Essential of Probability

Tugas Week 10

Probability Statistics

Introduction

Definisi Probabilitas

Probabilitas merupakan pilar dasar penalaran statistik, yang menawarkan kerangka kerja yang sistematis dan koheren untuk memahami ketidakpastian dan memandu pengambilan keputusan yang terinformasi. Alih-alih mengandalkan intuisi atau dugaan, probabilitas memungkinkan kita untuk mengukur kemungkinan berbagai hasil, menafsirkan pola dalam data, dan menganalisis fenomena yang muncul dari proses alami atau eksperimental. Penguasaan konsep probabilitas yang kuat sangat penting untuk analisis data yang efektif, penelitian ilmiah, dan praktik berbasis bukti.

Dalam ranah pendidikan matematika, probabilitas menjadi komponen penting dalam kurikulum karena aplikasinya yang luas dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian tentang pemahaman probabilistik siswa juga menunjukkan bahwa konsep probabilitas tidak hanya matematis, tetapi melibatkan pemikiran intuitif, heuristik, dan bahkan dinamika kognitif.

Bagian ini menyajikan prinsip-prinsip utama yang membentuk dasar teori probabilitas:

1 Fundamental Concept

Definisi Konsep Dasar Probabilitas

Probabilitas sebagai ukuran ketidakpastian Probabilitas (atau peluang) adalah ukuran numerik yang menyatakan seberapa besar kemungkinan suatu peristiwa akan terjadi. Nilainya berkisar antara 0 dan 1:

  • 0 berarti peristiwa tidak mungkin terjadi
  • 1 berarti peristiwa pasti terjadi.

  • Rumus Dasar:

    \[ P(A) = \frac{n(A)}{n(S)} \]

    Dimana:
    n(A) = banyaknya hasil yang memenuhi peristiwa A
    n(S) = total kemungkinan hasil ruang sampel

    Elemen Dasar Probabilitas

    Elemen Dasar

    1. Eksperimen acak: aktivitas yang hasilnya tidak bisa diprediksi secara pasti (misalnya melempar dadu)

    2. Ruang Sampel (S): himpunan semua kemungkinan hasil dari eksperimen. Contohnya, untuk dadu: S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}.

    3. Peristiwa: subset dari ruang sampel yang mencakup satu atau lebih hasil yang kita minati (misalnya “muncul angka genap” pada pelemparan dadu)

    Aksioma Kalmogorov (fondasi teori probabilitas modern) merupakan teori probabilitas modern didasarkan pada aksioma yang dirumuskan oleh Andrey Kolmogorov (1933), yaitu:
  • (Non-negativitas) Untuk setiap peristiwa \[ P(A) \ge 0 \]

  • (Normalisasi) Probabilitas ruang sampel penuh adalah 1, yaitu \[ P (S) = 1 \]

  • (Countable additivity) Jika A1, A2,… adalah peristiwa-peristiwa yang saling eksklusif (tidak bisa terjadi bersamaan), maka probabilitas gabungan adalah jumlah probabilitas masing-masing: \[ P\left(\bigcup_{i=1}^{\infty} A_i\right) = \sum_{i=1}^{\infty} P(A_i) \]

  • Interpretasi Probabilitas

  • Probabilitas Klasik: di mana semua hasil dianggap sama kemungkinannya, dan probabilitas dihitung sebagai rasio antara jumlah hasil yang diinginkan dengan total hasil.
  • Probabilitas Empiris: didasarkan pada frekuensi relatif dari peristiwa setelah melakukan banyak eksperimen.
  • Probabilitas Subjektif: didasarkan pada derajat keyakinan seseorang terhadap sebuah peristiwa.
  • Variabel acak dan distribusi probabilitas

  • Variabel acak (random variable) adalah suatu variabel yang hasilnya bersifat acak (tidak dapat ditentukan secara pasti sebelum percobaan).

