lama <- c(50, 55, 48, 60, 52, 58, 45, 53, 56, 59)
baru <- c(48, 50, 47, 55, 53, 54, 40, 52, 56, 56)
selisih <- lama - baru
n <- length(selisih)
rata2_selisih <- mean(selisih)
sd_selisih <- sd(selisih)
t_hit <- rata2_selisih / (sd_selisih / sqrt(n))
alpha <- 0.05
t_tabel <- qt(1 - alpha/2, df = n - 1)
hasil_uji <- t.test(lama, baru, paired = TRUE, alternative = "two.sided", conf.level = 0.95)
cat("============================\n")
## ============================
cat(" Hasil Uji & Interpretasi\n")
## Hasil Uji & Interpretasi
cat("============================\n\n")
## ============================
cat("Hipotesis:\n")
## Hipotesis:
cat("H0 : μd = 0 (tidak ada perbedaan konsumsi energi)\n")
## H0 : μd = 0 (tidak ada perbedaan konsumsi energi)
cat("H1 : μd ≠ 0 (ada perbedaan konsumsi energi)\n\n")
## H1 : μd ≠ 0 (ada perbedaan konsumsi energi)
cat("Statistik Deskriptif:\n")
## Statistik Deskriptif:
cat(sprintf("Banyak data (n) = %d\n", n))
## Banyak data (n) = 10
cat(sprintf("Rata-rata selisih (d̄) = %.4f\n", rata2_selisih))
## Rata-rata selisih (d̄) = 2.5000
cat(sprintf("Simpangan baku selisih (sd) = %.4f\n", sd_selisih))
## Simpangan baku selisih (sd) = 2.2236
cat("\nStatistik Uji:\n")
##
## Statistik Uji:
cat(sprintf("t hitung = %.4f\n", t_hit))
## t hitung = 3.5553
cat(sprintf("t tabel (α = 0.05, df = %d) = ±%.4f\n", n - 1, t_tabel))
## t tabel (α = 0.05, df = 9) = ±2.2622
cat("\nHasil Fungsi t.test():\n")
##
## Hasil Fungsi t.test():
cat(sprintf("p-value = %.4f\n", hasil_uji$p.value))
## p-value = 0.0062
cat("\nKeputusan:\n")
##
## Keputusan:
if (abs(t_hit) > t_tabel) {
cat("Karena |t hitung| > t tabel, maka H0 ditolak.\n")
} else {
cat("Karena |t hitung| ≤ t tabel, maka H0 gagal ditolak.\n")
}
## Karena |t hitung| > t tabel, maka H0 ditolak.
cat("\nKesimpulan:\n")
##
## Kesimpulan:
if (hasil_uji$p.value < alpha) {
cat("Terdapat perbedaan signifikan konsumsi energi antara sebelum dan sesudah menggunakan pelumas.\n")
} else {
cat("Tidak terdapat perbedaan signifikan konsumsi energi antara sebelum dan sesudah menggunakan pelumas.\n")
}
## Terdapat perbedaan signifikan konsumsi energi antara sebelum dan sesudah menggunakan pelumas.
Tujuan:
Menguji apakah ada perbedaan konsumsi energi rata-rata sebelum dan
sesudah menggunakan pelumas baru SynthoLube 9000.
Data:
Konsumsi Energi - Pelumas Lama (kWh/ton):
50, 55, 48, 60, 52, 58, 45, 53, 56, 59
Konsumsi Energi - Pelumas Baru (kWh/ton):
48, 50, 47, 55, 53, 54, 40, 52, 56, 56
Selisih (d = Lama − Baru):
2, 5, 1, 5, -1, 4, 5, 1, 0, 3
Hipotesis:
H₀ : μd = 0 (tidak ada perbedaan konsumsi energi)
H₁ : μd ≠ 0 (ada perbedaan konsumsi energi)
Langkah-langkah Perhitungan:
Banyak data (n) = 10
Rata-rata selisih (𝑑̄):
𝑑̄ = (2 + 5 + 1 + 5 - 1 + 4 + 5 + 1 + 0 + 3) / 10 = 25 / 10 = 2.5Simpangan baku selisih (s):
s² = Σ(d - 𝑑̄)² / (n - 1)
= 44.5 / 9
= 4.9444
s = √4.9444 = 2.2236Statistik uji (t hitung):
t = 𝑑̄ / (s / √n)
= 2.5 / (2.2236 / √10)
= 2.5 / 0.7031
= **3.5553**Nilai kritis (t tabel):
t tabel (α = 0.05, df = 9, dua arah) = ±2.2622Keputusan:
Karena |t hitung| = 3.5553 > t tabel = 2.2622 → H₀
ditolak
Kesimpulan:
Terdapat perbedaan signifikan konsumsi energi antara
sebelum dan sesudah menggunakan pelumas baru. SynthoLube 9000 terbukti
memberikan pengaruh nyata terhadap konsumsi energi
mesin tempa.
biosubur <- c(4.0, 5.5, 4.2, 5.3, 4.5, 5.0, 4.6, 5.1)
nutriprima <- c(5.2, 4.5, 5.5, 4.8, 5.0, 5.3, 4.6, 5.4, 4.7, 5.0)
n1 <- length(biosubur)
n2 <- length(nutriprima)
rata1 <- mean(biosubur)
rata2 <- mean(nutriprima)
var1 <- var(biosubur)
var2 <- var(nutriprima)
sd1 <- sd(biosubur)
sd2 <- sd(nutriprima)
t_hit <- (rata1 - rata2) / sqrt((var1/n1) + (var2/n2))
df <- ((var1/n1 + var2/n2)^2) / (((var1/n1)^2)/(n1-1) + ((var2/n2)^2)/(n2-1))
alpha <- 0.10
t_tabel <- qt(alpha, df = floor(df))
hasil <- t.test(biosubur, nutriprima, alternative = "less", var.equal = FALSE, conf.level = 0.90)
cat("============================\n")
## ============================
cat(" Hasil Uji & Interpretasi\n")
## Hasil Uji & Interpretasi
cat("============================\n\n")
## ============================
cat("Hipotesis:\n")
## Hipotesis:
cat("H0 : μ1 ≥ μ2 (BioSubur tidak lebih rendah dari NutriPrima)\n")
## H0 : μ1 ≥ μ2 (BioSubur tidak lebih rendah dari NutriPrima)
cat("H1 : μ1 < μ2 (BioSubur lebih rendah dari NutriPrima)\n\n")
## H1 : μ1 < μ2 (BioSubur lebih rendah dari NutriPrima)
cat("Statistik Deskriptif:\n")
## Statistik Deskriptif:
cat(sprintf("n1 (BioSubur) = %d\n", n1))
## n1 (BioSubur) = 8
cat(sprintf("n2 (NutriPrima) = %d\n", n2))
## n2 (NutriPrima) = 10
cat(sprintf("Rata-rata BioSubur = %.4f\n", rata1))
## Rata-rata BioSubur = 4.7750
cat(sprintf("Rata-rata NutriPrima = %.4f\n", rata2))
## Rata-rata NutriPrima = 5.0000
cat(sprintf("Simpangan baku BioSubur = %.4f\n", sd1))
## Simpangan baku BioSubur = 0.5339
cat(sprintf("Simpangan baku NutriPrima = %.4f\n", sd2))
## Simpangan baku NutriPrima = 0.3464
cat("\nStatistik Uji:\n")
##
## Statistik Uji:
cat(sprintf("t hitung = %.4f\n", t_hit))
## t hitung = -1.0310
cat(sprintf("t tabel (α = 0.10, df ≈ %d) = %.4f\n", floor(df), t_tabel))
## t tabel (α = 0.10, df ≈ 11) = -1.3634
cat("\nHasil dari fungsi t.test():\n")
##
## Hasil dari fungsi t.test():
cat(sprintf("p-value = %.4f\n", hasil$p.value))
## p-value = 0.1619
cat("\nKeputusan:\n")
##
## Keputusan:
if (t_hit < t_tabel) {
cat("Karena t hitung < t tabel, maka H0 ditolak.\n")
} else {
cat("Karena t hitung ≥ t tabel, maka H0 gagal ditolak.\n")
}
## Karena t hitung ≥ t tabel, maka H0 gagal ditolak.
cat("\nKesimpulan:\n")
##
## Kesimpulan:
if (hasil$p.value < alpha) {
cat("Terdapat bukti bahwa rata-rata hasil panen BioSubur lebih rendah dari NutriPrima.\n")
} else {
cat("Tidak terdapat bukti yang cukup bahwa rata-rata hasil panen BioSubur lebih rendah dari NutriPrima.\n")
}
## Tidak terdapat bukti yang cukup bahwa rata-rata hasil panen BioSubur lebih rendah dari NutriPrima.
Tujuan:
Menguji apakah rata-rata hasil panen dengan pupuk BioSubur lebih
rendah daripada pupuk NutriPrima.
Data:
Hipotesis:
H₀ : μ₁ ≥ μ₂ (rata-rata hasil panen BioSubur tidak lebih rendah dari NutriPrima)
H₁ : μ₁ < μ₂ (rata-rata hasil panen BioSubur lebih rendah dari NutriPrima)
Langkah-langkah Perhitungan:
Hitung rata-rata dan simpangan baku:
BioSubur:
x̄₁ = 4.775
s₁ = 0.5042
NutriPrima:
x̄₂ = 5.000
s₂ = 0.3227Statistik uji (Welch’s t):
t = (x̄₁ − x̄₂) / √(s₁²/n₁ + s₂²/n₂)
= (4.775 − 5.000) / √(0.2542/8 + 0.1041/10)
= -0.225 / √(0.031775 + 0.01041)
= -0.225 / √0.042185
= -0.225 / 0.2054
= **-1.0958**Derajat bebas (Welch-Satterthwaite approximation):
df = (0.042185)² /
[ (0.031775)² / 7 + (0.01041)² / 9 ]
≈ 13.94 → dibulatkan ke 13Nilai kritis (t tabel):
t tabel (α = 0.10, df = 13, satu arah kiri) = **−1.3502**Keputusan:
t hitung = −1.0958 > t tabel = −1.3502 → H₀ gagal
ditolak
Kesimpulan:
Tidak terdapat bukti statistik yang cukup bahwa rata-rata hasil panen
BioSubur lebih rendah dari NutriPrima pada taraf signifikansi 10%. Maka,
tidak dapat disimpulkan adanya perbedaan nyata antar
kedua jenis pupuk berdasarkan data yang ada.
x_bar <- 84
mu0 <- 80
s <- 9
n <- 9
t_hit <- (x_bar - mu0) / (s / sqrt(n))
t_tabel <- qt(0.95, df = n - 1)
cat("============================\n")
## ============================
cat(" Hasil Uji & Interpretasi\n")
## Hasil Uji & Interpretasi
cat("============================\n\n")
## ============================
cat("Hipotesis:\n")
## Hipotesis:
cat("H0 : μ ≤ 80 (rata-rata tidak melebihi batas)\n")
## H0 : μ ≤ 80 (rata-rata tidak melebihi batas)
cat("H1 : μ > 80 (rata-rata melebihi batas)\n\n")
## H1 : μ > 80 (rata-rata melebihi batas)
cat("Diketahui:\n")
## Diketahui:
cat(sprintf("Rata-rata sampel (x̄) = %.2f\n", x_bar))
## Rata-rata sampel (x̄) = 84.00
cat(sprintf("Rata-rata hipotesis (μ₀) = %.2f\n", mu0))
## Rata-rata hipotesis (μ₀) = 80.00
cat(sprintf("Simpangan baku (s) = %.2f\n", s))
## Simpangan baku (s) = 9.00
cat(sprintf("Jumlah data (n) = %d\n", n))
## Jumlah data (n) = 9
cat("\nStatistik Uji:\n")
##
## Statistik Uji:
cat(sprintf("t hitung = %.4f\n", t_hit))
## t hitung = 1.3333
cat(sprintf("t tabel (α = 0.05) = %.4f\n", t_tabel))
## t tabel (α = 0.05) = 1.8595
cat("\nKeputusan:\n")
##
## Keputusan:
if (t_hit > t_tabel) {
cat("Karena t hitung > t tabel, maka H0 ditolak.\n")
} else {
cat("Karena t hitung ≤ t tabel, maka H0 gagal ditolak.\n")
}
## Karena t hitung ≤ t tabel, maka H0 gagal ditolak.
cat("\nKesimpulan:\n")
##
## Kesimpulan:
if (t_hit > t_tabel) {
cat("Terdapat bukti bahwa rata-rata kadar COD melebihi batas maksimum 80 mg/L.\n")
} else {
cat("Tidak terdapat bukti bahwa rata-rata kadar COD melebihi batas maksimum 80 mg/L.\n")
}
## Tidak terdapat bukti bahwa rata-rata kadar COD melebihi batas maksimum 80 mg/L.
Tujuan:
Menguji apakah kadar COD air limbah PT. Tirta Jernih melebihi
batas rata-rata 80 mg/L.
Data: - Rata-rata sampel (x̄) = 84
- Nilai ambang batas (μ₀) = 80
- Simpangan baku sampel (s) = 9
- Jumlah sampel (n) = 9
- Tingkat signifikansi (α) = 0.05
Hipotesis:
H₀ : μ ≤ 80 (kadar COD tidak melebihi ambang batas)
H₁ : μ > 80 (kadar COD melebihi ambang batas)
Langkah-langkah Perhitungan:
Hitung statistik uji (t hitung):
t = (x̄ − μ₀) / (s / √n)
= (84 − 80) / (9 / √9)
= 4 / (9 / 3)
= 4 / 3
= **1.3333**Derajat bebas:
df = n − 1 = 8Nilai kritis t (t tabel satu arah kanan):
t tabel (α = 0.05, df = 8) = **1.8595**Keputusan:
Karena t hitung = 1.3333 < t tabel = 1.8595, maka
H₀ gagal ditolak.
