Analisis Perbedaan Profitabilitas
Coffee Chain Berdasarkan Market Size dan Product
Type Menggunakan Pendekatan
Non-Parametrik
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Profitabilitas merupakan indikator penting dalam menilai kinerja keuangan sebuah bisnis, khususnya dalam industri makanan dan minuman seperti coffee shop. Persaingan yang ketat menuntut perusahaan untuk dapat mengelola faktor-faktor yang memengaruhi laba secara efisien. Salah satu cara untuk meningkatkan profitabilitas adalah dengan memahami bagaimana faktor-faktor seperti ukuran pasar (market size) dan jenis produk (product type) dapat berpengaruh terhadap keuntungan yang diperoleh.
Ukuran pasar berperan dalam menentukan potensi jumlah pelanggan, daya beli masyarakat, serta strategi pemasaran yang diterapkan. Sementara itu, jenis produk yang ditawarkan mencerminkan segmentasi pasar yang dibidik oleh perusahaan dan berpotensi memengaruhi margin keuntungan. Memahami hubungan antara kedua variabel ini terhadap profitabilitas akan membantu perusahaan dalam merancang strategi operasional yang lebih efektif.
Penelitian ini menggunakan Coffee Chain Dataset, yang berisi informasi penjualan dari beberapa cabang coffee shop di berbagai wilayah. Data mencakup variabel profit (keuntungan), market size (ukuran pasar), dan product type (jenis produk), yang akan dianalisis untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan signifikan pada profitabilitas berdasarkan kelompok ukuran pasar dan jenis produk yang dijual.
Rumusan Masalah
Berdasarkan karakteristik Coffee Chain Dataset dan kebutuhan bisnis yang mendesak, analisis ini akan menjawab tiga pertanyaan kritis:
Apakah terdapat perbedaan distribusi profit yang signifikan antara pasar dengan ukuran Small Market dan Major Market?
Apakah terdapat perbedaan distribusi profit yang signifikan antara jenis produk yang dijual, yaitu Coffee, Espresso, Herbal Tea, dan Tea?
Berdasarkan hasil analisis, strategi apa yang dapat direkomendasikan untuk meningkatkan profitabilitas pada coffee chain berdasarkan ukuran pasar dan jenis produk?
Tujuan
Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan distribusi profitabilitas yang signifikan antara cabang coffee chain yang berada di pasar berukuran kecil (Small Market) dan pasar berukuran besar (Major Market) menggunakan uji Mann-Whitney.
Untuk menguji apakah terdapat perbedaan distribusi profit berdasarkan jenis produk yang dijual, yaitu Coffee, Espresso, Herbal Tea, dan Tea menggunakan uji Kruskal-Wallis.
Untuk memberikan rekomendasi strategis berdasarkan hasil analisis profitabilitas guna mendukung pengambilan keputusan bisnis terkait penempatan cabang dan pemilihan portofolio produk.
LANDASAN TEORI
Uji Mann-Whitney (Wilcoxon Rank-Sum Test)
Uji Mann Whitney adalah salah satu uji nonparametris yang digunakan untuk mengukur ada tidaknya perbedaan nilai rata-rata 2 kelompok sampel yang saling independent. Uji Mann Whitney biasa digunakan pada penelitian desain comparison (perbandingan).
\[ U = n_1n_2 + \frac{n_1(n_1 + 1)}{2} - R_1 \] Keterangan:
- \(U\): Statistik uji Mann-Whitney
- \(n_1, n_2\): Jumlah observasi pada kelompok 1 dan 2
- \(R_1\): Jumlah ranking kelompok 1
Uji Kruskal-Wallis
Uji Kruskal-Wallis adalah uji statistik nonparametrik yang digunakan untuk membandingkan dua atau lebih kelompok independen, ketika data tidak terdistribusi normal atau data berskala ordinal. Uji ini menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok-kelompok tersebut, tanpa asumsi mengenai distribusi data. (contoh: profit antar Product Type).
\[ H = \frac{12}{N(N+1)} \sum_{j=1}^{k} \frac{R_j^2}{n_j} - 3(N+1) \] Keterangan:
- \(H\): Statistik
Kruskal-Wallis
- \(R_j\): Jumlah rank kelompok
ke-\(j\)
- \(n_j\): Jumlah observasi kelompok
ke-\(j\)
- \(k\): Jumlah kelompok
- \(N = \sum n_j\): Total observasi
PEMBAHASAN
Analisis Data
Analisis ini menggunakan dataset Coffee Chain dengan 20 variabel dan
jumlah observasi sebanyak 4228. Setiap observasi merepresentasikan
transaksi atau performa penjualan pada cabang-cabang coffee
shop di berbagai wilayah Amerika Serikat. Pertama, data
di-import dari file Excel dan ditampilkan dalam bentuk tabel
interaktif menggunakan datatable(), agar memudahkan
eksplorasi awal terhadap struktur data.
# 1. Import Data
data <- read_excel("C:/Users/ANNISA FALIA/Downloads/3. CM1 - Coffee Chain Datasets/3. CM1 - Coffee Chain Datasets.xlsx")
datatable(data)Dalam analisis ini, variabel utama yang dianalisis adalah:
Profit (numerik): Keuntungan aktual dari penjualan, digunakan sebagai variabel respon.
Market Size (kategorik): Ukuran pasar, diklasifikasikan menjadi Major dan Small.
Product Type (kategorik): Tipe produk yang dijual, seperti Coffee, Espresso, Herbal Tea, dan Tea.
Berikut ini merupakan analisis dan deskripsi data dari variabel profit.
Ringkasan statistik variabel Profit
# Ringkasan statistik variabel Profit
profit_summary <- data %>%
summarise(
Minimum = min(Profit, na.rm = TRUE),
Maksimum = max(Profit, na.rm = TRUE),
Mean = mean(Profit, na.rm = TRUE),
Median = median(Profit, na.rm = TRUE),
SD = sd(Profit, na.rm = TRUE)
)
kable(profit_summary, caption = "Ringkasan Statistik Variabel Profit", format = "html") %>%
kable_styling(bootstrap_options = c("striped", "hover", "condensed"),
full_width = FALSE,
position = "center") %>%
row_spec(0, bold = TRUE, background = "#b3003c", color = "white") %>%
column_spec(1:ncol(profit_summary), extra_css = "text-align: center;")| Minimum | Maksimum | Mean | Median | SD |
|---|---|---|---|---|
| -638 | 778 | 61.09769 | 40 | 101.7085 |
Distribusi Profit pada Coffee Chain
Visualisasi histogram berikut menunjukkan distribusi variabel Profit dari dataset Coffee Chain:
# Visualisasi distribusi Profit
ggplot(data, aes(x = Profit)) +
geom_histogram(fill = "#b3003c", bins = 30) +
ggtitle("Distribusi Profit")Visualisasi histogram memperlihatkan karakteristik distribusi profit yang menarik dari dataset Coffee Chain. Terlihat jelas bahwa distribusi profit tidak simetris, dengan kecenderungan miring ke kanan (right-skewed). Sebagian besar nilai profit terkonsentrasi pada rentang 0 hingga 60, namun terdapat beberapa nilai ekstrem yang membentuk ekor panjang di sisi kanan.
Konsentrasi data di sisi kiri dengan beberapa outlier di kanan menggambarkan bahwa mayoritas transaksi menghasilkan profit sedang, sementara hanya sedikit yang mencapai profit sangat tinggi. Hal ini mungkin mencerminkan perbedaan performa antar produk atau lokasi penjualan.
Dari perspektif bisnis, distribusi ini mengindikasikan bahwa sebagian besar operasional Coffee Chain menghasilkan profit moderat, dengan beberapa kasus luar biasa yang memberikan kontribusi profit signifikan. Adanya beberapa nilai profit negatif (hingga -12.02) juga patut diperhatikan, karena menunjukkan transaksi yang merugi. Pola distribusi seperti ini mendukung penggunaan metode analisis non-parametrik yang tidak memerlukan asumsi normalitas data.
Proporsi Variabel Market Size
# Ringkasan profit berdasarkan Market Size
market_summary <- data %>%
group_by(`Market Size`) %>%
summarise(
Min = min(Profit, na.rm = TRUE),
Max = max(Profit, na.rm = TRUE),
Mean = mean(Profit, na.rm = TRUE),
Median = median(Profit, na.rm = TRUE),
SD = sd(Profit, na.rm = TRUE),
Jumlah = n()
) %>%
mutate(
`Persentase (%)` = round(Jumlah / sum(Jumlah) * 100, 2)
)
kable(market_summary, caption = "Ringkasan Profit Berdasarkan Market Size", format = "html") %>%
kable_styling(bootstrap_options = c("striped", "hover", "condensed", "responsive"),
full_width = FALSE, position = "center") %>%
row_spec(0, bold = TRUE, background = "#b3003c", color = "white") %>%
column_spec(1:ncol(market_summary), extra_css = "text-align: center;")| Market Size | Min | Max | Mean | Median | SD | Jumlah | Persentase (%) |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Major Market | -420 | 778 | 91.39437 | 73 | 124.27504 | 1704 | 40.11 |
| Small Market | -638 | 362 | 40.80464 | 31 | 76.85393 | 2544 | 59.89 |
Tabel di atas menunjukkan distribusi jumlah observasi berdasarkan ukuran pasar tempat cabang coffee chain beroperasi. Sebanyak 2544 dari total observasi berasal dari Small Market, sedangkan sisanya, yaitu 1704, berasal dari Major Market. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas data yang dianalisis dalam penelitian ini berada pada pasar berskala kecil. Proporsi ini penting untuk diperhatikan karena dapat memengaruhi interpretasi hasil analisis, terutama saat membandingkan profit antara kedua kategori pasar tersebut. Terlihat juga bahwa rata-rata profit tertinggi berasal dari wilayah dengan ukuran pasar Major, yaitu sebesar 91.39437. Sementara itu, wilayah dengan market size Small menunjukkan rata-rata profit yang lebih rendah. Perbedaan ini mengindikasikan adanya potensi pengaruh signifikan antara ukuran pasar terhadap profitabilitas, yang akan diuji lebih lanjut melalui uji Mann-Whitney.
Density Plot Profit Berdasarkan Market Size
ggplot(data, aes(x = Profit, fill = `Market Size`)) +
geom_density(alpha = 0.5) +
facet_wrap(~`Market Size`, ncol = 1) +
scale_fill_manual(values = c("Major Market" = "#b3003c",
"Small Market" = "#D95D39"))Density plot memberikan informasi visual mengenai bentuk distribusi profit untuk masing-masing ukuran pasar (Major vs Small Market). Berikut penjelasannya:
Major Market memiliki distribusi yang lebih menyebar dan cenderung right-skewed (condong ke kanan), dengan ekor panjang ke profit tinggi.
Small Market menunjukkan distribusi yang lebih sempit dan tajam, menandakan bahwa sebagian besar nilai profit terkonsentrasi di sekitar nol, dan sedikit yang memiliki profit tinggi.
Puncak density Small Market lebih tinggi daripada Major Market, mengindikasikan bahwa nilai profitnya lebih terkonsentrasi dan kurang bervariasi.
Adanya penyebaran yang berbeda ini memperkuat hasil visual dari boxplot, bahwa Major Market cenderung menghasilkan profit lebih tinggi dengan variasi lebih besar dibanding Small Market.
Distribusi Variabel Product Type
library(dplyr)
library(knitr)
library(kableExtra)
# Ringkasan profit berdasarkan Product Type
product_summary <- data %>%
group_by(`Product Type`) %>%
summarise(
Min = min(Profit, na.rm = TRUE),
Max = max(Profit, na.rm = TRUE),
Mean = mean(Profit, na.rm = TRUE),
Median = median(Profit, na.rm = TRUE),
SD = sd(Profit, na.rm = TRUE),
Jumlah = n()
) %>%
mutate(
`Persentase (%)` = round(Jumlah / sum(Jumlah) * 100, 2)
)
kable(product_summary, caption = "Ringkasan Profit Berdasarkan Product Type", format = "html") %>%
kable_styling(bootstrap_options = c("striped", "hover", "condensed"),
full_width = FALSE,
position = "center") %>%
row_spec(0, bold = TRUE, background = "#b3003c", color = "white") %>%
column_spec(1:ncol(product_summary), extra_css = "text-align: center;")| Product Type | Min | Max | Mean | Median | SD | Jumlah | Persentase (%) |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Coffee | -221 | 778 | 70.72254 | 39 | 118.83545 | 1056 | 24.86 |
| Espresso | -392 | 646 | 58.35034 | 40 | 91.23054 | 1176 | 27.68 |
| Herbal Tea | -420 | 536 | 59.89962 | 40 | 85.36225 | 1056 | 24.86 |
| Tea | -638 | 362 | 55.19375 | 44 | 109.15530 | 960 | 22.60 |
Tabel ini menggambarkan distribusi jumlah observasi berdasarkan jenis produk yang dijual. Produk Espresso memiliki jumlah observasi terbanyak, yaitu sebesar 27,68%, diikuti oleh Coffee dan Herbal Tea dengan proporsi yang sama sebesar 24,86%, dan Tea dengan 22,60%. Distribusi yang relatif merata ini mengindikasikan bahwa keempat jenis produk memiliki representasi yang cukup dalam data, sehingga memungkinkan untuk dilakukan analisis perbandingan profit antar produk secara lebih adil dan seimbang.
Distribusi ini menunjukkan bahwa produk Coffee adalah yang paling umum dijual, dan mayoritas cabang berada di pasar dengan ukuran Major. Analisis selanjutnya akan mengevaluasi apakah terdapat perbedaan profitabilitas berdasarkan tipe produk dan ukuran pasar dengan pendekatan non-parametrik.
Preprossesing Data
Langkah awal dalam preprocessing adalah mengecek keberadaan
nilai hilang (missing values). Jika ditemukan, baris dengan nilai kosong
dihapus menggunakan na.omit() agar tidak memengaruhi hasil
analisis.
## [1] 0
Karena tidak terdapat missing value, maka tidak perlu ada data yang di dibersihkan. Selanjutnya, variabel kategorikal seperti Market Size, Product Type, dan Market dikonversi ke dalam tipe data faktor agar dapat dianalisis secara statistik.
Uji Normalitas
Dilakukan uji normalitas menggunakan shapiro.test untuk
mengetahui apakah distribusi data Profit mengikuti distribusi normal.
Hasil p-value akan dijadikan acuan dalam memilih metode analisis
lanjutan (parametrik atau non-parametrik).
Hipotesis
\(H_0\): Data berdistribusi normal
\(H_1\): Data tidak berdistribusi normal
Taraf Signifikansi (α) = 5%
Daerah Kritis H0 ditolak jika p−value < 0.05
Statistik Uji Menggunakan
saphiro.test()untuk menguji normalitas pada masing-masing variabel.## ## Shapiro-Wilk normality test ## ## data: data$Profit ## W = 0.79969, p-value < 2.2e-16Kesimpulan Karena p-value < 0.05, distribusi profit tidak normal. Oleh karena itu, analisis non-parametrik (Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney) lebih sesuai untuk digunakan.
Berdasarkan hasil uji normalitas, diketahui bahwa data tidak berdistribusi normal, sehingga metode uji non-parametrik dipilih sebagai pendekatan yang lebih sesuai. Uji Kruskal-Wallis digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan profit berdasarkan ukuran pasar dan jenis produk. Jika ditemukan perbedaan yang signifikan, maka dilanjutkan dengan uji post-hoc menggunakan uji Dunn untuk melihat kelompok mana saja yang berbeda secara signifikan.
Analisis Profitabilitas Berdasarkan Product Type
Visualisasi Boxplot
# 4. Visualisasi
# Boxplot Profit by Product Type
ggplot(data, aes(x = Product_Type, y = Profit, fill = Product_Type)) +
geom_boxplot() +
ggtitle("Profit berdasarkan Jenis Produk") +
theme_minimal() +
scale_fill_manual(values = c(
"Coffee" = "#C72C48",
"Tea" = "#800000",
"Espresso" = "#D95D39",
"Latte" = "#A8A8A8"
)) Gambar di atas menampilkan boxplot yang menggambarkan distribusi profit berdasarkan empat jenis produk, yaitu Coffee, Espresso, Herbal Tea, dan Tea.
Dari visualisasi tersebut, dapat diamati beberapa hal penting:
- Rentang profit (variabilitas) untuk keempat jenis produk relatif serupa, dengan beberapa outlier (nilai ekstrem) yang cukup banyak, baik pada sisi profit negatif maupun positif.
- Median profit, yang ditunjukkan oleh garis horizontal dalam setiap box, tampak hampir setara di antara keempat jenis produk. Ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat perbedaan median profit yang mencolok antara produk satu dengan yang lain.
- Sebaran data (IQR) atau interquartile range—jarak antara kuartil pertama (Q1) dan kuartil ketiga (Q3)—juga terlihat serupa di semua kategori produk, dengan sedikit variasi.
- Masing-masing jenis produk memiliki outlier negatif yang cukup ekstrem, menunjukkan adanya cabang atau transaksi dengan kerugian cukup besar di semua kategori produk.
Secara keseluruhan, tidak tampak perbedaan mencolok dalam profit antara jenis produk satu dengan yang lain secara visual. Namun, untuk menyimpulkan apakah perbedaan tersebut signifikan secara statistik, perlu dilakukan uji non-parametrik seperti Kruskal-Wallis test.
Uji Kruskal-Wallis
Hipotesis
\(H_0\) : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dalam distribusi profit antara berbagai jenis produk (Coffee, Espresso, Herbal Tea, dan Tea)
\(H_1\) : Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dalam distribusi profit antara berbagai jenis produk (Coffee, Espresso, Herbal Tea, dan Tea)
Taraf Signifikansi (α = 5%)
Daerah Kritis: H0 ditolak jika p−value < 0.05
Statistik Uji: Menggunakan
kruskal.test()untuk mendapatkan nilai p-value dari data yang dimiliki.
##
## Kruskal-Wallis rank sum test
##
## data: Profit by Product_Type
## Kruskal-Wallis chi-squared = 2.4137, df = 3, p-value = 0.4911
- Kesimpulan: Berdasarkan hasil uji Kruskal-Wallis yang dilakukan untuk menguji perbedaan profit antar jenis produk, diperoleh nilai p-value sebesar 0.4911 dengan chi-squared = 2.4137 dan derajat kebebasan (df) = 3. Karena p-value (0.4911) > α (0.05), kita gagal menolak hipotesis null. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dalam distribusi profit antara berbagai jenis produk (Coffee, Espresso, Herbal Tea, dan Tea) Nilai chi-squared yang relatif kecil (2.4137) mengindikasikan perbedaan antar kelompok tidak terlalu mencolok.
Analisis Profitabilitas Berdasarkan Market Size
Visualisasi Boxplot
ggplot(data, aes(x = Market_Size, y = Profit, fill = Market_Size)) +
geom_boxplot() +
ggtitle("Profit berdasarkan Ukuran Pasar") +
theme_minimal() +
scale_fill_manual(values = c("Major Market" = "#b3003c",
"Small Market" = "#D95D39")) Boxplot ini menunjukkan distribusi profit berdasarkan dua kategori ukuran pasar, yaitu Major Market dan Small Market. Beberapa poin penting dari visualisasi ini:
1. Nilai Median (Garis Tengah Boxplot)
Major Market memiliki median profit yang lebih tinggi dibandingkan Small Market.
Ini menunjukkan bahwa secara umum, transaksi di pasar besar menghasilkan profit yang lebih tinggi.
2. Sebaran Profit
Boxplot pada Major Market lebih lebar, menandakan variasi profit yang lebih besar.
Small Market memiliki boxplot yang lebih pendek, menunjukkan variasi profit yang lebih kecil.
3. Outlier
Keduanya memiliki banyak outlier, baik di sisi bawah (kerugian) maupun atas (keuntungan besar).
Hal ini menunjukkan adanya data ekstrim yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut dalam analisis.
4. Simetri dan Skewness
- Distribusi pada kedua ukuran pasar cenderung skew ke bawah (negatif), karena ada lebih banyak outlier pada sisi negatif profit.
Secara visual, Major Market tampak lebih menguntungkan dibanding Small Market. Namun, terdapat penyebaran nilai yang luas dan banyak outlier, sehingga perlu dilakukan uji statistik lebih lanjut (misalnya: uji Mann-Whitney U) untuk menentukan apakah perbedaan ini signifikan secara statistik atau tidak.