  • Distribusi probabilitas menggambarkan bagaimana probabilitas “tersebar” ke setiap nilai variabel acak. Jika variabel diskrit (misalnya dadu), maka kita punya fungsi massa probabilitas (“probability mass function”), dan jika kontinu maka kita punya fungsi densitas probabilitas.
  • 2 Independent and Dependent

    Peristiwa Independen

    Dua peristiwa A dan B dikatakan independen jika terjadinya salah satu tidak memengaruhi probabilitas terjadinya yang lain. Secara matematis, A dan B independen jika: \[P(A ∩ B) = P(A) × P(B)\] dari definisi tersebut, diperoleh aturan perkalian untuk peristiwa independen: \[P(A∩B)=P(A)×P(B)\]

    Peristiwa Dependen

    Peristiwa A dan B disebut dependen (tergantung) jika probabilitas terjadinya salah satu dipengaruhi oleh terjadinya yang lain. Dalam hal ini kita menggunakan probabilitas bersyarat: \[P(B∣A)\] atau \[P(A∣B)\] jadi, aturan perkalian untuk peristiwa dependen menjadi: \[P(A ∩ B) = P(A) × P(B|A)\] atau secara simetris: \[P(A ∩ B) = P(B) × P(A|B)\]

    Aturan Perkalian

    Peristiwa Independen:
    \[P(A ∩ B) = P(A) × P(B)\]

    Peristiwa Dependen:
    \[P(A ∩ B) = P(A) × P(B|A)\]
    \[P(A ∩ B) = P(B) × P(A|B)\]

    Contoh 1 - Peristiwa Independen: Satu dadu enam sisi dilempar, lalu satu koin dilempar. Hasil dari dadu tidak memengaruhi hasil koin

    • P(dadu menunjukkan angka 6) = 1/6

    • P(koin menunjukkan Head) = 1/2

    • Perhitungan P(keduanya Head) \[(1/6) × (1/2) = 1/12 ≈ 0.0833 ≈ 8.33%\]

    Karena percobaannya tidak saling memengaruhi, maka keduanya independen.

    Contoh 2 - Peristiwa Dependen: Misalkan ada sebuah kantong berisi 5 kelereng merah dan 3 kelereng biru kemudian total keseluruhan kelereng ada 8 buah:

    Kita mengambil satu kelereng tanpa mengembalikannya, lalu mengambil yang kedua.

    • P(kelereng pertama merah) = 5/8

    • Jika kelereng pertama merah, sisa merah = 4 dan total kelereng = 7 jadi P(kelereng kedua merah | pertama merah) = 4/7

    • Perhitungan P(dua kelereng merah) \[(5/8) × (4/7) = 20/56 ≈ 0.357 ≈ 35.7%\]

    Probabilitas tetap konstan karena setiap koin adalah sistem terpisah, hasil satu percobaan tidak mengubah ruang sampel percobaan lainnya.

    3 Union of Events

    Definisi

    Gabungan dua kejadian A dan B, dilambangkan \[A∪B\] adalah peristiwa di mana setidaknya satu dari kejadian tersebut terjadi, bisa A, atau B, atau keduanya. Dengan kata lain jika percobaan menghasilkan hasil yang masuk ke himpunan hasil A maupun B, maka A ∪ B dianggap terjadi. Namun, ketika kita ingin menghitung probabilitas P(A ∪ B), kita tidak cukup menjumlahkan P(A)+P(B). Jika kita lakukan demikian tanpa modifikasi, kita akan memperhitungkan area “irisan” (hasil yang bisa masuk ke A dan B sekaligus) dua kali, sekali dalam P(A) dan sekali lagi dalam P(B). Oleh sebab itu, kita perlu mengurangkan P(A ∩ B) agar perhitungan menjadi benar.

    Peristiwa tidak saling lepas (Non Mutually Exclusive Events) - sehingga formula umumnya:

    \[P(A ∪ B) = P(A) + P(B) - P(A ∩ B)\]

    Kejadian saling lepas (Mutually Exclusive Events) - sehingga formula umumnya:
    \[P(A ∪ B) = P(A) + P(B)\]

    Contoh Soal

    Contoh 1: Kejadian tidak saling lepas - Sebuah kantong berisi 20 bola. Terdiri dari 8 bola merah dan 12 bola biru. Satu bola diambil secara acak.

    bisa didefinisikan:

    • A = bola yang terambil berwarna merah

    • B = bola yang diambil berwarna biru

    • Namun, katakanlah ada 3 bola yang juga berwarna merah muda selain bola merah dan biru (jadi sebenarnya ada tumpang-tindih warna: “merah muda” dihitung sebagai biru/biru-muda dan bisa jadi termasuk merah if kita anggap merah muda sebagai subset “merah/biru-muda”). Agar lebih sederhana, asumsikan 3 bola dari 20 itu berwarna merah muda: termasuk dalam “B” dan sebagian dari A (misalnya diwarnai merah tapi juga dianggap “merah muda”). Dengan begitu, himpunan A dan B tidak saling lepas.