Kesimpulan:
Berdasarkan hasil uji statistik, tidak terdapat bukti yang
cukup bahwa kadar COD rata-rata melebihi ambang batas 80 mg/L.
Maka, tidak dapat diberi sanksi atau dianggap melanggar
secara statistik oleh BLHD.
skor <- c(35, 40, 48, 55, 60, 65, 70, 75, 82, 88, 95, 100)
n <- length(skor)
s2 <- var(skor)
sigma2_0 <- 150
chi2_hit <- (n - 1) * s2 / sigma2_0
alpha <- 0.10
chi2_tabel <- qchisq(1 - alpha, df = n - 1)
cat("============================\n")
## ============================
cat(" Hasil Uji & Interpretasi\n")
## Hasil Uji & Interpretasi
cat("============================\n\n")
## ============================
cat("Hipotesis:\n")
## Hipotesis:
cat("H0 : σ² ≤ 150 (ragam sikap masyarakat tidak meningkat)\n")
## H0 : σ² ≤ 150 (ragam sikap masyarakat tidak meningkat)
cat("H1 : σ² > 150 (ragam sikap meningkat)\n\n")
## H1 : σ² > 150 (ragam sikap meningkat)
cat("Statistik Deskriptif:\n")
## Statistik Deskriptif:
cat(sprintf("Jumlah data (n) = %d\n", n))
## Jumlah data (n) = 12
cat(sprintf("Ragam sampel (s²) = %.4f\n", s2))
## Ragam sampel (s²) = 446.9318
cat("\nStatistik Uji:\n")
##
## Statistik Uji:
cat(sprintf("Chi-square hitung = %.4f\n", chi2_hit))
## Chi-square hitung = 32.7750
cat(sprintf("Chi-square tabel (α = 0.10, df = %d) = %.4f\n", n - 1, chi2_tabel))
## Chi-square tabel (α = 0.10, df = 11) = 17.2750
cat("\nKeputusan:\n")
##
## Keputusan:
if (chi2_hit > chi2_tabel) {
cat("Karena Chi-square hitung > Chi-square tabel, maka H0 ditolak.\n")
} else {
cat("Karena Chi-square hitung ≤ Chi-square tabel, maka H0 gagal ditolak.\n")
}
## Karena Chi-square hitung > Chi-square tabel, maka H0 ditolak.
cat("\nKesimpulan:\n")
##
## Kesimpulan:
if (chi2_hit > chi2_tabel) {
cat("Terdapat bukti bahwa keragaman sikap masyarakat terhadap kebijakan AI lebih tinggi dari biasanya.\n")
} else {
cat("Tidak terdapat bukti yang cukup bahwa keragaman sikap masyarakat terhadap kebijakan AI meningkat.\n")
}
## Terdapat bukti bahwa keragaman sikap masyarakat terhadap kebijakan AI lebih tinggi dari biasanya.
Tujuan:
Menguji apakah ragam skor sikap masyarakat terhadap kebijakan AI lebih
besar dari 150.
Data:
Skor Sikap Responden (n = 12):
35, 40, 48, 55, 60, 65, 70, 75, 82, 88, 95, 100
Ragam historis: σ₀² = 150
Taraf signifikansi: α = 0.10
Hipotesis:
H₀: σ² ≤ 150 (ragam tidak meningkat)
H₁: σ² > 150 (ragam meningkat)
Langkah-langkah Perhitungan:
Hitung rata-rata:
x̄ = (35 + 40 + ... + 100) / 12 = 70.25Hitung ragam sampel (s²):
s² = Σ(xᵢ − x̄)² / (n − 1)
= 2093.0 / 11
= **190.27**Statistik uji:
χ² = (n − 1) * s² / σ₀²
= (12 − 1) * 190.27 / 150
= 11 * 190.27 / 150
= 2092.97 / 150
= **32.775**Nilai kritis (chi-square tabel):
df = n − 1 = 11
χ² tabel (α = 0.10, df = 11) = **17.2750**Keputusan:
χ² hitung = 32.77 < χ² tabel = 17.2750 → H₀ gagal
ditolak
Kesimpulan:
Tidak terdapat bukti statistik yang cukup untuk menyimpulkan bahwa ragam
sikap masyarakat terhadap kebijakan AI lebih besar dari 150. Variasi
yang terjadi kemungkinan masih dalam batas wajar berdasarkan
variabilitas historis.
n <- 36
x_bar <- 41.2
mu0 <- 40
sigma <- 3
alpha <- 0.05
z_hit <- (x_bar - mu0) / (sigma / sqrt(n))
z_tabel <- qnorm(1 - alpha/2)
p_value <- 2 * pnorm(abs(z_hit), lower.tail = FALSE)
cat("============================\n")
## ============================
cat(" Hasil Uji & Interpretasi\n")
## Hasil Uji & Interpretasi
cat("============================\n\n")
## ============================
cat("Hipotesis:\n")
## Hipotesis:
cat("H0 : μ = 40 (tidak ada perubahan rata-rata kekuatan beton)\n")
## H0 : μ = 40 (tidak ada perubahan rata-rata kekuatan beton)
cat("H1 : μ ≠ 40 (ada perubahan rata-rata kekuatan beton)\n\n")
## H1 : μ ≠ 40 (ada perubahan rata-rata kekuatan beton)
cat("Statistik Diketahui:\n")
## Statistik Diketahui:
cat(sprintf("Rata-rata sampel (x̄) = %.2f\n", x_bar))
## Rata-rata sampel (x̄) = 41.20
cat(sprintf("Rata-rata hipotesis (μ₀) = %.2f\n", mu0))
## Rata-rata hipotesis (μ₀) = 40.00
cat(sprintf("Simpangan baku (σ) = %.2f\n", sigma))
## Simpangan baku (σ) = 3.00
cat(sprintf("Jumlah data (n) = %d\n", n))
## Jumlah data (n) = 36
cat("\nStatistik Uji:\n")
##
## Statistik Uji:
cat(sprintf("Z hitung = %.4f\n", z_hit))
## Z hitung = 2.4000
cat(sprintf("Z tabel (α = 0.05) = ±%.4f\n", z_tabel))
## Z tabel (α = 0.05) = ±1.9600
cat(sprintf("p-value = %.4f\n", p_value))
## p-value = 0.0164
cat("\nKeputusan:\n")
##
## Keputusan:
if (abs(z_hit) > z_tabel) {
cat("Karena |Z hitung| > Z tabel, maka H0 ditolak.\n")
} else {
cat("Karena |Z hitung| ≤ Z tabel, maka H0 gagal ditolak.\n")
}
## Karena |Z hitung| > Z tabel, maka H0 ditolak.
cat("\nKesimpulan:\n")
##
## Kesimpulan:
if (p_value < alpha) {
cat("Terdapat bukti bahwa aditif polimer mengubah rata-rata kekuatan beton secara signifikan.\n")
} else {
cat("Tidak terdapat bukti yang cukup bahwa aditif polimer mengubah rata-rata kekuatan beton.\n")
}
## Terdapat bukti bahwa aditif polimer mengubah rata-rata kekuatan beton secara signifikan.
Tujuan:
Menguji apakah aditif polimer baru menyebabkan perubahan yang signifikan
pada rata-rata kekuatan tekan beton dari standar 40 MPa.
Diketahui:
n = 36 (jumlah sampel)
x̄ = 41.2 MPa (rata-rata kekuatan tekan)
σ = 3 MPa (simpangan baku populasi diketahui)
μ₀ = 40 MPa (standar kekuatan tekan)
α = 0.05
Uji dua arah
Hipotesis:
H₀: μ = 40
H₁: μ ≠ 40Langkah-langkah Perhitungan:
Hitung statistik uji Z:
Z = (x̄ − μ₀) / (σ / √n)
= (41.2 − 40) / (3 / √36)
= 1.2 / (3 / 6)
= 1.2 / 0.5
= **2.4**Nilai kritis Z (dua arah):
Z tabel (α = 0.05) = ±1.96Keputusan:
|Z hitung| = 2.4 > Z tabel = 1.96 → H₀ ditolak
Kesimpulan:
Terdapat bukti statistik yang cukup untuk menyimpulkan bahwa
aditif polimer menyebabkan perubahan signifikan pada kekuatan
tekan beton. Maka, Budi dapat melaporkan bahwa perbedaan 1.2
MPa bukanlah hasil dari variasi acak semata.
x <- 87
n <- 300
p0 <- 0.35
p_hat <- x / n
alpha <- 0.10
z_hit <- (p_hat - p0) / sqrt(p0 * (1 - p0) / n)
z_tabel <- qnorm(alpha)
p_value <- pnorm(z_hit)
cat("============================\n")
## ============================
cat(" Hasil Uji & Interpretasi\n")
## Hasil Uji & Interpretasi
cat("============================\n\n")
## ============================
cat("Hipotesis:\n")
## Hipotesis:
cat("H0 : p ≥ 0.35 (proporsi tidak menurun)\n")
## H0 : p ≥ 0.35 (proporsi tidak menurun)
cat("H1 : p < 0.35 (proporsi menurun)\n\n")
## H1 : p < 0.35 (proporsi menurun)
cat("Statistik Deskriptif:\n")
## Statistik Deskriptif:
cat(sprintf("Jumlah responden (n) = %d\n", n))
## Jumlah responden (n) = 300
cat(sprintf("Jumlah menyebar hoaks (x) = %d\n", x))
## Jumlah menyebar hoaks (x) = 87
cat(sprintf("Proporsi sampel (p̂) = %.4f\n", p_hat))
## Proporsi sampel (p̂) = 0.2900
cat("\nStatistik Uji:\n")
##
## Statistik Uji:
cat(sprintf("Z hitung = %.4f\n", z_hit))
## Z hitung = -2.1788
cat(sprintf("Z tabel (α = 0.10) = %.4f\n", z_tabel))
## Z tabel (α = 0.10) = -1.2816
cat(sprintf("p-value = %.4f\n", p_value))
## p-value = 0.0147
cat("\nKeputusan:\n")
##
## Keputusan:
if (z_hit < z_tabel) {
cat("Karena Z hitung < Z tabel, maka H0 ditolak.\n")
} else {
cat("Karena Z hitung ≥ Z tabel, maka H0 gagal ditolak.\n")
}
## Karena Z hitung < Z tabel, maka H0 ditolak.
cat("\nKesimpulan:\n")
##
## Kesimpulan:
if (p_value < alpha) {
cat("Terdapat bukti signifikan bahwa kampanye menurunkan proporsi penyebaran hoaks.\n")
} else {
cat("Tidak terdapat bukti yang cukup bahwa kampanye menurunkan proporsi penyebaran hoaks.\n")
}
## Terdapat bukti signifikan bahwa kampanye menurunkan proporsi penyebaran hoaks.
Tujuan:
Menguji apakah proporsi warga yang pernah menyebarkan hoaks setelah
kampanye lebih rendah dari baseline 35%.
Diketahui:
n = 300 (jumlah responden)
x = 87 (jumlah warga yang mengaku menyebarkan hoaks)
p̂ = 87 / 300 = 0.29
p₀ = 0.35 (proporsi benchmark)
α = 0.10
Hipotesis:
H₀: p ≥ 0.35
H₁: p < 0.35Langkah-langkah Perhitungan:
Hitung statistik uji Z:
Z = (p̂ − p₀) / √[p₀(1 − p₀)/n]
= (0.29 − 0.35) / √[0.35 × 0.65 / 300]
= (−0.06) / √(0.2275 / 300)
= (−0.06) / √0.0007583
= (−0.06) / 0.02754
= **−2.1783**Nilai kritis Z (satu arah kiri):
Z tabel (α = 0.10) = **−1.2816**Keputusan:
Z hitung = −2.1783 < Z tabel = −1.2816 → H₀
ditolak
Kesimpulan:
Terdapat bukti statistik yang cukup bahwa proporsi
warga yang menyebarkan hoaks setelah kampanye lebih rendah dari 35%. Ini
menunjukkan bahwa kampanye “Bijak Bersuara” efektif menurunkan
penyebaran hoaks secara tidak sengaja.
alfa <- c(75.01, 74.98, 75.03, 74.95, 75.00,
75.05, 74.97, 75.02, 74.99, 75.04)
beta <- c(75.05, 74.96, 75.08, 74.94, 75.02, 75.09,
74.95, 75.06, 74.97, 75.10, 75.03, 74.99)
x1_bar <- mean(alfa)
x2_bar <- mean(beta)
n1 <- length(alfa)
n2 <- length(beta)
sigma1 <- sqrt(0.0025)
sigma2 <- sqrt(0.0036)
selisih_rata <- x1_bar - x2_bar
se <- sqrt((sigma1^2 / n1) + (sigma2^2 / n2))
z_hit <- selisih_rata / se
alpha <- 0.05
z_tabel <- qnorm(1 - alpha/2)
p_value <- 2 * pnorm(abs(z_hit), lower.tail = FALSE)
cat("============================\n")
## ============================
cat(" Hasil Uji & Interpretasi\n")
## Hasil Uji & Interpretasi
cat("============================\n\n")
## ============================
cat("Hipotesis:\n")
## Hipotesis:
cat("H0 : μ1 = μ2 (tidak ada perbedaan diameter rata-rata)\n")
## H0 : μ1 = μ2 (tidak ada perbedaan diameter rata-rata)
cat("H1 : μ1 ≠ μ2 (ada perbedaan diameter rata-rata)\n\n")
## H1 : μ1 ≠ μ2 (ada perbedaan diameter rata-rata)
cat("Statistik Deskriptif:\n")
## Statistik Deskriptif:
cat(sprintf("Rata-rata Lini Alfa = %.4f\n", x1_bar))
## Rata-rata Lini Alfa = 75.0040
cat(sprintf("Rata-rata Lini Beta = %.4f\n", x2_bar))
## Rata-rata Lini Beta = 75.0200
cat(sprintf("σ Lini Alfa (populasi) = %.4f\n", sigma1))
## σ Lini Alfa (populasi) = 0.0500
cat(sprintf("σ Lini Beta (populasi) = %.4f\n", sigma2))
## σ Lini Beta (populasi) = 0.0600
cat(sprintf("n Alfa = %d, n Beta = %d\n", n1, n2))
## n Alfa = 10, n Beta = 12
cat("\nStatistik Uji:\n")
##
## Statistik Uji:
cat(sprintf("Z hitung = %.4f\n", z_hit))
## Z hitung = -0.6822
cat(sprintf("Z tabel (α = 0.05) = ±%.4f\n", z_tabel))
## Z tabel (α = 0.05) = ±1.9600
cat(sprintf("p-value = %.4f\n", p_value))
## p-value = 0.4951
cat("\nKeputusan:\n")
##
## Keputusan:
if (abs(z_hit) > z_tabel) {
cat("Karena |Z hitung| > Z tabel, maka H0 ditolak.\n")
} else {
cat("Karena |Z hitung| ≤ Z tabel, maka H0 gagal ditolak.\n")
}
## Karena |Z hitung| ≤ Z tabel, maka H0 gagal ditolak.
cat("\nKesimpulan:\n")
##
## Kesimpulan:
if (p_value < alpha) {
cat("Terdapat perbedaan signifikan rata-rata diameter bearing antara Lini Alfa dan Beta.\n")
} else {
cat("Tidak terdapat bukti perbedaan signifikan rata-rata diameter bearing antara Lini Alfa dan Beta.\n")
}
## Tidak terdapat bukti perbedaan signifikan rata-rata diameter bearing antara Lini Alfa dan Beta.
Tujuan:
Menguji apakah terdapat perbedaan signifikan rata-rata diameter luar
bearing antara Lini Alfa dan Lini Beta.
Diketahui:
Data Lini Alfa (n₁ = 10):
75.01, 74.98, 75.03, 74.95, 75.00, 75.05, 74.97, 75.02, 74.99,
75.04
Data Lini Beta (n₂ = 12):
75.05, 74.96, 75.08, 74.94, 75.02, 75.09, 74.95, 75.06, 74.97, 75.10,
75.03, 74.99
σ₁² = 0.0025 ⇒ σ₁ = 0.05
σ₂² = 0.0036 ⇒ σ₂ = 0.06
α = 0.05
Hipotesis:
H₀: μ₁ = μ₂
H₁: μ₁ ≠ μ₂Langkah-langkah Perhitungan:
Hitung rata-rata sampel:
x̄₁ (Alfa) = 75.004
x̄₂ (Beta) = 75.0133Hitung statistik uji Z:
Z = (x̄₁ − x̄₂) / √[(σ₁²/n₁) + (σ₂²/n₂)]
= (75.004 − 75.0133) / √[(0.0025/10) + (0.0036/12)]
= (−0.0093) / √(0.00025 + 0.0003)
= (−0.0093) / √0.00055
= (−0.0093) / 0.02345
= **−0.3966**Nilai kritis:
Z tabel (α = 0.05, dua arah) = ±1.96Keputusan:
|Z hitung| = 0.3966 < Z tabel = 1.96 → H₀ gagal
ditolak
Kesimpulan:
Tidak terdapat bukti statistik yang cukup untuk menyatakan bahwa
terdapat perbedaan rata-rata diameter luar bearing antara Lini Alfa dan
Lini Beta. Perbedaan yang tampak kemungkinan besar disebabkan oleh
variasi acak.
x1 <- 48
n1 <- 400
x2 <- 45
n2 <- 500
p1 <- x1 / n1
p2 <- x2 / n2
p_pooled <- (x1 + x2) / (n1 + n2)
alpha <- 0.01
z_hit <- (p1 - p2) / sqrt(p_pooled * (1 - p_pooled) * (1/n1 + 1/n2))
z_tabel <- qnorm(1 - alpha)
p_value <- pnorm(z_hit, lower.tail = FALSE)
cat("============================\n")
## ============================
cat(" Hasil Uji & Interpretasi\n")
## Hasil Uji & Interpretasi
cat("============================\n\n")
## ============================
cat("Hipotesis:\n")
## Hipotesis:
cat("H0 : p1 ≤ p2 (Tenso понижена tidak lebih buruk dari Normopress)\n")
## H0 : p1 ≤ p2 (Tenso понижена tidak lebih buruk dari Normopress)
cat("H1 : p1 > p2 (Tenso понижена lebih buruk dalam hal batuk kering)\n\n")
## H1 : p1 > p2 (Tenso понижена lebih buruk dalam hal batuk kering)
cat("Statistik Deskriptif:\n")
## Statistik Deskriptif:
cat(sprintf("Proporsi Tenso понижена = %.4f (%d dari %d)\n", p1, x1, n1))
## Proporsi Tenso понижена = 0.1200 (48 dari 400)
cat(sprintf("Proporsi Normopress = %.4f (%d dari %d)\n", p2, x2, n2))
## Proporsi Normopress = 0.0900 (45 dari 500)
cat(sprintf("Proporsi gabungan (p̂) = %.4f\n", p_pooled))
## Proporsi gabungan (p̂) = 0.1033
cat("\nStatistik Uji:\n")
##
## Statistik Uji:
cat(sprintf("Z hitung = %.4f\n", z_hit))
## Z hitung = 1.4692
cat(sprintf("Z tabel (α = 0.01) = %.4f\n", z_tabel))
## Z tabel (α = 0.01) = 2.3263
cat(sprintf("p-value = %.4f\n", p_value))
## p-value = 0.0709
cat("\nKeputusan:\n")
##
## Keputusan:
if (z_hit > z_tabel) {
cat("Karena Z hitung > Z tabel, maka H0 ditolak.\n")
} else {
cat("Karena Z hitung ≤ Z tabel, maka H0 gagal ditolak.\n")
}
## Karena Z hitung ≤ Z tabel, maka H0 gagal ditolak.
cat("\nKesimpulan:\n")
##
## Kesimpulan:
if (p_value < alpha) {
cat("Terdapat bukti signifikan bahwa Tenso понижена memiliki proporsi batuk kering lebih tinggi dibandingkan Normopress.\n")
} else {
cat("Tidak terdapat bukti yang cukup bahwa Tenso понижена memiliki proporsi batuk kering lebih tinggi.\n")
}
## Tidak terdapat bukti yang cukup bahwa Tenso понижена memiliki proporsi batuk kering lebih tinggi.
Tujuan:
Menguji apakah proporsi pasien yang mengalami batuk kering pada obat
Tenso понижена lebih tinggi dibandingkan
Normopress.
Diketahui:
Tenso понижена (n₁ = 400, x₁ = 48) → p̂₁ = 48 / 400 =
0.12
Normopress (n₂ = 500, x₂ = 45) → p̂₂ = 45 / 500 =
0.09
α = 0.01
Hipotesis:
H₀: p₁ ≤ p₂
H₁: p₁ > p₂Langkah-langkah Perhitungan:
Hitung proporsi gabungan:
p̂ = (x₁ + x₂) / (n₁ + n₂)
= (48 + 45) / (400 + 500)
= 93 / 900
= **0.1033**Hitung standar error dan statistik uji Z:
SE = √[p̂ × (1 − p̂) × (1/n₁ + 1/n₂)]
= √[0.1033 × 0.8967 × (1/400 + 1/500)]
= √[0.0926 × 0.0045]
= √0.000417
= **0.0204**
Z = (p̂₁ − p̂₂) / SE
= (0.12 − 0.09) / 0.0204
= 0.03 / 0.0204
= **1.4706**Nilai kritis:
Z tabel (α = 0.01, satu arah kanan) = **2.3263**Keputusan:
Z hitung = 1.4706 < Z tabel = 2.3263 → H₀ gagal
ditolak
Kesimpulan:
Tidak terdapat bukti statistik yang cukup pada taraf signifikansi 1%
bahwa proporsi pasien yang mengalami batuk kering akibat Tenso понижена
lebih tinggi dibandingkan Normopress. Dengan demikian, kekhawatiran
Dr. Zulaikha belum dapat dibuktikan secara signifikan secara
statistik.
inovatif <- c(2650, 2750, 2500, 2800, 2670, 2730, 2530, 2770, 2700)
klasik <- c(2600, 2700, 2450, 2730, 2530, 2670, 2550)
n1 <- length(inovatif)
n2 <- length(klasik)
rata1 <- mean(inovatif)
rata2 <- mean(klasik)
sd1 <- sd(inovatif)
sd2 <- sd(klasik)
var1 <- var(inovatif)
var2 <- var(klasik)
sp2 <- ((n1 - 1)*var1 + (n2 - 1)*var2) / (n1 + n2 - 2)
sp <- sqrt(sp2)
t_hit <- (rata1 - rata2) / (sp * sqrt(1/n1 + 1/n2))
df <- n1 + n2 - 2
alpha <- 0.01
t_tabel <- qt(1 - alpha, df)
p_value <- pt(t_hit, df, lower.tail = FALSE)
cat("============================\n")
## ============================
cat(" Hasil Uji & Interpretasi\n")
## Hasil Uji & Interpretasi
cat("============================\n\n")
## ============================
cat("Hipotesis:\n")
## Hipotesis:
cat("H0 : μ_inovatif ≤ μ_klasik (tidak lebih tahan abrasi)\n")
## H0 : μ_inovatif ≤ μ_klasik (tidak lebih tahan abrasi)
cat("H1 : μ_inovatif > μ_klasik (lebih tahan abrasi)\n\n")
## H1 : μ_inovatif > μ_klasik (lebih tahan abrasi)
cat("Statistik Deskriptif:\n")
## Statistik Deskriptif:
cat(sprintf("Rata-rata Inovatif = %.2f\n", rata1))
## Rata-rata Inovatif = 2677.78
cat(sprintf("Rata-rata Klasik = %.2f\n", rata2))
## Rata-rata Klasik = 2604.29
cat(sprintf("Simpangan baku Inovatif = %.2f\n", sd1))
## Simpangan baku Inovatif = 103.78
cat(sprintf("Simpangan baku Klasik = %.2f\n", sd2))
## Simpangan baku Klasik = 101.30
cat("\nStatistik Uji:\n")
##
## Statistik Uji:
cat(sprintf("t hitung = %.4f\n", t_hit))
## t hitung = 1.4197
cat(sprintf("t tabel (α = 0.01, df = %d) = %.4f\n", df, t_tabel))
## t tabel (α = 0.01, df = 14) = 2.6245
cat(sprintf("p-value = %.4f\n", p_value))
## p-value = 0.0888
cat("\nKeputusan:\n")
##
## Keputusan:
if (t_hit > t_tabel) {
cat("Karena t hitung > t tabel, maka H0 ditolak.\n")
} else {
cat("Karena t hitung ≤ t tabel, maka H0 gagal ditolak.\n")
}
## Karena t hitung ≤ t tabel, maka H0 gagal ditolak.
cat("\nKesimpulan:\n")
##
## Kesimpulan:
if (p_value < alpha) {
cat("Terdapat bukti signifikan bahwa Metode Inovatif lebih tahan abrasi dibandingkan Metode Klasik.\n")
} else {
cat("Tidak terdapat bukti yang cukup bahwa Metode Inovatif lebih tahan abrasi dibandingkan Metode Klasik.\n")
}
## Tidak terdapat bukti yang cukup bahwa Metode Inovatif lebih tahan abrasi dibandingkan Metode Klasik.
Tujuan:
Menguji apakah Metode Inovatif memberikan ketahanan abrasi yang
lebih tinggi secara signifikan dibandingkan Metode
Klasik.
Diketahui:
Metode Inovatif (n₁ = 9):
2650, 2750, 2500, 2800, 2670, 2730, 2530, 2770, 2700
Metode Klasik (n₂ = 7):
2600, 2700, 2450, 2730, 2530, 2670, 2550
α = 0.01
Asumsi: varians kedua populasi dianggap sama
Hipotesis:
H₀: μ₁ ≤ μ₂
H₁: μ₁ > μ₂Langkah-langkah Perhitungan:
Hitung rata-rata dan simpangan baku:
x̄₁ = 2689.44 | s₁ = 108.97
x̄₂ = 2604.29 | s₂ = 97.85 Ragam gabungan (pooled variance):
s_p² = [(n₁ − 1)·s₁² + (n₂ − 1)·s₂²] / (n₁ + n₂ − 2)
= [(8)(11877.1) + (6)(9573.6)] / 14
= (95016.8 + 57441.6) / 14
= 152458.4 / 14
= 10889.89
s_p = √10889.89 = **104.39**Hitung t hitung:
t = (x̄₁ − x̄₂) / [s_p × √(1/n₁ + 1/n₂)]
= (2689.44 − 2604.29) / [104.39 × √(1/9 + 1/7)]
= 85.15 / [104.39 × √0.2698]
= 85.15 / (104.39 × 0.5195)
= 85.15 / 54.21
= **1.5704**Derajat bebas:
df = n₁ + n₂ − 2 = 14Nilai kritis:
t tabel (α = 0.01, df = 14) = **2.6245**Keputusan:
t hitung = 1.5704 < t tabel = 2.6245 → H₀ gagal
ditolak
Kesimpulan:
Tidak terdapat bukti statistik yang cukup untuk menyimpulkan bahwa
Metode Inovatif menghasilkan ketahanan abrasi yang lebih tinggi secara
signifikan dibandingkan Metode Klasik pada taraf signifikansi 1%. Maka,
klaim superioritas metode baru belum dapat dibuktikan secara
statistik.
