Dataset airquality merupakan data bawaan pada perangkat lunak R yang berisi pengukuran kualitas udara di New York, Amerika Serikat, selama bulan Mei hingga September 1973. Data ini dikumpulkan pada musim panas, ketika konsentrasi ozon cenderung meningkat akibat intensitas sinar matahari yang lebih tinggi. Dataset airquality mencakup beberapa variabel penting, yaitu Ozone, Solar.R, Wind, Temp, serta informasi kalender Month dan Day. Dalam tugas ini, hanya digunakan tiga variabel, yaitu Ozone sebagai variabel terikat serta Wind dan Temp sebagai variabel bebas. Ketiga variabel ini dipilih karena memiliki hubungan langsung dengan dinamika pembentukan ozon dan merupakan indikator meteorologi yang paling relevan dalam studi polusi udara.
Kualitas udara, khususnya kadar ozon (Ozone), sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer. Kecepatan angin (Wind) berperan penting dalam proses dispersi polutan; semakin tinggi kecepatan angin, semakin cepat polutan menyebar dan mengencer, sedangkan suhu udara (Temp) memengaruhi reaksi fotokimia yang menghasilkan ozon (Ozone); semakin tinggi suhu, semakin optimal proses pembentukan ozon.
Melalui analisis ini, diharapkan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kecepatan angin dan suhu udara terhadap kadar ozon. Pemahaman hubungan tersebut dapat membantu memprediksi konsentrasi ozon berdasarkan kondisi cuaca, serta mendukung strategi pengendalian dan pengelolaan kualitas udara di wilayah perkotaan.
Bagaimana karakteristik awal data variabel Ozone,
Wind, dan Temp (statistik deskriptif dan
distribusi)?
Bagaimana hubungan antar variabel, khususnya Ozone
terhadap Wind dan Temp (visualisasi
scatterplot dan korelasi Pearson)?
Bagaimana pengaruh Wind dan Temp
terhadap Ozone secara simultan menggunakan model regresi
linear berganda?
Apakah asumsi regresi terpenuhi dan adakah outlier berpengaruh pada model?
Mengetahui karakteristik awal data variabel Ozone,
Wind, dan Temp melalui statistik deskriptif
dan visualisasi histogram.
Menilai hubungan antara Ozone dengan
Wind dan Temp menggunakan scatterplot LOESS
dan korelasi Pearson.
Membangun model regresi linear berganda
Ozone ~ Wind + Temp untuk menilai pengaruh kedua variabel
bebas terhadap Ozone.
Mengevaluasi validitas model regresi melalui pemeriksaan asumsi (linearitas, normalitas residual, homoskedastisitas) dan mendeteksi observasi berpengaruh menggunakan Cook’s Distance.
Analisis dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
Pemeriksaan data awal, meliputi:
Ozone,
Wind, dan Temp.Pembersihan data, yaitu menghapus baris yang memiliki nilai hilang sehingga analisis dilakukan hanya pada data lengkap.
Visualisasi hubungan antar variabel menggunakan:
Ozone vs Wind dengan kurva
LOESS.Ozone vs Temp dengan kurva
LOESS.Perhitungan korelasi Pearson untuk mengetahui kekuatan hubungan linear antar variabel.
Pembangunan model regresi linear berganda, terdiri dari:
Ozone ~ Wind + Temp untuk melihat
pengaruh variabel bebas terhadap Ozone.data(airquality)
# Ringkasan 3 variabel
summary(airquality[, c("Ozone", "Wind", "Temp")])
## Ozone Wind Temp
## Min. : 1.00 Min. : 1.700 Min. :56.00
## 1st Qu.: 18.00 1st Qu.: 7.400 1st Qu.:72.00
## Median : 31.50 Median : 9.700 Median :79.00
## Mean : 42.13 Mean : 9.958 Mean :77.88
## 3rd Qu.: 63.25 3rd Qu.:11.500 3rd Qu.:85.00
## Max. :168.00 Max. :20.700 Max. :97.00
## NA's :37
# Jumlah NA
colSums(is.na(airquality[, c("Ozone", "Wind", "Temp")]))
## Ozone Wind Temp
## 37 0 0
hist(airquality$Ozone,
main = "Histogram Kadar Ozone",
xlab = "Ozone (ppb)",
col = "brown",
border = "darkgrey")
hist(airquality$Wind,
main = "Histogram Kecepatan Angin",
xlab = "Wind (mph)",
col = "brown",
border = "darkgrey")
hist(airquality$Temp,
main = "Histogram Suhu Udara",
xlab = "Temperature (°F)",
col = "brown",
border = "darkgrey")
Berdasarkan hasil ringkasan data, variabel Ozone,
Wind, dan Temp memiliki karakteristik yang
berbeda.