    • Perhitungan

    \[P(A)=\frac{8}{20}=0,40\] “Merah muda” (3 bola) kita hitung dalam B, dan anggap “merah muda” juga bagian dari A — sehingga irisan A ∩ B punya 3 bola, sehingga: \[𝑃 (𝐴∩𝐵)=3/20=0,15\] Jumlah bola dalam B: biru (12) + merah muda (3) = 15 \[P(B)=15/20=0,75\] Maka \[P(A∪B)=P(A)+P(B)−P(A∩B)=0,40+0,75−0,15=1,00\] Artinya peluang terambil bola yang termasuk “merah atau biru/merah-muda” adalah 100%. Ini masuk akal karena “merah” dan “biru/merah-muda” bersama-sama mencakup semua bola dalam kantong (merah, biru, dan merah-muda).

    Contoh 2: Kejadian saling lepas - Sebuah dadu standard dilempar satu kali

    misalnya:

    • A = muncul mata dadu 2 atau 4

    • B = muncul mata dadu 5 atau 6

    • Perhatikan bahwa A dan B tidak bisa terjadi bersamaan (hasil dadu hanya satu angka). Jadi hitung P(A ∪ B).

    • Perhitungan ruang sampel S={1,2,3,4,5,6}, jadi total 6 kemungkinan.

    Himpunan A = {2, 4} \[P(A)= \frac{2}{6} = \frac{1}{3}\] Himpunan B = {5, 6} \[P(B)= \frac{2}{6} = \frac{1}{3}\] Karena A dan B saling lepas, sehingga \[P(A∩B)=0\] Maka \[P(A∪B)=P(A)+P(B)= \frac{1}{3} + \frac{1}{3}= \frac{2}{3} ≈ 0,6667\] Jadi peluang muncul angka 2 atau 4, atau 5 atau 6 pada pelemparan dadu adalah ≈ 66.67%.

    Prinsip untuk tiga kejadian atau lebih

    Untuk tiga kejadian A, B, dan C, probabilitas bahwa paling tidak salah satu dari ketiganya terjadi.

    Rumus umum:
    P(A ∪ B ∪ C) = P(A) + P(B) + P(C) - P(A ∩ B)- P(A ∩ C)
    - P(B ∩ C) + P(A ∩ B ∩ C)

    kita menjumlahkan probabilitas masing-masing kejadian, lalu mengurangi probabilitas setiap pasangan irisannya (karena dihitung ganda), dan kemudian menambahkan kembali probabilitas irisannya ketiganya (karena setelah pengurangan ganda, bagian ini terhapus dua kali). Dengan logika ini, rumus bisa diperluas ke sejumlah kejadian banyak (lebih dari tiga), menggunakan pola penjumlahan dan pengurangan secara bergantian sesuai jumlah irisan yaitu rumus umum dari Inclusion and Exclusion.

    Sifat-sifat Himpunan yang berlaku untuk penyatuan peristiwa

    • Komutatif: urutan kejadian tidak memengaruhi hasil penyatuan. \[A ∪ B = B ∪ A\]
    • Asosiatif: pengelompokan tidak memengaruhi hasil penyatuan. \[(A ∪ B) ∪ C = A ∪ (B ∪ C)\]
    • Identitas: penyatuan dengan himpunan kosong tidak mengubah himpunan. \[A ∪ ∅ = A\]
    • Idempoten: penyatuan himpunan dengan dirinya sendiri tetap himpunan yang sama. \[A ∪ A = A\]
    • Absorpsi (jika berlaku): jika A adalah subset dari B (semua elemen A juga ada di B), maka: \[A ∪ B = B\]
    • Sifat-sifat ini berguna dalam manipulasi himpunan dan dalam membangun argumen probabilitas maupun kombinatorial. Prinsip union/intersection dan inclusion-exclusion berakar kuat dari teori himpunan ini.

