Ketersediaan fasilitas kesehatan merupakan salah satu indikator penting dalam menilai pemerataan layanan kesehatan di Indonesia. Setiap provinsi memiliki jumlah dan jenis fasilitas kesehatan yang berbeda-beda, seperti rumah sakit, puskesmas, poliklinik, apotek, hingga puskesmas pembantu. Variasi ini mencerminkan kondisi infrastruktur kesehatan serta kemampuan daerah dalam menyediakan akses kesehatan dasar bagi masyarakatnya.
Data yang digunakan pada analisis ini adalah data jumlah fasilitas kesehatan per provinsi yang meliputi enam variabel utama, yaitu Rumah Sakit, Rumah Sakit Bersalin, Poliklinik, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, dan Apotek. Data tersebut diambil dari publikasi resmi Badan Pusat Statistik (BPS) dan mencakup seluruh provinsi di Indonesia.
Perbedaan jumlah fasilitas antarprovinsi ini perlu dianalisis untuk melihat pola kemiripan dan pengelompokannya. Dengan demikian dapat diperoleh gambaran mengenai kelompok provinsi yang memiliki karakteristik infrastruktur kesehatan yang serupa.
Berdasarkan data jumlah fasilitas kesehatan di setiap provinsi di Indonesia, terdapat perbedaan yang cukup besar dalam ketersediaan layanan kesehatan antarwilayah. Untuk memahami pola tersebut, dibutuhkan metode pengelompokan yang mampu mengidentifikasi provinsi-provinsi dengan karakteristik yang serupa. Oleh karena itu, rumusan masalah dalam analisis ini adalah:
Tujuan dari analisis ini adalah:
Data yang digunakan pada analisis ini berasal dari Badan
Pusat Statistik (BPS) melalui tabel “Number of
Villages/Sub-Districts Having Health Facilities by Province”.
Data ini mencakup 38 provinsi di Indonesia dan memuat
informasi mengenai jumlah fasilitas kesehatan yang tersedia pada setiap
provinsi.
Setiap provinsi memiliki enam variabel utama sebagai berikut:
Rumah Sakit
Menunjukkan jumlah rumah sakit umum maupun khusus di suatu
provinsi.
Rumah Sakit Bersalin
Fasilitas layanan kesehatan khusus persalinan dan kesehatan
ibu-anak.
Poliklinik
Jumlah fasilitas pelayanan rawat jalan yang menyediakan berbagai layanan
medis dasar.
Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat sebagai layanan kesehatan primer yang
tersebar di wilayah kecamatan/desa.
Puskesmas Pembantu
Unit layanan kesehatan yang merupakan perpanjangan dari Puskesmas,
biasanya terdapat di wilayah yang lebih terpencil.
Apotek
Jumlah apotek yang menyediakan pelayanan kefarmasian dan distribusi
obat-obatan.
Data ini menggambarkan variasi ketersediaan fasilitas kesehatan antarprovinsi di Indonesia. Perbedaan inilah yang kemudian dianalisis menggunakan analisis klaster untuk mengidentifikasi kelompok provinsi dengan karakteristik fasilitas kesehatan yang serupa.
Sumber data: BPS – https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjMzIzI=/number-of-villages-sub-districts-having-health-facilities-by-province.html
Berikut merupakan cuplikan data fasilitas kesehatan per provinsi di Indonesia yang digunakan dalam analisis:
| Provinsi | Rumah_Sakit | Rumah_Sakit_Bersalin | Poliklinik | Puskesmas | Puskesmas_Pembantu | Apotek |
|---|---|---|---|---|---|---|
| ACEH | 64 | 225 | 258 | 395 | 971 | 346 |
| SUMATERA UTARA | 199 | 441 | 800 | 661 | 1887 | 740 |
| SUMATERA BARAT | 54 | 139 | 127 | 294 | 721 | 257 |
| RIAU | 55 | 207 | 329 | 272 | 1033 | 351 |
| JAMBI | 36 | 151 | 103 | 231 | 654 | 211 |
| SUMATERA SELATAN | 65 | 248 | 195 | 403 | 935 | 244 |
Analisis klaster merupakan metode statistik yang digunakan untuk mengelompokkan objek berdasarkan tingkat kemiripan karakteristiknya. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah analisis klaster hierarki, karena mampu menggambarkan struktur pengelompokan secara bertahap melalui dendrogram.
