Essential of Probability
Tugas Week 10
Ahmad Rizki Mubarak
30 November 2025
0.1

1 Introduction
Probabilitas merupakan pilar fundamental dari penalaran statistik, menawarkan kerangka kerja yang sistematis dan koheren untuk memahami ketidakpastian serta memandu pengambilan keputusan yang terinformasi. Alih-alih bergantung pada intuisi atau dugaan, probabilitas memungkinkan kita untuk mengukur kemungkinan berbagai hasil, menafsirkan pola dalam data, dan menganalisis fenomena yang timbul dari proses alami atau eksperimental. Penguasaan konsep probabilitas yang kuat sangat penting untuk analisis data yang efektif, penelitian ilmiah, dan praktik berbasis bukti.
1.1 Prinsip Utama yang Disajikan
Bagian ini menyajikan prinsip-prinsip utama yang membentuk dasar teori probabilitas:
- Konsep Dasar Probabilitas: Mencakup ruang sampel (sample spaces), kejadian (events), dan aturan komplemen (complement rule)—komponen inti yang mendefinisikan bagaimana probabilitas distrukturkan dan diinterpretasikan.
- Kejadian Independen dan Dependen: Membedakan skenario di mana terjadinya satu kejadian memengaruhi atau tidak memengaruhi kejadian lain, sebuah pembedaan yang sangat penting untuk pemodelan dan prediksi yang akurat.
- Gabungan Kejadian (The Union of Events): Menangani probabilitas bahwa setidaknya satu di antara beberapa kejadian akan terjadi.
- Kejadian Saling Eksklusif dan Komprehensif: Mengklarifikasi bagaimana kejadian berinteraksi dalam ruang sampel dan bagaimana hubungan tersebut membentuk perhitungan probabilitas.
- Eksperimen Binomial dan Distribusi Binomial: Alat penting untuk menganalisis percobaan berulang dengan dua kemungkinan hasil, digunakan secara luas dalam studi ilmiah, pengujian keandalan, dan analisis survei.
Setiap topik didampingi oleh sumber daya video instruksional yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman konseptual dan mendukung keterlibatan yang lebih mendalam dengan materi. Bersama-sama, komponen-komponen ini memberikan dasar yang komprehensif dan ketat untuk melangkah maju ke metode statistik yang lebih kompleks.
2 Fundamental Concept
Video ini memperkenalkan konsep-konsep fundamental dalam teori peluang, yang menjadi dasar bagi semua perhitungan statistik berikutnya. Fokus utamanya adalah mendefinisikan peluang, memvisualisasikan hasil melalui ruang sampel, dan menggunakan Aturan Komplemen untuk mempermudah perhitungan peluang.
2.1 Definisi Peluang Sederhana
Peluang didefinisikan sebagai kemungkinan bahwa suatu kejadian akan terjadi. Peluang suatu kejadian (\(A\)) dihitung sebagai perbandingan antara jumlah hasil yang diinginkan dengan total semua hasil yang mungkin dalam Ruang Sampel (\(\Omega\)).
2.1.1 Rumus Peluang
Peluang suatu kejadian \(A\) terjadi, dilambangkan sebagai \(P(A)\), dirumuskan sebagai berikut:
\[ P(A) = \frac{ \text{Jumlah hasil yang diinginkan } \; (n(A)) }{ \text{Total jumlah hasil yang mungkin } \; (n(\Omega)) } \]
2.2 Ruang Sampel (\(\Omega\)) dan Diagram Ruang Sampel
2.2.1 Ruang Sampel (Sample Space)
Ruang Sampel (\(\Omega\) atau \(S\)) adalah himpunan atau daftar lengkap dari semua hasil yang mungkin yang dapat terjadi dari suatu percobaan.
2.2.2 Diagram Ruang Sampel (Pohon Peluang)
Pohon Peluang (Tree Diagram) adalah metode visual untuk mencantumkan semua hasil yang mungkin secara terstruktur. Dengan mengikuti setiap jalur dari awal hingga akhir, kita mendapatkan semua hasil yang membentuk ruang sampel. Untuk percobaan multi-langkah yang independen (misalnya, melempar koin dua kali), peluang setiap hasil dalam ruang sampel dihitung dengan mengalikan peluang setiap langkah.
2.3 Aturan-Aturan Peluang dan Aturan Komplemen
2.3.1 Aturan Peluang Wajib
Semua peluang harus memenuhi dua kondisi utama:
Rentang Peluang: Peluang suatu kejadian \(A\) harus selalu bernilai di antara 0 dan 1 (inklusif). \[ 0 \leq P(A) \leq 1 \] \(P(A)=0\) berarti kejadian mustahil, dan \(P(A)=1\) berarti kejadian pasti terjadi.
Total Peluang: Jumlah peluang dari semua hasil yang mungkin dalam ruang sampel harus selalu sama dengan 1.
2.3.2 Aturan Komplemen
Aturan Komplemen adalah alat yang efisien untuk menyederhanakan perhitungan peluang. Aturan ini menyatakan bahwa peluang bahwa suatu kejadian tidak terjadi (\(\bar{A}\)) sama dengan 1 dikurangi peluang bahwa kejadian itu akan terjadi (\(A\)).
\[ P(\bar{A}) = \text{1} - \text{P(A)} \]
3 Independent and Dependent
Video ini memberikan penjelasan mendalam mengenai perbedaan fundamental antara Kejadian Independen dan Kejadian Dependen dalam teori peluang, serta cara yang benar untuk menghitung peluang gabungan dari setiap kasus. Pemahaman ini penting karena penentuan jenis kejadian akan secara langsung menentukan formula yang harus digunakan untuk mendapatkan peluang yang akurat.
3.1 Kejadian Independen (Independent Events)
Definisi: Kejadian independen didefinisikan sebagai situasi di mana terjadinya satu kejadian tidak mempengaruhi probabilitas terjadinya kejadian lain. Hasil dari peristiwa pertama sama sekali tidak memiliki dampak pada hasil peristiwa kedua. Kejadian seperti ini seringkali melibatkan pengembalian (replacement) atau peristiwa yang secara fisik terpisah, seperti melempar dadu dan membalik koin.
3.1.1 Rumus Peluang Gabungan
Untuk menghitung peluang dua kejadian independen (\(A\) dan \(B\)) terjadi bersamaan, digunakan aturan perkalian.
\[ P(A \text{ dan } B) = P(A) \times P(B) \]
3.1.2 Contoh Aplikasi
Diberikan sebuah dadu bersisi 6 dan sebuah koin. Berapakah peluang mendapatkan angka 5 pada dadu dan sisi kepala pada koin? Peluang mendapatkan angka 5 adalah \(1/6\), dan peluang mendapatkan kepala adalah \(1/2\). Karena keduanya independen, peluang gabungan adalah \(\frac{1}{6} \times \frac{1}{2} = \frac{1}{12}\).
3.2 Kejadian Dependen (Dependent Events)
Definisi: Kejadian dependen adalah peristiwa di mana terjadinya satu kejadian mempengaruhi probabilitas terjadinya kejadian lain. Hal ini paling sering terjadi dalam skenario tanpa pengembalian (without replacement), di mana objek yang diambil pada percobaan pertama tidak dikembalikan, sehingga total populasi dan jumlah peluang dari kategori tertentu berubah untuk percobaan kedua.
3.2.1 Rumus Peluang Gabungan
Untuk menghitung peluang dua kejadian dependen (\(A\) dan \(B\)) terjadi secara berurutan, digunakan konsep peluang bersyarat.
\[ P(A \text{ dan } B) = P(A) \times P(B \mid A) \]
Keterangan: \(P(B \mid A)\) adalah peluang kejadian \(B\) terjadi, diberikan bahwa kejadian \(A\) telah terjadi.
