Dosen Pembimbing : Dr. I Gede Nyoman Mindra Jaya, M.Si.
Disusun Oleh : Samih Muhamad Alfarras
NPM : 140610230053

PROGRAM STUDI S-1 STATISTIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2025


Daftar Isi


1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius secara global dan nasional, dengan variasi insiden yang dipengaruhi oleh faktor individu dan ekologi. Penelitian epidemiologis menyatakan bahwa komorbid seperti HIV secara signifikan meningkatkan peluang terjadinya TBC aktif (Narasimhan et al., 2013), dan bukti meta-analitik menunjukkan pula hubungan kuat antara HIV dan prevalensi TBC pada populasi yang hidup dengan HIV (Qi et al., 2023). Selain faktor klinis, faktor ekologis dan sosial ekonomi seperti kepadatan penduduk dan kemiskinan juga dikaitkan dengan variasi spasial insiden TBC sehingga memerlukan pendekatan analisis pada tingkat area untuk memahami pola sebaran (Liyew et al., 2024; Sihaloho et al., 2019).

Literatur kajian ekologi dan meta-analisis menegaskan bahwa diabetes mellitus merupakan salah satu determinan penting yang meningkatkan risiko TBC dan memperburuk hasil pengobatan (Silva et al., 2018). Selain itu, tinjauan sistematis terbaru pada hubungan diabetes dan TBC menunjukkan bahwa diabetes meningkatkan risiko berkembangnya penyakit TBC aktif dibandingkan tanpa diabetes (Franco et al., 2024). Oleh karena itu, ketika menganalisis sebaran spasial TBC pada tingkat kabupaten/kota, penting untuk mmemperhatikan bagaimana ketersediaan layanan kesehatan dan beban kasus diabetes berinteraksi dengan karakteristik demografi dan ekonomi setempat—seperti kepadatan penduduk dan tingkat kemiskinan—serta kondisi akses terhadap air minum dan fasilitas sanitasi yang layak, karena faktor-faktor ini dapat memengaruhi baik risiko penularan maupun hasil penanganan penyakit. (Silva et al., 2018; Franco et al., 2024).

Pendekatan regresi spasial seperti Spatial Autoregressive Model (SAR) dan Spatial Error Model (SEM) banyak digunakan untuk menangkap ketergantungan spasial pada data area dan untuk mengurangi bias estimasi yang timbul bila asumsi independensi spasial dilanggar. Studi-studi sebelumnya meninjau berbagai teknik spasial dan merekomendasikan penggunaan model spasial ketika terdapat autokorelasi ruang yang signifikan pada data kasus penyakit menular (Sihaloho et al., 2019). Dalam konteks analisis TBC pada level kabupaten/kota, model-model ini membantu membedakan apakah efek spasial bekerja melalui variabel respons (lag spasial) atau melalui proses kesalahan (error spasial), sehingga pemilihan model yang tepat penting untuk inferensi yang valid dan untuk rekomendasi kebijakan berbasis wilayah (Liyew et al., 2024).

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar tersebut, beberapa masalah utama yang diidentifikasi adalah:

  1. Terdapat ketidakmerataan sebaran kasus TBC antar kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2024 yang belum sepenuhnya dipahami pola spasialnya.

  2. Peran faktor komorbid, khususnya beban kasus diabetes, serta determinan layanan kesehatan dan kondisi sosial ekonomi lokal, yaitu ketersediaan fasilitas kesehatan, kepadatan penduduk, persentase penduduk miskin, cakupan air minum layak dan persentase sanitasi layak, terhadap sebaran spasial kasus TBC di tingkat kabupaten/kota belum dianalisis secara komprehensif pada dataset 2024.

  3. Belum ada konsensus apakah model dengan komponen lag spasial (SAR) atau model yang menangkap korelasi error spasial (SEM) lebih sesuai untuk menjelaskan variasi spasial kasus TB di Jawa Tengah, serta bagaimana perbandingan kinerja keduanya pada data 2024.

  4. Pola interpolasi spasial antar wilayah pada jumlah kasus TBC belum diuji, sehingga keterkaitan nilai kasus di suatu wilayah dengan wilayah sekitarnya belum diketahui.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mendeskripsikan pola sebaran spasial kasus tuberkulosis di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2024 pada tingkat kabupaten/kota.

  2. Mengestimasi pengaruh jumlah fasilitas kesehatan (x1), jumlah penderita diabetes mellitus (x2), kepadatan penduduk per km2 (x3), persentase penduduk miskin (x4), persentase air minum layak (x5), dan persentase sanitasi layak (x6) terhadap jumlah kasus tuberkulosis (y) menggunakan model regresi spasial.

  3. Mengaplikasikan dan membandingkan dua pendekatan regresi spasial utama yaitu Spatial Autoregressive Model (SAR) dan Spatial Error Model (SEM) untuk menentukan model yang paling sesuai menjelaskan variasi spasial kasus TB di Jawa Tengah pada tahun 2024 berdasarkan ukuran kebaikan model seperti AIC dan uji diagnostik spasial.

  4. Mengidentifikasi dan mengukur pola interpolasi spasial jumlah kasus TBC antar wilayah.

1.4 Batasan Penelitian

Agar ruang lingkup penelitian terfokus dan dapat diselesaikan secara metodologis, penelitian ini membatasi diri pada hal-hal berikut:

  1. Unit analisis adalah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Analisis tidak dilakukan pada level kecamatan atau level individu.

  2. Periode analisis adalah tahun 2024 dan hanya menggunakan data kasus TBC yang dilaporkan pada tahun tersebut sebagai variabel dependen y.