mu0 <- 1100
x_bar <- 1091
sigma <- 25
n <- 40
alpha <- 0.05
z_hit <- (x_bar - mu0) / (sigma / sqrt(n))
z_tabel <- qnorm(alpha)
p_value <- pnorm(z_hit)
cat("============================\n")
## ============================
cat(" Hasil Uji & Interpretasi\n")
## Hasil Uji & Interpretasi
cat("============================\n\n")
## ============================
cat("Hipotesis:\n")
## Hipotesis:
cat("H0 : μ ≥ 1100 (tidak ada penurunan suhu rata-rata)\n")
## H0 : μ ≥ 1100 (tidak ada penurunan suhu rata-rata)
cat("H1 : μ < 1100 (terjadi penurunan suhu rata-rata)\n\n")
## H1 : μ < 1100 (terjadi penurunan suhu rata-rata)
cat("Statistik Diketahui:\n")
## Statistik Diketahui:
cat(sprintf("Rata-rata sampel (x̄) = %.2f\n", x_bar))
## Rata-rata sampel (x̄) = 1091.00
cat(sprintf("Rata-rata hipotesis (μ₀) = %.2f\n", mu0))
## Rata-rata hipotesis (μ₀) = 1100.00
cat(sprintf("Simpangan baku (σ) = %.2f\n", sigma))
## Simpangan baku (σ) = 25.00
cat(sprintf("Jumlah data (n) = %d\n", n))
## Jumlah data (n) = 40
cat("\nStatistik Uji:\n")
##
## Statistik Uji:
cat(sprintf("Z hitung = %.4f\n", z_hit))
## Z hitung = -2.2768
cat(sprintf("Z tabel (α = 0.05) = %.4f\n", z_tabel))
## Z tabel (α = 0.05) = -1.6449
cat(sprintf("p-value = %.4f\n", p_value))
## p-value = 0.0114
cat("\nKeputusan:\n")
##
## Keputusan:
if (z_hit < z_tabel) {
cat("Karena Z hitung < Z tabel, maka H0 ditolak.\n")
} else {
cat("Karena Z hitung ≥ Z tabel, maka H0 gagal ditolak.\n")
}
## Karena Z hitung < Z tabel, maka H0 ditolak.
cat("\nKesimpulan:\n")
##
## Kesimpulan:
if (p_value < alpha) {
cat("Terdapat bukti signifikan bahwa sistem pendinginan baru MENURUNKAN suhu operasional sudu turbin.\n")
} else {
cat("Tidak terdapat bukti yang cukup bahwa sistem pendinginan baru menurunkan suhu secara signifikan.\n")
}
## Terdapat bukti signifikan bahwa sistem pendinginan baru MENURUNKAN suhu operasional sudu turbin.
Tujuan:
Menguji apakah rata-rata suhu operasional sudu turbin dengan sistem
pendinginan baru secara signifikan lebih rendah dari
1100°C.
Diketahui:
n = 40 (jumlah sampel)
x̄ = 1091°C (rata-rata suhu sampel)
μ₀ = 1100°C (rata-rata historis)
σ = 25°C (simpangan baku populasi diketahui)
α = 0.05
Hipotesis:
H₀: μ ≥ 1100
H₁: μ < 1100Langkah-langkah Perhitungan:
Hitung statistik uji Z:
Z = (x̄ − μ₀) / (σ / √n)
= (1091 − 1100) / (25 / √40)
= (−9) / (25 / 6.3246)
= (−9) / 3.9528
= **−2.2769**Nilai kritis:
Z tabel (α = 0.05, satu arah kiri) = **−1.6449**Keputusan:
Z hitung = −2.2769 < Z tabel = −1.6449 → H₀
ditolak
Kesimpulan:
Terdapat bukti statistik yang kuat bahwa sistem
pendinginan baru secara signifikan menurunkan suhu operasional sudu
turbin. Maka, Ibu Rina dapat meyakinkan dewan direksi bahwa
sistem baru ini memang efektif, bukan sekadar hasil kebetulan
dari variasi pengujian.
M1 <- c(74.97, 75.03, 74.95, 75.05, 75.00, 74.93, 75.07,
74.98, 75.02, 74.96, 75.04, 74.94, 75.06)
M2 <- c(74.98, 75.02, 75.00, 74.97, 75.03, 74.99, 75.01,
74.96, 75.04, 75.00)
n1 <- length(M1)
n2 <- length(M2)
var1 <- var(M1)
var2 <- var(M2)
F_hit <- var1 / var2
alpha <- 0.10
df1 <- n1 - 1
df2 <- n2 - 1
F_tabel <- qf(alpha, df1 = df1, df2 = df2, lower.tail = FALSE)
p_value <- pf(F_hit, df1, df2, lower.tail = FALSE)
cat("============================\n")
## ============================
cat(" Hasil Uji & Interpretasi\n")
## Hasil Uji & Interpretasi
cat("============================\n\n")
## ============================
cat("Hipotesis:\n")
## Hipotesis:
cat("H0 : σ1² ≤ σ2² (ragam Mesin M1 tidak lebih besar)\n")
## H0 : σ1² ≤ σ2² (ragam Mesin M1 tidak lebih besar)
cat("H1 : σ1² > σ2² (ragam Mesin M1 lebih besar → M2 lebih konsisten)\n\n")
## H1 : σ1² > σ2² (ragam Mesin M1 lebih besar → M2 lebih konsisten)
cat("Statistik Deskriptif:\n")
## Statistik Deskriptif:
cat(sprintf("Ragam Mesin M1 (s1²) = %.6f\n", var1))
## Ragam Mesin M1 (s1²) = 0.002317
cat(sprintf("Ragam Mesin M2 (s2²) = %.6f\n", var2))
## Ragam Mesin M2 (s2²) = 0.000667
cat("\nStatistik Uji:\n")
##
## Statistik Uji:
cat(sprintf("F hitung = %.4f\n", F_hit))
## F hitung = 3.4750
cat(sprintf("F tabel (α = 0.10, df1 = %d, df2 = %d) = %.4f\n", df1, df2, F_tabel))
## F tabel (α = 0.10, df1 = 12, df2 = 9) = 2.3789
cat(sprintf("p-value = %.4f\n", p_value))
## p-value = 0.0348
cat("\nKeputusan:\n")
##
## Keputusan:
if (F_hit > F_tabel) {
cat("Karena F hitung > F tabel, maka H0 ditolak.\n")
} else {
cat("Karena F hitung ≤ F tabel, maka H0 gagal ditolak.\n")
}
## Karena F hitung > F tabel, maka H0 ditolak.
cat("\nKesimpulan:\n")
##
## Kesimpulan:
if (p_value < alpha) {
cat("Terdapat bukti signifikan bahwa Mesin M2 lebih konsisten dari Mesin M1 (ragam lebih kecil).\n")
} else {
cat("Tidak terdapat bukti yang cukup bahwa Mesin M2 lebih konsisten dari Mesin M1.\n")
}
## Terdapat bukti signifikan bahwa Mesin M2 lebih konsisten dari Mesin M1 (ragam lebih kecil).
Tujuan:
Menguji apakah Mesin M2 menghasilkan diameter piston dengan
ragam lebih kecil dibandingkan Mesin M1 (lebih
konsisten).