Ozone memiliki rentang nilai Minimum 1.00 ppb
hingga Maksimum 168.00 ppb, dengan rata-rata 42.13 ppb dan median 31.50
ppb. Nilai mean yang lebih tinggi dari median menunjukkan bahwa
distribusi Ozone condong ke kanan (positively skewed).
Kuartil Pertama berada pada 18.00 ppb dan kuartil Ketiga berada pada
63.25 ppb. Ini menunjukkan bahwa 50% data berada dalam rentang yang
relatif sempit (18.00–63.25 ppb). Selain itu terdapat 37 nilai hilang
(NA) yang merupakan jumlah NA terbanyak pada dataset ini.Ozone berada pada kisaran rendah (0–60 ppb), sementara
nilai tinggi hanya muncul dalam beberapa kejadian, menciptakan sebuah
‘ekor’ panjang ke kanan disebabkan oleh nilai-nilai ekstrem (outlier),
terutama nilai maksimum 168.00 ppb.Wind memiliki rentang nilai minimum 1.700 mph
dan nilai maksimum 20.700 mph dengan rata-rata 9.985 mph dan median
9.700 mph menunjukkan distribusi data yang cukup simetris. Kuartil
Pertama adalah 7.400 mph dan Kuartil Ketiga adalah 11.500 mph dan tidak
terdapat NA pada variabel ini. Penyebaran data yang stabil menjadikan
Wind layak digunakan sebagai salah satu prediktor dalam
model regresi.Temp memiliki rentang suhu 56–97°F dengan
rata-rata 77.88°F dan median 79°F. Distribusinya cenderung sedikit
condong ke kiri (negatively skewed) karena median sedikit lebih besar
dari mean. Kuartil Pertama adalah 72.00°F dan Kuartil Ketiga adalah
85.00°F. Suhu pada dataset relatif stabil tanpa outlier ekstrem, dan
tidak terdapat nilai hilang pada variabel ini.Secara keseluruhan, pemeriksaan awal menunjukkan bahwa:
Ozone memiliki variasi paling besar serta banyak nilai
hilang,Wind dan Temp lebih bersih dan stabil,
danOzone
berpotensi memengaruhi model.# Pembersihan data: hapus baris dengan NA
dat <- na.omit(airquality[, c("Ozone", "Wind", "Temp")])
dat
## Ozone Wind Temp
## 1 41 7.4 67
## 2 36 8.0 72
## 3 12 12.6 74
## 4 18 11.5 62
## 6 28 14.9 66
## 7 23 8.6 65
## 8 19 13.8 59
## 9 8 20.1 61
## 11 7 6.9 74
## 12 16 9.7 69
## 13 11 9.2 66
## 14 14 10.9 68
## 15 18 13.2 58
## 16 14 11.5 64
## 17 34 12.0 66
## 18 6 18.4 57
## 19 30 11.5 68
## 20 11 9.7 62
## 21 1 9.7 59
## 22 11 16.6 73
## 23 4 9.7 61
## 24 32 12.0 61
## 28 23 12.0 67
## 29 45 14.9 81
## 30 115 5.7 79
## 31 37 7.4 76
## 38 29 9.7 82
## 40 71 13.8 90
## 41 39 11.5 87
## 44 23 8.0 82
## 47 21 14.9 77
## 48 37 20.7 72
## 49 20 9.2 65
## 50 12 11.5 73
## 51 13 10.3 76
## 62 135 4.1 84
## 63 49 9.2 85
## 64 32 9.2 81
## 66 64 4.6 83
## 67 40 10.9 83
## 68 77 5.1 88
## 69 97 6.3 92
## 70 97 5.7 92
## 71 85 7.4 89
## 73 10 14.3 73
## 74 27 14.9 81
## 76 7 14.3 80
## 77 48 6.9 81
## 78 35 10.3 82
## 79 61 6.3 84
## 80 79 5.1 87
## 81 63 11.5 85
## 82 16 6.9 74
## 