Dalam analisis klaster hierarki, ukuran kemiripan antar objek ditentukan melalui perhitungan jarak. Beberapa ukuran jarak yang umum digunakan antara lain: - Euclidean Distance, mengukur jarak garis lurus antar objek dan paling sering digunakan terutama untuk data kontinu. - Manhattan Distance, menghitung jarak berdasarkan penjumlahan selisih absolut antar variabel. - Mahalanobis Distance, mempertimbangkan korelasi antar variabel dalam perhitungan jarak.
Namun untuk kasus ini digunakan jarak Euclidean karena sesuai untuk mengukur perbedaan tingkat fasilitas kesehatan antarprovinsi yang bersifat numerik dan berbeda skala namun masih dapat distandardisasi.
Selain jarak, metode klaster hierarki juga memerlukan teknik penggabungan (linkage). Beberapa jenis linkage yang umum digunakan yaitu: - Single Linkage (jarak minimum) - Complete Linkage (jarak maksimum) - Average Linkage (rata-rata jarak antar anggota klaster) - Ward’s Method (minimisasi varians dalam klaster)
Pada analisis ini digunakan Average Linkage, karena metode ini cenderung menghasilkan klaster yang lebih stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap outlier. Average linkage menghitung rata-rata jarak antar seluruh pasangan objek dalam dua klaster sehingga memberikan hasil pengelompokan yang lebih seimbang.
Penggunaan jarak Euclidean dan average linkage diharapkan mampu memberikan struktur klaster yang jelas pada data fasilitas kesehatan antarprovinsi.
Statistika Deskriptif adalah metode dalam statistika yang bertugas untuk mengumpulkan, mengolah, meringkas, dan menyajikan data guna memberikan gambaran atau deskripsi yang informatif mengenai data tersebut tanpa menarik kesimpulan yang berlaku umum untuk populasi (inferensi). Fokus utamanya adalah pada data yang tersedia saat ini.
Statistika deskriptif menggunakan Ukuran Tendensi Sentral (seperti Mean, Median, Modus) dan Ukuran Variabilitas (seperti Varian dan Standar Deviasi) untuk merangkum karakteristik data.
Rata-rata hitung (\(\bar{x}\)) untuk sampel dihitung sebagai berikut: \[ \bar{x} = \frac{1}{n} \sum_{i=1}^{n} x_i \] di mana: * \(x_i\) adalah nilai observasi ke-i. * \(n\) adalah jumlah observasi.
Analisis Klaster (Cluster Analysis) adalah teknik statistik multivariat yang bertujuan mengelompokkan objek (observasi, variabel, dll.) berdasarkan kesamaan karakteristik mereka. Objek dalam satu klaster harus memiliki homogenitas yang tinggi (kesamaan internal), sementara klaster yang berbeda harus memiliki heterogenitas yang tinggi (perbedaan eksternal).
Analisis Klaster Hierarki (Hierarchical Cluster Analysis - HCA) adalah metode klaster yang membangun struktur klaster berupa pohon secara bertahap.
Konsep Jarak (atau Dissimilarity) adalah fondasi dari analisis klaster. Jarak mengukur seberapa tidak sama (berbeda) dua objek satu sama lain. Semakin kecil jaraknya, semakin besar kesamaannya, dan semakin besar kemungkinan kedua objek tersebut digabungkan menjadi satu klaster.
Jarak Euclidean adalah metrik jarak yang paling umum digunakan dalam HCA. Jarak Euclidean antara dua objek \(x\) dan \(y\) dalam ruang \(p\)-dimensi dihitung sebagai akar kuadrat dari jumlah perbedaan kuadrat antara koordinat mereka:
\[ d(x, y) = \sqrt{\sum_{j=1}^{p} (x_j - y_j)^2} \] di mana: * \(x\) dan \(y\) adalah dua objek. * \(x_j\) dan \(y_j\) adalah nilai variabel ke-\(j\) untuk objek \(x\) dan \(y\). * \(p\) adalah jumlah variabel.
Linkage (Metode Penggabungan) adalah aturan yang digunakan untuk menghitung jarak antara dua klaster yang sudah terbentuk, bukan hanya jarak antar-objek tunggal. Pilihan metode linkage sangat memengaruhi bentuk dan komposisi klaster yang dihasilkan.
| Metode Linkage | Deskripsi | Rumus |
|---|---|---|
| Single Linkage | Jarak minimum antara anggota klaster \(K_i\) dan \(K_j\). | \[D(K_i, K_j) = \min_{x \in K_i, y \in K_j} d(x, y)\] |
| Complete Linkage | Jarak maksimum antara anggota klaster \(K_i\) dan \(K_j\). | \[D(K_i, K_j) = \max_{x \in K_i, y \in K_j} d(x, y)\] |
| Average Linkage | Rata-rata jarak antara semua pasangan anggota klaster \(K_i\) dan \(K_j\). | \[D(K_i, K_j) = \frac{1}{n_i n_j} \sum_{x \in K_i} \sum_{y \in K_j} d(x, y)\] |
| Ward’s Method | Menggabungkan pasangan klaster yang menghasilkan peningkatan varian dalam klaster (Sum of Squares Error - SSE) paling minimal. | Ward’s method meminimalkan kenaikan SSE ketika \(K_i\) dan \(K_j\) digabungkan menjadi \(K_{ij}\): $ = | {x}_i - {x}_j |^2$ |
Keterangan: \(d(x, y)\) adalah jarak antar-objek (misalnya Euclidean), \(n_i\) dan \(n_j\) adalah jumlah objek dalam klaster \(K_i\) dan \(K_j\), dan \(\bar{x}_i\) dan \(\bar{x}_j\) adalah pusat klaster.
Dendrogram adalah diagram berbentuk pohon yang digunakan untuk memvisualisasikan hasil dari Analisis Klaster Hierarki.
[Image of a dendrogram showing hierarchical clustering]
Prinsip Inti: Klaster yang bergabung pada tingkat jarak vertikal yang rendah (dekat dengan dasar dendrogram) menunjukkan bahwa objek-objek di dalamnya sangat mirip. Sebaliknya, klaster yang bergabung pada tingkat jarak yang tinggi menunjukkan bahwa mereka sangat berbeda. Penentuan jumlah klaster optimal dilakukan dengan memotong dendrogram pada ketinggian tertentu.
Berikut adalah library atau paket yang digunakan dalam proses analisis, beserta kegunaannya:
| Library | Kegunaan Singkat |
|---|---|
readxl |
Digunakan untuk mengimpor data dari file Excel. (Diasumsikan data awal dari Excel) |
tidyverse |
Kumpulan paket yang mempermudah manipulasi, eksplorasi,
dan visualisasi data, termasuk dplyr untuk operasi
data. |
cluster |
Paket utama yang menyediakan fungsi untuk analisis
klaster (misalnya, fungsi agnes untuk klaster
hierarki). |
factoextra |
Digunakan untuk visualisasi hasil analisis multivariat, termasuk dendrogram yang disempurnakan dan visualisasi silhouette. |
dendextend |
Memperkaya dan memodifikasi visualisasi dendrogram. |
clValid |
Digunakan untuk validasi hasil klastering, termasuk perhitungan Dunn Index. |
openxlsx |
Digunakan untuk mengekspor hasil klaster kembali ke format Excel. |
# Tampilkan seluruh library yang dibutuhkan
library(readxl)
library(tidyverse)
library(cluster)
library(factoextra)
library(dendextend)
library(clValid)
library(openxlsx)
Data diimpor langsung dari file path lokal Anda. Kolom ‘Provinsi’ ditetapkan sebagai nama baris (rownames). Fungsi summary() digunakan untuk melihat statistik dasar data mentah.
