  • Selection framing bias: memilih masalah hanya karena data mudah didapat.
  • Confirmation bias: menyusun masalah untuk membenarkan keyakinan awal.
  • Omitted-variable bias sejak desain: mengabaikan variabel perancu penting.
  • Measurement bias by design: memilih indikator yang tidak valid sejak awal.

Strategi mitigasi:

  • gunakan review literatur terstruktur,
  • diskusikan desain dengan pembimbing/peer,
  • lakukan pilot conceptual model,
  • dokumentasikan alasan memilih variabel.

5.19 Matriks konsistensi wajib (praktik nasional)

Sebelum proposal disahkan, gunakan matriks berikut.

Elemen Pertanyaan cek Status
Masalah Sudah spesifik dan terukur?
Variabel Outcome dan prediktor jelas?
Unit analisis Individu/rumah tangga/organisasi jelas?
Populasi Batas populasi tegas?
Konteks Lokasi dan periode ditulis?
Tujuan Selaras dengan masalah?
Pertanyaan Interogatif dan terukur?
Hipotesis Turunan teori dan bisa diuji?
Metode Selaras dengan tipe outcome?
Kontribusi Akademik dan praktis jelas?

5.20 Standar kualitas rumusan masalah untuk naskah buku nasional

Agar layak dalam buku metodologi tingkat nasional, rumusan masalah harus memenuhi standar berikut:

  • terminologi konsisten,
  • tidak ambigu,
  • dapat diajarkan dan direplikasi,
  • memiliki contoh lintas sektor,
  • menunjukkan hubungan jelas antara teori dan data,
  • mengandung nilai aplikatif untuk riset kebijakan.

Dalam konteks pengajaran, rumusan masalah sebaiknya disajikan bersama:

  • contoh baik dan buruk,
  • alasan metodologis,
  • alternatif formulasi,
  • implikasi terhadap desain dan analisis.

5.21 Latihan bab 5 (tingkat dasar)

  1. Ubah isu “rendahnya minat baca mahasiswa” menjadi dua rumusan masalah kuantitatif berbeda.
  2. Identifikasi outcome dan tiga prediktor dari masing-masing rumusan.
  3. Tentukan unit analisis, populasi, wilayah, dan periode.
  4. Tentukan teknik analisis awal yang mungkin digunakan.

5.22 Latihan bab 5 (tingkat menengah)

  1. Ambil isu dari sektor kesehatan, lalu susun alur isu -> topik -> masalah -> rumusan masalah.
  2. Susun tujuan umum dan empat tujuan khusus.
  3. Turunkan empat pertanyaan penelitian dan empat hipotesis.
  4. Buat tabel konsistensi masalah-tujuan-pertanyaan-hipotesis-metode.

5.23 Latihan bab 5 (tingkat lanjut)

  1. Pilih satu program publik daerah (pendidikan, kesehatan, atau tenaga kerja) dan rumuskan evaluasi kuantitatifnya.
  2. Jelaskan variabel perancu potensial yang harus dikontrol.
  3. Bandingkan dua opsi analisis (misal linear vs logistik) dan jelaskan mana yang paling tepat.
  4. Tulis potensi bias desain dan strategi mitigasinya.
  5. Susun ringkasan kebijakan 200 kata berdasarkan masalah penelitian yang telah dirumuskan.

5.24 Kunci jawaban bab 5 (contoh komprehensif)

5.24.1 Jawaban latihan dasar (contoh)

  1. Rumusan masalah A: “Apakah frekuensi kunjungan perpustakaan, akses e-book, dan dukungan dosen berpengaruh terhadap skor minat baca mahasiswa semester 1 di Universitas X tahun 2026?”

Rumusan masalah B: “Apakah terdapat perbedaan skor minat baca antara mahasiswa yang mengikuti program literasi kampus dan yang tidak mengikuti pada tahun 2026?”

  1. Variabel:
  • A: Y=minat baca (kontinu), X1=kunjungan perpustakaan, X2=akses e-book, X3=dukungan dosen.
  • B: Y=minat baca, X=keikutsertaan program literasi (biner).
  1. Unit analisis: mahasiswa individu. Populasi: mahasiswa semester 1 Universitas X. Wilayah: Universitas X (Kota X). Periode: tahun akademik 2026.

  2. Analisis:

  • Model A: regresi linear.
  • Model B: uji t dua sampel (jika asumsi terpenuhi) atau Mann-Whitney.

5.24.2 Jawaban latihan menengah (contoh)

Isu: meningkatnya obesitas remaja.

  • Topik: faktor perilaku obesitas siswa SMA.
  • Masalah: belum ada model kuantitatif lokal yang menguji pola makan, aktivitas fisik, dan durasi tidur terhadap IMT remaja.
  • Rumusan masalah: “Apakah pola makan tinggi kalori, rendah aktivitas fisik, dan durasi tidur pendek berpengaruh terhadap IMT siswa SMA di Kota Y tahun 2026?”

Tujuan khusus:

  1. Mengukur profil perilaku makan siswa.
  2. Menguji pengaruh aktivitas fisik terhadap IMT.
  3. Menguji pengaruh durasi tidur terhadap IMT.
  4. Menguji model simultan ketiga prediktor.

Hipotesis contoh:

  • H11: pola makan tinggi kalori berpengaruh positif terhadap IMT.
  • H12: aktivitas fisik berpengaruh negatif terhadap IMT.
  • H13: durasi tidur berpengaruh negatif terhadap IMT.

Metode: regresi linear berganda.

5.24.3 Jawaban latihan lanjut (contoh)

Program: pelatihan kerja pemuda.

Rumusan masalah: “Apakah partisipasi pelatihan kerja, kepemilikan sertifikasi kompetensi, dan pengalaman magang meningkatkan peluang kerja formal pemuda usia 18-24 tahun di Kota X tahun 2026 setelah mengontrol pendidikan dan jenis kelamin?”

Variabel perancu:

  • pendidikan,
  • jenis kelamin,
  • status ekonomi keluarga,
  • lokasi tempat tinggal.

Perbandingan metode:

  • Linear probability model: mudah dibaca tetapi berpotensi masalah heteroskedastisitas dan prediksi di luar 0-1.
  • Logistik biner: lebih tepat untuk outcome kerja formal ya/tidak.

Pilihan: regresi logistik.

Potensi bias dan mitigasi:

  • selection bias -> gunakan matching atau kontrol kovariat kunci,
  • self-report bias -> verifikasi sebagian data dengan dokumen pendukung,
  • omitted variable bias -> masukkan kontrol teoritik yang relevan.

Ringkasan kebijakan (contoh singkat):

Hasil riset diharapkan menunjukkan bahwa kombinasi pelatihan, sertifikasi, dan magang berasosiasi positif dengan peluang kerja formal pemuda. Temuan ini dapat menjadi dasar redesign program pelatihan agar tidak berhenti pada pelatihan kelas, tetapi terintegrasi dengan sertifikasi kompetensi dan penempatan magang industri. Pemerintah daerah dapat memprioritaskan kelompok pemuda berisiko tinggi menganggur dengan skema intervensi berjenjang berbasis profil individu. Pendekatan ini berpotensi meningkatkan efektivitas belanja program ketenagakerjaan.

5.25 Pengayaan: masalah penelitian untuk evaluasi kebijakan publik

Dalam konteks kebijakan publik, penentuan masalah penelitian memiliki tuntutan tambahan dibanding penelitian akademik murni. Peneliti tidak hanya diminta membuktikan hubungan variabel, tetapi juga menilai apakah program mencapai tujuan, siapa kelompok yang paling diuntungkan, dan apakah sumber daya publik digunakan secara efektif.

Pada evaluasi kebijakan, masalah penelitian yang kuat biasanya memuat unsur berikut:

  • program/intervensi yang spesifik,
  • populasi sasaran resmi program,
  • indikator hasil yang terukur,
  • horizon waktu evaluasi,
  • variabel pembanding atau kontrol.

Contoh masalah evaluatif:

“Apakah program beasiswa daerah meningkatkan angka kelulusan tepat waktu mahasiswa penerima dibanding mahasiswa non-penerima di Universitas X pada periode 2024-2026?”

Masalah ini lebih kuat dibanding kalimat umum seperti “apakah beasiswa efektif”, karena menyebut indikator hasil, kelompok pembanding, unit analisis, dan periode.

5.26 Pengayaan: menilai urgensi masalah menggunakan data awal

Sebelum menulis rumusan masalah final, peneliti disarankan menyusun lembar justifikasi masalah berbasis data awal. Lembar ini berisi:

  1. indikator masalah,. tren 3-5 tahun,. perbandingan antarwilayah/kelompok,. kelompok terdampak utama,. konsekuensi jika masalah tidak ditangani.

Contoh struktur justifikasi:

  • Indikator: tingkat kerja formal pemuda.- Tren: stagnan/menurun 3 tahun terakhir.- Kelompok terdampak: lulusan SMK usia 18-24.- Konsekuensi: peningkatan pengangguran terbuka, turunnya produktivitas daerah.- Kebutuhan riset: menguji faktor yang berpengaruh agar intervensi tepat sasaran.

Dengan pendekatan ini, masalah penelitian tidak disusun dari asumsi subjektif, tetapi dari bukti empiris awal yang bisa dipertanggungjawabkan.

5.27 Pengayaan: audit kualitas rumusan masalah

Sebelum rumusan masalah dipakai di proposal, lakukan audit cepat dengan 10 pertanyaan ya/tidak:

  1. Apakah outcome utama jelas?. Apakah prediktor utama jelas?. Apakah unit analisis jelas?. Apakah populasi sasaran jelas?. Apakah lokasi jelas?. Apakah periode jelas?. Apakah hubungan antarvariabel dinyatakan eksplisit?. Apakah ada kemungkinan teknik analisis yang sesuai?. Apakah rumusan ini selaras dengan teori?. Apakah rumusan ini memiliki nilai kebijakan/akademik?

Interpretasi:

  • 9-10 “ya”: sangat siap.- 7-8 “ya”: siap dengan revisi minor.- <=6 “ya”: perlu reformulasi substansial.

5.28 Studi kasus mendalam A: pendidikan tinggi

5.28.1 Latar belakang

Perguruan tinggi Y mencatat bahwa retensi mahasiswa tahun pertama menurun. Terdapat dugaan bahwa faktor adaptasi akademik, dukungan finansial, dan keterlibatan dosen berperan terhadap keputusan mahasiswa untuk bertahan.

5.28.2 Transformasi isu menjadi masalah

  • Isu: retensi tahun pertama menurun.- Topik: determinan retensi mahasiswa baru.- Masalah penelitian: belum ada model kuantitatif kampus yang menguji faktor akademik dan finansial secara simultan terhadap retensi.

5.28.3 Rumusan masalah

“Apakah dukungan finansial, keterlibatan akademik dosen, dan indeks adaptasi belajar berpengaruh terhadap retensi mahasiswa tahun pertama di Universitas Y tahun akademik 2026?”

5.28.4 Variabel

  • Y: retensi (1=bertahan, 0=dropout)- X1: dukungan finansial (skor)- X2: keterlibatan dosen (skor)- X3: adaptasi belajar (skor)- C: jenis kelamin, asal sekolah, status kerja paruh waktu

5.28.5 Analisis

Regresi logistik biner.

5.28.6 Kekuatan metodologis

  • outcome jelas,- populasi jelas,- variabel terukur,- metode cocok.

5.28.7 Potensi kelemahan

  • self-report untuk adaptasi belajar,- potensi omitted variable (misal kesehatan mental).

5.28.8 Mitigasi

  • gunakan instrumen tervalidasi,- tambahkan kontrol teoritik relevan,- lakukan sensitivity analysis.

5.29 Studi kasus mendalam B: kesehatan masyarakat

5.29.1 Latar belakang

Dinas kesehatan Kota Z ingin mengetahui faktor perilaku yang paling terkait dengan risiko obesitas remaja untuk menyusun intervensi sekolah.

5.29.2 Isu ke masalah

  • Isu: prevalensi obesitas remaja meningkat.- Topik: determinan perilaku obesitas siswa.- Masalah: belum ada bukti lokal yang menguji pola makan, aktivitas fisik, dan durasi tidur secara bersama.

5.29.3 Rumusan masalah

“Apakah pola makan tinggi kalori, rendah aktivitas fisik, dan durasi tidur pendek berpengaruh terhadap indeks massa tubuh siswa SMA di Kota Z tahun 2026?”

5.29.4 Analisis

Regresi linear (jika IMT kontinu) atau logistik (jika obesitas dikategorikan ya/tidak).

5.29.5 Kegunaan kebijakan

Hasil membantu prioritas intervensi: edukasi gizi, program aktivitas fisik sekolah, atau promosi higiene tidur.

5.30 Studi kasus mendalam C: tata kelola layanan publik

5.30.1 Latar belakang

Keluhan masyarakat terhadap layanan adminduk meningkat, terutama terkait antrean dan ketidakjelasan prosedur.

5.30.2 Masalah penelitian

“Apakah waktu tunggu, kejelasan prosedur, dan kualitas interaksi petugas memengaruhi kepuasan pengguna layanan adminduk di Kabupaten A tahun 2026?”

5.30.3 Catatan desain

  • jika kepuasan skala 1-10 -> regresi linear,- jika kepuasan dikotomik puas/tidak puas -> logistik,- jika sampel dari beberapa kecamatan -> pertimbangkan clustered standard error.

5.30.4 Kontribusi

Temuan langsung dapat dipakai untuk desain ulang SOP layanan dan digitalisasi antrean.

5.31 Template dokumen kerja untuk mahasiswa/dosen

Gunakan format kerja berikut sebelum menulis proposal final.

Bagian A: Formulir isu

  • Isu utama:- Dampak sosial:- Kelompok terdampak:- Data awal pendukung:- Mengapa penting diteliti sekarang:

Bagian B: Formulir masalah penelitian

  • Outcome (Y):- Prediktor utama (X):- Variabel kontrol:- Unit analisis:- Populasi:- Lokasi:- Periode:- Rumusan masalah versi 1:- Rumusan masalah versi 2:- Rumusan masalah final:

Bagian C: Konsistensi logis

  • Tujuan umum:- Tujuan khusus:- Pertanyaan penelitian:- Hipotesis:- Teknik analisis:- Alasan pemilihan metode:

Bagian D: Risiko metodologis

  • Potensi bias 1 + mitigasi:- Potensi bias 2 + mitigasi:- Potensi bias 3 + mitigasi:

Dokumen kerja ini memaksa peneliti berpikir runtut dan menurunkan kemungkinan mismatch antar bagian proposal.

5.32 Rubrik penilaian bab 5 untuk kelas metodologi

Rubrik berikut dapat digunakan dosen untuk menilai kualitas formulasi masalah.

Aspek Bobot Kriteria unggul
Kejelasan masalah 20% spesifik, tidak ambigu, terukur
Dukungan bukti awal 15% ada data deskriptif kredibel
Kesesuaian teori 15% teori menjelaskan hubungan variabel
Kualitas rumusan variabel 15% Y dan X jelas, operasional
Konsistensi logis 15% masalah-tujuan-pertanyaan-hipotesis sinkron
Kesesuaian metode 10% teknik analisis sesuai tipe data
Kontribusi praktis/ilmiah 10% manfaat nyata dan argumentatif

Interpretasi nilai:

  • 85-100: sangat baik, siap lanjut desain.- 70-84: baik, revisi minor.- 55-69: cukup, revisi substansial.- <55: belum layak, rumuskan ulang dari awal.

5.33 Latihan evaluatif tambahan (untuk target nasional)

5.33.1 Paket A: diagnosis kualitas masalah

Tinjau 5 rumusan masalah berikut dan tentukan mana yang paling layak. Jelaskan alasan metodologis minimal 150 kata per rumusan.

  1. “Bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan?”. “Apakah dukungan keluarga memengaruhi nilai siswa?”. “Apakah dukungan keluarga, akses internet, dan jam belajar berpengaruh terhadap nilai matematika siswa SMP Negeri di Kota X tahun 2026?”. “Apa hubungan ekonomi dengan kesehatan?”. “Apakah status kepesertaan JKN, frekuensi kontrol, dan kepatuhan obat berpengaruh terhadap tekanan darah pasien hipertensi di Puskesmas Y tahun 2026?”

5.33.2 Paket B: reformulasi rumusan masalah

Ubah tiga rumusan masalah yang terlalu umum menjadi rumusan kuantitatif yang:

  • menyebut variabel,- menyebut unit analisis,- menyebut lokasi dan periode,- memuat potensi pengujian statistik.

5.33.3 Paket C: peta risiko bias

Untuk topik pilihan Anda, identifikasi minimal 5 potensi bias dari tahap perumusan masalah hingga analisis awal, lalu usulkan mitigasi praktis.

5.34 Kunci jawaban evaluatif tambahan (contoh)

5.34.1 Jawaban Paket A (ringkas)

  • Nomor 1 dan 4 tidak layak karena normatif dan tidak terukur.- Nomor 2 sebagian layak, tetapi masih kurang konteks populasi, lokasi, periode.- Nomor 3 layak karena variabel, populasi, lokasi, dan waktu jelas.- Nomor 5 layak dan kuat untuk konteks layanan kesehatan primer.

5.34.2 Jawaban Paket B (contoh)

Rumusan umum: “Bagaimana mengurangi stunting?”kuantitatif: “Apakah asupan protein, akses air bersih, dan frekuensi kunjungan posyandu berpengaruh terhadap status stunting balita usia 24-59 bulan di Kecamatan X tahun 2026?”

5.34.3 Jawaban Paket C (contoh)

Potensi bias:

  1. selection bias -> gunakan sampling probabilistik.. recall bias -> batasi periode ingatan responden.. social desirability bias -> jamin anonimitas jawaban.. omitted variable bias -> tambahkan kontrol teoritik.. measurement bias -> gunakan instrumen tervalidasi.

5.35 Penutup bab

Menentukan masalah penelitian kuantitatif adalah keputusan metodologis paling strategis dalam seluruh siklus riset. Rumusan masalah yang tajam akan memandu pemilihan variabel, instrumen, teknik sampling, analisis statistik, hingga kualitas simpulan. Sebaliknya, rumusan masalah yang kabur akan membuat penelitian kehilangan arah meskipun perhitungan statistik dilakukan dengan benar.

Karena itu, peneliti perlu mendisiplinkan diri pada tiga prinsip inti:

  1. Spesifik: jelas variabel, unit analisis, populasi, ruang, dan waktu.
  2. Terukur: seluruh konsep dapat dioperasionalkan secara valid.
  3. Selaras: masalah, tujuan, pertanyaan, hipotesis, dan metode berada dalam satu rantai logis.

Pada level praktik, tambahkan tiga prinsip pendukung:

  1. Berbasis bukti awal: gunakan data deskriptif kredibel sebelum merumuskan masalah.
  2. Berbasis teori: pastikan arah hubungan memiliki dasar konseptual, bukan asumsi personal.
  3. Berbasis kegunaan: pastikan hasil penelitian dapat dipakai untuk keputusan akademik atau kebijakan.

Dengan prinsip-prinsip tersebut, penelitian kuantitatif tidak hanya menghasilkan angka, tetapi menghasilkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dapat diajarkan secara sistematis, dan bermanfaat bagi perbaikan kebijakan publik.

5.36 Decision-tree praktis: dari masalah ke metode analisis

Bagian ini memberi panduan operasional cepat untuk memilih teknik analisis berdasarkan bentuk rumusan masalah.

Langkah 1: identifikasi bentuk pertanyaan.

  • Jika pertanyaannya “apakah ada perbedaan antara dua kelompok”, pikirkan uji komparatif.
  • Jika pertanyaannya “apakah X berhubungan dengan Y”, pikirkan korelasi/regresi.
  • Jika pertanyaannya “apakah X memengaruhi peluang kejadian”, pikirkan regresi logistik.

Langkah 2: identifikasi tipe variabel dependen (Y).

  • Y kontinu: nilai, skor, pendapatan.
  • Y biner: ya/tidak, bekerja/tidak bekerja, lulus/tidak lulus.
  • Y kategorik >2: tipe pilihan kategori.
  • Y ordinal: skala bertingkat (rendah-sedang-tinggi).

Langkah 3: identifikasi jumlah prediktor dan tujuan inferensi.

  • Prediktor tunggal -> model sederhana.
  • Prediktor majemuk -> model multivariat.
  • Tujuan prediksi -> fokus pada performa model.
  • Tujuan penjelasan -> fokus pada estimasi parameter dan interpretasi.

Langkah 4: cocokkan dengan teknik analisis.

  • Y kontinu + beberapa prediktor -> regresi linear berganda.
  • Y biner + beberapa prediktor -> regresi logistik biner.
  • Y kontinu + beda 2 kelompok -> uji t.
  • Y kontinu + beda >2 kelompok -> ANOVA.
  • Y ordinal/non-normal -> uji nonparametrik sesuai kebutuhan.

Langkah 5: cek asumsi minimum.

  • normalitas residual,- homoskedastisitas,- multikolinearitas,- independensi observasi.

Jika asumsi tidak terpenuhi, lakukan strategi koreksi (transformasi, robust standard error, atau metode alternatif).

5.37 Checklist final sebelum proposal diserahkan

Gunakan checklist ini sebagai standar mutu akhir.

A. Substansi masalah

  1. Masalah ditulis dalam satu kalimat inti yang jelas.
  2. Variabel dependen disebut eksplisit.
  3. Variabel independen disebut eksplisit.
  4. Unit analisis disebut tegas.
  5. Populasi sasaran didefinisikan.
  6. Lokasi penelitian disebutkan.
  7. Periode penelitian disebutkan.
  8. Nilai urgensi didukung data awal.

B. Konsistensi metodologis

  1. Tujuan umum selaras dengan masalah.
  2. Tujuan khusus selaras dengan variabel.
  3. Pertanyaan penelitian selaras dengan tujuan.
  4. Hipotesis diturunkan dari teori.
  5. Analisis cocok dengan tipe outcome.
  6. Variabel kontrol dijustifikasi.
  7. Risiko bias diidentifikasi.
  8. Strategi mitigasi bias ditulis.

C. Kelayakan operasional

  1. Data dapat diakses.
  2. Instrumen tersedia/siap disusun.
  3. Responden dapat dijangkau.
  4. Waktu penelitian realistis.
  5. Biaya sesuai sumber daya.
  6. Etika penelitian dapat dipenuhi.

D. Kualitas akademik

  1. Rumusan masalah bebas ambigu.
  2. Istilah konsisten antar bagian.
  3. Sitasi teori pendukung memadai.
  4. Kontribusi akademik jelas.
  5. Kontribusi praktis jelas.
  6. Batasan studi dijelaskan.

Interpretasi cepat:

  • 26-28 butir terpenuhi: siap seminar proposal.
  • 22-25 butir: perlu revisi minor.
  • 18-21 butir: revisi substansial.
  • <18 butir: rumusan masalah perlu dibangun ulang.

5.38 Simulasi penilaian reviewer (contoh realistis)

Simulasi ini menunjukkan cara reviewer metodologi menilai kualitas masalah penelitian.

Judul awal mahasiswa: “Pengaruh pelatihan terhadap kerja.”

Catatan reviewer:

  1. Variabel tidak lengkap, outcome tidak operasional.
  2. Populasi dan wilayah tidak disebut.
  3. Periode penelitian tidak jelas.
  4. Tidak ada bukti awal urgensi.
  5. Tidak jelas apakah outcome kontinu atau biner.

Revisi putaran 1: “Pengaruh pelatihan kerja terhadap peluang kerja lulusan SMK.”

Catatan reviewer:

  1. Lebih baik, tetapi masih kurang lokasi dan periode.
  2. Belum ada variabel kontrol.
  3. Belum ada dasar teori.

Revisi putaran 2: “Apakah pelatihan kerja berpengaruh terhadap peluang kerja formal lulusan SMK usia 18-24 tahun di Kota X tahun 2026?”

Catatan reviewer:

  1. Rumusan sudah jelas.
  2. Tambahkan sertifikasi dan magang untuk model lebih komprehensif.
  3. Tambahkan kontrol pendidikan dan jenis kelamin.

Revisi final: “Apakah pelatihan kerja, sertifikasi kompetensi, dan pengalaman magang berpengaruh terhadap peluang kerja formal lulusan SMK usia 18-24 tahun di Kota X tahun 2026 setelah mengontrol pendidikan dan jenis kelamin?”

Penilaian akhir reviewer:

  • masalah: sangat jelas,- variabel: lengkap,- metode: logistik biner tepat,- kontribusi kebijakan: tinggi.

Pelajaran utama:

  • rumusan masalah yang baik biasanya melalui beberapa putaran revisi,
  • komentar reviewer harus diterjemahkan menjadi perubahan teknis konkret,
  • kualitas proposal meningkat signifikan ketika peneliti disiplin pada detail metodologis.

5.39 Mini-workbook: revisi mandiri 30 menit

Gunakan latihan ini sebelum bimbingan dengan dosen pembimbing.

Menit 1-5: tulis masalah Anda dalam 1 kalimat.

Menit 6-10: tandai unsur yang sudah ada:

  • outcome,- prediktor,- unit analisis,- populasi,- lokasi,- periode.

Menit 11-15: cek keterukuran variabel.

Tulis indikator minimum untuk tiap variabel dan jenis skala datanya.

Menit 16-20: cocokkan metode.

Pastikan tipe outcome sesuai dengan teknik analisis yang dipilih.

Menit 21-25: cek konsistensi dokumen.

Bandingkan masalah, tujuan, pertanyaan, hipotesis. Jika tidak selaras, revisi dari masalah dulu, bukan dari analisis dulu.

Menit 26-30: tulis paragraf justifikasi akhir.

Paragraf ini harus menjawab tiga pertanyaan:

  1. Mengapa masalah penting diteliti sekarang?
  2. Apa celah ilmiah yang ingin diisi?
  3. Apa manfaat hasil penelitian bagi kebijakan/praktik?

Output mini-workbook:

  • satu rumusan masalah final,- satu tabel variabel,- satu pilihan metode yang terjustifikasi,- satu paragraf kontribusi penelitian.

Jika keempat output ini sudah kuat, maka proposal Anda secara metodologis sudah berada pada jalur yang benar. *** # Bab Desain Penelitian Kuantitatif

5.40 Pengantar

Desain penelitian kuantitatif adalah cetak biru metodologis yang menghubungkan pertanyaan penelitian, strategi pengumpulan data, dan teknik analisis statistik agar inferensi yang dihasilkan valid, reliabel, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam praktik, desain penelitian bukan sekadar format proposal, melainkan keputusan strategis yang menentukan kualitas seluruh siklus riset: mulai dari penetapan populasi, penyusunan instrumen, pengambilan sampel, hingga penarikan simpulan.

Banyak penelitian gagal menghasilkan temuan kuat bukan karena software atau rumus yang salah, tetapi karena desain yang tidak konsisten dengan masalah penelitian. Misalnya, peneliti menuliskan tujuan “menguji dampak” tetapi menggunakan desain yang hanya mampu menggambarkan asosiasi; atau peneliti ingin melakukan generalisasi populasi tetapi menggunakan kerangka sampel yang tidak representatif. Kelemahan desain semacam ini tidak dapat diperbaiki sepenuhnya oleh analisis statistik di tahap akhir.

Pada level buku ajar nasional, pembahasan desain penelitian kuantitatif harus menekankan tiga prinsip inti. Pertama, keselarasan logis antara rumusan masalah, variabel, dan metode. Kedua, keterukuran operasional agar data yang dikumpulkan benar-benar relevan dengan hipotesis. Ketiga, pengendalian bias sejak tahap desain, bukan setelah data terkumpul.

Bab ini membahas secara komprehensif ragam desain kuantitatif yang umum dipakai di ilmu sosial dan kebijakan publik, termasuk desain survei, eksperimen, kuasi-eksperimen, korelasional, dan eksplanatori. Selain itu, bab ini memuat pembahasan horizon waktu, ancaman validitas, strategi mitigasi, kerangka pemilihan desain, serta contoh kasus terapan di konteks Indonesia.

5.41 Desain Survei

Desain survei adalah desain penelitian kuantitatif yang bertujuan mengumpulkan data terstandar dari sampel untuk mengestimasi karakteristik populasi dan/atau menguji hubungan antarvariabel. Survei menjadi desain paling umum dalam penelitian sosial karena relatif efisien untuk populasi besar dan cocok untuk variabel sikap, persepsi, perilaku, serta karakteristik demografis.

5.41.1 Hakikat desain survei

Dalam desain survei, unit analisis biasanya individu, rumah tangga, atau organisasi. Data dikumpulkan melalui instrumen baku seperti kuesioner, baik secara tatap muka, telepon, daring, maupun campuran. Kekuatan desain ini terletak pada kemampuan menghasilkan data kuantitatif yang sebanding antarresponden.

Karakter utama desain survei:

  • instrumen seragam untuk semua responden,
  • alur pertanyaan terstruktur,
  • prosedur sampling jelas,
  • peluang analisis deskriptif dan inferensial luas,
  • efisiensi biaya relatif baik untuk sampel besar.

5.41.2 Tujuan penggunaan survei

Desain survei umumnya dipakai untuk:

  • mengestimasi proporsi atau rerata populasi,
  • memetakan distribusi karakteristik sosial,
  • menguji asosiasi awal antarvariabel,
  • membangun model prediktif berbasis data observasional,
  • menghasilkan baseline atau monitoring berkala.

5.41.3 Jenis desain survei

Desain survei dapat dibedakan berdasarkan horizon waktu:

  • Cross-sectional survey: data dikumpulkan pada satu waktu.
  • Panel survey: responden yang sama diikuti dalam beberapa gelombang waktu.
  • Repeated cross-sectional survey: survei berulang pada waktu berbeda dengan sampel berbeda.

Pada praktik kebijakan, cross-sectional sering dipakai untuk diagnosis awal, sedangkan panel/repeated digunakan untuk memantau dinamika perubahan.

5.41.4 Kelebihan desain survei

  • mampu mencakup populasi luas,
  • efisien untuk variabel yang sulit diobservasi langsung,
  • fleksibel untuk banyak topik sekaligus,
  • dapat menghasilkan data siap analisis statistik multivariat,
  • mudah direplikasi jika prosedur terdokumentasi.

5.41.5 Keterbatasan desain survei

  • rentan bias self-report,
  • sulit menegakkan kausalitas murni,
  • sangat bergantung pada kualitas instrumen,
  • rentan nonresponse bias,
  • membutuhkan kontrol kualitas lapangan yang disiplin.

5.41.6 Contoh penerapan desain survei

Kasus pendidikan:

“Survei mahasiswa semester pertama untuk mengukur hubungan literasi digital, dukungan keluarga, dan intensitas belajar terhadap IP semester.”

Kasus ketenagakerjaan:

“Survei pemuda 18-24 tahun untuk menguji faktor yang terkait dengan kerja formal, termasuk pelatihan, sertifikasi, dan pengalaman magang.”

Kasus pelayanan publik:

“Survei pengguna adminduk untuk mengukur pengaruh waktu tunggu, kejelasan prosedur, dan kualitas interaksi petugas terhadap kepuasan.”

5.41.7 Kapan survei bukan pilihan terbaik

Survei bukan pilihan terbaik jika pertanyaan penelitian menuntut identifikasi kausal yang kuat dari intervensi terkontrol, atau jika outcome lebih tepat diukur melalui observasi eksperimental. Dalam konteks ini, desain eksperimen atau kuasi-eksperimen biasanya lebih tepat.

5.42 Desain Eksperimen dan Kuasi-Eksperimen

Desain eksperimen adalah desain yang paling kuat untuk menguji hubungan sebab-akibat karena memadukan tiga elemen inti: manipulasi perlakuan, kelompok pembanding, dan randomisasi. Ketiganya menurunkan risiko bias seleksi dan meningkatkan validitas internal.

5.42.1 Desain eksperimen murni

Pada eksperimen murni (true experiment), unit penelitian diacak ke kelompok perlakuan dan kontrol. Karena randomisasi, perbedaan rata-rata hasil pasca-intervensi dapat ditafsirkan lebih meyakinkan sebagai efek perlakuan, dengan asumsi tidak ada gangguan desain lain.

Bentuk umum:

  • posttest-only control group design,
  • pretest-posttest control group design,
  • factorial design.

5.42.2 Kelebihan eksperimen

  • validitas internal tinggi,
  • kontrol variabel pengganggu lebih baik,
  • interpretasi kausal lebih kuat,
  • cocok untuk evaluasi dampak intervensi.

5.42.3 Keterbatasan eksperimen

  • sering sulit diterapkan di setting sosial nyata,
  • kendala etika (tidak semua perlakuan boleh diacak),
  • biaya logistik tinggi,
  • potensi masalah kepatuhan terhadap perlakuan.

5.42.4 Kuasi-eksperimen

Kuasi-eksperimen adalah alternatif saat randomisasi tidak memungkinkan, tetapi peneliti tetap berupaya membangun pembanding yang layak agar evaluasi dampak lebih kredibel daripada survei observasional biasa.

Bentuk umum kuasi-eksperimen:

  • nonequivalent control group design,
  • interrupted time series,
  • difference-in-differences (DiD),
  • regression discontinuity design (RDD) pada kondisi tertentu,
  • propensity score matching sebagai strategi penyeimbang kovariat.

5.42.5 Kapan kuasi-eksperimen tepat

  • program sudah berjalan sehingga randomisasi tidak mungkin,
  • ada kelompok pembanding natural,
  • tersedia data sebelum-sesudah intervensi,
  • kebijakan diterapkan bertahap antarwilayah/antarwaktu.

5.42.6 Contoh kuasi-eksperimen

Program pelatihan kerja diterapkan lebih dulu di Kabupaten A, sementara Kabupaten B baru menerima program tahun berikutnya. Peneliti menggunakan data sebelum-sesudah di dua kabupaten untuk mengestimasi dampak program terhadap peluang kerja formal dengan pendekatan DiD.

5.42.7 Praktik kehati-hatian pada kuasi-eksperimen

Walau lebih kuat dibanding observasional murni, kuasi-eksperimen tetap rentan terhadap bias seleksi tersisa, perubahan konteks eksternal, dan asumsi identifikasi yang tidak terpenuhi. Karena itu, laporan hasil harus mencantumkan uji robustness dan batas inferensi secara eksplisit.

5.43 Desain Korelasional dan Eksplanatori

Desain korelasional berfokus pada pengukuran derajat hubungan antarvariabel, sedangkan desain eksplanatori berfokus pada penjelasan pengaruh variabel prediktor terhadap outcome dengan model statistik tertentu.

5.43.1 Desain korelasional

Desain ini cocok saat tujuan penelitian adalah menguji kekuatan dan arah hubungan variabel tanpa klaim kausal murni. Misalnya, hubungan antara durasi belajar dan nilai ujian, atau hubungan kualitas tidur dan produktivitas belajar.

Kekuatan:

  • sederhana,
  • efisien,
  • baik untuk eksplorasi pola awal.

Keterbatasan:

  • tidak dapat memastikan sebab-akibat,
  • rentan confounding,
  • arah relasi bisa ambigu.

5.43.2 Desain eksplanatori

Desain eksplanatori mencoba menjelaskan variasi outcome melalui kombinasi prediktor berdasarkan kerangka teori. Model yang lazim digunakan termasuk regresi linear, logistik, dan varian model multivariat lainnya.

Keunggulan desain eksplanatori:

  • mampu menguji beberapa prediktor secara simultan,
  • memungkinkan kontrol terhadap variabel pengganggu,
  • memberi estimasi ukuran efek parsial.

Kelemahan:

  • tetap terbatas untuk inferensi kausal jika datanya observasional,
  • sensitif terhadap salah spesifikasi model,
  • memerlukan kualitas data dan pengukuran yang baik.

5.43.3 Prinsip interpretasi

Pada desain korelasional dan eksplanatori observasional, peneliti sebaiknya menggunakan istilah “berasosiasi” atau “berkaitan” ketika kondisi identifikasi kausal tidak kuat. Klaim “menyebabkan” harus digunakan sangat hati-hati dan didukung desain serta argumen metodologis yang memadai.

5.44 Horizon Waktu dalam Desain Kuantitatif

Horizon waktu adalah dimensi penting desain yang menentukan kemampuan penelitian membaca dinamika perubahan. Pemilihan horizon waktu berpengaruh langsung pada validitas inferensi.

5.44.1 Cross-sectional

Desain cross-sectional mengumpulkan data pada satu titik waktu. Desain ini efisien, cepat, dan umum dipakai untuk survei dasar, pemetaan kondisi, atau pengujian asosiasi awal.

Kelebihan:

  • biaya relatif rendah,
  • cepat dieksekusi,
  • cocok untuk banyak variabel sekaligus.

Keterbatasan:

  • tidak menangkap perubahan waktu,
  • sulit menetapkan urutan sebab-akibat,
  • rentan terhadap bias periode (period effect).

5.44.2 Longitudinal

Desain longitudinal mengamati unit yang sama atau populasi sejenis pada lebih dari satu waktu. Desain ini lebih kuat untuk memotret perubahan, trajektori, dan dinamika dampak kebijakan.

Jenis longitudinal:

  • panel: unit sama berulang,
  • trend: populasi sama dengan sampel berbeda per waktu,
  • cohort: kelompok kelahiran/angkatan tertentu diikuti sepanjang waktu.

Kelebihan longitudinal:

  • dapat menganalisis perubahan,
  • lebih baik untuk memahami urutan waktu,
  • dapat mengevaluasi dampak jangka menengah/panjang.

Keterbatasan longitudinal:

  • biaya dan logistik lebih tinggi,
  • potensi attrition (responden hilang),
  • manajemen data lebih kompleks.

5.44.3 Pemilihan horizon waktu

Gunakan cross-sectional jika tujuan utama adalah diagnosis kondisi saat ini atau asosiasi awal. Gunakan longitudinal jika penelitian menuntut pemahaman perubahan perilaku, evaluasi keberlanjutan dampak, atau pembacaan tren kausal lebih meyakinkan.

5.45 Ancaman Validitas dan Strategi Mitigasi

Validitas adalah jantung kualitas desain. Penelitian yang analisis statistiknya canggih tetap dapat lemah jika ancaman validitas tidak dikelola sejak perencanaan.

5.45.1 Validitas internal

Validitas internal menilai sejauh mana perubahan pada outcome dapat dikaitkan dengan variabel penjelas/intervensi, bukan faktor lain. Ancaman umum:

  • selection bias,
  • history effect,
  • maturation,
  • instrumentation,
  • testing effect,
  • regression to the mean,
  • attrition bias.

5.45.2 Validitas eksternal

Validitas eksternal menilai sejauh mana temuan dapat digeneralisasikan ke populasi, lokasi, dan periode berbeda. Ancaman umum:

  • kerangka sampel tidak representatif,
  • setting studi terlalu spesifik,
  • karakter responden tidak mencerminkan populasi,
  • interaksi perlakuan-konteks.

5.45.3 Mitigasi praktis

  • Selection bias: gunakan randomisasi jika mungkin, atau matching/propensity score dan kontrol kovariat.
  • History effect: dokumentasikan peristiwa eksternal, gunakan kelompok pembanding dan/atau data pra-pasca.
  • Instrumentation bias: gunakan instrumen tervalidasi, pilot test, pelatihan enumerator, SOP ketat.
  • Attrition bias: strategi retensi responden, insentif etis, analisis perbandingan drop-out vs non-drop-out.
  • Nonresponse bias: monitoring response rate, follow-up responden, pembobotan jika dibutuhkan.
  • Measurement error: perbaiki redaksi item, lakukan reliabilitas dan validitas konstruk.

5.45.4 Tabel ancaman dan mitigasi

Ancaman Dampak Mitigasi inti
Selection bias estimasi efek bias randomisasi/matching/kontrol kovariat
History effect outcome dipengaruhi kejadian eksternal catat kejadian, tambah pembanding
Instrumentation data tidak konsisten antar fase standar instrumen + pelatihan
Attrition sampel panel tidak seimbang strategi retensi + analisis attrition
Nonresponse generalisasi lemah follow-up, weighting, dokumentasi

5.46 Kerangka Pemilihan Desain

Pemilihan desain sebaiknya dilakukan secara eksplisit, bukan berdasarkan kebiasaan. Kerangka berikut dapat dipakai sebagai prosedur standar.

5.46.1 Langkah pemilihan desain

  1. Definisikan pertanyaan inti: deskriptif, komparatif, asosiasi, atau dampak kausal.
  2. Identifikasi keterbatasan etika dan operasional.
  3. Tentukan tipe outcome dan skala data.
  4. Tentukan kebutuhan generalisasi.
  5. Tentukan horizon waktu.
  6. Peta ancaman validitas yang paling mungkin.
  7. Pilih desain dengan trade-off terbaik.

5.46.2 Matriks keputusan desain

  • Jika tujuan utama estimasi populasi -> survei representatif.
  • Jika tujuan utama uji dampak dan randomisasi mungkin -> eksperimen.
  • Jika randomisasi tidak mungkin tetapi ada pembanding -> kuasi-eksperimen.
  • Jika tujuan utama hubungan/prediksi -> korelasional/eksplanatori.

5.46.3 Trade-off yang harus disadari

Tidak ada desain yang “paling baik” untuk semua situasi. Desain selalu melibatkan kompromi antara validitas internal, validitas eksternal, biaya, waktu, etika, dan akses data.

5.47 Desain Campuran dalam Kuantitatif Terapan

Dalam praktik kebijakan, peneliti sering menggabungkan beberapa elemen desain kuantitatif untuk memperkuat inferensi. Contoh:

  • survei cross-sectional untuk baseline + administrative data untuk validasi,
  • repeated cross-sectional + analisis tren kebijakan,
  • kuasi-eksperimen + survei persepsi pengguna.

Gabungan ini tetap berada dalam ranah kuantitatif sepanjang data utama bersifat numerik dan analisis inferensial tetap menjadi inti.

5.48 Studi Kasus Terapan Indonesia

5.48.1 Studi kasus A: Evaluasi pelatihan kerja pemuda

Pertanyaan: apakah pelatihan kerja meningkatkan peluang kerja formal?

Pilihan desain:

  • ideal: eksperimen randomisasi peserta,
  • realistis: kuasi-eksperimen DiD antarwilayah,
  • alternatif: survei eksplanatori dengan kontrol kovariat.

Rekomendasi:

Jika randomisasi tidak mungkin, gunakan kuasi-eksperimen + data pra-pasca untuk meningkatkan kekuatan inferensi.

5.48.2 Studi kasus B: Kepuasan layanan adminduk

Pertanyaan: faktor apa yang memengaruhi kepuasan layanan?

Pilihan desain:

  • survei cross-sectional cukup untuk diagnosis faktor,
  • repeated cross-sectional jika ingin melihat perubahan setelah reformasi layanan.

Rekomendasi:

Gunakan survei cross-sectional untuk fase diagnosis awal, lalu ulangi periodik sebagai monitoring kualitas layanan.

5.48.3 Studi kasus C: Efektivitas program literasi kampus

Pertanyaan: apakah program literasi meningkatkan minat baca mahasiswa?

Pilihan desain:

  • eksperimen jika kelas dapat diacak,
  • kuasi-eksperimen pretest-posttest jika randomisasi sulit,
  • survei eksplanatori jika hanya tersedia data observasional.

Rekomendasi:

Untuk klaim dampak, pretest-posttest dengan kelompok pembanding lebih kuat dibanding survei satu kali.

5.49 Etika dalam Pemilihan Desain

Desain penelitian kuantitatif tidak boleh mengabaikan etika. Pertimbangan etika harus masuk sejak pemilihan desain, bukan setelah instrumen selesai.

Aspek etika utama:

  • informed consent,
  • perlindungan kerahasiaan,
  • minimisasi risiko responden,
  • keadilan akses terhadap intervensi (khusus eksperimen),
  • transparansi penggunaan data.

