Analisis data spasial memiliki berbagai fungsi, di antaranya melakukan identifikasi pola spasial untuk memahami hubungan antara variabel dengan lokasi geografisnya. Kemudian melakukan pemetaan untuk melakukan visualisasi dan memahami sebaran data dan pola spasial yang ada. Selanjutnya identifikasi cluster atau kelompok, hal ini dapat membantu dalam pengambilan keputusan dalam berbagai bidang seperti perencanaan kota dan pengembangan bisnis. Kemudian memprediksi perubahan yang mungkin terjadi di masa depan seperti perubahan iklim atau kepadatan penduduk. Selanjutnya sebagai peningkatan efisiensi agar dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengelolaan sumber daya.
Program R telah menjadi standar dalam komunitas ilmiah karena fleksibilitasnya serta kinerjanya yang andal dalam berbagai jenis analisis, termasuk pengolahan data secara spasial. Statistika spasial adalah suatu bidang statistika yang berkaitan dengan analisis data yang mempunyai lokasi atau posisi geografis. Dalam statistika spasial, data dikumpulkan dengan mempertimbangkan lokasi geografisnya, dan kemudian dianalisis untuk menemukan pola dan hubungan spasial antara variabel yang diamati. Dalam hal ini, teknik-teknik statistika digunakan untuk mengidentifikasi dan menguji hubungan antara data dan lokasi geografisnya, seperti pola keterkaitan spasial dan autokorelasi spasial. Statistika spasial dapat digunakan untuk menganalisis berbagai data seperti data sosial ekonomi, data medis, data lingkungan, dan data geologi. Contoh penerapan statistika spasial meliputi pemetaan kepadatan penduduk, analisis keterkaitan antara faktor lingkungan dan kesehatan, dan pemetaan sebaran sumber daya alam.
Bahasa pemrograman R telah banyak dimanfaatkan sebagai alat analisis spasial karena menyediakan paket-paket komputasi seperti sf, ggplot2, dan rnaturalearth yang mampu mengolah data spasial dan menghasilkan peta informatif secara efisien (Pebesma, 2018). Melalui praktikum ini, mahasiswa mempelajari teknik dasar pemetaan data titik gempa bumi di Sumatera Barat menggunakan R, mulai dari pengolahan dataset koordinat gempa, konversi menjadi objek spasial, hingga visualisasi sebaran epicenter pada peta administrasi wilayah. Dengan kemampuan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami konsep dasar sistem informasi geografis (SIG) serta mampu menganalisis pola spasial fenomena geofisika sebagai langkah awal dalam kajian mitigasi bencana.
Input Data Gempa
data <- read.csv("lampungg.csv")
head(data)
## time latitude longitude depth mag
## 1 2025-10-21T19:02:59.795Z -4.6296 104.4980 166.646 4.7
## 2 2025-09-26T14:55:02.906Z -5.5947 104.3749 10.000 4.6
## 3 2025-08-28T02:15:41.622Z -4.6311 104.7303 193.050 4.9
## 4 2025-08-16T12:57:31.757Z -5.8878 105.1606 112.620 4.2
## 5 2024-12-03T04:22:33.605Z -5.5379 104.1572 63.795 4.3
## 6 2024-04-24T23:12:53.759Z -5.6847 104.7934 10.000 4.1
Konversi data menjadi data spasial
# konversi jadi sf
gempasf <- st_as_sf(data, coords = c("longitude", "latitude"), crs = 4326)
head(gempasf)
## Simple feature collection with 6 features and 3 fields
## Geometry type: POINT
## Dimension: XY
## Bounding box: xmin: 104.1572 ymin: -5.8878 xmax: 105.1606 ymax: -4.6296
## Geodetic CRS: WGS 84
## time depth mag geometry
## 1 2025-10-21T19:02:59.795Z 166.646 4.7 POINT (104.498 -4.6296)
## 2 2025-09-26T14:55:02.906Z 10.000 4.6 POINT (104.3749 -5.5947)
## 3 2025-08-28T02:15:41.622Z 193.050 4.9 POINT (104.7303 -4.6311)
## 4 2025-08-16T12:57:31.757Z 112.620 4.2 POINT (105.1606 -5.8878)
## 5 2024-12-03T04:22:33.605Z 63.795 4.3 POINT (104.1572 -5.5379)
## 6 2024-04-24T23:12:53.759Z 10.000 4.1 POINT (104.7934 -5.6847)
Ambil batas administrasi Indonesia dan Filter Provinsi lampung
indo <- ne_states(country = "indonesia", returnclass = "sf")
Lampung <- indo %>% filter(name == "Lampung")
Membuat Peta Sebaran gempa di lampung
ggplot() +
geom_sf(data = Lampung, fill = "grey", color = "pink4") +
geom_sf(data = gempasf, aes(size = mag, color = depth), alpha = 0.7) +
scale_color_viridis(option = "plasma", name = "Kedalaman (km)") +
scale_size_continuous(name = "Magnitudo", range = c(2, 6)) +
labs(
title = "Sebaran Gempa di Provinsi Lampung",
subtitle = "Sumber: USGS",
x = "Longitude", y = "Latitude",
caption = "Visualisasi: ggplot2 + sf"
) +
theme_minimal() +
theme(
plot.title = element_text(face = "bold", size = 14),
legend.position = "right"
)
Peta lampung dengan SHP
setwd("C:/Users/ASUS/Downloads/Lampungami")
Indo_shp<-st_read("gadm41_IDN_2.shp")
## Reading layer `gadm41_IDN_2' from data source
## `C:\Users\ASUS\Downloads\Lampungami\gadm41_IDN_2.shp' using driver `ESRI Shapefile'
## Simple feature collection with 502 features and 13 fields
## Geometry type: MULTIPOLYGON
## Dimension: XY
## Bounding box: xmin: 95.00971 ymin: -11.00761 xmax: 141.0194 ymax: 6.076941
## Geodetic CRS: WGS 84
head(Indo_shp)
## Simple feature collection with 6 features and 13 fields
## Geometry type: MULTIPOLYGON
## Dimension: XY
## Bounding box: xmin: 95.00971 ymin: 2.008107 xmax: 98.19711 ymax: 5.755888
## Geodetic CRS: WGS 84
## GID_2 GID_0 COUNTRY GID_1 NAME_1 NL_NAME_1 NAME_2 VARNAME_2
## 1 IDN.1.2_1 IDN Indonesia IDN.1_1 Aceh NA Aceh Barat NA
## 2 IDN.1.1_1 IDN Indonesia IDN.1_1 Aceh NA Aceh Barat Daya NA
## 3 IDN.1.3_1 IDN Indonesia IDN.1_1 Aceh NA Aceh Besar NA
## 4 IDN.1.4_1 IDN Indonesia IDN.1_1 Aceh NA Aceh Jaya NA
## 5 IDN.1.5_1 IDN Indonesia IDN.1_1 Aceh NA Aceh Selatan NA
## 6 IDN.1.6_1 IDN Indonesia IDN.1_1 Aceh NA Aceh Singkil NA
## NL_NAME_2 TYPE_2 ENGTYPE_2 CC_2 HASC_2 geometry
## 1 NA Kabupaten Regency 1107 ID.AC.AB MULTIPOLYGON (((96.06915 4....
## 2 NA Kabupaten Regency 1112 ID.AC.AD MULTIPOLYGON (((96.94196 3....
## 3 NA Kabupaten Regency 1108 ID.AC.AR MULTIPOLYGON (((95.78426 5....
## 4 NA Kabupaten Regency 1116 ID.AC.AJ MULTIPOLYGON (((95.87673 4....
## 5 NA Kabupaten Regency 1103 ID.AC.AS MULTIPOLYGON (((97.74693 2....
## 6 NA Kabupaten Regency 1102 ID.AC.AN MULTIPOLYGON (((97.39143 2....
Filter Provinsi lampung
Lampung_shp <- Indo_shp %>% filter(NAME_1 == "Lampung")
Lampung_shp
## Simple feature collection with 14 features and 13 fields
## Geometry type: MULTIPOLYGON
## Dimension: XY
## Bounding box: xmin: 103.5713 ymin: -6.168558 xmax: 106.2114 ymax: -3.723823
## Geodetic CRS: WGS 84
## First 10 features:
## GID_2 GID_0 COUNTRY GID_1 NAME_1 NL_NAME_1 NAME_2
## 1 IDN.17.1_1 IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung NA Bandar Lampung
## 2 IDN.17.2_1 IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung NA Lampung Barat
## 3 IDN.17.3_1 IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung NA Lampung Selatan
## 4 IDN.17.4_1 IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung NA Lampung Tengah
## 5 IDN.17.5_1 IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung NA Lampung Timur
## 6 IDN.17.6_1 IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung NA Lampung Utara
## 7 IDN.17.7_1 IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung NA Mesuji
## 8 IDN.17.8_1 IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung NA Metro
## 9 IDN.17.9_1 IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung NA Pesawaran
## 10 IDN.17.10_1 IDN Indonesia IDN.17_1 Lampung NA Pringsewu
## VARNAME_2 NL_NAME_2 TYPE_2 ENGTYPE_2 CC_2 HASC_2
## 1 NA NA Kota City 1871 ID.LA.BL
## 2 NA NA Kabupaten Regency 1801 ID.LA.LB
## 3 NA NA Kabupaten Regency 1803 ID.LA.LP
## 4 NA NA Kabupaten Regency 1805 ID.LA.LT
## 5 NA NA Kabupaten Regency 1804 ID.LA.LI
## 6 NA NA Kabupaten Regency 1806 ID.LA.LU
## 7 NA NA Kabupaten Regency 1811 ID.LA.MJ
## 8 NA NA Kota City 1872 ID.LA.ME
## 9 NA NA Kabupaten Regency 1809 ID.LA.PA
## 10 NA NA Kabupaten Regency 1810 ID.LA.PG
## geometry
## 1 MULTIPOLYGON (((105.3463 -5...
## 2 MULTIPOLYGON (((104.4196 -5...
## 3 MULTIPOLYGON (((105.7884 -5...
## 4 MULTIPOLYGON (((104.9678 -5...
## 5 MULTIPOLYGON (((105.5298 -5...
## 6 MULTIPOLYGON (((104.7822 -5...
## 7 MULTIPOLYGON (((105.6542 -4...
## 8 MULTIPOLYGON (((105.2767 -5...
## 9 MULTIPOLYGON (((105.2914 -5...
## 10 MULTIPOLYGON (((104.9424 -5...
Peta sebaran dengan shp
# Plot peta
ggplot() +
# Warna tiap kabupaten berbeda tapi legendanya disembunyikan
geom_sf(data = Lampung_shp, aes(fill = NAME_2), color = "black", size = 0.3, show.legend = FALSE) +
# Titik gempa dengan warna = kedalaman, ukuran = magnitudo
geom_sf(data = gempasf, aes(size = mag, color = depth), alpha = 0.7) +
# Skala warna dan ukuran
scale_color_viridis(option = "plasma", name = "Kedalaman (km)") +
scale_size_continuous(name = "Magnitudo", range = c(2, 6)) +
# Label dan tema
labs(
title = "Sebaran Gempa di Provinsi Lampung",
subtitle = "Sumber: USGS",
x = "Longitude", y = "Latitude",
caption = "Visualisasi: ggplot2 + sf"
) +
theme_minimal() +
theme(
plot.title = element_text(face = "bold", size = 14),
legend.position = "right"
)
Peta sebaran gempa di Provinsi Lampung berdasarkan data USGS menunjukkan bahwa aktivitas seismik di wilayah ini tersebar terutama di bagian barat dan selatan provinsi. Titik-titik gempa didominasi oleh kedalaman dangkal hingga menengah (kurang dari 150 km), ditunjukkan dengan warna biru hingga kuning, yang mengindikasikan aktivitas tektonik di zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Magnitudo gempa berkisar antara 4,1 hingga 4,9, tergolong ringan hingga sedang, dengan beberapa kejadian berpotensi lebih terasa di permukaan akibat kedalaman yang relatif dangkal. Secara keseluruhan, peta ini menggambarkan bahwa Provinsi Lampung merupakan daerah dengan aktivitas tektonik aktif yang perlu terus dimonitor untuk mitigasi risiko gempa bumi..
Interpretasi Plot 2: Peta Sebaran Gempa Sumatera Barat dengan SHP Kabupaten/KotaPeta sebaran gempa di Provinsi Lampung berdasarkan data USGS ini memperlihatkan distribusi kejadian gempa di berbagai kabupaten/kota, yang dibedakan dengan warna wilayah administratif. Titik-titik berwarna di peta menunjukkan lokasi gempa dengan variasi warna yang menggambarkan kedalaman (dari ungu untuk gempa dangkal hingga kuning untuk gempa dalam) dan ukuran lingkaran yang merepresentasikan magnitudo (4,1–4,9). Dari peta terlihat bahwa sebagian besar gempa terjadi di wilayah barat dan selatan Lampung, terutama di sekitar pesisir dan laut, yang berkaitan dengan aktivitas tektonik di zona subduksi Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Kedalaman gempa umumnya kurang dari 150 km, dengan beberapa kejadian yang cukup dangkal, sehingga berpotensi lebih terasa di permukaan. Secara keseluruhan, peta ini menunjukkan bahwa Lampung merupakan wilayah dengan aktivitas seismik yang aktif namun dengan magnitudo relatif ringan hingga sedang, sehingga tetap perlu dilakukan pemantauan berkala untuk mitigasi bencana gempa bumi.
Berdasarkan kedua peta sebaran gempa di Provinsi Lampung yang bersumber dari data USGS, dapat disimpulkan bahwa aktivitas seismik di wilayah ini tersebar di beberapa titik, terutama di bagian barat dan selatan yang berdekatan dengan zona subduksi Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Sebagian besar gempa memiliki kedalaman kurang dari 150 km, menunjukkan dominasi gempa dangkal hingga menengah yang berpotensi lebih terasa di permukaan. Magnitudo gempa berkisar antara 4,1 hingga 4,9, tergolong ringan hingga sedang, dengan beberapa kejadian tercatat di daratan maupun wilayah pesisir. Pola sebaran ini mengindikasikan bahwa Provinsi Lampung merupakan daerah dengan aktivitas tektonik aktif yang perlu terus dipantau untuk mendukung upaya mitigasi risiko dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana gempa bumi.
Pebesma, E. (2018). Simple Features for R: Standardized Support for Spatial Vector Data. The R Journal, 10(1), 439–446.
Pebesma, E.; Bivand, R. (2023). Spatial Data Science: With Applications in R (1st ed).
Modul Statistika Spasial Pertemuan 1. (2025). Visualisasi data spasial dengan R. Program Studi Statistik.
Giraud, T. (2025). R Spatial Ecosystem.
United States Geological Survey. (2025). USGS earthquake catalog. https://earthquake.usgs.gov/earthquakes/