85 80 8.6 86
## 86 108 8.0 85
## 87 20 8.6 82
## 88 52 12.0 86
## 89 82 7.4 88
## 90 50 7.4 86
## 91 64 7.4 83
## 92 59 9.2 81
## 93 39 6.9 81
## 94 9 13.8 81
## 95 16 7.4 82
## 96 78 6.9 86
## 97 35 7.4 85
## 98 66 4.6 87
## 99 122 4.0 89
## 100 89 10.3 90
## 101 110 8.0 90
## 104 44 11.5 86
## 105 28 11.5 82
## 106 65 9.7 80
## 108 22 10.3 77
## 109 59 6.3 79
## 110 23 7.4 76
## 111 31 10.9 78
## 112 44 10.3 78
## 113 21 15.5 77
## 114 9 14.3 72
## 116 45 9.7 79
## 117 168 3.4 81
## 118 73 8.0 86
## 120 76 9.7 97
## 121 118 2.3 94
## 122 84 6.3 96
## 123 85 6.3 94
## 124 96 6.9 91
## 125 78 5.1 92
## 126 73 2.8 93
## 127 91 4.6 93
## 128 47 7.4 87
## 129 32 15.5 84
## 130 20 10.9 80
## 131 23 10.3 78
## 132 21 10.9 75
## 133 24 9.7 73
## 134 44 14.9 81
## 135 21 15.5 76
## 136 28 6.3 77
## 137 9 10.9 71
## 138 13 11.5 71
## 139 46 6.9 78
## 140 18 13.8 67
## 141 13 10.3 76
## 142 24 10.3 68
## 143 16 8.0 82
## 144 13 12.6 64
## 145 23 9.2 71
## 146 36 10.3 81
## 147 7 10.3 69
## 148 14 16.6 63
## 149 30 6.9 70
## 151 14 14.3 75
## 152 18 8.0 76
## 153 20 11.5 68
Karena variabel utama dalam analisis, yaitu Ozon,
teridentifikasi memiliki 37 nilai hilang (NA), maka dilakukan
pembersihan data untuk memastikan analisis korelasi dan regresi dapat
dilakukan dengan tepat. Proses pembersihan ini menggunakan fungsi
na.omit() yang diaplikasikan hanya pada kolom Ozon,
Wind, dan Temp. Fungsi ini bekerja dengan
menghapus (mengeluarkan) setiap baris observasi yang mengandung
setidaknya satu nilai NA pada ketiga kolom yang dipilih. Akibatnya, 37
observasi dikeluarkan, dan dataset baru bernama dat terbentuk dengan 116
observasi lengkap yang siap digunakan untuk analisis statistik
selanjutnya.
# Scatterplot Ozone vs Wind dengan LOESS
plot(dat$Wind, dat$Ozone,
xlab = "Wind (mph)",
ylab = "Ozone (ppb)",
main = "Hubungan Wind dan Ozone",
pch = 16, col = "darkgreen") # pch=16 membuat titik bulat solid
# Tambahkan kurva LOESS
lines(lowess(dat$Wind, dat$Ozone), col="salmon", lwd=2)
Scatterplot antara Wind dan Ozone
menunjukkan pola hubungan negatif yang jelas. Pada saat kecepatan angin
berada pada tingkat rendah, yaitu sekitar 1–6 mph, kadar
Ozone cenderung tinggi karena kondisi atmosfer yang lebih
stagnan (diam) membuat polutan tidak tersebar secara efektif. Ketika
kecepatan angin meningkat ke rentang 7–15 mph, terjadi
penurunan yang konsisten pada Ozone karena angin membantu
mendispersikan polutan ke area yang lebih luas. Pada kecepatan yang
sangat tinggi, yaitu >= 16 mph, kurva LOESS menunjukkan
sedikit fluktuasi akibat jumlah data yang terbatas pada rentang
tersebut, namun pola umum tetap memperlihatkan hubungan negatif antara
Wind dan Ozone.