Uji Mann-Whitney
Hipotesis
\(H_0\) : Distribusi profit pada Small Market dan Major Market adalah identik
\(H_1\) :Distribusi profit pada kedua kelompok tidak identik (terdapat perbedaan posisi atau bentuk distribusi)
Taraf Signifikansi (α = 5%)
Daerah Kritis: \(H_0\) ditolak jika p−value < 0.05
Statistik Uji: Menggunakan
wilcox.test()untuk mendapatkan nilai p-value dari data yang dimiliki.
# Uji Mann-Whitney: Apakah profit berbeda antara Market Size (Major vs Small)
wilcox.test(Profit ~ Market_Size, data = data)##
## Wilcoxon rank sum test with continuity correction
##
## data: Profit by Market_Size
## W = 2975087, p-value < 2.2e-16
## alternative hypothesis: true location shift is not equal to 0
- Kesimpulan: Berdasarkan uji Mann-Whitney yang membandingkan profit antara pasar Major dan Small, diperoleh hasil sebagai berikut: Nilai p-value yang sangat kecil (< 2.2e-16) jauh di bawah α = 0.05. Hal ini menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan dalam distribusi profit antara pasar Major dan Small. Nilai statistik W yang besar (2,975,087) mengindikasikan perbedaan yang substansial antara kedua kelompok.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan analisis statistik non-parametrik yang dilakukan terhadap dataset Coffee Chain, dapat disimpulkan beberapa hal penting terkait profitabilitas berdasarkan ukuran pasar dan jenis produk:
- Perbedaan Profit Berdasarkan Ukuran Pasar (Market
Size)
- Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan (p-value < 2.2e-16) antara profit di pasar Major Market dan Small Market.
- Major Market memiliki rata-rata profit lebih tinggi (91.39) dibandingkan Small Market (49.67), dengan variasi profit yang lebih luas.
- Visualisasi boxplot dan density plot memperkuat temuan ini, menunjukkan distribusi profit yang lebih menguntungkan di pasar besar.
- Perbedaan Profit Berdasarkan Jenis Produk (Product
Type)
- Uji Kruskal-Wallis tidak menemukan perbedaan signifikan (p-value = 0.4911) dalam distribusi profit antara empat jenis produk: Coffee, Espresso, Herbal Tea, dan Tea.
- Meskipun terdapat variasi kecil dalam median dan sebaran profit antar produk, perbedaan tersebut tidak cukup besar untuk dianggap signifikan secara statistik.
- Implikasi Bisnis
- Ukuran pasar (Major vs Small) merupakan faktor kritis yang memengaruhi profitabilitas, sementara jenis produk tidak memberikan dampak yang signifikan.
- Outlier negatif yang muncul di semua kelompok menunjukkan adanya transaksi merugi yang perlu diteliti lebih lanjut, terlepas dari ukuran pasar atau jenis produk.
Saran
Berdasarkan temuan di atas, berikut rekomendasi strategis untuk meningkatkan profitabilitas coffee chain:
- Ekspansi ke Pasar Besar (Major Market)
- Prioritaskan pembukaan cabang baru atau alokasi sumber daya (promosi, stok) ke wilayah dengan Major Market, karena potensi profitabilitasnya lebih tinggi.
- Lakukan analisis tambahan untuk memahami faktor pendorong profit di Major Market (misalnya: daya beli, kepadatan penduduk, atau strategi pemasaran).
- Optimasi Operasional di Small Market
- Jika ekspansi ke Major Market terbatas, lakukan efisiensi biaya operasional (seperti logistik atau tenaga kerja) untuk cabang di Small Market agar profit meningkat.
- Pertimbangkan strategi penetapan harga dinamis atau bundling produk untuk meningkatkan nilai transaksi rata-rata.
- Portofolio Produk yang Seimbang
- Karena jenis produk tidak berdampak signifikan pada profit, fokuskan strategi produk pada preferensi pelanggan di tiap pasar (misalnya: Espresso lebih diminati di Major Market berdasarkan jumlah observasi).
- Evaluasi outlier negatif untuk produk tertentu apakah disebabkan oleh harga, biaya produksi, atau faktor lain dan ambil tindakan perbaikan.