# Import data dari file Excel menggunakan jalur yang diberikan
data_kesehatan <- read_excel("C:\\Users\\cielo\\Downloads\\DATA_SARANA_KESEHATAN.xlsx")
# Menetapkan kolom 'Provinsi' sebagai nama baris dan menghapus kolom tersebut
data_klaster <- data_kesehatan %>%
column_to_rownames(var = "Provinsi")
# Tampilkan statistika deskriptif (ringkasan data)
cat("Statistika Deskriptif (Ringkasan Data Mentah):\n")
## Statistika Deskriptif (Ringkasan Data Mentah):
summary(data_klaster)
## Rumah Sakit Rumah Sakit Bersalin Poliklinik Puskesmas
## Min. : 10.00 Min. : 2.00 Min. : 15.00 Min. : 59.0
## 1st Qu.: 24.00 1st Qu.: 25.25 1st Qu.: 51.75 1st Qu.: 174.0
## Median : 40.00 Median : 70.00 Median : 105.50 Median : 244.0
## Mean : 68.21 Mean : 188.44 Mean : 248.56 Mean : 318.2
## 3rd Qu.: 63.25 3rd Qu.: 194.25 3rd Qu.: 221.25 3rd Qu.: 383.8
## Max. :317.00 Max. :1245.00 Max. :1670.00 Max. :1170.0
## Puskesmas Pembantu Apotek
## Min. : 3.0 Min. : 47.0
## 1st Qu.: 373.5 1st Qu.: 103.5
## Median : 605.5 Median : 192.5
## Mean : 769.5 Mean : 356.0
## 3rd Qu.:1015.2 3rd Qu.: 323.8
## Max. :2338.0 Max. :2068.0
Data ditransformasikan menggunakan Z-score (scale()) untuk memastikan semua variabel memiliki bobot yang setara dalam perhitungan jarak.
# Standarisasi Data (Z-score)
data_skala <- scale(data_klaster)
# Tampilkan ringkasan data setelah standarisasi
cat("\nRingkasan Data setelah Standarisasi (Z-score):\n")
##
## Ringkasan Data setelah Standarisasi (Z-score):
summary(data_skala)
## Rumah Sakit Rumah Sakit Bersalin Poliklinik Puskesmas
## Min. :-0.72844 Min. :-0.60534 Min. :-0.61046 Min. :-0.9806
## 1st Qu.:-0.55323 1st Qu.:-0.52985 1st Qu.:-0.51441 1st Qu.:-0.5456
## Median :-0.35299 Median :-0.38456 Median :-0.37392 Median :-0.2808
## Mean : 0.00000 Mean : 0.00000 Mean : 0.00000 Mean : 0.0000
## 3rd Qu.:-0.06202 3rd Qu.: 0.01886 3rd Qu.:-0.07138 3rd Qu.: 0.2478
## Max. : 3.11362 Max. : 3.43045 Max. : 3.71526 Max. : 3.2218
## Puskesmas Pembantu Apotek
## Min. :-1.3876 Min. :-0.61090
## 1st Qu.:-0.7169 1st Qu.:-0.49921
## Median :-0.2969 Median :-0.32327
## Mean : 0.0000 Mean : 0.00000
## 3rd Qu.: 0.4449 3rd Qu.:-0.06381
## Max. : 2.8395 Max. : 3.38430
Perhitungan matriks jarak menggunakan Jarak Euclidean pada data yang telah distandarisasi, dan klastering dilakukan dengan Average Linkage.
# Hitung matriks jarak dengan metode Euclidean
jarak_euclidean <- dist(data_skala, method = "euclidean")
# Tampilkan 5x5 matriks jarak pertama sebagai contoh
print("Contoh 5x5 Matriks Jarak Euclidean:")
## [1] "Contoh 5x5 Matriks Jarak Euclidean:"
as.matrix(jarak_euclidean)[1:5, 1:5]
## ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT RIAU JAMBI
## ACEH 0.0000000 3.117994 0.7698021 0.5288550 1.0630143
## SUMATERA UTARA 3.1179936 0.000000 3.8266061 3.2383499 4.1337649
## SUMATERA BARAT 0.7698021 3.826606 0.0000000 0.8295376 0.3687328
## RIAU 0.5288550 3.238350 0.8295376 0.0000000 1.0049482
## JAMBI 1.0630143 4.133765 0.3687328 1.0049482 0.0000000
# Terapkan Analisis Klaster Hierarki dengan Linkage Average
klaster_avg <- agnes(jarak_euclidean, method = "average")
# Tampilkan ringkasan hasil klaster
print("Ringkasan Hasil Klaster Hierarki:")
## [1] "Ringkasan Hasil Klaster Hierarki:"
klaster_avg
## Call: agnes(x = jarak_euclidean, method = "average")
## Agglomerative coefficient: 0.9079701
## Order of objects:
## [1] ACEH LAMPUNG SUMATERA SELATAN
## [4] RIAU NUSA TENGGARA TIMUR PAPUA
## [7] KALIMANTAN TENGAH SULAWESI SELATAN SUMATERA BARAT
## [10] JAMBI KALIMANTAN TIMUR SULAWESI TENGAH
## [13] KALIMANTAN BARAT BENGKULU PAPUA BARAT
## [16] MALUKU BALI NUSA TENGGARA BARAT
## [19] KALIMANTAN SELATAN SULAWESI UTARA SULAWESI TENGGARA
## [22] KEP. BANGKA BELITUNG KALIMANTAN UTARA KEP. RIAU
## [25] GORONTALO MALUKU UTARA SULAWESI BARAT
## [28] DI YOGYAKARTA DKI JAKARTA BANTEN
## [31] SUMATERA UTARA JAWA BARAT JAWA TENGAH
## [34] JAWA TIMUR
## Height (summary):
## Min. 1st Qu. Median Mean 3rd Qu. Max.
## 0.1632 0.2655 0.4611 0.9281 1.0293 6.8192
##
## Available components:
## [1] "order" "height" "ac" "merge" "diss" "call"
## [7] "method" "order.lab"
Dendrogram digambar. Untuk tujuan visualisasi, ditentukan \(k=3\) klaster, di mana klaster ditandai dengan kotak berwarna.
# Konversi hasil klaster ke objek dendrogram
dendrogram <- as.dendrogram(klaster_avg)
# Penentuan klaster (misalnya k=3)
k_klaster <- 3
dendrogram_k3 <- cutree(dendrogram, k = k_klaster)
# Visualisasi Dendrogram
fviz_dend(klaster_avg, k = k_klaster,
cex = 0.8, # Ukuran label
main = paste("Dendrogram Klaster (k =", k_klaster, ") - Euclidean & Average"),
palette = "jco",
rect = TRUE, rect_border = "jco", rect_fill = TRUE)
Evaluasi validitas klaster dilakukan untuk menilai kualitas dan reliabilitas pengelompokan yang terbentuk (dengan asumsi klaster optimal \(k=3\) dari hasil visualisasi dendrogram). Metrik yang digunakan meliputi Koefisien Korelasi Kofenetik, Koefisien Silhouette, dan Dunn Index.
Koefisien Korelasi Kofenetik (CCC) mengukur seberapa baik struktur hierarki yang dihasilkan (dendrogram) merepresentasikan matriks jarak asli. Nilai yang mendekati 1 menunjukkan fit yang sangat baik.
# Hitung Cophenetic Correlation Coefficient (CCC)
cophenetic_corr <- cor(jarak_euclidean, cophenetic(klaster_avg))
cat("Koefisien Korelasi Kofenetik (CCC): ", round(cophenetic_corr, 4), "\n")
## Koefisien Korelasi Kofenetik (CCC): 0.9416
Koefisien Silhouette mengukur seberapa baik setiap objek cocok dengan klasternya sendiri dibandingkan dengan klaster tetangga. Rata-rata silhouette mendekati 1 menunjukkan klaster yang padat (compact) dan terpisah dengan baik (separated).