# Scatterplot Ozone vs Temp dengan LOESS
plot(dat$Temp, dat$Ozone,
xlab = "Temperature (°F)",
ylab = "Ozone (ppb)",
main = "Hubungan Temperature dan Ozone",
pch = 16, col = "darkgreen")
# Tambahkan kurva LOESS
lines(lowess(dat$Temp, dat$Ozone), col="salmon", lwd=2)
Scatterplot antara Temp dan Ozone
memperlihatkan pola hubungan positif. Pada suhu rendah, yaitu sekitar
56–70°F, kadar Ozone berada pada tingkat
rendah karena proses fotokimia pembentuk ozon belum bekerja secara
optimal. Ketika suhu meningkat ke rentang 71–85°F, kadar
Ozone tampak meningkat cukup tajam seiring meningkatnya
intensitas reaksi kimia antara sinar matahari dengan prekursor ozon.
Pada suhu yang lebih tinggi, yaitu >= 86°F,
Ozone terus menunjukkan tren peningkatan, yang dikonfirmasi
oleh garis LOESS yang naik secara konsisten.
Secara keseluruhan, visualisasi ini menunjukkan bahwa
Wind berhubungan negatif dengan Ozone,
sedangkan Temp berhubungan positif, sehingga keduanya
merupakan prediktor penting dalam variasi kadar ozon di atmosfer.
# Korelasi Ozone dengan Wind
cor(airquality$Wind, airquality$Ozone, use = "complete.obs")
## [1] -0.6015465
# Korelasi Ozone dengan Temp
cor(airquality$Temp, airquality$Ozone, use = "complete.obs")
## [1] 0.6983603
Hasil perhitungan korelasi Pearson menunjukkan bahwa hubungan antara
Wind dan Ozone bernilai –0.6015, sedangkan
hubungan antara Temp dan Ozone bernilai 0.698.
Perhitungan dilakukan menggunakan argumen
use = "complete.obs" karena variabel Ozone
memiliki beberapa nilai hilang (NA), sehingga korelasi hanya dihitung
berdasarkan baris dengan data lengkap.
Nilai korelasi negatif pada pasangan
Wind–Ozone menunjukkan bahwa semakin tinggi
kecepatan angin, semakin rendah kadar ozon. Hal ini sejalan dengan teori
atmosfer bahwa angin berperan dalam mendispersikan polutan, sehingga
konsentrasi ozon di udara akan berkurang ketika angin bertiup lebih
kencang.
Sebaliknya, nilai korelasi positif pada pasangan
Temp–Ozone mengindikasikan bahwa peningkatan
suhu cenderung diikuti peningkatan kadar ozon. Suhu yang lebih tinggi
memperkuat proses fotokimia pembentuk ozon, sehingga konsentrasi ozon
biasanya meningkat pada kondisi cuaca panas dan cerah.
Secara keseluruhan, hasil korelasi menunjukkan bahwa baik
Wind maupun Temp memiliki hubungan yang kuat
dan konsisten dengan variasi kadar ozon, sehingga keduanya relevan
sebagai prediktor dalam analisis lanjutan.
Analisis ini menggunakan model regresi linear berganda dengan variabel respon Ozone dan dua prediktor utama, yaitu Wind dan Temp. Model dibangun sebagai berikut:
model <- lm(Ozone ~ Wind + Temp, data = dat)
summary(model)
##
## Call:
## lm(formula = Ozone ~ Wind + Temp, data = dat)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -41.251 -13.695 -2.856 11.390 100.367
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) -71.0332 23.5780 -3.013 0.0032 **
## Wind -3.0555 0.6633 -4.607 1.08e-05 ***
## Temp 1.8402 0.2500 7.362 3.15e-11 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 21.85 on 113 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.5687, Adjusted R-squared: 0.5611
## F-statistic: 74.5 on 2 and 113 DF, p-value: < 2.2e-16
Hasil regresi linear berganda menunjukkan bahwa model secara keseluruhan sangat signifikan (F statistic: 74.5 p-value < 2.2 e-16). Kecepatan angin (Wind) dan suhu (Temp) keduanya merupakan prediktor signifikan bagi kadar ozon (Ozone).
Berdasarkan output model:
Wind dan Temp adalah prediktor yang
relevan dan kuat bagi Ozone.Plot residual digunakan untuk mengevaluasi asumsi dasar regresi, terutama linearitas dan homoskedastisitas.
model_clean <- lm(Ozone ~ Wind + Temp, data = dat)
plot(model_clean$fitted.values,
model_clean$residuals,
xlab = "Fitted Values",
ylab = "Residuals",
main = "Residual vs Fitted",
col = "darkgreen",
pch = 19)
abline(h = 0, col = "salmon", lwd = 2)
Plot Residual vs Fitted digunakan untuk mengevaluasi dua asumsi penting model regresi: linearitas dan homoskedastisitas (varian konstan). Plot ini menunjukkan bahwa residual tersebar secara acak di sekitar garis horizontal nol (garis merah), tanpa membentuk pola kurva tertentu. Kondisi acak ini mengonfirmasi bahwa asumsi linearitas telah terpenuhi dan model linier adalah bentuk yang tepat. Selain itu, penyebaran titik-titik residual terlihat cukup seragam di sepanjang rentang Fitted Values, yang menunjukkan bahwa asumsi homoskedastisitas juga terpenuhi. Secara keseluruhan, plot ini memberikan indikasi kuat bahwa model regresi valid dan dapat diandalkan untuk analisis selanjutnya.
qqnorm(model$residuals)
qqline(model$residuals, col="brown", lwd=2)
Q-Q plot digunakan untuk menguji asumsi normalitas residual. Sebagian besar titik pada grafik berada dekat dengan garis diagonal, menunjukkan bahwa distribusi residual mengikuti pola normal. Sedikit penyimpangan pada bagian ekor disebabkan oleh nilai Ozon yang ekstrem, namun secara keseluruhan penyimpangan tersebut tidak cukup besar untuk melanggar asumsi normalitas. Oleh karena itu, model masih memenuhi asumsi normalitas residual dan valid untuk keperluan inferensial.
library(lmtest)
## Warning: package 'lmtest' was built under R version 4.4.3
## Loading required package: zoo
## Warning: package 'zoo' was built under R version 4.4.3
##
## Attaching package: 'zoo'
## The following objects are masked from 'package:base':
##
## as.Date, as.Date.numeric
bptest(model)
##
## studentized Breusch-Pagan test
##
## data: model
## BP = 6.1493, df = 2, p-value = 0.04621
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengecek apakah varians residual pada model regresi bersifat konstan (homoskedastisitas) atau tidak (heteroskedastisitas). Berdasarkan hasil uji, diperoleh nilai BP = 6.1493 dengan derajat kebebasan 2 dan p-value = 0.04621. Karena p-value < 0.05, maka hipotesis nol ditolak, yang berarti varians residual tidak konstan dan terdapat heteroskedastisitas. Untuk mengatasi masalah ini, digunakan robust standard errors sehingga inferensi koefisien regresi tetap valid meskipun heteroskedastisitas ada.
library(sandwich)
## Warning: package 'sandwich' was built under R version 4.4.3
library(lmtest)
robust_se <- coeftest(model, vcov = vcovHC(model, type="HC1"))
robust_se
##
## t test of coefficients:
##
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) -71.03322 21.80247 -3.2580 0.0014819 **
## Wind -3.05549 0.87314 -3.4994 0.0006682 ***
## Temp 1.84018 0.19819 9.2851 1.377e-15 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Robust standard errors dihitung menggunakan estimator HC1. Hasil perhitungan robust standard error (HC1) menunjukkan bahwa koefisien untuk Wind (–3.05549; p = 0.0006682) dan Temp (1.84018; p = 1.377e-15) tetap signifikan bahkan setelah koreksi heteroskedastisitas diterapkan. Dengan demikian, meskipun model terdeteksi mengalami heteroskedastisitas, kesimpulan mengenai pengaruh Wind dan Temp terhadap Ozone tidak berubah. Robust standard errors memastikan bahwa interpretasi koefisien tetap reliabel.
library(car)
## Warning: package 'car' was built under R version 4.4.2
## Loading required package: carData
## Warning: package 'carData' was built under R version 4.4.2
vif(model)
## Wind Temp
## 1.353542 1.353542
Hasil perhitungan VIF menunjukkan bahwa nilai VIF untuk Wind dan Temp adalah 1.35, yang berada jauh di bawah batas umum 5. Ini berarti tidak terdapat masalah multikolinearitas pada model, sehingga kedua variabel independen dapat digunakan secara bersamaan tanpa mengganggu kestabilan koefisien regresi.
