Analisis komprehensif mengenai gap ekonomi, sosial, dan digital yang menghambat kemajuan pendidikan Indonesia, serta tinjauan kritis terhadap praksis kebijakan nasional.
Masih di bawah target Wajib Belajar 12 Tahun
Antara wilayah Urban dan Rural (3T)
Peluang Kaya vs Miskin masuk Kuliah
Data menunjukkan korelasi linear yang kuat antara status ekonomi keluarga (kuintil pengeluaran) dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi.
Anak-anak dari keluarga Kuintil 1 (20% termiskin) menghadapi hambatan finansial yang signifikan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang tersier, menciptakan siklus kemiskinan antar-generasi.
Hanya 12% anak dari keluarga termiskin yang mengenyam pendidikan tinggi, berbanding 52% dari keluarga terkaya.
Sumber: Olahan Data Susenas (Ilustrasi)
Geografi adalah takdir dalam pendidikan Indonesia. Siswa di perkotaan menikmati akses digital yang jauh lebih baik, sementara kualitas guru masih terpusat di pulau Jawa.
Persentase siswa dengan akses ke perangkat komputer dan internet stabil.
Indeks Kompetensi Guru (UKG) berdasarkan wilayah utama.
Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) secara konsisten menempatkan Indonesia di kuartil bawah dunia.
Skor kompetensi dasar (Membaca, Matematika, Sains) pelajar Indonesia masih jauh di bawah rata-rata negara OECD, mengindikasikan bahwa meskipun akses sekolah meningkat, kualitas pembelajaran belum memadai.
Skor PISA 2018 (Benchmark)
Anggaran pendidikan 20% APBN adalah mandat konstitusi. Namun, inefisiensi birokrasi dan ketidaktepatan sasaran menyebabkan dampak minimal pada kualitas. Klik tahapan di bawah untuk melihat isu krusial.
Alokasi & Transfer
Implementasi
Pembelajaran
Detail analisis kebijakan akan muncul di sini.