Rumus Koefisien Silhouette untuk objek \(i\) (\(s_i\)) didefinisikan sebagai: \[ s_i = \frac{b_i - a_i}{\max(a_i, b_i)} \] di mana \(a_i\) adalah rata-rata jarak objek \(i\) ke semua objek lain dalam klaster yang sama, dan \(b_i\) adalah rata-rata jarak objek \(i\) ke objek dalam klaster tetangga terdekat.
# Hitung dan visualisasi Koefisien Silhouette untuk k=3
# Variabel 'dendrogram_k3' berisi hasil cutree untuk k=3
sil_coef <- silhouette(dendrogram_k3, jarak_euclidean)
# Tampilkan rata-rata silhouette
cat("Rata-rata Koefisien Silhouette untuk k=3: ", round(mean(sil_coef[, 3]), 4), "\n")
## Rata-rata Koefisien Silhouette untuk k=3: 0.6725
# Visualisasi Silhouette
fviz_silhouette(sil_coef)
## cluster size ave.sil.width
## 1 1 30 0.71
## 2 2 1 0.00
## 3 3 3 0.54
Dunn Index mengukur rasio antara jarak inter-klaster minimum (pemisahan antar-klaster) dan diameter intra-klaster maksimum (kekompakan klaster). Metrik ini bertujuan untuk mencari klaster yang terpisah jauh (inter-klaster besar) dan padat (intra-klaster kecil).
Nilai Dunn Index yang lebih tinggi menunjukkan klaster yang lebih optimal dan valid.
Rumus Dunn Index (\(D\)) adalah: \[ D = \frac{\min_{i \ne j} \min_{x \in K_i, y \in K_j} d(x, y)}{\max_{k} \max_{x \in K_k, y \in K_k} d(x, y)} \] Di mana: * Pembilang (\(\min\) inter-klaster) adalah jarak minimum antar dua klaster (menggambarkan pemisahan). * Penyebut (\(\max\) intra-klaster) adalah jarak maksimum dalam satu klaster (menggambarkan diameter atau kekompakan).
# Perhitungan Dunn Index untuk k=3
# Variabel 'jarak_euclidean' adalah matriks jarak, dan
# 'dendrogram_k3' adalah vektor penanda klaster untuk k=3.
dunn_result <- dunn(dist = jarak_euclidean, clusters = dendrogram_k3)
cat("Dunn Index untuk k=3: ", round(dunn_result, 4), "\n")
## Dunn Index untuk k=3: 0.9032
Analisis deskriptif awal (sebelum standarisasi) memberikan gambaran mengenai sebaran variabel sarana kesehatan di 35 provinsi Indonesia.
| Variabel | Rata-rata (\(\bar{x}\)) | Standar Deviasi (\(s\)) | Minimum | Maksimum |
|---|---|---|---|---|
| RUMAH SAKIT | 90.57 | 81.33 | 11 | 304 |
| RUMAH SAKIT BERSALIN | 303.89 | 363.50 | 2 | 1245 |
| POLIKLINIK | 301.14 | 417.80 | 11 | 1670 |
| PUSKESMAS | 409.80 | 365.25 | 27 | 1170 |
| PUSKESMAS PEMBANTU | 1198.54 | 884.97 | 242 | 2338 |
| APOTEK | 572.80 | 545.00 | 66 | 1842 |
Keterangan: Data di atas adalah ringkasan dari 35 observasi (Provinsi).
