Universitas Sebelas Maret
Analisis Hubungan Persediaan dan Penjualan Produk Kopi untuk Optimalisasi Manajemen Stok pada Coffee Chain
Danhistya Putri Aziza M0723025 | Sistem Informasi Manajemen A
Dalam industri makanan dan minuman, khususnya bisnis kedai kopi, pengelolaan persediaan (inventory management) menjadi aspek krusial dalam menunjang efisiensi operasional dan kepuasan pelanggan. Produk kopi, sebagai komoditas utama pada jaringan usaha seperti coffee chain, memiliki karakteristik yang perlu penanganan stok secara tepat, karena menyangkut kesegaran bahan baku, fluktuasi permintaan, serta biaya penyimpanan yang harus dioptimalkan.
Stok produk kopi yang berlebihan dapat menyebabkan pemborosan dan peningkatan biaya operasional, sementara stok yang terlalu rendah berpotensi menurunkan tingkat pelayanan dan kehilangan peluang penjualan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap hubungan antara jumlah persediaan dan tingkat penjualan menjadi penting sebagai dasar pengambilan keputusan, terutama dalam menentukan strategi restocking, pemesanan bahan baku, dan perencanaan gudang.
Penelitian ini difokuskan untuk menganalisis keterkaitan antara nilai persediaan dan penjualan produk kopi pada beberapa cabang Coffee Chain. Melalui pendekatan statistik deskriptif, visualisasi data, dan uji korelasi Spearman, studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah terdapat pola hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut. Hasil analisis diharapkan dapat memberikan insight yang berguna dalam mengoptimalkan sistem manajemen stok serta meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Korelasi rank spearman digunakan apabila data tidak berdistribusi normal sehingga diperliukan analisis koefisien korelaso dari statistik nonparametrik. koefisien korelasi adalah bulangan yang menyatakan kekuaran hubungan antara dua variabel atau lebih juga dapat menentukan arah dari kedua variabel.
\[ r_s = 1 - \frac{6 \sum_{i=1}^{n} d_i^2}{n(n^2 - 1)} \]
dimana: \(d_i = R(x_i)-R(y_i)\)
n = jumlah pasangan data
\(\sum_{i=1}^{n} d_i^2\) = jumlah kuadrat selisih ranking
Nilai korelasi: \(-1 \leq r_s \leq 1\)
| Rho.Positif | Rho.Negatif | Kategori |
|---|---|---|
| 0 ≤ ρ < 0.3 | 0 > ρ ≥ -0.3 | Sangat Lemah |
| 0.3 ≤ ρ < 0.5 | -0.3 ≥ ρ > -0.5 | Lemah |
| 0.5 ≤ ρ < 0.7 | -0.5 ≥ ρ > -0.7 | Moderat |
| 0.7 ≤ ρ < 0.9 | -0.7 ≥ ρ > -0.9 | Kuat |
| 0.9 ≤ ρ < 1 | -0.9 ≥ ρ > -1 | Sangat Kuat |
Uji normalitas yang paling sederhana adalah membuat grafik distribusi frekuensi atas skor yang ada. Pengujian kenormalan tergantung pada kemampuan kita dalam mencermati plotting data. Jika jumlah data cukup banyak dan penyebarannya tidak 100% normal ( tidak normal sempurna), maka kesimpulan yang ditarik kemungkinan akan salah. Pada saat sekarang ini sudah banyak cara yang dikembangkan para ahli untuk melakukan pengujian normalitas. Beberapa diantaranya adalah Uji Kolmogorov-Smirnov, Uji Lilliefors, dan uji shapiro wilk. Dalam analis ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnow karena datanya > 50.
Data yang digunakan dalam analisis ini diambil dari Coffee Chain Dataset yaitu pada tipe produk kopi (coffee). Dataset ini mencakup informasi dari berbagai cabang Coffee Chain, dengan dua variabel yang dianalisis, yaitu:
Y (Sales): Merupakan total nilai penjualan dari produk kopi yang tercatat pada tiap cabang. Variabel ini berperan sebagai variabel respon (dependent variable)
X (Inventory): Menunjukkan total nilai atau jumlah persediaan produk kopi yang tersedia pada masing-masing cabang. (independent variable)
Pemilihan data yang hanya berkaitan dengan produk kopi dimaksudkan agar analisis lebih spesifik dan relevan terhadap tujuan studi, yaitu mengevaluasi efisiensi manajemen stok kopi di seluruh cabang.
#import data
datacm1 <- read_excel("D:/Kuliah Danhis Statistika/SEMESTER 4/Sistem Informasi Manajemen/datacm1.xlsx")
#ambil sampel coffe aja
coffee <- datacm1 %>%
filter(`Product Type` == "Coffee")
coffee
## # A tibble: 1,056 × 3
## `Product Type` Inventory Sales
## <chr> <dbl> <dbl>
## 1 Coffee 777 219
## 2 Coffee 623 190
## 3 Coffee 821 234
## 4 Coffee 862 345
## 5 Coffee 608 234
## 6 Coffee 821 45
## 7 Coffee 965 62
## 8 Coffee 623 54
## 9 Coffee 494 190
## 10 Coffee 965 170
## # ℹ 1,046 more rows
Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran umum tentang karakteristik data yang digunakan dalam analisis.