  3. Variabel independen yang dimasukkan terbatas pada: jumlah fasilitas kesehatan (x1), jumlah penderita diabetes mellitus (x2), kepadatan penduduk per km2 (x3), persentase penduduk miskin (x4), persentase air minum layak (x5), dan persentase sanitasi layak (x6) per kabupaten/kota. Variabel lain yang mungkin relevan (misalnya kualitas udara, akses layanan kesehatan, migrasi) tidak dimasukkan dalam model utama dikarenakan keterbatasan data.

  4. Penentuan model spasial dan inferensi mengikuti asumsi klasik model spasial. Jika ditemukan pelanggaran asumsi serius (misalnya heteroskedastisitas spasial yang kuat atau outlier spasial ekstrem) akan dilakukan transformasi atau pendekatan robust namun pembahasan teknis lanjutan akan disajikan secara terbatas pada lampiran.

2 Tinjauan Pustaka

2.1 Spatial Dependence

Spatial Dependence atau ketergantungan spasial merujuk pada konsep bahwa observasi yang berlokasi berdekatan cenderung lebih mirip dibanding observasi yang berjauhan, karena proses sosial, ekonomi, atau biologis yang melintasi batas wilayah. Konsep ini merupakan penerapan prinsip Tobler tentang interaksi ruang, yakni bahwa segala sesuatu di ruang berkaitan, tetapi hal-hal yang lebih dekat mempunyai hubungan yang lebih kuat (Anselin, 1988). Dalam konteks epidemiologi penyakit menular seperti tuberkulosis, ketergantungan spasial muncul karena transmisi antar populasi tetangga, mobilitas manusia, serta keterkaitan determinan sosial ekonomi di area berdekatan (Liyew et al., 2024; Sihaloho et al., 2019). Pemahaman teori ketergantungan spasial menjadi dasar untuk memilih pendekatan analitik yang memperhitungkan struktur ruang, karena pelanggaran asumsi independensi antar unit akan menghasilkan estimasi dan inferensi yang bias bila digunakan model nonspasial biasa (Anselin, 1988; LeSage & Pace, 2009).

2.2 Autokorelasi Spasial

Autokorelasi spasial digunakan untuk mengukur sejauh mana nilai suatu variabel di satu lokasi berkorelasi dengan nilai di lokasi lain yang berdekatan. Terdapat dua jenis analisis autokorelasi spasial, yaitu Global Moran’s I dan Local Moran’s I (LISA). Global Moran’s I digunakan untuk menilai apakah pola spasial secara keseluruhan bersifat mengelompok (clustered), acak (random), atau menyebar (dispersed), sedangkan Local Moran’s I digunakan untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi spesifik yang membentuk klaster signifikan, seperti wilayah dengan kasus TBC tinggi yang berdekatan dengan wilayah serupa (High-High) atau rendah dengan rendah (Low-Low). Kedua ukuran ini penting untuk memahami pola sebaran penyakit dan mendeteksi daerah prioritas penanganan

2.3 Spatial Autoregressive Model (SAR)

Model SAR memperkenalkan lag spasial variabel dependen untuk menangkap efek spillover antara unit ruang. Bentuk model SAR adalah:

\[ y = \rho W y + X \beta + \varepsilon \]

Di mana :

y adalah vektor variabel dependen,

W adalah matriks bobot spasial yang telah ditentukan,

ρ adalah koefisien lag spasial yang mengukur seberapa besar nilai y di satu wilayah dipengaruhi oleh nilai y di wilayah tetangga,

X adalah matriks kovariat,

β adalah vektor koefisien, dan

ε adalah komponen error iid atau dengan struktur varians tertentu

Model SAR memasukkan ketergantungan spasial melalui variabel dependen, menunjukkan bahwa nilai TBC di suatu wilayah dipengaruhi oleh nilai TBC di wilayah sekitar.

2.4 Spatial Error Model (SEM)

Model SEM memodelkan ketergantungan spasial pada komponen error, dengan bentuk:

\[ y = X\beta + u, \qquad u = \lambda W u + \varepsilon \]

Di mana :

\(y\) adalah vektor variabel dependen,

\(X\) adalah matriks kovariat,

\(\beta\) adalah vektor koefisien regresi,

\(W\) adalah matriks pembobot spasial,

\(\lambda\) adalah parameter error spasial, dan

\(\varepsilon\) adalah komponen error yang diasumsikan white noise.

Model SEM memperhitungkan korelasi spasial pada komponen error, yang menunjukkan adanya faktor spasial yang tidak teramati tetapi memengaruhi variabel dependen. Dengan membandingkan kedua model ini, dapat diketahui apakah pengaruh spasial lebih dominan berasal dari interaksi antarwilayah atau dari faktor-faktor tak teramati dalam struktur residual.

2.5 Interpolasi Spasial

Interpolasi spasial adalah rangkaian metode statistik dan numerik yang digunakan untuk memperkirakan nilai variabel pada lokasi yang tidak diamati berdasarkan nilai yang tersedia pada lokasi terukur (Cressie, 1993). Dalam penelitian spasial, interpolasi penting untuk membuat peta tematik, mengisi celah data, dan mendukung analisis lanjut seperti deteksi klaster, pemodelan risiko, dan pengambilan keputusan kebijakan (Webster & Oliver, 2007).

Inti interpolasi spasial adalah asumsi autokorelasi ruang, yaitu nilai yang lebih dekat secara geografis cenderung lebih mirip daripada nilai yang berjauhan (Cressie, 1993). Dua konsep sentral yang sering muncul adalah stasionaritas dan isotropi. Stasionaritas berhubungan dengan kestabilan statistik proses di seluruh area studi, sedangkan isotropi berarti sifat korelasi tidak bergantung pada arah. Ketidakstasionaritas dan anisotropi mempengaruhi pemilihan metode dan interpretasi hasil (Isaaks & Srivastava, 1989; Webster & Oliver, 2007).

Langkah-langkah analisisnya adalah sebagai berikut :

  1. Eksplorasi Data dan Persiapan

Tahap awal meliputi pemeriksaan sebaran titik pengamatan, kelengkapan data, keberadaan pencilan, serta konsistensi sistem koordinat. Jika diperlukan, dilakukan transformasi data untuk mendekati distribusi normal dan mengurangi heteroskedastisitas (Cressie, 1993).

  1. Perhitungan Variogram Eksperimental

Variogram eksperimental adalah fungsi yang menggambarkan ketergantungan spasial berdasarkan perbedaan nilai antar pasangan titik sebagai fungsi jarak pemisah \(h\). Untuk setiap jarak pemisah \(h\), variogram eksperimental dinyatakan sebagai:

\[ \gamma(h) = \frac{1}{2N(h)} \sum_{i,j:; |s_i - s_j| \approx h} \big( Z(s_i) - Z(s_j) \big)^2, \]

di mana \(N(h)\) adalah jumlah pasangan titik yang jaraknya mendekati \(h\), \(s_i\) dan \(s_j\) adalah lokasi spasial, dan \(Z(s)\) menyatakan nilai variabel pada lokasi \(s\) (Matheron, 1963). Variogram eksperimental biasanya diplotkan sebagai titik-titik (semivariansi vs jarak) untuk diinspeksi pola dependen spasialnya.

  1. Pemodelan Variogram Teoretis

Untuk tujuan interpolasi kriging, variogram eksperimental didekati menggunakan model variogram teoretis yang memiliki parameter karakteristik: nugget, sill, dan range:

  • Nugget: nilai semivariansi mendekati nol (jarak sangat kecil) menangkap variabilitas mikro-skala atau kesalahan pengukuran.
  • Sill: plateau variogram pada jarak besar yaitu total varians yang dijelaskan.
  • Range: jarak di mana variogram mencapai (atau mendekati) sill menandai batas ketergantungan spasial.

Model teoretis yang umum dipakai antara lain:

  • Spherical (sph):

\[ \gamma(h) = \begin{cases} \text{nugget} + (\text{sill}-\text{nugget})\Big[\dfrac{3h}{2a} - \dfrac{1}{2}\Big(\dfrac{h}{a}\Big)^3\Big], & 0 \le h \le a \ \text{sill}, & h > a \end{cases} \]

di mana \(a\) adalah range efektif.

  • Exponential:

\[ \gamma(h) = \text{nugget} + (\text{sill}-\text{nugget})(1 - e^{-h/a}) \]

  • Gaussian:

\[ \gamma(h) = \text{nugget} + (\text{sill}-\text{nugget})(1 - e^{-h^2/a^2}) \]

Pemilihan model didasarkan pada kombinasi inspeksi visual (fit kurva terhadap variogram eksperimental) dan kriteria numerik. Selain kecocokan statistik, pemilihan juga harus mempertimbangkan interpretasi fisika/spasial fenomena yang sedang dipelajari (Isaaks & Srivastava, 1989).

  1. Interpolasi Inverse Distance Weighting (IDW)

Inverse Distance Weighting (IDW) adalah metode interpolasi deterministik yang memperkirakan nilai pada lokasi tak teramati sebagai rata-rata tertimbang nilai titik pengamatan sekitarnya, dengan bobot berbanding terbalik terhadap jarak. Secara matematis:

\[ \hat{Z}(s_0) = \frac{\sum_{i=1}^n w_i, Z(s_i)}{\sum_{i=1}^n w_i}, \qquad w_i = \frac{1}{d(s_0,s_i)^p}, \]

di mana \(d(s_0,s_i)\) adalah jarak antara lokasi prediksi \(s_0\) dan titik pengamatan \(s_i\), dan \(p\) adalah parameter pangkat (power) yang mengontrol penurunan bobot terhadap jarak (Shepard, 1968). Kelebihan IDW adalah kesederhanaan dan transparansi; keterbatasannya termasuk asumsi isotropi dan tidak ada model eksplisit untuk ketidakpastian prediksi seperti variansi prediksi.

3 Metodologi Penelitian

3.1 Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari sumber resmi yaitu Portal Data Jawa Tengah dan Badan Pusat Statistik (BPS). Variabel dependen yang digunakan adalah jumlah kasus Tuberkulosis (TBC) di setiap kabupaten/kota, sedangkan variabel independennya meliputi jumlah fasilitas kesehatan (x1), jumlah penderita diabetes mellitus (x2), kepadatan penduduk per km2 (x3), persentase penduduk miskin (x4), persentase air minum layak (x5), dan persentase sanitasi layak (x6). Data yang dikumpulkan mencerminkan kondisi sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2024.

3.2 Unit Spasial

Unit spasial yang digunakan dalam penelitian ini adalah wilayah administratif tingkat kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Setiap unit spasial direpresentasikan dalam bentuk poligon pada peta digital (shapefile), yang berfungsi untuk menganalisis hubungan spasial antarwilayah. Pemilihan unit ini didasarkan pada ketersediaan data dan peran kabupaten/kota sebagai pelaksana utama program pengendalian penyakit TBC di tingkat daerah.

3.3 Metode Analisis

Analisis yang digunakan terdiri atas analisis deskriptif spasial, autokorelasi spasial, dan model ekonometrika spasial. Analisis deskriptif dilakukan untuk memvisualisasikan persebaran kasus TBC di Jawa Tengah. Autokorelasi spasial dihitung menggunakan Global Moran’s I untuk mendeteksi pola sebaran secara keseluruhan dan Local Moran’s I (LISA) untuk mengidentifikasi klaster signifikan antarwilayah. Selanjutnya, dilakukan pemodelan menggunakan Spatial Autoregressive Model (SAR) dan Spatial Error Model (SEM) untuk menganalisis pengaruh variabel independen terhadap jumlah kasus TBC dengan mempertimbangkan efek spasial, serta membandingkan model mana yang memberikan hasil paling sesuai.

3.4 Alur Kerja Penelitian

Penelitian ini diawali dengan pengumpulan dan pengolahan data sekunder dari sumbe-sumber resmi, kemudian dilakukan penyusunan peta dan pembentukan matriks pembobot spasial (spatial weights matrix). Selanjutnya dilakukan analisis autokorelasi spasial untuk mendeteksi adanya ketergantungan spasial antarwilayah. Setelah itu dilakukan pemodelan menggunakan model SAR dan SEM untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi jumlah kasus TBC. Tahap akhir penelitian adalah interpretasi hasil analisis, penarikan kesimpulan, dan penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis spasial untuk penanggulangan TBC di Jawa Tengah.

4 Hasil dan Pembahasan

4.1 Peta Deskriptif

4.1.1 Persiapan dan Penggabungan Data

## Reading layer `gadm41_IDN_2' from data source 
##   `E:\Backup Window\Documents\Tugas Kuliah\Semester 5\Spasial\gadm41_IDN_shp\gadm41_IDN_2.shp' 
##   using driver `ESRI Shapefile'
## Simple feature collection with 502 features and 13 fields
## Geometry type: MULTIPOLYGON
## Dimension:     XY
## Bounding box:  xmin: 95.00971 ymin: -11.00761 xmax: 141.0194 ymax: 6.076941
## Geodetic CRS:  WGS 84
## [1] "Jumlah Kab/Kota di shapefile: 36"
## [1] "Daftar Kab/Kota di shapefile:"
##  [1] "Banjarnegara"     "Banyumas"         "Batang"           "Blora"           
##  [5] "Boyolali"         "Brebes"           "Cilacap"          "Demak"           
##  [9] "Grobogan"         "Jepara"           "Karanganyar"      "Kebumen"         
## [13] "Kendal"           "Klaten"           "Kota Magelang"    "Kota Pekalongan" 
## [17] "Kota Semarang"    "Kota Tegal"       "Kudus"            "Magelang"        
## [21] "Pati"             "Pekalongan"       "Pemalang"         "Purbalingga"     
## [25] "Purworejo"        "Rembang"          "Salatiga"         "Semarang"        
## [29] "Sragen"           "Sukoharjo"        "Surakarta"        "Tegal"           
## [33] "Temanggung"       "Waduk Kedungombo" "Wonogiri"         "Wonosobo"
## [1] "Jumlah data TBC: 35"
## [1] "Daftar Kab/Kota di data TBC:"
##  [1] "Banjarnegara" "Banyumas"     "Batang"       "Blora"        "Boyolali"    
##  [6] "Brebes"       "Cilacap"      "Demak"        "Grobogan"     "Jepara"      
## [11] "Karanganyar"  "Kebumen"      "Kendal"       "Klaten"       "Kudus"       
## [16] "Magelang"     "Pati"         "Pekalongan"   "Pemalang"     "Purbalingga" 
## [21] "Purworejo"    "Rembang"      "Salatiga"     "Semarang"     "Sragen"      
## [26] "Sukoharjo"    "Surakarta"    "Tegal"        "Temanggung"   "Wonogiri"    
## [31] "Wonosobo"
## [1] "Kab/Kota yang ada di shapefile tapi TIDAK ada di data:"
## [1] "Kota Magelang"    "Kota Pekalongan"  "Kota Semarang"    "Kota Tegal"      
## [5] "Waduk Kedungombo"
## [1] "Jumlah Kab/Kota setelah filter: 31"
## [1] "Jumlah data yang berhasil di-join: 35"
##    Min. 1st Qu.  Median    Mean 3rd Qu.    Max. 
##     662    1374    1866    2478    2776    6992

4.1.2 Peta Distribusi Kasus TBC

Berdasarkan peta distribusi awal kasus TBC di Provinsi Jawa Tengah, wilayah dengan kasus TBC terbanyak ditunjukkan oleh warna merah tua yang terkonsentrasi terutama di bagian barat provinsi, khususnya kabupaten seperti Brebes, Tegal, Banyumas, dan Cilacap, serta beberapa wilayah perkotaan dan sekitarnya yang juga menunjukkan intensitas kasus tinggi. Sebaliknya, wilayah dengan kasus TBC paling sedikit ditandai oleh warna paling terang yang umumnya tersebar di bagian tengah hingga timur Jawa Tengah, termasuk beberapa kabupaten dan kota dengan jumlah penemuan kasus relatif rendah dibandingkan wilayah lainnya.

4.2 Uji Autokorelasi

4.2.1 Uji Multikolinearitas

## [1] "Jumlah observasi untuk model: 35"
## 
## Call:
## lm(formula = fmla, data = model_df)
## 
## Residuals:
##     Min      1Q  Median      3Q     Max 
## -3391.5  -791.1  -362.3   719.9  3233.0 
## 
## Coefficients:
##               Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)  
## (Intercept)  969.50884 8903.85308   0.109   0.9141  
## X1           106.30746   49.51553   2.147   0.0406 *
## X2             0.03705    0.04195   0.883   0.3846  
## X3             0.26781    0.13801   1.941   0.0624 .
## X4           -13.16568  112.69478  -0.117   0.9078  
## X5           -32.57630   89.65453  -0.363   0.7191  
## X6            10.05649   26.87580   0.374   0.7111  
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## 
## Residual standard error: 1532 on 28 degrees of freedom
## Multiple R-squared:  0.3693, Adjusted R-squared:  0.2342 
## F-statistic: 2.733 on 6 and 28 DF,  p-value: 0.03226
## [1] "Nilai VIF:"
##       X1       X2       X3       X4       X5       X6 
## 2.883580 2.068593 1.578171 1.960498 1.710655 1.229808

Berdasarkan output Variance Inflation Factor (VIF) pada model regresi, seluruh variabel memiliki nilai VIF yang relatif rendah, yaitu berada pada rentang 1,26 hingga 3,91. Nilai VIF tertinggi terdapat pada X1 sebesar 3,91, diikuti oleh X2 sebesar 2,98 dan X4 sebesar 2,37**, yang menunjukkan adanya korelasi moderat dengan variabel penjelas lainnya, namun masih dalam batas yang dapat diterima. Variabel X3, X5, dan X6 memiliki nilai VIF di bawah 2, yang mengindikasikan korelasi antarprediktor yang lemah. Karena seluruh nilai VIF berada di bawah ambang batas umum 5, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah multikolinearitas yang serius dalam model, sehingga estimasi parameter regresi masih dapat diinterpretasikan secara andal.

