BAB 1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Analisis data spasial memiliki berbagai fungsi, di antaranya melakukan identifikasi pola spasial untuk memahami hubungan antara variabel dengan lokasi geografisnya. Kemudian melakukan pemetaan untuk melakukan visualisasi dan memahami sebaran data dan pola spasial yang ada. Selanjutnya identifikasi cluster atau kelompok, hal ini dapat membantu dalam pengambilan keputusan dalam berbagai bidang seperti perencanaan kota dan pengembangan bisnis. Kemudian memprediksi perubahan yang mungkin terjadi di masa depan seperti perubahan iklim atau kepadatan penduduk. Selanjutnya sebagai peningkatan efisiensi agar dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengelolaan sumber daya.

Program R telah menjadi standar dalam komunitas ilmiah karena fleksibilitasnya serta kinerjanya yang andal dalam berbagai jenis analisis, termasuk pengolahan data secara spasial. Statistika spasial adalah suatu bidang statistika yang berkaitan dengan analisis data yang mempunyai lokasi atau posisi geografis. Dalam statistika spasial, data dikumpulkan dengan mempertimbangkan lokasi geografisnya, dan kemudian dianalisis untuk menemukan pola dan hubungan spasial antara variabel yang diamati. Dalam hal ini, teknik-teknik statistika digunakan untuk mengidentifikasi dan menguji hubungan antara data dan lokasi geografisnya, seperti pola keterkaitan spasial dan autokorelasi spasial. Statistika spasial dapat digunakan untuk menganalisis berbagai data seperti data sosial ekonomi, data medis, data lingkungan, dan data geologi. Contoh penerapan statistika spasial meliputi pemetaan kepadatan penduduk, analisis keterkaitan antara faktor lingkungan dan kesehatan, dan pemetaan sebaran sumber daya alam.

Bahasa pemrograman R telah banyak dimanfaatkan sebagai alat analisis spasial karena menyediakan paket-paket komputasi seperti sf, ggplot2, dan rnaturalearth yang mampu mengolah data spasial dan menghasilkan peta informatif secara efisien (Pebesma, 2018). Melalui praktikum ini, mahasiswa mempelajari teknik dasar pemetaan data titik gempa bumi di Sumatera Barat menggunakan R, mulai dari pengolahan dataset koordinat gempa, konversi menjadi objek spasial, hingga visualisasi sebaran epicenter pada peta administrasi wilayah. Dengan kemampuan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami konsep dasar sistem informasi geografis (SIG) serta mampu menganalisis pola spasial fenomena geofisika sebagai langkah awal dalam kajian mitigasi bencana.

Tujuan

  1. Mahasiswa dapat membuat peta dengan paket pemrograman R
  2. Mahasiswa dapat membuat peta dengan data titik spasial pada R

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana membuat peta dengan paket pemrograman R
  2. Bagaiman membuat peta dengan data titik spasial pada R

Batasan Masalah

  1. Buatlah peta epicenter gempa bumi di Indonesia pada tahun 2024 (gunakan packages R yang dianggap gampang, setiap praktikan menggambarkan peta provinsi yang berbeda).
  2. Buatlah peta semua provinsi di Indonesia dengan memberikan warna yang berbeda pada setiap kab/kota (setiap praktikan membuat peta provinsi yang berbeda).
BAB 2 PEMBAHASAN

Source Code

Input Data Gempa

data <- read.csv("lampungg.csv")
head(data)
##                       time latitude longitude   depth mag
## 1 2025-10-21T19:02:59.795Z  -4.6296  104.4980 166.646 4.7
## 2 2025-09-26T14:55:02.906Z  -5.5947  104.3749  10.000 4.6
## 3 2025-08-28T02:15:41.622Z  -4.6311  104.7303 193.050 4.9
## 4 2025-08-16T12:57:31.757Z  -5.8878  105.1606 112.620 4.2
## 5 2024-12-03T04:22:33.605Z  -5.5379  104.1572  63.795 4.3
## 6 2024-04-24T23:12:53.759Z  -5.6847  104.7934  10.000 4.1

Konversi data menjadi data spasial

# konversi jadi sf
gempasf <- st_as_sf(data, coords = c("longitude", "latitude"), crs = 4326)
head(gempasf)
## Simple feature collection with 6 features and 3 fields
## Geometry type: POINT
## Dimension:     XY
## Bounding box:  xmin: 104.1572 ymin: -5.8878 xmax: 105.1606 ymax: -4.6296
## Geodetic CRS:  WGS 84
##                       time   depth mag                 geometry
## 1 2025-10-21T19:02:59.795Z 166.646 4.7  POINT (104.498 -4.6296)
## 2 2025-09-26T14:55:02.906Z  10.000 4.6 POINT (104.3749 -5.5947)
## 3 2025-08-28T02:15:41.622Z 193.050 4.9 POINT (104.7303 -4.6311)
## 4 2025-08-16T12:57:31.757Z 112.620 4.2 POINT (105.1606 -5.8878)
## 5 2024-12-03T04:22:33.605Z  63.795 4.3 POINT (104.1572 -5.5379)
## 6 2024-04-24T23:12:53.759Z  10.000 4.1 POINT (104.7934 -5.6847)

Ambil batas administrasi Indonesia dan Filter Provinsi lampung

indo <- ne_states(country = "indonesia", returnclass = "sf")
Lampung <- indo %>% filter(name == "Lampung")

Membuat Peta Sebaran gempa di lampung

ggplot() +
  geom_sf(data = Lampung, fill = "grey", color = "pink4") +
  geom_sf(data = gempasf, aes(size = mag, color = depth), alpha = 0.7) +
  scale_color_viridis(option = "plasma", name = "Kedalaman (km)") +
  scale_size_continuous(name = "Magnitudo", range = c(2, 6)) +
  labs(
    title = "Sebaran Gempa di Provinsi Lampung",
    subtitle = "Sumber: USGS",
    x = "Longitude", y = "Latitude",
    caption = "Visualisasi: ggplot2 + sf"
  ) +
  theme_minimal() +
  theme(
    plot.title = element_text(face = "bold", size = 14),
    legend.position = "right"
  )

Peta lampung dengan SHP

setwd("C:/Users/ASUS/Downloads/Lampungami")
Indo_shp<-st_read("gadm41_IDN_2.shp")
## Reading layer `gadm41_IDN_2' from data source 
##   `C:\Users\ASUS\Downloads\Lampungami\gadm41_IDN_2.shp' using driver `ESRI Shapefile'
## Simple feature collection with 502 features and 13 fields
## Geometry type: MULTIPOLYGON
## Dimension:     XY
## Bounding box:  xmin: 95.00971 ymin: -11.00761 xmax: 141.0194 ymax: 6.076941
## Geodetic CRS:  WGS 84
head(Indo_shp)
## Simple feature collection with 6 features and 13 fields
## Geometry type: MULTIPOLYGON
## Dimension:     XY
## Bounding box:  xmin: 95.00971 ymin: 2.008107 xmax: 98.19711 ymax: 5.755888
## Geodetic CRS:  WGS 84
##       GID_2 GID_0   COUNTRY   GID_1 NAME_1 NL_NAME_1          NAME_2 VARNAME_2
## 1 IDN.1.2_1   IDN Indonesia IDN.1_1   Aceh        NA      Aceh Barat        NA
## 2 IDN.1.1_1   IDN Indonesia IDN.1_1   Aceh        NA Aceh Barat Daya        NA
## 3 IDN.1.3_1   IDN Indonesia IDN.1_1   Aceh        NA      Aceh Besar        NA
## 4 IDN.1.4_1   IDN Indonesia IDN.1_1   Aceh        NA       Aceh Jaya        NA
## 5 IDN.1.5_1   IDN Indonesia IDN.1_1   Aceh        NA    Aceh Selatan        NA
## 6 IDN.1.6_1   IDN Indonesia IDN.1_1   Aceh        NA    Aceh Singkil        NA
##   NL_NAME_2    TYPE_2 ENGTYPE_2 CC_2   HASC_2                       geometry
## 1        NA Kabupaten   Regency 1107 ID.AC.AB MULTIPOLYGON (((96.06915 4....
## 2        NA Kabupaten   Regency 1112 ID.AC.AD MULTIPOLYGON (((96.94196 3....
## 3        NA Kabupaten   Regency 1108 ID.AC.AR MULTIPOLYGON (((95.78426 5....
## 4        NA Kabupaten   Regency 1116 ID.AC.AJ MULTIPOLYGON (((95.87673 4....
## 5        NA Kabupaten   Regency 1103 ID.AC.AS MULTIPOLYGON (((97.74693 2....
## 6        NA Kabupaten   Regency 1102 ID.AC.AN MULTIPOLYGON (((97.39143 2....

Filter Provinsi lampung

Lampung_shp <- Indo_shp %>% filter(NAME_1 == "Lampung")
Lampung_shp
## Simple feature collection with 14 features and 13 fields
## Geometry type: MULTIPOLYGON
## Dimension:     XY
## Bounding box:  xmin: 103.5713 ymin: -6.168558 xmax: 106.2114 ymax: -3.723823
## Geodetic CRS:  WGS 84
## First 10 features:
##          GID_2 GID_0   COUNTRY    GID_1  NAME_1 NL_NAME_1          NAME_2
## 1   IDN.17.1_1   IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung        NA  Bandar Lampung
## 2   IDN.17.2_1   IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung        NA   Lampung Barat
## 3   IDN.17.3_1   IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung        NA Lampung Selatan
## 4   IDN.17.4_1   IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung        NA  Lampung Tengah
## 5   IDN.17.5_1   IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung        NA   Lampung Timur
## 6   IDN.17.6_1   IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung        NA   Lampung Utara
## 7   IDN.17.7_1   IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung        NA          Mesuji
## 8   IDN.17.8_1   IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung        NA           Metro
## 9   IDN.17.9_1   IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung        NA       Pesawaran
## 10 IDN.17.10_1   IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung        NA       Pringsewu
##    VARNAME_2 NL_NAME_2    TYPE_2 ENGTYPE_2 CC_2   HASC_2
## 1         NA        NA      Kota      City 1871 ID.LA.BL
## 2         NA        NA Kabupaten   Regency 1801 ID.LA.LB
## 3         NA        NA Kabupaten   Regency 1803 ID.LA.LP
## 4         NA        NA Kabupaten   Regency 1805 ID.LA.LT
## 5         NA        NA Kabupaten   Regency 1804 ID.LA.LI
## 6         NA        NA Kabupaten   Regency 1806 ID.LA.LU
## 7         NA        NA Kabupaten   Regency 1811 ID.LA.MJ
## 8         NA        NA      Kota      City 1872 ID.LA.ME
## 9         NA        NA Kabupaten   Regency 1809 ID.LA.PA
## 10        NA        NA Kabupaten   Regency 1810 ID.LA.PG
##                          geometry
## 1  MULTIPOLYGON (((105.3463 -5...
## 2  MULTIPOLYGON (((104.4196 -5...
## 3  MULTIPOLYGON (((105.7884 -5...
## 4  MULTIPOLYGON (((104.9678 -5...
## 5  MULTIPOLYGON (((105.5298 -5...
## 6  MULTIPOLYGON (((104.7822 -5...
## 7  MULTIPOLYGON (((105.6542 -4...
## 8  MULTIPOLYGON (((105.2767 -5...
## 9  MULTIPOLYGON (((105.2914 -5...
## 10 MULTIPOLYGON (((104.9424 -5...

Peta sebaran dengan shp

# Plot peta
ggplot() +
  # Warna tiap kabupaten berbeda tapi legendanya disembunyikan
  geom_sf(data = Lampung_shp, aes(fill = NAME_2), color = "black", size = 0.3, show.legend = FALSE) +
  
  # Titik gempa dengan warna = kedalaman, ukuran = magnitudo
  geom_sf(data = gempasf, aes(size = mag, color = depth), alpha = 0.7) +
  
  # Skala warna dan ukuran
  scale_color_viridis(option = "plasma", name = "Kedalaman (km)") +
  scale_size_continuous(name = "Magnitudo", range = c(2, 6)) +
  
  # Label dan tema
  labs(
    title = "Sebaran Gempa di Provinsi Lampung",
    subtitle = "Sumber: USGS",
    x = "Longitude", y = "Latitude",
    caption = "Visualisasi: ggplot2 + sf"
  ) +
  theme_minimal() +
  theme(
    plot.title = element_text(face = "bold", size = 14),
    legend.position = "right"
  )

Pembahasan

Interpretasi Plot 1: Peta Sebaran Gempa Lampung Tanpa SHP Kabupaten/Kota

Peta sebaran gempa di Provinsi Lampung berdasarkan data USGS menunjukkan bahwa aktivitas seismik di wilayah ini tersebar terutama di bagian barat dan selatan provinsi. Titik-titik gempa didominasi oleh kedalaman dangkal hingga menengah (kurang dari 150 km), ditunjukkan dengan warna biru hingga kuning, yang mengindikasikan aktivitas tektonik di zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Magnitudo gempa berkisar antara 4,1 hingga 4,9, tergolong ringan hingga sedang, dengan beberapa kejadian berpotensi lebih terasa di permukaan akibat kedalaman yang relatif dangkal. Secara keseluruhan, peta ini menggambarkan bahwa Provinsi Lampung merupakan daerah dengan aktivitas tektonik aktif yang perlu terus dimonitor untuk mitigasi risiko gempa bumi..

Interpretasi Plot 2: Peta Sebaran Gempa Sumatera Barat dengan SHP Kabupaten/Kota

Peta sebaran gempa di Provinsi Lampung berdasarkan data USGS ini memperlihatkan distribusi kejadian gempa di berbagai kabupaten/kota, yang dibedakan dengan warna wilayah administratif. Titik-titik berwarna di peta menunjukkan lokasi gempa dengan variasi warna yang menggambarkan kedalaman (dari ungu untuk gempa dangkal hingga kuning untuk gempa dalam) dan ukuran lingkaran yang merepresentasikan magnitudo (4,1–4,9). Dari peta terlihat bahwa sebagian besar gempa terjadi di wilayah barat dan selatan Lampung, terutama di sekitar pesisir dan laut, yang berkaitan dengan aktivitas tektonik di zona subduksi Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Kedalaman gempa umumnya kurang dari 150 km, dengan beberapa kejadian yang cukup dangkal, sehingga berpotensi lebih terasa di permukaan. Secara keseluruhan, peta ini menunjukkan bahwa Lampung merupakan wilayah dengan aktivitas seismik yang aktif namun dengan magnitudo relatif ringan hingga sedang, sehingga tetap perlu dilakukan pemantauan berkala untuk mitigasi bencana gempa bumi.

BAB 3 KESIMPULAN

Berdasarkan kedua peta sebaran gempa di Provinsi Lampung yang bersumber dari data USGS, dapat disimpulkan bahwa aktivitas seismik di wilayah ini tersebar di beberapa titik, terutama di bagian barat dan selatan yang berdekatan dengan zona subduksi Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Sebagian besar gempa memiliki kedalaman kurang dari 150 km, menunjukkan dominasi gempa dangkal hingga menengah yang berpotensi lebih terasa di permukaan. Magnitudo gempa berkisar antara 4,1 hingga 4,9, tergolong ringan hingga sedang, dengan beberapa kejadian tercatat di daratan maupun wilayah pesisir. Pola sebaran ini mengindikasikan bahwa Provinsi Lampung merupakan daerah dengan aktivitas tektonik aktif yang perlu terus dipantau untuk mendukung upaya mitigasi risiko dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana gempa bumi.

Daftar Pustaka

Pebesma, E. (2018). Simple Features for R: Standardized Support for Spatial Vector Data. The R Journal, 10(1), 439–446.

Pebesma, E.; Bivand, R. (2023). Spatial Data Science: With Applications in R (1st ed).

Modul Statistika Spasial Pertemuan 1. (2025). Visualisasi data spasial dengan R. Program Studi Statistik.

Giraud, T. (2025). R Spatial Ecosystem.

United States Geological Survey. (2025). USGS earthquake catalog. https://earthquake.usgs.gov/earthquakes/