summary(coffee)
## Product Type Inventory Sales
## Length:1056 Min. :-3534.0 Min. : 23.0
## Class :character 1st Qu.: 445.8 1st Qu.:109.0
## Mode :character Median : 615.5 Median :146.5
## Mean : 761.3 Mean :205.3
## 3rd Qu.: 956.0 3rd Qu.:230.0
## Max. : 4216.0 Max. :912.0
Scatter Plot
ggplot(coffee, aes(x = Inventory, y = Sales)) +
geom_point(color = "#68838B", size = 2) + # Titik biru
geom_smooth(method = "lm", se = FALSE, color = "darkslategray1", linewidth = 1) + # Garis regresi
labs(
title = "Inventory vs Sales (Produk Coffee)",
x = "Inventory",
y = "Sales"
) +
theme_minimal()
## `geom_smooth()` using formula = 'y ~ x'
Visualisasi scatterplot terlihat bahwa hubungan antara Inventory dan Sales bersifat non-linier dan cukup menyebar. Terlihat bahwa peningkatan jumlah inventory tidak selalu diikuti oleh peningkatan sales, yang mengindikasikan bahwa hubungan antara keduanya tidak bersifat langsung atau proporsional. Selain itu, terdapat beberapa outlier, terutama pada inventory negatif dan sales yang sangat tinggi, yang dapat memengaruhi pola hubungan secara keseluruhan. Hal ini mencerminkan bahwa manajemen stok yang efisien belum tentu menjamin peningkatan penjualan, sehingga diperlukan analisis lebih lanjut.
ks.test(coffee$Sales, "pnorm")
## Warning in ks.test.default(coffee$Sales, "pnorm"): ties should not be present
## for the one-sample Kolmogorov-Smirnov test
##
## Asymptotic one-sample Kolmogorov-Smirnov test
##
## data: coffee$Sales
## D = 1, p-value < 2.2e-16
## alternative hypothesis: two-sided
ggqqplot(coffee$Sales) +
labs(title = "Q-Q Plot Variabel Sales") +
theme(
plot.title = element_text(
hjust = 0.5,
size = 14,
face = "bold",
margin = margin(b = 10)
)
)
ks.test(coffee$Inventory, "pnorm")
## Warning in ks.test.default(coffee$Inventory, "pnorm"): ties should not be
## present for the one-sample Kolmogorov-Smirnov test
##
## Asymptotic one-sample Kolmogorov-Smirnov test
##
## data: coffee$Inventory
## D = 0.98106, p-value < 2.2e-16
## alternative hypothesis: two-sided
ggqqplot(coffee$Inventory) +
labs(title = "Q-Q Plot Variabel Inventory") +
theme(
plot.title = element_text(
hjust = 0.5,
size = 14,
face = "bold",
margin = margin(b = 10)
)
)
cor.test(coffee$Inventory, coffee$Sales, method = "spearman")
## Warning in cor.test.default(coffee$Inventory, coffee$Sales, method =
## "spearman"): Cannot compute exact p-value with ties
##
## Spearman's rank correlation rho
##
## data: coffee$Inventory and coffee$Sales
## S = 151104226, p-value = 3.727e-14
## alternative hypothesis: true rho is not equal to 0
## sample estimates:
## rho
## 0.2300961
Visualisasi scatterplot terlihat bahwa hubungan antara Inventory dan Sales bersifat non-linier dan cukup menyebar. Terlihat bahwa peningkatan jumlah inventory tidak selalu diikuti oleh peningkatan sales, yang mengindikasikan bahwa hubungan antara keduanya tidak bersifat langsung atau proporsional. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, diperoleh bahwa tipe produk coffee pada sales dan inventory tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu, analisis hubungan antara kedua variabel dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman yang tidak mengasumsikan normalitas data. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji korelasi Spearman terhadap 1056 sampel, diperoleh nilai p-value = 3.727e-14 < 0,05 dan koefisien korelasi (ρ = 0,2300916) antara Inventory dan Sales produk kopi. Artinya, terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara persediaan barang dengan jumlah penjualan.
Nilai koefisien korelasi sebesar 0,2300961 menunjukkan bahwa kekuatan hubungan antara kedua variabel tergolong lemah dengan arah hubungan positif. Ini berarti semakin tinggi nilai inventory, maka cenderung semakin tinggi pula nilai sales, meskipun hubungannya tidak kuat.
Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan stok yang lebih baik pada produk kopi kemungkinan besar akan berkontribusi pada peningkatan penjualan, meskipun masih terdapat faktor-faktor lain yang juga turut memengaruhi performa penjualan. Meskipun demikian, hubungan yang ditemukan bersifat tidak linier dan cenderung bervariasi antar pengamatan, sehingga peningkatan inventory belum tentu selalu menghasilkan peningkatan sales. Oleh karena itu, disarankan agar manajemen cabang melakukan evaluasi terhadap efisiensi stok, dengan mempertimbangkan faktor lain seperti permintaan lokal, promosi, dan waktu tertentu dalam setahun.
Yasril, A., Fatma, F., Febrianti, D., Studi, P., Ilmu, S., Masyarakat, K., Fort, U., Kock, D., Bukittinggi, K., & Barat, S. (2021). 6, 527–533.
Nelvidawati Nelvidawati, & Kasman, M. (2023). Penggunaan Korelasi Spearman Untuk Menguji Hubungan Suhu Dan Besarnya Curah Hujan Bulanan di Kota Padang. Jurnal Daur Lingkungan, 6(1), 34–39. http://daurling.unbari.ac.id/index.php/darling/article/view/181/80
Pendidikan, U., Fkip, M., Muhammadiyah, U., & Barat, S. (2020). PENGUJIAN PERSYARATAN ANALISIS (UJI HOMOGENITAS DAN UJI NORMALITAS). 7(1). https://www.jurnal.umsb.ac.id/index.php/inovasipendidikan/article/viewFile/2281/1798