    Visualisasi

    library(ggvenn)
    
    # Data himpunan
    data_union <- list(
      A = c("a","b","c","d","e"),
      B = c("c","d","e","f","g")
    )
    
    # Plot
    ggvenn(
      data_union,
      fill_color = c("#FFB5C1", "#E0BBE2"),
      stroke_size = 1,
      set_name_color = "black",
      fill_alpha = 0.5
    ) +
      ggtitle("Visualisasi Rumus Union Dua Kejadian") +
      theme(
        plot.title = element_text(hjust = 0.5, face="bold", size=16)
      )

    Visualisasi ini menunjukkan dua himpunan, A dan B, beserta bagian yang tumpang-tindih (irisan A ∩ B). Area gabungan keseluruhan itu termasuk bagian masing-masing himpunan dan bagian overlap yang merepresentasikan A ∪ B, yaitu kejadian ketika setidaknya salah satu dari A atau B terjadi. Model ini konsisten dengan rumus P(A ∪ B) = P(A) + P(B) – P(A ∩ B), karena bagian itu memperlihatkan bahwa daerah irisan tidak boleh dihitung dua kali.

    4 Exclusive and Exhaustive

    Peristiwa Saling Eksklusif (mutually exclusive)

    dua peristiwa dikatakan saling eksklusif jika keduanya tidak dapat terjadi pada saat yang sama yang artinya irisannya kosong. Secara matematis:

    \[A ∩ B = ∅\]

    Katakanlah kita punya sekumpulan kejadian \[A₁, A₂, ..., Aₙ\] Mereka dikatakan saling eksklusif jika setiap dua kejadian yang berbeda tidak memiliki hasil bersama, yaitu: \[Aᵢ ∩ Aⱼ = ∅\] untuk setiap \[i ≠ j\]

    Artinya, bila salah satu kejadian Aᵢ terjadi, kejadian Aⱼ (dengan j ≠ i) tidak mungkin terjadi pada percobaan yang sama. Pernyataan ini adalah cara formal menyatakan bahwa himpunan-himpunan tersebut tidak saling tumpang tindih.

  • Hubungan dengan “Lengkap / Exhaustive” dan Partition Jika selain saling eksklusif, gabungan semua kejadian menutupi seluruh ruang sampel (S), yaitu, \[ \bigcup_{i=1}^{n} A_i = S \] maka kumpulan kejadian tersebut disebut lengkap (collectively exhaustive). Bila keduanya terpenuhi (saling eksklusif + lengkap), maka {Aᵢ} membentuk sebuah partisi dari ruang sampel S dan setiap hasil persis termasuk dalam satu dan hanya satu Aᵢ Konsep ini penting misalnya pada penerapan Teorema Probabilitas Total dan Teorema Bayes.
  • Peristiwa Lengkap / kolektif-ekshaustif (collectively exhaustive)

    sekumpulan peristiwa disebut lengkap jika penyatuannya menutupi seluruh ruang sampel, sehingga setidaknya satu dari peristiwa tersebut pasti terjadi:

    \[U_iA_i = S\]

    Jika kejadian-kejadian saling lepas dan menyusun keseluruhan ruang sampel: \[Σ P(Aᵢ) = 1\]

    maka, jumlah peluangnya bernilai 1.

    Pembagian Ruang Sampel

    Dalam teori peluang, kita sering membutuhkan sekumpulan kejadian yang mampu menggambarkan seluruh kemungkinan hasil dari suatu percobaan. Untuk mencapai hal tersebut, digunakan konsep pembagian ruang sampel atau partition of the sample space. Sebuah kumpulan kejadian disebut membentuk pembagian ruang sampel apabila dua syarat penting terpenuhi secara bersamaan:
    1. Kumpulan Kejadian Bersifat Saling Eksklusif Tidak ada dua kejadian dalam himpunan tersebut yang memiliki irisan. Artinya, sebuah hasil tidak boleh muncul pada lebih dari satu kejadian.
    Kondisi ini memastikan bahwa setiap hasil hanya “milih satu tempat” di antara kejadian-kejadian yang didefinisikan.
    2. Kumpulan Kejadian Bersifat Lengkap Gabungan seluruh kejadian dalam himpunan tersebut harus mencakup seluruh ruang sampel.
    Dengan demikian, tidak ada satu pun kemungkinan hasil yang tertinggal atau tidak terwakili.

      Implikasi dari Kedua Syarat Ini

      Jika dua syarat di atas terpenuhi, maka rangkaian kejadian tersebut membentuk pembagian ruang sampel. Konsekuensinya:
    • Setiap hasil unik ditempatkan ke dalam satu, dan hanya satu, kejadian.
    • Tidak ada tumpang tindih antar kejadian yang dapat menimbulkan ambiguitas.
    • Tidak ada tumpang tindih antar kejadian yang dapat menimbulkan ambiguitas.
    • karena irisan antarkejadian bernilai kosong.
    • Seluruh ruang sampel terliput secara lengkap.
    • Tidak ada hasil yang terlewatkan atau tidak diasosiasikan dengan kejadian manapun.
    Contoh 1: Partisi ruang sampel (partisi sempurna)

    Sebuah spidol arsir memiliki 6 tingkat ketebalan yang diberi kode 1–6. Untuk keperluan analisis produk, perusahaan membagi ruang sampel menjadi dua kelompok:

    • Kelompok tipis = {1, 2, 3}

    • Kelompok tebal = {4, 5, 6}

    Pertanyaan: a) Apakah dua kelompok ini membentuk partisi dari ruang sampel?

    Jawab :

    tidak tumpang tindih = {1,2,3} ∩ {4,5,6} = ∅ (sudah terpenuhi)

    Maka, ini adalah benar partisi ruang sampel.

    1. Hitung peluang masing-masing kelompok jika pemilihan tingkat ketebalan dilakukan secara acak. Jawab :

    jumlah total = 6 kemungkinan \[P(tipis) = \frac{3}{6} = 0.5\] \[P(tebal) = \frac{3}{6} = 0.5\]

    1. Tunjukkan bahwa total peluangnya bernilai 1.

      Jawab : \[P(tipis) + P(tebal) = 0.5 + 0.5 = 1.0\] Artinya pembagian ini benar-benar menutupi seluruh ruang sampel.
    Contoh 2: Peristiwa saling eksklusif

    Sebuah survei konsumsi kopi pada mahasiswa melaporkan tiga jenis perilaku minum kopi:

    1.Tidak minum kopi

    2.Minum kopi hanya di pagi hari

    3.Minum kopi lebih dari sekali sehari

    Peluangnya adalah: \[P1 = 0.20, P2 = 0.55, P3 = 0.25\]

    • Pertanyaan:

    1. Buktikan bahwa ketiga kategori tersebut saling eksklusif.

    Jawab :

    Saling eksklusif berarti tidak ada individu yang berada dalam dua kategori sekaligus. Seseorang tidak mungkin tidak minum kopi dan minum kopi dua kali sehari. Jadi, kategori tidak tumpang tindih (saling eksklusif).

    1. Jelaskan mengapa ketiganya merupakan peristiwa lengkap (exhaustive).

    Jawab :

    Tidak ada kemungkinan lain di luar tiga kategori ini. Setiap mahasiswa pasti masuk salah satu dari:

    1. tidak minum kopi, atau

    2. minum pagi saja, atau

    3. minum lebih dari sekali.

    Artinya seluruh ruang sampel tercakup (exhaustive).

    1. Hitung jumlah peluang total dan verifikasi hasilnya.
    Jawab : \[P1 + P2 + P3 = 0.20 + 0.55 + 0.25 = 1.00 \] Ini menunjukkan bahwa ketiga kategori sepenuhnya menggambarkan seluruh kemungkinan.

    Contoh 3: Saling eksklusif tapi tidak lengkap

    Pada sebuah ujian, nilai siswa diklasifikasikan menjadi:

  • Kategori A = nilai ≥ 85 \[P(A) = 0.18\]
  • Kategori B = nilai < 50 \[P(A = 0.22\]

    • Pertanyaan: a) Benarkah A dan B saling eksklusif? Jawab : A dan B Saling eksklusif Tidak ada nilai yang bisa sekaligus ≥85 dan <50. Maka, A ∩ B = ∅ → saling eksklusif.

    1. Jelaskan mengapa kedua kategori ini tidak lengkap. Jawab : Karena nilai 50–84 tidak termasuk dalam A maupun B. Masih ada kejadian lain yang tidak tercakup. Jadi, A ∪ B tidak menutupi seluruh ruang sampel (tidak lengkap).

    2. Hitung P(A ∪ B). Jawab : Karena A dan B saling eksklusif: \[P(A ∪ B) = P(A) + P(B) = 0.18 + 0.22 = 0.40 \] Ini menunjukkan hanya 40% nilai siswa yang termasuk dua kategori tersebut.

  • Visualisasi Exclusive and Exhaustive

    library(ggplot2)
    
    # Ruang sampel S
    S <- data.frame(
      x = c(0, 10, 10, 0),
      y = c(0, 0, 6, 6)
    )
    
    # Tiga kejadian yang saling eksklusif dan exhaustif
    A1 <- data.frame(
      x = c(0.5, 3.2, 3.2, 0.5),
      y = c(0.5, 0.5, 5.5, 5.5),
      set = "A1"
    )
    
    A2 <- data.frame(
      x = c(3.2, 6.3, 6.3, 3.2),
      y = c(0.5, 0.5, 5.5, 5.5),
      set = "A2"
    )
    
    A3 <- data.frame(
      x = c(6.3, 9.5, 9.5, 6.3),
      y = c(0.5, 0.5, 5.5, 5.5),
      set = "A3"
    )
    
    df_all <- rbind(A1, A2, A3)
    
    ggplot() +
      geom_polygon(data = S, aes(x, y),
                   fill = "white", color = "black", linewidth = 1.2) +
      geom_polygon(data = df_all, aes(x, y, fill = set),
                   color = "black", alpha = 0.7) +
      scale_fill_manual(values = c(
        "A1" = "#AEC6FF",  
        "A2" = "#DCC7FF",  
        "A3" = "#FFC9DE"   
      )) +
      annotate("text", x = 5, y = 6.5, label = "Ruang Sampel (S)",
               size = 6, fontface = "bold") +
      annotate("text", x = 2, y = 3, label = "A1", size = 6, fontface = "bold") +
      annotate("text", x = 4.75, y = 3, label = "A2", size = 6, fontface = "bold") +
      annotate("text", x = 7.9, y = 3, label = "A3", size = 6, fontface = "bold") +
      labs(
        title = "Mutually Exclusive & Collectively Exhaustive Events",
        subtitle = "A1, A2, A3 tidak saling tumpang tindih (exclusive)\n dan bersama menutupi seluruh ruang sampel S (exhaustive)"
      ) +
      theme_minimal(base_size = 14) +
      theme(
        plot.title = element_text(hjust = 0.5, face = "bold"),
        plot.subtitle = element_text(hjust = 0.5),
        legend.position = "none"
      )

    Visualisasi ini menunjukkan tiga kejadian A1, A2, dan A3 yang tidak saling bertumpukan (overlap), sehingga mencerminkan konsep mutually exclusive (Aᵢ ∩ Aⱼ = ∅). Ketiga area tersebut juga mengisi seluruh ruang sampel S tanpa ada bagian yang tertinggal, sehingga bersifat collectively exhaustive (A1 ∪ A2 ∪ A3 = S). Karena kedua syarat terpenuhi, A1, A2, dan A3 membentuk partition dari ruang sampel S.

    5 Binomial Experiment

    Definisi Eksperimen Binomial

    Eksperimen binomial merupakan salah satu fondasi penting dalam teori probabilitas. Eksperimen ini menggambarkan suatu proses yang terdiri dari serangkaian percobaan yang identik, di mana setiap percobaan hanya memiliki dua kemungkinan hasil yaitu, sukses atau gagal. Probabilitas untuk setiap hasil bersifat konstan, dan semua percobaan berlangsung secara independen.

    Susunan Binomial (Kombinasi)

    Untuk menghitung berapa banyak cara mendapatkan x keberhasilan dari n percobaan, digunakan rumus kombinasi: \[\binom{n}{x} = \frac{n!}{x! (n-1)!} \] kombinasi memastikan urutan tidak diperhitungkan.

    Karakteristik Eksperimen Binomial

    Sebuah proses dikatakan sebagai eksperimen binomial apabila memenuhi empat syarat:

      1. Jumlah percobaan tetap, terdapat n percobaan yang sudah ditentukan terlebih dahulu.

      2. Setiap percobaan memiliki dua hasil, biasanya dirumuskan sebagai success (S) dan failure (F).

      3. Probabilitas sukses bernilai konstan, probabilitas p tidak berubah pada setiap percobaan.

      4. Percobaan bersifat independen, hasil dari satu percobaan tidak memengaruhi percobaan lainnya.

      Jika keempat kondisi ini terpenuhi, hasil banyaknya sukses dalam n percobaan mengikuti Distribusi Binomial.

    Fungsi Probabilitas Binomial:

    Jika X = jumlah sukses dalam n percobaan, maka:
    \[P(X = k) = \binom{n}{k} p^{k}(1-p)^{n-k} \] dimana:
    • P = peluang terjadinya suatu kejadian
    • X = jumlah kejadian sukses di dalam n percobaan
    • (n,k) = banyaknya susunan yang mungkin
    • n = jumlah percobaan
    • k = jumlah sukses
    • p = peluang sukses

    • 1-p = peluang gagal
    Rumus ini hanya valid saat seluruh syarat binomial dipenuhi. Jika p berubah di tiap percobaan atau percobaan saling mempengaruhi, rumus tidak bisa dipakai.

    Contoh soal

    Contoh 1 - Sebuah koin seimbang dilempar 5 kali. Berapa peluang mendapatkan tepat 3 kali sisi gambar (head)?

    identifikasi

    • n = 5

    • k = 3

    • p = 0.5 (koin seimbang)

    Penyelesaian

    \[ P(X=3)=\binom{5}{3}(0.5)^3(0.5)^2 = 10 \times 2^{-5} = \frac{10}{32} = 0.3125\]

    Asumsi independen valid (lemparan koin tidak saling memengaruhi). Probabilitas juga tetap.

    Contoh 2 - Sebuah klub memiliki 8 anggota, dan mereka ingin membentuk tim beranggotakan 3 orang untuk mengikuti lomba matematika. Berapa banyak cara tim tersebut dapat dibentuk?

    Jawaban:

    • Jumlah cara memilih 3 orang dari 8 tanpa memperhatikan urutan:

    \[C\binom{8}{3} = \frac{8!}{3!(8-3)!} \]

    Penyelesaian

    \[C\binom{8}{3} = \frac{8×7×6}{3×2×1} = 56 \]

    Jadi ada 56 cara membentuk tim.

    6 Binomial Distribution

    Definisi Distribusi Binomial

    <strongDistribusi Binomial adalah distribusi probabilitas diskrit yang memodelkan jumlah sukses dalam n percobaan Bernoulli identik dan independen, di mana tiap percobaan hanya memiliki dua hasil (sukses atau gagal) dan peluang sukses p tetap sama di setiap percobaan. Dengan kata lain, jika kita melakukan n percobaan yang memenuhi syarat-syarat di atas, maka peluang bahwa tepat k percobaan berhasil dihitung dengan rumus: \[ P(X = k) = \binom{n}{k} p^{k}(1-p)^{n-k} \] Parameter distribusi:
    • P = peluang terjadinya suatu kejadian
    • X = jumlah kejadian sukses di dalam n percobaan
    • (n,k) = banyaknya susunan yang mungkin
    • n = jumlah percobaan
    • k = jumlah sukses
    • p = peluang sukses
    • 1-p = peluang gagal
    Rata-rata (ekspektasi) = n·p, dan varians = n·p·(1–p).

    Membuat distribusi binomial dari data

    Untuk membuat distribusi binomial, langkah yang dilakukan:
  • tentukan nilai n (berapa banyak percobaan)
  • tentukan nilai p (peluang sukses per percobaan)
  • tentukan semua nilai k dari 0 sampai n
  • hitung P(X = k) untuk setiap k
  • susun hasil per k menjadi sebuah distribusi
  • Distribusi binomial hanya bisa dibuat jika kejadian memenuhi syarat percobaan bernoulli.

    Parameter Distribusi Binomial

    Distribusi binomial punya dua parameter utama:
    n = jumlah percobaan
    p = probabilitas sukses

    Parameter lainnya yang bisa dihitung:
    • nilai harapan (mean)
    \[n × p\]
    • varians
    \[n × p × (1 − p)\]
    • standar deviasi = akar dari varians
    \[\sqrt{n × p × (1 − p)}\]

    Memanipulasi nilai p

    Ketika p (probabilitas sukses) berubah:
    • bentuk distribusi ikut berubah
    • kalau p kecil = distribusi condong ke kiri
    • kalau p besar = distribusi condong ke kanan
    • kalau p = 0.5 = distribusi cenderung simetris
    Semakin besar p, semakin besar peluang mendapatkan jumlah sukses yang tinggi.