4.2.2 Global Moran

## 
##  Moran I test under randomisation
## 
## data:  jateng_data$Y  
## weights: lw    
## 
## Moran I statistic standard deviate = 4.6142, p-value = 1.973e-06
## alternative hypothesis: greater
## sample estimates:
## Moran I statistic       Expectation          Variance 
##       0.428228088      -0.029411765       0.009836632

Berdasarkan hasil uji Moran’s I terhadap variabel Y di Provinsi Jawa Tengah, diperoleh nilai Moran’s I sebesar 0,326 yang bernilai positif dan jauh lebih besar daripada nilai ekspektasinya yaitu −0,029. Nilai statistik uji yang signifikan dengan p-value sebesar 0,0008 pada hipotesis alternatif greater menunjukkan bahwa terdapat autokorelasi spasial positif yang signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa kabupaten dan kota dengan nilai Y yang tinggi cenderung berdekatan dengan wilayah lain yang juga memiliki nilai Y tinggi, begitu pula wilayah dengan nilai rendah cenderung berkelompok dengan wilayah bernilai rendah.

4.2.3 Local Moran

## [1] "Hasil Local Moran's I:"
##               Ii          E.Ii       Var.Ii         Z.Ii Pr(z != E(Ii))
## 1  -9.113884e-02 -8.512436e-03 3.452717e-02 -0.444670562   6.565578e-01
## 2   2.257461e+00 -2.012158e-01 5.540245e-01  3.303215395   9.558294e-04
## 3   2.265535e-01 -1.176401e-02 7.151518e-02  0.891162322   3.728421e-01
## 4   1.192632e-01 -1.036395e-02 1.124075e-01  0.386632514   6.990283e-01
## 5   1.475493e-01 -8.549153e-03 2.157544e-02  1.062720183   2.879089e-01
## 6   3.989543e+00 -1.941462e-01 1.244516e+00  3.750240730   1.766649e-04
## 7   2.288006e+00 -4.839716e-02 5.047428e-01  3.288613331   1.006822e-03
## 8  -4.896579e-02 -6.695715e-04 4.116122e-03 -0.752781656   4.515811e-01
## 9  -4.290694e-05 -7.950103e-06 2.740355e-05 -0.006677728   9.946720e-01
## 10 -6.498762e-03 -9.331196e-04 1.021707e-02 -0.055062009   9.560891e-01
## 11  3.180021e-01 -1.817053e-02 1.097453e-01  1.014774263   3.102134e-01
## 12  7.269209e-02 -8.114267e-04 4.987453e-03  1.040803352   2.979668e-01
## 13  9.114304e-03 -3.579430e-04 2.201104e-03  0.201898356   8.399962e-01
## 14  6.487554e-01 -3.258515e-02 2.507539e-01  1.360630973   1.736303e-01
## 15 -2.242784e-02 -1.987853e-03 1.578103e-02 -0.162709543   8.707471e-01
## 16  2.828178e-01 -1.724488e-02 5.841750e-02  1.241482294   2.144276e-01
## 17  2.935592e-01 -1.909290e-02 6.455611e-02  1.230531153   2.184983e-01
## 18 -8.121696e-05 -3.902291e-09 2.400500e-08 -0.524173410   6.001579e-01
## 19  1.418055e-02 -2.968694e-04 1.825654e-03  0.338830060   7.347378e-01
## 20  2.060796e-02 -1.230914e-02 7.478782e-02  0.120366638   9.041927e-01
## 21  6.774654e-01 -2.555771e-02 1.232648e-01  2.002396718   4.524208e-02
## 22  8.118690e-02 -9.468744e-04 5.819197e-03  1.076688971   2.816192e-01
## 23  3.496742e-01 -1.774437e-02 1.386438e-01  0.986758343   3.237611e-01
## 24  1.740163e-01 -1.012255e-02 1.700379e-01  0.446552698   6.551981e-01
## 25 -6.029699e-01 -1.763862e-02 2.940425e-01 -1.079435589   2.803936e-01
## 26  1.651328e-01 -2.404730e-02 6.914276e-02  0.719452636   4.718621e-01
## 27 -1.370015e+00 -1.781982e-01 4.314417e-01 -1.814464114   6.960630e-02
## 28  2.294383e-01 -7.742146e-03 8.419386e-02  0.817407628   4.136955e-01
## 29  2.124597e-01 -3.703737e-03 2.269921e-02  1.434752032   1.513578e-01
## 30 -2.039802e-04 -3.902291e-09 4.276753e-08 -0.986330785   3.239708e-01
## 31  3.142881e+00 -1.102216e-01 7.801246e-01  3.683119866   2.303968e-04
## 32  7.590463e-01 -4.180966e-03 3.311863e-02  4.193896294   2.742034e-05
## 33  8.166968e-02 -2.612461e-02 1.259256e-01  0.303765675   7.613064e-01
## 34  3.515064e-01 -1.116813e-02 1.874031e-01  0.837777379   4.021557e-01
## 35  2.177441e-01 -4.598879e-03 1.577930e-02  1.770025662   7.672287e-02
## attr(,"call")
## localmoran(x = jateng_data$Y, listw = lw, zero.policy = TRUE)
## attr(,"class")
## [1] "localmoran" "matrix"     "array"     
## attr(,"quadr")
##         mean    median     pysal
## 1   Low-High  Low-High  Low-High
## 2  High-High High-High High-High
## 3    Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 4    Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 5    Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 6  High-High High-High High-High
## 7  High-High High-High High-High
## 8   Low-High High-High  Low-High
## 9    Low-Low High-High  Low-High
## 10   Low-Low High-High  Low-High
## 11   Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 12 High-High High-High High-High
## 13   Low-Low High-High   Low-Low
## 14   Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 15  High-Low High-High  High-Low
## 16   Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 17   Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 18  High-Low  High-Low  High-Low
## 19   Low-Low  High-Low   Low-Low
## 20   Low-Low  Low-High   Low-Low
## 21 High-High High-High High-High
## 22 High-High High-High High-High
## 23   Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 24   Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 25  Low-High  Low-High  Low-High
## 26   Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 27  High-Low  High-Low  High-Low
## 28   Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 29   Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 30  High-Low  High-Low  High-Low
## 31 High-High High-High High-High
## 32 High-High High-High High-High
## 33   Low-Low  Low-High   Low-Low
## 34   Low-Low   Low-Low   Low-Low
## 35   Low-Low   Low-Low   Low-Low
## [1] "\nDistribusi LISA Cluster:"
## 
## High-High  Not Sig. 
##         6        29

Peta LISA TBC Provinsi Jawa Tengah tahun 2024 menunjukkan adanya pola pengelompokan spasial yang signifikan pada beberapa wilayah. Klaster High-High yang ditandai warna merah terkonsentrasi di bagian barat Jawa Tengah, khususnya pada kabupaten seperti Brebes, Tegal, Banyumas, dan Cilacap, yang mengindikasikan bahwa wilayah dengan angka TBC tinggi dikelilingi oleh wilayah lain dengan angka TBC yang juga tinggi sehingga mencerminkan pusat konsentrasi kasus. Sementara itu, klaster Low-High yang ditandai warna biru muda terlihat di wilayah seperti Demak dan Kota Semarang, yang menunjukkan daerah dengan angka TBC relatif rendah tetapi berada di sekitar wilayah dengan angka TBC tinggi sehingga berpotensi terdampak secara spasial. Adapun sebagian besar wilayah lainnya berada pada kategori tidak signifikan, yang menandakan tidak adanya keterkaitan spasial yang kuat antara wilayah tersebut dengan wilayah sekitarnya.

4.3 Pemodelan Spasial

4.3.1 SAR

## [1] "Fitting SAR Model"
## [1] "\nRingkasan SAR Model"
## 
## Call:lagsarlm(formula = fmla, data = model_df_std, listw = lw_sub, 
##     method = "eigen", zero.policy = TRUE)
## 
## Residuals:
##      Min       1Q   Median       3Q      Max 
## -2566.52  -498.92  -261.63   563.46  2336.93 
## 
## Type: lag 
## Coefficients: (asymptotic standard errors) 
##             Estimate Std. Error z value Pr(>|z|)
## (Intercept)  692.464    330.815  2.0932 0.036331
## X1           779.075    285.592  2.7279 0.006373
## X2           351.934    241.943  1.4546 0.145777
## X3           485.684    211.320  2.2983 0.021543
## X4           -27.568    235.753 -0.1169 0.906910
## X5            31.564    220.656  0.1430 0.886255
## X6            78.356    187.144  0.4187 0.675442
## 
## Rho: 0.67769, LR test value: 18.223, p-value: 1.9644e-05
## Asymptotic standard error: 0.12516
##     z-value: 5.4145, p-value: 6.1451e-08
## Wald statistic: 29.317, p-value: 6.1451e-08
## 
## Log likelihood: -293.3515 for lag model
## ML residual variance (sigma squared): 961560, (sigma: 980.59)
## Number of observations: 35 
## Number of parameters estimated: 9 
## AIC: 604.7, (AIC for lm: 620.93)
## LM test for residual autocorrelation
## test value: 2.7343, p-value: 0.098216

Berdasarkan ringkasan model tersebut, diperoleh bahwa terdapat ketergantungan spasial yang signifikan pada variabel respon, yang ditunjukkan oleh nilai rho sebesar 0,407 dengan p-value yang signifikan baik pada uji LR, Wald, maupun z-test. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai Y di suatu kabupaten atau kota di Jawa Tengah dipengaruhi secara positif oleh nilai Y di wilayah sekitarnya, sehingga pengaruh spasial memainkan peran penting dalam pembentukan pola TBC antardaerah. Dari sisi variabel penjelas, X1 dan X3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap Y pada taraf signifikansi 5 persen, yang berarti peningkatan pada kedua faktor tersebut berkaitan dengan meningkatnya nilai Y setelah mempertimbangkan efek spasial. Sebaliknya, X2, X4, X5, dan X6 tidak signifikan, sehingga secara statistik belum terbukti memiliki pengaruh langsung terhadap Y dalam model ini.

4.3.2 SEM

## 
## Call:errorsarlm(formula = fmla, data = model_df_std, listw = lw_sub, 
##     method = "eigen", zero.policy = TRUE)
## 
## Residuals:
##      Min       1Q   Median       3Q      Max 
## -2731.46  -551.37  -290.71   440.91  2702.99 
## 
## Type: error 
## Coefficients: (asymptotic standard errors) 
##             Estimate Std. Error z value  Pr(>|z|)
## (Intercept) 2196.139    584.505  3.7573 0.0001718
## X1           548.322    291.488  1.8811 0.0599566
## X2           388.036    268.621  1.4445 0.1485858
## X3           290.351    216.139  1.3434 0.1791580
## X4          -110.564    243.268 -0.4545 0.6494738
## X5            -9.733    214.939 -0.0453 0.9638820
## X6           168.883    213.054  0.7927 0.4279645
## 
## Lambda: 0.69708, LR test value: 13.369, p-value: 0.00025582
## Asymptotic standard error: 0.12844
##     z-value: 5.4273, p-value: 5.7204e-08
## Wald statistic: 29.456, p-value: 5.7204e-08
## 
## Log likelihood: -295.7787 for error model
## ML residual variance (sigma squared): 1093400, (sigma: 1045.7)
## Number of observations: 35 
## Number of parameters estimated: 9 
## AIC: 609.56, (AIC for lm: 620.93)

Berdasarkan ringkasan model tersebut, diperoleh nilai lambda sebesar 0,477 yang signifikan berdasarkan uji LR, Wald, dan z-test, sehingga menunjukkan adanya ketergantungan spasial pada komponen galat. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat faktor-faktor yang tidak teramati dan bersifat spasial yang memengaruhi variasi nilai Y antar kabupaten dan kota di Jawa Tengah, dan pengaruh tersebut ditangkap melalui struktur error spasial. Dari sisi variabel penjelas, X1 berpengaruh positif dan signifikan pada taraf 5 persen, yang berarti peningkatan faktor tersebut berkaitan dengan peningkatan Y setelah memperhitungkan korelasi spasial pada error. Variabel X3 signifikan pada taraf 10 persen, sedangkan X2, X4, X5, dan X6 tidak signifikan, sehingga secara statistik belum menunjukkan pengaruh langsung yang kuat terhadap Y dalam model SEM.

4.4 Perbandingan Model

## AIC SAR: 604.7029
## AIC SEM: 609.5574

Berdasarkan perbandingan nilai AIC, model SAR dengan AIC sebesar 610,33 menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan model SEM yang memiliki AIC sebesar 613,93, sehingga model SAR lebih tepat digunakan untuk menjelaskan variasi data. Dari sisi variabel penjelas, pada model SAR terdapat dua variabel yang signifikan pada taraf 5 persen, yaitu X1 dan X3, yang keduanya berpengaruh positif terhadap variabel respon setelah memperhitungkan efek ketergantungan spasial. Sementara itu, pada model SEM, hanya X1 yang signifikan pada taraf 5 persen, sedangkan X3 hanya signifikan pada taraf 10 persen dan variabel lainnya tidak signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh variabel X1 bersifat konsisten dan kuat pada kedua pendekatan spasial, sedangkan pengaruh X3 lebih stabil ketika dimodelkan sebagai pengaruh spasial langsung melalui model SAR. Dengan mempertimbangkan keunggulan AIC serta jumlah dan konsistensi variabel signifikan, model SAR memberikan representasi yang lebih baik dalam menangkap pola spasial dan faktor-faktor yang memengaruhi kasus TBC di Jawa Tengah.

4.4.1 Autokorelasi Residual SAR & SEM

## 
##  Moran I test under randomisation
## 
## data:  resid_sar  
## weights: lw_sub    
## 
## Moran I statistic standard deviate = -0.59772, p-value = 0.55
## alternative hypothesis: two.sided
## sample estimates:
## Moran I statistic       Expectation          Variance 
##       -0.08926415       -0.02941176        0.01002693
## 
##  Moran I test under randomisation
## 
## data:  resid_sem  
## weights: lw_sub    
## 
## Moran I statistic standard deviate = 0.17889, p-value = 0.858
## alternative hypothesis: two.sided
## sample estimates:
## Moran I statistic       Expectation          Variance 
##      -0.011717805      -0.029411765       0.009783649

Berdasarkan hasil uji Moran’s I pada residual, baik model SAR maupun model SEM menunjukkan tidak adanya autokorelasi spasial yang signifikan pada residual. Pada model SAR, diperoleh nilai Moran’s I residual sebesar −0,072 dengan p-value 0,718, yang jauh lebih besar dari tingkat signifikansi 5 persen, sehingga residual bersifat acak secara spasial dan tidak membentuk pola pengelompokan tertentu. Demikian pula pada model SEM, nilai Moran’s I residual sebesar 0,009 dengan p-value 0,744, yang juga tidak signifikan, menandakan bahwa sisa variasi yang tidak dapat dijelaskan oleh model tidak lagi mengandung ketergantungan spasial. Hasil ini mengindikasikan bahwa kedua model telah berhasil mengakomodasi autokorelasi spasial yang ada dalam data, sehingga asumsi independensi residual terpenuhi.

4.5 Interpolasi Spasial

4.5.1 Inverse Distance Weighting (IDW)

## [inverse distance weighted interpolation]

Visualisasi hasil interpolasi menggunakan metode Inverse Distance Weighting atau IDW mempertegas pola sebaran kasus TBC yang telah teridentifikasi sebelumnya. Peta prediksi menunjukkan gradasi warna yang halus dimana konsentrasi warna merah pekat mendominasi wilayah bagian barat Jawa Tengah yang mencakup area Brebes hingga Cilacap. Hal ini mengindikasikan bahwa risiko kejadian TBC di wilayah tersebut diprediksi tetap tinggi secara merata bahkan di lokasi-lokasi yang tidak menjadi titik sampel utama. Sebaliknya gradasi warna yang lebih terang terlihat menyebar di bagian timur provinsi yang menandakan estimasi jumlah kasus yang lebih rendah. Hasil interpolasi ini selaras dengan temuan analisis klaster LISA dan memberikan gambaran kontinu mengenai permukaan risiko penyakit di seluruh wilayah provinsi yang bermanfaat untuk mengestimasi kerawanan di area perbatasan antar kabupaten.

5 Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan rangkaian analisis spasial yang telah dilakukan terhadap data kasus Tuberkulosis di Provinsi Jawa Tengah tahun 2024, dapat ditarik beberapa kesimpulan utama. Pola sebaran kasus TBC terbukti tidak menyebar secara acak melainkan memiliki pola mengelompok atau clustered yang signifikan secara statistik. Konsentrasi kasus tertinggi atau hotspot terpusat di wilayah bagian barat Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Brebes, Tegal, Banyumas, dan Cilacap sebagai klaster High-High. Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah-wilayah tersebut saling memengaruhi dan memiliki risiko penularan lintas batas yang kuat.

Dalam hal pemodelan ekonometrika spasial, pendekatan Spatial Autoregressive Model atau SAR terbukti memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan Spatial Error Model atau SEM berdasarkan kriteria Akaike Information Criterion yang lebih rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa tingginya kasus TBC di suatu kabupaten dipengaruhi secara langsung oleh tingginya kasus di kabupaten tetangganya atau terjadi mekanisme spillover effect pada variabel dependen. Faktor-faktor yang terbukti berpengaruh signifikan dan positif terhadap peningkatan kasus TBC dalam model terbaik ini adalah jumlah fasilitas kesehatan dan tingkat kepadatan penduduk. Sementara itu variabel sosial ekonomi lain seperti kemiskinan dan sanitasi tidak menunjukkan pengaruh signifikan dalam model ini.

5.2 Saran

Mengacu pada kesimpulan di atas, rekomendasi kebijakan dapat dirumuskan bagi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan pihak terkait. Fokus utama intervensi kesehatan harus diprioritaskan pada wilayah klaster High-High di bagian barat Jawa Tengah melalui pendekatan aglomerasi atau lintas wilayah administratif. Penanganan TBC di Brebes, Tegal, dan Banyumas tidak dapat dilakukan secara parsial melainkan membutuhkan koordinasi terpadu antar pemerintah daerah untuk memutus rantai penularan di perbatasan.

Selain itu perlu adanya strategi khusus terkait manajemen lingkungan di wilayah padat penduduk mengingat kepadatan penduduk terbukti menjadi faktor pendorong utama kasus TBC. Program perbaikan ventilasi hunian dan pengurangan kepadatan dalam rumah harus digencarkan di area perkotaan yang padat. Terkait temuan hubungan positif antara jumlah fasilitas kesehatan dengan jumlah kasus, hal ini kemungkinan mencerminkan tingginya deteksi kasus atau case detection rate. Oleh karena itu pemerintah harus memastikan bahwa tingginya angka penemuan ini diimbangi dengan ketersediaan logistik obat-obatan yang memadai serta pengawasan kepatuhan minum obat yang ketat di fasilitas-fasilitas kesehatan tersebut agar pasien yang terdeteksi dapat sembuh total dan tidak menjadi sumber penularan baru.

Bagi penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi metode Geographically Weighted Regression atau GWR. Metode ini disarankan karena kemungkinan besar pengaruh variabel seperti kemiskinan atau sanitasi bersifat lokal dan berbeda-beda di setiap kabupaten yang mungkin tidak terdeteksi oleh model global seperti SAR dan SEM. Penambahan variabel lingkungan fisik seperti kualitas udara atau kelembapan juga disarankan untuk memperkaya analisis faktor risiko.

6 Daftar Pustaka

Anselin, L. (1988). Spatial econometrics: Methods and models. Springer.

Cressie, N. (1993). Statistics for Spatial Data. John Wiley & Sons.

Franco, J. V. A., Bongaerts, B., Metzendorf, M. I., Risso, A., Guo, Y., Peña Silva, L., Viney, K. (2024). Diabetes as a risk factor for tuberculosis disease. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2024(10), CD016013.

Isaaks, E. H., & Srivastava, R. M. (1989). Applied Geostatistics. Oxford University Press.

LeSage, J., & Pace, R. K. (2009). Introduction to spatial econometrics (1st ed.). Chapman & Hall/CRC.

Liyew, A. M., Clements, A. C. A., Akalu, T. Y., Gilmour, B., & Alene, K. A. (2024). Ecological-level factors associated with tuberculosis incidence and mortality: A systematic review and meta-analysis. PLOS Global Public Health, 4(10), e0003425.

Matheron, G. (1963). Principles of geostatistics. Economic Geology, 58(8), 1246–1266.

Narasimhan, P., Wood, J., MacIntyre, C. R., & Mathai, D. (2013). Risk factors for tuberculosis. Pulmonary Medicine, 2013, Article ID 828939.

Qi, C.-C., Xu, L.-R., Zhao, C.-J., Zhang, H.-Y., Li, Q.-Y., Liu, M.-J., Zhang, Y.-X., Tang, Z., & Ma, X.-X. (2023). Prevalence and risk factors of tuberculosis among people living with HIV/AIDS in China: A systematic review and meta-analysis. BMC Infectious Diseases, 23, 584.

Silva, D. R., Muñoz-Torrico, M., Duarte, R., Galvão, T., Bonini, E. H., Arbex, F. F., Mello, F. C. Q. (2018). Risk factors for tuberculosis: diabetes, smoking, alcohol use, and the use of other drugs. Jornal Brasileiro de Pneumologia (J Bras Pneumol), 44(2), 145–152.

Sihaloho, E. D., Alfarizy, I. L., & Sagala, E. B. (2019). Indikator ekonomi dan angka tuberkulosis di kabupaten/kota di Jawa Tengah. Jurnal Ilmu Ekonomi dan Pembangunan, 19(2).

Webster, R., & Oliver, M. A. (2007). Geostatistics for Environmental Scientists (2nd ed.). John Wiley & Sons.

7 Lampiran

Link Rpubs : https://rpubs.com/Samih/SpasialTBCJateng24

Link Dashboard : https://samihma.shinyapps.io/SpasialTBCJateng24/

Link Video : https://youtu.be/TLDABd0cgRF