PENDAHULUAN

Sektor Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan merupakan salah satu sektor strategis dalam perekonomian Provinsi Jawa Tengah. Pembiayaan yang diberikan oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Syariah (BPS) berperan penting dalam menjaga keberlanjutan usaha sektor ini, khususnya di tingkat kabupaten/kota. Namun, jumlah kredit yang disalurkan setiap tahun mengalami fluktuasi akibat berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi makro, kebijakan perbankan, iklim usaha, serta dampak eksternal seperti pandemi dan pemulihan ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode peramalan yang mampu menangkap pola historis data untuk memprediksi jumlah kredit di masa mendatang.

DESKRIPSI DATA

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang bersumber dari publikasi statistik mengenai Jumlah Kredit Berdasarkan Sektor Ekonomi yang Diberikan oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Syariah (BPS) Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah. Fokus penelitian dibatasi pada sektor Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan.

Variabel Penelitian Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas: 1. Tahun, yaitu periode pengamatan dari 2020 sampai 2024. 2. Jumlah Kredit, yaitu total kredit sektor Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan yang disalurkan oleh BPR dan BPS pada seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah dalam satuan rupiah.

SUMBER DATA

Data ini bersumber dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah

EXPLORATORY DATA ANALYSIS (EDA)

Hasil Exploratory Data Analysis menunjukkan bahwa jumlah kredit sektor Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan di Provinsi Jawa Tengah selama periode 2020–2024 memiliki kecenderungan tren menurun tanpa adanya pola musiman. Oleh karena itu, analisis peramalan selanjutnya dilakukan menggunakan metode Double Exponential Smoothing (Holt) yang mampu menangkap komponen tren dalam data. Boxplot jumlah kredit sektor Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan menunjukkan tidak adanya pencilan (outlier) serta variasi antar tahun yang cukup besar. Penyebaran data yang lebih dominan pada nilai kredit rendah mengindikasikan adanya tren penurunan, sehingga data layak digunakan dalam pemodelan peramalan menggunakan metode Exponential Smoothing

METODE ANALISIS

Disini saya menggunakan metode Exponential Smoothing. Metode Exponential Smoothing dipilih karena: 1. Cocok untuk data runtun waktu jangka pendek hingga menengah 2. Mampu memberikan bobot lebih besar pada data terbaru 3. Efektif digunakan pada data tanpa pola musiman yang kompleks Hasil peramalan ini diharapkan dapat membantu pihak perbankan dan pemangku kebijakan dalam: • Perencanaan penyaluran kredit • Pengendalian risiko pembiayaan • Penyusunan kebijakan penguatan sektor pertanian

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data Kredit Sektor Pertanian 2020–2024

summary(ts_kredit)
##     Min.  1st Qu.   Median     Mean  3rd Qu.     Max. 
## 27000000 32000000 44000000 40200000 48000000 50000000
ts_kredit
## Time Series:
## Start = 2020 
## End = 2024 
## Frequency = 1 
## [1] 5.0e+07 4.8e+07 4.4e+07 3.2e+07 2.7e+07

Data tersebut memperlihatkan adanya tren penurunan yang konsisten dari tahun ke tahun, tanpa adanya kenaikan kembali. Penurunan paling tajam terjadi pada periode 2022–2023, di mana kredit turun dari Rp 44.000.000 menjadi Rp 32.000.000. Karena data memiliki pola tren menurun dan tidak menunjukkan adanya pola musiman, maka penggunaan metode Double Exponential Smoothing (Holt) sudah tepat untuk melakukan peramalan jumlah kredit pada tahun berikutnya.

autoplot(ts_kredit) +
  labs(
    title = "Jumlah Kredit Sektor Pertanian Provinsi Jawa Tengah",
    x = "Tahun",
    y = "Jumlah Kredit (Rupiah)"
  ) +
  theme_minimal()

Plot hasil perkembangan kredit menunjukkan bahwa jumlah kredit sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan di Provinsi Jawa Tengah selama periode 2020–2024 cenderung mengalami penurunan. Penurunan relatif kecil terjadi pada 2020–2021, kemudian menjadi lebih tajam sejak 2022 hingga 2024. Pola ini mengindikasikan adanya tren menurun yang konsisten, sehingga penggunaan metode Holt’s Exponential Smoothing tepat untuk menganalisis dan memproyeksikan perkembangan kredit sektor pertanian jangka pendek.

Hasil Peramalan 2025

autoplot(forecast_kredit) +
  labs(
    title = "Peramalan Kredit Sektor Pertanian Tahun 2025",
    x = "Tahun",
    y = "Jumlah Kredit (Rupiah)"
  ) +
  theme_minimal()

Berdasarkan hasil peramalan menggunakan metode Double Exponential Smoothing (Holt), jumlah kredit sektor pertanian di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2025 diperkirakan sebesar Rp 20.110.585. Dengan tingkat kepercayaan 80%, nilai kredit diprediksi berada pada kisaran Rp 15.373.401 hingga Rp 26.487.129, sedangkan pada tingkat kepercayaan 95% berada pada kisaran Rp 10.358.502 hingga Rp 29.862.667. Hasil peramalan menunjukkan bahwa tren penurunan kredit sektor pertanian masih berlanjut, meskipun terdapat ketidakpastian yang cukup besar sebagaimana ditunjukkan oleh interval prediksi.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data kredit sektor Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan di Provinsi Jawa Tengah periode 2020–2024, dapat disimpulkan bahwa jumlah kredit menunjukkan tren penurunan yang konsisten dari tahun ke tahun. Nilai kredit tertinggi terjadi pada tahun 2020 sebesar Rp 50.000.000, sedangkan nilai terendah terjadi pada tahun 2024 sebesar Rp 27.000.000. Penurunan ini mengindikasikan adanya pelemahan dalam penyaluran kredit sektor pertanian selama periode pengamatan.

Hasil pemodelan menggunakan metode Double Exponential Smoothing (Holt) menunjukkan bahwa metode ini sesuai digunakan karena data memiliki pola tren tanpa komponen musiman. Model Holt mampu menangkap kecenderungan penurunan tersebut dan memberikan hasil peramalan yang cukup stabil.

Berdasarkan hasil peramalan, jumlah kredit sektor pertanian di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2025 diperkirakan sebesar Rp 20.110.585, dengan interval prediksi yang menunjukkan bahwa nilai kredit kemungkinan berada antara Rp 10,36 juta hingga Rp 29,86 juta pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil ini menunjukkan bahwa tren penurunan kredit diperkirakan masih berlanjut pada tahun 2025, sehingga diperlukan perhatian lebih dari pihak perbankan dan pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan pembiayaan sektor pertanian.

REFERENSI

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah. (2024). Jumlah Kredit Berdasarkan Sektor Ekonomi yang Diberikan oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Syariah (BPS) Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah.