Autokorelasi Positif adalah sebuah keadaan dalam aspek spatial statistics dimana memiliki pola tinggi-tinggi atau rendah-rendah. Dalam konteks lokasi/wilayah, autokorelasi positif terjadi ketika nilai yang mirip saling berdekatan secara lokasi, misalnya nilai tinggi berdekatan dengan nilai tinggi, begitu juga untuk nilai rendah. Sedangkan untuk autokorelasi negatif kebalikan dari autokorelasi positif, pada peristiwa ini nilai yang berlawanan berdekatan secara lokasi(nilai yang tinggi berdekatan dengan nilai yang rendah dan sebaliknya).
• Moran’s 𝐼 ## Moran’s I (Global) # Rumus Moran’s I # Rumus Moran’s I
\[ I = \frac{n}{S_0} \cdot \frac{\sum_{i=1}^{n}\sum_{j=1}^{n} w_{ij}\,(x_i - \bar{x})(x_j - \bar{x})} {\sum_{i=1}^{n}(x_i - \bar{x})^{2}} \]
dengan:
\[ C = \frac{(n-1)}{2 S_0} \cdot \frac{\sum_{i=1}^{n}\sum_{j=1}^{n} w_{ij}\,(x_i - x_j)^{2}} {\sum_{i=1}^{n}(x_i - \bar{x})^{2}} \]
dengan:
dengan:
\[ I_i = \frac{(x_i - \bar{x})}{m_2} \sum_{j=1}^{n} w_{ij} (x_j - \bar{x}) \]
dengan:
\[ G_i^* = \frac{ \sum_{j=1}^{n} w_{ij} \, x_j - \bar{X} \sum_{j=1}^{n} w_{ij} } { S \, \sqrt{ \frac{ n \sum_{j=1}^{n} w_{ij}^2 - \left( \sum_{j=1}^{n} w_{ij} \right)^2 }{n-1} } } \]
dengan:
Perbedaan utama ukuran global dan lokal pada autokorelasi spasial terletak pada cakupan wilayahnya. Ukuran global menghitung korelasi secara keseluruhan pada area studi yang memberi hasil apakah area tersebut memiliki kecenderungan berkelompok(klaster) atau tidak. Ukuran lokal akan melanjutkan pekerjaan yang sudah dilakukan di ukuran global. Ukuran lokal cakupannya unit spasial yang ada di area studi tersebut. Ketika di ukuran global memberi hasil bahwa adanya kelompok di area studi, maka ukuran lokal bekerja untuk mengetahui di unit wilayah mana saja yang memiliki autokorelasi dan pola apa yang dibentuk di wilayah tersebut
Dari peta choropleth yang terbentuk, diperoleh beberapa informasi.
1.Warna kuning terang menunjukkan angka kasus HIV per 10.000 penduduk tinggi dan warna gelap menunjukkan angka kasus HIV rendah.
2. Bagian paling utara, terdapat warna terang untuk beberapa kecamatan yang berdekatan, hal ini merupakan peristiwa autokorelasi positif dengan pola hotspot (kasus tinggi-tinggi)
3. Bagian tengah ke selatan, didominasi kecamatan yang memiliki warna gelap yang berarti mereka memiliki pola coldspot (kasus rendah-rendah)
4. Bagian paling selatan, terdapat 1 kecamatan yang bewarna pink, dikelilingi kecamatan yang berwarna ungu menuju gelap. Ini secara tak langsung sedikitnya mengindikasikan pola checkerboard.
5. Secara keseluruhan, peta choropleth yang terbentuk didominasi oleh peristiwa autokorelasi positif.
moran_res <- spdep::moran.test(Bandung_merged$rate10k, lwW,
randomisation = TRUE, alternative = "two.sided")
moran_res
##
## Moran I test under randomisation
##
## data: Bandung_merged$rate10k
## weights: lwW
##
## Moran I statistic standard deviate = 4.8496, p-value = 1.237e-06
## alternative hypothesis: two.sided
## sample estimates:
## Moran I statistic Expectation Variance
## 0.50481782 -0.03448276 0.01236637
Dari hasil yang diperoleh, nilai Moran’s I sebesar 0.505 yang berarti terjadi autokorelasi positif.
nilai p-value yang dihasilkan (0.000 < 0.05) menunjukkan bahwa uji permutasi signifikan
Dihasilkan nilai moran’s I positif yang menandakan adanya autokorelasi positif, artinya kelompok yang terbentuk berisi kecamatan yang memiliki kasus HIV tinggi cenderung berdekatan. Begitupun untuk kecamatan-kecamatan dengan angka kasus rendah saling berdekatan.
geary_res <- spdep::geary.test(Bandung_merged$rate10k, lwW,
randomisation = TRUE, alternative = "two.sided")
geary_res
##
## Geary C test under randomisation
##
## data: Bandung_merged$rate10k
## weights: lwW
##
## Geary C statistic standard deviate = 4.3461, p-value = 1.386e-05
## alternative hypothesis: two.sided
## sample estimates:
## Geary C statistic Expectation Variance
## 0.47515619 1.00000000 0.01458327
secara konsep, Moran’s I mengukur kemiripan (kovarians) antara nilai sebuah unit dan nilai tetangganya, jika nilai positif berarti unit mirip tetangganya. Sedangkan, Geary’s C mengukur perbedaan antar nilai tetangga, jika nilainya <1 berarti perbedaan kecil yang mengindikasikan mirip. Moran’s I menghasilkan nilai positif (0.505) dan Geary’s C bernilai lebih kecil dari 1 (0.475). Kedua nilai tersebut memiliki index berbeda, sehingga keduanya menunjukkan kesimpulan yang sama: terdapat autokorelasi spasial positif yang signifikan, artinya kasus penyakit cenderung berkelompok antar kecamatan.