3.2.2 Contoh Aplikasi
Misalnya, terdapat sebuah kotak berisi 10 kelereng (7 hijau dan 3 biru). Dua kelereng diambil secara acak tanpa pengembalian. Untuk menghitung peluang mengambil kelereng hijau, kemudian biru:
- Peluang Hijau Pertama (\(P(H_1)\)): \(\frac{7}{10}\).
- Peluang Biru Kedua (\(P(B_2 \mid H_1)\)): Karena 1 kelereng hijau sudah diambil, tersisa 9 kelereng total, namun jumlah kelereng biru tetap 3. Jadi, \(P(B_2 \mid H_1) = \frac{3}{9}\).
Peluang gabungan adalah \(P(H_1) \times P(B_2 \mid H_1) = \frac{7}{10} \times \frac{3}{9} = \frac{21}{90}\), atau disederhanakan menjadi \(\frac{7}{30}\).
3.2.3 Kesimpulan
Inti pembeda antara kedua jenis kejadian ini adalah apakah peristiwa pertama mengubah kondisi yang ada (populasi atau peluang) untuk peristiwa yang terjadi selanjutnya. Kejadian independen memiliki peluang yang tetap, sementara kejadian dependen memiliki peluang yang berubah berdasarkan hasil sebelumnya.
4 Union Of Events
Video ini memberikan penjelasan mendalam mengenai Aturan Penjumlahan Peluang yang fundamental untuk menghitung Peluang Gabungan Peristiwa (\(P(A \cup B)\)), atau peluang terjadinya Peristiwa A atau Peristiwa B.ShutterstockJelajahiPenjelasan berfokus pada pentingnya identifikasi Irisan Peristiwa (\(P(A \cap B)\)) dan kesalahan umum dalam penjumlahan peluang sederhana. Pemahaman ini sangat penting karena video menyoroti perlunya eliminasi hasil yang tumpang tindih melalui Aturan Penjumlahan Peluang yang tepat (\(P(A) + P(B) - P(A \cap B)\)), memastikan akurasi dalam menentukan peluang gabungan
4.1 Konsep Dasar Peluang
4.1.1 Ruang Sampel (Sample Space)
Ruang sampel adalah seluruh rangkaian hasil (outcome) yang mungkin dari sebuah eksperimen statistik.
- Contoh 1: Melempar Satu Dadu 6 Sisi
- Hasil yang mungkin: {1, 2, 3, 4, 5, 6}.
- Jumlah hasil: 6.
- Contoh 2: Melempar Dua Dadu 6 Sisi
- Setiap dadu memiliki 6 hasil, sehingga total hasil yang mungkin adalah \(6 \times 6 = 36\) hasil.
4.1.2 Peluang Sederhana (Simple Probability)
Peluang adalah kemungkinan suatu peristiwa akan terjadi. Dihitung dengan rumus:
\[\text{Peluang} = \frac{\text{Jumlah hasil yang menguntungkan (favorable outcomes)}}{\text{Jumlah total hasil yang mungkin (total possible outcomes)}}\]
- Contoh: Peluang melempar dua angka 4
- Hasil yang menguntungkan: 1 (hanya pasangan (4, 4)).
- Total hasil: 36.
- \(P(\text{dua angka 4}) = 1/36\).
4.2 Irisan Peristiwa (Intersection of Events)
Irisan peristiwa (ditandai dengan kata “dan”) mengacu pada peluang di mana kedua peristiwa terjadi secara bersamaan.
4.2.1 Pentingnya Ruang Sampel
Dalam kasus di mana peristiwa memiliki hasil yang tumpang tindih, menggunakan rumus peristiwa independen (\(P(A \text{ dan } B) = P(A) \times P(B)\)) akan menghasilkan jawaban yang salah. Cara yang paling akurat adalah dengan mengidentifikasi irisan hasil langsung dari ruang sampel.
4.2.2 Contoh Perhitungan Irisan
Pertanyaan: Berapa peluang melempar dua angka genap dan setidaknya satu angka 2 (pada dua dadu)?
- Peristiwa A (Dua angka genap): Ada 9 hasil. \(P(A) = 9/36\).
- Peristiwa B (Setidaknya satu angka 2): Ada 11 hasil. \(P(B) = 11/36\).
- Irisan A dan B (\(A \cap
B\)): Hasil yang tumpang tindih dari kedua peristiwa
tersebut adalah 5.
- \(P(A \text{ dan } B) = 5/36\).
4.3 Peluang Gabungan Peristiwa (Union of Events)
Peluang gabungan peristiwa adalah peluang bahwa Peristiwa A atau Peristiwa B atau keduanya terjadi, dan biasanya ditandai dengan kata “atau”.
4.3.1 Rumus Peluang Gabungan (Aturan Penjumlahan Peluang)
Peluang gabungan peristiwa A dan B dihitung dengan rumus:
\[\mathbf{P(A \cup B) = P(A) + P(B) - P(A \cap B)}\]
4.3.2 Mengapa Ada Pengurangan ( \(P(A \cap B)\)) ?
Tujuan Pengurangan \(P(A \cap B)\)Pengurangan \(P(A \cap B)\) dilakukan karena ketika \(P(A)\) dan \(P(B)\) dijumlahkan, hasil yang tumpang tindih (irisan) dihitung dua kali. Term pengurangan ini menghilangkan perhitungan duplikat tersebut. Konsep ini paling baik diilustrasikan dengan Diagram Venn
## Warning: package 'ggforce' was built under R version 4.5.2
data_circles_union <- data.frame(
x = c(2, 4), # Jarak lingkaran diperlebar
y = c(2, 2),
r = c(1.8, 1.8),
label = c("A", "B")
)
ggplot() +
geom_circle(data = data_circles_union,
aes(x0 = x, y0 = y, r = r, fill = label),
alpha = 0.35, color = "black", linewidth = 1.2) +
geom_text(data = data_circles_union,
aes(x = x, y = y, label = paste("Kejadian", label)),
size = 6, fontface = "bold") +
geom_text(aes(x = 3, y = 2, label = "A ∩ B"),
size = 5, fontface = "bold") +
labs(title = "P(A ∪ B) = P(A) + P(B) - P(A ∩ B)") +
coord_fixed(xlim = c(0, 6), ylim = c(0, 4)) +
theme_void() +
theme(
legend.position = "none",
plot.title = element_text(hjust = 0.5, face = "bold", size = 18)
)4.3.3 Penerapan Rumus Gabungan
Pertanyaan: Berapa peluang melempar dua angka genap atau setidaknya satu angka 2?
- \(P(A \text{ atau } B) = P(\text{dua angka genap}) + P(\text{setidaknya satu angka 2}) - P(\text{irisan kedua peristiwa})\)
- \(P(A \cup B) = 9/36 + 11/36 - 5/36\)
- \(P(A \cup B) = 15/36\) (atau sekitar 0.4167)
4.4 Ringkasan Hasil Numerik
Berikut adalah ringkasan perhitungan untuk contoh melempar dua dadu:
| Peristiwa | Deskripsi | Peluang (Pecahan) | Peluang (Desimal) |
|---|---|---|---|
| \(P(A)\) | Dua Angka Genap | \(9/36\) | \(0.25\) |
| \(P(B)\) | Setidaknya Satu Angka 2 | \(11/36\) | \(0.3055\) |
| \(P(A \cap B)\) | Irisan (A dan B) | \(5/36\) | \(0.1389\) |
| \(P(A \cup B)\) | Gabungan (A atau** B)** | \(15/36\) | \(0.4167\) |
5 Exlusive and exhausttive
Video ini membahas dua hubungan penting antara kejadian-kejadian dalam ruang sampel yang merupakan landasan bagi perhitungan peluang lanjutan dan pemodelan statistik: Kejadian Saling Eksklusif dan Kejadian Komprehensif. Memahami hubungan ini sangat penting karena memengaruhi bagaimana kita menghitung peluang gabungan dari serangkaian peristiwa.
5.1 Kejadian Saling Eksklusif (Mutually Exclusive Events)
Definisi Inti: Dua kejadian (\(A\) dan \(B\)) disebut saling eksklusif (atau saling lepas) jika keduanya tidak dapat terjadi secara bersamaan dalam percobaan yang sama. Dengan kata lain, mereka tidak memiliki hasil yang sama.
Secara visual, jika kejadian diwakilkan oleh diagram Venn, himpunan \(A\) dan \(B\) tidak akan saling tumpang tindih (disjoint).
5.1.1 Rumus Irisan (Intersection)
Karena tidak ada tumpang tindih, peluang irisan (kejadian \(A\) dan \(B\)) selalu nol.
\[ P(A \cap B) = 0 \]
5.1.2 Rumus Gabungan (Addition Rule)
Apabila kejadian \(A\) dan \(B\) saling eksklusif, perhitungan peluang gabungan (kejadian \(A\) atau \(B\)) menjadi sederhana karena kita tidak perlu mengurangi peluang irisan.
\[ P(A \cup B) = P(A) + P(B) \]
Contoh Konkret: Dalam percobaan melempar satu dadu bersisi enam, * \(A\) = Kejadian mendapatkan angka ganjil \(\{1, 3, 5\}\). * \(B\) = Kejadian mendapatkan angka genap \(\{2, 4, 6\}\). \(A\) dan \(B\) adalah saling eksklusif karena mustahil mendapatkan angka ganjil dan genap secara bersamaan dalam satu lemparan. \(P(A) = 3/6\) dan \(P(B) = 3/6\). Peluang mendapatkan ganjil atau genap adalah \(P(A) + P(B) = \frac{3}{6} + \frac{3}{6} = 1\).
5.2 Kejadian Komprehensif atau Menyeluruh (Exhaustive Events)
Definisi Inti: Serangkaian kejadian (\(E_1, E_2, \dots, E_n\)) disebut komprehensif jika gabungan dari semua kejadian tersebut mencakup seluruh ruang sampel (\(\Omega\)). Ini menjamin bahwa, tidak peduli apa pun hasil dari suatu percobaan, setidaknya satu dari kejadian dalam rangkaian tersebut pasti akan terjadi.
5.2.1 Rumus Gabungan (Union)
Gabungan dari semua kejadian komprehensif adalah keseluruhan ruang sampel.
\[ E_1 \cup E_2 \cup \dots \cup E_n = \Omega \]
5.2.2 Total Peluang
Karena gabungan dari semua kejadian komprehensif mencakup semua hasil yang mungkin, maka jumlah peluangnya harus sama dengan 1.
\[ P(E_1) + P(E_2) + \dots + P(E_n) = 1 \]
Contoh Konkret: Dalam percobaan melempar satu dadu bersisi enam, * \(E_1\) = Kejadian mendapatkan angka kurang dari 4 \(\{1, 2, 3\}\). * \(E_2\) = Kejadian mendapatkan angka 4 atau lebih \(\{4, 5, 6\}\). Gabungan \(E_1 \cup E_2\) menghasilkan \(\{1, 2, 3, 4, 5, 6\}\), yang mencakup seluruh ruang sampel. Maka, \(E_1\) dan \(E_2\) adalah komprehensif.
5.3 Partisi Ruang Sampel (Partition of the Sample Space)
Serangkaian kejadian dikatakan membentuk Partisi dari Ruang Sampel jika mereka memenuhi kedua kriteria berikut secara bersamaan:
- Mereka Saling Eksklusif (tidak ada tumpang tindih).
- Mereka Komprehensif (mencakup semua hasil yang mungkin).