Pada eksperimen sosial, pertanyaan etis yang penting: apakah adil jika sebagian peserta tidak menerima intervensi? Jika tidak adil, alternatif desain seperti stepped-wedge atau phased rollout dapat dipertimbangkan.

5.50 Dokumentasi Desain agar Replikabel

Agar desain dapat direplikasi, peneliti harus menulis dokumen teknis desain yang memuat:

  • tujuan dan pertanyaan penelitian,
  • alasan pemilihan desain,
  • definisi variabel dan instrumen,
  • prosedur sampling,
  • protokol pengumpulan data,
  • rencana analisis,
  • strategi mitigasi bias,
  • batasan desain.

Dokumen ini memudahkan audit metodologi dan meningkatkan kredibilitas penelitian.

5.51 Kesalahan Umum pada Bab Desain

Berikut kesalahan yang sangat sering muncul pada proposal kuantitatif.

  • tujuan penelitian kausal, tetapi desain hanya deskriptif,
  • teknik analisis ditentukan sebelum outcome didefinisikan,
  • pemilihan desain tidak mempertimbangkan etika,
  • desain longitudinal dipilih tanpa strategi retensi responden,
  • desain eksperimen diklaim tanpa randomisasi nyata,
  • variabel kontrol tidak memiliki dasar teori,
  • ancaman validitas tidak dibahas sama sekali.

Perbaikan praktis:

  • mulai dari pertanyaan riset, baru pilih desain,
  • tulis justifikasi desain dalam satu tabel logika,
  • sertakan rencana mitigasi bias sebagai komponen wajib proposal,
  • lakukan review desain dengan pembimbing sebelum menyusun instrumen.

5.52 Checklist Kesiapan Desain

Gunakan checklist berikut sebelum proposal diserahkan.

  • Pertanyaan penelitian jelas dan terukur.
  • Desain yang dipilih konsisten dengan pertanyaan.
  • Tipe outcome selaras dengan teknik analisis.
  • Horizon waktu sesuai tujuan inferensi.
  • Ancaman validitas utama telah dipetakan.
  • Strategi mitigasi validitas ditulis operasional.
  • Kebutuhan data realistis terhadap sumber daya.
  • Pertimbangan etika sudah ditetapkan.
  • Dokumentasi desain siap direplikasi.

Jika sebagian besar butir belum terpenuhi, revisi desain sebelum melanjutkan ke tahap sampling dan instrumen.

5.53 Template Ringkas Justifikasi Desain

Template yang bisa langsung digunakan dalam proposal:

“Penelitian ini menggunakan desain [survei/eksperimen/kuasi-eksperimen/eksplanatori] karena tujuan penelitian adalah [deskriptif/komparatif/pengaruh/dampak]. Desain ini dipilih dengan mempertimbangkan [ketersediaan data, etika, sumber daya, horizon waktu]. Outcome utama berupa [tipe variabel], sehingga teknik analisis yang digunakan adalah [metode]. Ancaman validitas yang paling mungkin adalah [X, Y, Z], dengan strategi mitigasi [A, B, C].”

Template tersebut memaksa peneliti menyatakan alasan metodologis secara eksplisit, bukan sekadar menuliskan nama desain.

5.54 Latihan Bab 6

  1. Pilih satu isu sosial (pendidikan/kesehatan/ketenagakerjaan/pelayanan publik), lalu tentukan desain paling feasible dan jelaskan mengapa desain itu lebih tepat dibanding dua desain alternatif.
  2. Untuk isu yang sama, tulis satu skenario jika Anda memiliki sumber daya ideal, dan satu skenario jika sumber daya sangat terbatas. Jelaskan perbedaan desain dan konsekuensi inferensinya.
  3. Buat tabel ancaman validitas untuk desain pilihan Anda (minimal lima ancaman) dan tulis mitigasi operasional untuk tiap ancaman.
  4. Tentukan horizon waktu yang paling sesuai untuk isu pilihan Anda (cross-sectional, repeated cross-sectional, atau longitudinal) dan berikan justifikasi metodologis.
  5. Tulis satu paragraf justifikasi desain menggunakan template ringkas pada bab ini.

5.55 Kunci Jawaban Bab 6 (Contoh Komprehensif)

5.55.1 Jawaban latihan 1 (contoh)

Isu: efektivitas pelatihan kerja pemuda.

Desain paling feasible: kuasi-eksperimen dengan pendekatan DiD.

Alasan:

  • randomisasi penuh sulit dilakukan karena program sudah berjalan,
  • tersedia data pra-pasca dan wilayah pembanding,
  • lebih kuat untuk inferensi dampak dibanding survei cross-sectional.

Dua desain alternatif:

  • Survei cross-sectional: lebih murah, tetapi inferensi dampak lebih lemah.
  • Eksperimen murni: validitas internal lebih tinggi, tetapi tidak feasible secara operasional/etik saat program sudah berjalan.

5.55.2 Jawaban latihan 2 (contoh)

Skenario sumber daya ideal:

  • eksperimen randomisasi,
  • pretest-posttest,
  • monitoring kepatuhan intervensi,
  • follow-up beberapa gelombang.

Konsekuensi: inferensi kausal lebih kuat.

Skenario sumber daya terbatas:

  • survei cross-sectional dengan kontrol kovariat,
  • verifikasi data sekunder pendukung.

Konsekuensi: lebih efisien, tetapi inferensi kausal lebih lemah.

5.55.3 Jawaban latihan 3 (contoh)

Ancaman validitas dan mitigasi:

  • selection bias -> matching kovariat,
  • history effect -> dokumentasi peristiwa eksternal,
  • instrumentation -> pilot test + SOP enumerator,
  • attrition -> strategi retensi responden,
  • nonresponse -> follow-up dan analisis nonresponse.

5.55.4 Jawaban latihan 4 (contoh)

Isu perubahan perilaku kerja pasca-pelatihan lebih tepat dengan longitudinal karena efek program biasanya tidak muncul instan dan perlu observasi lintas waktu.

Jika longitudinal terlalu mahal, repeated cross-sectional bisa dipakai sebagai kompromi untuk membaca tren agregat.

5.55.5 Jawaban latihan 5 (contoh paragraf)

“Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan pendekatan difference-in-differences untuk menilai dampak pelatihan kerja terhadap peluang kerja formal pemuda usia 18-24 tahun. Desain ini dipilih karena randomisasi tidak memungkinkan pada program yang telah berjalan, namun data pra-pasca tersedia pada wilayah intervensi dan wilayah pembanding. Outcome penelitian bersifat biner (kerja formal: ya/tidak), sehingga analisis utama menggunakan regresi logistik yang dipadukan dengan estimasi DiD. Ancaman validitas yang dipetakan meliputi bias seleksi, efek sejarah, dan attrition; mitigasi dilakukan melalui kontrol kovariat, pencatatan kejadian eksternal, dan strategi pelacakan responden.”

5.56 Paket Pendalaman: Framework Praktis Memilih Desain

Untuk memperkuat kemampuan terapan, bagian ini memberikan framework keputusan desain yang bisa dipakai peneliti atau mahasiswa saat menyusun proposal. Framework ini cocok untuk riset akademik, evaluasi program pemerintah daerah, maupun penelitian kelembagaan.

5.56.1 Pertanyaan keputusan tahap awal

Sebelum memilih desain, jawab lima pertanyaan berikut:

  1. Apakah tujuan utama penelitian adalah deskripsi, perbandingan, prediksi, atau evaluasi dampak?. Apakah intervensi dapat dikontrol oleh peneliti?. Apakah randomisasi etis dan operasional mungkin?. Apakah data pra-intervensi tersedia?. Apakah peneliti membutuhkan inferensi kausal kuat atau cukup asosiasi berbasis teori?

Jika jawaban pada pertanyaan 2 dan 3 adalah "ya", eksperimen menjadi kandidat kuat. Jika jawabannya "tidak", kuasi-eksperimen atau desain observasional eksplanatori perlu dipertimbangkan tergantung ketersediaan pembanding dan kualitas data.

5.56.2 Matriks keputusan desain

Tujuan penelitian Kondisi lapangan Desain paling cocok Catatan inferensi
Estimasi profil populasi Sumber daya terbatas, cakupan luas Survei cross-sectional kuat untuk deskriptif, lemah untuk kausal
Uji perbedaan antar kelompok data kelompok tersedia, tanpa intervensi Komparatif observasional klaim kausal terbatas
Prediksi outcome banyak prediktor, data observasional Eksplanatori (regresi) asosiasi dengan kontrol kovariat
Evaluasi dampak program randomisasi mungkin Eksperimen kausal paling kuat
Evaluasi dampak program randomisasi tidak mungkin, ada pembanding Kuasi-eksperimen kausal moderat, butuh asumsi eksplisit
Pemantauan perubahan ada sumber data periodik Repeated cross-sectional/panel baik untuk tren

5.56.3 Aturan praktis memilih desain

  • Jangan memilih eksperimen jika etika dilanggar.- Jangan memilih cross-sectional jika tujuan utama menilai dinamika perubahan jangka waktu.- Jangan memilih model rumit jika kualitas data dasar lemah.- Jangan mengklaim dampak kausal kuat tanpa argumen desain yang mendukung.

5.57 Pendalaman Validitas: dari Teori ke Implementasi

Pada level praktis, validitas sering dibahas terlalu abstrak. Bagian ini menerjemahkan validitas ke keputusan operasional yang bisa langsung diterapkan di lapangan.

5.57.1 Validitas konstruk

Validitas konstruk berarti indikator benar-benar mewakili konsep teoritik. Dalam desain kuantitatif, validitas konstruk harus diperhatikan sejak perumusan variabel.

Contoh:

  • Konsep: dukungan keluarga.- Kesalahan desain: mengukur dukungan keluarga hanya dari satu pertanyaan umum.- Perbaikan: gunakan beberapa indikator (dukungan emosional, dukungan finansial, dukungan akademik) dan uji reliabilitas internal.

5.57.2 Validitas internal di desain observasional

Karena desain observasional rentan confounding, peneliti perlu menggabungkan tiga strategi:

  • pemilihan variabel kontrol berbasis teori,- dokumentasi asumsi model,- uji sensitivitas terhadap spesifikasi alternatif.

5.57.3 Validitas eksternal

Validitas eksternal tidak otomatis tercapai hanya karena ukuran sampel besar. Sampel besar yang tidak representatif tetap menghasilkan inferensi lemah.

Praktik yang disarankan:

  • definisi populasi tegas,- kerangka sampel memadai,- transparansi kriteria inklusi-eksklusi,- dokumentasi keterbatasan generalisasi.

5.57.4 Validitas statistik

Validitas statistik berkaitan dengan ketepatan pengujian inferensial:

  • asumsi model dipenuhi atau ditangani,- ukuran efek dilaporkan,- interval kepercayaan disertakan,- multiple testing dikendalikan jika relevan.

5.58 Pendalaman Operasional: SOP Implementasi Desain

Desain yang baik perlu SOP agar eksekusi lapangan konsisten.

5.58.1 SOP minimum untuk desain survei

  1. Finalisasi kerangka sampel.. Uji coba instrumen.. Pelatihan enumerator.. Simulasi wawancara.. Pengumpulan data dengan monitoring harian.. Back-check acak minimal 10%.. Data cleaning terdokumentasi.. Audit konsistensi variabel kunci.

5.58.2 SOP minimum untuk kuasi-eksperimen

  1. Definisikan kelompok intervensi dan pembanding.. Verifikasi kesetaraan baseline.. Tetapkan periode pre dan post.. Catat peristiwa eksternal yang relevan.. Jalankan estimasi utama + robustness checks.. Laporkan asumsi identifikasi secara terbuka.

5.58.3 SOP minimum untuk studi longitudinal

  1. Siapkan strategi retensi responden.. Tetapkan sistem pelacakan responden.. Gunakan identitas unik dan data kontak bertingkat.. Siapkan protokol jika responden pindah/lost to follow-up.. Jalankan analisis attrition setiap gelombang.

5.59 Studi Kasus Pendalaman Tambahan

5.59.1 Studi D: Efektivitas bantuan kuota internet mahasiswa

Pertanyaan:

"Apakah bantuan kuota internet meningkatkan kehadiran kuliah daring dan nilai akhir mahasiswa?"

Pilihan desain:

  • Eksperimen: acak penerima bantuan (jika etis/operasional memungkinkan).- Kuasi-eksperimen: phased rollout antar-fakultas.- Observasional: regresi dengan kontrol kemampuan awal dan status ekonomi.

Pilihan paling realistis:

Kuasi-eksperimen phased rollout, karena kebijakan sering dilaksanakan bertahap.

Ancaman validitas:

  • perbedaan karakteristik fakultas,- gangguan jaringan wilayah,- perubahan kebijakan akademik lain.

Mitigasi:

  • kontrol kovariat baseline,- fixed effect fakultas/periode,- dokumentasi kebijakan simultan.

5.59.2 Studi E: Penurunan waktu tunggu layanan puskesmas

Pertanyaan:

"Apakah digitalisasi antrean menurunkan waktu tunggu dan meningkatkan kepuasan pasien?"

Desain:- repeated cross-sectional sebelum dan sesudah digitalisasi.

Alasan:- randomisasi sulit pada layanan berjalan,- data sebelum-sesudah dapat dikumpulkan periodik.

Catatan:- untuk inferensi lebih kuat, tambahkan puskesmas pembanding yang belum digitalisasi.

5.59.3 Studi F: Dampak program mentoring akademik

Pertanyaan:

"Apakah mentoring meningkatkan retensi mahasiswa tahun pertama?"

Desain alternatif:

  • ideal: randomized controlled trial,- realistis: nonequivalent control group dengan matching. Interpretasi hasil:- jika efek terlihat positif konsisten pada beberapa model, rekomendasi skalasi program lebih kuat.

5.60 Rubrik Evaluasi Kualitas Desain (untuk seminar proposal)

Komponen Bobot Kriteria nilai tinggi
Kesesuaian desain dengan pertanyaan 20% desain menjawab tujuan secara langsung
Kekuatan inferensi 20% validitas internal dikelola dengan baik
Kelayakan implementasi 15% realistis waktu, biaya, akses data
Strategi mitigasi bias 15% ancaman utama dipetakan dan ditangani
Kualitas rencana analisis 15% metode sesuai tipe data dan asumsi
Etika penelitian 10% informed consent, privasi, fairness jelas
Replikabilitas 5% SOP dan dokumentasi desain lengkap

Skor total dapat dipakai sebagai dasar keputusan:

  • =85: desain siap implementasi.- 70-84: revisi minor.- 55-69: revisi substansial.- <55: desain perlu dibangun ulang.

5.61 Latihan Lanjutan Bab 6

5.61.1 Paket dasar

  1. Pilih satu topik riset kebijakan daerah, lalu bandingkan tiga desain berbeda (survei, kuasi-eksperimen, eksperimen) pada topik tersebut.. Tulis kelebihan dan keterbatasan tiap desain dalam konteks topik yang sama.. Pilih desain final dan jelaskan trade-off yang Anda terima.

5.61.2 Paket menengah

  1. Rancang kerangka data untuk studi longitudinal tiga gelombang.. Identifikasi risiko attrition dan strategi retensinya.. Tulis rencana analisis utama dan analisis sensitivity check.

5.61.3 Paket lanjut

  1. Rancang evaluasi dampak program publik tanpa randomisasi.. Jelaskan asumsi identifikasi yang dibutuhkan.. Buat rencana mitigasi terhadap minimal lima ancaman validitas.. Tulis paragraf batas inferensi yang jujur untuk laporan akhir.

5.62 Kunci Jawaban Lanjutan (contoh)

5.62.1 Jawaban paket dasar (contoh singkat)

Topik: dampak pelatihan kerja pemuda terhadap kerja formal.

  • Survei: paling murah, kuat untuk profil/ asosiasi, lemah untuk kausal.- Eksperimen: paling kuat kausal, sulit etis-operasional.- Kuasi-eksperimen: kompromi terbaik jika ada data pembanding pra-pasca.

Desain final: kuasi-eksperimen DiD karena feasible dan memberi kekuatan inferensi lebih baik dari survei murni.

5.62.2 Jawaban paket menengah (contoh singkat)

Kerangka longitudinal: - Gelombang 1: baseline pra-intervensi.- Gelombang 2: 6 bulan pasca-intervensi.- Gelombang 3: 12 bulan pasca-intervensi. Risiko attrition:- perpindahan alamat, perubahan nomor kontak, hilang minat responden. Mitigasi:- multi-contact, reminder berkala, insentif etis, tracking protocol. Analisis:- model perubahan skor antar gelombang + pemeriksaan attrition bias.

5.62.3 Jawaban paket lanjut (contoh singkat)

Evaluasi tanpa randomisasi: - gunakan kelompok pembanding natural,- ukur baseline comparability,- terapkan DiD/logistik sesuai outcome,- laporkan asumsi parallel trend (jika relevan),- tambah robustness checks.

Batas inferensi: "Hasil menunjukkan asosiasi dampak program yang konsisten pada beberapa spesifikasi model, namun interpretasi kausal tetap mempertimbangkan kemungkinan bias seleksi tersisa dan faktor eksternal yang tidak terukur."

5.63 Audit Desain Pra-Implementasi

Sebelum proposal memasuki tahap pengumpulan data, disarankan melakukan audit desain pra-implementasi. Audit ini merupakan "uji ketahanan" untuk memastikan desain yang tertulis benar-benar bisa dijalankan di lapangan.

Aspek audit yang perlu diperiksa:

  • konsistensi tujuan dan jenis desain,
  • kesiapan instrumen dan SOP,
  • kesiapan tim lapangan,
  • kesiapan sistem manajemen data,
  • kesiapan rencana analisis,
  • kesiapan mitigasi risiko. Audit dapat dilakukan oleh pembimbing, tim peneliti internal, atau reviewer metodologi independen.

5.63.1 Format audit cepat 12 butir

  1. Apakah desain dapat menjawab pertanyaan penelitian inti?. Apakah definisi variabel outcome sudah final?. Apakah instrumen sudah diuji coba?. Apakah prosedur sampling terdokumentasi?. Apakah horizon waktu realistis?. Apakah ancaman validitas utama terpetakan?. Apakah mitigasi tiap ancaman operasional?. Apakah protokol etika siap dijalankan?. Apakah data log dan codebook disiapkan?. Apakah rencana analisis sesuai tipe data?. Apakah ada rencana jika data tidak lengkap?. Apakah batas inferensi ditulis secara jujur?

Jika lebih dari tiga butir tidak terpenuhi, desain sebaiknya direvisi sebelum implementasi.

5.64 Skenario Kegagalan Desain dan Cara Menyelamatkan Studi

Bagian ini penting karena dalam praktik, desain tidak selalu berjalan sesuai rencana.

5.64.1 Skenario 1: response rate jauh di bawah target

Dampak:

  • representativitas menurun,- potensi nonresponse bias meningkat.

Respon perbaikan:

  • lakukan wave tambahan pengumpulan data,- intensifkan follow-up responden,- gunakan pembobotan jika syarat statistik terpenuhi,- laporkan keterbatasan secara eksplisit.

5.64.2 Skenario 2: kelompok pembanding kuasi-eksperimen tidak sebanding

Dampak:

  • estimasi efek rawan bias seleksi.

Respon perbaikan:

  • lakukan matching kovariat,- gunakan model dengan kontrol baseline,- pertimbangkan subgroup analysis,- lakukan robustness check lintas spesifikasi.

5.64.3 Skenario 3: attrition tinggi pada longitudinal

Dampak:

  • hasil bisa mencerminkan sampel tersisa, bukan populasi awal.

Respon perbaikan:

  • analisis perbedaan karakteristik antara responden bertahan dan keluar,- gunakan teknik penyesuaian yang sesuai,- laporkan attrition flow secara transparan.

5.64.4 Skenario 4: perubahan kebijakan saat studi berjalan

Dampak:

  • history effect meningkat, interpretasi dampak terganggu.

Respon perbaikan:

  • dokumentasi timeline kejadian,- tambahkan variabel dummy periode,- diskusikan batas inferensi dan kemungkinan bias residual.

5.64.5 Skenario 5: instrumen terbukti lemah setelah pengumpulan awal

Dampak:

  • validitas konstruk terancam,- hasil model menjadi tidak stabil.

Respon perbaikan:

  • evaluasi item, buang item bermasalah jika perlu,- laporkan perubahan instrumen secara transparan,- ulangi pengukuran sebagian jika memungkinkan.

5.65 Template Penilaian Desain untuk Dosen/Reviewer

Template ini dapat digunakan untuk menilai kualitas proposal mahasiswa atau naskah riset kebijakan.

Komponen penilaian:

  • Kecocokan desain dengan tujuan penelitian.- Ketepatan horizon waktu.- Kekuatan strategi mitigasi validitas.- Kesesuaian rencana analisis.- Kelayakan implementasi lapangan.- Kualitas rencana dokumentasi dan replikasi. Contoh komentar reviewer yang konstruktif:

  • "Desain sudah selaras dengan pertanyaan, tetapi strategi mitigasi nonresponse belum operasional."- "Pilihan kuasi-eksperimen tepat, namun asumsi identifikasi perlu dituliskan eksplisit dan diuji."- "Rencana analisis sudah sesuai outcome, tetapi variabel kontrol belum memiliki justifikasi teori yang cukup." Komentar semacam ini membantu peneliti memperbaiki desain secara teknis, bukan sekadar mengganti istilah.

5.66 Integrasi Bab 6 dengan Bab Lain

Agar pembelajaran metodologi utuh, Bab 6 harus dihubungkan dengan bab-bab berikut:

  • Bab sampling: desain menentukan kebutuhan teknik sampling.- Bab instrumen: desain menentukan jenis dan kedalaman instrumen.- Bab data cleaning: desain menentukan struktur data dan quality checks.- Bab analisis: desain menentukan kekuatan inferensi statistik. Contoh integrasi:

Jika Bab 6 memilih desain longitudinal, maka bab sampling harus menyiapkan strategi retensi, bab instrumen harus stabil antar gelombang, dan bab analisis harus mengakomodasi data berulang.

5.67 Ringkasan Operasional Bab 6

Untuk memudahkan implementasi, ringkas Bab 6 menjadi sepuluh keputusan teknis:

  1. Tegaskan tujuan inferensi (deskripsi, asosiasi, dampak).. Pilih desain sesuai tujuan, bukan kebiasaan.. Tentukan horizon waktu secara sadar.. Identifikasi ancaman validitas paling kritis.. Tetapkan mitigasi sejak proposal.. Pastikan metode analisis selaras tipe outcome.. Siapkan SOP eksekusi desain.. Siapkan mekanisme audit desain pra-lapangan.. Siapkan rencana kontinjensi jika desain terganggu.. Laporkan batas inferensi secara jujur.

Jika sepuluh keputusan ini diterapkan, kualitas studi kuantitatif meningkat signifikan meski sumber daya penelitian terbatas.

5.68 FAQ Praktis Desain Penelitian Kuantitatif

5.68.1 Apakah desain yang kompleks selalu lebih baik?

Tidak. Desain terbaik adalah desain yang paling selaras dengan pertanyaan penelitian, kondisi lapangan, kualitas data, dan tujuan inferensi. Desain sederhana tetapi konsisten sering menghasilkan temuan lebih kredibel daripada desain kompleks yang dipaksakan.

5.68.2 Kapan saya boleh tetap memakai survei meski ingin bicara "pengaruh"?

Boleh, selama batas inferensinya dinyatakan jelas. Pada studi observasional, istilah yang lebih aman biasanya "berasosiasi" atau "berkaitan", kecuali ada strategi identifikasi yang memperkuat klaim kausal.

5.68.3 Bagaimana jika randomisasi tidak memungkinkan?

Gunakan desain kuasi-eksperimen dengan kelompok pembanding yang layak, data pra-pasca, dan kontrol kovariat berbasis teori. Tambahkan uji robustness agar hasil lebih tahan terhadap alternatif spesifikasi.

5.68.4 Seberapa penting pilot test dalam desain survei?

Sangat penting. Pilot test membantu mengecek keterbacaan item, durasi wawancara, konsistensi jawaban, dan potensi miskonsepsi responden. Melewati pilot test meningkatkan risiko kesalahan pengukuran.

5.68.5 Apakah validitas eksternal bisa tinggi jika validitas internal lemah?

Sulit. Generalisasi temuan kurang bermakna bila estimasi dasar pada studi itu sendiri tidak kuat. Karena itu, validitas internal tetap prioritas awal.

5.69 Contoh Revisi Proposal Berbasis Desain

Versi awal: "Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh digitalisasi layanan terhadap kepuasan masyarakat."

Masalah pada versi awal: - desain belum disebut,- outcome belum operasional,- horizon waktu tidak jelas,- ancaman validitas belum dibahas.

Versi revisi 1: "Penelitian menggunakan survei cross-sectional untuk menganalisis hubungan digitalisasi layanan dan kepuasan pengguna adminduk di Kabupaten A tahun 2026."

Perbaikan: - desain jelas,- populasi, lokasi, dan periode jelas,- hubungan variabel lebih operasional.

Versi revisi 2: "Penelitian menggunakan repeated cross-sectional sebelum dan sesudah digitalisasi layanan pada tahun 2025-2026 untuk menganalisis perubahan waktu tunggu dan kepuasan pengguna adminduk di Kabupaten A, serta membandingkannya dengan Kabupaten B sebagai pembanding."

Perbaikan lanjutan: - horizon waktu lebih kuat,- ada elemen pembanding,- nilai inferensi kebijakan meningkat.

Pelajaran utama: - kualitas desain naik melalui revisi bertahap,- reviewer metodologi menilai detail operasional, bukan istilah umum,- setiap revisi desain harus memperjelas siapa, di mana, kapan, dan bagaimana hubungan diuji.

5.70 Ringkasan untuk Praktik Kelas dan Riset Institusional

Untuk pengajaran metodologi, Bab 6 idealnya digunakan dalam dua mode: mode konseptual dan mode studio desain. Pada mode konseptual, dosen menekankan logika pemilihan desain, validitas, serta batas inferensi. Pada mode studio desain, mahasiswa diminta merancang desain untuk isu nyata lalu diuji dengan rubrik dan skenario gangguan lapangan. Untuk riset institusional, format yang sama dapat dipakai oleh unit mutu akademik, dinas daerah, dan lembaga evaluasi program agar keputusan metodologis tidak semata didorong oleh kemudahan data, tetapi oleh kualitas inferensi yang ditargetkan.

5.71 Pendalaman lanjutan: audit sampling sebelum lapangan

Sebelum survei dimulai, tim peneliti perlu menjalankan audit sampling agar desain di atas kertas benar-benar dapat dieksekusi di lapangan. Audit ini sangat penting pada studi kebijakan publik karena konsekuensi pengambilan keputusan bisa besar jika estimasi populasi bias.audit yang disarankan:

  • audit kerangka sampel,- audit alur pemilihan unit,- audit logika substitusi responden,- audit rencana kontrol kualitas,- audit kesiapan pembobotan.

Checklist audit praktis:

  1. Daftar populasi sudah diperbarui maksimal 6 bulan terakhir.. Duplikasi entri sudah dibersihkan.. Variabel identitas minimum tersedia (id, lokasi, strata).. Prosedur acak terdokumentasi tertulis.. Aturan penggantian unit nonrespon jelas.. Enumerators memahami interval systematic sampling.. Supervisor memiliki format verifikasi harian.. Sistem data entry memiliki validasi otomatis.. Tersedia skema back-check dan callback.. Tersedia rencana pelaporan deviasi sampling.

Jika lebih dari dua butir di atas tidak terpenuhi, sebaiknya jadwal lapangan ditunda sampai audit dipenuhi.

5.72 Pendalaman lanjutan: alokasi sumber daya dan efisiensi desain

Pada riset lapangan, keputusan sampling berhubungan langsung dengan biaya, waktu, dan kualitas data. Peneliti perlu menghitung trade-off, bukan hanya ukuran sampel teoritik.trade-off:

  • SRS memberi inferensi sederhana, tetapi mahal jika populasi tersebar luas.- Cluster lebih efisien biaya transportasi, tetapi membutuhkan sampel lebih besar karena design effect.- Stratifikasi meningkatkan presisi, tetapi butuh data strata yang berkualitas.

Pendekatan praktis alokasi sumber daya:

  1. Hitung biaya per responden di setiap opsi desain.. Hitung kebutuhan minimum sampel efektif.. Sesuaikan dengan design effect dan nonresponse.. Bandingkan total biaya terhadap nilai inferensi yang dihasilkan.. Pilih desain dengan rasio kualitas-per-biaya terbaik.

Rumus sederhana perencanaan biaya:

\[\text{Total biaya} = (\text{biaya listing}) + (\text{biaya wawancara} \times n_{kontak}) + (\text{biaya supervisi})\]_kontak harus memperhitungkan nonresponse, bukan hanya n efektif.

5.73 Pendalaman lanjutan: dokumentasi sampling untuk replikasi

Agar penelitian dapat direplikasi, peneliti wajib menyiapkan dokumentasi sampling berikut:

  • definisi populasi target dan populasi terjangkau,- sumber kerangka sampel,- tanggal versi kerangka sampel,- algoritme pemilihan sampel,- seed/randomization rule (jika ada),- jumlah unit terpilih per tahap,- tingkat nonresponse per tahap,- aturan dan jumlah substitusi,- rumus bobot dan file bobot akhir.

Dokumentasi ini harus disimpan bersama codebook dan script analisis. Tanpa dokumentasi sampling yang lengkap, hasil studi sulit diaudit dan kepercayaan terhadap inferensi menurun.

5.74 Pendalaman lanjutan: praktik mitigasi nonresponse bias

Nonresponse bias sering menjadi penyebab utama lemahnya generalisasi. Mitigasi sebaiknya dirancang sejak awal, bukan setelah data terkumpul.pencegahan:

  • jadwal kunjungan fleksibel (pagi/sore/akhir pekan),- minimal dua hingga tiga callback,- komunikasi tujuan survei yang jelas,- pelatihan enumerator untuk pendekatan etis,- tracking respon per strata secara harian.

Strategi koreksi setelah pengumpulan:

  • bandingkan karakteristik responden vs nonresponden jika data tersedia,- lakukan adjustment weights,- laporkan tingkat nonresponse dan dampaknya terhadap inferensi.

Prinsip pelaporan: penelitian harus menyebutkan response rate, prosedur callback, dan langkah penyesuaian agar pembaca dapat menilai kualitas estimasi.

5.75 FAQ sampling tingkat lanjut

5.75.1 Apakah snowball sampling bisa dipakai untuk kebijakan publik?

Bisa untuk pemetaan awal populasi tersembunyi, tetapi tidak ideal sebagai dasar estimasi prevalensi populasi umum tanpa metode koreksi yang memadai.

5.75.2 Kapan oversampling wajib dilakukan?

Ketika subkelompok kecil penting untuk analisis kebijakan (misalnya disabilitas, wilayah terpencil, atau kelompok risiko tinggi), oversampling dapat meningkatkan ketepatan estimasi kelompok tersebut.

5.75.3 Apakah quota sampling sama dengan stratified sampling?

Tidak. Stratified sampling berbasis probabilitas dalam setiap strata. Quota sampling hanya memastikan jumlah responden per kategori, tetapi pemilihan di dalam kategori sering tidak acak.

5.75.4 Bagaimana jika daftar populasi tidak tersedia sama sekali?

Peneliti dapat melakukan listing lapangan, area sampling, atau rancangan bertahap berbasis blok wilayah. Jika tetap memakai non-probability, keterbatasan generalisasi harus dinyatakan jelas.

5.75.5 Apakah bobot perlu dipakai untuk semua analisis?

Untuk estimasi populasi biasanya perlu. Untuk model inferensial, keputusan penggunaan bobot tergantung tujuan analitik dan sifat desain; namun pada survei kompleks, pendekatan survey-weighted umumnya lebih tepat.

5.76 Latihan evaluatif tambahan bab 7

5.76.1 Paket A: diagnosis kesalahan sampling

Diberikan studi dengan desain berikut: convenience sampling 300 responden pengguna layanan publik, lalu hasilnya digeneralisasikan ke seluruh kabupaten. Identifikasi minimal 5 kelemahan metodologis dan usulkan perbaikan.

5.76.2 Paket B: desain alternatif berbasis sumber daya

Topik: faktor ketidakaktifan peserta JKN di kabupaten.dua rancangan: - desain ideal (sumber daya tinggi),- desain realistis (sumber daya sedang).kekuatan inferensi dan risiko bias tiap rancangan.

5.76.3 Paket C: simulasi reviewer

Sebagai reviewer, nilai proposal sampling berikut:"Sampel dipilih secara acak dari masyarakat sebanyak 500 orang." kritik teknis minimal 10 poin dan tulis versi revisi paragraf metode sampling yang lebih kuat.

5.77 Kunci jawaban evaluatif tambahan (ringkas)

5.77.1 Jawaban paket A (contoh)

Kelemahan utama:

  • tidak berbasis probability sampling,- tidak ada kerangka sampel,- kemungkinan bias seleksi tinggi,- inferensi populasi tidak sah,- response bias tidak dievaluasi. : - gunakan stratified atau multistage probability sampling,- definisikan populasi dan frame,- laporkan response rate dan bobot.

5.77.2 Jawaban paket B (contoh)

Desain ideal: - stratified multistage probability sampling,- oversampling kelompok rentan,- weighting lengkap. realistis: - cluster sampling kecamatan-desa-rumah tangga,- penguatan kontrol nonresponse. Kekuatan inferensi ideal lebih tinggi, tetapi biaya lebih besar.

5.77.3 Jawaban paket C (contoh)

Kritik reviewer: - "acak" tidak menjelaskan frame,- tidak jelas unit analisis,- tidak jelas level wilayah,- tidak jelas tahap sampling,- tidak jelas nonresponse plan,- tidak jelas bobot,- tidak jelas design effect,- tidak jelas prosedur substitusi,- tidak jelas kontrol kualitas,- tidak jelas batas inferensi. Versi revisi harus menyebut: populasi, frame, teknik sampling, tahapan, ukuran sampel, penyesuaian nonresponse, dan pendekatan analisis.

5.78 Penutup

Desain penelitian kuantitatif adalah keputusan metodologis yang menentukan ketahanan inferensi. Desain yang tepat tidak selalu yang paling kompleks, tetapi yang paling selaras dengan pertanyaan penelitian, jenis data, keterbatasan etika-operasional, dan tujuan inferensi. Peneliti yang disiplin pada tahap desain akan lebih mudah menyusun instrumen, mengelola data, dan menafsirkan hasil secara kredibel.

Dalam praktik pembelajaran, penguasaan desain penelitian perlu dilatih melalui simulasi keputusan desain, evaluasi kasus nyata, dan audit validitas. Dengan demikian, mahasiswa atau peneliti pemula tidak hanya hafal jenis desain, tetapi mampu memilih desain terbaik untuk persoalan sosial yang konkret.

Pada akhirnya, kualitas penelitian kuantitatif dimulai dari kualitas desain. Jika desain kuat, data lebih bermakna; jika data bermakna, kebijakan yang disarankan pun lebih tepat sasaran. ***

BAGIAN II - POPULASI, SAMPEL, DAN INSTRUMEN

6 Bab Populasi, Kerangka Sampel, dan Teknik Sampling

6.1 Pengantar

Dalam penelitian kuantitatif, kualitas kesimpulan sangat ditentukan oleh bagaimana peneliti mendefinisikan populasi, menyusun kerangka sampel, dan memilih teknik sampling. Banyak penelitian terlihat rapi pada tahap analisis statistik, tetapi simpulannya lemah karena sampel tidak representatif, unit analisis tidak konsisten, atau prosedur pemilihan responden tidak transparan. Karena itu, pembahasan sampling bukan bagian teknis kecil, melainkan fondasi inferensi.

Bab ini membahas secara menyeluruh konsep populasi, unit analisis, kerangka sampel, probability sampling, non-probability sampling, ukuran sampel, kesalahan sampling, hingga rancangan multistage untuk konteks lapangan Indonesia. Materi disusun agar dapat digunakan sebagai referensi kelas metodologi, panduan proposal skripsi/tesis, dan pedoman riset kebijakan daerah.

6.2 Populasi dan unit analisis

Populasi adalah keseluruhan elemen yang menjadi sasaran inferensi penelitian. Elemen populasi dapat berupa individu, rumah tangga, organisasi, sekolah, desa, kecamatan, atau entitas lain sesuai pertanyaan penelitian. Intinya, populasi menjawab pertanyaan “siapa yang ingin kita ketahui karakteristiknya”.

Unit analisis adalah entitas yang dianalisis dalam model statistik. Dalam banyak penelitian sosial, unit analisis sering berupa individu. Namun, tidak selalu demikian. Jika topik berkaitan dengan kinerja sekolah, unit analisis bisa sekolah. Jika topik berkaitan dengan kapasitas pemerintahan lokal, unit analisis bisa desa atau kecamatan.

Perlu dibedakan antara unit analisis dan unit observasi. Unit observasi adalah entitas dari mana data dikumpulkan. Unit analisis adalah entitas yang menjadi dasar inferensi. Keduanya bisa sama, bisa juga berbeda.

Contoh:

  • Penelitian tentang kepuasan pasien puskesmas. Unit observasi: pasien. Unit analisis: pasien.

  • Penelitian tentang kualitas sekolah. Unit observasi: siswa, guru, kepala sekolah. Unit analisis: sekolah.

Jika unit analisis tidak konsisten sejak awal, hasil analisis dapat mengalami kesalahan interpretasi. Misalnya, data dikumpulkan dari individu tetapi simpulan ditarik pada level organisasi tanpa agregasi yang benar.

6.2.1 Populasi target, populasi terjangkau, dan sampel

Dalam praktik, ada tiga konsep yang harus dibedakan:

  • Populasi target: populasi ideal yang ingin disimpulkan.
  • Populasi terjangkau: bagian populasi target yang benar-benar bisa diakses.
  • Sampel: bagian dari populasi terjangkau yang dipilih untuk diteliti.

Contoh:

Topik: perilaku pencarian kerja pemuda 18-24 tahun di provinsi tertentu.

  • Populasi target: seluruh pemuda 18-24 tahun di provinsi itu.
  • Populasi terjangkau: pemuda 18-24 tahun yang tercatat di kelurahan/desa dalam periode survei.
  • Sampel: pemuda yang dipilih melalui prosedur sampling.

Membedakan tiga level ini penting agar peneliti jujur terhadap batas generalisasi.

6.3 Kerangka sampel

Kerangka sampel adalah daftar elemen populasi yang dapat diakses untuk penarikan sampel. Kerangka sampel bisa berupa daftar rumah tangga, daftar siswa, daftar peserta program, daftar sekolah, daftar UMKM, atau daftar wilayah administratif.

Kualitas kerangka sampel sangat menentukan representativitas. Kerangka yang buruk akan menghasilkan bias bahkan jika rumus dan software analisis sangat canggih.

6.3.1 Masalah umum pada kerangka sampel

  • Coverage error: sebagian populasi tidak tercakup dalam daftar.
  • Over-coverage: daftar memuat elemen di luar populasi sasaran.
  • Duplikasi: satu elemen tercatat lebih dari sekali.
  • Outdated frame: daftar tidak diperbarui sehingga banyak entri tidak valid.

6.3.2 Audit kerangka sampel

Sebelum sampling, lakukan audit singkat:

  1. Apakah semua elemen populasi punya peluang masuk daftar?
  2. Apakah daftar masih mutakhir?
  3. Apakah ada duplikasi identitas?
  4. Apakah ada kelompok rentan yang terlewat?
  5. Apakah format data cukup untuk penarikan sampel acak?

Jika audit menunjukkan masalah serius, peneliti wajib memperbaiki kerangka atau menyatakan keterbatasan inferensi secara eksplisit.

6.4 Probability sampling

Probability sampling adalah teknik sampling di mana setiap elemen populasi memiliki peluang terpilih yang diketahui (dan tidak nol). Teknik ini adalah fondasi utama untuk generalisasi statistik dari sampel ke populasi.

6.4.1 Simple random sampling

Simple random sampling (SRS) memilih elemen secara acak murni dari kerangka sampel. Setiap elemen memiliki peluang yang sama untuk dipilih.

Kelebihan:

  • konsep sederhana,
  • inferensi statistik standar mudah diterapkan,
  • bias seleksi lebih rendah jika frame baik.

Keterbatasan:

  • membutuhkan kerangka sampel lengkap,
  • kurang efisien jika populasi sangat tersebar geografis.

Contoh:

Dari daftar 10.000 mahasiswa, dipilih 400 mahasiswa menggunakan random number generator.

6.4.2 Systematic sampling

Systematic sampling memilih elemen dengan interval tetap setelah titik awal acak.

Langkah:

  1. Urutkan daftar populasi.
  2. Hitung interval k = N/n.
  3. Pilih angka awal acak antara 1 dan k.
  4. Ambil setiap elemen ke-k.

Kelebihan:

  • praktis untuk daftar panjang,
  • lebih mudah dijalankan di lapangan.

Risiko:

  • jika daftar memiliki pola periodik yang bertepatan dengan interval, bias dapat terjadi.

6.4.3 Stratified sampling

Stratified sampling membagi populasi ke dalam strata homogen (misal jenis kelamin, wilayah, sekolah negeri/swasta), lalu sampling dilakukan dalam setiap strata.

Tujuan utama stratifikasi:

  • meningkatkan presisi estimasi,
  • menjamin keterwakilan subkelompok penting,
  • memungkinkan analisis komparatif antar strata.

Jenis alokasi sampel strata:

  • Proporsional: alokasi sesuai ukuran strata.
  • Disproporsional: alokasi tidak mengikuti ukuran strata (misal oversampling kelompok kecil agar analisis memadai).

Kelebihan:

  • presisi lebih baik bila strata relevan,
  • representasi subkelompok lebih terjamin.

Keterbatasan:

  • memerlukan informasi strata di kerangka sampel,
  • lebih kompleks dalam pembobotan jika disproporsional.

6.4.4 Cluster dan multistage sampling

Cluster sampling memilih unit kelompok (misal desa/sekolah) sebagai langkah awal, lalu memilih elemen di dalam cluster. Multistage sampling adalah versi bertahap dari cluster sampling, sering dipakai pada survei skala wilayah luas.

Contoh multistage:

  • Tahap 1: pilih kecamatan.
  • Tahap 2: pilih desa/kelurahan.
  • Tahap 3: pilih rumah tangga.
  • Tahap 4: pilih individu dalam rumah tangga.

Kelebihan:

  • lebih efisien biaya/logistik untuk wilayah luas,
  • realistis untuk survei rumah tangga skala kabupaten/provinsi.

Keterbatasan:

  • varians sampel cenderung lebih besar akibat kemiripan dalam cluster,
  • membutuhkan design effect dan bobot sampling.

6.5 Non-probability sampling

Non-probability sampling adalah teknik sampling yang tidak memberikan peluang terpilih yang diketahui untuk setiap elemen populasi. Teknik ini sering dipakai ketika kerangka sampel tidak tersedia, populasi sulit dijangkau, atau studi bersifat eksploratif.

6.5.1 Purposive sampling

Purposive sampling memilih responden berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian.

Contoh:

Memilih hanya kepala sekolah yang sudah menerapkan kurikulum tertentu minimal dua tahun.

6.5.2 Quota sampling

Quota sampling menetapkan kuota karakteristik tertentu (misal gender, wilayah), lalu enumerator memilih responden sampai kuota terpenuhi.

Kelebihan:

  • cepat dan praktis.

Keterbatasan:

  • risiko bias seleksi tetap tinggi karena pemilihan dalam kuota tidak acak.

6.5.3 Snowball sampling

Snowball sampling dimulai dari responden awal (seed), lalu responden tersebut merekomendasikan responden berikutnya.

Cocok untuk populasi tersembunyi seperti pekerja informal tertentu atau komunitas yang sulit diakses.

Keterbatasan:

  • rentan homophily bias (responden cenderung merekomendasikan orang serupa).

6.5.4 Convenience sampling

Convenience sampling mengambil responden yang paling mudah dijangkau.

Teknik ini paling lemah untuk generalisasi dan sebaiknya digunakan untuk studi pendahuluan atau pilot.

6.5.5 Kapan non-probability sampling dapat diterima

Non-probability sampling dapat diterima jika:

  • tujuan utama eksplorasi awal,
  • populasi sangat sulit dijangkau,
  • penelitian bertujuan pengembangan instrumen awal,
  • keterbatasan diakui secara transparan.

Pada laporan akhir, keterbatasan generalisasi wajib dinyatakan tegas.

6.6 Ukuran sampel

Menentukan ukuran sampel tidak boleh dilakukan sembarangan. Sampel terlalu kecil membuat penelitian kehilangan power untuk mendeteksi efek yang nyata. Sampel terlalu besar dapat memboroskan sumber daya tanpa peningkatan manfaat yang proporsional.

6.6.1 Pendekatan Slovin

Pendekatan ringkas yang sering digunakan dalam riset terapan:

\[ n = \frac{N}{1 + N e^2} \]

dengan:

  • n = ukuran sampel,
  • N = ukuran populasi,
  • e = margin of error.

Contoh N = 1500, e = 0.05:

\[ n = \frac{1500}{1 + 1500(0.05)^2} = \frac{1500}{4.75} \approx 316 \]

Pendekatan ini praktis, tetapi bersifat simplifikasi. Untuk penelitian inferensial ketat, disarankan pendekatan berbasis power.

6.6.2 Pendekatan Cochran (proporsi)

Untuk estimasi proporsi dengan populasi besar:

\[ n_0 = \frac{Z^2 p(1-p)}{e^2} \]

Jika populasi terbatas, gunakan finite population correction:

\[ n = \frac{n_0}{1 + \frac{n_0 - 1}{N}} \]

6.6.3 Ukuran sampel berbasis power

Power analysis mempertimbangkan:

  • tingkat signifikansi (alpha),
  • power (1-beta),
  • effect size minimum yang ingin dideteksi,
  • jumlah prediktor atau kelompok.

Keunggulan power analysis:

  • lebih selaras dengan tujuan inferensi,
  • mencegah underpowered study,
  • memaksa peneliti mendefinisikan efek minimal yang bermakna.

6.6.4 Penyesuaian nonresponse

Ukuran sampel final harus disesuaikan dengan perkiraan nonresponse.

Jika response rate diperkirakan 80%, maka:

\[ n_{final} = \frac{n_{target}}{0.8} \]

Contoh n_target = 400:

\[ n_{final} = 500 \]

Artinya peneliti harus mengontak lebih banyak responden agar sampel efektif tercapai.

6.6.5 Design effect pada cluster sampling

Pada sampling berkelompok, varians meningkat karena kemiripan responden dalam cluster. Penyesuaian dapat dilakukan dengan design effect (deff):

\[ n_{adj} = n \times deff \]

Jika deff = 1.5 dan n awal 400, maka n_adj = 600.

6.7 Contoh hitung di R

# Slovin
N <- 1500
e <- 0.05
n_slovin <- N / (1 + N * e^2)
n_slovin
## [1] 315.7895
# Penyesuaian nonresponse
response_rate <- 0.80
n_final <- n_slovin / response_rate
n_final
## [1] 394.7368
# Penyesuaian design effect
deff <- 1.5
n_cluster_adj <- n_slovin * deff
n_cluster_adj
## [1] 473.6842

6.8 Pembobotan sampel

Dalam desain kompleks (stratifikasi disproporsional, multistage), pembobotan dibutuhkan agar estimasi kembali mencerminkan populasi.

Prinsip umum bobot dasar:

\[ w_i = \frac{1}{\pi_i} \]

dengan \(\pi_i\) adalah probabilitas terpilih unit ke-i.

Bobot dapat disesuaikan untuk nonresponse dan kalibrasi distribusi populasi (post-stratification). Tanpa bobot yang tepat, estimasi populasi dapat bias.

6.9 Kesalahan sampling dan non-sampling

Kualitas sampel dipengaruhi dua jenis kesalahan.

6.9.1 Sampling error

Sampling error adalah variasi alami karena hanya sebagian populasi diamati. Ini bisa dihitung dan dinyatakan dalam standard error atau interval kepercayaan.

6.9.2 Non-sampling error

Non-sampling error meliputi:

  • coverage error,
  • nonresponse error,
  • measurement error,
  • processing error,
  • interviewer effect.

Pada praktik lapangan, non-sampling error sering lebih besar dampaknya dibanding sampling error. Karena itu, quality control tidak boleh diabaikan.

6.10 Rancangan multistage untuk survei rumah tangga kabupaten

Berikut contoh skema multistage yang realistis untuk survei rumah tangga tingkat kabupaten.

Langkah perancangan:

  1. Definisikan populasi target: seluruh rumah tangga di Kabupaten X.
  2. Siapkan frame tahap 1: daftar kecamatan + jumlah rumah tangga.
  3. Pilih kecamatan secara probability proportional to size (PPS).
  4. Siapkan frame tahap 2: daftar desa/kelurahan di kecamatan terpilih.
  5. Pilih desa/kelurahan secara PPS atau acak sederhana.
  6. Listing rumah tangga pada desa terpilih.
  7. Pilih rumah tangga secara systematic random sampling.
  8. Pilih responden individu dalam rumah tangga (misal Kish grid/aturan acak lain).

Keuntungan desain ini:

  • efisien biaya lapangan,
  • tetap berbasis probabilitas,
  • dapat ditingkatkan skalanya untuk survei provinsi.

Catatan penting:

  • seluruh probabilitas pemilihan tiap tahap harus terdokumentasi,
  • bobot sampling harus dihitung,
  • design effect harus diperhitungkan dalam ukuran sampel.

6.11 Strategi meningkatkan kualitas representativitas

Untuk meningkatkan kualitas inferensi dari sampel ke populasi, lakukan strategi berikut:

  • gunakan kerangka sampel paling mutakhir,
  • lakukan stratifikasi pada variabel kunci populasi,
  • pantau response rate per strata,
  • lakukan callback untuk nonresponse,
  • dokumentasikan alasan penolakan,
  • gunakan pembobotan korektif jika diperlukan,
  • laporkan keterbatasan representativitas secara transparan.

6.12 Pertimbangan etika dan inklusivitas dalam sampling

Sampling bukan sekadar prosedur statistik, tetapi juga keputusan etis. Kelompok rentan sering terabaikan jika kerangka sampel buruk atau prosedur lapangan tidak sensitif konteks.

Prinsip etika sampling:

  • adil dalam peluang partisipasi,
  • tidak mendiskriminasi kelompok tertentu,
  • menjaga kerahasiaan identitas,
  • memastikan persetujuan partisipasi sukarela.

Prinsip inklusivitas:

  • pastikan kelompok perempuan, disabilitas, wilayah terpencil, atau kelompok minoritas tidak otomatis tereluasi dari frame,
  • siapkan strategi akses untuk responden sulit dijangkau,
  • lakukan audit representasi kelompok kunci pada data terkumpul.

6.13 Kerangka keputusan memilih teknik sampling

Gunakan alur keputusan berikut:

  1. Apakah kerangka sampel populasi tersedia dan memadai?
  • Jika ya, prioritaskan probability sampling.
  • Jika tidak, evaluasi kemungkinan membangun frame minimal.
  1. Apakah tujuan penelitian adalah generalisasi populasi?
  • Jika ya, probability sampling sangat dianjurkan.
  • Jika tidak (eksplorasi awal), non-probability dapat dipertimbangkan dengan batasan eksplisit.
  1. Apakah populasi tersebar luas geografis?
  • Jika ya, pertimbangkan cluster/multistage.
  1. Apakah ada subkelompok penting yang harus terwakili?
  • Jika ya, pertimbangkan stratified sampling.
  1. Apakah sumber daya terbatas?
  • Lakukan trade-off terencana: desain efisien + transparansi batas inferensi.

6.14 Studi kasus terapan

6.14.1 Studi kasus pendidikan

Tujuan: mengestimasi proporsi siswa dengan literasi digital memadai di tingkat kabupaten.

Desain sampling:

  • stratified by wilayah (urban-rural),
  • cluster pada sekolah,
  • systematic sampling siswa dalam sekolah.

Alasan: menjamin representasi wilayah sekaligus efisiensi lapangan.

6.14.2 Studi kasus kesehatan

Tujuan: menilai faktor risiko hipertensi rumah tangga.

Desain sampling:

  • multistage rumah tangga,
  • pemilihan kecamatan-desa-rumah tangga,
  • satu responden dewasa dipilih acak per rumah tangga.

Alasan: populasi luas, biaya harus terkendali.

6.14.3 Studi kasus ketenagakerjaan

Tujuan: menguji faktor yang memengaruhi peluang kerja formal pemuda.

Desain sampling:

  • stratified by jenis kelamin dan wilayah,
  • systematic sampling dari daftar pemuda terdaftar,
  • oversampling kelompok kecil jika analisis komparatif diperlukan.

Catatan: jika oversampling dilakukan, pembobotan wajib diterapkan saat estimasi populasi.

6.15 Latihan bab 7

  1. Jelaskan perbedaan stratified sampling dan cluster sampling dari segi tujuan, prosedur, dan implikasi analisis.
  2. Hitung ukuran sampel untuk N = 4200 dan e = 0.04 dengan rumus Slovin.
  3. Jika response rate diperkirakan 75%, berapa sampel awal yang harus disiapkan dari hasil nomor 2?
  4. Rancang skema multistage sampling untuk survei rumah tangga tingkat kabupaten (minimal 3 tahap).
  5. Berikan contoh kondisi ketika non-probability sampling masih dapat diterima, dan tulis batas inferensinya.
  6. Buat checklist audit kerangka sampel minimal 8 butir untuk topik penelitian Anda.

6.16 Kunci jawaban bab 7 (contoh komprehensif)

6.16.1 Jawaban nomor 1

Stratified sampling membagi populasi ke strata homogen lalu mengambil sampel dari setiap strata untuk meningkatkan presisi dan keterwakilan subkelompok. Cluster sampling memilih kelompok alami (cluster) untuk efisiensi logistik ketika populasi tersebar luas. Stratifikasi biasanya menurunkan varians jika strata relevan, sedangkan cluster cenderung menaikkan varians sehingga perlu design effect.

6.16.2 Jawaban nomor 2

Gunakan rumus Slovin:

\[ n = \frac{4200}{1 + 4200(0.04)^2} = \frac{4200}{1 + 6.72} = \frac{4200}{7.72} \approx 544 \]

Jadi kebutuhan sampel efektif sekitar 544 responden.

6.16.3 Jawaban nomor 3

Jika response rate 75%:

\[ n_{awal} = \frac{544}{0.75} \approx 725 \]

Artinya peneliti harus menargetkan sekitar 725 kontak agar memperoleh 544 responden efektif.

6.16.4 Jawaban nomor 4

Contoh multistage kabupaten:

  • Tahap 1: pilih kecamatan secara PPS.
  • Tahap 2: pilih desa/kelurahan di kecamatan terpilih secara acak.
  • Tahap 3: listing rumah tangga dan pilih systematic random sampling.
  • Tahap 4: pilih responden dewasa di rumah tangga secara acak.

6.16.5 Jawaban nomor 5

Non-probability sampling dapat diterima untuk studi eksplorasi populasi tersembunyi ketika frame tidak tersedia, misalnya snowball pada komunitas pekerja informal spesifik. Batas inferensi: temuan tidak boleh digeneralisasikan ke seluruh populasi tanpa kehati-hatian tinggi.

6.16.6 Jawaban nomor 6

Contoh checklist audit frame:

  1. daftar mutakhir,
  2. tidak ada duplikasi,
  3. variabel identitas lengkap,
  4. cakupan wilayah lengkap,
  5. kelompok rentan tercakup,
  6. entri invalid minim,
  7. format siap sampling acak,
  8. ada dokumentasi sumber frame.

6.17 Pendalaman tambahan: quality assurance sampling di lapangan

Pada penelitian skala kelas maupun riset kebijakan daerah, kualitas sampling ditentukan bukan hanya oleh desain awal, tetapi oleh kualitas implementasi harian di lapangan. Quality assurance sampling harus berjalan sejak hari pertama pengumpulan data.

Komponen quality assurance minimum:

  • daftar sampel harian yang tervalidasi,
  • monitoring response rate per wilayah dan per strata,
  • audit kepatuhan enumerator pada aturan sampling,
  • back-check acak terhadap responden,
  • rekonsiliasi data listing vs data wawancara,
  • pencatatan deviasi dan tindakan korektif.

Jika quality assurance lemah, penelitian bisa mengalami dua masalah besar: sampel menyimpang dari desain, dan data final tidak lagi mencerminkan populasi target.

6.17.1 Monitoring response rate per strata

Response rate sebaiknya tidak dipantau sebagai angka tunggal. Pantau per strata agar peneliti dapat melihat ketimpangan representasi.

Contoh:

  • response rate total = 78% terlihat baik,
  • tetapi strata wilayah terpencil hanya 52%,
  • strata urban mencapai 90%.

Jika ketimpangan ini diabaikan, estimasi agregat bisa terlalu dipengaruhi strata dengan respons tinggi. Tindakan korektif dapat berupa callback tambahan, re-visit dengan jadwal berbeda, atau penambahan enumerator lokal.

6.17.2 Audit kepatuhan interval sampling

Dalam systematic sampling, kesalahan umum adalah enumerator tidak mematuhi interval yang ditetapkan karena tekanan waktu. Audit supervisor harus memeriksa:

  • apakah titik awal acak benar-benar dipakai,
  • apakah interval diikuti konsisten,
  • apakah ada substitusi tanpa otorisasi,
  • apakah daftar rumah tangga diperbarui sebelum pemilihan.

Audit ini sebaiknya dilakukan harian, bukan di akhir survei.

6.17.3 Back-check dan re-interview

Back-check adalah verifikasi ulang sebagian responden untuk menilai kualitas wawancara. Praktik umum:

  • 10-15% sampel diback-check,
  • item verifikasi fokus pada identitas, pertanyaan kunci, dan durasi wawancara,
  • hasil back-check dicatat sebagai indikator kualitas enumerator.

Jika ketidaksesuaian tinggi, lakukan re-training enumerator dan evaluasi potensi pengulangan wawancara pada cluster terkait.

6.18 Pendalaman tambahan: sampling pada populasi khusus

Tidak semua populasi mudah didekati dengan desain klasik. Pada populasi tertentu, sampling memerlukan penyesuaian strategi.

6.18.1 Populasi bergerak tinggi

Contoh: pekerja platform, pekerja musiman, migran sementara.

Tantangan:

  • kerangka sampel cepat usang,
  • kontak responden sulit dipertahankan,
  • nonresponse tinggi.

Strategi:

  • gunakan time-location sampling,
  • kombinasikan data administratif dan listing lapangan,
  • dokumentasikan batas inferensi secara terbuka.

6.18.2 Populasi rentan

Contoh: penyandang disabilitas, kelompok minoritas kecil, lansia tanpa akses digital.

Tantangan:

  • risiko undercoverage,
  • hambatan akses komunikasi,
  • potensi bias jika instrumen tidak inklusif.

Strategi:

  • oversampling kelompok rentan,
  • adaptasi instrumen aksesibel,
  • rekrut enumerator dengan pelatihan sensitivitas,
  • lakukan audit representasi khusus.

6.18.3 Populasi institusional

Contoh: sekolah, puskesmas, kantor layanan publik.

Dalam populasi institusional, desain sampling sering dua tingkat:

  • tingkat institusi,
  • tingkat individu dalam institusi.

Peneliti harus memperhitungkan korelasi intrakelas (intra-cluster correlation) karena responden dalam institusi sama cenderung mirip.

6.19 Pendalaman tambahan: desain sampel untuk evaluasi program

Dalam evaluasi program, sampling harus mendukung komparasi yang valid antara kelompok intervensi dan pembanding.

6.19.1 Prinsip inti

  • definisi kelompok intervensi jelas,
  • pembanding dipilih dengan logika kesetaraan,
  • baseline comparability diperiksa,
  • ukuran sampel cukup untuk mendeteksi efek kebijakan yang relevan.

6.19.2 Sampling untuk before-after dengan pembanding

Langkah:

  1. pilih lokasi intervensi,
  2. pilih lokasi pembanding yang karakteristiknya mirip,
  3. sampling unit dalam kedua lokasi dengan prosedur seragam,
  4. kumpulkan data pada periode sebelum dan sesudah.

Risiko utama:

  • pembanding tidak benar-benar setara,
  • migrasi responden antarwilayah,
  • kebijakan lain berjalan bersamaan.

Mitigasi:

  • dokumentasi kondisi baseline,
  • kontrol kovariat,
  • analisis robustness lintas spesifikasi.

6.20 Pendalaman tambahan: integrasi sampling dengan manajemen data

Kualitas sampling tidak dapat dipisahkan dari manajemen data. Setiap unit sampel harus memiliki jejak data yang jelas dari frame awal hingga dataset akhir.

Komponen wajib:

  • sample ID unik,
  • status kontak (berhasil, menolak, tidak ditemui, pindah),
  • tanggal dan jam kunjungan,
  • enumerator ID,
  • alasan substitusi jika ada,
  • flag quality check.

Dengan struktur ini, tim dapat menghitung response rate yang akurat, menilai bias nonresponse, dan mengaudit deviasi sampling.

6.20.1 Struktur status responden yang disarankan

  • complete interview,
  • partial interview,
  • refusal,
  • non-contact,
  • ineligible,
  • substitute approved.

Setiap status harus memiliki definisi operasional yang konsisten agar laporan field tidak ambigu.

6.21 Pendalaman tambahan: pelaporan sampling di naskah ilmiah

Banyak naskah gagal pada bagian metode karena sampling dijelaskan terlalu singkat. Untuk standar buku dan jurnal nasional, bagian sampling setidaknya menjawab pertanyaan berikut:

  • apa populasi target?
  • apa populasi terjangkau?
  • apa kerangka sampelnya?
  • teknik sampling apa yang dipakai?
  • berapa ukuran sampel dan bagaimana menghitungnya?
  • bagaimana penyesuaian nonresponse?
  • apakah ada pembobotan?
  • apa keterbatasan sampling?

Contoh paragraf pelaporan yang baik:

“Populasi target penelitian ini adalah seluruh rumah tangga di Kabupaten X tahun 2026. Kerangka sampel menggunakan daftar rumah tangga hasil pemutakhiran desa tahun 2025. Teknik sampling yang digunakan adalah multistage probability sampling: pemilihan kecamatan secara PPS, pemilihan desa secara acak sederhana, dan pemilihan rumah tangga secara systematic random sampling. Ukuran sampel efektif ditetapkan 600 rumah tangga, kemudian disesuaikan dengan perkiraan response rate 80% sehingga target kontak menjadi 750 rumah tangga. Analisis menggunakan bobot desain dan penyesuaian nonresponse.”

6.22 Pendalaman tambahan: simulasi kesalahan dan koreksi

6.22.1 Simulasi 1

Masalah: daftar frame memiliki 12% duplikasi.

Dampak:

  • peluang terpilih tidak merata,
  • beberapa elemen punya peluang lebih tinggi,
  • estimasi bias.

Koreksi:

  • deduplikasi sebelum penarikan sampel,
  • dokumentasi prosedur pembersihan frame,
  • evaluasi ulang probabilitas pemilihan.

6.22.2 Simulasi 2

Masalah: 25% unit sampel diganti tanpa prosedur.

Dampak:

  • selection bias meningkat,
  • desain kehilangan sifat probabilistik.

Koreksi:

  • hentikan substitusi liar,
  • gunakan callback terstruktur,
  • semua substitusi wajib persetujuan supervisor,
  • laporkan tingkat substitusi pada laporan akhir.

6.22.3 Simulasi 3

Masalah: strata minoritas underrepresented.

Dampak:

  • kesimpulan tentang kelompok minoritas tidak stabil,
  • estimasi agregat berpotensi bias.

Koreksi:

  • lakukan oversampling terarah,
  • gunakan bobot pada estimasi populasi,
  • tingkatkan upaya rekrutmen di strata terkait.

6.23 Pendalaman tambahan: template rencana sampling untuk proposal

Template ini dapat langsung dipakai pada proposal skripsi/tesis atau riset lembaga.

Bagian A: Populasi dan unit analisis

  • Populasi target:
  • Populasi terjangkau:
  • Unit analisis:
  • Unit observasi:

Bagian B: Kerangka sampel

  • Sumber frame:
  • Tahun pembaruan frame:
  • Potensi coverage error:
  • Strategi perbaikan frame:

Bagian C: Teknik sampling

  • Jenis sampling:
  • Tahapan sampling:
  • Rumus dan asumsi ukuran sampel:
  • Penyesuaian nonresponse:
  • Rencana bobot:

Bagian D: Quality control

  • Monitoring response rate:
  • Rencana back-check:
  • Protokol substitusi:
  • Prosedur audit lapangan:

Bagian E: Batas inferensi

  • Cakupan generalisasi:
  • Keterbatasan sampling:
  • Potensi bias tersisa:

6.24 Latihan evaluatif tambahan

  1. Ambil satu topik kebijakan lokal dan tulis rencana sampling lengkap menggunakan template di atas.
  2. Simulasikan tiga skenario response rate (90%, 75%, 60%) dan hitung kebutuhan kontak awal jika sampel efektif 500.
  3. Untuk satu desain multistage pilihan Anda, tulis semua titik potensi error operasional dan mitigasinya.
  4. Tulis paragraf batas inferensi jika frame diketahui tidak mencakup 8% populasi rentan.

6.25 Kunci jawaban evaluatif tambahan (contoh)

Jawaban nomor 2:

  • response rate 90% -> kontak awal 556,
  • response rate 75% -> kontak awal 667,
  • response rate 60% -> kontak awal 834.

Interpretasi: semakin rendah response rate yang diperkirakan, semakin besar kebutuhan sumber daya lapangan.

Jawaban nomor 4 (contoh paragraf):

“Hasil penelitian ini digeneralisasikan pada populasi yang tercakup dalam kerangka sampel. Karena kerangka diketahui belum mencakup sekitar 8% kelompok rentan tertentu, estimasi pada kelompok tersebut perlu ditafsirkan secara hati-hati. Potensi undercoverage telah diminimalkan melalui listing tambahan di wilayah prioritas, namun bias residual tetap mungkin terjadi.” ## Pendalaman final: perencanaan ukuran sampel berbasis skenario

Dalam praktik penelitian terapan, ukuran sampel sebaiknya direncanakan dengan pendekatan skenario, bukan satu angka tunggal. Pendekatan skenario membantu tim memahami dampak perubahan asumsi terhadap kebutuhan sumber daya.

6.25.1 Skenario margin of error

Misal populasi 10.000 orang. Jika peneliti memilih margin error 5%, ukuran sampel akan jauh lebih kecil dibanding margin error 3%. Konsekuensinya:

  • margin error kecil -> estimasi lebih presisi,
  • tetapi biaya lapangan meningkat,
  • durasi pengumpulan data lebih panjang.

Skenario semacam ini harus dibahas sejak proposal agar keputusan metodologis konsisten dengan kapasitas tim.

6.25.2 Skenario design effect

Pada cluster sampling, variasi deff sangat mungkin terjadi. Peneliti sebaiknya menyiapkan tiga skenario:

  • deff rendah (1.2),
  • deff sedang (1.5),
  • deff tinggi (2.0).

Jika hasil akhir menunjukkan deff lebih tinggi dari prediksi, sampel efektif bisa menurun tajam. Dengan skenario awal, tim dapat menyiapkan cadangan responden.

6.25.3 Skenario nonresponse

Response rate aktual sering lebih rendah dari rencana. Karena itu, ukuran kontak awal harus dihitung dengan beberapa skenario:

  • optimis,
  • realistis,
  • pesimis.

Rencana ini menghindari situasi di mana lapangan berhenti sebelum sampel efektif tercapai.

6.26 Pendalaman final: sampling untuk analisis subkelompok

Banyak penelitian kebijakan membutuhkan hasil per subkelompok, misalnya laki-laki vs perempuan, urban vs rural, atau penerima vs non-penerima program. Jika kebutuhan ini tidak dirancang sejak awal, analisis subkelompok sering tidak stabil.

6.26.1 Prinsip desain subkelompok

  • tentukan subkelompok prioritas sejak proposal,
  • pastikan ukuran sampel minimum tiap subkelompok,
  • gunakan stratifikasi atau oversampling bila diperlukan,
  • siapkan rencana pembobotan untuk estimasi populasi total.

6.26.2 Risiko jika diabaikan

  • interval kepercayaan subkelompok terlalu lebar,
  • hasil antar kelompok tidak dapat dibandingkan dengan baik,
  • rekomendasi kebijakan menjadi terlalu umum.

6.26.3 Contoh

Topik: kepuasan layanan digital pemerintah daerah.

Jika daerah ingin tahu gap kepuasan urban-rural, maka desain sampling harus memastikan responden rural cukup, bukan sekadar mengikuti proporsi umum sampel total.

6.27 Pendalaman final: hubungan sampling dan indikator kebijakan

Pada riset kebijakan, indikator yang dilaporkan harus sinkron dengan desain sampling. Jika desain hanya representatif tingkat kabupaten, maka hasil tidak boleh dipaksakan untuk menyimpulkan tingkat kecamatan tanpa kehati-hatian tambahan.

Aturan pelaporan:

  • level representativitas disebut jelas,
  • indikator kebijakan disesuaikan dengan level representasi,
  • batas analisis granular dinyatakan eksplisit.

Contoh pelaporan benar:

“Estimasi mewakili tingkat kabupaten, bukan estimasi resmi per kecamatan.”

Contoh pelaporan bermasalah:

“Hasil ini menunjukkan kondisi seluruh kecamatan,” padahal desain tidak mendukung inferensi per kecamatan.

6.28 Pendalaman final: protokol substitusi yang valid

Substitusi responden sering tak terhindarkan, tetapi harus dikontrol ketat.

Protokol substitusi yang disarankan:

  1. callback minimal dua kali pada waktu berbeda,
  2. dokumentasi alasan nonresponse,
  3. substitusi hanya dari daftar cadangan yang telah diacak,
  4. supervisor menyetujui substitusi,
  5. status substitusi ditandai pada dataset.

Tanpa protokol ini, substitusi dapat mengubah desain probabilistik menjadi convenience terselubung.

6.29 Pendalaman final: harmonisasi sampling lintas gelombang

Untuk penelitian berulang (repeated survey/panel), harmonisasi sampling antar gelombang penting agar tren dapat dibandingkan secara sahih.

Aspek harmonisasi:

  • definisi populasi tetap konsisten,
  • kerangka sampel diperbarui tanpa mengubah definisi dasar,
  • instrumen kunci tidak berubah drastis,
  • indikator utama dipertahankan kompatibel.

Jika perubahan metodologi terpaksa dilakukan, laporkan secara transparan dan jelaskan dampaknya pada komparabilitas hasil.

6.30 Pendalaman final: dokumentasi metadata sampling

Metadata sampling adalah catatan teknis yang menjelaskan bagaimana sampel dibangun. Metadata ini sering diabaikan, padahal sangat penting untuk audit dan replikasi.

Metadata minimum:

  • nama studi,
  • versi kerangka sampel,
  • tanggal penarikan sampel,
  • algoritme sampling,
  • seed randomization (jika ada),
  • jumlah unit terpilih tiap tahap,
  • definisi status respon,
  • rumus bobot,
  • daftar variabel desain (strata, cluster, weight).

Tanpa metadata, penelitian menjadi sulit ditinjau ulang oleh reviewer atau pengguna data sekunder.

6.31 Pendalaman final: indikator kualitas sampling untuk laporan akhir

Laporan akhir sebaiknya tidak hanya memuat ukuran sampel, tetapi juga indikator kualitas sampling berikut:

  • response rate total,
  • response rate per strata,
  • nonresponse rate per alasan,
  • tingkat substitusi,
  • design effect (jika desain kompleks),
  • distribusi bobot,
  • catatan deviasi lapangan.

Dengan indikator ini, pembaca dapat menilai kredibilitas inferensi secara objektif.

6.32 Rubrik cepat self-assessment tim sampling

Gunakan rubrik 1-5 untuk menilai kesiapan tim sebelum lapangan.

Aspek yang dinilai:

  • kualitas frame,
  • kejelasan SOP,
  • kesiapan enumerator,
  • kesiapan supervisor,
  • kesiapan sistem data,
  • kesiapan audit kualitas.

Interpretasi:

  • rerata >=4.5: sangat siap,
  • 3.5-4.4: siap dengan perbaikan minor,
  • 2.5-3.4: perlu perbaikan substansial,
  • <2.5: tunda implementasi.

6.33 Studi mini komparatif: tiga desain sampling untuk satu topik

Topik: faktor akses layanan kesehatan primer.

Desain A: SRS dari daftar rumah tangga kabupaten.

  • Kelebihan: inferensi sederhana.
  • Kelemahan: biaya tinggi jika wilayah luas.

Desain B: stratified-cluster.

  • Kelebihan: representasi wilayah + efisiensi.
  • Kelemahan: perlu bobot dan deff.

Desain C: convenience di fasilitas kesehatan.

  • Kelebihan: cepat.
  • Kelemahan: sangat bias untuk populasi umum.

Pilihan terbaik untuk kebijakan kabupaten umumnya B, karena menyeimbangkan kualitas inferensi dan efisiensi operasional.

6.34 Latihan reflektif penutup bab 7

  1. Tulis ulang metode sampling penelitian Anda dalam 200 kata, lalu cek apakah sudah menjawab: siapa, dari mana, bagaimana dipilih, dan apa batas inferensinya.
  2. Buat daftar tiga risiko lapangan terbesar yang bisa merusak desain sampling Anda.
  3. Untuk tiap risiko, tulis satu tindakan pencegahan dan satu tindakan koreksi.
  4. Tulis satu paragraf yang menjelaskan mengapa hasil penelitian Anda layak (atau tidak layak) digeneralisasikan ke populasi target.

6.35 Kunci reflektif (contoh jawaban)

Jawaban yang kuat biasanya memiliki ciri berikut:

  • menyebut populasi target dan terjangkau secara eksplisit,
  • menyebut teknik sampling dan tahapan operasional,
  • menyebut ukuran sampel + penyesuaian nonresponse,
  • menyebut potensi bias dan mitigasinya,
  • menyebut batas generalisasi secara jujur.

Jika paragraf metode belum memuat lima unsur itu, metode sampling perlu direvisi sebelum penelitian dijalankan. ## Ringkasan strategis implementasi sampling

Sebagai penutup teknis sebelum kesimpulan, bagian ini merangkum pesan operasional yang paling penting untuk implementasi sampling di lapangan.

Pertama, sampling harus diperlakukan sebagai proses end-to-end, bukan langkah tunggal. Proses dimulai dari definisi populasi, dilanjutkan dengan validasi kerangka sampel, pemilihan teknik sampling yang sesuai, penyesuaian ukuran sampel, hingga audit kualitas selama pengumpulan data.

Kedua, kualitas inferensi tidak pernah melebihi kualitas sampling. Peneliti tidak bisa mengompensasi kerangka sampel buruk dengan model statistik rumit. Oleh karena itu, investasi terbesar pada awal penelitian sebaiknya difokuskan pada perbaikan frame, SOP pemilihan responden, dan kontrol nonresponse.

Ketiga, pada desain kompleks, dokumentasi adalah syarat mutlak. Semua keputusan sampling harus tercatat: aturan pemilihan unit, probabilitas tiap tahap, alasan substitusi, hingga formula bobot. Dokumentasi ini bukan beban administratif, tetapi fondasi transparansi ilmiah.

Keempat, sampling yang baik selalu mempertimbangkan inklusivitas. Kelompok kecil, rentan, atau sulit dijangkau harus dipikirkan sejak desain, bukan setelah data terkumpul. Jika tidak, hasil penelitian bisa “rapi” secara statistik tetapi bias secara sosial.

Kelima, pelaporan sampling harus jujur tentang batas inferensi. Jika desain hanya mewakili tingkat kabupaten, jangan mengeklaim kesimpulan tingkat kecamatan. Jika nonresponse tinggi, nyatakan dampaknya. Sikap ini memperkuat kredibilitas riset.

Akhirnya, untuk konteks pembelajaran nasional, keterampilan sampling harus dilatih berulang melalui praktik desain, simulasi gangguan lapangan, dan audit proposal. Peneliti yang terbiasa melakukan evaluasi sampling sejak awal akan menghasilkan penelitian yang lebih kuat, lebih replikabel, dan lebih berguna untuk perumusan kebijakan berbasis data. ## Catatan implementasi akhir untuk tim penelitian

Saat penelitian masuk fase operasional, tim sebaiknya mengadakan rapat sampling harian singkat dengan agenda tetap: progres capaian sampel, distribusi respon per strata, deviasi prosedur, dan rencana korektif esok hari. Rapat ini sederhana tetapi efektif mencegah penyimpangan desain yang sering luput jika evaluasi hanya dilakukan di akhir minggu.

Selain itu, tim perlu menyiapkan dashboard internal minimal yang menampilkan jumlah target, jumlah kontak, complete interview, refusal, non-contact, dan substitusi. Dengan dashboard ini, keputusan lapangan dapat berbasis data harian, bukan asumsi. Jika satu strata tertinggal, tim bisa segera menambah callback atau mengalokasikan enumerator tambahan.

Di tahap penulisan laporan, sertakan lampiran alur sampel (sample flow) dari frame awal hingga dataset final. Lampiran ini akan sangat membantu pembaca, reviewer, dan pengguna data memahami bagaimana sampel terbentuk dan seberapa kuat generalisasi hasil penelitian. Paragraf tambahan ini menegaskan bahwa keputusan sampling harus terus dievaluasi sampai tahap pelaporan akhir, karena kualitas inferensi populasi tidak ditentukan sekali di awal, melainkan dipelihara sepanjang siklus penelitian, mulai desain, lapangan, hingga analisis dan interpretasi. ## Penutup

Sampling adalah jembatan antara data lapangan dan kesimpulan populasi. Jembatan ini hanya kuat jika tiga komponen bekerja bersama: definisi populasi yang tepat, kerangka sampel yang berkualitas, dan teknik sampling yang selaras dengan tujuan inferensi.

Penelitian dengan teknik sampling yang baik akan lebih kredibel, lebih mudah direplikasi, dan lebih berguna untuk pengambilan keputusan. Sebaliknya, kelemahan sampling akan melemahkan seluruh hasil meskipun analisis statistik terlihat canggih.

Karena itu, peneliti kuantitatif perlu menempatkan sampling sebagai keputusan metodologis strategis, bukan keputusan administratif. Dengan disiplin pada prinsip representativitas, transparansi, dan kontrol kualitas, penelitian sosial kuantitatif dapat menghasilkan bukti yang benar-benar kuat untuk ilmu dan kebijakan. ***

7 Bab Pengembangan Instrumen, Validitas, dan Reliabilitas

7.1 Pengantar

Dalam penelitian kuantitatif, kualitas instrumen menentukan kualitas data. Jika instrumen lemah, maka statistik secanggih apa pun tidak akan memperbaiki kesalahan pengukuran pada hulu proses riset. Karena itu, pengembangan instrumen harus diperlakukan sebagai proses ilmiah yang sistematis, bukan sekadar menyusun daftar pertanyaan.

Instrumen kuantitatif yang baik harus memenuhi setidaknya tiga syarat utama. Pertama, instrumen harus relevan secara teoritik, artinya setiap item mewakili konstruk yang benar-benar hendak diukur. Kedua, instrumen harus valid, artinya skor yang dihasilkan merefleksikan konsep target, bukan konsep lain. Ketiga, instrumen harus reliabel, artinya hasil pengukuran cukup konsisten ketika diterapkan pada kondisi yang sebanding.

Pada praktik di lapangan, kelemahan instrumen sering muncul dalam bentuk hal yang terlihat kecil: kalimat item terlalu panjang, istilah ambigu, skala respons tidak seimbang, atau urutan pertanyaan memengaruhi jawaban responden. Kelemahan kecil ini bisa menimbulkan error sistematis yang akhirnya mengubah simpulan penelitian. Oleh sebab itu, bab ini membahas pengembangan instrumen secara rinci, mulai dari menurunkan indikator dari teori, menulis item yang baik, menguji validitas dan reliabilitas, hingga melakukan revisi berbasis bukti.

Bab ini dirancang untuk kebutuhan buku ajar nasional sehingga tidak hanya memuat definisi, tetapi juga prosedur operasional, contoh praktis, template kerja, dan latihan terstruktur. Setelah mempelajari bab ini, pembaca diharapkan mampu menyusun instrumen kuantitatif yang layak pakai untuk penelitian akademik maupun evaluasi kebijakan.

7.2 Penyusunan indikator

Penyusunan indikator adalah proses menerjemahkan konsep abstrak menjadi komponen terukur. Pada tahap ini peneliti harus menjaga jembatan antara teori dan pengukuran. Jika jembatan ini putus, instrumen bisa terlihat rapi tetapi tidak mengukur konstruk yang seharusnya.

Tahapan umum penyusunan indikator:

  1. menurunkan dimensi dari teori;
  2. menulis item per dimensi;
  3. uji isi melalui expert judgment;
  4. uji coba terbatas;
  5. revisi redaksi item.

7.2.3 Uji isi melalui expert judgment

Uji isi (content validity) dilakukan dengan meminta ahli menilai kesesuaian item terhadap konstruk. Ahli dapat berasal dari dosen metodologi, praktisi sektor terkait, atau peneliti berpengalaman pada topik yang sama.

Hal yang dinilai oleh ahli:

  • relevansi item terhadap dimensi,
  • kejelasan redaksi,
  • kesesuaian konteks budaya/bahasa,
  • potensi bias atau multi-tafsir,
  • kelayakan skala respons.

Hasil expert judgment harus didokumentasikan, termasuk item yang direvisi atau dihapus. Dokumentasi ini penting untuk transparansi metodologis.

7.2.4 Uji coba terbatas

Uji coba terbatas (pilot test) bertujuan menguji keterbacaan item, durasi pengisian, distribusi respons, dan masalah teknis kuesioner. Sampel pilot tidak harus besar, tetapi harus cukup mewakili karakter populasi sasaran.

Target utama pilot test:

  • mendeteksi item yang sering disalahpahami,
  • melihat item dengan varians sangat rendah,
  • menilai urutan item,
  • memeriksa konsistensi internal awal.

Pada tahap ini, peneliti dapat melakukan wawancara kognitif singkat setelah responden mengisi instrumen untuk mengetahui bagaimana responden memahami setiap pertanyaan.

7.2.5 Revisi redaksi item

Revisi item tidak boleh dilakukan sembarang. Revisi harus berbasis temuan pilot dan masukan ahli. Perubahan besar perlu dicatat dalam log revisi instrumen, misalnya:

  • item asli,
  • masalah yang ditemukan,
  • item revisi,
  • alasan revisi.

Dengan log revisi, peneliti dapat mempertanggungjawabkan evolusi instrumen dari versi awal ke versi final.

7.3 Prinsip penulisan item

Item adalah inti instrumen. Kualitas item menentukan kualitas skor dan akhirnya menentukan kualitas inferensi penelitian.

Prinsip utama penulisan item:

  • satu item mengukur satu gagasan;
  • hindari kata ambigu;
  • hindari pertanyaan memandu;
  • pertimbangkan keseimbangan item positif-negatif (jika diperlukan).

7.3.1 Satu item satu gagasan

Item yang baik fokus pada satu ide. Item ganda (double-barreled) seperti “Saya puas dengan dosen dan fasilitas kampus” harus dihindari karena responden bisa setuju pada salah satu aspek tetapi tidak pada aspek lain.

7.3.2 Hindari kata ambigu

Istilah seperti “sering”, “cukup”, “layak”, atau “baik” bisa ditafsirkan berbeda oleh responden. Jika memungkinkan, gunakan batas waktu atau konteks yang jelas.

Contoh:

  • Kurang baik: “Saya sering menabung.”
  • Lebih baik: “Dalam 3 bulan terakhir, saya menabung setidaknya satu kali per bulan.”

7.3.3 Hindari pertanyaan memandu

Pertanyaan memandu (leading question) mendorong jawaban tertentu dan meningkatkan bias sosial.

Contoh:

  • Leading: “Sebagai mahasiswa yang bijak, Anda tentu menabung, bukan?”
  • Netral: “Seberapa sering Anda menabung dalam 3 bulan terakhir?”

7.3.4 Keseimbangan item positif-negatif

Pada beberapa skala sikap, item positif dan negatif digunakan untuk mengurangi response set (misalnya kecenderungan selalu setuju). Namun, item negatif harus ditulis hati-hati agar tidak membingungkan responden.

Contoh item negatif yang terlalu rumit:

“Saya tidak merasa tidak mampu mengelola uang.”

Kalimat semacam ini sebaiknya dihindari karena memuat negasi ganda.

7.4 Skala respons dan pengkodean

Pemilihan skala respons memengaruhi sensitivitas instrumen dan pilihan analisis statistik.

Jenis skala yang umum:

  • Likert 4 poin (tanpa opsi netral),
  • Likert 5 poin (dengan opsi netral),
  • Likert 7 poin (lebih sensitif, tetapi menuntut responden lebih tinggi),
  • frekuensi (tidak pernah-selalu),
  • intensitas (sangat tidak setuju-sangat setuju).

Pertimbangan pemilihan skala:

  • karakter responden,
  • tingkat pendidikan responden,
  • kompleksitas topik,
  • kebutuhan analisis.

7.4.1 Pengkodean item

Semua item harus dikodekan konsisten. Untuk item negatif, lakukan reverse coding sebelum menghitung skor total agar arah interpretasi seragam.

Contoh:

  • Skala 1-5, item negatif harus dibalik: 1 menjadi 5, 2 menjadi 4, 3 tetap 3, 4 menjadi 2, 5 menjadi 1.

Tanpa reverse coding, reliabilitas dan interpretasi bisa keliru.

7.5 Validitas

Validitas adalah sejauh mana instrumen benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas bukan atribut tunggal, melainkan kumpulan bukti yang mendukung interpretasi skor.

Jenis validitas yang umum dalam penelitian kuantitatif:

  • Validitas isi
  • Validitas konstruk
  • Validitas kriteria

7.5.1 Validitas isi

Validitas isi menilai kesesuaian isi item dengan domain konsep yang diukur. Uji ini biasanya dilakukan melalui expert judgment dan telaah literatur.

Indikator validitas isi baik:

  • item mewakili seluruh dimensi penting,
  • tidak ada dimensi penting yang hilang,
  • bahasa item sesuai konteks populasi.

7.5.2 Validitas konstruk

Validitas konstruk menilai apakah struktur item benar-benar merepresentasikan konstruk teoretik. Bukti konstruk dapat diperoleh melalui:

  • korelasi antaritem,
  • analisis faktor eksploratori (EFA),
  • analisis faktor konfirmatori (CFA),
  • validitas konvergen dan diskriminan.

Pada tahap awal penelitian kelas, EFA sering digunakan untuk memeriksa apakah item mengelompok sesuai dimensi teoretik.

7.5.3 Validitas kriteria

Validitas kriteria menilai apakah skor instrumen berkorelasi dengan ukuran eksternal yang relevan.

Bentuk umum:

  • concurrent validity: korelasi dengan kriteria pada waktu yang sama,
  • predictive validity: kemampuan skor memprediksi outcome di masa depan.

Contoh:

Skor literasi keuangan yang tinggi diharapkan berkorelasi positif dengan perilaku menabung aktual.

7.5.4 Validitas wajah (face validity)

Walau bukan bukti statistik kuat, validitas wajah tetap penting secara praktis: apakah item tampak masuk akal bagi responden dan pemangku kepentingan. Instrumen yang secara wajah tidak masuk akal bisa ditolak responden meskipun secara statistik cukup baik.

7.6 Reliabilitas

Reliabilitas adalah konsistensi pengukuran. Instrumen reliabel akan menghasilkan skor yang relatif stabil jika kondisi pengukuran sebanding.

Reliabilitas internal umumnya diukur dengan Cronbach’s alpha:

\[ \alpha = \frac{k}{k-1}\left(1 - \frac{\sum S_i^2}{S_t^2}\right) \]

dengan:

  • k = jumlah item,
  • \(S_i^2\) = varians tiap item,
  • \(S_t^2\) = varians total skor.

7.6.1 Jenis reliabilitas

Selain konsistensi internal, jenis reliabilitas lain:

  • test-retest reliability (stabilitas waktu),
  • inter-rater reliability (konsistensi antar penilai),
  • parallel forms reliability (konsistensi antar bentuk instrumen).

Pada riset survei sosial, konsistensi internal paling sering digunakan karena efisien dan sesuai untuk skala multi-item.

7.6.2 Batas interpretasi alpha

Interpretasi praktis umum:

  • = 0.90: sangat tinggi,

  • 0.80-0.89: baik,
  • 0.70-0.79: cukup,
  • < 0.70: perlu perbaikan item.

Namun, alpha tidak boleh ditafsirkan mekanis. Nilai alpha dipengaruhi jumlah item, homogenitas konstruk, dan karakter responden. Alpha sangat tinggi bisa juga menandakan item terlalu redundan.

7.6.3 Item-total correlation dan alpha if deleted

Untuk perbaikan instrumen, periksa:

  • corrected item-total correlation,
  • alpha if item deleted.

Item dengan korelasi item-total sangat rendah bisa dipertimbangkan untuk direvisi atau dihapus. Keputusan ini harus mempertimbangkan teori, bukan hanya angka statistik.

7.7 Contoh uji reliabilitas di R

set.seed(123)
inst <- data.frame(
  item1 = sample(1:5, 40, replace = TRUE),
  item2 = sample(1:5, 40, replace = TRUE),
  item3 = sample(1:5, 40, replace = TRUE),
  item4 = sample(1:5, 40, replace = TRUE)
)
psych::alpha(inst)
## Some items ( item2 ) were negatively correlated with the first principal component and 
## probably should be reversed.  
## To do this, run the function again with the 'check.keys=TRUE' option
## 
## Reliability analysis   
## Call: psych::alpha(x = inst)
## 
##   raw_alpha std.alpha G6(smc) average_r  S/N  ase mean   sd median_r
##      0.075       0.1    0.21     0.028 0.12 0.24    3 0.75    0.029
## 
##     95% confidence boundaries 
##          lower alpha upper
## Feldt    -0.50  0.08  0.47
## Duhachek -0.39  0.08  0.54
## 
##  Reliability if an item is dropped:
##       raw_alpha std.alpha G6(smc) average_r    S/N alpha se var.r   med.r
## item1      0.17      0.19   0.187     0.072  0.233     0.23 0.044  0.0091
## item2      0.41      0.42   0.349     0.195  0.726     0.16 0.017  0.2298
## item3     -0.47     -0.50  -0.231    -0.125 -0.332     0.40 0.035 -0.0984
## item4     -0.14     -0.09   0.057    -0.028 -0.083     0.32 0.078  0.0091
## 
##  Item statistics 
##        n raw.r std.r r.cor r.drop mean  sd
## item1 40  0.43  0.46  0.12 -0.042  2.8 1.4
## item2 40  0.31  0.28 -0.31 -0.205  2.9 1.5
## item3 40  0.71  0.74  0.74  0.362  3.2 1.3
## item4 40  0.64  0.60  0.39  0.136  3.2 1.6
## 
## Non missing response frequency for each item
##          1    2    3    4    5 miss
## item1 0.22 0.20 0.28 0.12 0.17    0
## item2 0.25 0.20 0.17 0.15 0.22    0
## item3 0.15 0.15 0.22 0.32 0.15    0
## item4 0.20 0.22 0.12 0.10 0.35    0

Contoh di atas menunjukkan alur dasar pengujian alpha. Dalam praktik nyata, data item sebaiknya berasal dari pilot test atau survei awal, bukan simulasi acak murni.

7.8 Workflow praktis pengembangan instrumen

Agar proses pengembangan instrumen lebih sistematis, gunakan workflow berikut.

Tahap konseptual:

  1. tentukan konstruk,
  2. pilih teori utama,
  3. susun dimensi konstruk,
  4. definisikan indikator tiap dimensi.

Tahap penyusunan item:

  1. tulis item awal (bank item),
  2. audit redaksi,
  3. expert review,
  4. revisi item.

Tahap uji coba:

  1. pilot test,
  2. analisis distribusi item,
  3. uji reliabilitas,
  4. uji validitas konstruk awal,
  5. revisi final.

Tahap implementasi:

  1. finalisasi instrumen,
  2. pelatihan enumerator,
  3. quality control pengisian,
  4. dokumentasi coding.

Tahap pelaporan:

  1. laporkan proses pengembangan,
  2. laporkan bukti validitas,
  3. laporkan reliabilitas,
  4. laporkan keterbatasan instrumen.

7.9 Contoh komprehensif: skala literasi keuangan mahasiswa

Contoh ini menunjukkan bagaimana mengembangkan instrumen dari nol.

7.9.1 Definisi konstruk

Literasi keuangan mahasiswa didefinisikan sebagai kemampuan memahami konsep keuangan dasar, mengelola uang harian, merencanakan keuangan jangka pendek, serta mengambil keputusan finansial yang rasional.

7.9.2 Dimensi awal

  • pengetahuan keuangan dasar,
  • perilaku pengelolaan uang,
  • sikap terhadap tabungan,
  • keputusan finansial.

7.9.3 Contoh item awal

Pengetahuan:

  1. Saya memahami perbedaan kebutuhan dan keinginan dalam pengeluaran.
  2. Saya memahami konsep bunga sederhana pada tabungan.

Perilaku:

  1. Saya mencatat pengeluaran harian secara rutin.
  2. Saya menyiapkan anggaran bulanan sebelum menerima uang saku.

Sikap:

  1. Menabung merupakan prioritas dalam pengelolaan uang saya.
  2. Saya merasa penting memiliki dana darurat.

Keputusan:

  1. Saya membandingkan harga sebelum membeli barang non-prioritas.
  2. Saya menghindari pembelian impulsif meskipun ada diskon.

Item negatif (jika dipakai):

  1. Saya sering menghabiskan uang tanpa rencana.
  2. Saya jarang mempertimbangkan konsekuensi finansial sebelum membeli sesuatu.

7.9.4 Uji isi

Ahli menilai bahwa item 2 terlalu teknis untuk sebagian responden semester awal. Revisi dilakukan dengan bahasa lebih sederhana.

7.9.5 Pilot test

Pilot pada 60 mahasiswa menunjukkan dua item negatif sering disalahpahami. Solusi:

  • sederhanakan redaksi,
  • tambahkan petunjuk pengisian,
  • evaluasi kembali kebutuhan item negatif.

7.9.6 Analisis awal

  • alpha awal: 0.76 (cukup),
  • satu item memiliki item-total correlation rendah,
  • revisi item dilakukan bukan otomatis menghapus.

7.9.7 Versi final

Instrumen final tetap 10 item dengan dua item revisi redaksi. Alpha meningkat menjadi 0.82 pada uji lapangan berikutnya.

7.10 Bias pengukuran dan mitigasinya

Instrumen kuantitatif rentan bias. Peneliti harus mengenali sumber bias sejak desain.

7.10.1 Social desirability bias

Responden cenderung memberi jawaban “baik” secara sosial.

Mitigasi:

  • jamin anonimitas,
  • gunakan redaksi netral,
  • hindari pertanyaan menghakimi.

7.10.2 Acquiescence bias

Responden cenderung selalu setuju pada semua item.

Mitigasi:

  • variasi redaksi item,
  • perhatian pada item negatif yang jelas,
  • kontrol pola jawaban ekstrem.

7.10.3 Recall bias

Responden sulit mengingat kejadian lama.

Mitigasi:

  • batasi periode waktu (misal 1-3 bulan),
  • gunakan pertanyaan spesifik perilaku, bukan kesan umum.

7.10.4 Interviewer effect

Cara enumerator bertanya memengaruhi jawaban.

Mitigasi:

  • pelatihan standar,
  • skrip wawancara baku,
  • audit rekam/observasi acak.

7.11 Checklist kualitas instrumen sebelum survei utama

Gunakan checklist ini:

  • konstruk dan dimensi jelas,
  • item sesuai teori,
  • bahasa sesuai populasi,
  • skala respons konsisten,
  • ada uji isi,
  • ada pilot test,
  • reliabilitas memadai,
  • coding siap analisis,
  • enumerator terlatih,
  • dokumentasi revisi lengkap.

Jika beberapa butir belum terpenuhi, instrumen sebaiknya direvisi sebelum survei utama.

7.12 Contoh pelaporan instrumen di naskah ilmiah

Paragraf metode yang baik harus memuat:

  • definisi konstruk,
  • jumlah dimensi dan item,
  • contoh skala respons,
  • proses validasi isi,
  • hasil reliabilitas,
  • perlakuan item negatif,
  • keterbatasan instrumen.

Contoh kalimat pelaporan:

“Instrumen literasi keuangan disusun berdasarkan empat dimensi teoretik dengan total 10 item skala Likert 1-5. Validitas isi dievaluasi oleh tiga ahli metodologi dan dua praktisi literasi keuangan. Uji coba pada 60 mahasiswa menghasilkan Cronbach’s alpha 0.82, menunjukkan konsistensi internal yang baik. Dua item negatif direverse coding sebelum analisis.”

7.13 FAQ praktis instrumen

7.13.1 Apakah alpha 0.69 selalu buruk?

Tidak selalu. Pada konstruk baru atau jumlah item sedikit, nilai mendekati 0.70 bisa dipertimbangkan sambil menilai bukti validitas lain.

7.13.2 Apakah item negatif wajib?

Tidak wajib. Item negatif bisa membantu mengurangi response set, tetapi jika menimbulkan kebingungan, kualitas data bisa memburuk.

7.13.3 Berapa jumlah item ideal per konstruk?

Tidak ada angka tunggal. Untuk riset awal, 3-6 item per dimensi sering digunakan. Keputusan harus didukung teori dan hasil uji empiris.

7.13.4 Bolehkah menghapus item hanya karena alpha naik?

Tidak otomatis. Penghapusan item harus mempertimbangkan relevansi teoritik agar konstruk tidak kehilangan cakupan substantif.

7.14 Latihan bab 8

  1. Tulis 10 item skala literasi keuangan mahasiswa.
  2. Identifikasi tiga item yang berpotensi bias redaksi.
  3. Simulasikan data dan hitung alpha di R.
  4. Pilih dua item dari skala Anda, lalu revisi redaksinya agar lebih operasional.
  5. Susun checklist uji isi untuk meminta penilaian ahli.
  6. Tulis paragraf metode singkat yang menjelaskan proses validitas dan reliabilitas instrumen Anda.

7.15 Kunci jawaban bab 8 (contoh komprehensif)

7.15.1 Jawaban nomor 1 (contoh 10 item)

  1. Saya membuat rencana pengeluaran bulanan.
  2. Saya mencatat pengeluaran harian secara rutin.
  3. Saya menyisihkan uang untuk tabungan setiap bulan.
  4. Saya memahami risiko utang konsumtif.
  5. Saya membandingkan harga sebelum membeli barang.
  6. Saya mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli.
  7. Saya mengetahui manfaat dana darurat.
  8. Saya menunda pembelian jika anggaran tidak cukup.
  9. Saya sering membeli barang tanpa rencana. (item negatif)
  10. Saya jarang mengevaluasi penggunaan uang bulanan. (item negatif)

7.15.2 Jawaban nomor 2 (contoh item bias)

  • “Sebagai mahasiswa cerdas, saya selalu menabung.” Masalah: leading question.

  • “Saya cukup baik dalam mengelola uang.” Masalah: kata “cukup baik” ambigu.

  • “Saya paham semua hal tentang keuangan pribadi.” Masalah: absolut, tidak realistis, rentan social desirability.

7.15.3 Jawaban nomor 3 (contoh kode R)

set.seed(321)
dat <- data.frame(
  i1 = sample(1:5, 100, replace = TRUE),
  i2 = sample(1:5, 100, replace = TRUE),
  i3 = sample(1:5, 100, replace = TRUE),
  i4 = sample(1:5, 100, replace = TRUE),
  i5 = sample(1:5, 100, replace = TRUE),
  i6 = sample(1:5, 100, replace = TRUE),
  i7 = sample(1:5, 100, replace = TRUE),
  i8 = sample(1:5, 100, replace = TRUE),
  i9 = sample(1:5, 100, replace = TRUE),
  i10 = sample(1:5, 100, replace = TRUE)
)

# contoh reverse coding item negatif
dat$i9 <- 6 - dat$i9
dat$i10 <- 6 - dat$i10

psych::alpha(dat)
## Some items ( i1 i2 i4 i5 i7 i9 ) were negatively correlated with the first principal component and 
## probably should be reversed.  
## To do this, run the function again with the 'check.keys=TRUE' option
## 
## Reliability analysis   
## Call: psych::alpha(x = dat)
## 
##   raw_alpha std.alpha G6(smc) average_r   S/N  ase mean   sd median_r
##      -0.12    -0.099   -0.02   -0.0091 -0.09 0.17    3 0.42   0.0093
## 
##     95% confidence boundaries 
##          lower alpha upper
## Feldt    -0.47 -0.12  0.18
## Duhachek -0.44 -0.12  0.21
## 
##  Reliability if an item is dropped:
##     raw_alpha std.alpha G6(smc) average_r     S/N alpha se  var.r   med.r
## i1    -0.0722   -0.0586  0.0104  -0.00618 -0.0553     0.16 0.0079  0.0126
## i2    -0.0159    0.0058  0.0593   0.00065  0.0058     0.15 0.0066  0.0122
## i3    -0.0865   -0.0705 -0.0104  -0.00737 -0.0659     0.16 0.0063  0.0156
## i4    -0.1106   -0.0908 -0.0093  -0.00934 -0.0832     0.17 0.0087  0.0065
## i5    -0.1283   -0.1109 -0.0302  -0.01121 -0.0998     0.17 0.0085  0.0122
## i6    -0.1792   -0.1589 -0.0717  -0.01547 -0.1371     0.18 0.0078 -0.0128
## i7    -0.0862   -0.0778 -0.0118  -0.00809 -0.0722     0.16 0.0073  0.0122
## i8    -0.0089   -0.0059  0.0457  -0.00065 -0.0059     0.15 0.0064  0.0122
## i9    -0.1330   -0.1129 -0.0324  -0.01140 -0.1014     0.17 0.0081  0.0122
## i10   -0.2488   -0.2425 -0.1501  -0.02217 -0.1952     0.19 0.0067 -0.0214
## 
##  Item statistics 
##       n raw.r std.r r.cor   r.drop mean  sd
## i1  100  0.28  0.27   NaN -0.06838  3.1 1.5
## i2  100  0.19  0.19   NaN -0.13983  3.2 1.4
## i3  100  0.27  0.28   NaN -0.05350  2.7 1.4
## i4  100  0.29  0.31   NaN -0.02452  2.9 1.3
## i5  100  0.35  0.33   NaN -0.00714  2.8 1.5
## i6  100  0.37  0.38   NaN  0.05621  2.7 1.3
## i7  100  0.30  0.29   NaN -0.05242  3.2 1.5
## i8  100  0.21  0.20   NaN -0.13974  3.1 1.5
## i9  100  0.33  0.33   NaN  0.00038  3.2 1.4
## i10 100  0.43  0.46   NaN  0.14065  3.3 1.3
## 
## Non missing response frequency for each item
##        1    2    3    4    5 miss
## i1  0.18 0.18 0.21 0.17 0.26    0
## i2  0.16 0.18 0.20 0.25 0.21    0
## i3  0.27 0.19 0.27 0.13 0.14    0
## i4  0.18 0.22 0.30 0.15 0.15    0
## i5  0.27 0.19 0.20 0.13 0.21    0
## i6  0.20 0.28 0.26 0.10 0.16    0
## i7  0.20 0.14 0.20 0.21 0.25    0
## i8  0.22 0.13 0.26 0.13 0.26    0
## i9  0.16 0.15 0.26 0.18 0.25    0
## i10 0.10 0.19 0.23 0.26 0.22    0

7.15.4 Jawaban nomor 4 (contoh revisi)

  • Sebelum: “Saya sering menabung.”

  • Sesudah: “Dalam 3 bulan terakhir, saya menabung minimal satu kali per bulan.”

  • Sebelum: “Saya pintar mengatur uang.”

  • Sesudah: “Saya menyusun prioritas pengeluaran sebelum menggunakan uang saku bulanan.”

7.15.5 Jawaban nomor 5 (contoh checklist uji isi)

  • Item relevan dengan dimensi? (ya/tidak)
  • Bahasa jelas untuk responden target? (1-4)
  • Potensi multi-tafsir? (tinggi/sedang/rendah)
  • Potensi bias sosial? (tinggi/sedang/rendah)
  • Saran revisi ahli.

7.15.6 Jawaban nomor 6 (contoh paragraf metode)

“Instrumen literasi keuangan disusun berdasarkan empat dimensi teoretik dengan total 10 item skala Likert 1-5. Validitas isi dinilai oleh lima ahli menggunakan lembar penilaian relevansi item. Pilot test dilakukan pada 60 mahasiswa semester awal untuk menguji keterbacaan item dan durasi pengisian. Konsistensi internal dievaluasi menggunakan Cronbach’s alpha. Dua item negatif direverse coding sebelum analisis reliabilitas.”

7.16 Pendalaman: validitas konstruk berbasis struktur faktor

Setelah validitas isi dan reliabilitas awal terpenuhi, langkah penting berikutnya adalah memeriksa struktur konstruk instrumen. Pada tahap ini, peneliti menilai apakah item-item memang membentuk dimensi sesuai teori.

7.16.1 Analisis faktor eksploratori (EFA)

EFA digunakan ketika struktur dimensi belum sepenuhnya pasti, atau ketika instrumen baru diadaptasi ke konteks baru. Tujuan EFA adalah menemukan pola pengelompokan item berdasarkan kovariasi data.

Langkah umum EFA:

  1. cek kelayakan data (misal KMO, Bartlett test),
  2. pilih metode ekstraksi faktor,
  3. tentukan jumlah faktor,
  4. lakukan rotasi faktor,
  5. interpretasi loading item,
  6. revisi item jika diperlukan.

Prinsip interpretasi sederhana:

  • item dengan loading tinggi pada faktor target cenderung baik,
  • item cross-loading tinggi pada dua faktor perlu ditinjau,
  • item dengan loading rendah bisa dipertimbangkan revisi/hapus.

EFA bukan alat otomatis menghapus item. Keputusan tetap harus mempertimbangkan teori dan tujuan pengukuran.

7.16.2 Analisis faktor konfirmatori (CFA)

CFA digunakan ketika peneliti sudah memiliki model konstruk teoritik yang jelas dan ingin menguji kesesuaian model tersebut dengan data.

CFA relevan untuk:

  • validasi instrumen skala mapan di konteks baru,
  • pengujian model multidimensi,
  • pembuktian validitas konvergen dan diskriminan.

Dalam konteks pembelajaran awal, mahasiswa tidak selalu wajib melakukan CFA. Namun memahami logikanya penting agar peneliti tidak menyederhanakan validitas hanya menjadi nilai alpha.

7.16.3 Validitas konvergen dan diskriminan

Validitas konvergen berarti item dalam dimensi yang sama saling berkorelasi cukup kuat. Validitas diskriminan berarti dimensi yang berbeda memang dapat dibedakan secara empiris.

Jika dua dimensi teoritik terlalu sulit dibedakan secara data, kemungkinan:

  • definisi konstruk tumpang tindih,
  • item terlalu mirip,
  • responden tidak membedakan konsep seperti yang diasumsikan peneliti.

Dalam kondisi ini, peneliti perlu revisi model teori atau redaksi item.

7.17 Pendalaman: reliabilitas di luar alpha

Alpha populer karena mudah dihitung, tetapi bukan satu-satunya ukuran reliabilitas.

7.17.1 Omega reliability

Koefisien omega sering dianggap lebih fleksibel pada beberapa kondisi, terutama ketika asumsi tau-equivalence pada alpha tidak terpenuhi.

7.17.2 Test-retest

Jika instrumen mengukur konstruk yang relatif stabil, test-retest dapat digunakan untuk menilai stabilitas skor antar waktu.

Langkah umum:

  • lakukan pengukuran pertama,
  • ulangi pengukuran pada interval waktu tertentu,
  • hitung korelasi skor antar waktu.

Korelasi tinggi menunjukkan stabilitas lebih baik.

7.17.3 Inter-rater reliability

Untuk instrumen berbasis penilai (misal observasi perilaku), konsistensi antar penilai penting. Tanpa reliabilitas antar penilai, variasi skor bisa berasal dari perbedaan penilai, bukan perbedaan subjek.

7.18 Pendalaman: adaptasi instrumen lintas konteks

Banyak peneliti menggunakan instrumen dari studi terdahulu. Adaptasi instrumen bukan sekadar menerjemahkan kata per kata. Adaptasi harus menjaga equivalence konsep, bahasa, dan konteks budaya.

Langkah adaptasi instrumen:

  1. review kesesuaian konstruk,
  2. terjemahan awal,
  3. back-translation,
  4. review ahli bilingual,
  5. uji keterbacaan,
  6. pilot test,
  7. evaluasi validitas-reliabilitas versi adaptasi.

Kesalahan umum:

  • menganggap instrumen dari jurnal otomatis valid di semua konteks,
  • tidak melakukan pilot test ulang,
  • mengubah item tanpa dokumentasi.

7.19 Pendalaman: kualitas instrumen pada survei daring

Penggunaan survei daring meningkat, tetapi membawa tantangan instrumen yang berbeda dari survei tatap muka.

Tantangan utama:

  • responden mengisi terlalu cepat (speeding),
  • straight-lining (jawaban sama terus),
  • non-serious response,
  • dropout di tengah pengisian.

Strategi mitigasi:

  • gunakan attention check item,
  • batasi durasi minimum pengisian,
  • randomisasi sebagian item (jika relevan),
  • analisis pola jawaban anomali,
  • gunakan log data (timestamp, completion rate).

Instrumen yang baik di survei daring perlu mempertimbangkan pengalaman pengguna (UX), bukan hanya konten item.

7.20 Pendalaman: matriks spesifikasi instrumen

Sebelum uji lapangan, peneliti sebaiknya membuat matriks spesifikasi instrumen agar jelas hubungan antara teori dan item.

Contoh komponen matriks:

  • konstruk,
  • dimensi,
  • indikator,
  • nomor item,
  • skala respons,
  • sumber teori,
  • status revisi.

Manfaat matriks:

  • menjaga cakupan konstruk,
  • mencegah item berulang,
  • memudahkan expert review,
  • memudahkan pelaporan metodologi.

7.21 Pendalaman: kualitas bahasa instrumen

Bahasa instrumen harus disesuaikan dengan karakter responden. Instrumen untuk mahasiswa, rumah tangga, pegawai, atau remaja tidak selalu bisa menggunakan redaksi yang sama.

Prinsip bahasa instrumen:

  • kalimat pendek,
  • istilah familiar,
  • satu kalimat satu makna,
  • hindari jargon teknis jika tidak perlu,
  • hindari struktur negasi berlapis.

Uji keterbacaan sederhana dapat dilakukan dengan meminta beberapa responden target menjelaskan kembali arti item dengan kata mereka sendiri.

7.22 Pendalaman: desain urutan item

Urutan item memengaruhi kualitas respons. Item sensitif di awal dapat menurunkan kenyamanan responden.

Urutan yang disarankan:

  1. item pembuka yang ringan,
  2. item inti konstruk,
  3. item sensitif di bagian tengah/akhir,
  4. data demografi di bagian akhir (kecuali diperlukan untuk filter awal).

Jika instrumen panjang, pertimbangkan pengelompokan per dimensi dengan transisi yang jelas.

7.23 Pendalaman: deteksi item bermasalah

Setelah data terkumpul, lakukan diagnosis item.

Indikator item bermasalah:

  • varians hampir nol,
  • distribusi sangat timpang tanpa alasan substantif,
  • item-total correlation rendah,
  • banyak missing pada item tertentu,
  • pola jawaban tidak konsisten dengan item sejenis.

Tindakan terhadap item bermasalah:

  • revisi redaksi,
  • evaluasi relevansi teori,
  • pertimbangkan penghapusan pada versi instrumen berikutnya,
  • jangan ubah item di tengah gelombang tanpa dokumentasi.

7.24 Pendalaman: dokumentasi dan versioning instrumen

Instrumen harus memiliki versioning seperti software.

Format sederhana:

  • v1.0: draft awal,
  • v1.1: revisi expert review,
  • v1.2: revisi pilot,
  • v2.0: final lapangan.

Setiap versi disertai changelog:

  • item yang berubah,
  • alasan perubahan,
  • tanggal perubahan,
  • penanggung jawab perubahan.

Versioning mencegah kebingungan saat analisis dan memperkuat audit trail penelitian.

7.25 Pendalaman: etika pengukuran

Pengembangan instrumen juga memiliki dimensi etika.

Aspek etika penting:

  • hindari item yang menstigma,
  • hindari pertanyaan invasif tanpa justifikasi,
  • sediakan opsi tidak menjawab untuk item sensitif,
  • jelaskan kerahasiaan jawaban,
  • pastikan responden tahu tujuan penggunaan data.

Pada topik sensitif (utang, kekerasan, kesehatan mental), redaksi item harus sangat hati-hati dan diuji secara etis.

7.26 Pendalaman: rubrik evaluasi kualitas instrumen

Rubrik berikut dapat digunakan dosen atau tim riset untuk menilai instrumen.

Aspek Bobot Kriteria unggul
Kesesuaian teori-indikator 20% semua dimensi terwakili jelas
Kualitas redaksi item 20% tidak ambigu, tidak leading
Validitas isi 15% ada proses expert review terdokumentasi
Reliabilitas awal 15% alpha/indikator reliabilitas memadai
Kesiapan implementasi 10% SOP pengisian jelas
Kualitas coding data 10% reverse coding dan skoring konsisten
Dokumentasi revisi 10% changelog instrumen lengkap

Interpretasi skor:

  • =85: sangat siap lapangan,

  • 70-84: siap dengan revisi minor,
  • 55-69: perlu revisi substansial,
  • <55: perlu redesign instrumen.

7.27 Pendalaman: contoh workflow R yang lebih lengkap

Berikut contoh alur analisis item dasar di R setelah data terkumpul.

set.seed(777)
inst2 <- data.frame(
  i1 = sample(1:5, 120, replace = TRUE),
  i2 = sample(1:5, 120, replace = TRUE),
  i3 = sample(1:5, 120, replace = TRUE),
  i4 = sample(1:5, 120, replace = TRUE),
  i5 = sample(1:5, 120, replace = TRUE),
  i6 = sample(1:5, 120, replace = TRUE),
  i7 = sample(1:5, 120, replace = TRUE),
  i8 = sample(1:5, 120, replace = TRUE),
  i9 = sample(1:5, 120, replace = TRUE),
  i10 = sample(1:5, 120, replace = TRUE)
)

# contoh reverse coding item negatif
inst2$i9 <- 6 - inst2$i9
inst2$i10 <- 6 - inst2$i10

# ringkasan deskriptif item
summary(inst2)
##        i1              i2              i3              i4              i5     
##  Min.   :1.000   Min.   :1.000   Min.   :1.000   Min.   :1.000   Min.   :1.0  
##  1st Qu.:2.000   1st Qu.:2.000   1st Qu.:1.000   1st Qu.:2.000   1st Qu.:2.0  
##  Median :3.000   Median :3.000   Median :3.000   Median :3.000   Median :3.0  
##  Mean   :3.017   Mean   :3.025   Mean   :2.625   Mean   :3.017   Mean   :2.8  
##  3rd Qu.:4.000   3rd Qu.:4.000   3rd Qu.:4.000   3rd Qu.:4.000   3rd Qu.:4.0  
##  Max.   :5.000   Max.   :5.000   Max.   :5.000   Max.   :5.000   Max.   :5.0  
##        i6            i7             i8          i9             i10       
##  Min.   :1.0   Min.   :1.00   Min.   :1   Min.   :1.000   Min.   :1.000  
##  1st Qu.:2.0   1st Qu.:2.00   1st Qu.:2   1st Qu.:2.000   1st Qu.:1.000  
##  Median :3.0   Median :3.00   Median :3   Median :3.000   Median :3.000  
##  Mean   :2.9   Mean   :2.85   Mean   :3   Mean   :3.058   Mean   :2.842  
##  3rd Qu.:4.0   3rd Qu.:4.00   3rd Qu.:4   3rd Qu.:4.000   3rd Qu.:4.000  
##  Max.   :5.0   Max.   :5.00   Max.   :5   Max.   :5.000   Max.   :5.000
# reliabilitas
alpha_out <- psych::alpha(inst2)
## Some items ( i3 ) were negatively correlated with the first principal component and 
## probably should be reversed.  
## To do this, run the function again with the 'check.keys=TRUE' option
alpha_out$total
##  raw_alpha std.alpha G6(smc)  average_r       S/N       ase     mean        sd
##  0.1715884 0.1699332 0.23513 0.02006152 0.2047223 0.1112955 2.913333 0.4854061
##    median_r
##  0.03981768
alpha_out$item.stats
##       n       raw.r      std.r       r.cor      r.drop     mean       sd
## i1  120 0.352625163 0.34203746  0.14933502  0.05386880 3.016667 1.466622
## i2  120 0.355392719 0.36754560  0.18922193  0.08508621 3.025000 1.337642
## i3  120 0.007602805 0.01607036 -0.45353421 -0.26414066 2.625000 1.366234
## i4  120 0.368650564 0.37380782  0.22573087  0.08947848 3.016667 1.384083
## i5  120 0.298505139 0.30270540  0.10275905  0.01582085 2.800000 1.375659
## i6  120 0.405245949 0.40312006  0.28015051  0.12310934 2.900000 1.416588
## i7  120 0.452189996 0.45030239  0.36939404  0.17662172 2.850000 1.418071
## i8  120 0.432742945 0.44214421  0.37674094  0.16155449 3.000000 1.384184
## i9  120 0.470532605 0.47194830  0.43965988  0.19602272 3.058333 1.427790
## i10 120 0.290568972 0.26623710 -0.01337412 -0.02539310 2.841667 1.528419

Pada data nyata, fokuskan interpretasi pada:

  • nilai alpha total,
  • item-total correlation,
  • alpha if deleted,
  • distribusi item bermasalah.

7.28 Pendalaman: kesalahan umum dalam bab instrumen

Kesalahan yang sering terjadi:

  • langsung memakai instrumen tanpa uji konteks,
  • terlalu cepat puas dengan alpha tanpa cek validitas,
  • menghapus item semata demi menaikkan alpha,
  • tidak melakukan reverse coding item negatif,
  • tidak menuliskan proses revisi instrumen,
  • tidak melatih enumerator tentang maksud item.

Strategi perbaikan:

  • wajibkan pilot test,
  • gunakan evaluasi ahli,
  • dokumentasikan semua perubahan,
  • lakukan quality control saat pengumpulan data,
  • padukan bukti teoritik dan bukti statistik.

7.29 Latihan evaluatif tambahan bab 8

7.29.1 Paket dasar

  1. Tulis 12 item untuk konstruk “kepuasan layanan kampus” dengan 3 dimensi.
  2. Tandai item mana yang perlu reverse coding.
  3. Uji kualitas redaksi dengan checklist 5 butir.

7.29.2 Paket menengah

  1. Rancang proses expert review untuk instrumen Anda.
  2. Buat format lembar penilaian ahli.
  3. Simulasikan hasil review dan revisi 4 item.

7.29.3 Paket lanjut

  1. Susun rencana pilot test instrumen (sampel, prosedur, output yang dinilai).
  2. Tetapkan kriteria keputusan item dipertahankan/direvisi/dihapus.
  3. Tulis paragraf metode instrumen yang siap masuk proposal nasional.

7.30 Kunci jawaban evaluatif tambahan (contoh)

Jawaban kuat biasanya memuat:

  • keterkaitan teori-dimensi-item yang jelas,
  • redaksi operasional dan tidak ambigu,
  • mekanisme uji isi yang terdokumentasi,
  • kriteria empiris untuk revisi item,
  • prosedur coding dan quality control konsisten.

Contoh kriteria keputusan item:

  • relevansi ahli rendah -> revisi atau hapus,
  • item-total correlation sangat rendah -> evaluasi redaksi,
  • item sering disalahpahami pada pilot -> revisi bahasa,
  • item redundan tinggi -> pertimbangkan pengurangan.

Dengan standar ini, instrumen akan lebih siap untuk menghasilkan data yang kredibel.

7.31 Ringkasan operasional bab 8

Lima keputusan inti pengembangan instrumen:

  1. Tentukan konstruk dan dimensi berbasis teori.
  2. Tulis item dengan prinsip redaksi yang baik.
  3. Lakukan validasi isi oleh ahli.
  4. Lakukan pilot test dan analisis reliabilitas.
  5. Revisi instrumen berbasis bukti, lalu dokumentasikan.

Jika lima keputusan ini dijalankan disiplin, maka kualitas data meningkat dan risiko bias pengukuran berkurang secara signifikan. ## Pendalaman akhir: studi mini pengembangan instrumen dari awal sampai final

Bagian ini memberi simulasi ringkas tetapi lengkap bagaimana satu instrumen dikembangkan secara profesional.

7.31.1 Tahap 1: perumusan konstruk

Tim peneliti ingin mengukur “kesiapan kerja digital mahasiswa”. Dari literatur, konstruk ini dipetakan menjadi empat dimensi:

  • literasi perangkat digital,
  • kolaborasi daring,
  • manajemen informasi,
  • etika digital.

Tim menyepakati definisi operasional per dimensi agar tidak terjadi tumpang tindih konsep.

7.31.2 Tahap 2: bank item awal

Tim menulis 24 item (6 item per dimensi). Pada tahap ini prinsipnya adalah menghasilkan variasi item yang cukup, bukan langsung mencari versi final.

Setelah audit internal, 4 item dihapus karena double-barreled, 3 item direvisi karena ambigu, dan 2 item dipindah dimensi karena kurang tepat secara teori.

7.31.3 Tahap 3: expert judgment

Lima ahli menilai item berdasarkan relevansi dan kejelasan. Hasil ringkas:

  • 14 item dinilai sangat relevan,
  • 6 item relevan dengan revisi,
  • 2 item tidak relevan,
  • 2 item terlalu teknis untuk responden awal.

Tim merevisi 8 item dan menghapus 2 item. Versi instrumen menjadi 22 item.

7.31.4 Tahap 4: pilot test

Pilot dilakukan pada 80 mahasiswa. Temuan:

  • rata-rata durasi pengisian 12 menit,
  • 3 item sering ditanyakan ulang oleh responden,
  • 2 item memiliki distribusi sangat timpang,
  • alpha awal 0.78.

Berdasarkan diskusi, tim menyederhanakan redaksi 3 item dan memperjelas petunjuk respons untuk mengurangi salah tafsir.

7.31.5 Tahap 5: analisis item

Pada data pilot revisi:

  • alpha naik menjadi 0.83,
  • satu item memiliki item-total correlation rendah,
  • item tersebut tetap dipertahankan karena esensial untuk dimensi etika digital, namun redaksi diperbaiki lagi.

Keputusan ini menunjukkan prinsip penting: statistik memberi sinyal, teori memberi keputusan.

7.31.6 Tahap 6: finalisasi lapangan

Instrumen final berisi 20 item. Tim menyusun:

  • petunjuk pengisian standar,
  • coding guide termasuk reverse coding,
  • SOP quality check,
  • log versi instrumen.

Dengan demikian, instrumen tidak hanya valid-reliabel secara angka, tetapi juga siap implementasi dan replikasi.

7.32 Pendalaman akhir: paket quality control saat pengumpulan data

Instrumen yang baik tetap bisa menghasilkan data buruk jika quality control lapangan lemah. Karena itu, quality control instrumen harus menjadi bagian dari SOP survei.

Komponen quality control yang disarankan:

  • validasi rentang skor otomatis (misal hanya 1-5),
  • deteksi item kosong wajib,
  • deteksi pola straight-lining,
  • monitoring durasi pengisian terlalu cepat,
  • audit acak konsistensi jawaban antar item sejenis,
  • verifikasi enumerator untuk item sensitif.

Contoh aturan praktis:

  • respon selesai < 30% dari median durasi -> tandai untuk review,
  • 80% item dijawab nilai sama -> tandai potensi low-engagement response,

  • item kunci kosong -> wajib callback jika desain memungkinkan.

Dengan quality control ini, tim dapat meminimalkan error pengukuran sebelum analisis akhir.

7.33 Pendalaman akhir: cara menulis bagian validitas dan reliabilitas di laporan

Banyak penulis hanya menampilkan satu angka alpha tanpa narasi metodologis. Untuk standar buku dan jurnal nasional, bagian instrumen sebaiknya ditulis lebih lengkap.

Struktur pelaporan yang disarankan:

  1. Definisi konstruk dan dimensi.
  2. Sumber teori item.
  3. Proses expert review.
  4. Prosedur pilot test.
  5. Hasil validitas (isi/konstruk/kriteria sesuai studi).
  6. Hasil reliabilitas.
  7. Keputusan revisi item.
  8. Keterbatasan instrumen.

Contoh paragraf pelaporan kuat:

“Instrumen kesiapan kerja digital dikembangkan melalui enam tahap: pemetaan dimensi teori, penyusunan bank item, penilaian ahli, pilot test, analisis item, dan finalisasi lapangan. Validitas isi dievaluasi oleh lima ahli, sedangkan konsistensi internal menunjukkan Cronbach’s alpha 0.83. Satu item dengan korelasi item-total rendah tetap dipertahankan karena relevansi konsep, setelah redaksi diperbaiki pada versi final.”

7.34 Pendalaman akhir: batasan interpretasi skor instrumen

Skor instrumen harus ditafsirkan sesuai tujuan pengukuran. Skor tinggi tidak otomatis berarti “baik” secara absolut jika standar kategorisasi tidak jelas.

Agar interpretasi lebih bertanggung jawab:

  • tetapkan aturan kategorisasi (jika diperlukan),
  • jelaskan apakah skor dipakai sebagai variabel kontinu atau kategori,
  • hindari klaim diagnostik jika instrumen bukan alat diagnosis formal,
  • laporkan batasan konteks penggunaan instrumen.

Contoh kehati-hatian:

Skala literasi keuangan yang dikembangkan untuk mahasiswa belum tentu valid digunakan langsung untuk pelaku UMKM tanpa adaptasi ulang.

7.35 Penegasan akhir sebelum penutup

Inti pengembangan instrumen adalah disiplin metodologis. Peneliti harus menyeimbangkan teori, bahasa, psikometri, dan operasional lapangan. Jika salah satu sisi diabaikan, kualitas data akan turun.

Prinsip ringkas yang harus diingat:

  • jangan lompat dari teori langsung ke survei utama,
  • selalu lakukan uji isi dan pilot,
  • interpretasikan alpha secara kritis,
  • dokumentasikan setiap revisi,
  • laporkan batasan instrumen secara jujur.

Dengan prinsip tersebut, instrumen menjadi fondasi kuat bagi analisis kuantitatif yang kredibel.

7.36 Catatan implementasi untuk naskah siap publikasi

Untuk naskah yang ditargetkan siap ISBN, dokumentasi teknis instrumen perlu ditulis eksplisit dan konsisten antar bab. Sertakan riwayat perubahan item, ringkasan masukan ahli, hasil pilot test, alasan item dibuang/dipertahankan, serta pedoman skoring final dalam lampiran metodologis. Praktik ini membantu reviewer menilai jejak keputusan secara transparan, memudahkan replikasi di konteks lain, dan memperkuat akuntabilitas ilmiah buku ajar. Dengan demikian, kualitas instrumen tidak hanya terlihat dari statistik, tetapi juga dari keterlacakan proses pengembangannya. ## Penutup

Pengembangan instrumen adalah proses metodologis yang menentukan mutu data kuantitatif. Instrumen yang baik lahir dari integrasi teori, redaksi item yang cermat, uji validitas, uji reliabilitas, dan revisi berbasis bukti. Dengan disiplin pada proses ini, penelitian kuantitatif menghasilkan data yang lebih akurat, inferensi yang lebih kredibel, dan rekomendasi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan. ***

8 Bab Etika Penelitian, SOP Lapangan, dan Kontrol Mutu Data

8.1 Pengantar

Bab ini membahas fondasi operasional penelitian kuantitatif yang sering dianggap “teknis”, padahal menentukan kredibilitas hasil secara langsung: etika penelitian, standar operasional prosedur (SOP) lapangan, dan kontrol mutu data. Banyak penelitian gagal bukan karena rumus statistik salah, tetapi karena proses pengumpulan data tidak etis, enumerator tidak disiplin, atau quality control tidak berjalan. Akibatnya, data terlihat lengkap tetapi sesungguhnya bias, tidak konsisten, atau tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam konteks buku ajar nasional, tiga hal ini harus dipahami sebagai satu sistem kerja. Etika memberi batas normatif tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan kepada responden. SOP memberi panduan rinci agar semua petugas bekerja seragam dan dapat diaudit. Kontrol mutu memastikan data yang terkumpul memenuhi standar validitas operasional sebelum dianalisis lebih lanjut.

Bab ini disusun untuk membantu Anda menyusun riset yang tidak hanya “jalan” di lapangan, tetapi juga siap diuji oleh reviewer akademik, pembimbing, komite etik, dan pemangku kebijakan. Semua bagian disertai contoh konkret, format praktis, serta latihan berikut jawaban ringkas agar mudah diterapkan.

8.2 Etika penelitian

Etika penelitian adalah seperangkat prinsip yang melindungi martabat, hak, keamanan, dan kepentingan partisipan, sekaligus menjaga integritas ilmiah peneliti. Dalam penelitian kuantitatif, etika bukan sekadar dokumen formal untuk memenuhi persyaratan administrasi. Etika adalah standar minimal agar data yang diperoleh sah secara moral dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Empat prinsip inti yang harus selalu dijaga:

  • informed consent;
  • kerahasiaan responden;
  • minimisasi risiko;
  • transparansi penggunaan data.

Penjelasan praktis tiap prinsip:

  • Informed consent berarti responden memahami apa yang akan terjadi jika ia berpartisipasi, lalu menyetujui secara sukarela tanpa paksaan.
  • Kerahasiaan responden berarti identitas dan jawaban pribadi tidak disebarkan sembarangan, serta hanya diakses oleh pihak berwenang dalam tim riset.
  • Minimisasi risiko berarti penelitian dirancang agar tidak menimbulkan kerugian fisik, psikologis, sosial, ekonomi, atau hukum bagi responden.
  • Transparansi penggunaan data berarti peneliti jujur tentang tujuan pemakaian data, periode penyimpanan, dan batas akses.

8.2.1 Prinsip penghormatan terhadap partisipan

Dalam praktik lapangan, penghormatan terhadap partisipan dimulai dari hal sederhana: cara menyapa, cara menjelaskan tujuan penelitian, pilihan kata dalam pertanyaan, hingga hak responden untuk menolak menjawab item sensitif. Ketika partisipan diposisikan sebagai “objek” semata, kualitas jawaban menurun karena responden merasa tidak aman.

Contoh baik:

  • enumerator memperkenalkan diri dan institusi;
  • menjelaskan estimasi durasi wawancara secara jujur;
  • meminta izin sebelum merekam jawaban;
  • memberi opsi “tidak ingin menjawab” untuk item sensitif.

Contoh buruk:

  • menyembunyikan tujuan sebenarnya dari survei;
  • memberi tekanan psikologis agar responden harus ikut;
  • memaksa jawaban pada pertanyaan pendapatan, utang, atau pengalaman traumatis.

8.2.2 Prinsip keadilan (justice)

Keadilan dalam penelitian berarti beban dan manfaat partisipasi dibagi secara proporsional. Jangan sampai kelompok rentan selalu diminta datanya, tetapi tidak pernah mendapatkan manfaat kebijakan dari penelitian tersebut. Dalam studi kuantitatif sosial, keadilan juga berarti desain sampling tidak sistematis mengecualikan kelompok tertentu tanpa alasan metodologis yang sah.

Praktik keadilan yang disarankan:

  • pastikan kriteria inklusi-eksklusi dijelaskan di proposal;
  • hindari diskriminasi berdasarkan identitas sosial kecuali ada justifikasi ilmiah;
  • sediakan mekanisme pengaduan jika partisipan merasa dirugikan;
  • laporkan keterbatasan representasi sampel secara jujur.

8.2.3 Risiko etik pada penelitian sosial kuantitatif

Penelitian sosial sering dianggap “aman” karena tidak ada intervensi medis. Anggapan ini keliru. Risiko tetap ada, terutama risiko non-fisik.

Jenis risiko umum:

  • risiko privasi: data pribadi bocor;
  • risiko reputasi: jawaban sensitif diketahui pihak lain;
  • risiko sosial: responden mengalami konflik rumah tangga/komunitas akibat partisipasi;
  • risiko psikologis: pertanyaan memicu ketidaknyamanan;
  • risiko hukum: data terkait status dokumen, pekerjaan informal, atau isu hukum tertentu.

Mitigasi praktis:

  • gunakan ID anonim, bukan nama asli dalam dataset analitik;
  • pisahkan file identitas dan file jawaban;
  • batasi akses data mentah hanya untuk personel tertentu;
  • lakukan pelatihan komunikasi empatik bagi enumerator;
  • siapkan protokol rujukan jika responden menunjukkan distress.

8.4 Kerahasiaan dan perlindungan data

Kerahasiaan adalah tulang punggung kepercayaan publik terhadap penelitian. Jika responden merasa datanya rawan bocor, partisipasi menurun dan jawaban menjadi defensif.

Strategi perlindungan data yang wajib diterapkan:

  • pseudonimisasi: ganti identitas personal dengan kode responden;
  • minimisasi data: kumpulkan hanya data yang benar-benar dibutuhkan;
  • enkripsi file sensitif;
  • kontrol akses berbasis peran;
  • audit jejak akses data;
  • kebijakan retensi dan pemusnahan data.

8.4.1 Pseudonimisasi vs anonimisasi

Perbedaan yang sering tertukar:

  • Pseudonimisasi: identitas diganti kode, tetapi kunci penghubung masih ada dan disimpan terpisah.
  • Anonimisasi: identitas dihapus permanen sehingga tidak dapat ditautkan kembali ke individu.

Pada penelitian longitudinal, pseudonimisasi lebih lazim karena tim perlu menghubungkan data antar gelombang. Namun kunci identitas harus disimpan terpisah dengan standar keamanan lebih tinggi.

8.4.2 Struktur folder data yang aman

Contoh struktur kerja yang rapi:

  • /data_raw/ untuk data mentah dari lapangan (read-only);
  • /data_identitas/ untuk file identitas terpisah (akses terbatas);
  • /data_clean/ untuk data hasil cleaning;
  • /logs/ untuk catatan transformasi dan audit;
  • /scripts/ untuk kode pembersihan dan analisis.

Aturan operasional:

  • dilarang mengedit langsung data_raw;
  • semua perubahan melalui skrip agar jejak audit jelas;
  • backup terjadwal dengan enkripsi.

8.5 SOP lapangan: konsep dan fungsi

SOP lapangan adalah dokumen standar yang mengatur alur kerja pengumpulan data secara rinci agar kualitas antar-enumerator konsisten. Tanpa SOP, setiap petugas bisa menafsirkan prosedur berbeda, menghasilkan error sistematik yang sulit dideteksi setelah data masuk.

Fungsi utama SOP:

  • standardisasi proses;
  • pencegahan kesalahan berulang;
  • percepatan onboarding enumerator baru;
  • dasar supervisi dan audit;
  • bukti akuntabilitas untuk institusi.

SOP yang baik harus spesifik, dapat diukur, realistis, dan mudah dijalankan di lapangan. Hindari SOP yang hanya normatif, misalnya “enumerator harus profesional” tanpa indikator perilaku operasional.

8.6 SOP pengumpulan data

Komponen dasar SOP survei kuantitatif:

  • briefing enumerator;
  • simulasi wawancara;
  • logbook harian;
  • audit acak;
  • validasi telepon ulang (back-check).

Di bawah ini versi lengkap yang dapat dijadikan template lapangan.

8.6.1 A. Persiapan pra-lapangan

Aktivitas inti:

  • finalisasi instrumen dan skip pattern;
  • finalisasi daftar sampel/cluster;
  • penyusunan jadwal kunjungan;
  • pelatihan etika dan komunikasi;
  • uji coba alat (tablet/ponsel/kertas);
  • penyiapan surat tugas dan identitas petugas.

Output yang harus ada:

  • daftar petugas beserta peran;
  • daftar wilayah dan target harian;
  • formulir consent final;
  • daftar nomor supervisor dan hotline teknis.

8.6.2 B. Briefing enumerator

Briefing bukan sekadar pembagian target. Briefing harus memastikan semua petugas memahami tujuan studi, definisi variabel, teknik probing netral, dan prosedur etik.

Materi briefing minimum:

  • tujuan penelitian dan indikator utama;
  • definisi operasional tiap variabel;
  • aturan pembacaan pertanyaan verbatim;
  • teknik menangani penolakan;
  • alur eskalasi masalah lapangan;
  • protokol keamanan data di perangkat.

Checklist lulus briefing:

  • mampu menjelaskan studi dalam 60 detik;
  • mampu menjalankan consent tanpa membaca mentah;
  • mampu mensimulasikan skip logic dengan benar;
  • memahami batasan etika (apa yang tidak boleh dilakukan).

8.6.3 C. Simulasi wawancara (role play)

Role play wajib dilakukan sebelum lapangan nyata. Tujuan utama adalah mendeteksi potensi salah tafsir item dan melatih stabilitas gaya wawancara.

Skenario minimal:

  • responden kooperatif;
  • responden terburu-buru;
  • responden menolak pertanyaan sensitif;
  • responden tidak paham istilah tertentu.

Indikator evaluasi role play:

  • ketepatan membaca item;
  • netralitas ekspresi;
  • kemampuan probing tanpa memimpin jawaban;
  • ketelitian input data real-time.

8.6.4 D. Pelaksanaan wawancara di lapangan

Urutan standar kunjungan:

  • verifikasi identitas lokasi/rumah tangga/responden;
  • pembukaan dan informed consent;
  • wawancara sesuai urutan instrumen;
  • pengecekan jawaban kritis sebelum menutup;
  • ucapan penutup dan informasi kontak tim.

Aturan perilaku enumerator:

  • tidak berdebat dengan responden;
  • tidak memberi opini pribadi terhadap jawaban;
  • tidak mengisi jawaban tanpa persetujuan responden;
  • tidak berbagi data responden ke pihak luar.

8.6.5 E. Logbook harian

Logbook harian adalah catatan operasional yang mencatat apa yang terjadi di lapangan secara sistematik. Dokumen ini sangat penting untuk menjelaskan deviasi target dan memudahkan investigasi error data.

Kolom minimal logbook:

  • tanggal;
  • nama petugas;
  • lokasi;
  • jumlah target;
  • jumlah selesai;
  • jumlah penolakan;
  • alasan non-respons;
  • isu teknis;
  • tindak lanjut.

8.6.6 F. Audit acak oleh supervisor

Supervisor melakukan audit acak untuk memastikan prosedur berjalan. Audit bukan mencari kesalahan personal, tetapi menjaga standar kualitas tim.

Komponen audit:

  • observasi langsung sebagian wawancara;
  • pemeriksaan kelengkapan consent;
  • verifikasi kesesuaian responden target;
  • pemeriksaan anomali durasi wawancara.

Tindak lanjut audit:

  • umpan balik individual;
  • pelatihan ulang jika diperlukan;
  • redistribusi beban kerja bila ada ketimpangan.

8.6.7 G. Back-check (validasi telepon ulang)

Back-check adalah verifikasi sebagian responden setelah wawancara selesai untuk memastikan kunjungan benar terjadi dan jawaban kunci konsisten.

Prinsip pelaksanaan:

  • sampel acak 10-20% dari wawancara harian;
  • gunakan petugas validasi berbeda dari enumerator asli;
  • verifikasi item identitas dasar dan 3-5 item kunci;
  • dokumentasikan mismatch dan investigasi.

8.7 Kontrol mutu data

Kontrol mutu (quality control) adalah serangkaian mekanisme untuk mendeteksi dan mencegah kesalahan data sejak proses pengumpulan berlangsung, bukan setelah analisis selesai. Dalam proyek besar, quality control harus berjalan harian agar error tidak menumpuk.

Komponen kontrol mutu prioritas:

  • spot check lapangan;
  • pemeriksaan konsistensi antaritem;
  • monitoring durasi pengisian;
  • flag data outlier ekstrem.

8.7.1 Spot check lapangan

Spot check adalah kunjungan mendadak atau terjadwal oleh supervisor untuk melihat proses wawancara aktual. Tujuannya memverifikasi kepatuhan SOP dan etika.

Apa yang dinilai:

  • apakah consent dilakukan benar;
  • apakah item dibaca sesuai naskah;
  • apakah enumerator menjaga netralitas;
  • apakah lingkungan wawancara memungkinkan privasi.

Skema penilaian sederhana:

  • skor 2: sesuai standar;
  • skor 1: ada deviasi minor;
  • skor 0: deviasi mayor, perlu tindakan segera.

8.7.2 Pemeriksaan konsistensi antaritem

Konsistensi logis antaritem perlu diperiksa otomatis jika memungkinkan. Contoh:

  • usia 17 tahun tetapi status “menikah + 3 anak” mungkin valid pada konteks tertentu, tetapi perlu verifikasi;
  • pendapatan nol tetapi pengeluaran sangat tinggi perlu klarifikasi;
  • responden menyatakan “tidak bekerja” tetapi jam kerja mingguan > 40 harus ditinjau.

Jenis rule yang bisa dipakai:

  • range check: nilai harus dalam rentang masuk akal;
  • skip check: item lanjutan harus kosong jika syarat tidak terpenuhi;
  • logic check: kombinasi variabel harus konsisten.

8.7.3 Monitoring durasi pengisian

Durasi wawancara merupakan indikator kualitas proses. Wawancara terlalu cepat mengindikasikan kemungkinan pengisian asal, sedangkan terlalu lama dapat menandakan kendala pemahaman instrumen.

Aturan praktis:

  • hitung median durasi per instrumen;
  • tandai wawancara < 30% median sebagai red flag;
  • review kasus > 250% median untuk melihat hambatan lapangan.

Durasi tidak boleh dipakai sebagai satu-satunya indikator fraud, tetapi efektif sebagai alarm awal.

8.7.4 Flag outlier ekstrem

Outlier bisa mencerminkan realitas sosial langka atau kesalahan input. Karena itu, outlier tidak boleh langsung dihapus.

Prosedur aman:

  • identifikasi outlier dengan kriteria statistik (misal IQR atau z-score);
  • cek kembali ke catatan lapangan;
  • lakukan verifikasi ke responden jika dibutuhkan;
  • tentukan keputusan: dipertahankan, dikoreksi, atau diberi catatan analitik.

8.8 Sistem kendali mutu berlapis

Untuk proyek skala menengah-besar, gunakan model kendali mutu berlapis:

  • lapis 1: self-check enumerator sebelum submit;
  • lapis 2: review harian supervisor;
  • lapis 3: audit tim pusat/QA independen.

Keunggulan model berlapis:

  • kesalahan kecil ditangkap lebih awal;
  • beban perbaikan tidak menumpuk di akhir;
  • meningkatkan konsistensi antarwilayah.

8.8.1 Lapis 1: self-check enumerator

Sebelum mengirim data, enumerator wajib memeriksa:

  • kelengkapan item wajib;
  • konsistensi jawaban kunci;
  • catatan khusus kasus sulit;
  • status consent terekam.

8.8.2 Lapis 2: review supervisor

Supervisor memeriksa:

  • capaian target harian;
  • anomali durasi dan pola jawaban;
  • tingkat penolakan per enumerator;
  • kualitas logbook dan dokumentasi.

8.8.3 Lapis 3: audit QA independen

Tim QA melakukan pemeriksaan lintas wilayah untuk menghindari bias supervisor lokal. Tugasnya menilai kepatuhan SOP secara lebih objektif.

8.9 Fraud data: pencegahan dan deteksi

Fraud data adalah pengisian data tanpa wawancara nyata, manipulasi jawaban, atau perubahan data pasca-lapangan tanpa prosedur. Risiko ini meningkat saat target tinggi, supervisi lemah, dan insentif hanya berbasis kuantitas.

8.9.1 Tanda peringatan fraud

  • durasi wawancara seragam tidak wajar;
  • pola jawaban terlalu identik antar responden;
  • koordinat lokasi tidak sesuai cluster;
  • banyak wawancara selesai pada jam tidak masuk akal;
  • tingkat non-respons terlalu rendah secara tidak realistis.

8.9.2 Strategi pencegahan fraud

  • desain insentif seimbang antara kuantitas dan kualitas;
  • aktifkan GPS/timestamp jika etis dan legal;
  • wajibkan back-check acak;
  • terapkan sanksi jelas untuk pelanggaran berat;
  • bangun budaya integritas sejak pelatihan.

8.9.3 Protokol investigasi

Jika terdeteksi dugaan fraud:

  • tahan data terkait dari analisis sementara;
  • lakukan audit dokumen dan jejak digital;
  • lakukan verifikasi lapangan/telepon ulang;
  • dokumentasikan keputusan akhir secara tertulis.

8.10 SOP khusus untuk mode pengumpulan data

8.10.1 Survei tatap muka

Kelebihan:

  • response rate umumnya lebih tinggi;
  • bisa klarifikasi pertanyaan langsung.

Risiko:

  • biaya logistik besar;
  • potensi interviewer bias lebih tinggi.

Kontrol khusus:

  • observasi lapangan berkala;
  • standar keamanan petugas;
  • jadwal kunjungan ulang untuk non-kontak.

8.10.2 Survei telepon

Kelebihan:

  • lebih cepat dan hemat;
  • cocok untuk monitoring periodik.

Risiko:

  • sampling frame nomor telepon mungkin bias;
  • sulit membangun kedalaman rapport.

Kontrol khusus:

  • script telepon standar;
  • rekaman kualitas (dengan izin);
  • validasi nomor aktif dan identitas dasar.

8.10.3 Survei daring (online)

Kelebihan:

  • biaya rendah per responden;
  • otomatisasi data entry.

Risiko:

  • self-selection bias tinggi;
  • potensi jawaban ganda;
  • kualitas perhatian responden bervariasi.

Kontrol khusus:

  • gunakan token unik per responden;
  • pasang attention checks;
  • batasi pengisian berulang dari perangkat sama bila relevan.

8.11 Manajemen tim lapangan

Kualitas data sangat dipengaruhi kualitas manajemen manusia, bukan hanya alat survei.

Prinsip manajemen tim:

  • rekrut enumerator sesuai kompetensi;
  • pelatihan berbasis praktik;
  • supervisi suportif namun tegas;
  • umpan balik cepat berbasis data harian;
  • perlindungan kesejahteraan petugas lapangan.

8.11.1 Rekrutmen enumerator

Kriteria minimum:

  • kemampuan komunikasi jelas;
  • ketelitian administrasi;
  • literasi digital dasar;
  • pemahaman etika riset;
  • komitmen terhadap integritas data.

8.11.2 Pelatihan efektif

Materi pelatihan sebaiknya mencakup:

  • konsep dasar riset;
  • etika dan consent;
  • pemahaman instrumen;
  • role play kasus sulit;
  • simulasi input pada perangkat;
  • evaluasi akhir (teori + praktik).

8.11.3 Kesejahteraan petugas dan dampaknya pada mutu

Petugas yang kelelahan, tidak jelas insentifnya, atau tidak mendapat dukungan logistik cenderung melakukan shortcut. Karena itu, kualitas data terkait langsung dengan desain manajemen operasional.

Kebijakan minimal:

  • target realistis per hari;
  • mekanisme istirahat;
  • dukungan transportasi dan keamanan;
  • kanal laporan masalah tanpa intimidasi.

8.12 Dokumentasi dan audit trail

Audit trail adalah jejak dokumentasi semua keputusan lapangan dan data. Tanpa audit trail, penelitian sulit direplikasi dan sulit dibela saat reviewer mempertanyakan kualitas data.

Dokumen yang wajib disimpan:

  • versi SOP dan tanggal revisi;
  • daftar petugas dan jadwal tugas;
  • logbook harian;
  • hasil spot check dan back-check;
  • data quality report harian/mingguan;
  • log cleaning dan transformasi data.

8.12.1 Prinsip dokumentasi yang baik

  • akurat: sesuai kejadian lapangan;
  • tepat waktu: dicatat pada hari yang sama;
  • lengkap: memuat konteks keputusan;
  • dapat ditelusuri: jelas siapa membuat catatan;
  • aman: tidak mudah diubah tanpa jejak.

8.13 Integrasi etika dan kualitas data dalam siklus riset

Agar etika tidak berdiri terpisah dari teknis, gunakan siklus berikut:

  • desain: identifikasi risiko etik dan rancang mitigasi;
  • pelatihan: internalisasi prinsip etik pada SOP;
  • implementasi: jalankan pengawasan mutu harian;
  • evaluasi: audit kepatuhan dan kualitas;
  • perbaikan: revisi SOP untuk gelombang berikutnya.

Siklus ini membuat tim belajar dari kesalahan, bukan sekadar menyalahkan individu setelah proyek selesai.

8.14 Contoh format SOP ringkas untuk survei 500 responden

Berikut contoh yang bisa langsung diadaptasi.

Judul SOP: Pengumpulan Data Survei Akses Kerja Pemuda 2026
Target: 500 responden, 10 enumerator, 2 supervisor
Durasi lapangan: 10 hari kerja

Rincian operasional:

  • pembagian target: 50 responden/enumerator;
  • target harian: 5 responden/enumerator;
  • briefing pagi: 30 menit;
  • debrief sore: 30 menit;
  • back-check: minimal 15% sampel harian;
  • spot check supervisor: minimal 2 observasi/enumerator/minggu.

Alur kerja harian:

  • 07.30-08.00 briefing;
  • 08.00-16.00 kunjungan/wawancara;
  • 16.00-17.00 unggah data dan self-check;
  • 17.00-17.30 review supervisor + umpan balik.

Indikator kinerja mutu:

  • kelengkapan item wajib >= 98%;
  • mismatch back-check <= 5%;
  • wawancara red flag durasi <= 10%;
  • logbook terisi 100%.

8.15 Checklist audit mutu data harian

Checklist berikut dapat digunakan supervisor:

  • consent terdokumentasi pada semua wawancara;
  • ID responden unik, tanpa duplikasi;
  • item wajib tidak kosong;
  • skip logic valid;
  • durasi ekstrem ditinjau;
  • outlier ekstrem diberi catatan verifikasi;
  • logbook lengkap;
  • back-check tercapai sesuai target;
  • tindakan korektif dicatat untuk kasus bermasalah.

Skor harian dapat dikonversi:

  • 90-100: sangat baik;
  • 75-89: baik dengan perbaikan minor;
  • 60-74: perlu pendampingan intensif;
  • <60: evaluasi menyeluruh dan kemungkinan retraining.

8.16 Contoh matriks risiko etik dan mutu

Gunakan matriks sederhana berikut untuk monitoring.

Kolom matriks:

  • risiko;
  • kemungkinan (rendah/sedang/tinggi);
  • dampak (rendah/sedang/tinggi);
  • mitigasi;
  • penanggung jawab;
  • status.

Contoh isi:

  • risiko: kebocoran data identitas;
  • kemungkinan: sedang;
  • dampak: tinggi;
  • mitigasi: enkripsi + akses terbatas;
  • penanggung jawab: data manager;
  • status: aktif dipantau.

8.17 Kesalahan umum dan cara memperbaiki

Kesalahan umum di lapangan:

  • SOP terlalu umum, tidak operasional;
  • enumerator belum paham skip logic;
  • quality control baru dilakukan di akhir;
  • back-check asal formalitas;
  • data cleaning tanpa log perubahan.

Strategi perbaikan:

  • revisi SOP menjadi langkah konkret per jam kerja;
  • tambah sesi praktik instrumen dan studi kasus;
  • buat dashboard mutu harian;
  • bedakan peran pengumpul data dan validator;
  • wajibkan versioning skrip cleaning.

8.18 Standar pelaporan bab metodologi untuk naskah siap ISBN

Untuk naskah buku ajar atau laporan penelitian formal, bagian etika dan mutu data sebaiknya memuat:

  • status dan nomor persetujuan etik (jika ada);
  • prosedur consent yang digunakan;
  • mekanisme kerahasiaan data;
  • ringkasan SOP lapangan;
  • strategi quality control;
  • angka kepatuhan mutu (misal persentase back-check, mismatch rate);
  • keterbatasan lapangan dan implikasinya.

Contoh kalimat pelaporan:

“Penelitian ini menerapkan informed consent tertulis, pseudonimisasi data responden, serta back-check 15% sampel harian oleh tim validator independen. Tingkat mismatch item kunci sebesar 3,8%, berada di bawah ambang mutu 5% yang ditetapkan pada protokol penelitian.”

8.19 Studi kasus operasional: survei ketenagakerjaan pemuda skala kota

Untuk memperjelas integrasi etika, SOP, dan kontrol mutu, berikut simulasi studi kasus yang sering ditemui dalam riset sosial kuantitatif.

Konteks:

  • tujuan studi: mengukur faktor penentu peluang kerja formal pemuda usia 18-24 tahun;
  • cakupan: 5 kecamatan, 500 responden;
  • metode: survei tatap muka berbasis CAPI;
  • durasi lapangan: 12 hari.

Risiko utama yang teridentifikasi:

  • responden khawatir data diserahkan ke instansi ketenagakerjaan;
  • potensi under-reporting pada variabel pendapatan;
  • variasi kemampuan enumerator membaca skip pattern;
  • tekanan target harian memicu risiko pengisian tidak valid.

Desain mitigasi:

  • naskah consent menegaskan data tidak digunakan untuk evaluasi individu;
  • pertanyaan sensitif ditempatkan setelah rapport terbentuk;
  • pelatihan tambahan skip logic dengan skenario bercabang;
  • indikator kinerja tim mencakup skor mutu, bukan hanya jumlah wawancara.

Output mutu harian yang dipantau:

  • tingkat kelengkapan data;
  • persentase back-check selesai;
  • mismatch rate item kunci;
  • proporsi kasus durasi red flag;
  • jumlah tindakan korektif yang ditutup.

Pembelajaran penting:

  • ketika supervisor memberi umpan balik harian berbasis data, error menurun lebih cepat;
  • ketika tim hanya dikejar target kuantitas, mismatch back-check cenderung naik.

8.20 SOP eskalasi masalah lapangan

Salah satu kelemahan umum proyek survei adalah tidak adanya aturan eskalasi. Akibatnya, enumerator mengambil keputusan sendiri saat menghadapi situasi sulit, dan keputusan antarpetugas menjadi tidak konsisten.

SOP eskalasi minimal harus menjawab:

  • masalah apa yang boleh diputuskan enumerator secara mandiri;
  • masalah apa yang wajib dikonsultasikan ke supervisor;
  • kondisi apa yang mengharuskan penghentian wawancara;
  • bagaimana dokumentasi kejadian khusus dilakukan.

Klasifikasi masalah dan jalur eskalasi:

  • level hijau (minor): salah ketik, lupa mengisi catatan non-kritis -> perbaikan langsung dengan catatan singkat;
  • level kuning (sedang): inkonsistensi jawaban penting, penolakan parsial, kendala teknis berulang -> lapor supervisor di hari yang sama;
  • level merah (kritis): dugaan pelanggaran etik, ancaman keamanan, indikasi fraud -> hentikan proses, lapor koordinator, lakukan investigasi formal.

Template laporan insiden lapangan:

  • tanggal/jam kejadian;
  • lokasi;
  • pihak terlibat;
  • ringkasan kejadian;
  • dampak terhadap data;
  • tindakan segera;
  • rekomendasi tindak lanjut.

Aturan waktu respons:

  • level hijau: ditutup maksimal 24 jam;
  • level kuning: keputusan supervisor maksimal 12 jam;
  • level merah: notifikasi koordinator maksimal 1 jam.

Dengan protokol ini, tim tidak bekerja berdasarkan improvisasi personal, melainkan standar yang seragam.

8.21 Manajemen non-respons dan implikasi etik-statistik

Non-respons adalah kondisi ketika unit sampel tidak memberikan data lengkap, baik karena tidak dapat dihubungi, menolak, atau menghentikan wawancara di tengah jalan. Non-respons bukan hanya isu teknis, tetapi juga isu etik dan inferensial.

Mengapa penting:

  • jika non-respons tinggi pada kelompok tertentu, estimasi menjadi bias;
  • pemaksaan partisipasi untuk menurunkan non-respons melanggar etika;
  • keputusan penanganan non-respons mempengaruhi validitas eksternal.

Kategori non-respons:

  • non-kontak: responden tidak ditemukan setelah beberapa kunjungan;
  • penolakan: responden menolak berpartisipasi;
  • break-off: responden berhenti sebelum wawancara selesai;
  • item non-response: sebagian item tidak dijawab.

Strategi pengelolaan non-respons yang etis:

  • gunakan jadwal kunjungan ulang pada jam berbeda;
  • sediakan penjelasan manfaat riset tanpa tekanan;
  • berikan opsi penjadwalan ulang;
  • hormati penolakan final tanpa argumentasi berlebihan.

Dokumentasi non-respons:

  • alasan non-respons harus dicatat dengan kategori baku;
  • hindari label subjektif seperti “responden sulit”;
  • catat jumlah upaya kontak sebelum diklasifikasikan non-kontak.

Implikasi analitik:

  • laporkan response rate secara transparan;
  • pertimbangkan pembobotan/non-response adjustment bila relevan;
  • bahas kemungkinan bias pada bab keterbatasan.

8.22 Kualitas wawancara dan interviewer effect

Interviewer effect adalah variasi jawaban yang dipengaruhi oleh karakteristik atau perilaku pewawancara, bukan oleh perbedaan nyata antar responden. Dalam riset sosial, efek ini bisa muncul karena gaya bertanya, intonasi, ekspresi non-verbal, atau asumsi personal pewawancara.

Gejala interviewer effect:

  • rata-rata nilai variabel tertentu berbeda ekstrem antar enumerator;
  • tingkat non-respons item sensitif terkonsentrasi pada satu-dua enumerator;
  • durasi wawancara tidak proporsional antar petugas meski wilayah setara.

Pencegahan:

  • standar pembacaan item verbatim;
  • pelatihan netralitas komunikasi;
  • rotasi wilayah secara terkontrol (bila desain memungkinkan);
  • monitoring dashboard per enumerator.

Tindakan korektif:

  • coaching individual berbasis rekam kasus;
  • shadowing oleh supervisor;
  • retraining untuk item bermasalah;
  • jika perlu, pembatasan tugas pada jenis responden tertentu.

8.23 Integrasi kontrol mutu dengan dashboard harian

Pada proyek menengah-besar, dashboard mutu harian sangat membantu pengambilan keputusan cepat. Dashboard tidak perlu kompleks; yang penting indikatornya relevan dan ditinjau konsisten.

Indikator inti dashboard:

  • wawancara selesai per hari;
  • response rate dan refusal rate;
  • kelengkapan item wajib;
  • proporsi red flag durasi;
  • mismatch back-check;
  • jumlah kasus eskalasi terbuka.

Contoh aturan warna:

  • hijau: berada dalam ambang mutu;
  • kuning: mendekati ambang, perlu perhatian;
  • merah: melampaui ambang, butuh tindakan hari itu juga.

Manfaat dashboard:

  • supervisor tidak menunggu akhir minggu untuk menemukan masalah;
  • keputusan pelatihan ulang lebih berbasis bukti;
  • tim lapangan memahami standar mutu secara konkret.

8.24 Protokol koreksi data: kapan boleh mengubah jawaban

Isu penting dalam kontrol mutu adalah batasan koreksi data. Banyak tim melakukan perubahan tanpa aturan, sehingga integritas dataset diragukan.

Prinsip umum:

  • data mentah tidak diubah langsung;
  • setiap koreksi harus memiliki dasar (catatan lapangan/back-check);
  • perubahan dilakukan pada dataset turunan dengan log yang jelas.

Koreksi yang diperbolehkan:

  • kesalahan input yang terverifikasi (misal 222 tahun untuk usia);
  • duplikasi jelas karena sinkronisasi ganda;
  • nilai kosong pada item wajib yang berhasil diverifikasi ulang.

Koreksi yang tidak diperbolehkan:

  • mengganti jawaban agar "lebih masuk akal" tanpa bukti;
  • menghapus outlier hanya karena mengganggu hasil;
  • mengisi item kosong berdasarkan asumsi enumerator.

Format log koreksi:

  • ID responden;
  • variabel terdampak;
  • nilai lama;
  • nilai baru;
  • alasan dan sumber verifikasi;
  • pelaksana;
  • tanggal perubahan.

8.25 Etika insentif responden dan enumerator

Insentif sering menjadi isu sensitif. Insentif boleh diberikan, tetapi tidak boleh bersifat memaksa atau menyesatkan.

Prinsip insentif responden:

  • nilai wajar dan proporsional;
  • diinformasikan sejak awal;
  • tidak bersyarat pada jawaban tertentu;
  • tidak mengubah hak responden untuk berhenti.

Prinsip insentif enumerator:

  • jangan hanya berbasis jumlah wawancara;
  • kombinasikan dengan indikator kualitas;
  • berikan penghargaan untuk kepatuhan SOP dan etika.

Contoh skema enumerator yang sehat:

  • 70% komponen kuantitas (target tercapai);
  • 30% komponen mutu (mismatch rendah, logbook lengkap, tidak ada pelanggaran etik).

Skema ini mengurangi dorongan melakukan shortcut demi mengejar angka.

8.26 Pengelolaan data sensitif

Data sensitif mencakup informasi yang bila bocor dapat merugikan responden, seperti data kesehatan, pendapatan detail, status hukum, pengalaman kekerasan, atau identitas personal.

Aturan pengelolaan data sensitif:

  • prinsip need-to-know: akses hanya untuk personel relevan;
  • penyimpanan terenkripsi;
  • pemisahan fisik/logis antara identitas dan jawaban;
  • larangan berbagi file mentah melalui kanal tidak aman.

Praktik aman kolaborasi tim:

  • gunakan repositori terbatas akses;
  • lakukan pengiriman data dengan proteksi sandi terpisah;
  • hindari penggunaan perangkat pribadi tanpa perlindungan.

Kebijakan retensi:

  • tentukan lama penyimpanan sejak awal;
  • lakukan pemusnahan data identitas ketika tidak diperlukan;
  • dokumentasikan proses pemusnahan dalam berita acara internal.

8.27 SOP komunikasi publik hasil penelitian

Setelah data terkumpul, tanggung jawab etik belum selesai. Komunikasi hasil juga harus etis dan tidak menyesatkan.

Prinsip komunikasi:

  • jangan membuka identitas responden;
  • hindari generalisasi berlebihan di luar cakupan sampel;
  • jelaskan keterbatasan data dan potensi bias;
  • bedakan temuan empiris dan opini peneliti.

Contoh pelanggaran komunikasi:

  • menampilkan kutipan yang membuat responden dapat dikenali;
  • menyimpulkan kausalitas dari desain korelasional tanpa kehati-hatian;
  • mengabaikan bias non-respons dalam narasi kebijakan.

8.28 Paket dokumen minimum proyek lapangan

Agar proyek siap diaudit, siapkan paket dokumen minimum berikut:

  • protokol penelitian versi final;
  • persetujuan etik (jika diwajibkan);
  • SOP lapangan dan lampiran formulir;
  • manual enumerator;
  • daftar sampel dan status kunjungan;
  • logbook harian;
  • laporan spot check dan back-check;
  • laporan quality dashboard;
  • log cleaning dan transformasi data;
  • laporan akhir kepatuhan mutu.

Jika dokumen ini lengkap, proses evaluasi akademik, institutional review, dan persiapan publikasi menjadi jauh lebih kuat.

8.29 Rubrik penilaian mutu lapangan untuk tim

Untuk menjaga konsistensi antar supervisor, gunakan rubrik baku.

Komponen rubrik:

  • kepatuhan etik (0-25);
  • kepatuhan SOP (0-25);
  • kualitas data (0-25);
  • kualitas dokumentasi (0-25).

Interpretasi skor:

  • 85-100: sangat siap, hanya perbaikan minor;
  • 70-84: layak dengan pembinaan terarah;
  • 55-69: risiko mutu sedang, perlu intervensi manajerial;
  • <55: risiko mutu tinggi, perlu koreksi menyeluruh.

Dengan rubrik ini, evaluasi tim tidak bersifat subjektif dan dapat ditindaklanjuti secara sistematis.

8.30 Latihan bab 9

  1. Buat format SOP ringkas untuk survei 500 responden dengan komponen: pembagian peran, target harian, alur briefing-debriefing, dan indikator mutu.
  2. Buat checklist audit mutu data harian minimal 12 butir yang mencakup etika, kelengkapan, konsistensi, durasi, dan verifikasi lapangan.
  3. Susun template logbook harian enumerator dan jelaskan fungsi tiap kolom.
  4. Rancang protokol back-check 15% sampel: teknik sampling kasus, daftar pertanyaan verifikasi, dan tindak lanjut jika mismatch.
  5. Berikan tiga contoh red flag fraud data dan jelaskan langkah investigasi bertahap.

8.31 Kunci jawaban ringkas bab 9

  1. SOP ringkas yang baik harus menyebut siapa melakukan apa, kapan dilakukan, apa indikator kualitasnya, dan bagaimana eskalasi masalah. Untuk survei 500 responden, model 10 enumerator x 10 hari x 5 responden/hari adalah skema realistis dengan supervisi harian.
  2. Checklist audit mutu minimal memuat consent, kelengkapan item wajib, konsistensi skip, pemeriksaan durasi ekstrem, verifikasi identitas responden, status back-check, dan catatan tindakan korektif.
  3. Logbook ideal berisi tanggal, lokasi, target, capaian, non-respons, isu lapangan, dan tindak lanjut. Kolom ini penting untuk menjelaskan deviasi data dan mendukung audit trail.
  4. Protokol back-check harus memakai sampel acak, dijalankan petugas berbeda, memverifikasi item kunci, serta memiliki aturan keputusan yang jelas jika mismatch melebihi ambang.
  5. Red flag fraud misalnya durasi seragam tidak wajar, pola jawaban identik massal, dan titik lokasi tidak sesuai area sampel. Investigasi dilakukan melalui review log, verifikasi ulang responden, lalu keputusan dokumentatif terkait valid/tidak validnya data.

8.32 Catatan implementasi untuk tim penulis buku ajar

Jika bab ini digunakan dalam buku metodologi tingkat nasional, sertakan lampiran praktis agar pembaca dapat langsung menerapkan standar operasional di penelitian mereka. Lampiran yang disarankan meliputi contoh formulir informed consent, contoh logbook harian, form spot check, form back-check, dan template laporan mutu mingguan. Selain itu, gunakan istilah yang konsisten antar bab, misalnya membedakan tegas antara "validasi" (proses verifikasi data lapangan) dan "validitas" (mutu pengukuran instrumen). Konsistensi bahasa ini penting agar pembaca tidak salah memahami prosedur metodologis. Terakhir, pastikan setiap tabel SOP memiliki kolom penanggung jawab dan tenggat waktu, sehingga isi bab bukan hanya deskriptif, tetapi benar-benar operasional untuk kebutuhan skripsi, tesis, penelitian lembaga, maupun evaluasi program pemerintah. Pendekatan ini memperkuat akuntabilitas ilmiah naskah.

8.33 Penutup

Etika penelitian, SOP lapangan, dan kontrol mutu data adalah fondasi yang tidak bisa dipisahkan. Penelitian kuantitatif yang baik bukan hanya menghasilkan angka signifikan, tetapi dibangun melalui proses pengumpulan data yang menghormati partisipan, terstandar, dan terawasi. Dengan menerapkan prinsip etika secara konsisten, menjalankan SOP secara disiplin, dan mengaktifkan quality control berlapis sejak hari pertama lapangan, peneliti dapat menghasilkan data yang lebih valid, lebih reliabel, dan lebih layak dijadikan dasar kebijakan maupun pengembangan ilmu. ***

BAGIAN III - MANAJEMEN DATA DAN STATISTIK DESKRIPTIF

9 Bab Struktur Data, Codebook, dan Data Cleaning

9.1 Pengantar

Bab ini membahas fondasi manajemen data kuantitatif sebelum analisis statistik dilakukan. Banyak peneliti pemula langsung menjalankan uji hipotesis tanpa memastikan struktur data benar, definisi variabel konsisten, dan proses pembersihan data terdokumentasi. Akibatnya, hasil analisis terlihat rapi tetapi sesungguhnya rapuh: variabel tercampur, kode kategori ambigu, nilai hilang ditangani tidak konsisten, atau keputusan cleaning tidak bisa diaudit ulang.

Dalam praktik penelitian yang siap publikasi, kualitas data ditentukan oleh tiga pilar. Pilar pertama adalah struktur data yang benar sejak awal. Pilar kedua adalah codebook yang lengkap agar seluruh tim membaca variabel dengan definisi sama. Pilar ketiga adalah data cleaning yang sistematis, transparan, dan dapat direplikasi. Ketiga pilar ini saling terkait. Struktur data tanpa codebook akan membingungkan tim. Codebook tanpa cleaning akan menghasilkan data kotor. Cleaning tanpa dokumentasi akan menurunkan kredibilitas hasil.

Bab ini disusun sebagai panduan operasional level lanjut untuk konteks penelitian sosial kuantitatif di Indonesia. Isi bab mencakup definisi, standar teknis, contoh format, alur kerja praktis, contoh kode R, template data log, kesalahan umum, serta latihan dan kunci jawaban ringkas. Targetnya sederhana: setelah mempelajari bab ini, pembaca mampu menyiapkan dataset yang layak analisis dan layak audit.

9.2 Struktur data tabular

Struktur data tabular adalah format paling umum dalam penelitian kuantitatif. Prinsip umumnya:

  • satu baris = satu unit observasi,
  • satu kolom = satu variabel,
  • satu sel = satu nilai.

Walaupun terlihat sederhana, pelanggaran terhadap prinsip ini sangat sering terjadi. Misalnya, satu baris berisi dua responden sekaligus, atau satu kolom mencampur dua konsep (misalnya “umur/pendidikan”), atau satu sel berisi teks gabungan seperti “Laki-laki, 22 tahun” yang seharusnya dipisah menjadi variabel berbeda.

9.2.1 Unit observasi harus konsisten

Unit observasi adalah entitas yang menjadi sasaran pengukuran. Unit bisa berupa individu, rumah tangga, sekolah, desa, perusahaan, atau dokumen kebijakan. Kesalahan umum muncul ketika unit observasi berubah di tengah proses tanpa penyesuaian struktur data.

Contoh:

  • Jika studi unitnya individu mahasiswa, maka satu baris mewakili satu mahasiswa.
  • Jika studi unitnya rumah tangga, satu baris mewakili satu rumah tangga, bukan anggota rumah tangga.

Implikasi metodologis:

  • Ketidakkonsistenan unit observasi menyebabkan bias agregasi.
  • Analisis inferensial menjadi salah karena asumsi independensi observasi dilanggar.
  • Interpretasi koefisien model dapat menyesatkan.

9.2.2 Identitas unik (primary key)

Setiap baris idealnya memiliki kunci unik (ID) agar tidak terjadi duplikasi dan memudahkan penggabungan data antar file.

Karakter ID yang baik:

  • unik untuk setiap observasi,
  • stabil (tidak berubah di tengah proyek),
  • tidak memuat informasi sensitif berlebihan,
  • punya pola yang konsisten.

Contoh format ID aman:

  • KAB01-KEC03-000145
  • RESP_2026_0001

Kesalahan yang perlu dihindari:

  • menggunakan nama responden sebagai ID utama,
  • memakai nomor telepon sebagai ID,
  • mengubah ID setelah cleaning tanpa log perubahan.

9.2.3 Format long dan wide

Dalam praktik analitik, data tabular memiliki dua bentuk umum: wide dan long.

  • Wide: satu baris per unit, variabel berulang dipecah menjadi beberapa kolom (nilai_t1, nilai_t2, nilai_t3).
  • Long: observasi berulang ditulis dalam beberapa baris dengan kolom waktu (waktu) dan nilai (nilai).

Kapan wide lebih cocok:

  • laporan cepat deskriptif,
  • data survei potong lintang,
  • model sederhana tanpa dimensi waktu berulang.

Kapan long lebih cocok:

  • data panel/longitudinal,
  • visualisasi tren waktu,
  • model multilevel atau mixed model.

Catatan praktis:

  • Jangan mencampur wide dan long secara parsial dalam satu file.
  • Tentukan format utama berdasarkan rencana analisis sejak awal.

9.2.4 Tipe data kolom

Kualitas struktur data juga bergantung pada tipe data yang tepat. Tipe umum:

  • numerik (integer/double),
  • kategorik (factor/character),
  • tanggal-waktu,
  • logika (TRUE/FALSE).

Kesalahan tipe data yang sering terjadi:

  • variabel numerik tersimpan sebagai teks karena ada karakter non-angka,
  • tanggal tersimpan sebagai karakter dengan format campuran,
  • kategori tersimpan sebagai angka tanpa label.

Dampaknya:

  • statistik deskriptif salah,
  • model gagal berjalan,
  • hasil cleaning tidak konsisten.

9.3 Standar struktur data untuk riset sosial

Agar dataset konsisten antar tim, gunakan standar berikut.

9.3.1 Aturan penamaan variabel

Penamaan variabel yang baik harus jelas, ringkas, dan konsisten.

Prinsip penamaan:

  • gunakan huruf kecil,
  • pakai underscore (_) sebagai pemisah,
  • hindari spasi,
  • hindari singkatan tidak baku,
  • hindari nama variabel yang terlalu panjang.

Contoh baik:

  • usia
  • jenis_kelamin
  • pendapatan_bulanan
  • jam_belajar_mingguan

Contoh kurang baik:

  • UsiaRespondenFinalBanget
  • x1, x2, abc
  • jenis kelamin

9.3.2 Variabel kategori dan pengkodean

Untuk variabel kategorik, tentukan kode secara eksplisit di codebook.

Contoh pengkodean:

  • jenis_kelamin: 1 = Laki-laki, 2 = Perempuan
  • status_kerja: 0 = Tidak bekerja, 1 = Bekerja informal, 2 = Bekerja formal
  • wilayah: 1 = Perkotaan, 2 = Perdesaan

Aturan penting:

  • jangan gunakan kode yang berubah antar file,
  • jangan gunakan nilai yang sama untuk arti berbeda,
  • simpan label kategori di codebook dan skrip analisis.

9.3.3 Penanganan nilai hilang pada level struktur

Nilai hilang (missing values) harus dibedakan dari nol atau nilai valid lainnya.

Contoh kode missing yang disarankan:

  • NA untuk tidak ada data,
  • kode khusus seperti -99 hanya jika dibutuhkan sistem, tetapi harus dijelaskan.

Kesalahan umum:

  • mengisi missing dengan 0 padahal maknanya berbeda,
  • mencampur beberapa kode missing tanpa definisi,
  • tidak mencatat alasan missing.

9.4 Codebook

Codebook adalah dokumen metadata yang menjelaskan isi dataset secara lengkap. Tanpa codebook, dataset hanya kumpulan angka yang sulit ditafsirkan.

Codebook minimal memuat:

  • nama variabel,
  • label variabel,
  • tipe data,
  • rentang nilai,
  • definisi missing value,
  • sumber item.

Untuk naskah siap cetak/ISBN, codebook sebaiknya diperluas dengan:

  • definisi operasional variabel,
  • unit pengukuran,
  • waktu pengumpulan,
  • aturan rekoding,
  • catatan perubahan versi.

9.4.1 Fungsi codebook dalam proyek nyata

Codebook memiliki fungsi strategis, bukan sekadar lampiran administratif.

Manfaat utama:

  • menyamakan pemahaman antar anggota tim,
  • mengurangi kesalahan interpretasi saat analisis,
  • mempermudah replikasi penelitian,
  • mempercepat proses audit metodologis,
  • menjadi dasar transfer pengetahuan ketika tim berganti.

9.4.2 Struktur tabel codebook yang disarankan

Kolom minimal yang sangat dianjurkan:

  • nama_variabel
  • label
  • tipe_data
  • skala
  • nilai_valid
  • kode_missing
  • sumber_item
  • catatan

Contoh satu baris codebook:

  • nama_variabel: literasi_digital
  • label: Skor literasi digital total
  • tipe_data: numeric
  • skala: interval (0-100)
  • nilai_valid: 0-100
  • kode_missing: NA
  • sumber_item: adaptasi skala A (2020)
  • catatan: skor hasil penjumlahan 20 item

9.4.3 Versioning codebook

Codebook harus memiliki versi agar perubahan terdokumentasi.

Aturan sederhana:

  • versi awal: v1.0
  • revisi minor (perbaikan label/catatan): v1.1
  • revisi mayor (perubahan definisi/rekoding): v2.0

Setiap perubahan versi wajib mencatat:

  • tanggal,
  • penanggung jawab,
  • ringkasan perubahan,
  • dampak terhadap analisis sebelumnya.

9.4.4 Contoh codebook 15 variabel (ringkas)

Contoh daftar variabel untuk studi mahasiswa:

  1. id_responden - ID unik responden.
  2. jenis_kelamin - kategori gender.
  3. usia - umur dalam tahun.
  4. semester - semester aktif.
  5. ipk - indeks prestasi kumulatif.
  6. jam_belajar_mingguan - total jam belajar.
  7. literasi_digital - skor literasi digital.
  8. dukungan_keluarga - skor dukungan keluarga.
  9. status_kerja - status kerja sambilan.
  10. pendapatan_bulanan - pendapatan per bulan (juta rupiah).
  11. akses_internet - kualitas akses internet.
  12. frekuensi_perpustakaan - kunjungan per bulan.
  13. kesehatan_mental - skor skala kesejahteraan psikologis.
  14. wilayah_tinggal - urban/rural.
  15. tanggal_wawancara - tanggal pengisian.

9.5 Proses cleaning

Data cleaning adalah proses sistematis untuk memastikan data akurat, konsisten, lengkap secara layak, dan siap dianalisis. Cleaning bukan aktivitas kosmetik untuk “memperbagus” hasil statistik.

Tahapan inti:

  1. validasi format,
  2. cek duplikasi,
  3. cek missing,
  4. cek outlier,
  5. rekoding,
  6. dokumentasi perubahan.

9.5.1 1. Validasi format

Tujuan tahap ini adalah memastikan setiap variabel memiliki tipe dan format sesuai desain.

Aktivitas utama:

  • cek tipe data per kolom,
  • cek format tanggal,
  • cek karakter non-standar,
  • cek spasi tersembunyi pada kategori teks.

Contoh masalah umum:

  • usia berisi “dua puluh” pada beberapa baris,
  • tanggal_wawancara bercampur format dd/mm/yyyy dan yyyy-mm-dd,
  • kategori Perempuan ditulis beberapa versi: P, Perempuan, perempuan.

9.5.2 2. Cek duplikasi

Duplikasi dapat terjadi karena sinkronisasi ganda, kesalahan input, atau responden diwawancarai dua kali.

Jenis duplikasi:

  • duplikasi ID persis,
  • duplikasi kombinasi variabel kunci,
  • duplikasi parsial yang membutuhkan verifikasi.

Prosedur penanganan:

  • identifikasi semua kandidat duplikat,
  • cek log lapangan,
  • tentukan rekaman mana yang valid,
  • dokumentasikan keputusan penghapusan atau penggabungan.

9.5.3 3. Cek missing

Missing tidak selalu buruk. Yang penting adalah memahami pola missing dan dampaknya terhadap inferensi.

Kategori missing:

  • MCAR (Missing Completely at Random),
  • MAR (Missing at Random),
  • MNAR (Missing Not at Random).

Langkah operasional:

  • hitung proporsi missing per variabel,
  • identifikasi pola missing per kelompok,
  • tentukan strategi penanganan: listwise deletion, imputasi sederhana, atau multiple imputation.

Catatan:

  • strategi harus konsisten dengan tujuan analisis,
  • semua keputusan wajib dilaporkan.

9.5.4 4. Cek outlier

Outlier adalah nilai ekstrem yang berbeda jauh dari mayoritas data. Outlier dapat berarti kesalahan input atau fenomena nyata.

Deteksi outlier:

  • visual (boxplot, histogram),
  • statistik (z-score, IQR rule),
  • aturan domain (misal usia manusia tidak 250 tahun).

Keputusan terhadap outlier:

  • pertahankan jika valid secara substantif,
  • koreksi jika terbukti salah input,
  • winsorization/transformasi dengan justifikasi,
  • jangan menghapus tanpa alasan metodologis.

9.5.5 5. Rekoding

Rekoding adalah perubahan representasi nilai agar sesuai kebutuhan analisis.

Contoh rekoding:

  • mengubah L/P menjadi label lengkap,
  • mengelompokkan usia menjadi kelompok umur,
  • membuat variabel dummy dari kategori,
  • membalik skor item negatif pada skala psikometrik.

Aturan rekoding:

  • gunakan skrip, bukan edit manual satu per satu,
  • simpan variabel asli jika memungkinkan,
  • tulis log rekoding lengkap.

9.5.6 6. Dokumentasi perubahan

Setiap perubahan harus bisa ditelusuri. Dokumentasi adalah syarat utama replikasi dan audit.

Isi dokumentasi minimum:

  • apa yang diubah,
  • mengapa diubah,
  • bagaimana diubah,
  • kapan diubah,
  • siapa yang mengubah.

9.6 Strategi cleaning berbasis reproducible workflow

Cleaning modern sebaiknya berbasis skrip agar dapat diulang otomatis.

Prinsip reproducible cleaning:

  • data mentah bersifat read-only,
  • semua transformasi melalui skrip,
  • output intermediate diberi versi,
  • hasil akhir disertai log ringkas.

Struktur folder yang disarankan:

  • data_raw/
  • data_intermediate/
  • data_clean/
  • scripts/
  • logs/
  • codebook/

Manfaat alur ini:

  • kesalahan mudah dilacak,
  • kolaborasi tim lebih rapi,
  • perubahan dapat direplikasi di komputer lain,
  • siap untuk review metodologis.

9.7 Quality checks sebelum analisis inferensial

Sebelum menjalankan uji statistik, lakukan quality checks berikut.

Checklist minimum:

  • tidak ada duplikasi ID aktif,
  • rentang nilai semua variabel valid,
  • proporsi missing telah dilaporkan,
  • aturan rekoding telah diverifikasi,
  • outlier ekstrem telah ditinjau,
  • dataset analitik final telah diberi versi.

Tambahan penting:

  • cek keseimbangan kategori untuk variabel kunci,
  • cek distribusi awal variabel outcome,
  • cek konsistensi antar variabel terkait (logic checks).

Contoh logic checks:

  • status_kerja = tidak bekerja tetapi jam_kerja_mingguan > 0 -> perlu verifikasi.
  • semester = 1 tetapi ipk = 4.5 -> di luar rentang valid.

9.8 Contoh cleaning di R

Bagian ini mempertahankan contoh inti, lalu memperluas menjadi alur cleaning yang lebih realistis.

df <- tibble(
  id = c(1,2,3,4,4),
  usia = c(19, 20, NA, 22, 22),
  pendapatan = c(2.5, 3.0, 2.8, 50, 50),
  gender = c("L","P","P","L","L")
)

# 1) cek duplikasi id
sum(duplicated(df$id))
## [1] 1
# 2) imputasi sederhana usia
median_usia <- median(df$usia, na.rm = TRUE)
df$usia[is.na(df$usia)] <- median_usia

# 3) winsor sederhana untuk outlier pendapatan (contoh)
q <- quantile(df$pendapatan, probs = c(0.05, 0.95))
df$pendapatan_w <- pmin(pmax(df$pendapatan, q[1]), q[2])

# 4) coding kategori
df$gender <- factor(df$gender, levels = c("L", "P"), labels = c("Laki-laki", "Perempuan"))

df
## # A tibble: 5 × 5
##      id  usia pendapatan gender    pendapatan_w
##   <dbl> <dbl>      <dbl> <fct>            <dbl>
## 1     1    19        2.5 Laki-laki         2.56
## 2     2    20        3   Perempuan         3   
## 3     3    21        2.8 Perempuan         2.8 
## 4     4    22       50   Laki-laki        50   
## 5     4    22       50   Laki-laki        50

Versi lanjutan yang lebih lengkap:

library(dplyr)
library(stringr)

# Simulasi data mentah dengan beberapa masalah umum
raw <- tibble(
  id = c("R001", "R002", "R003", "R003", "R005"),
  usia = c("19", "20", " 21", "21", "-"),
  pendapatan = c("2.5", "3,0", "2.8", "2.8", "500"),
  gender = c("L", "P", "Perempuan", "P", "L "),
  tanggal = c("2026-01-10", "10/01/2026", "2026-01-11", "2026-01-11", "2026-01-12")
)

# A) standardisasi teks awal
clean <- raw %>%
  mutate(
    across(where(is.character), ~str_trim(.x)),
    pendapatan = str_replace(pendapatan, ",", ".")
  )

# B) konversi tipe data
clean <- clean %>%
  mutate(
    usia = na_if(usia, "-"),
    usia = as.numeric(usia),
    pendapatan = as.numeric(pendapatan)
  )

# C) tangani duplikasi ID (pertahankan kemunculan pertama)
clean <- clean %>%
  distinct(id, .keep_all = TRUE)

# D) harmonisasi kategori gender
clean <- clean %>%
  mutate(
    gender = case_when(
      gender %in% c("L", "Laki-laki") ~ "Laki-laki",
      gender %in% c("P", "Perempuan") ~ "Perempuan",
      TRUE ~ NA_character_
    )
  )

# E) imputasi sederhana usia (contoh pedagogis)
clean <- clean %>%
  mutate(usia = if_else(is.na(usia), median(usia, na.rm = TRUE), usia))

# F) flag outlier pendapatan dengan aturan IQR
q1 <- quantile(clean$pendapatan, 0.25, na.rm = TRUE)
q3 <- quantile(clean$pendapatan, 0.75, na.rm = TRUE)
iqr <- q3 - q1
lower <- q1 - 1.5 * iqr
upper <- q3 + 1.5 * iqr

clean <- clean %>%
  mutate(flag_outlier_pendapatan = pendapatan < lower | pendapatan > upper)

clean
## # A tibble: 4 × 6
##   id     usia pendapatan gender    tanggal    flag_outlier_pendapatan
##   <chr> <dbl>      <dbl> <chr>     <chr>      <lgl>                  
## 1 R001     19        2.5 Laki-laki 2026-01-10 FALSE                  
## 2 R002     20        3   Perempuan 10/01/2026 FALSE                  
## 3 R003     21        2.8 Perempuan 2026-01-11 FALSE                  
## 4 R005     20      500   Laki-laki 2026-01-12 TRUE

Catatan pedagogis:

  • Imputasi median pada contoh di atas hanya ilustrasi awal.
  • Untuk penelitian inferensial serius, pertimbangkan multiple imputation dan sensitivity analysis.

9.9 Log perubahan data

Setiap perubahan wajib dicatat pada data log:

  • tanggal perubahan,
  • variabel terdampak,
  • alasan perubahan,
  • metode perubahan,
  • operator/penanggung jawab.

Untuk standar nasional, tambahkan kolom berikut:

  • ID kasus (jika perubahan kasus-spesifik),
  • nilai lama,
  • nilai baru,
  • referensi bukti (log lapangan/back-check),
  • versi dataset setelah perubahan.

9.9.1 Template data log yang direkomendasikan

Kolom template:

  • tanggal
  • versi_data
  • id_kasus
  • variabel
  • nilai_lama
  • nilai_baru
  • metode_perubahan
  • alasan
  • penanggung_jawab
  • catatan

Contoh entri log:

  • tanggal: 2026-02-15
  • versi_data: v1.2
  • id_kasus: R005
  • variabel: pendapatan
  • nilai_lama: 500
  • nilai_baru: 5.0
  • metode_perubahan: verifikasi ulang telepon
  • alasan: salah input titik desimal
  • penanggung_jawab: Data Manager
  • catatan: bukti rekaman validasi tersedia

9.9.2 Prinsip audit trail

Data log harus memenuhi prinsip audit trail:

  • lengkap,
  • kronologis,
  • dapat diverifikasi,
  • tidak mudah dimanipulasi.

Praktik yang disarankan:

  • simpan log dalam format CSV dan PDF ringkasan,
  • gunakan timestamp otomatis bila memungkinkan,
  • lakukan review log mingguan oleh supervisor data.

9.10 Data cleaning untuk berbagai tipe variabel

9.10.1 Variabel numerik kontinu

Isu umum:

  • outlier ekstrem,
  • skala tidak seragam,
  • pembulatan berbeda antar enumerator,
  • kesalahan satuan.

Contoh kesalahan satuan:

  • tinggi badan sebagian dicatat dalam meter, sebagian dalam sentimeter.

Solusi:

  • standarisasi satuan,
  • buat rule rentang valid,
  • simpan variabel hasil konversi terpisah.

9.10.2 Variabel kategorik

Isu umum:

  • label kategori tidak konsisten,
  • kategori terlalu banyak karena salah ketik,
  • kategori baru muncul tanpa dokumentasi.

Solusi:

  • harmonisasi label berdasarkan kamus kategori,
  • mapping kategori di skrip,
  • update codebook setiap perubahan.

9.10.3 Variabel tanggal/waktu

Isu umum:

  • format campur,
  • tanggal tidak mungkin (misal 31 Februari),
  • zona waktu tidak konsisten pada data digital.

Solusi:

  • konversi ke format ISO (YYYY-MM-DD),
  • validasi kalender,
  • dokumentasikan zona waktu jika relevan.

9.11 Integrasi codebook dan cleaning

Codebook dan cleaning harus berjalan bersama. Codebook menentukan apa yang valid; cleaning menegakkan validitas itu pada data aktual.

Alur integratif:

  1. bangun codebook sebelum lapangan,
  2. gunakan codebook untuk validasi real-time,
  3. revisi codebook jika ada perubahan definisi,
  4. sinkronkan semua skrip cleaning dengan codebook terbaru.

Kesalahan umum:

  • codebook diperbarui, tetapi skrip belum disesuaikan,
  • skrip berubah, tetapi codebook tidak diperbarui,
  • tim analisis menggunakan definisi lama.

9.12 Dokumentasi keputusan cleaning untuk laporan metodologi

Pada laporan akhir, peneliti sebaiknya tidak hanya menulis “data telah dibersihkan”. Reviewer membutuhkan detail proses.

Komponen pelaporan yang dianjurkan:

  • jumlah data awal,
  • jumlah kasus duplikat dan penanganannya,
  • proporsi missing per variabel kunci,
  • metode penanganan outlier,
  • langkah rekoding utama,
  • jumlah data akhir setelah cleaning.

Contoh narasi metodologis:

“Dataset awal terdiri dari 1.250 observasi. Pemeriksaan ID menemukan 18 duplikasi, dengan 12 kasus dipertahankan berdasarkan verifikasi timestamp dan 6 kasus dihapus karena pengisian ganda. Missing pada variabel utama berkisar 0,8%-4,3%; penanganan menggunakan imputasi median untuk analisis deskriptif dan multiple imputation untuk model inferensial. Outlier pendapatan ditinjau dengan aturan IQR dan diverifikasi melalui catatan lapangan. Seluruh transformasi dicatat dalam data log versi v1.3.”

9.13 Kesalahan umum pemula dalam data cleaning

Kesalahan 1: mengedit data mentah langsung di spreadsheet.
Risiko: jejak perubahan hilang dan tidak bisa direplikasi.

Kesalahan 2: menghapus outlier tanpa verifikasi.
Risiko: bias hasil dan hilangnya informasi penting.

Kesalahan 3: menggunakan satu strategi missing untuk semua variabel.
Risiko: ketidaktepatan inferensi karena mekanisme missing berbeda.

Kesalahan 4: rekoding tanpa update codebook.
Risiko: tim lain salah menafsirkan variabel.

Kesalahan 5: tidak menyimpan versi data.
Risiko: sulit rollback saat ada kesalahan.

Kesalahan 6: menjalankan model sebelum quality checks selesai.
Risiko: analisis didasarkan pada data yang belum valid.

9.14 Rencana kerja cleaning untuk tim riset

Untuk proyek tim, buat rencana kerja berikut.

9.14.1 Peran tim

  • Data Engineer: menyiapkan pipeline dan validasi otomatis.
  • Data Manager: memutuskan aturan cleaning dan quality gates.
  • Analis Statistik: memeriksa dampak cleaning terhadap hasil model.
  • QA/Reviewer Internal: mengaudit log dan reproduksibilitas.

9.14.2 Timeline contoh (7 hari)

  • Hari 1: audit struktur data + sinkronisasi codebook.
  • Hari 2: validasi format + harmonisasi kategori.
  • Hari 3: cek duplikasi + verifikasi lapangan.
  • Hari 4: audit missing + strategi imputasi.
  • Hari 5: deteksi outlier + keputusan treatment.
  • Hari 6: rekoding final + update codebook.
  • Hari 7: review log + freeze dataset analitik.

9.14.3 Deliverables minimum

  • dataset bersih versi final,
  • skrip cleaning lengkap,
  • codebook versi final,
  • data log perubahan,
  • laporan kualitas data ringkas.

9.15 Indikator mutu data yang perlu dilaporkan

Untuk menjaga transparansi, laporkan indikator berikut.

Indikator struktur:

  • persentase variabel sesuai tipe data target,
  • jumlah duplikasi ID,
  • jumlah rule logic yang dilanggar.

Indikator kelengkapan:

  • proporsi missing variabel kunci,
  • jumlah kasus dengan missing berantai.

Indikator konsistensi:

  • jumlah kategori non-standar sebelum/sesudah harmonisasi,
  • persentase catatan log yang memiliki justifikasi lengkap.

Indikator kesiapan analitik:

  • jumlah observasi final,
  • jumlah variabel final,
  • status freeze dataset (ya/tidak).

9.16 Praktik baik untuk naskah siap ISBN

Jika bab ini digunakan pada buku ajar nasional, lakukan standardisasi istilah agar konsisten antar bab:

  • gunakan istilah “struktur data” untuk format dataset,
  • gunakan “codebook” untuk metadata variabel,
  • gunakan “data cleaning” untuk proses pembersihan,
  • gunakan “data log” untuk dokumentasi perubahan.

Tambahan editorialis:

  • pastikan contoh tabel dan kode saling sesuai,
  • hindari kontradiksi kode kategori antar contoh,
  • konsisten menggunakan titik desimal dan format angka,
  • sertakan catatan batasan metode cleaning.

9.17 Studi mini: dari data mentah ke data analitik

Skenario:

Studi meneliti pengaruh literasi digital dan dukungan keluarga terhadap IPK mahasiswa. Data mentah terkumpul 800 responden.

Masalah awal yang ditemukan:

  • 22 ID duplikat,
  • 6% missing pada variabel pendapatan,
  • 14 label gender tidak konsisten,
  • 9 outlier pendapatan ekstrem,
  • 31 kasus logic mismatch (status kerja vs jam kerja).

Langkah penyelesaian:

  • verifikasi duplikasi berdasarkan timestamp dan log wawancara,
  • harmonisasi label kategori dengan kamus codebook,
  • imputasi variabel tertentu sesuai rencana analisis,
  • verifikasi outlier ke catatan lapangan,
  • perbaikan mismatch berdasarkan aturan logika.

Hasil akhir:

  • dataset final 789 observasi valid,
  • codebook diperbarui ke versi 2.0,
  • data log memuat 147 entri perubahan,
  • siap untuk analisis deskriptif dan inferensial.

Pembelajaran:

  • kualitas analisis sangat ditentukan ketelitian cleaning,
  • dokumentasi lebih penting dari kecepatan,
  • keputusan cleaning harus berbasis aturan, bukan intuisi sesaat.

9.18 Pendalaman: strategi missing data untuk analisis inferensial

Pada level dasar, missing sering ditangani dengan penghapusan baris atau imputasi sederhana. Namun untuk analisis inferensial, pendekatan ini perlu dipertimbangkan lebih kritis karena dapat memengaruhi bias estimasi dan ketepatan standar error.

9.18.1 Listwise deletion

Listwise deletion menghapus observasi yang memiliki missing pada variabel yang digunakan model.

Kelebihan:

  • mudah diterapkan,
  • transparan,
  • didukung default banyak fungsi statistik.

Keterbatasan:

  • ukuran sampel berkurang,
  • berisiko bias jika mekanisme missing bukan MCAR,
  • menurunkan power statistik.

Kapan dapat dipertimbangkan:

  • proporsi missing kecil,
  • pola missing tersebar acak,
  • analisis sensitifitas menunjukkan hasil relatif stabil.

9.18.2 Imputasi sederhana

Imputasi sederhana (mean/median/mode) sering dipakai pada tahap eksplorasi atau kebutuhan operasional cepat.

Kelebihan:

  • cepat,
  • menjaga jumlah observasi.

Keterbatasan:

  • mereduksi varians alami data,
  • berisiko mengecilkan ketidakpastian,
  • dapat menggeser hubungan antarvariabel.

Prinsip:

  • gunakan sebagai pendekatan pedagogis atau eksplorasi awal,
  • jangan jadikan satu-satunya strategi pada model inferensial utama tanpa justifikasi.

9.18.3 Multiple imputation

Multiple imputation membuat beberapa dataset hasil imputasi, menjalankan analisis pada masing-masing dataset, lalu menggabungkan hasilnya. Pendekatan ini lebih kuat dibanding imputasi tunggal ketika missing cukup berarti.

Keunggulan:

  • memodelkan ketidakpastian imputasi,
  • lebih realistis untuk inferensi,
  • umum direkomendasikan di banyak studi terapan.

Catatan implementasi:

  • model imputasi harus memasukkan variabel relevan,
  • jumlah imputasi perlu memadai,
  • hasil utama tetap perlu diuji dengan sensitivity checks.

9.18.4 Pelaporan missing yang baik

Untuk transparansi, laporan metodologi minimal memuat:

  • persentase missing per variabel kunci,
  • pola missing utama,
  • metode penanganan yang dipilih,
  • alasan pemilihan metode,
  • perbandingan ringkas hasil antar metode (jika ada).

Dengan pelaporan ini, pembaca memahami bahwa hasil analisis tidak lahir dari keputusan cleaning yang tersembunyi.

9.19 Pendalaman: penggabungan data (merge/join) yang aman

Dalam proyek kuantitatif, dataset sering berasal dari banyak sumber: survei individu, data rumah tangga, data sekolah, data wilayah, atau data administratif. Penggabungan data (join) menjadi titik kritis karena kesalahan kecil dapat merusak seluruh analisis.

9.19.1 Jenis join dan kegunaan

Jenis join yang umum:

  • left join: mempertahankan semua kasus pada dataset utama,
  • inner join: hanya mempertahankan kasus yang cocok di kedua dataset,
  • full join: mempertahankan semua kasus dari keduanya,
  • anti join: mendeteksi kasus yang tidak cocok.

Prinsip praktis:

  • untuk analisis survei utama, biasanya gunakan left join agar unit utama tidak hilang tanpa sadar;
  • gunakan anti join sebagai quality check untuk menemukan mismatch key.

9.19.2 Validasi sebelum join

Sebelum join, lakukan tiga pemeriksaan:

  • format key sama (tipe data, kapitalisasi, spasi),
  • key unik pada tabel referensi,
  • definisi key konsisten secara substantif.

Contoh masalah:

  • id_sekolah pada file A berupa angka, di file B berupa teks dengan nol di depan;
  • key tidak unik sehingga join menghasilkan duplikasi baris tak terduga.

9.19.3 Validasi sesudah join

Setelah join, cek:

  • perubahan jumlah baris,
  • jumlah nilai NA baru pada variabel hasil gabungan,
  • kasus mismatch yang perlu tindak lanjut.

Aturan audit sederhana:

  • jika jumlah baris meningkat tiba-tiba, kemungkinan ada one-to-many join tak diinginkan;
  • jika banyak nilai gabungan jadi kosong, cek kualitas key atau cakupan data referensi.

9.19.4 Contoh join check di R

library(dplyr)

utama <- tibble(
  id_responden = c("R001", "R002", "R003", "R004"),
  id_kecamatan = c("K01", "K01", "K02", "K03"),
  ipk = c(3.2, 3.5, 2.9, 3.8)
)

wilayah <- tibble(
  id_kecamatan = c("K01", "K02"),
  indeks_kemiskinan = c(12.4, 18.1)
)

# Join utama
gabung <- utama %>% left_join(wilayah, by = "id_kecamatan")

# Quality check: kecamatan yang tidak match
tidak_match <- utama %>% anti_join(wilayah, by = "id_kecamatan")

gabung
## # A tibble: 4 × 4
##   id_responden id_kecamatan   ipk indeks_kemiskinan
##   <chr>        <chr>        <dbl>             <dbl>
## 1 R001         K01            3.2              12.4
## 2 R002         K01            3.5              12.4
## 3 R003         K02            2.9              18.1
## 4 R004         K03            3.8              NA
tidak_match
## # A tibble: 1 × 3
##   id_responden id_kecamatan   ipk
##   <chr>        <chr>        <dbl>
## 1 R004         K03            3.8

Contoh di atas menunjukkan K03 tidak memiliki pasangan pada data wilayah. Keputusan lanjutannya bisa berupa pelengkapan data referensi atau pelaporan eksplisit bahwa indikator wilayah tidak tersedia untuk sebagian unit.

9.20 Data cleaning berbasis aturan (rule-based cleaning)

Pendekatan rule-based membantu tim menjaga konsistensi keputusan cleaning. Alih-alih keputusan ad-hoc, tim menetapkan aturan sejak awal.

Contoh aturan:

  • usia harus 15-65 untuk studi pemuda kerja,
  • ipk harus 0-4,
  • jam_belajar_mingguan harus 0-120,
  • jika status_kerja = 0 maka jam_kerja_mingguan harus 0.

Keuntungan pendekatan rule-based:

  • keputusan lebih objektif,
  • memudahkan otomatisasi,
  • memudahkan audit internal.

9.20.1 Klasifikasi rule

Rule bisa dibagi menjadi:

  • hard rules: wajib dipenuhi; jika gagal harus diperbaiki/diverifikasi;
  • soft rules: indikasi anomali; perlu review manual.

Contoh hard rule:

  • ID tidak boleh kosong.

Contoh soft rule:

  • durasi wawancara sangat cepat.

Dengan klasifikasi ini, tim dapat memprioritaskan perbaikan berdasarkan tingkat risiko.

9.21 Automasi quality checks

Untuk dataset besar, quality checks manual akan lambat dan rentan kelupaan. Automasi membantu memastikan semua pemeriksaan dijalankan konsisten.

Langkah automasi minimum:

  • skrip validasi tipe data,
  • skrip cek rentang nilai,
  • skrip cek missing per variabel,
  • skrip cek duplikasi key,
  • skrip ringkasan outlier.

Output automasi sebaiknya berupa:

  • tabel ringkasan masalah,
  • daftar ID bermasalah,
  • status lulus/gagal per rule.

Jika memungkinkan, integrasikan output ke dashboard internal agar supervisor data dapat memantau progres harian.

9.22 Pengendalian kualitas saat data cleaning tim kolaboratif

Ketika beberapa orang mengerjakan cleaning secara paralel, risiko inkonsistensi meningkat. Karena itu, tata kelola kolaborasi wajib disiapkan.

Prinsip kolaborasi:

  • satu sumber kebenaran (single source of truth) untuk codebook,
  • perubahan lewat skrip terpusat,
  • review sejawat (peer review) untuk perubahan signifikan,
  • freeze period sebelum analisis final.

9.22.1 Mekanisme review perubahan

Setiap perubahan besar (misal rekoding variabel utama) sebaiknya melalui tahapan:

  1. usulan perubahan tertulis,
  2. justifikasi metodologis,
  3. uji dampak pada statistik deskriptif,
  4. persetujuan data manager,
  5. pembaruan codebook dan log.

Dengan mekanisme ini, proyek terhindar dari perubahan diam-diam yang sulit dilacak.

9.23 Cleaning untuk data survei digital (CAPI/CAWI)

Survei digital memberi keunggulan validasi real-time, tetapi tetap memerlukan cleaning pasca-pengumpulan.

Keunggulan validasi real-time:

  • range checks saat input,
  • skip logic otomatis,
  • mandatory response untuk item tertentu,
  • timestamp dan metadata perangkat.

Namun masalah yang masih bisa muncul:

  • jawaban tidak jujur,
  • straight-lining pada skala Likert,
  • duplikasi akun/perangkat pada survei online,
  • sinkronisasi data yang terlambat.

Tambahan checks untuk data digital:

  • cek kecepatan pengisian (speeding),
  • cek pola jawaban berulang yang tidak wajar,
  • cek konsistensi geolokasi jika digunakan secara etis,
  • cek stabilitas koneksi yang memicu data parsial.

9.24 Menjaga integritas data dalam publikasi dan skripsi/tesis

Di tahap penulisan, integritas data harus tetap dijaga. Jangan mengubah data hanya untuk "membuat hasil signifikan". Praktik tersebut melanggar etika ilmiah.

Prinsip integritas:

  • pisahkan proses cleaning dari proses pemodelan,
  • dokumentasikan semua keputusan yang memengaruhi hasil,
  • laporkan hasil robust check jika ada alternatif cleaning,
  • jangan menyembunyikan keterbatasan kualitas data.

Contoh pelaporan jujur:

"Hasil model sensitif terhadap perlakuan outlier pendapatan; karena itu penelitian melaporkan dua spesifikasi model (tanpa winsorisasi dan dengan winsorisasi) sebagai uji ketahanan hasil."

Pendekatan ini meningkatkan kredibilitas naskah dibanding hanya menampilkan satu hasil terbaik.

9.25 Checklist final sebelum dataset dibekukan (data freeze)

Data freeze adalah titik ketika dataset final ditetapkan untuk analisis utama. Setelah freeze, perubahan harus sangat terbatas dan melalui prosedur resmi.

Checklist data freeze:

  • codebook final tersedia dan sinkron dengan dataset,
  • seluruh rule hard lulus atau memiliki justifikasi tertulis,
  • log perubahan lengkap hingga versi final,
  • ringkasan missing dan outlier terdokumentasi,
  • skrip cleaning dapat dijalankan ulang tanpa error,
  • dataset final diberi nama versi dan tanggal.

Format penamaan file final yang disarankan:

  • data_clean_v2_0_2026-02-27.csv
  • codebook_v2_0_2026-02-27.xlsx
  • data_log_v2_0_2026-02-27.csv

Dengan sistem ini, tim dapat menghindari kebingungan akibat banyak file "final_revisi_fix_terbaru" yang sering muncul pada proyek tanpa tata kelola.

9.26 Rubrik evaluasi kualitas data untuk pengajaran

Untuk konteks kelas metodologi, dosen dapat menilai kualitas manajemen data mahasiswa menggunakan rubrik.

Komponen rubrik:

  • ketepatan struktur data (0-20),
  • kelengkapan codebook (0-20),
  • kualitas cleaning script (0-20),
  • kualitas data log (0-20),
  • kualitas pelaporan metodologis (0-20).

Interpretasi:

  • 85-100: sangat baik, siap analisis lanjutan,
  • 70-84: baik, perlu perbaikan minor,
  • 55-69: cukup, perlu revisi signifikan,
  • <55: belum layak untuk analisis inferensial.

Rubrik ini membantu mahasiswa memahami bahwa manajemen data memiliki bobot ilmiah setara dengan analisis statistik.

9.27 Catatan implementasi untuk naskah siap ISBN

Jika bab ini ditujukan untuk buku ajar nasional, sertakan lampiran operasional berikut agar pembaca dapat langsung menerapkan materi:

  • template codebook kosong (format tabel siap isi),
  • template data log perubahan,
  • contoh rule-based checks,
  • contoh ringkasan kualitas data,
  • contoh narasi metodologi cleaning untuk skripsi/tesis.

Gunakan istilah secara konsisten antar bab:

  • "validasi" untuk verifikasi data/prosedur,
  • "validitas" untuk mutu pengukuran instrumen,
  • "cleaning" untuk pembersihan data,
  • "rekoding" untuk transformasi nilai kategori.

Konsistensi istilah akan mengurangi salah tafsir konseptual dan meningkatkan kualitas akademik naskah secara keseluruhan.

9.28 Latihan bab 10

  1. Buat codebook minimal 15 variabel untuk topik “prestasi akademik mahasiswa”, lengkap dengan tipe data, rentang nilai, kode missing, dan sumber item.
  2. Terapkan prosedur cleaning pada dataset simulasi yang memiliki masalah: duplikasi ID, missing values, kategori tidak konsisten, dan outlier.
  3. Tulis data log ringkas minimal 10 entri dari proses cleaning yang Anda lakukan, termasuk alasan perubahan dan penanggung jawab.
  4. Buat minimal lima logic checks antarvariabel, lalu jelaskan apa yang Anda lakukan ketika rule dilanggar.
  5. Tulis paragraf metodologi (200-300 kata) yang menjelaskan proses cleaning Anda secara akademik.

9.29 Kunci jawaban ringkas bab 10

  1. Codebook yang baik harus memiliki metadata inti (nama variabel, label, tipe, rentang valid, missing, sumber) dan konsisten dengan instrumen. Jika variabel kategorik, kategori dan kodenya harus eksplisit.
  2. Prosedur cleaning minimal dimulai dari validasi format, dilanjutkan pemeriksaan duplikasi, missing, outlier, rekoding, lalu dokumentasi. Tidak ada langkah yang boleh dilewati jika data akan dipakai untuk inferensi.
  3. Data log wajib memuat tanggal, variabel terdampak, nilai lama-baru (jika ada), metode perubahan, alasan, dan penanggung jawab. Tanpa log, perubahan data sulit diaudit.
  4. Logic checks harus menghubungkan variabel yang secara substantif berkaitan, misalnya status kerja dengan jam kerja, semester dengan rentang IPK, atau usia dengan status pendidikan. Pelanggaran rule harus diverifikasi, bukan langsung dihapus.
  5. Narasi metodologi yang baik menyebut jumlah data awal, jenis masalah data, langkah cleaning yang dilakukan, dampaknya terhadap jumlah observasi akhir, serta rujukan ke codebook dan data log.

9.30 Catatan akhir implementasi pembelajaran

Untuk kepentingan pembelajaran metodologi kuantitatif, Bab 10 sebaiknya digunakan dalam dua tahap. Tahap pertama berfokus pada praktik teknis: mahasiswa membangun struktur data, menyusun codebook, lalu menjalankan cleaning dasar hingga lanjutan secara skrip. Tahap kedua berfokus pada argumentasi metodologis: mahasiswa diminta menjelaskan mengapa suatu keputusan cleaning diambil dan bagaimana keputusan itu mempengaruhi inferensi. Dengan skema ini, mahasiswa tidak hanya bisa "membersihkan data", tetapi juga memahami konsekuensi ilmiah dari setiap tindakan. Pendekatan ini sangat relevan untuk skripsi, tesis, evaluasi program, dan riset kebijakan, karena kualitas temuan akhir sangat bergantung pada disiplin manajemen data di tahap awal penelitian. Dalam konteks kelas, dosen juga disarankan menilai proses, bukan hanya output akhir, agar mahasiswa terbiasa bekerja transparan, terdokumentasi, dan bertanggung jawab secara akademik. Pola ini mendorong budaya riset yang reproducible dan memperkuat kualitas keputusan statistik pada tahap analisis lanjutan. Dampaknya terlihat pada meningkatnya konsistensi laporan metode antarpeneliti. Praktik tersebut juga memperkuat kesiapan data untuk audit eksternal. Hal ini penting untuk mutu kebijakan berbasis bukti secara nasional.

9.31 Penutup

Struktur data yang benar, codebook yang lengkap, dan data cleaning yang disiplin merupakan fondasi analisis kuantitatif yang kredibel. Ketika tiga komponen ini dikerjakan secara sistematis, hasil statistik menjadi lebih dapat dipercaya, lebih mudah direplikasi, dan lebih kuat saat dipertanggungjawabkan di hadapan pembimbing, reviewer, maupun pembaca publik. Dalam praktik penelitian modern, kualitas temuan bukan hanya ditentukan oleh teknik analisis yang canggih, tetapi oleh ketelitian menata data sejak awal hingga akhir. ***

10 Bab Statistik Deskriptif, Visualisasi, dan Eksplorasi Data

10.1 Pengantar

Statistik deskriptif, visualisasi, dan eksplorasi data merupakan fondasi analisis kuantitatif sebelum peneliti melangkah ke inferensi atau pengujian hipotesis. Banyak kesalahan metodologis terjadi karena peneliti melewati tahap eksplorasi dan langsung menjalankan model statistik. Akibatnya, hasil uji terlihat “signifikan”, tetapi dibangun di atas data dengan distribusi tidak dipahami, outlier tidak ditinjau, missing tidak dipetakan, atau pola hubungan yang sebenarnya non-linear.

Bab ini menempatkan analisis deskriptif sebagai proses ilmiah, bukan sekadar tabel angka di awal laporan. Tujuannya bukan hanya “meringkas” data, tetapi membaca karakter data secara mendalam: pusat distribusi, penyebaran, bentuk distribusi, anomali, ketimpangan kelompok, serta indikasi hubungan awal antarvariabel. Dengan pemahaman ini, peneliti dapat memilih model inferensial yang lebih tepat dan menulis interpretasi yang lebih bertanggung jawab.

Dalam konteks buku ajar nasional, pembahasan difokuskan pada praktik yang dapat langsung diterapkan di kelas, skripsi/tesis, dan riset kebijakan. Bab ini dilengkapi konsep inti, contoh sosial, contoh kode R, prinsip visualisasi, standar pelaporan, kesalahan umum, latihan, serta kunci jawaban ringkas.

10.2 Peran statistik deskriptif dalam siklus penelitian

Statistik deskriptif berfungsi sebagai jembatan antara data mentah dan inferensi. Fungsi utamanya:

  • memeriksa kualitas awal data,
  • memahami karakter variabel,
  • mendeteksi nilai tidak wajar,
  • memetakan perbedaan awal antar kelompok,
  • memberi konteks substantif sebelum uji hipotesis.

Pada penelitian sosial, statistik deskriptif juga penting untuk menjawab pertanyaan kebijakan dasar. Contoh:

  • berapa proporsi pemuda yang bekerja formal?
  • bagaimana rata-rata jam belajar per minggu?
  • kelompok mana yang memiliki capaian nilai paling bervariasi?

Pertanyaan ini sering kali sudah bernilai kebijakan, bahkan sebelum model inferensial dijalankan.

10.3 Ukuran pemusatan

Ukuran pemusatan menggambarkan titik pusat distribusi data. Tiga ukuran inti:

  • Mean
  • Median
  • Modus

10.3.1 Mean (rata-rata)

Mean adalah jumlah seluruh nilai dibagi banyak observasi. Mean sangat informatif untuk data numerik kontinu, terutama ketika distribusi relatif simetris.

Kelebihan mean:

  • menggunakan seluruh informasi nilai,
  • mudah dibandingkan antar kelompok,
  • umum dipakai dalam banyak model statistik.

Keterbatasan mean:

  • sensitif terhadap outlier,
  • dapat menyesatkan pada distribusi sangat miring.

Contoh:

Jika pendapatan mayoritas responden berada di kisaran 2-5 juta, tetapi ada beberapa nilai 50 juta, mean dapat meningkat tajam dan tidak lagi mewakili mayoritas responden.

10.3.2 Median (nilai tengah)

Median adalah nilai yang membagi data terurut menjadi dua bagian sama besar. Median lebih robust terhadap outlier dibanding mean.

Kapan median lebih tepat:

  • distribusi miring (skewed),
  • data dengan outlier ekstrem,
  • variabel ekonomi seperti pendapatan atau pengeluaran.

Interpretasi median:

Jika median pendapatan 3,2 juta, artinya 50% responden memiliki pendapatan <= 3,2 juta dan 50% lainnya >= 3,2 juta.

10.3.3 Modus (nilai paling sering)

Modus adalah nilai yang paling sering muncul. Modus berguna terutama untuk data kategorik.

Contoh penggunaan:

  • kategori transportasi paling sering digunakan,
  • jenis pekerjaan dominan,
  • pilihan jawaban paling populer pada skala sikap.

Catatan:

  • data dapat memiliki lebih dari satu modus (multimodal),
  • pada data kontinu, modus kurang stabil jika kelas interval tidak dirancang baik.

10.3.4 Kapan memilih mean, median, atau modus

Panduan praktis:

  • gunakan mean untuk distribusi relatif simetris,
  • gunakan median untuk distribusi miring/outlier,
  • gunakan modus untuk data kategorik atau identifikasi kategori dominan.

Dalam pelaporan yang baik, mean dan median sering dilaporkan bersamaan untuk memberi gambaran lebih lengkap.

10.4 Rumus analisis deskriptif inti

Berikut rumus-rumus yang paling sering dipakai pada analisis deskriptif.

10.4.1 Rata-rata (mean)

\[ \bar{x} = \frac{1}{n}\sum_{i=1}^{n}x_i \]

10.4.2 Rata-rata tertimbang (weighted mean)

\[ \bar{x}_w = \frac{\sum_{i=1}^{n} w_i x_i}{\sum_{i=1}^{n} w_i} \]

10.4.3 Median

Untuk data yang diurutkan \(x_{(1)} \le \cdots \le x_{(n)}\):

\[ \tilde{x} = \begin{cases} x_{\left(\frac{n+1}{2}\right)}, & n \text{ ganjil} \\ \frac{x_{(n/2)} + x_{(n/2+1)}}{2}, & n \text{ genap} \end{cases} \]

10.4.4 Modus

Modus adalah nilai dengan frekuensi terbesar:

\[ \text{Mo} = \arg\max_x f(x) \]

dengan \(f(x)\) frekuensi kemunculan nilai \(x\).

10.4.5 Varians sampel

\[ s^2 = \frac{1}{n-1}\sum_{i=1}^{n}(x_i-\bar{x})^2 \]

10.4.6 Simpangan baku sampel

\[ s = \sqrt{s^2} \]

10.4.7 Rentang (range)

\[ R = x_{\max} - x_{\min} \]

10.4.8 Kuartil dan IQR

\[ IQR = Q_3 - Q_1 \]

10.4.9 Koefisien variasi

\[ CV = \frac{s}{\bar{x}} \times 100\% \]

10.4.10 Persentil ke-\(p\)

\[ P_p = \text{nilai pada posisi } \frac{p}{100}(n+1) \]

10.4.11 Skewness (bentuk momen sampel)

\[ g_1 = \frac{\frac{1}{n}\sum_{i=1}^{n}(x_i-\bar{x})^3}{\left(\frac{1}{n}\sum_{i=1}^{n}(x_i-\bar{x})^2\right)^{3/2}} \]

10.4.12 Kurtosis (bentuk momen sampel)

\[ g_2 = \frac{\frac{1}{n}\sum_{i=1}^{n}(x_i-\bar{x})^4}{\left(\frac{1}{n}\sum_{i=1}^{n}(x_i-\bar{x})^2\right)^2} \]

10.4.13 Ringkasan frekuensi dan proporsi

Untuk kategori ke-\(j\):

\[ p_j = \frac{f_j}{n},\quad \%\_j = p_j \times 100\% \]

dengan \(f_j\) adalah frekuensi kategori ke-\(j\).

10.5 Ukuran penyebaran

Ukuran pemusatan saja tidak cukup. Dua kelompok bisa memiliki mean sama tetapi tingkat variasi berbeda jauh. Karena itu, ukuran penyebaran wajib dilaporkan.

Ukuran inti:

  • Varians
  • Simpangan baku
  • Rentang
  • Interquartile range

10.5.1 Varians

Varians mengukur rata-rata kuadrat deviasi nilai terhadap mean.

Makna praktis:

  • varians besar -> data sangat tersebar,
  • varians kecil -> data relatif terkonsentrasi.

Keterbatasan:

  • satuannya kuadrat dari satuan asli, sehingga kurang intuitif untuk interpretasi langsung.

10.5.2 Simpangan baku (standard deviation)

Simpangan baku adalah akar kuadrat varians, sehingga kembali ke satuan asli data.

Interpretasi sederhana:

  • SD kecil: nilai relatif dekat mean,
  • SD besar: nilai menyebar luas.

Dalam distribusi mendekati normal:

  • sekitar 68% data berada pada mean +/- 1 SD,
  • sekitar 95% data berada pada mean +/- 2 SD.

Aturan ini berguna sebagai orientasi awal, bukan hukum mutlak untuk semua data sosial.

10.5.3 Rentang

Rentang = nilai maksimum - nilai minimum.

Kelebihan:

  • sangat mudah dihitung,
  • cepat memberi gambaran kasar penyebaran.

Keterbatasan:

  • sangat dipengaruhi nilai ekstrem,
  • tidak memperhitungkan distribusi nilai di tengah.

10.5.4 Interquartile range (IQR)

IQR adalah selisih kuartil ketiga (Q3) dan kuartil pertama (Q1), mencakup 50% data tengah.

Kelebihan IQR:

  • lebih robust terhadap outlier,
  • cocok untuk distribusi miring,
  • menjadi dasar umum deteksi outlier (aturan 1.5 x IQR).

10.6 Distribusi dan bentuk data

Selain pusat dan penyebaran, bentuk distribusi menentukan cara membaca data dan memilih metode analisis.

Aspek penting:

  • simetri/kemencengan (skewness),
  • keruncingan (kurtosis),
  • kemungkinan multi-modality.

10.6.1 Skewness (kemencengan)

Skewness menggambarkan ketidaksimetrian distribusi.

Jenis umum:

  • skew positif (miring ke kanan): ekor panjang di sisi nilai tinggi,
  • skew negatif (miring ke kiri): ekor panjang di sisi nilai rendah,
  • simetris: bentuk relatif seimbang.

Contoh sosial:

  • pendapatan sering skew positif,
  • nilai ujian yang sangat mudah dapat skew negatif,
  • tinggi badan populasi dewasa sering lebih mendekati simetris.

Implikasi:

  • distribusi sangat skew dapat memengaruhi interpretasi mean,
  • perlu pertimbangan transformasi atau metode robust pada tahap inferensial.

10.6.2 Kurtosis (keruncingan)

Kurtosis menggambarkan ketebalan ekor distribusi dan konsentrasi nilai di sekitar pusat.

Interpretasi umum:

  • kurtosis tinggi: lebih banyak nilai ekstrem,
  • kurtosis rendah: distribusi lebih datar.

Dalam praktik terapan, kurtosis dipakai sebagai indikator tambahan, bukan satu-satunya dasar keputusan analitik.

10.6.3 Multi-modality

Distribusi multimodal memiliki lebih dari satu puncak. Ini bisa menandakan adanya subpopulasi dengan karakter berbeda.

Contoh:

Distribusi skor kemampuan digital mahasiswa memiliki dua puncak: kelompok yang sangat terbiasa teknologi dan kelompok yang terbatas aksesnya.

Implikasi:

  • analisis agregat tunggal bisa menutupi heterogenitas,
  • pertimbangkan analisis per kelompok,
  • visualisasi histogram/density sangat penting untuk deteksi awal.

10.7 Statistik deskriptif untuk data kategorik

Walau pembahasan sering fokus pada data numerik, riset sosial banyak memakai data kategorik. Untuk variabel kategorik, ukuran utama:

  • frekuensi,
  • persentase,
  • proporsi kumulatif (jika ordinal).

Contoh pelaporan baik:

  • Jenis kelamin: 54,2% perempuan, 45,8% laki-laki.
  • Status kerja: 38% tidak bekerja, 42% informal, 20% formal.

Catatan:

  • pastikan penyebut (denominator) jelas,
  • bedakan persentase dari total sampel vs persentase valid (setelah missing).

10.8 Statistik deskriptif lintas kelompok

Analisis deskriptif lebih bernilai bila membandingkan kelompok relevan.

Contoh perbandingan:

  • mean nilai antar kelompok intervensi vs kontrol,
  • median pendapatan urban vs rural,
  • proporsi kerja formal menurut tingkat pendidikan.

Prinsip kehati-hatian:

  • perbedaan deskriptif belum tentu kausal,
  • pastikan ukuran sampel per kelompok cukup,
  • laporkan juga penyebaran, bukan hanya pusat.

10.9 Eksplorasi data (EDA) sebagai proses berpikir

Exploratory Data Analysis (EDA) adalah pendekatan sistematis untuk memahami data melalui kombinasi statistik ringkas dan visualisasi. EDA bertujuan menemukan pola, anomali, dan hipotesis awal.

Tahap EDA yang disarankan:

  • audit struktur variabel,
  • ringkasan univariat,
  • visualisasi univariat,
  • eksplorasi bivariat/multivariat awal,
  • pemeriksaan missing dan outlier,
  • dokumentasi temuan kunci.

EDA yang baik selalu menghasilkan keputusan konkret, misalnya:

  • variabel mana perlu transformasi,
  • kelompok mana perlu analisis terpisah,
  • indikator mana perlu verifikasi ulang data.

10.10 Contoh eksplorasi data di R

set.seed(42)
df2 <- tibble(
  jam_belajar = rnorm(120, mean = 3.5, sd = 1.1),
  nilai = 55 + 7 * jam_belajar + rnorm(120, sd = 6),
  kelompok = sample(c("Kontrol", "Intervensi"), 120, replace = TRUE)
)

summary(df2)
##   jam_belajar         nilai          kelompok        
##  Min.   :0.2076   Min.   : 57.71   Length:120        
##  1st Qu.:2.8667   1st Qu.: 73.15   Class :character  
##  Median :3.5980   Median : 79.21   Mode  :character  
##  Mean   :3.5326   Mean   : 79.09                     
##  3rd Qu.:4.2192   3rd Qu.: 86.22                     
##  Max.   :6.4721   Max.   :100.17
psych::describe(df2[, c("jam_belajar", "nilai")])
##             vars   n  mean   sd median trimmed  mad   min    max range  skew
## jam_belajar    1 120  3.53 1.14   3.60    3.56 0.99  0.21   6.47  6.26 -0.25
## nilai          2 120 79.09 8.97  79.21   79.42 9.73 57.71 100.17 42.46 -0.28
##             kurtosis   se
## jam_belajar     0.23 0.10
## nilai          -0.42 0.82

Kode di atas memberikan dua level ringkasan:

  • summary() menampilkan min, kuartil, median, mean, max,
  • psych::describe() memberi ringkasan lebih kaya termasuk SD, skewness, kurtosis.

Tambahan EDA yang dianjurkan:

# Cek missing
colSums(is.na(df2))
## jam_belajar       nilai    kelompok 
##           0           0           0
# Korelasi awal antar variabel numerik
cor(df2$jam_belajar, df2$nilai)
## [1] 0.80735
# Ringkasan per kelompok
df2 %>%
  group_by(kelompok) %>%
  summarise(
    n = n(),
    mean_nilai = mean(nilai),
    sd_nilai = sd(nilai),
    median_nilai = median(nilai)
  )
## # A tibble: 2 × 5
##   kelompok       n mean_nilai sd_nilai median_nilai
##   <chr>      <int>      <dbl>    <dbl>        <dbl>
## 1 Intervensi    57       79.2     9.26         80.1
## 2 Kontrol       63       79.0     8.77         78.4

Output ini membantu membaca apakah ada perbedaan awal antar kelompok dan apakah hubungan jam_belajar dengan nilai tampak linear.

10.11 Visualisasi inti

ggplot(df2, aes(nilai)) +
  geom_histogram(bins = 20, fill = "#0a3d91", color = "white") +
  labs(title = "Distribusi Nilai", x = "Nilai", y = "Frekuensi")

Histogram membantu melihat bentuk distribusi, skewness, dan kemungkinan outlier. Pilihan jumlah bins memengaruhi tampilan; gunakan nilai yang tidak terlalu kasar dan tidak terlalu halus.

ggplot(df2, aes(kelompok, nilai, fill = kelompok)) +
  geom_boxplot(alpha = 0.7) +
  scale_fill_manual(values = c("#0a3d91", "#f07b16")) +
  theme(legend.position = "none") +
  labs(title = "Perbandingan Nilai per Kelompok")

Boxplot efektif menampilkan median, IQR, dan kandidat outlier antar kelompok.

10.11.1 Visualisasi tambahan yang disarankan

Scatterplot hubungan dua variabel numerik:

ggplot(df2, aes(jam_belajar, nilai, color = kelompok)) +
  geom_point(alpha = 0.75) +
  geom_smooth(method = "lm", se = FALSE) +
  scale_color_manual(values = c("#0a3d91", "#f07b16")) +
  labs(title = "Hubungan Jam Belajar dan Nilai", x = "Jam Belajar", y = "Nilai")

Density plot per kelompok:

ggplot(df2, aes(nilai, fill = kelompok)) +
  geom_density(alpha = 0.35) +
  scale_fill_manual(values = c("#0a3d91", "#f07b16")) +
  labs(title = "Kurva Kepadatan Nilai per Kelompok", x = "Nilai", y = "Densitas")

Bar chart variabel kategorik:

ggplot(df2, aes(kelompok, fill = kelompok)) +
  geom_bar() +
  scale_fill_manual(values = c("#0a3d91", "#f07b16")) +
  theme(legend.position = "none") +
  labs(title = "Komposisi Sampel per Kelompok", x = "Kelompok", y = "Jumlah")

10.12 Prinsip desain visualisasi yang baik

Visualisasi statistik bukan dekorasi, tetapi alat berpikir. Prinsip penting:

  • jelas: judul dan label sumbu informatif,
  • jujur: skala tidak menyesatkan,
  • relevan: grafik menjawab pertanyaan analitik,
  • ringkas: hindari elemen visual berlebihan,
  • konsisten: gunakan palet warna dan format yang seragam.

Kesalahan umum visualisasi:

  • terlalu banyak warna tanpa makna,
  • sumbu dipotong sehingga memperbesar perbedaan kecil,
  • menumpuk banyak variabel dalam satu grafik hingga sulit dibaca,
  • tidak mencantumkan satuan.

10.13 Membaca outlier secara analitik

Outlier tidak selalu kesalahan. Pada data sosial, outlier bisa mewakili kelompok kecil yang substantif penting.

Langkah membaca outlier:

  • cek kemungkinan salah input,
  • cek konteks substantif,
  • bandingkan hasil deskriptif dengan dan tanpa outlier,
  • dokumentasikan keputusan.

Contoh:

Nilai pendapatan sangat tinggi mungkin benar untuk responden pengusaha sukses. Menghapus nilai ini tanpa alasan dapat mereduksi realitas ketimpangan yang justru penting.

10.14 Missing data dalam statistik deskriptif

Missing harus dilaporkan sebagai bagian dari kualitas data, bukan disembunyikan.

Pelaporan minimal:

  • jumlah dan persentase missing per variabel,
  • apakah persentase missing berbeda antar kelompok,
  • bagaimana missing ditangani pada tabel/grafik.

Praktik baik:

  • gunakan catatan kaki tabel jika basis observasi berbeda,
  • hindari membandingkan persentase antar variabel dengan denominator berbeda tanpa penjelasan.

10.15 Tabel deskriptif yang siap publikasi

Tabel deskriptif yang baik biasanya mencakup:

  • nama variabel,
  • N valid,
  • mean (SD) atau median (IQR),
  • minimum-maksimum,
  • persentase kategori (untuk variabel kategorik).

Contoh format ringkas:

  • Usia (tahun): 20,8 (2,1), N=480
  • Pendapatan (juta): median 3,4 (IQR 2,1-5,2), N=450
  • Kelompok intervensi: 52,1%

Untuk konsistensi naskah nasional, pilih satu gaya pelaporan dan gunakan seragam di seluruh bab.

10.16 Narasi deskriptif yang kuat

Deskripsi data yang baik bukan daftar angka tanpa makna. Narasi harus:

  • menyoroti pola utama,
  • menyinggung anomali penting,
  • mengaitkan dengan konteks penelitian,
  • menghindari klaim kausal prematur.

Contoh narasi kuat:

“Rata-rata jam belajar responden adalah 3,6 jam per hari (SD 1,1), dengan distribusi nilai akademik cenderung simetris. Kelompok intervensi menunjukkan median nilai lebih tinggi dibanding kontrol, meski terdapat tumpang tindih distribusi yang cukup besar. Ditemukan beberapa nilai pendapatan ekstrem yang telah diverifikasi sebagai kasus valid dan tetap dipertahankan pada analisis deskriptif.”

10.17 Pelaporan deskriptif

Laporan deskriptif yang baik menyebutkan:

  • jumlah observasi valid,
  • rerata dan simpangan baku,
  • sebaran kategori utama,
  • catatan data tidak biasa (outlier/missing).

Tambahan untuk laporan lebih kuat:

  • median dan IQR untuk data miring,
  • proporsi missing per variabel kunci,
  • perbandingan deskriptif antar kelompok,
  • penjelasan keterbatasan data deskriptif.

10.18 Kesalahan umum pada analisis deskriptif

Kesalahan 1: hanya melaporkan mean tanpa SD/median/IQR.
Dampak: pembaca tidak tahu variasi data.

Kesalahan 2: menyimpulkan sebab-akibat dari tabel deskriptif.
Dampak: overclaim metodologis.

Kesalahan 3: tidak menyebut N valid tiap variabel.
Dampak: interpretasi bias jika missing besar.

Kesalahan 4: memilih grafik tidak sesuai tipe data.
Dampak: informasi salah dibaca.

Kesalahan 5: mengabaikan outlier tanpa catatan.
Dampak: transparansi ilmiah rendah.

10.19 Rencana kerja eksplorasi data untuk tim riset

Untuk proyek tim, gunakan alur berikut.

Tahap 1: audit data awal

  • cek struktur variabel,
  • cek missing,
  • cek duplikasi,
  • cek rentang nilai.

Tahap 2: statistik deskriptif inti

  • hitung ukuran pusat/penyebaran,
  • buat tabel frekuensi kategori,
  • ringkas statistik per kelompok.

Tahap 3: visualisasi kunci

  • histogram/density,
  • boxplot per kelompok,
  • scatterplot variabel utama,
  • bar chart komposisi kategori.

Tahap 4: memo temuan

  • tulis 1-2 halaman ringkasan pola,
  • daftar isu data yang perlu tindak lanjut,
  • rekomendasi tahap inferensial.

10.20 Contoh mini-studi deskriptif

Konteks:

Studi menilai hubungan jam belajar dan nilai statistik pada 120 mahasiswa, dengan dua kelompok pembelajaran.

Temuan deskriptif hipotetik:

  • rata-rata jam belajar 3,5 jam/hari,
  • rata-rata nilai 79,2 (SD 8,7),
  • kelompok intervensi memiliki median nilai 81, kontrol 77,
  • korelasi awal jam belajar-nilai positif sedang,
  • terdapat outlier nilai sangat tinggi namun valid.

Interpretasi awal:

  • ada indikasi hubungan positif antara intensitas belajar dan capaian,
  • terdapat perbedaan distribusi nilai antar kelompok,
  • diperlukan inferensi lanjutan untuk menguji signifikansi dan ukuran efek.

10.21 Integrasi deskriptif dengan tahap inferensi

Statistik deskriptif harus memandu keputusan inferensial berikutnya.

Contoh integrasi:

  • jika distribusi sangat miring -> pertimbangkan transformasi atau metode nonparametrik,
  • jika varians antar kelompok sangat berbeda -> gunakan uji yang robust terhadap heteroskedastisitas,
  • jika ada subkelompok jelas -> pertimbangkan model interaksi atau stratifikasi.

Dengan cara ini, inferensi tidak dilakukan secara mekanis, melainkan berbasis pemahaman data.

10.22 Checklist kualitas bab hasil deskriptif

Sebelum finalisasi laporan, cek:

  • tabel inti sudah mencantumkan N valid,
  • ukuran pusat dan penyebaran dilaporkan lengkap,
  • grafik utama jelas dan konsisten,
  • outlier/missing dibahas singkat,
  • narasi tidak overclaim,
  • istilah statistik konsisten antar bab.

Checklist sederhana ini membantu menjaga mutu penulisan akademik dan kesiapan publikasi.

10.23 Catatan implementasi untuk naskah siap ISBN

Untuk buku ajar nasional, bagian deskriptif sebaiknya memiliki konsistensi editorial berikut:

  • format angka seragam (misal dua desimal),
  • penggunaan istilah baku (rerata/median/simpangan baku),
  • gaya grafik konsisten (warna, font, label),
  • keterangan sumber data pada setiap tabel/grafik,
  • catatan metodologis singkat untuk keputusan penting.

Tambahkan lampiran praktis:

  • template tabel deskriptif,
  • template narasi deskriptif,
  • script R ringkas untuk analisis awal,
  • checklist evaluasi kualitas grafik.

Dengan demikian, bab tidak hanya informatif tetapi juga langsung dapat dipakai dosen, mahasiswa, dan peneliti terapan.

10.24 Pendalaman: eksplorasi bivariat dan multivariat awal

Setelah analisis univariat selesai, langkah berikutnya adalah melihat hubungan antarvariabel. Tahap ini masih bersifat eksploratif, namun sangat penting untuk membaca pola awal.

10.24.1 Hubungan numerik-numerik

Untuk dua variabel numerik, alat utama:

  • scatterplot,
  • koefisien korelasi,
  • garis tren awal.

Hal yang perlu diperhatikan:

  • linearitas hubungan,
  • sebaran residual kasar,
  • pengaruh outlier pada korelasi.

Korelasi tinggi tidak selalu berarti hubungan kausal. Korelasi bisa dipengaruhi variabel ketiga, struktur kelompok, atau pola non-linear.

10.24.2 Hubungan kategorik-numerik

Untuk satu variabel kategorik dan satu variabel numerik:

  • boxplot/violin plot,
  • ringkasan mean-median per kategori,
  • perbandingan sebaran antar kategori.

Pertanyaan deskriptif:

  • apakah perbedaan antar kategori terlihat jelas?
  • apakah variasi antar kategori sama atau sangat berbeda?
  • apakah ada kategori dengan outlier dominan?

10.24.3 Hubungan kategorik-kategorik

Untuk dua variabel kategorik:

  • tabel silang (contingency table),
  • proporsi bar chart (100% stacked),
  • heatmap frekuensi/proposi.

Fokus interpretasi:

  • komposisi proporsi tiap kategori,
  • pola ketimpangan antar sel,
  • kategori mana yang paling dominan/tertinggal.

10.25 Matriks korelasi dan interpretasi hati-hati

Matriks korelasi berguna untuk memetakan hubungan awal beberapa variabel numerik sekaligus.

Praktik baik:

  • sertakan hanya variabel yang relevan,
  • pastikan skala pengukuran masuk akal,
  • cek distribusi sebelum menafsirkan nilai korelasi.

Peringatan:

  • korelasi sensitif terhadap outlier,
  • korelasi Pearson mengasumsikan hubungan linear,
  • korelasi tinggi antar prediktor dapat mengindikasikan multikolinearitas untuk model lanjut.

Contoh kode matriks korelasi:

num_vars <- df2 %>% dplyr::select(jam_belajar, nilai)
cor(num_vars, use = "pairwise.complete.obs")
##             jam_belajar   nilai
## jam_belajar     1.00000 0.80735
## nilai           0.80735 1.00000

Untuk visual:

library(GGally)
GGally::ggpairs(df2[, c("jam_belajar", "nilai")])

10.26 Transformasi variabel pada tahap eksplorasi

Kadang distribusi variabel sangat miring sehingga sulit dibaca. Transformasi dapat membantu pada tahap eksplorasi.

Transformasi umum:

  • log transform (log(x) atau log1p(x)),
  • square root,
  • standardisasi z-score.

Kapan digunakan:

  • distribusi sangat skew positif,
  • rentang nilai sangat lebar,
  • perbandingan antar variabel dengan skala berbeda.

Catatan:

  • transformasi harus dijelaskan dalam laporan,
  • interpretasi hasil berubah sesuai skala baru,
  • simpan variabel asli agar tetap dapat ditelusuri.

10.27 Visualisasi lanjutan untuk analisis sosial

10.27.1 Faceting untuk membandingkan subkelompok

Faceting membantu melihat pola per subkelompok tanpa membuat grafik terlalu padat.

Contoh:

ggplot(df2, aes(nilai)) +
  geom_histogram(bins = 18, fill = "#0a3d91", color = "white") +
  facet_wrap(~kelompok) +
  labs(title = "Distribusi Nilai per Kelompok")

Manfaat:

  • mudah membandingkan bentuk distribusi antar kelompok,
  • mendeteksi ketimpangan varian antar panel,
  • memperjelas perbedaan lokasi pusat distribusi.

10.27.2 Overlay distribusi

Density overlay atau histogram overlay berguna untuk melihat tumpang tindih distribusi.

Kehati-hatian:

  • jika sampel tidak seimbang, interpretasi visual bisa bias,
  • gunakan transparansi (alpha) dan label jelas.

10.27.3 Error bar chart

Untuk pelaporan ringkas mean dan ketidakpastian awal, gunakan point-range/error bar.

df2 %>%
  group_by(kelompok) %>%
  summarise(
    mean_nilai = mean(nilai),
    se_nilai = sd(nilai) / sqrt(n())
  ) %>%
  ggplot(aes(kelompok, mean_nilai, color = kelompok)) +
  geom_point(size = 3) +
  geom_errorbar(aes(ymin = mean_nilai - se_nilai, ymax = mean_nilai + se_nilai), width = 0.1) +
  scale_color_manual(values = c("#0a3d91", "#f07b16")) +
  theme(legend.position = "none") +
  labs(title = "Rata-rata Nilai dan Standard Error")

Grafik ini deskriptif, bukan uji signifikansi final.

10.28 Eksplorasi data untuk variabel ordinal dan skala Likert

Riset sosial sering memakai data Likert (1-5 atau 1-7). Perlakukan data ini secara konsisten.

Pendekatan deskriptif:

  • distribusi frekuensi tiap kategori,
  • median dan IQR,
  • skor komposit (dengan justifikasi).

Visualisasi yang cocok:

  • stacked bar chart,
  • diverging stacked bar untuk item sikap,
  • heatmap item x kategori.

Kelebihan diverging bar:

  • memudahkan pembaca melihat kecenderungan setuju/tidak setuju,
  • efektif untuk banyak item sekaligus.

10.29 Eksplorasi data waktu (time-indexed)

Jika data punya dimensi waktu (harian, bulanan, tahunan), statistik deskriptif perlu memeriksa pola temporal.

Aspek penting:

  • tren,
  • musiman (seasonality),
  • lonjakan/anomali waktu tertentu.

Grafik utama:

  • line chart,
  • moving average,
  • calendar heatmap (jika data padat harian).

Contoh interpretasi:

"Rata-rata kunjungan layanan meningkat bertahap dari Januari ke Juni, tetapi turun tajam pada April karena gangguan sistem eksternal."

Tanpa eksplorasi waktu, perubahan tersebut bisa salah ditafsirkan sebagai efek kebijakan.

10.30 Eksplorasi spasial sederhana

Pada data wilayah, deskriptif dapat diperkuat dengan pemetaan sederhana.

Format minimal:

  • tabel per wilayah,
  • bar chart ranking wilayah,
  • peta choropleth jika data geospasial tersedia.

Kehati-hatian:

  • perbedaan visual antar wilayah bisa dipengaruhi ukuran populasi,
  • gunakan indikator berbasis proporsi/rate, bukan hanya hitungan absolut.

10.31 Segmentasi deskriptif

Segmentasi membantu memahami heterogenitas populasi.

Contoh segmentasi:

  • usia (remaja akhir, dewasa awal, dewasa madya),
  • wilayah (urban vs rural),
  • tingkat pendidikan,
  • kuintil pendapatan.

Tujuan segmentasi:

  • mengidentifikasi kelompok prioritas intervensi,
  • membaca ketimpangan akses/hasil,
  • menajamkan pertanyaan inferensial berikutnya.

Prinsip:

  • segmentasi harus berbasis logika teoritik/kebijakan,
  • hindari segmentasi berlebihan yang membuat sel terlalu kecil.

10.32 Dashboard deskriptif untuk pelaporan cepat

Pada proyek institusi, dashboard deskriptif berguna untuk monitoring.

Komponen dashboard minimum:

  • ukuran sampel valid,
  • ringkasan variabel utama (mean/median),
  • distribusi kategori penting,
  • indikator data quality (missing/outlier),
  • tren waktu jika ada.

Aturan desain dashboard:

  • satu halaman, fokus indikator inti,
  • warna konsisten (biru-oranye sesuai tema buku),
  • label indikator jelas,
  • hindari visual berlebihan.

Dashboard bukan pengganti analisis mendalam, tetapi alat komunikasi cepat kepada pengambil keputusan.

10.33 Robust descriptive checks

Untuk meningkatkan keandalan bacaan deskriptif, lakukan robust checks:

  • bandingkan mean vs trimmed mean,
  • laporkan median dan IQR untuk variabel skew,
  • ulang ringkasan setelah meninjau outlier valid/salah input,
  • cek stabilitas pola antar subkelompok utama.

Contoh:

Jika mean pendapatan 6,2 tetapi median 3,1, artinya distribusi sangat miring dan interpretasi harus berhati-hati.

10.34 Integrasi visualisasi dengan narasi kebijakan

Dalam laporan kebijakan, grafik harus menjawab pertanyaan keputusan.

Struktur narasi yang efektif:

  • apa pola utamanya,
  • seberapa besar perbedaannya,
  • kelompok mana paling terdampak,
  • implikasi kebijakan awal.

Contoh:

"Grafik boxplot menunjukkan median nilai kelompok intervensi lebih tinggi dibanding kontrol dengan sebaran lebih sempit. Temuan deskriptif ini mengisyaratkan program berpotensi meningkatkan konsistensi hasil belajar, meski uji inferensial masih diperlukan untuk konfirmasi statistik."

10.35 Etika visualisasi data

Visualisasi juga memiliki dimensi etika. Grafik yang menyesatkan dapat menghasilkan keputusan kebijakan yang salah.

Prinsip etika:

  • jangan memanipulasi skala untuk memperbesar efek kecil,
  • tampilkan sumber dan periode data,
  • jelaskan keterbatasan data,
  • hindari menampilkan data sensitif yang dapat mengidentifikasi individu.

Etika ini penting terutama saat hasil dipublikasikan ke publik luas.

10.36 Template pelaporan deskriptif untuk skripsi/tesis

Urutan yang disarankan:

  1. Deskripsi sampel (N, karakteristik utama).
  2. Ringkasan variabel utama (pusat dan sebaran).
  3. Distribusi kategori kunci.
  4. Perbandingan deskriptif antar kelompok.
  5. Temuan anomali (missing/outlier) dan penanganannya.
  6. Ringkasan implikasi untuk tahap inferensial.

Dengan urutan ini, pembaca dapat mengikuti logika analisis secara sistematis.

10.37 Checklist kualitas visualisasi untuk reviewer internal

Gunakan checklist cepat sebelum finalisasi:

  • judul grafik informatif,
  • label sumbu lengkap dengan satuan,
  • palet warna konsisten,
  • legenda diperlukan/tidak diperlukan sudah tepat,
  • skala sumbu tidak menyesatkan,
  • catatan sumber data tersedia,
  • ukuran huruf terbaca pada dokumen cetak.

Checklist ini mencegah kesalahan presentasi yang sering muncul pada tahap akhir.

10.38 Studi kasus deskriptif komprehensif

Konteks:

Penelitian pendidikan tinggi mengumpulkan data 1.200 mahasiswa dari 8 kampus untuk melihat faktor terkait capaian akademik.

Variabel utama:

  • IPK,- jam belajar,- literasi digital,- dukungan keluarga,- status kerja sambilan,- akses internet.

Temuan deskriptif utama (simulatif):

  • mean IPK 3,21 (SD 0,43), median 3,24;- jam belajar median 16 jam/minggu (IQR 10-22);- literasi digital relatif tinggi di kampus kota besar;- mahasiswa bekerja sambilan memiliki variasi IPK lebih lebar;- terdapat missing 7% pada variabel pendapatan orang tua.

Temuan visual:

  • histogram IPK mendekati normal dengan sedikit skew negatif,- boxplot per kampus menunjukkan dua kampus dengan median lebih rendah dan IQR lebih lebar,- scatterplot jam belajar-IPK menunjukkan hubungan positif moderat,- density plot mengindikasikan dua klaster literasi digital.

Implikasi awal:

  • analisis inferensial perlu memasukkan efek kampus,- variabel kerja sambilan berpotensi sebagai moderator,- missing pendapatan perlu penanganan khusus sebelum model akhir.

Kasus ini menunjukkan nilai strategis deskriptif dalam menyusun model inferensial yang lebih tepat.

10.39 Kesalahan interpretasi yang perlu dihindari

Kesalahan 1: menganggap perbedaan visual kecil pasti tidak penting. : perbedaan kecil bisa substantif penting pada sampel besar atau konteks kebijakan tertentu.

Kesalahan 2: menganggap pola visual sebagai bukti final. : visualisasi memberi indikasi, bukan konfirmasi inferensial.

Kesalahan 3: menafsirkan korelasi sebagai arah sebab-akibat. : kausalitas membutuhkan desain dan asumsi tambahan.

Kesalahan 4: mengabaikan peran ukuran sampel per kelompok. : kelompok kecil dapat menghasilkan grafik yang tampak ekstrem karena varians sampling.

10.40 Integrasi Bab 11 dengan bab sebelum dan sesudahnya

Hubungan dengan Bab 10:

  • kualitas deskriptif bergantung pada cleaning yang benar,- codebook menentukan makna variabel pada tabel/grafik.

Hubungan dengan Bab 12:

  • deskriptif memberi dasar memilih uji inferensial,- bentuk distribusi dan outlier memberi sinyal asumsi model.

Karena itu, Bab 11 harus dipahami sebagai jembatan metodologis, bukan bagian dekoratif laporan.

10.41 Praktik pembelajaran berbasis studio data

Untuk kebutuhan pengajaran, Bab 11 efektif diterapkan dalam format studio data, bukan hanya ceramah teori. Mahasiswa bekerja langsung dengan dataset nyata/simulatif, lalu menyusun output deskriptif terstruktur.

Skema studio 3 sesi:

  • sesi 1: audit data dan statistik univariat,
  • sesi 2: visualisasi dan eksplorasi hubungan,
  • sesi 3: penulisan narasi deskriptif dan presentasi.

Target capaian:

  • mahasiswa mampu memilih statistik deskriptif sesuai tipe data,
  • mahasiswa mampu membuat grafik yang informatif dan etis,
  • mahasiswa mampu menulis interpretasi tanpa overclaim.

Keuntungan studio data:

  • menghubungkan konsep dengan praktik,
  • melatih literasi visual dan statistik sekaligus,
  • membiasakan dokumentasi keputusan analitik.

10.42 Rubrik penilaian untuk tugas Bab 11

Rubrik membantu penilaian lebih objektif.

Komponen rubrik:

  • ketepatan statistik deskriptif (0-25),
  • kualitas visualisasi (0-25),
  • kualitas interpretasi naratif (0-25),
  • kualitas dokumentasi dan kerapian pelaporan (0-25).

Indikator nilai tinggi:

  • statistik pusat dan sebaran dilaporkan lengkap,
  • grafik relevan, mudah dibaca, dan konsisten gaya,
  • interpretasi substantif jelas, tidak melampaui data,
  • ada catatan outlier/missing dan implikasinya.

Indikator nilai rendah:

  • hanya menampilkan output mentah tanpa interpretasi,
  • grafik tidak sesuai tipe data,
  • narasi mencampur deskriptif dan klaim kausal,
  • tidak menyebut ukuran sampel valid.

10.43 Strategi menulis narasi hasil deskriptif yang efektif

Banyak laporan gagal pada bagian ini karena narasi terlalu panjang namun miskin informasi. Gunakan pola penulisan ringkas-analitis:

  1. Mulai dari temuan paling penting.
  2. Sertakan angka kunci (pusat + sebaran).
  3. Bandingkan antar kelompok bila relevan.
  4. Tulis satu kalimat implikasi sementara.
  5. Hindari klaim kausal.

Contoh pola kalimat:

"Variabel X memiliki rerata 72,4 (SD 8,1) dengan distribusi relatif simetris. Kelompok A menunjukkan median 75, lebih tinggi dibanding kelompok B sebesar 70, namun sebaran kedua kelompok masih tumpang tindih. Temuan ini mengindikasikan adanya perbedaan awal yang perlu diuji pada tahap inferensial berikutnya."

10.44 Komunikasi hasil deskriptif untuk audiens non-statistik

Dalam kebijakan publik, audiens tidak selalu berlatar statistik. Karena itu, hasil deskriptif perlu dikomunikasikan dengan bahasa jelas tanpa mengorbankan akurasi.

Prinsip komunikasi:

  • gunakan istilah sederhana di naskah utama,
  • simpan detail teknis pada lampiran jika perlu,
  • gunakan visual ringkas untuk pesan inti,
  • jelaskan arti angka dalam konteks keputusan.

Contoh terjemahan:

  • teknis: "median meningkat 2,1 poin"
  • komunikatif: "setengah responden kini memiliki skor lebih tinggi sekitar dua poin dibanding periode sebelumnya."

Pendekatan ini meningkatkan pemanfaatan temuan dalam praktik kebijakan.

10.45 Menjaga konsistensi istilah antar bab

Karena buku ini bersifat komprehensif, konsistensi istilah sangat penting.

Gunakan secara konsisten:

  • rerata/mean,
  • median,
  • simpangan baku/standard deviation,
  • rentang,
  • IQR,
  • distribusi,
  • outlier,
  • missing value.

Hindari mencampur istilah berbeda untuk konsep sama tanpa penjelasan, karena dapat membingungkan pembaca pemula.

10.46 Format tabel dan grafik untuk siap cetak

Agar hasil deskriptif siap diterbitkan:

  • gunakan ukuran font yang terbaca pada halaman cetak,
  • beri nomor tabel/gambar konsisten,
  • gunakan judul singkat tetapi informatif,
  • tambahkan catatan kaki untuk definisi singkatan,
  • pastikan kontras warna cukup saat dicetak hitam-putih.

Untuk tema buku biru-oranye:

  • gunakan biru untuk baseline/kelompok kontrol,
  • gunakan oranye untuk intervensi/perbandingan,
  • hindari warna tambahan yang tidak memiliki makna analitik.

Dengan standar ini, tampilan tetap profesional dan mudah dipahami.

10.47 Catatan implementasi akhir Bab 11

Bab 11 idealnya dipakai sebagai gerbang kualitas sebelum masuk ke inferensi. Jika tahap ini dikerjakan dengan disiplin, peneliti akan lebih siap memilih uji yang tepat, menafsirkan hasil secara proporsional, dan menghindari kesalahan klaim. Dalam konteks pendidikan tinggi, bab ini membantu mahasiswa membangun kebiasaan analitik yang sehat: membaca data secara jujur, memeriksa anomali, serta menulis temuan yang argumentatif namun tetap hati-hati. Untuk kebutuhan buku ajar nasional, pendekatan ini penting agar pembaca tidak hanya mampu menghasilkan grafik yang menarik, tetapi juga mampu menjelaskan makna statistiknya secara benar dan bertanggung jawab.

10.48 Lampiran praktik cepat (opsional pengajaran)

Agar materi Bab 11 dapat langsung dioperasionalkan di kelas atau workshop, berikut skema praktik cepat 90 menit.

Sesi 1 (20 menit): audit struktur dan ringkasan awal

  • cek jumlah baris-kolom,
  • cek tipe variabel,
  • jalankan summary() dan describe(),
  • tandai variabel dengan missing/outlier mencolok.

Sesi 2 (35 menit): visualisasi inti

  • buat 1 histogram variabel numerik utama,
  • buat 1 boxplot per kelompok,
  • buat 1 scatterplot hubungan dua variabel utama,
  • tulis catatan interpretasi 2-3 kalimat per grafik.

Sesi 3 (20 menit): narasi deskriptif singkat

  • susun paragraf 200-300 kata,
  • masukkan angka pusat + sebaran + catatan anomali,
  • nyatakan keterbatasan deskriptif.

Sesi 4 (15 menit): refleksi metodologis

  • diskusikan pilihan statistik yang dipakai,
  • diskusikan risiko salah tafsir grafik,
  • rumuskan rencana inferensial berbasis hasil eksplorasi.

Output akhir:

  • satu tabel deskriptif,
  • tiga grafik inti,
  • satu narasi deskriptif ringkas,
  • satu daftar keputusan analitik lanjutan.

Paket output ini sudah cukup sebagai fondasi kuat untuk transisi ke Bab 12.

10.49 Penguatan akhir: daftar cek sebelum lanjut ke inferensi

Sebelum memulai Bab 12 (inferensi), pastikan hasil Bab 11 memenuhi daftar cek berikut:

  • statistik pusat dan sebaran untuk variabel utama sudah lengkap,
  • distribusi variabel outcome telah diperiksa secara visual,
  • anomali (missing/outlier) sudah dicatat dan ditangani sesuai aturan,
  • perbandingan deskriptif kelompok utama telah dibuat,
  • narasi tidak mengandung klaim kausal,
  • semua grafik memiliki judul, label sumbu, dan satuan yang jelas,
  • keputusan analitik lanjutan sudah dirumuskan berdasarkan temuan deskriptif.

Jika semua poin ini terpenuhi, proses inferensial akan lebih terarah, asumsi model lebih mudah diverifikasi, dan kualitas argumen metodologis pada laporan akhir akan meningkat secara signifikan.

Praktik ini juga memperkuat konsistensi keputusan analitik tim lintas institusi nasional. Dengan demikian hasil deskriptif tidak berhenti sebagai ringkasan angka melainkan menjadi dasar dialog ilmiah pedagogik dan perbaikan kebijakan berbasis data nasional.

10.50 Latihan bab 11

  1. Buat ringkasan deskriptif 300 kata dari satu dataset kuantitatif yang Anda miliki, mencakup ukuran pusat, penyebaran, dan bentuk distribusi.
  2. Buat minimal 3 grafik dan jelaskan maknanya (misal histogram, boxplot, scatterplot).
  3. Bandingkan dua kelompok pada variabel utama dengan statistik deskriptif yang tepat, lalu tulis interpretasi hati-hati tanpa klaim kausal.
  4. Identifikasi minimal dua outlier dan jelaskan keputusan analitik terhadap outlier tersebut.
  5. Buat tabel frekuensi untuk variabel kategorik utama dan jelaskan implikasi substantifnya.

10.51 Kunci jawaban ringkas bab 11

  1. Ringkasan deskriptif yang baik harus menyebut N valid, mean/median yang relevan, SD/IQR, serta bentuk distribusi (simetris/miring/multimodal). Narasi harus menonjolkan pola utama, bukan menyalin semua angka.
  2. Tiga grafik minimum yang direkomendasikan: histogram untuk distribusi, boxplot untuk perbandingan kelompok dan outlier, scatterplot untuk hubungan dua variabel numerik. Tiap grafik perlu label jelas dan interpretasi substantif.
  3. Perbandingan dua kelompok pada tahap deskriptif harus fokus pada perbedaan pusat dan sebaran. Hindari pernyataan “kelompok A menyebabkan peningkatan” sebelum uji inferensial mendukung.
  4. Outlier harus diperiksa sumbernya terlebih dahulu. Jika valid secara data dan konteks, outlier dapat dipertahankan dengan catatan. Jika salah input, lakukan koreksi dengan dokumentasi.
  5. Tabel frekuensi untuk variabel kategorik perlu mencantumkan jumlah dan persentase. Jika ada missing, sebutkan basis persentase secara eksplisit agar pembaca tidak salah tafsir.

10.52 Penutup

Statistik deskriptif, visualisasi, dan eksplorasi data adalah tahap strategis untuk memahami karakter data secara jernih sebelum membuat klaim inferensial. Ketika peneliti menguasai tahap ini, keputusan analitik berikutnya menjadi lebih tepat, interpretasi lebih bertanggung jawab, dan laporan penelitian lebih kuat secara metodologis. Dalam praktik riset kuantitatif modern, kualitas temuan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan model, tetapi oleh kedalaman pemahaman terhadap data yang dianalisis. ***

11 Bab Dasar Inferensi Statistik dan Uji Hipotesis

11.1 Populasi, sampel, dan parameter

Inferensi statistik menyimpulkan karakteristik populasi berdasarkan informasi sampel. Ketidakpastian inferensi direpresentasikan melalui standard error, interval kepercayaan, dan pengujian hipotesis. Kerangka inferensi ini menjadi fondasi statistik modern dalam riset sosial kuantitatif (Walpole et al., 2012; Casella & Berger, 2002).

11.2 p-value dan interval kepercayaan

  • p-value: probabilitas memperoleh data setidaknya se-ekstrem observasi jika H0 benar.
  • CI 95%: rentang nilai parameter yang kompatibel dengan data pada tingkat keyakinan 95%.

Keduanya sebaiknya dilaporkan bersama ukuran efek. Pelaporan bersama ini direkomendasikan agar interpretasi tidak berhenti pada signifikansi statistik semata (Cumming, 2014; Wasserstein & Lazar, 2016).

11.3 Kesalahan tipe I dan tipe II

  • Tipe I (alpha): menolak H0 padahal H0 benar.
  • Tipe II (beta): gagal menolak H0 padahal H0 salah.

Power = 1 - beta. Konsep kesalahan dan power sangat penting untuk perencanaan ukuran sampel dan ketepatan inferensi (Cohen, 1988; Field, 2018).

11.4 Model matematis inferensi dasar

Rata-rata sampel:

\[ \bar{X}=\frac{1}{n}\sum_{i=1}^n X_i \]

Standard error untuk mean:

\[ SE(\bar{X}) = \frac{s}{\sqrt{n}} \]

Statistik uji t satu sampel:

\[ t=\frac{\bar{X}-\mu_0}{s/\sqrt{n}} \]

Interval kepercayaan 95%:

\[ \bar{X}\pm t_{\alpha/2,df}\cdot SE(\bar{X}) \]

Untuk dua sampel independen (Welch):

\[ t=\frac{\bar{X}_1-\bar{X}_2}{\sqrt{\frac{s_1^2}{n_1}+\frac{s_2^2}{n_2}}} \]

Derajat bebas aproksimasi Welch:

\[ df \approx \frac{\left(\frac{s_1^2}{n_1}+\frac{s_2^2}{n_2}\right)^2} {\frac{\left(\frac{s_1^2}{n_1}\right)^2}{n_1-1}+\frac{\left(\frac{s_2^2}{n_2}\right)^2}{n_2-1}} \]

11.5 Uji t dua sampel (Welch)

A <- c(70, 75, 80, 74, 78)
B <- c(65, 68, 70, 67, 69)

t.test(A, B)
## 
##  Welch Two Sample t-test
## 
## data:  A and B
## t = 3.9511, df = 5.8824, p-value = 0.007834
## alternative hypothesis: true difference in means is not equal to 0
## 95 percent confidence interval:
##   2.870358 12.329642
## sample estimates:
## mean of x mean of y 
##      75.4      67.8

11.6 Ukuran efek (Cohen’s d) secara manual sederhana

\[ d = \frac{\bar{x}_1 - \bar{x}_2}{s_p} \]

dengan pooled standard deviation:

\[ s_p = \sqrt{\frac{(n_1-1)s_1^2 + (n_2-1)s_2^2}{n_1+n_2-2}} \]

Interpretasi praktis Cohen’s d (aturan awal):

  • \(d \approx 0.2\): efek kecil
  • \(d \approx 0.5\): efek sedang
  • \(d \approx 0.8\): efek besar

11.7 Contoh perhitungan manual

Gunakan data:

  • \(A = [70, 75, 80, 74, 78]\)
  • \(B = [65, 68, 70, 67, 69]\)

Rata-rata:

\[ \bar{X}_A = \frac{70+75+80+74+78}{5}=75.4,\quad \bar{X}_B = \frac{65+68+70+67+69}{5}=67.8 \]

Varians sampel:

\[ s_A^2=\frac{\sum (A_i-\bar{X}_A)^2}{4}=\frac{59.2}{4}=14.8,\quad s_B^2=\frac{\sum (B_i-\bar{X}_B)^2}{4}=\frac{14.8}{4}=3.7 \]

Statistik \(t\) Welch:

\[ t=\frac{75.4-67.8}{\sqrt{14.8/5+3.7/5}} =\frac{7.6}{\sqrt{3.70}} =\frac{7.6}{1.923}\approx 3.95 \]

Pooled SD untuk Cohen’s \(d\):

\[ s_p=\sqrt{\frac{4(14.8)+4(3.7)}{8}} =\sqrt{9.25}=3.041 \]

\[ d=\frac{7.6}{3.041}\approx 2.50 \]

Nilai \(d\) sekitar 2.50 menunjukkan efek praktis sangat besar.

11.8 Latihan bab 12

  1. Hitung uji t dan interpretasikan hasil substantifnya.
  2. Hitung ukuran efek dan jelaskan apakah signifikan praktis.

BAGIAN IV - UJI STATISTIK LANJUTAN

12 Bab Korelasi, Regresi Linear Sederhana, dan Diagnostik Dasar

12.1 Korelasi Pearson

Korelasi Pearson mengukur kekuatan hubungan linear dua variabel kontinu:

\[ r = \frac{\sum (x-\bar{x})(y-\bar{y})}{\sqrt{\sum(x-\bar{x})^2\sum(y-\bar{y})^2}} \] Penggunaan korelasi Pearson menuntut perhatian pada linearitas, outlier, dan skala pengukuran (Agresti & Finlay, 2009; Field, 2018).

Uji signifikansi korelasi:

\[ t = r\sqrt{\frac{n-2}{1-r^2}}, \quad df=n-2 \]

Koefisien determinasi korelasi:

\[ R^2 = r^2 \]

12.2 Contoh di R

x <- c(2,3,4,5,6,7)
y <- c(3,4,5,6,7,8)
cor.test(x, y, method = "pearson")
## 
##  Pearson's product-moment correlation
## 
## data:  x and y
## t = Inf, df = 4, p-value < 2.2e-16
## alternative hypothesis: true correlation is not equal to 0
## 95 percent confidence interval:
##  1 1
## sample estimates:
## cor 
##   1

12.3 Regresi linear sederhana

\[ Y = \beta_0 + \beta_1 X + \epsilon \] Model ini diestimasi dengan metode ordinary least squares (OLS) dan banyak dipakai untuk prediksi maupun penjelasan hubungan awal antarvariabel (Wooldridge, 2016).

Estimator OLS:

\[ \hat{\beta}_1 = \frac{\sum (x_i-\bar{x})(y_i-\bar{y})}{\sum (x_i-\bar{x})^2}, \quad \hat{\beta}_0 = \bar{y} - \hat{\beta}_1\bar{x} \]

Prediksi:

\[ \hat{Y}_i = \hat{\beta}_0 + \hat{\beta}_1 X_i \]

mod1 <- lm(y ~ x)
summary(mod1)
## 
## Call:
## lm(formula = y ~ x)
## 
## Residuals:
##          1          2          3          4          5          6 
##  6.731e-16 -6.170e-16 -1.876e-16 -1.488e-16 -3.695e-17  3.173e-16 
## 
## Coefficients:
##              Estimate Std. Error   t value Pr(>|t|)    
## (Intercept) 1.000e+00  5.733e-16 1.744e+15   <2e-16 ***
## x           1.000e+00  1.191e-16 8.395e+15   <2e-16 ***
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## 
## Residual standard error: 4.983e-16 on 4 degrees of freedom
## Multiple R-squared:      1,  Adjusted R-squared:      1 
## F-statistic: 7.048e+31 on 1 and 4 DF,  p-value: < 2.2e-16

12.4 Diagnostik dasar

par(mfrow = c(2,2))
plot(mod1)

par(mfrow = c(1,1))

12.5 Interpretasi

  • Koefisien slope menunjukkan perubahan rata-rata Y untuk kenaikan 1 unit X.
  • R-squared menunjukkan proporsi variasi Y yang dijelaskan model.
  • Diagnostik visual menilai pola residual dan pengamatan berpengaruh.

12.6 Contoh perhitungan manual

Data:

  • \(x=[2,3,4,5,6,7]\)
  • \(y=[3,4,5,6,7,8]\)

Rata-rata:

\[ \bar{x}=4.5,\quad \bar{y}=5.5 \]

Korelasi:

\[ \sum (x_i-\bar{x})(y_i-\bar{y}) = 17.5 \] \[ \sum (x_i-\bar{x})^2 = 17.5,\quad \sum (y_i-\bar{y})^2=17.5 \] \[ r=\frac{17.5}{\sqrt{17.5\times 17.5}}=1.00 \]

Koefisien regresi:

\[ \hat{\beta}_1=\frac{17.5}{17.5}=1,\quad \hat{\beta}_0=5.5-(1)(4.5)=1 \]

Model manual:

\[ \hat{Y}=1+1X \]

Jika \(X=6\), maka \(\hat{Y}=7\), sama dengan nilai observasi data contoh.

12.7 Latihan bab 13

  1. Buat dataset simulasi dengan hubungan linear sedang.
  2. Jalankan korelasi dan regresi, lalu bandingkan interpretasi.

13 Bab Regresi Linear Berganda dan Uji Asumsi Klasik

13.1 Bentuk model

\[ Y = \beta_0 + \beta_1X_1 + \beta_2X_2 + ... + \beta_kX_k + \epsilon \] Regresi berganda memungkinkan estimasi pengaruh parsial setelah mengontrol kovariat lain, sehingga lebih kuat dibanding analisis bivariat sederhana (Fox, 2016; Montgomery et al., 2021).

Bentuk matriks:

\[ \mathbf{Y}=\mathbf{X}\beta+\varepsilon,\quad \hat{\beta}=(X'X)^{-1}X'Y \]

Uji F model keseluruhan:

\[ F=\frac{SSR/k}{SSE/(n-k-1)} \]

Uji t koefisien parsial:

\[ t_j=\frac{\hat{\beta}_j}{SE(\hat{\beta}_j)} \]

13.2 Simulasi data

set.seed(123)
n <- 150
x1 <- rnorm(n, 4, 1)
x2 <- rnorm(n, 3, 1)
x3 <- rnorm(n, 2, 0.8)
y <- 40 + 5*x1 + 3*x2 - 2*x3 + rnorm(n, 0, 4)

reg_df <- data.frame(y, x1, x2, x3)
mod2 <- lm(y ~ x1 + x2 + x3, data = reg_df)
summary(mod2)
## 
## Call:
## lm(formula = y ~ x1 + x2 + x3, data = reg_df)
## 
## Residuals:
##      Min       1Q   Median       3Q      Max 
## -11.4427  -2.5109   0.1038   2.7331   9.5216 
## 
## Coefficients:
##             Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)    
## (Intercept)  40.4869     2.1157  19.136  < 2e-16 ***
## x1            4.8728     0.3375  14.438  < 2e-16 ***
## x2            3.0671     0.3375   9.087 6.67e-16 ***
## x3           -1.9654     0.3837  -5.123 9.38e-07 ***
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## 
## Residual standard error: 3.813 on 146 degrees of freedom
## Multiple R-squared:  0.6824, Adjusted R-squared:  0.6759 
## F-statistic: 104.6 on 3 and 146 DF,  p-value: < 2.2e-16

13.3 Multikolinearitas

car::vif(mod2)
##       x1       x2       x3 
## 1.052665 1.034202 1.027042

Rumus VIF:

\[ VIF_j=\frac{1}{1-R_j^2} \] VIF umum dipakai sebagai indikator awal masalah ketergantungan linear antar prediktor (Kutner et al., 2005).

13.4 Heteroskedastisitas

lmtest::bptest(mod2)
## 
##  studentized Breusch-Pagan test
## 
## data:  mod2
## BP = 1.1651, df = 3, p-value = 0.7614

Model uji Breusch-Pagan (konseptual):

\[ \hat{u}_i^2=\alpha_0+\alpha_1Z_{1i}+...+\alpha_mZ_{mi}+v_i \] Jika heteroskedastisitas terdeteksi, standard error robust dapat digunakan untuk menjaga inferensi parameter tetap lebih reliabel (Long & Ervin, 2000).

13.5 Autokorelasi residual (relevan data runtun waktu)

car::durbinWatsonTest(mod2)
##  lag Autocorrelation D-W Statistic p-value
##    1     -0.02841372      2.020251   0.916
##  Alternative hypothesis: rho != 0

Statistik Durbin-Watson:

\[ DW=\frac{\sum_{t=2}^{n}(e_t-e_{t-1})^2}{\sum_{t=1}^{n}e_t^2} \]

13.6 Robust standard error (jika diperlukan)

coeftest(mod2, vcov = sandwich::vcovHC(mod2, type = "HC1"))
## 
## t test of coefficients:
## 
##             Estimate Std. Error t value  Pr(>|t|)    
## (Intercept) 40.48693    2.17040 18.6541 < 2.2e-16 ***
## x1           4.87282    0.35970 13.5469 < 2.2e-16 ***
## x2           3.06712    0.31263  9.8106 < 2.2e-16 ***
## x3          -1.96536    0.37248 -5.2764  4.67e-07 ***
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1

13.7 Pedoman interpretasi

  • Fokus pada tanda koefisien, besaran, dan interval kepercayaan.
  • Jangan menyimpulkan kausalitas murni pada desain observasional tanpa argumen identifikasi kuat.

13.8 Contoh perhitungan manual

Gunakan model:

\[ \hat{Y}=40+5X_1+3X_2-2X_3 \]

Untuk satu observasi dengan \(X_1=4.5\), \(X_2=3.2\), \(X_3=1.8\):

\[ \hat{Y}=40+5(4.5)+3(3.2)-2(1.8) =40+22.5+9.6-3.6 =68.5 \]

Jika nilai aktual \(Y=70\), residual:

\[ e=Y-\hat{Y}=70-68.5=1.5 \]

Contoh VIF manual:

Jika \(R_j^2=0.36\), maka:

\[ VIF_j=\frac{1}{1-0.36}=1.56 \]

Nilai 1.56 menunjukkan multikolinearitas rendah untuk prediktor tersebut.

13.9 Latihan bab 14

  1. Bangun model berganda untuk prediksi nilai ujian.
  2. Cek semua asumsi klasik dan putuskan apakah model layak.

14 Bab ANOVA, ANCOVA, dan Uji Lanjut

14.1 Konsep ANOVA

ANOVA menguji apakah rerata lebih dari dua kelompok berbeda secara statistik. Metode ini merupakan perluasan logika uji t ke lebih dari dua kelompok dan berlandaskan dekomposisi variasi total (Montgomery, 2019; Field, 2018).

Hipotesis:

  • H0: semua rerata kelompok sama.
  • H1: setidaknya ada satu kelompok berbeda.

Model one-way ANOVA:

\[ Y_{ij}=\mu+\tau_j+\varepsilon_{ij} \]

Dekomposisi jumlah kuadrat:

\[ SS_T = SS_B + SS_W \]

Statistik F:

\[ F=\frac{MS_B}{MS_W} \]

dengan:

\[ MS_B=\frac{SS_B}{k-1},\quad MS_W=\frac{SS_W}{N-k} \]

14.2 Contoh one-way ANOVA

set.seed(99)
kel <- factor(rep(c("A", "B", "C"), each = 30))
skor <- c(rnorm(30, 70, 6), rnorm(30, 75, 6), rnorm(30, 78, 6))
aov_df <- data.frame(kel, skor)

fit_aov <- aov(skor ~ kel, data = aov_df)
summary(fit_aov)
##             Df Sum Sq Mean Sq F value   Pr(>F)    
## kel          2   1370   685.1   23.97 5.09e-09 ***
## Residuals   87   2486    28.6                     
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1

14.3 Uji lanjut (post-hoc)

TukeyHSD(fit_aov)
##   Tukey multiple comparisons of means
##     95% family-wise confidence level
## 
## Fit: aov(formula = skor ~ kel, data = aov_df)
## 
## $kel
##         diff       lwr       upr     p adj
## B-A 3.586657 0.2955412  6.877773 0.0293086
## C-A 9.465245 6.1741291 12.756360 0.0000000
## C-B 5.878588 2.5874722  9.169704 0.0001519

Uji lanjut diperlukan ketika hasil ANOVA signifikan untuk mengidentifikasi pasangan kelompok mana yang berbeda (Howell, 2013).

Ukuran efek ANOVA:

\[ \eta^2=\frac{SS_B}{SS_T} \]

Untuk ANCOVA, model umum:

\[ Y_{ij}=\mu+\tau_j+\beta(X_{ij}-\bar{X})+\varepsilon_{ij} \]

14.4 Contoh perhitungan manual

Misal data sederhana tiga kelompok:

  • A: 68, 70, 72 \(\Rightarrow \bar{Y}_A=70\)
  • B: 74, 75, 76 \(\Rightarrow \bar{Y}_B=75\)
  • C: 78, 80, 82 \(\Rightarrow \bar{Y}_C=80\)

Rata-rata gabungan:

\[ \bar{Y}_{..}=75 \]

Jumlah kuadrat antar kelompok:

\[ SS_B = 3(70-75)^2 + 3(75-75)^2 + 3(80-75)^2 = 150 \]

Jumlah kuadrat dalam kelompok:

\[ SS_W = (4+0+4) + (1+0+1) + (4+0+4) = 18 \]

Derajat bebas:

\[ df_B=2,\quad df_W=6 \]

Mean square:

\[ MS_B=150/2=75,\quad MS_W=18/6=3 \]

Statistik F:

\[ F=75/3=25 \]

Ukuran efek:

\[ \eta^2=\frac{150}{150+18}=0.893 \]

Nilai \(\eta^2\) tinggi menunjukkan proporsi variasi antar kelompok sangat besar pada contoh ini.

BAGIAN V - STUDI KASUS SOSIAL INDONESIA

15 Bab Studi Kasus 1: Literasi Digital dan Prestasi Akademik Mahasiswa

15.1 Latar belakang

Digitalisasi pendidikan menuntut mahasiswa memiliki literasi digital yang memadai. Namun, perbedaan akses perangkat, kualitas jaringan, dan dukungan lingkungan belajar dapat menciptakan kesenjangan hasil akademik.

15.2 Model konseptual

  • X1: literasi digital
  • X2: jam belajar mandiri
  • X3: dukungan keluarga
  • Y: prestasi akademik Pemodelan ini sejalan dengan literatur pendidikan kuantitatif yang menempatkan faktor individu dan lingkungan sebagai prediktor capaian akademik (Creswell & Creswell, 2018; Tabachnick & Fidell, 2019).

Model empiris yang diestimasi:

\[ IPK_i=\beta_0+\beta_1Literasi_i+\beta_2Jam_i+\beta_3Dukungan_i+\varepsilon_i \]

Jika ingin menguji efek interaksi:

\[ IPK_i=\beta_0+\beta_1Literasi_i+\beta_2Jam_i+\beta_3(Literasi_i\times Jam_i)+\varepsilon_i \]

15.3 Data simulasi kontekstual

set.seed(301)
n <- 300
literasi <- round(rnorm(n, 70, 10), 0)
jam <- pmax(rnorm(n, 3.5, 1), 0.5)
dukungan <- round(rnorm(n, 72, 9), 0)
ipk <- 1.5 + 0.012*literasi + 0.18*jam + 0.006*dukungan + rnorm(n, 0, 0.25)
ipk <- pmin(pmax(ipk, 0), 4)

kasus1 <- tibble(literasi, jam, dukungan, ipk)
summary(kasus1)
##     literasi           jam            dukungan          ipk       
##  Min.   : 41.00   Min.   :0.8979   Min.   :48.00   Min.   :2.419  
##  1st Qu.: 64.00   1st Qu.:2.8754   1st Qu.:66.00   1st Qu.:3.184  
##  Median : 70.00   Median :3.4949   Median :71.00   Median :3.398  
##  Mean   : 69.83   Mean   :3.4752   Mean   :71.82   Mean   :3.393  
##  3rd Qu.: 77.00   3rd Qu.:4.1965   3rd Qu.:77.00   3rd Qu.:3.654  
##  Max.   :106.00   Max.   :6.2129   Max.   :95.00   Max.   :4.000

15.4 Analisis deskriptif

psych::describe(kasus1)
##          vars   n  mean   sd median trimmed  mad   min    max range  skew
## literasi    1 300 69.83 9.95  70.00   69.85 8.90 41.00 106.00 65.00  0.04
## jam         2 300  3.48 1.01   3.49    3.50 1.00  0.90   6.21  5.32 -0.17
## dukungan    3 300 71.82 9.15  71.00   71.65 8.15 48.00  95.00 47.00  0.18
## ipk         4 300  3.39 0.33   3.40    3.40 0.36  2.42   4.00  1.58 -0.26
##          kurtosis   se
## literasi     0.19 0.57
## jam         -0.21 0.06
## dukungan    -0.08 0.53
## ipk         -0.40 0.02

15.5 Regresi berganda

m_k1 <- lm(ipk ~ literasi + jam + dukungan, data = kasus1)
summary(m_k1)
## 
## Call:
## lm(formula = ipk ~ literasi + jam + dukungan, data = kasus1)
## 
## Residuals:
##      Min       1Q   Median       3Q      Max 
## -0.60510 -0.16111 -0.01136  0.16566  0.64248 
## 
## Coefficients:
##             Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)    
## (Intercept) 1.430589   0.153842   9.299  < 2e-16 ***
## literasi    0.012605   0.001408   8.955  < 2e-16 ***
## jam         0.177216   0.013839  12.806  < 2e-16 ***
## dukungan    0.006489   0.001531   4.237 3.02e-05 ***
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## 
## Residual standard error: 0.2421 on 296 degrees of freedom
## Multiple R-squared:  0.4775, Adjusted R-squared:  0.4722 
## F-statistic: 90.18 on 3 and 296 DF,  p-value: < 2.2e-16

15.6 Interpretasi contoh

Jika koefisien jam belajar positif dan signifikan, maka peningkatan jam belajar berkaitan dengan kenaikan IPK rata-rata, setelah mengontrol literasi digital dan dukungan keluarga.

15.7 Contoh perhitungan manual

Pakai model:

\[ \hat{IPK}=1.5+0.012(Literasi)+0.18(Jam)+0.006(Dukungan) \]

Jika satu mahasiswa memiliki:

  • Literasi = 75
  • Jam = 4
  • Dukungan = 70

maka prediksi:

\[ \hat{IPK}=1.5+0.012(75)+0.18(4)+0.006(70) =1.5+0.9+0.72+0.42 =3.54 \]

Artinya, dengan kombinasi karakteristik tersebut, model memperkirakan IPK sekitar 3.54.

15.8 Tugas analitik

  1. Uji multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan normalitas residual.
  2. Buat 1 paragraf implikasi kebijakan kampus.

16 Bab Studi Kasus 3: Kepuasan Layanan Administrasi Publik

16.1 Latar belakang

Kepuasan layanan publik dipengaruhi oleh waktu tunggu, kualitas interaksi petugas, kejelasan prosedur, dan kemudahan kanal digital.

16.2 Konstruk dan indikator

  • Responsiveness
  • Assurance
  • Empathy
  • Tangibles
  • Digital accessibility

16.3 Simulasi item dan uji reliabilitas

set.seed(303)
serv <- tibble(
  item1 = sample(1:5, 250, replace = TRUE),
  item2 = sample(1:5, 250, replace = TRUE),
  item3 = sample(1:5, 250, replace = TRUE),
  item4 = sample(1:5, 250, replace = TRUE),
  item5 = sample(1:5, 250, replace = TRUE)
)
psych::alpha(serv)
## Some items ( item1 item2 ) were negatively correlated with the first principal component and 
## probably should be reversed.  
## To do this, run the function again with the 'check.keys=TRUE' option
## 
## Reliability analysis   
## Call: psych::alpha(x = serv)
## 
##   raw_alpha std.alpha G6(smc) average_r    S/N ase mean   sd median_r
##     -0.036     -0.04   -0.02   -0.0077 -0.038 0.1    3 0.63  -0.0047
## 
##     95% confidence boundaries 
##          lower alpha upper
## Feldt    -0.25 -0.04  0.15
## Duhachek -0.24 -0.04  0.17
## 
##  Reliability if an item is dropped:
##       raw_alpha std.alpha G6(smc) average_r    S/N alpha se  var.r  med.r
## item1     0.042     0.041   0.035    0.0105  0.042    0.099 0.0017  0.012
## item2    -0.141    -0.142  -0.096   -0.0320 -0.124    0.118 0.0023 -0.022
## item3    -0.066    -0.069  -0.038   -0.0164 -0.065    0.110 0.0046 -0.018
## item4    -0.030    -0.035  -0.020   -0.0084 -0.033    0.106 0.0022 -0.022
## item5     0.034     0.030   0.034    0.0076  0.031    0.099 0.0043  0.032
## 
##  Item statistics 
##         n raw.r std.r r.cor r.drop mean  sd
## item1 250  0.40  0.39   NaN -0.066  3.2 1.4
## item2 250  0.52  0.51   NaN  0.061  3.0 1.5
## item3 250  0.48  0.46   NaN  0.011  3.1 1.5
## item4 250  0.43  0.44   NaN -0.013  3.0 1.4
## item5 250  0.38  0.40   NaN -0.062  2.8 1.4
## 
## Non missing response frequency for each item
##          1    2    3    4    5 miss
## item1 0.17 0.18 0.20 0.20 0.26    0
## item2 0.22 0.21 0.18 0.16 0.22    0
## item3 0.20 0.20 0.15 0.21 0.23    0
## item4 0.18 0.20 0.19 0.25 0.18    0
## item5 0.22 0.22 0.22 0.17 0.16    0

16.4 Agregasi skor dan analisis lanjut

serv$skor_kepuasan <- rowMeans(serv)
summary(serv$skor_kepuasan)
##    Min. 1st Qu.  Median    Mean 3rd Qu.    Max. 
##   1.400   2.600   3.000   3.017   3.400   5.000

16.5 Pengembangan ke analisis kebijakan

Skor kepuasan dapat dipakai sebagai variabel dependen dalam model yang memasukkan faktor demografis dan pengalaman layanan. Dalam evaluasi layanan publik, pemodelan kepuasan berguna untuk memetakan determinan kualitas layanan secara terukur (Hair et al., 2019; Babbie, 2013).

Model linear dasar:

\[ Kepuasan_i=\beta_0+\beta_1WaktuTunggu_i+\beta_2KualitasPetugas_i+\beta_3AksesDigital_i+\varepsilon_i \]

Jika outcome dikategorikan puas/tidak puas, gunakan logistik:

\[ \log\left(\frac{p_i}{1-p_i}\right)=\beta_0+\beta_1X_{1i}+...+\beta_kX_{ki} \]

Odds ratio:

\[ OR_j=e^{\beta_j} \]

16.6 Contoh perhitungan manual

Misal model logistik menghasilkan:

  • \(\beta_{\text{waktu tunggu}}=-0.12\)
  • \(\beta_{\text{kualitas petugas}}=0.35\)

Maka odds ratio:

\[ OR_{\text{waktu tunggu}}=e^{-0.12}=0.887 \]

\[ OR_{\text{kualitas petugas}}=e^{0.35}=1.419 \]

Interpretasi:

  • setiap kenaikan 1 unit waktu tunggu menurunkan odds puas sekitar \(11.3\%\) \((1-0.887)\times100\%\),
  • setiap kenaikan 1 unit kualitas petugas meningkatkan odds puas sekitar \(41.9\%\).

16.7 Tugas analitik

  1. Buat simulasi variabel waktu tunggu dan lakukan regresi terhadap skor kepuasan.
  2. Tulis rekomendasi perbaikan layanan berbasis hasil statistik.

BAGIAN VI - PELAPORAN ILMIAH, REPLIKASI, DAN PENULISAN AKADEMIK

17 Bab Menulis Hasil Analisis Kuantitatif

17.1 Prinsip pelaporan hasil

  • Akurat secara statistik
  • Jelas secara naratif
  • Relevan secara substantif
  • Transparan secara metodologis Standar pelaporan statistik yang baik menekankan transparansi ukuran efek, ketidakpastian estimasi, dan batas inferensi (APA, 2020; Wasserstein et al., 2019).

17.2 Template model pelaporan statistik

Gunakan format ringkas berikut saat menulis hasil:

\[ \hat{\beta}\; (SE),\; t/z,\; p,\; CI_{95\%} \]

Contoh:

b = 0.28, SE = 0.07, t = 4.00, p < 0.001, 95% CI [0.14, 0.42]

Untuk model linear, laporkan:

  • persamaan model,
  • koefisien utama,
  • \(R^2\) dan adjusted \(R^2\),
  • hasil uji asumsi penting.

Untuk model logistik, laporkan:

  • koefisien logit dan/atau OR,
  • CI 95% untuk OR,
  • pseudo-\(R^2\) (jika dipakai),
  • metrik klasifikasi dasar (opsional sesuai tujuan).

17.3 Struktur bab hasil

  • Profil data dan responden
  • Temuan deskriptif
  • Hasil uji asumsi
  • Hasil uji utama
  • Ringkasan temuan

17.4 Contoh kalimat pelaporan

“Hasil regresi menunjukkan bahwa jam belajar berpengaruh positif terhadap nilai (b = 2.13, p < 0.01), setelah mengontrol usia dan dukungan keluarga. Model menjelaskan 42% variasi nilai (R2 = 0.42).”

17.5 Tabel dan grafik

Setiap tabel/grafik wajib memiliki:

  • nomor dan judul,
  • sumber data,
  • catatan singkat bila diperlukan,
  • narasi interpretasi di teks utama.

17.6 Kesalahan pelaporan yang sering terjadi

  • Menampilkan output software mentah tanpa seleksi.
  • Menyalin p-value tanpa interpretasi substansi.
  • Tidak menyebut ukuran efek dan interval kepercayaan.

17.7 Contoh perhitungan dan pelaporan manual

Misal dari regresi diperoleh:

  • \(\hat{\beta}_{jam}=0.22\)
  • \(SE(\hat{\beta}_{jam})=0.05\)

Maka statistik uji:

\[ t=\frac{0.22}{0.05}=4.40 \]

Jika derajat bebas besar, nilai ini biasanya menghasilkan \(p<0.001\).

Contoh CI 95% (aproksimasi \(1.96\times SE\)):

\[ 0.22 \pm 1.96(0.05)=0.22\pm0.098 \] \[ CI_{95\%}\approx [0.122,\;0.318] \]

Narasi laporan:

“Koefisien jam belajar bernilai positif (b = 0.22, SE = 0.05, t = 4.40, p < 0.001, 95% CI [0.12, 0.32]), menunjukkan peningkatan jam belajar berkaitan dengan kenaikan nilai, setelah mengontrol variabel lain pada model.”


18 Lampiran Inti. Rumus-Rumus dan Model Statistik (Bab 1-18)

18.1 Tujuan lampiran

Lampiran ini melengkapi seluruh bab dengan rumus inti dan bentuk model yang paling sering dipakai pada penelitian kuantitatif sosial. Tujuannya agar pembaca tidak hanya memahami narasi metodologi, tetapi juga memiliki referensi matematis yang konsisten untuk implementasi analisis.

18.2 Notasi dasar

Gunakan notasi umum berikut:

  • \(i = 1, 2, \ldots, n\): indeks observasi
  • \(Y_i\): variabel dependen untuk observasi ke-\(i\)
  • \(X_{ki}\): variabel independen ke-\(k\) untuk observasi ke-\(i\)
  • \(\bar{X}\): rata-rata sampel
  • \(s\): simpangan baku sampel
  • \(\mu, \sigma^2\): parameter populasi
  • \(\varepsilon_i\): error/residual

18.3 Bab 1-3: Fondasi paradigma, teori, dan model konseptual

Bab 1-3 berisi fondasi konseptual. Bentuk matematis yang relevan:

Model konseptual umum:

\[ Y = f(X_1, X_2, \ldots, X_k) + \varepsilon \]

Model jalur sederhana (mediasi):

\[ M = aX + \varepsilon_M,\quad Y = c'X + bM + \varepsilon_Y \]

Efek total:

\[ c = c' + ab \]

Model moderasi:

\[ Y = \beta_0 + \beta_1 X + \beta_2 Z + \beta_3 (X \times Z) + \varepsilon \]

Parameter kunci moderasi adalah \(\beta_3\). Jika signifikan, pengaruh \(X\) terhadap \(Y\) berbeda menurut level \(Z\).

18.4 Bab 4-5: Topik, masalah, dan perumusan hipotesis

Struktur hipotesis statistik:

\[ H_0: \theta = \theta_0 \quad \text{vs} \quad H_1: \theta \neq \theta_0 \]

Untuk hipotesis arah:

\[ H_0: \beta_1 \le 0 \quad \text{vs} \quad H_1: \beta_1 > 0 \]

Atau:

\[ H_0: \mu_1 = \mu_2 \quad \text{vs} \quad H_1: \mu_1 \neq \mu_2 \]

18.5 Bab 6: Desain penelitian kuantitatif

Model difference-in-differences (DiD):

\[ Y_{it} = \beta_0 + \beta_1 \text{Treat}_i + \beta_2 \text{Post}_t + \beta_3 (\text{Treat}_i \times \text{Post}_t) + \varepsilon_{it} \]

Estimasi efek kebijakan utama ada pada \(\beta_3\).

Model panel sederhana:

\[ Y_{it} = \alpha_i + \lambda_t + \beta X_{it} + \varepsilon_{it} \]

dengan \(\alpha_i\) efek tetap unit dan \(\lambda_t\) efek waktu.

18.6 Bab 7: Populasi, sampling, dan ukuran sampel

Rumus Slovin:

\[ n = \frac{N}{1 + N e^2} \]

Koreksi populasi terbatas (proporsi):

\[ n = \frac{N Z^2 p(1-p)}{(N-1)d^2 + Z^2 p(1-p)} \]

Bobot sampling dasar:

\[ w_i = \frac{1}{\pi_i} \]

dengan \(\pi_i\) probabilitas terpilihnya unit ke-\(i\).

18.7 Bab 8: Instrumen, validitas, reliabilitas

Korelasi item-total (konsep umum):

\[ r_{it} = \text{cor}(X_j, T_{-j}) \]

Cronbach’s alpha:

\[ \alpha = \frac{k}{k-1}\left(1 - \frac{\sum_{j=1}^{k} s_j^2}{s_T^2}\right) \]

Standard error of measurement (SEM):

\[ SEM = s_X \sqrt{1-\alpha} \]

Composite Reliability (CR):

\[ CR = \frac{\left(\sum \lambda_j\right)^2}{\left(\sum \lambda_j\right)^2 + \sum \theta_j} \]

Average Variance Extracted (AVE):

\[ AVE = \frac{\sum \lambda_j^2}{\sum \lambda_j^2 + \sum \theta_j} \]

18.8 Bab 9: Kontrol mutu data dan kualitas lapangan

Response rate:

\[ RR = \frac{\text{wawancara selesai}}{\text{unit eligibel}} \times 100\% \]

Mismatch back-check:

\[ \text{Mismatch Rate} = \frac{\text{item tidak cocok}}{\text{item diverifikasi}} \times 100\% \]

Completion rate item:

\[ \text{Completion} = \frac{\text{isian valid}}{\text{total item wajib}} \times 100\% \]

18.9 Bab 10: Data cleaning dan manajemen data

Z-score untuk screening nilai ekstrem:

\[ z_i = \frac{x_i - \bar{x}}{s} \]

IQR outlier rule:

\[ \text{Lower Bound} = Q_1 - 1.5(IQR),\quad \text{Upper Bound} = Q_3 + 1.5(IQR) \]

dengan:

\[ IQR = Q_3 - Q_1 \]

Winsorisasi sederhana:

\[ x_i^{(w)} = \begin{cases} L, & x_i < L \\ x_i, & L \le x_i \le U \\ U, & x_i > U \end{cases} \]

18.10 Bab 11: Statistik deskriptif dan eksplorasi

Rata-rata:

\[ \bar{x} = \frac{1}{n}\sum_{i=1}^{n} x_i \]

Varians sampel:

\[ s^2 = \frac{1}{n-1}\sum_{i=1}^{n}(x_i-\bar{x})^2 \]

Simpangan baku:

\[ s = \sqrt{s^2} \]

Koefisien variasi:

\[ CV = \frac{s}{\bar{x}} \times 100\% \]

Skewness (bentuk umum):

\[ \text{Skew} \approx \frac{1}{n}\sum \left(\frac{x_i-\bar{x}}{s}\right)^3 \]

Kurtosis (bentuk umum):

\[ \text{Kurt} \approx \frac{1}{n}\sum \left(\frac{x_i-\bar{x}}{s}\right)^4 \]

18.11 Bab 12: Inferensi dan uji hipotesis

Statistik uji t satu sampel:

\[ t = \frac{\bar{x} - \mu_0}{s/\sqrt{n}} \]

Uji t dua sampel (Welch):

\[ t = \frac{\bar{x}_1 - \bar{x}_2}{\sqrt{\frac{s_1^2}{n_1}+\frac{s_2^2}{n_2}}} \]

Interval kepercayaan mean:

\[ \bar{x} \pm t_{\alpha/2,df}\left(\frac{s}{\sqrt{n}}\right) \]

Ukuran efek Cohen’s d:

\[ d = \frac{\bar{x}_1 - \bar{x}_2}{s_p} \]

dengan:

\[ s_p = \sqrt{\frac{(n_1-1)s_1^2 + (n_2-1)s_2^2}{n_1+n_2-2}} \]

18.12 Bab 13: Korelasi dan regresi linear sederhana

Koefisien korelasi Pearson:

\[ r = \frac{\sum (x_i-\bar{x})(y_i-\bar{y})}{\sqrt{\sum (x_i-\bar{x})^2 \sum (y_i-\bar{y})^2}} \]

Model regresi linear sederhana:

\[ Y_i = \beta_0 + \beta_1 X_i + \varepsilon_i \]

Estimator OLS:

\[ \hat{\beta}_1 = \frac{\sum (x_i-\bar{x})(y_i-\bar{y})}{\sum (x_i-\bar{x})^2},\quad \hat{\beta}_0 = \bar{y} - \hat{\beta}_1 \bar{x} \]

Koefisien determinasi:

\[ R^2 = 1 - \frac{\sum (y_i-\hat{y}_i)^2}{\sum (y_i-\bar{y})^2} \]

18.13 Bab 14: Regresi linear berganda dan asumsi klasik

Model:

\[ Y_i = \beta_0 + \beta_1 X_{1i} + \beta_2 X_{2i} + \cdots + \beta_k X_{ki} + \varepsilon_i \]

Bentuk matriks OLS:

\[ \hat{\beta} = (X'X)^{-1}X'Y \]

Uji F keseluruhan model:

\[ F = \frac{(SSR/k)}{(SSE/(n-k-1))} \]

Variance Inflation Factor (VIF):

\[ VIF_j = \frac{1}{1-R_j^2} \]

Breusch-Pagan (konsep):

\[ \hat{u}_i^2 = \alpha_0 + \alpha_1 Z_{1i} + \cdots + \alpha_m Z_{mi} + v_i \]

Durbin-Watson:

\[ DW = \frac{\sum_{t=2}^{n}(e_t-e_{t-1})^2}{\sum_{t=1}^{n}e_t^2} \]

18.14 Bab 15: ANOVA, ANCOVA, dan uji lanjut

Model one-way ANOVA:

\[ Y_{ij} = \mu + \tau_j + \varepsilon_{ij} \]

Statistik F:

\[ F = \frac{MS_{between}}{MS_{within}} \]

dengan:

\[ MS_{between} = \frac{SS_{between}}{k-1},\quad MS_{within} = \frac{SS_{within}}{N-k} \]

Ukuran efek ANOVA (eta squared):

\[ \eta^2 = \frac{SS_{between}}{SS_{total}} \]

Model ANCOVA:

\[ Y_{ij} = \mu + \tau_j + \beta (X_{ij}-\bar{X}) + \varepsilon_{ij} \]

18.15 Bab 16-17: Model studi kasus sosial

Contoh model regresi IPK:

\[ IPK_i = \beta_0 + \beta_1 \text{Literasi}_i + \beta_2 \text{JamBelajar}_i + \beta_3 \text{Dukungan}_i + \varepsilon_i \]

Contoh model kepuasan layanan:

\[ Kepuasan_i = \beta_0 + \beta_1 \text{WaktuTunggu}_i + \beta_2 \text{KualitasPetugas}_i + \beta_3 \text{AksesDigital}_i + \varepsilon_i \]

Jika outcome biner (puas/tidak puas), gunakan logistik:

\[ \log\left(\frac{p_i}{1-p_i}\right)=\beta_0+\beta_1X_{1i}+\cdots+\beta_kX_{ki} \]

Odds ratio:

\[ OR_j = e^{\beta_j} \]

18.16 Bab 18: Model pelaporan hasil statistik

Format umum pelaporan koefisien:

\[ \hat{\beta}_j \; (SE),\; t,\; p,\; CI_{95\%} \]

Contoh format kalimat:

b = 0.28, SE = 0.07, t = 4.00, p < 0.001, 95% CI [0.14, 0.42]

Model pelaporan ringkas regresi:

  • persamaan model,
  • parameter utama (\(\beta\)),
  • ukuran kecocokan model (\(R^2\), adjusted \(R^2\), atau pseudo-\(R^2\)),
  • hasil uji asumsi penting,
  • interpretasi substantif.

18.17 Peta pemilihan model cepat

Pilih model berdasarkan tipe variabel dependen:

  • \(Y\) kontinu: regresi linear/ANOVA/ANCOVA
  • \(Y\) biner: regresi logistik biner
  • \(Y\) ordinal: regresi ordinal
  • \(Y\) hitungan: Poisson/Negative Binomial
  • \(Y\) waktu-kejadian: survival model

Jika data berjenjang (siswa dalam sekolah, pasien dalam puskesmas), pertimbangkan model multilevel:

\[ Y_{ij} = \beta_0 + \beta_1 X_{ij} + u_j + \varepsilon_{ij} \]

dengan \(u_j\) efek acak level kelompok.

18.18 Penutup lampiran

Lampiran ini berfungsi sebagai referensi rumus dan model untuk seluruh buku. Dalam praktik, pemilihan rumus tidak boleh dipisahkan dari desain penelitian, tipe data, kualitas pengukuran, dan tujuan inferensi. Gunakan rumus sebagai alat berpikir metodologis, bukan sekadar alat hitung mekanis.


19 Daftar Referensi

Agresti, A., & Finlay, B. (2009). Statistical methods for the social sciences (4th ed.). Pearson.

American Psychological Association. (2020). Publication manual of the American Psychological Association (7th ed.). APA.

Babbie, E. (2013). The practice of social research (13th ed.). Cengage Learning.

Casella, G., & Berger, R. L. (2002). Statistical inference (2nd ed.). Duxbury.

Cohen, J. (1988). Statistical power analysis for the behavioral sciences (2nd ed.). Lawrence Erlbaum Associates.

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). SAGE.

Cumming, G. (2014). The new statistics: Why and how. Psychological Science, 25(1), 7-29.

Field, A. (2018). Discovering statistics using IBM SPSS statistics (5th ed.). SAGE.

Fox, J. (2016). Applied regression analysis and generalized linear models (3rd ed.). SAGE.

Hair, J. F., Black, W. C., Babin, B. J., & Anderson, R. E. (2019). Multivariate data analysis (8th ed.). Cengage.

Howell, D. C. (2013). Statistical methods for psychology (8th ed.). Cengage.

Kutner, M. H., Nachtsheim, C. J., Neter, J., & Li, W. (2005). Applied linear statistical models (5th ed.). McGraw-Hill/Irwin.

Long, J. S., & Ervin, L. H. (2000). Using heteroscedasticity consistent standard errors in the linear regression model. The American Statistician, 54(3), 217-224.

Montgomery, D. C. (2019). Design and analysis of experiments (10th ed.). Wiley.

Montgomery, D. C., Peck, E. A., & Vining, G. G. (2021). Introduction to linear regression analysis (6th ed.). Wiley.

Tabachnick, B. G., & Fidell, L. S. (2019). Using multivariate statistics (7th ed.). Pearson.

Walpole, R. E., Myers, R. H., Myers, S. L., & Ye, K. (2012). Probability and statistics for engineers and scientists (9th ed.). Pearson.

Wasserstein, R. L., & Lazar, N. A. (2016). The ASA statement on p-values: Context, process, and purpose. The American Statistician, 70(2), 129-133.

Wasserstein, R. L., Schirm, A. L., & Lazar, N. A. (2019). Moving to a world beyond “p < 0.05”. The American Statistician, 73(sup1), 1-19.

Wooldridge, J. M. (2016). Introductory econometrics: A modern approach (6th ed.). Cengage.