Moran’s I lebih peka terhadap keseluruhan area (global), sedangkan Geary’s C lebih peka terhadap antarunit wilayah karena menghitung perbedaan nilai antar tetangganya. Oleh karena itu, Moran’s I lebih baik dalam mendeteksi clustering global, sedangkan Geary’s C lebih baik dalam mengungkap variasi lokal atau outlier.
x <- scale(Bandung_merged$rate10k)[,1]
lagx <- spdep::lag.listw(lwW, x)
lisa <- spdep::localmoran(x, lwW, alternative = "two.sided", zero.policy = TRUE)
lisa_df <- as.data.frame(lisa)
names(lisa_df) <- c("Ii","Ei","Vi","Zi","Pi.two.sided")
alpha <- 0.05
quad <- dplyr::case_when(
x >= 0 & lagx >= 0 ~ "High-High",
x < 0 & lagx < 0 ~ "Low-Low",
x >= 0 & lagx < 0 ~ "High-Low (Outlier)",
x < 0 & lagx >= 0 ~ "Low-High (Outlier)"
)
Bandung_LISA <- dplyr::bind_cols(Bandung_merged, lisa_df) |>
dplyr::mutate(quad = ifelse(Pi.two.sided <= alpha, quad, "Not significant"))
• Buat peta cluster LISA.
Pada peta LISA yang dihasilkan, diperoleh informasi bahwa kecamatan bagian paling utara yang dilabeli warna ungu menunjukkan kategori high-high yang artinya memberikan pola hotspot. Ini mengindikasikan kecamatan-kecamatan dengan kasus HIV tinggi berdekatan.
## Kecamatan GiZScore Kategori
## 1 1 -0.9652495 Tidak signifikan
## 2 2 -0.8764372 Tidak signifikan
## 3 3 -1.2615644 Tidak signifikan
## 4 4 -0.3828388 Tidak signifikan
## 5 5 0.2100084 Tidak signifikan
## 6 6 -0.1294383 Tidak signifikan
## 7 7 -0.7840207 Tidak signifikan
## 8 8 0.9236922 Tidak signifikan
## 9 9 -1.7571482 Tidak signifikan
## 10 10 0.1007669 Tidak signifikan
## 11 11 -0.6561051 Tidak signifikan
## 12 12 -1.1218466 Tidak signifikan
## 13 13 0.7480411 Tidak signifikan
## 14 14 -1.0163665 Tidak signifikan
## 15 15 -1.1412038 Tidak signifikan
## 16 16 0.8615224 Tidak signifikan
## 17 17 4.1541166 Hot Spot
## 18 18 -1.6417306 Tidak signifikan
## 19 19 2.0935342 Hot Spot
## 20 20 -1.0625636 Tidak signifikan
## 21 21 -1.0961745 Tidak signifikan
## 22 22 -1.1219404 Tidak signifikan
## 23 23 -1.6444391 Tidak signifikan
## 24 24 -1.1487835 Tidak signifikan
## 25 25 -0.9030437 Tidak signifikan
## 26 26 -1.4022475 Tidak signifikan
## 27 27 3.4744630 Hot Spot
## 28 28 2.7630328 Hot Spot
## 29 29 -1.3117707 Tidak signifikan
## 30 30 -0.9638121 Tidak signifikan
Hasil peta Getis-Ord hanya menunjukkan wilayah berlabel maroon yang mengindikasikan wilayah tersebut memiliki pola hotspot. Kecamatan tersebut berada di bagian paling utara kota Bandung.
Peta LISA melihat hubungan dengan tetangganya, mengetahui hubungannya tinggi-tinggi dan rendah-rendah atau outlier yang hubungannya tinggi-rendah dan rendah-tinggi. Sedangkan pada peta Getis-Ord menunjukkan kumpulan wilayah hotspot atau coldspot yang signifikan dan tidak mendeteksi adanya outlier.
Iya. Pada Peta LISA menunjukkan wilayah kasus tinggi yang dikelilingi dengan wilayah yang yang berkasus tinggi juga, dan bisa mendeteksi outlier (kasus tinggi dikelilingi kasus rendah, dan sebaliknya), namun pada kasus ini tidak ada. Peta Getis-Ord menunjukkan hasil yang sama, tetapi peta Getis-Ord mengindikasikan adanya kumpulan wilayah dengan kasus tinggi yang signifikan.
Analisis autokorelasi spasial memiliki keterbatasan:
1. MAUP : Hasil analisis spasial dapat berubah ketika kita merubah pembagian atau pengelompokkan wilayah (unit spasial).
2. Ukuran Bobot Spasial : definisi “tetangga” (spatial weights) yang dipakai (Rook, Queen, kNN) akan mempengaruhi hasil.
3. Masalah multiple testing pada analisis lokal : kita menguji setiap unit wilayah satu per satu. Kasus in rentan pada masalah multiple testing, sehingga perlu koreksi atau interpretasi hati-hati