Laporan ini merupakan hasil pencatatan data di Negara Kubang. Fokus utama dari studi ini adalah untuk melihat bagaimana fenomena alam terdistribusi di lima negara bagian utama. Data yang digunakan merupakan data historis sebanyak 53.940 catatan kejadian yang disimulasikan menggunakan dataset diamonds sebagai basis pemetaan frekuensi kejadian.
Data dianalisis berdasarkan dua variabel kategori, yaitu: 1)
Klasifikasi Spesies: Variabel clarity dianggap sebagai 8
Spesies Pohon (yaitu: Gharqad, Sawit, Sakura, Yggdrasil, Yeager, Shinju,
Ohara, Lorax). 2) Pengelolaan: Variabel cut
ditransformasikan menjadi 5 Metode Pengelolaan, yang merepresentasikan
intensitas perawatan dari yang paling minim hingga pengawasan paling
mutakhir (Vegetasi Liar, Reboisasi, Selektif, Lab-Hybrid, Konservasi).
—
Ditinjau dari spesies pohonnya, Negara Kubang memiliki pohon Sawit dan Sakura yang sangat masif, dengan total populasi masing-masing menembus angka 12.000 batang. Hal ini menunjukkan kekuatan sektor perkebunan dan lingkungan yang terjaga. Namun, angka ini sangat kontras dengan spesies Gharqad yang hanya berjumlah 741 pohon, sehingga spesies ini dikategorikan sebagai flora paling kritis di negara ini.
Melihat sistem, Negara Kubang menunjukkan komitmen tinggi pada pelestarian alam, di mana mayoritas lahan dikelola dengan status Konservasi (21.551 pohon). Rendahnya populasi di zona Vegetasi Liar (1.610 batang) membuktikan bahwa pemerintah Kubang sangat aktif dalam merawat lahan terlantar menjadi area yang terkelola dengan sistematis, baik melalui reboisasi maupun teknologi Lab-Hybrid.
Grafik Grouped Bar Chart ini menunjukkan distribusi spesifik tiap pohon terhadap pengelolaannya. Terlihat bahwa spesies Sawit dan Sakura didistribusikan secara merata di hampir semua zona manajemen, terutama di zona Konservasi dan Lab-Hybrid. Sedangkan pada zona Vegetasi Liar, terlihat spesies purba seperti Yggdrasil ternyata memiliki jumlah yang cukup kompetitif dibanding spesies industri, menandakan sisa-sisa hutan asli yang belum tereksploitasi sepenuhnya di area tersebut.
Secara proporsional, zona Konservasi adalah zona paling sehat karena memiliki komposisi spesies yang paling beragam dan seimbang (terlihat dari pembagian persentase yang rata). Berbeda dengan zona Lab-Hybrid yang lebih didominasi oleh spesies tertentu hasil rekayasa. Angka persentase ini mempertegas bahwa keberhasilan konservasi sungguh adil dalam ruang hidup yang diberikan bagi tiap spesies.
Secara keseluruhan, Negara Kubang telah berhasil menciptakan sistem kehutanan yang terencana dengan mengintegrasikan teknologi dan perlindungan terpadu. Sawit mendominasi secara jumlah, mungkkin dikarenakan gerakan sawitisasi yang dilakukan oleh pemerintahnya. Selain itu keberadaan spesies langka tetap terjamin di dalam zona konservasi, menciptakan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian keanekaragaman hayati.