    Memanipulasi nilai n

    Jika n (jumlah percobaan) dinaikkan:
    • distribusi makin “halus”
    • penyebaran nilai X makin lebar
    • probabilitas semakin tersebar di banyak nilai k
    makin banyak percobaan, makin banyak variasi jumlah sukses yang mungkin terjadi.

    Aproksimasi Normal

    Aproksimasi normal adalah sebuah pendekatan matematis yang dipakai ketika distribusi binomial menjadi cukup besar sehingga bentuknya mendekati kurva normal. Singkatnya ini semacam trik cepat.

    Cara menggunakan Aproksimasi Normal

    Distribusi binomial bisa didekati dengan distribusi normal jika memenuhi syarat:
    • n cukup besar
    • n × p ≥ 10
    • n × (1 − p) ≥ 10

    Jika dua syarat itu terpenuhi:
    bentuk kurva binomial akan mendekati kurva normal perhitungan peluang bisa dilakukan dengan rumus distribusi normal standar

    Contoh soal distribusi binomial

    Contoh 1: Sebuah koin fair dilempar 6 kali. Hitung peluang mendapat tepat 4 “Head”.

    Pembahasan

    • n = 6

    • p = 0.5

    • k = 4

    \[P(X=4) = \binom{6}{4} · (0.5)^4 · (0.5)^2 = 15 × \frac{1}{16} × \frac{1}{4}= \frac {15}{64} ≈ 0,2344 \]

    Contoh 2:Sebuah pabrik memproduksi item dengan tingkat cacat 2% (p = 0.02). Dari 50 item, berapa peluang terdapat paling banyak 1 item cacat?

    Pembahasan

    • n = 50

    • p = 0.02

    • P(X=0) = C(50,0) . (0.02) . 0(0.98)50 ≈ (0.98)^50

    • P(X=1) = C(50,1)(0.02)1(0.98)49 ≈ 50 × 0.02 × (0.98)^49

    • jumlah = peluang gabungan

    Visualisasi

    Visualisasi distribusi binomial

    library(ggplot2)
    
    # Parameter binomial
    n <- 20
    p <- 0.3
    
    # Generate data
    k_vals <- 0:n
    prob_vals <- dbinom(k_vals, size = n, prob = p)
    
    df <- data.frame(
      k = k_vals,
      prob = prob_vals
    )
    
    # Plot
    ggplot(df, aes(x = factor(k), y = prob)) +
      geom_col(fill = "#E0BBE4", color = "black") +
      labs(
        title = paste("Distribusi Binomial"),
        x = "Jumlah sukses (k)",
        y = "P(X = k)"
      ) +
      theme_minimal(base_size = 12) +
      theme(
        plot.title = element_text(hjust = 0.5, face = "bold")
      )

    Visualisasi ini menunjukkan pembagian peluang pada Distribusi Binomial untuk jumlah sukses dari 0–20 ketika p = 0.3. Peluang terbesar muncul di sekitar k = 6, sesuai nilai rataan n × p, lalu menurun saat k menjauh dari titik tersebut. Bentuk distribusinya condong ke kanan (skew-right), kasus ini merupakan ciri khas binomial ketika p < 0.5.

    Reference

    [1] Siregar, B. (n.d.). Introduction to statistics: Chapter 6: 6 Essentials of Probability. dsciencelabs. https://bookdown.org/dsciencelabs/intro_statistics/06-Essentials_of_Probability.html

    [2] Raya, R. (2017). PROFIL BERPIKIR PROBABILISTIK SISWA SMA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH PROBABILITAS.
    https://ejournal.uncen.ac.id/index.php/SAINS/article/download/15/12/29

    [3] Otaya, L. G. (2016). Probabilitas Bersyarat, Independensi dan Teorema Bayes Dalam Menentukan Peluang Terjadinya Suatu Peristiwa. Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam.
    https://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/tjmpi/article/view/1135

    [4] MIT OpenCourseWare. Brief Notes: Events and Their Probability (penjelasan mutual exclusiveness & partition).
    https://ocw.mit.edu/courses/1-151-probability-and-statistics-in-engineering-spring-2005/4d15539bf8b078b782b12148f5122dd8_briefnts1_events.pdf