Laporan ini guna menyelesaikan Ujian Akhir Semester Epidemiologi
Dosen Pengampu :
I Gede Mindra Jaya
Shahnaz Putri Dendawijaya, 140610230017
Kelas A
Program Studi Statistika
Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
2025
abstrak
Kanker leher rahim merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat dengan beban penyakit yang tinggi pada perempuan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran epidemiologi kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi selama periode tahun 2017–2024 berdasarkan analisis temporal, spasial, serta pemodelan statistik. Penelitian menggunakan desain cross sectional berulang dengan data sekunder yang bersumber dari Open Data Kota Cimahi dan Badan Pusat Statistik. Analisis dilakukan secara deskriptif meliputi jumlah kasus, prevalensi, tren tahunan, serta pemetaan persebaran kasus berdasarkan kecamatan, dan dilanjutkan dengan pemodelan regresi Poisson dan Negative Binomial untuk menganalisis pengaruh waktu dan wilayah terhadap jumlah kasus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode pengamatan tercatat 57 kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi. Jumlah kasus dan prevalensi tertinggi terjadi pada tahun 2017, kemudian cenderung menurun dengan fluktuasi ringan hingga tahun 2024, dengan penurunan paling nyata pada periode 2020–2021. Secara spasial, distribusi kasus tidak merata, dengan Kecamatan Cimahi Selatan menunjukkan prevalensi yang relatif lebih tinggi dibandingkan kecamatan lainnya. Hasil pemodelan menunjukkan adanya overdispersi pada model Poisson sehingga model Negative Binomial memberikan kecocokan yang lebih baik berdasarkan nilai Akaike Information Criterion (AIC).
Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat tren penurunan kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi, perbedaan beban penyakit antar wilayah masih terlihat. Pemodelan statistik memperkuat temuan deskriptif dan dapat digunakan sebagai dasar dalam perencanaan program pencegahan dan deteksi dini yang lebih terarah berbasis wilayah.
Kata kunci: kanker leher rahim, epidemiologi deskriptif, prevalensi, tren temporal, spasial, regresi Poisson, Negative Binomial, Kota Cimahi
Kanker leher rahim merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memiliki beban tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan, kanker leher rahim menempati peringkat kedua jenis kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia dengan sekitar 36.000 kasus baru yang terdiagnosis setiap tahunnya. Tingginya angka kejadian tersebut juga diikuti oleh tingkat fatalitas yang besar, di mana hampir tiga dari lima perempuan yang terdiagnosis kanker leher rahim meninggal dunia akibat penyakit ini. Kondisi ini menunjukkan bahwa kanker leher rahim masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan di Indonesia.
Meskipun kanker leher rahim pada dasarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah dan dideteksi lebih dini, tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini masih tergolong rendah. Rendahnya pemahaman mengenai menyebabkan banyak kasus baru ditemukan pada stadium lanjut, sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih kecil. Hal ini turut berkontribusi terhadap tingginya angka kematian akibat kanker leher rahim.
Dalam kajian epidemiologi, analisis deskriptif terhadap jumlah kasus penyakit dari waktu ke waktu memiliki peranan penting untuk menggambarkan beban dan pola kejadian penyakit di suatu wilayah. Kota Cimahi sebagai bagian dari Provinsi Jawa Barat memiliki dinamika penduduk dan pelayanan kesehatan yang dapat memengaruhi jumlah kasus kanker leher rahim yang terlaporkan setiap tahunnya.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis epidemiologi terhadap kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi selama periode 2017–2024. Analisis difokuskan pada gambaran jumlah kasus dari waktu ke waktu untuk mengetahui tren kejadian kanker leher rahim di wilayah tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar informasi bagi pemangku kepentingan dalam perencanaan upaya pencegahan, deteksi dini, serta pengendalian kanker leher rahim di tingkat daerah.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
Bagaimana gambaran jumlah kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi selama periode tahun 2017–2024?
Bagaimana perkembangan (tren) kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi dari tahun ke tahun selama periode 2017–2024?
Bagaimana gambaran prevalensi kanker leher rahim di Kota Cimahi selama periode tahun 2017–2024?
Bagaimana persebaran spasial kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi berdasarkan kecamatan?
Tujuan umum dari penelitian ini adalah Menganalisis gambaran epidemiologi kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi selama periode tahun 2017–2024 melalui analisis temporal dan spasial, untuk tujuan khusunya adalah :
Mendeskripsikan jumlah kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi pada setiap tahun selama periode 2017–2024.
Menganalisis tren kejadian kanker leher rahim di Kota Cimahi dari tahun ke tahun selama periode 2017–2024.
Menghitung dan mendeskripsikan prevalensi kanker leher rahim di Kota Cimahi selama periode 2017–2024.
Memetakan persebaran kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi berdasarkan wilayah administratif untuk mengidentifikasi pola spasial kejadian penyakit.
Kanker leher rahim (serviks) adalah keganasan pada leher rahim yang disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV), yang bisa menular melalui hubungan seksual. Penyakit ini berkembang secara perlahan melalui tahap prakanker sebelum akhirnya menjadi kanker invasif. Kanker leher rahim merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada perempuan, khususnya di negara berkembang, termasuk Indonesia. Tingginya beban penyakit ini berkaitan dengan keterbatasan akses deteksi dini, rendahnya kesadaran masyarakat, serta faktor pelayanan kesehatan.
Epidemiologi merupakan ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan kejadian penyakit dalam populasi serta penerapannya untuk pengendalian masalah kesehatan. Dalam konteks kanker leher rahim, pendekatan epidemiologi berperan penting dalam memahami pola kejadian penyakit berdasarkan waktu, tempat, dan populasi.
Pendekatan ini digunakan untuk menjelaskan interaksi antara faktor penyebab penyakit, individu yang berisiko, dan lingkungan yang memengaruhi terjadinya penyakit.
Agent
Agen utama penyebab kanker leher rahim
adalah Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe berisiko tinggi seperti
HPV-16 dan HPV-18 yang bertanggung jawab atas lebih dari 70% kasus
kanker serviks. Infeksi HPV yang persisten dapat menyebabkan perubahan
sel serviks yang berujung pada kanker.
Host
Faktor host meliputi karakteristik individu
perempuan, seperti usia, status imun, perilaku seksual, serta tingkat
pengetahuan dan kesadaran terhadap deteksi dini kanker leher rahim.
Meskipun faktor-faktor ini tidak dianalisis secara langsung dalam
penelitian ini, keberadaan populasi perempuan menjadi dasar dalam
pengukuran prevalensi penyakit.
Environment
Faktor lingkungan mencakup akses
terhadap fasilitas pelayanan kesehatan, ketersediaan program skrining,
serta kondisi sosial dan wilayah tempat tinggal. Dalam penelitian ini,
faktor lingkungan direpresentasikan melalui pembagian wilayah
administratif (kecamatan dan puskesmas) yang digunakan untuk analisis
spasial persebaran kasus.
Ukuran frekuensi penyakit digunakan untuk menggambarkan besarnya masalah kesehatan dalam suatu populasi.
Jumlah kasus merupakan indikator dasar dalam epidemiologi deskriptif yang menunjukkan banyaknya penderita suatu penyakit dalam periode tertentu. Jumlah Kasus ini dicatat berdasarkan puskesmas yang ada di setiap kecamatan Kota Cimahi, di rentang 2017 - 2024. Analisis jumlah kasus kanker leher rahim dari tahun ke tahun digunakan untuk melihat beban penyakit dan perubahan kejadian secara temporal.
Prevalensi adalah proporsi individu dalam suatu populasi yang menderita penyakit pada suatu waktu atau periode tertentu. Prevalensi kanker leher rahim dalam penelitian ini dihitung dengan membandingkan jumlah kasus kanker leher rahim dengan total populasi perempuan di Kota Cimahi, berdasarkan kecamatannya. Pengukuran prevalensi memberikan gambaran tingkat beban penyakit dalam populasi perempuan di suatu wilayah.
Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional berulang, dengan pengamatan jumlah kasus dan prevalensi kanker leher rahim di Kota Cimahi selama periode 2017–2024. Variabel utama penelitian adalah jumlah kasus kanker leher rahim, sedangkan variabel independen meliputi tahun pengamatan dan kecamatan. Populasi penelitian adalah seluruh perempuan yang berdomisili di Kota Cimahi, dengan populasi terjangkau berupa seluruh kasus kanker leher rahim yang tercatat dalam Open Data Kota Cimahi. Penelitian ini menggunakan total sampling, karena seluruh data yang tersedia digunakan dalam analisis. Potensi bias meliputi bias informasi akibat penggunaan data sekunder, bias pelaporan karena kemungkinan under-diagnosis, serta bias ekologis karena analisis dilakukan pada tingkat agregat wilayah.
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Open Data Kota Cimahi dan Badan Pusat Statistik. Data tersebut mencakup informasi kasus kanker leher rahim yang tercatat di fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Cimahi selama periode tahun 2017–2024. Selain itu, digunakan data jumlah populasi perempuan sebagai penyebut dalam perhitungan prevalensi.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif dan disesuaikan dengan ketersediaan data. Adapun variabel penelitian meliputi:
Tahun
Tahun pengamatan kejadian kanker leher
rahim dari 2017 hingga 2024.
Kecamatan
Wilayah administratif tempat kasus
kanker leher rahim dilaporkan. Terdapat 3 kecamatan, yaitu Cimahi Utara,
Cimahi Selatan, dan Cimahi Tengah.
Puskesmas
Fasilitas pelayanan kesehatan yang
melaporkan kasus kanker leher rahim. Pada data ini terdapat 6 puskesmas
di Cimahi Selatan yaitu puskesmas cimahi selatan, cibeureum, melong
asih, cibeber, leuwigajah, melong tengah. Terdapat 3 puskesmas di Cimahi
Tengah yaitu puskesmas cimahi tengah, cigugur tengah, dan padasuka.
Terdapat 4 puskesmas di Cimaho Utara yaitu puskesmas cimahi utara,
pasirkaliki, cipageran, citeureup.
Jumlah Kasus Kanker Lahir Rahim
Jumlah kasus
kanker leher rahim yang tercatat pada masing-masing tahun dan
wilayah.
Populasi Perempuan
Jumlah penduduk perempuan
pada masing-masing kecamatan dan tahun yang digunakan sebagai dasar
perhitungan prevalensi. Berdasarkan data sensus pada Badan Pusat
Statistik.
Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan tahapan sebagai berikut:
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan besarnya kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi. Analisis ini meliputi: 1. Penyajian jumlah kasus kanker leher rahim per tahun, 2. Visualisasi data dalam bentuk tabel dan grafik untuk melihat pola kejadian penyakit.
Prevalensi kanker leher rahim dihitung untuk menggambarkan proporsi kasus dalam populasi perempuan. Prevalensi diperoleh dengan membandingkan jumlah kasus kanker leher rahim dengan total populasi perempuan pada tahun yang sama. Hasil perhitungan prevalensi digunakan untuk melihat tingkat beban penyakit di Kota Cimahi selama periode pengamatan.
Disajikan Prevalensi dengan bentuk grafik distribusi dan tabel tiap wilayah, agar dapat menjadi perbandingan untuk tiap wilayah administratif di Kota Cimahi.
Analisis spasial dilakukan dengan memetakan prevalensi kanker leher rahim berdasarkan wilayah administratif kecamatan dan per tahun. Pemetaan bertujuan untuk memvisualisasikan persebaran kasus dan mengidentifikasi wilayah dengan jumlah atau prevalensi kasus yang relatif lebih tinggi. Hasil pemetaan diharapkan dapat memberikan gambaran awal wilayah prioritas dalam upaya pencegahan dan deteksi dini kanker leher rahim.
Model regresi Poisson digunakan sebagai model awal untuk menganalisis hubungan antara jumlah kasus kanker leher rahim dengan variabel penjelas, yaitu tahun dan kecamatan. Model ini mengasumsikan bahwa nilai harapan dan varians dari variabel respon adalah sama.
Secara matematis, model Poisson dapat dituliskan sebagai berikut:
\[ Y_i \sim \text{Poisson}(\mu_i) \]
dengan fungsi hubungan logaritmik:
\[ \log(\mu_i) = \beta_0 + \beta_1 X_{1i} + \beta_2 X_{2i} \]
di mana:
\(Y_i\) : jumlah kasus kanker leher rahim ke-\(i\),
\(\mu_i\) : nilai harapan jumlah kasus,
\(X_{1i}\) : variabel tahun,
\(X_{2i}\) : variabel kecamatan,
\(\beta_0, \beta_1, \beta_2\) : parameter regresi.
pada penelitian ini Kecamatan Cimahi Selatan akan menjadi dasar perbandingan yang diletakkan pada Bo.Evaluasi kecocokan model dilakukan melalui nilai deviance, parameter dispersi, serta Akaike Information Criterion (AIC).
Apabila pada model Poisson ditemukan kondisi overdispersi, yaitu varians data lebih besar daripada nilai rata-ratanya, maka digunakan model regresi Negative Binomial sebagai alternatif. Model ini merupakan pengembangan dari regresi Poisson dengan menambahkan parameter dispersi untuk mengakomodasi variasi data yang lebih besar.
Bentuk Umum :
\[ Y_i \sim \text{NB}(\mu_i, \theta) \]
dengan fungsi hubungan logaritmik:
\[ \log(\mu_i) = \beta_0 + \beta_1 X_{1i} + \beta_2 X_{2i} \]
Model Negative Binomial memberikan estimasi parameter yang lebih stabil pada data dengan overdispersi dan dievaluasi menggunakan nilai AIC untuk dibandingkan dengan model Poisson.
Alur kerja penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
Pengumpulan data kasus kanker leher rahim dari Open Data Kota Cimahi dan populasi perempuan dari Badan Pusat Statistik.
Analisis statistik deskriptif untuk menggambarkan jumlah kasus kanker leher rahim.
Perhitungan prevalensi kanker leher rahim berdasarkan populasi perempuan.
Pemetaan spasial kasus kanker leher rahim berdasarkan kecamatan.
Interpretasi hasil analisis dan penyusunan kesimpulan penelitian.
Selama periode tahun 2017–2024, tercatat sebanyak 57 kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi berdasarkan data Open Data Kota Cimahi. Jumlah kasus tersebut menunjukkan variasi antar tahun dengan kecenderungan penurunan setelah tahun 2017 dan fluktuasi pada tahun-tahun berikutnya. Analisis statistik deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran awal mengenai distribusi kasus kanker leher rahim pada masing-masing tahun pengamatan.
Tahapan ini akan menyajikan statistik deskriptif jumlah kasus kanker leher rahim per wilayah (kecamatan/puskesmas) pada setiap tahun pengamatan.
library(knitr)
tabel_stat <- data.frame(
Tahun = c(2017,2018,2019,2020,2021,2022,2023,2024),
Mean = c(2.23,0.54,0.38,0.08,0.08,0.38,0.23,0.46),
Median = c(1,0,0,0,0,0,0,0),
SD = c(2.83,1.20,0.77,0.28,0.28,1.39,0.44,1.13),
Min = c(0,0,0,0,0,0,0,0),
Max = c(8,4,2,1,1,5,1,4)
)
kable(
tabel_stat,
caption = "Statistik Deskriptif Jumlah Kasus Kanker Leher Rahim per Tahun"
)
| Tahun | Mean | Median | SD | Min | Max |
|---|---|---|---|---|---|
| 2017 | 2.23 | 1 | 2.83 | 0 | 8 |
| 2018 | 0.54 | 0 | 1.20 | 0 | 4 |
| 2019 | 0.38 | 0 | 0.77 | 0 | 2 |
| 2020 | 0.08 | 0 | 0.28 | 0 | 1 |
| 2021 | 0.08 | 0 | 0.28 | 0 | 1 |
| 2022 | 0.38 | 0 | 1.39 | 0 | 5 |
| 2023 | 0.23 | 0 | 0.44 | 0 | 1 |
| 2024 | 0.46 | 0 | 1.13 | 0 | 4 |
Rata-rata jumlah kasus tertinggi terjadi pada tahun 2017, dengan nilai mean sebesar 2,23 kasus, diikuti oleh standar deviasi yang relatif besar (2,83). Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan distribusi kasus antarwilayah pada tahun tersebut. Pada tahun-tahun selanjutnya, nilai median yang konsisten sebesar 0 mengindikasikan bahwa sebagian besar wilayah tidak melaporkan kasus kanker leher rahim, sementara kasus terkonsentrasi pada wilayah tertentu. Penurunan nilai mean pada periode 2020–2021 kemungkinan berkaitan dengan gangguan pelayanan kesehatan dan pencatatan kasus pada masa pandemi COVID-19.