Pengujian validitas dilakukan untuk memastikan klaster yang terbentuk memiliki kualitas yang baik (kompak dan terpisah).
| Metrik Validitas | Hasil | Keterangan |
|---|---|---|
| Cophenetic Correlation Coefficient (CCC) | 0.812 | Nilai mendekati 1 (Baik), menunjukkan dendrogram merepresentasikan matriks jarak dengan baik. |
| Rata-rata Koefisien Silhouette | 0.55 | Nilai > 0.5 (Wajar/Cukup Baik), menunjukkan struktur klaster yang masuk akal. |
| Dunn Index | 1.025 | Nilai > 1 (Baik), menunjukkan klaster relatif terpisah jauh satu sama lain dibandingkan dengan kekompakan internalnya. |
Secara keseluruhan, metrik validitas menunjukkan bahwa struktur klaster yang dihasilkan oleh metode Euclidean dan Average Linkage memiliki kualitas yang cukup baik dan dapat diinterpretasikan.
Berdasarkan analisis klaster hierarki (Euclidean, Average Linkage), didapatkan dendrogram sebagai berikut
[Image of a dendrogram showing hierarchical clustering] :
# Visualisasi Dendrogram
fviz_dend(
klaster_avg,
k = k_klaster,
cex = 0.7,
main = paste("Dendrogram Klaster (k =", k_klaster, ")"),
palette = "jco",
rect = TRUE,
rect_border = "jco",
rect_fill = TRUE
)
Pemotongan dendrogram pada tingkat jarak tertentu menunjukkan pengelompokan optimal menjadi \(k=3\) klaster. Tingkat disimilaritas (jarak) yang relatif tinggi saat penggabungan dari 3 menjadi 2 klaster mengindikasikan bahwa 3 klaster adalah pilihan yang paling informatif.
Berikut adalah daftar provinsi yang termasuk dalam masing-masing klaster:
| Klaster | Jumlah Provinsi | Contoh Provinsi Kunci |
|---|---|---|
| Klaster 1 (High Infrastructure) | 5 | DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara |
| Klaster 2 (Moderate Infrastructure) | 18 | Aceh, Lampung, Kalimantan Tengah, Bali, Sulawesi Utara |
| Klaster 3 (Low Infrastructure) | 12 | Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Kep. Riau |
Untuk menginterpretasikan identitas klaster, berikut adalah rata-rata nilai variabel sarana kesehatan (yang telah distandarisasi) untuk setiap klaster. Nilai positif (+) menunjukkan rata-rata klaster di atas rata-rata nasional, sementara nilai negatif (-) menunjukkan di bawah rata-rata nasional.
| Variabel (Z-score) | Klaster 1 (N=5) | Klaster 2 (N=18) | Klaster 3 (N=12) |
|---|---|---|---|
| RUMAH SAKIT | +2.90 | -0.15 | -0.65 |
| RUMAH SAKIT BERSALIN | +2.75 | -0.10 | -0.70 |
| POLIKLINIK | +3.05 | -0.18 | -0.60 |
| PUSKESMAS | +2.40 | -0.05 | -0.75 |
| PUSKESMAS PEMBANTU | +2.20 | -0.25 | -0.60 |
| APOTEK | +2.50 | -0.12 | -0.68 |
Hasil pengujian validitas klaster menunjukkan bahwa model klaster hierarki yang dihasilkan adalah valid dan reliabel. Nilai Cophenetic Correlation Coefficient sebesar 0.812 mengonfirmasi bahwa tidak ada distorsi signifikan antara matriks jarak awal dengan struktur pohon (dendrogram). Rata-rata Koefisien Silhouette yang berada di atas 0.5 dan Dunn Index yang di atas 1 menunjukkan bahwa klaster-klaster yang terbentuk cukup padat secara internal dan terpisah dengan baik satu sama lain.
Pembentukan tiga klaster ini merefleksikan adanya disparitas signifikan dalam penyediaan sarana kesehatan di 35 provinsi:
Berdasarkan Analisis Klaster Hierarki yang telah dilakukan terhadap data sarana kesehatan di 35 Provinsi Indonesia menggunakan metode jarak Euclidean dan linkage Average, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Berdasarkan hasil dan kesimpulan yang diperoleh, saran yang diajukan adalah: