Kesenjangan Ekonomi: Si Kaya vs Si Miskin
Akses pendidikan dasar relatif merata, namun ketimpangan melebar drastis pada jenjang pendidikan tinggi. Data menunjukkan Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi memiliki gap yang mengkhawatirkan antara kelompok pengeluaran terendah (Kuintil 1) dan tertinggi (Kuintil 5).
Lipat Peluang Kuliah
Anak dari keluarga kaya memiliki peluang 5 kali lebih besar untuk kuliah dibanding anak miskin.
Titik kritis di mana angka putus sekolah mulai meningkat pada kelompok ekonomi rentan.
Kesenjangan Digital: Desa vs Kota
Pandemi COVID-19 membuka kotak pandora ketimpangan digital. Meskipun penggunaan telepon seluler tinggi, kepemilikan komputer/laptop yang krusial untuk pembelajaran mendalam masih sangat rendah, terutama di pedesaan.
Analisis Infrastruktur
-
✓
Smartphone Only: Mayoritas siswa pedesaan mengakses internet hanya lewat HP, membatasi kemampuan mengerjakan tugas kompleks.
-
⚠
Blind Spot Sinyal: 12,500+ desa di wilayah 3T masih belum terjangkau akses internet 4G yang stabil.
-
↪
Literasi Digital: Ketersediaan alat tidak berbanding lurus dengan kemampuan menggunakannya untuk tujuan edukatif.
Kualitas Pembelajaran (PISA Score)
Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan posisi Indonesia dibandingkan rata-rata negara OECD. Kita menghadapi tantangan besar dalam literasi membaca dan matematika.
Krisis Literasi
Skor membaca Indonesia konsisten berada di papan bawah. Hal ini berkorelasi dengan rendahnya minat baca dan kurangnya akses buku berkualitas di perpustakaan daerah.
Gap Kompetensi
Terdapat selisih skor yang signifikan (setara 2-3 tahun sekolah) antara siswa di Jakarta/Yogyakarta dibandingkan dengan siswa di wilayah Timur Indonesia.
Distribusi & Kualitas Guru
Visualisasi ini memetakan hubungan antara rasio guru bersertifikat (Sumbu Y) dengan rasio murid-guru (Sumbu X). Ukuran lingkaran merepresentasikan jumlah sekolah di wilayah tersebut.
Ideal: Guru Cukup & Berkualitas
Kritis: Kurang Guru & Belum Sertifikasi
Jumlah Sekolah per Wilayah
Lingkaran Setan Kemiskinan & Pendidikan
Bagaimana faktor ekonomi, sosial, dan kebijakan saling mengunci dan melanggengkan ketimpangan antar generasi.
Keluarga Prasejahtera
Nutrisi rendah, kurang stimulus, tidak ada fasilitas belajar.
Sekolah Berkualitas Rendah
Guru honorer underpaid, fasilitas rusak, akses digital minim.
Hasil Belajar Rendah
Putus sekolah, soft skill kurang, tidak lanjut kuliah.
INTERVENSI KEBIJAKAN DIBUTUHKAN
Tanpa beasiswa afirmatif (KIP-K), perbaikan gizi gratis, dan redistribusi guru berkualitas, lulusan akan kembali menjadi pekerja berupah rendah.
Pekerjaan Low-Skill
Pendapatan rendah, kembali membentuk keluarga prasejahtera.