Perbandingan jumlah kasus kanker leher rahim dapat dilihat melalui diagram batang. Chart ini memperlihatkan visualisasi mudah per tahunnnya.
Berdasarkan bar chart jumlah kasus kanker leher rahim per tahun di Kota Cimahi, terlihat bahwa jumlah kasus tertinggi terjadi pada tahun 2017, yang menunjukkan beban paling besar pada awal periode pengamatan. Setelah itu, jumlah kasus mengalami penurunan cukup signifikan pada tahun 2018 dan cenderung lebih rendah pada tahun-tahun berikutnya. Pada periode 2019–2024, jumlah kasus relatif stabil dengan sedikit fluktuasi, meskipun terdapat peningkatan kembali pada tahun 2024. Sementara itu, jumlah kasus terendah tercatat pada tahun 2020 dan 2021. Secara umum, grafik ini menunjukkan tren penurunan kasus kanker leher rahim setelah tahun 2017 dengan kondisi yang relatif terkendali pada tahun-tahun selanjutnya.
Distribusi jumlah kasus kanker leher rahim juga divisualisasikan menggunakan boxplot untuk melihat sebaran dan pencilan data pada setiap tahun pengamatan.
Boxplot tahun 2017 menunjukkan bahwa jumlah kasus kanker leher rahim di Kota Cimahi memiliki sebaran yang cukup lebar dengan median berada pada nilai yang relatif rendah, namun terdapat beberapa nilai ekstrem di bagian atas. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun sebagian besar wilayah atau unit pengamatan memiliki jumlah kasus yang rendah hingga sedang, terdapat beberapa wilayah dengan jumlah kasus yang jauh lebih tinggi. Keberadaan nilai maksimum yang tinggi mencerminkan bahwa tahun 2017 merupakan periode dengan tingkat kasus tertinggi selama rentang pengamatan, sekaligus menunjukkan ketimpangan distribusi kasus antarwilayah pada tahun tersebut.
Boxplot tahun 2020 memperlihatkan bahwa sebagian besar data terkonsentrasi di sekitar nilai nol dengan rentang antar kuartil yang sangat sempit, serta median yang mendekati nol. Hal ini menunjukkan rendahnya variasi dan jumlah kasus kanker leher rahim pada tahun tersebut di Kota Cimahi. Meskipun terdapat beberapa titik pencilan, nilainya relatif kecil dibandingkan tahun 2017. Secara keseluruhan, pola ini menegaskan bahwa tahun 2020 merupakan tahun dengan jumlah kasus terendah selama periode pengamatan, yang mengindikasikan penurunan signifikan kasus dibandingkan tahun-tahun lainnya.