cook <- cooks.distance(model)
plot(cook, type="h", main="Cook's Distance", ylab="Distance")
abline(h = 4/length(cook), col="brown", lty=2)
Plot Cook’s Distance digunakan untuk mengidentifikasi observasi yang memiliki pengaruh besar terhadap model regresi. Sumbu X mewakili indeks observasi, dan sumbu Y menunjukkan nilai Cook untuk setiap titik. Garis putus-putus horizontal menunjukkan batas umum sebesar 4/n = 0.03. Sebagian besar observasi memiliki nilai Cook di bawah batas ini, menandakan kontribusi yang normal terhadap model. Namun, terdapat beberapa puncak pada indeks tertentu (misal 30-35 dan 80-85) dengan nilai Cook sekitar 0.20-0.25, yang menunjukkan observasi tersebut berpengaruh cukup kuat.
Meski ada beberapa observasi berpengaruh, jumlahnya sedikit dibandingkan total data, sehingga model regresi tetap stabil. Informasi ini penting untuk diperhatikan, karena pengaruh observasi ekstrem bisa memengaruhi koe sien regresi jika dihapus atau diperbaiki.
Analisis terhadap dataset airquality menunjukkan bahwa kadar ozon di New York selama musim panas 1973 sangat dipengaruhi oleh kondisi meteorologi, khususnya kecepatan angin (Wind) dan suhu udara (Temp). Dari hasil pemeriksaan data awal, diketahui bahwa variabel Ozone memiliki variasi yang besar serta distribusi yang miring ke kanan dengan banyak nilai hilang, sementara Wind dan Temp memiliki distribusi yang lebih stabil dan tidak mengandung nilai hilang, sehingga keduanya layak digunakan sebagai prediktor dalam model regresi.
Visualisasi awal melalui histogram dan scatterplot memperlihatkan bahwa Wind cenderung memiliki hubungan negatif dengan Ozone, sedangkan Temp menunjukkan hubungan positif yang cukup kuat. Hal ini dikonfirmasi oleh hasil korelasi Pearson yang menunjukkan korelasi negatif antara Wind dan Ozone, serta korelasi positif antara Temp dan Ozone. Secara fisik, fenomena ini sejalan dengan dinamika polusi udara, di mana angin yang lebih kencang akan mendispersikan ozon sehingga konsentrasinya menurun, sementara suhu tinggi mempercepat reaksi fotokimia pembentukan ozon.
Model regresi linear berganda Ozone ~ Wind + Temp menghasilkan temuan bahwa kedua variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap kadar ozon. Koefisien regresi menunjukkan bahwa peningkatan satu unit Wind menurunkan Ozone, sementara peningkatan satu unit Temp menaikkan Ozone. Kedua pengaruh ini konsisten dengan hubungan korelasinya.
Pemeriksaan diagnostik model memperlihatkan bahwa asumsi regresi terpenuhi dengan baik. Plot Residual vs Fitted memperlihatkan pola acak tanpa bentuk kurva tertentu, menandakan linearitas dan homoskedastisitas tidak mengalami pelanggaran serius. Q–Q plot menunjukkan residual mengikuti distribusi mendekati normal. Analisis Cook’s Distance menunjukkan tidak ada pengamatan yang memberikan pengaruh berlebih.
Analisis tambahan menunjukkan bahwa tidak terdapat masalah multikolinearitas, yang dibuktikan melalui nilai VIF yang berada jauh di bawah batas kritis umum (VIF < 10). Selain itu, meskipun terdapat indikasi heteroskedastisitas ringan, perhitungan Robust Standard Error (HC1) menunjukkan bahwa koefisien Wind dan Temp tetap signifikan. Artinya, kesimpulan mengenai pengaruh kedua variabel tetap stabil dan reliabel meskipun dilakukan koreksi terhadap heteroskedastisitas.
Secara keseluruhan, analisis ini menunjukkan bahwa kecepatan angin dan suhu udara merupakan faktor penting yang mempengaruhi konsentrasi ozon, dengan arah pengaruh yang sesuai dengan teori atmosfer. Model regresi yang dibangun dapat digunakan untuk memberikan gambaran yang cukup baik mengenai bagaimana kondisi cuaca memengaruhi kualitas udara, sehingga bermanfaat untuk pemantauan dan mitigasi polusi ozon di wilayah perkotaan.