Diketahui:
Mesin M1 (n₁ = 13):
74.97, 75.03, 74.95, 75.05, 75.00, 74.93, 75.07, 74.98, 75.02, 74.96,
75.04, 74.94, 75.06
Mesin M2 (n₂ = 10):
74.98, 75.02, 75.00, 74.97, 75.03, 74.99, 75.01, 74.96, 75.04,
75.00
α = 0.10
Hipotesis:
H₀: σ₁² ≤ σ₂² (Mesin M1 tidak lebih bervariasi)
H₁: σ₁² > σ₂² (Mesin M1 lebih bervariasi → M2 lebih konsisten)Langkah-langkah Perhitungan:
Hitung ragam sampel:
s₁² (M1) = 0.002077
s₂² (M2) = 0.000622 Hitung F hitung:
F = s₁² / s₂²
= 0.002077 / 0.000622
= **3.339**Derajat bebas:
df₁ = n₁ − 1 = 12
df₂ = n₂ − 1 = 9Nilai kritis F (uji satu arah kiri): Karena kita ingin menguji apakah σ₂² < σ₁², kita posisikan F = s₁² / s₂², dan kita bandingkan dengan F tabel upper (karena pembuktian arah kiri melalui pembagian besar terhadap kecil):
F tabel (α = 0.10, df₁ = 12, df₂ = 9) = **2.49** (nilai kritis atas)Keputusan:
F hitung = 3.339 > F tabel = 2.49 → H₀ ditolak
Kesimpulan:
Terdapat bukti statistik yang cukup bahwa ragam
diameter piston dari Mesin M2 lebih kecil dibandingkan
Mesin M1. Artinya, Mesin M2 lebih konsisten dalam
menghasilkan piston sesuai harapan Dr. Fenny.
A <- c(75, 80, 72, 78, 70)
B <- c(82, 88, 85, 90, 80, 86)
C <- c(88, 92, 95, 85, 90, 87, 93)
D <- c(78, 82, 80, 75, 85, 77)
nilai <- c(A, B, C, D)
metode <- factor(c(
rep("A", length(A)),
rep("B", length(B)),
rep("C", length(C)),
rep("D", length(D))
))
anova_result <- aov(nilai ~ metode)
summary_result <- summary(anova_result)
cat("============================\n")
## ============================
cat(" Hasil Uji & Interpretasi\n")
## Hasil Uji & Interpretasi
cat("============================\n\n")
## ============================
cat("Hipotesis:\n")
## Hipotesis:
cat("H0 : μA = μB = μC = μD (tidak ada perbedaan rata-rata skor)\n")
## H0 : μA = μB = μC = μD (tidak ada perbedaan rata-rata skor)
cat("H1 : Setidaknya ada dua rata-rata yang berbeda\n\n")
## H1 : Setidaknya ada dua rata-rata yang berbeda
cat("Statistik Uji ANOVA:\n")
## Statistik Uji ANOVA:
print(summary_result)
## Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
## metode 3 764.6 254.88 18.31 5.9e-06 ***
## Residuals 20 278.3 13.92
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
F_hit <- summary_result[[1]]$`F value`[1]
p_value <- summary_result[[1]]$`Pr(>F)`[1]
alpha <- 0.05
cat(sprintf("\nF hitung = %.4f\n", F_hit))
##
## F hitung = 18.3144
cat(sprintf("p-value = %.4f\n", p_value))
## p-value = 0.0000
cat("\nKeputusan:\n")
##
## Keputusan:
if (p_value < alpha) {
cat("Karena p-value < 0.05, maka H0 ditolak.\n")
} else {
cat("Karena p-value ≥ 0.05, maka H0 gagal ditolak.\n")
}
## Karena p-value < 0.05, maka H0 ditolak.
cat("\nKesimpulan:\n")
##
## Kesimpulan:
if (p_value < alpha) {
cat("Terdapat perbedaan signifikan rata-rata skor proyek akhir antara beberapa metode pengajaran.\n")
} else {
cat("Tidak terdapat bukti signifikan perbedaan rata-rata skor proyek akhir antara keempat metode pengajaran.\n")
}
## Terdapat perbedaan signifikan rata-rata skor proyek akhir antara beberapa metode pengajaran.
Tujuan:
Menguji apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam rata-rata skor
proyek akhir siswa berdasarkan empat metode pengajaran yang berbeda.
Data Skor Proyek Final:
Langkah-langkah Perhitungan:
Hitung rata-rata tiap kelompok:
x̄_A = 75.0
x̄_B = 85.17
x̄_C = 90.0
x̄_D = 79.5 Hitung rata-rata total:
Total skor = 375 + 511 + 630 + 477 = 1993
Jumlah data = 5 + 6 + 7 + 6 = 24
x̄_total = 1993 / 24 = **83.04**Hitung Jumlah Kuadrat Antar-Kelompok (SSB):
SSB = n₁(x̄_A − x̄_total)² + n₂(x̄_B − x̄_total)² + n₃(x̄_C − x̄_total)² + n₄(x̄_D − x̄_total)²
= 5(75.0 − 83.04)² + 6(85.17 − 83.04)² + 7(90.0 − 83.04)² + 6(79.5 − 83.04)²
= 5(64.65) + 6(4.55) + 7(48.45) + 6(12.49)
= 323.25 + 27.3 + 339.15 + 74.94
= **764.64**Hitung Jumlah Kuadrat Dalam-Kelompok (SSW):
Hitung total variasi dalam tiap kelompok (Σ(xᵢ − x̄)²), lalu
jumlahkan:
SSW = SSA + SSB + SSC + SSD
SSA = 74, SSB = 63.7, SSC = 72, SSD = 60.5
SSW = **270.2**Hitung derajat bebas:
df_total = 24 − 1 = 23
df_bet = k − 1 = 4 − 1 = 3
df_with = 24 − 4 = 20Hitung Mean Square:
MSB = SSB / df_bet = 764.64 / 3 = 254.88
MSW = SSW / df_with = 270.2 / 20 = 13.51Hitung F hitung:
F = MSB / MSW = 254.88 / 13.51 = **18.86**Nilai kritis F:
F tabel (α = 0.05, df1 = 3, df2 = 20) = **3.10**Keputusan:
F hitung = 18.86 > F tabel = 3.10 → H₀ ditolak
Kesimpulan:
Terdapat perbedaan signifikan dalam rata-rata skor
proyek akhir antar metode pengajaran. Artinya, metode pembelajaran
memberikan pengaruh berbeda terhadap hasil belajar siswa secara
statistik.