Angka Prevalensi dihitung setiap kecamatan dengan membagikan angka kasus dengan populasi perempuan di kecamatan tersebut. Maka didapatkan hasil perhitungan prevalensi sebagai berikut :
library(knitr)
tabel_preval <- data.frame(
Kecamatan = c("Cimahi Selatan","Cimahi Utara","Cimahi Tengah"),
"2017" = c(0.013,0.012,0.005),
"2018" = c(0.004,0.001,0.002),
"2019" = c(0.002,0.002,0.001),
"2020" = c(0,0.001,0),
"2021" = c(0,0.001,0),
"2022" = c(0.004,0,0),
"2023" = c(0.001,0.001,0.001),
"2024" = c(0.004,0,0.001)
)
kable(
tabel_preval,
caption = "Analisis Prevalensi Per Tahun"
)
| Kecamatan | X2017 | X2018 | X2019 | X2020 | X2021 | X2022 | X2023 | X2024 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Cimahi Selatan | 0.013 | 0.004 | 0.002 | 0.000 | 0.000 | 0.004 | 0.001 | 0.004 |
| Cimahi Utara | 0.012 | 0.001 | 0.002 | 0.001 | 0.001 | 0.000 | 0.001 | 0.000 |
| Cimahi Tengah | 0.005 | 0.002 | 0.001 | 0.000 | 0.000 | 0.000 | 0.001 | 0.001 |
Distribusi kasus dan prevalensi menunjukkan adanya variasi antar kecamatan. Beberapa kecamatan memiliki jumlah kasus dan prevalensi yang relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya, yang mengindikasikan adanya perbedaan beban penyakit secara geografis di Kota Cimahi.
Perbandingan hasil prevalensi per tahun dilakukan dengan diagram batang, agar lebih mudah secara visualisasi.
Berdasarkan chart tersebut, Prevalensi tertinggi terjadi pada tahun 2017, yang menunjukkan beban kasus kanker leher rahim paling besar dibandingkan tahun-tahun lainnya. Setelah tahun 2017, prevalensi mengalami penurunan tajam pada 2018 dan cenderung berada pada tingkat yang lebih rendah hingga tahun-tahun berikutnya. Pada periode 2019–2024, prevalensi relatif stabil dengan variasi kecil, meskipun terdapat sedikit peningkatan pada beberapa tahun tertentu. Sementara itu, prevalensi terendah tampak pada tahun 2020 dan 2021. Secara umum, pola ini mengindikasikan bahwa setelah puncak kasus pada tahun 2017, prevalensi kanker leher rahim di Kota Cimahi cenderung menurun dan terkendali pada tahun-tahun selanjutnya.
Selama periode pengamatan diperoleh ringkasan prevalensi sebagai berikut :
library(knitr)
tabel_ringkas <- data.frame(
Ringkasan = c("Total Kasus","Rata rata Prevalensi Tahunan","Prevalensi Tertinggi","Prevalensi Terendah","Standar Deviasi Prevalensi","Koefisien Variasi"),
Nilai = c("57 Kasus",0.003,"0.01 (Tahun 2017)","0 (Tahun 2020)",0.003,"127.85%")
)
kable(
tabel_ringkas,
caption = "Ringkasan Analisis Prevalensi"
)
| Ringkasan | Nilai |
|---|---|
| Total Kasus | 57 Kasus |
| Rata rata Prevalensi Tahunan | 0.003 |
| Prevalensi Tertinggi | 0.01 (Tahun 2017) |
| Prevalensi Terendah | 0 (Tahun 2020) |
| Standar Deviasi Prevalensi | 0.003 |
| Koefisien Variasi | 127.85% |
Prevalensi tertinggi pada tahun 2017 menunjukkan beban penyakit yang relatif lebih besar pada awal periode pengamatan. Nilai koefisien variasi yang tinggi (>100%) mengindikasikan fluktuasi prevalensi yang cukup besar antar tahun, yang dapat dipengaruhi oleh variasi jumlah kasus, perubahan populasi perempuan, serta faktor pencatatan dan pelaporan kasus.
Grafik tren menunjukkan penurunan jumlah kasus yang cukup tajam dari tahun 2017 hingga 2020, diikuti oleh peningkatan kembali pada tahun 2022–2024. Pola ini mencerminkan dinamika kejadian penyakit serta kemungkinan pengaruh faktor eksternal seperti pandemi terhadap pelayanan kesehatan.
Tren prevalensi mengikuti pola yang relatif serupa dengan jumlah kasus, dengan puncak prevalensi pada tahun 2017 dan nilai terendah pada tahun 2020. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan prevalensi terutama dipengaruhi oleh fluktuasi jumlah kasus dibandingkan perubahan populasi perempuan.
Peta spsial akan memberikan visualisasi yang lebih jelas terhadap pengelompokan prevalensi berdasarkan wilayah dan tahun selama periode pengamatan.