Signifikansi: Partisi memastikan bahwa setiap hasil percobaan (titik sampel) masuk ke dalam satu dan hanya satu dari kejadian yang didefinisikan.
Contoh Klasik Partisi: Sebuah kejadian \(A\) dan komplemennya \(\bar{A}\) (kejadian ‘bukan A’) selalu membentuk partisi. * Saling Eksklusif: \(P(A \cap \bar{A}) = 0\). * Komprehensif: \(P(A) + P(\bar{A}) = 1\).
5.4 Catatan Penting: Eksklusif vs. Independen
Sangat penting untuk membedakan antara Saling Eksklusif dan Independen. Kedua konsep ini secara logis hampir selalu bertentangan:
- Saling Eksklusif berarti \(P(A \cap B) = 0\).
- Independen berarti \(P(A \cap B) = P(A) \times P(B)\).
Jika \(A\) dan \(B\) saling eksklusif dan bukan kejadian mustahil (yaitu, \(P(A) > 0\) dan \(P(B) > 0\)), maka mereka pasti dependen. Karena jika \(A\) terjadi, \(B\) tidak mungkin terjadi (\(P(B \mid A) = 0\)), dan ini mengubah peluang \(B\) dari \(P(B)\) menjadi \(0\). Ini menunjukkan adanya ketergantungan.
6 Binomial Experiment
Video ini memperkenalkan Distribusi Binomial, yang merupakan model probabilitas diskret yang digunakan untuk memprediksi peluang mendapatkan sejumlah sukses tertentu dalam serangkaian percobaan independen. Inti dari pemahaman distribusi ini terletak pada pemenuhan empat kriteria eksperimen dan penerapan formula yang tepat, termasuk perhitungan karakteristik distribusi.
6.1 Empat Kondisi Eksperimen Binomial (BINS)
Suatu proses statistik diklasifikasikan sebagai Eksperimen Binomial hanya jika memenuhi keempat kondisi berikut secara konsisten. Kegagalan pada salah satu kriteria akan mengharuskan penggunaan distribusi probabilitas lain.
| Singkatan | Kriteria | Penjelasan Mendalam |
|---|---|---|
| B | Binary (Dua Hasil) | Setiap percobaan hanya boleh menghasilkan dua hasil yang mutually exclusive: Sukses (\(S\)) atau Gagal (\(F\)). |
| I | Independent (Independen) | Hasil dari satu percobaan tidak boleh mempengaruhi hasil percobaan lainnya. Peluang keberhasilan selalu tetap, terlepas dari apa yang terjadi sebelumnya. |
| N | Number of Trials (Jumlah Tetap) | Jumlah percobaan total (\(\mathbf{n}\)) harus merupakan bilangan bulat yang tetap dan sudah ditentukan sebelum eksperimen dimulai. |
| S | Success Probability (Peluang Tetap) | Peluang untuk Sukses (\(\mathbf{p}\)) harus konstan di setiap percobaan. Konsekuensinya, peluang Gagal \((\mathbf{q} = 1 - p)\) juga konstan. |
6.2 Formula Probabilitas Binomial
Formula ini digunakan untuk menghitung probabilitas mendapatkan tepat \(k\) kali sukses dalam \(n\) kali percobaan. Formula ini terbagi menjadi dua bagian logis: menghitung jumlah cara sukses dapat terjadi, dan menghitung peluang satu urutan sukses tertentu.
6.2.1 Rumus Utama
\[ P(X = k) = \binom{n}{k} p^k (1-p)^{n-k} \]
6.2.2 Penjelasan Komponen Rumus
- Koefisien Binomial (Kombinasi): Bagian \(\binom{n}{k}\) dihitung menggunakan rumus kombinasi. Koefisien ini mewakili jumlah cara yang mungkin di mana \(k\) kali sukses dapat didistribusikan di antara \(n\) percobaan.
\[ \binom{n}{k} = \frac{n!}{k!(n-k)!} \]
- Peluang Urutan Tertentu: Bagian \(p^k (1-p)^{n-k}\) menghitung peluang terjadinya satu urutan sukses yang spesifik (yaitu, \(k\) sukses dan \(n-k\) gagal).
6.2.3 Contoh Aplikasi
Untuk menentukan peluang tepat 3 dari 5 lemparan koin menghasilkan sisi kepala (Sukses), kita tetapkan \(n=5\), \(k=3\), dan \(p=0.5\).
\[ P(X = 3) = \binom{5}{3} (0.5)^3 (1-0.5)^{5-3} \]
6.3 Karakteristik Distribusi Binomial
Salah satu keunggulan Distribusi Binomial adalah kemudahan dalam menentukan karakteristik pusat dan penyebarannya hanya berdasarkan parameter \(n\) dan \(p\).
6.3.1 Nilai Harapan (Rata-Rata / Mean)
Nilai harapan (\(\mu\)), yang mewakili rata-rata jumlah sukses yang diharapkan dalam jangka panjang, dihitung dengan mengalikan jumlah percobaan dengan peluang sukses.
\[ \text{Nilai Harapan } (\mu) = n \times p \]
6.3.2 Variansi dan Simpangan Baku (Variance and Standard Deviation)
Variansi (\(\sigma^2\)) mengukur seberapa tersebar hasil-hasil yang mungkin dari nilai harapan. Simpangan baku (\(\sigma\)) adalah akar kuadrat dari variansi, memberikan ukuran penyebaran dalam unit yang sama dengan variabelnya.
\[ \text{Variansi } (\sigma^2) = n \times p \times (1-p) \]
\[ \text{Simpangan Baku } (\sigma) = \sqrt{n \times p \times (1-p)} \]
Karakteristik ini sangat penting dalam analisis data, memungkinkan kita untuk memahami pusat dan variabilitas dari hasil eksperimen binomial tanpa harus menghitung setiap peluang secara individu.
7 Binomial Distribution
Video ini membahas aspek lanjutan dari Distribusi Binomial dengan fokus pada visualisasi dan karakteristik bentuk distribusi, serta bagaimana parameter utama \((\mathbf{n}\) dan \(\mathbf{p})\) memengaruhi penyebarannya. Pemahaman ini penting untuk menafsirkan hasil eksperimen binomial dan, yang lebih krusial, menentukan kapan kita dapat menggunakan aproksimasi (pendekatan) Normal untuk mempermudah perhitungan peluang.
7.1 Tinjauan Formula Binomial
Video ini dimulai dengan meninjau kembali formula yang digunakan untuk menghitung peluang \(\mathbf{k}\) sukses dalam \(\mathbf{n}\) percobaan, mengasumsikan kriteria BINS (Binary, Independent, Number fixed, Success probability fixed) telah dipenuhi.
7.1.1 Formula Probabilitas Binomial
\[ P(X = k) = \binom{n}{k} p^k (1-p)^{n-k} \]
7.1.2 Distribusi Probabilitas
Dengan menghitung \(P(X=k)\) untuk setiap nilai \(k\) yang mungkin (dari 0 hingga \(n\)), kita dapat membuat tabel yang mencakup seluruh distribusi probabilitas. Ketika peluang-peluang ini diplot, hasilnya adalah Histogram Distribusi Binomial, yang menunjukkan bentuk distribusi tersebut.
7.2 Karakteristik Pusat dan Penyebaran
Untuk menganalisis Distribusi Binomial secara statistik, kita menggunakan tiga parameter utama: Nilai Harapan (Mean), Variansi, dan Simpangan Baku.
7.2.1 Nilai Harapan (Mean)
Nilai harapan (\(\mu\)) adalah rata-rata jumlah sukses yang paling mungkin terjadi. Ini memberikan ukuran pusat dari distribusi.
\[ \text{Nilai Harapan } (\mu) = n \times p \]
7.2.2 Variansi dan Simpangan Baku
Variansi (\(\sigma^2\)) dan Simpangan Baku (\(\sigma\)) mengukur penyebaran atau variabilitas data di sekitar nilai harapan.
\[ \text{Variansi } (\sigma^2) = n \times p \times (1-p) \]
\[ \text{Simpangan Baku } (\sigma) = \sqrt{n \times p \times (1-p)} \]
7.3 Pengaruh Parameter terhadap Bentuk Distribusi
Bentuk grafik distribusi binomial sangat bergantung pada parameter \(n\) dan \(p\).
7.3.1 Pengaruh Peluang Sukses (\(\mathbf{p}\))
- Jika \(p = 0.5\): Distribusi akan simetris sempurna, menyerupai lonceng (Normal).
- Jika \(p < 0.5\): Distribusi akan miring ke kanan (positively skewed), karena sebagian besar hasil akan berupa kegagalan.
- Jika \(p > 0.5\): Distribusi akan miring ke kiri (negatively skewed), karena sebagian besar hasil akan berupa keberhasilan.
7.3.2 Pengaruh Jumlah Percobaan (\(\mathbf{n}\))
Meskipun \(p\) tetap, seiring dengan peningkatan jumlah percobaan (\(n\)), bentuk distribusi cenderung menjadi lebih simetris dan mendekati bentuk kurva Normal, bahkan jika \(p\) tidak sama dengan 0.5.
7.4 Asumsi Aproksimasi Normal
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam video adalah kapan kita bisa mengasumsikan Distribusi Binomial mendekati Distribusi Normal. Aproksimasi ini sangat berguna karena perhitungan peluang menggunakan Distribusi Normal jauh lebih mudah daripada menggunakan formula binomial berulang kali.
Agar aproksimasi Normal dapat digunakan, dua kondisi harus dipenuhi: 1. \(n \times p \geq 10\) 2. \(n \times (1-p) \geq 10\)
Jika kedua kondisi ini terpenuhi, bentuk distribusi binomial dianggap cukup simetris dan halus, sehingga Z-score dan tabel Normal dapat digunakan untuk menghitung peluang.
Mari kita visualisasikan bagaimana parameter \(p\) dan \(n\) memengaruhi bentuk distribusi binomial:
##
## Attaching package: 'dplyr'
## The following objects are masked from 'package:stats':
##
## filter, lag
## The following objects are masked from 'package:base':
##
## intersect, setdiff, setequal, union
# Fungsi untuk membuat data binomial
generate_binomial_data <- function(n, p) {
x <- 0:n
prob <- dbinom(x, size = n, prob = p)
data.frame(x = x, prob = prob, n = factor(n), p = factor(p))
}
# Kombinasi n dan p untuk visualisasi
df_binomial <- bind_rows(
generate_binomial_data(n = 10, p = 0.2), # Skewed right
generate_binomial_data(n = 10, p = 0.5), # Symmetric
generate_binomial_data(n = 10, p = 0.8), # Skewed left
generate_binomial_data(n = 50, p = 0.2), # n besar, p kecil (kurang skewed)
generate_binomial_data(n = 50, p = 0.5) # n besar, p = 0.5 (lebih Normal)
)
# Plotting
ggplot(df_binomial, aes(x = x, y = prob)) +
geom_bar(stat = "identity", fill = "skyblue", color = "darkblue", width = 0.8) +
facet_grid(n ~ p, labeller = label_bquote(n == .(as.character(n)), p == .(as.character(p)))) +
labs(
title = "Distribusi Binomial dengan Berbagai Parameter n dan p",
x = "Jumlah Sukses (k)",
y = "Probabilitas"
) +
theme_minimal() +
theme(plot.title = element_text(hjust = 0.5, size = 14, face = "bold"),
axis.text = element_text(size = 9),
axis.title = element_text(size = 10),
strip.text = element_text(size = 10, face = "bold"))