Evaluasi Strategis Penjualan: Analisis
Pengaruh Kinerja Ukuran Pasar dan Kinerja Regional terhadap Profit pada
Dataset Coffee Chain
Alfi Aturohmah - M0723005
2025-05-14
Pendahuluan
Dalam industri ritel makanan dan minuman, khususnya pada jaringan
kedai kopi (coffee chain), strategi penjualan yang efektif
menjadi kunci utama dalam mempertahankan daya saing dan meningkatkan
profitabilitas. Persaingan yang ketat antar pelaku industri menuntut
perusahaan untuk mampu memahami faktor-faktor yang memengaruhi kinerja
penjualan mereka secara lebih mendalam. Salah satu pendekatan yang dapat
digunakan adalah dengan mengevaluasi kinerja berdasarkan segmentasi
pasar dan lokasi operasional.
Ukuran pasar (market size) dan kinerja regional merupakan
dua dimensi penting yang dapat memberikan wawasan strategis terkait
potensi pendapatan dan efisiensi operasional. Ukuran pasar mencerminkan
potensi konsumen yang dapat dijangkau oleh sebuah kedai, sedangkan
kinerja regional menggambarkan variasi performa penjualan di berbagai
wilayah. Dengan menggabungkan kedua dimensi ini dalam suatu analisis
yang terstruktur, perusahaan dapat mengidentifikasi strategi terbaik
untuk mengoptimalkan profit.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ukuran pasar dan
kinerja regional terhadap profit menggunakan dataset Coffee
Chain, yang mencerminkan data operasional dan penjualan dari sebuah
jaringan kedai kopi fiktif. Melalui pendekatan analisis statistik dan
visualisasi data, studi ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi
strategis bagi manajemen dalam pengambilan keputusan berbasis data
(data-driven decision making).
Deskripsi Data
Dataset Coffee Chain merupakan data penjualan dari sebuah
jaringan kedai kopi yang berisi informasi terkait aktivitas operasional,
keuangan, dan pemasaran di berbagai lokasi cabang. Dataset ini awalnya
terdiri dari banyak variabel, namun untuk keperluan analisis ini, hanya
beberapa variabel yang dipilih karena dianggap paling relevan terhadap
tujuan studi, yaitu mengevaluasi pengaruh ukuran pasar dan kinerja
regional terhadap profit.
Adapun variabel yang dipilih dan digunakan dalam analisis ini adalah
sebagai berikut:
MarketSize: Ukuran pasar tempat cabang
beroperasi, dikategorikan ke dalam kelas seperti Major Market,
yang menggambarkan potensi pasar di lokasi tersebut.
State: Negara bagian lokasi operasional kedai,
digunakan untuk melihat perbedaan kinerja berdasarkan wilayah
geografis.
Profit: Keuntungan bersih yang diperoleh,
menjadi variabel utama (variabel dependen) dalam studi ini.
Date: Tanggal transaksi atau pencatatan,
memungkinkan analisis tren waktu.
Dengan fokus pada variabel-variabel ini, analisis bertujuan untuk
menggali faktor-faktor yang memengaruhi profitabilitas cabang dan
memberikan rekomendasi strategis berbasis data.
#Imort Data dari Exceldata_excel <-read_excel("E:/SEMESTER 4/SIM/Case Method/3. CM1 - Coffee Chain Datasets.xlsx", sheet ="data")# Buat data frame dari beberapa kolom yang dipilihdata_coffee <-data.frame(MarketSize = data_excel$`Market Size`,State = data_excel$State,Profit = data_excel$Profit,Date = data_excel$Date)# Menampilkan hasil sebagai tabeldatatable(data_coffee, options =list(scrollX =TRUE), rownames =FALSE)
Statistika Deskriptif
Statistika deskriptif merupakan metode dalam statistika yang
digunakan untuk menyajikan, menganalisis, dan meringkas sekumpulan data
sehingga lebih mudah dipahami. Tujuannya adalah untuk memberikan
gambaran umum tentang karakteristik data tanpa melakukan generalisasi
terhadap populasi yang lebih luas. Analisis ini mencakup ukuran
pemusatan (seperti rata-rata dan median), ukuran penyebaran (seperti
kuartil dan rentang), serta identifikasi nilai ekstrem (outlier).
Penyajian dapat dilakukan melalui ringkasan numerik maupun visualisasi
seperti grafik dan tabel.
# Statistika Deskritif untuk semua variabelsummary(data_coffee)
## MarketSize State Profit
## Length:4248 Length:4248 Min. :-638.0
## Class :character Class :character 1st Qu.: 17.0
## Mode :character Mode :character Median : 40.0
## Mean : 61.1
## 3rd Qu.: 92.0
## Max. : 778.0
## Date
## Min. :2012-01-01 00:00:00
## 1st Qu.:2012-06-23 12:00:00
## Median :2012-12-16 12:00:00
## Mean :2012-12-15 22:00:00
## 3rd Qu.:2013-06-08 12:00:00
## Max. :2013-12-01 00:00:00
Pada dataset Coffee Chain, dilakukan analisis deskriptif terhadap
beberapa variabel terpilih, yaitu MarketSize, State, Profit, dan Date.
Berdasarkan hasil ringkasan data, variabel MarketSize dan State
merupakan tipe data kategorik dengan jumlah observasi sebanyak 4.248.
Kedua variabel ini menggambarkan klasifikasi ukuran pasar dan lokasi
geografis dari masing-masing cabang coffee shop yang diamati. Karena
bertipe karakter, interpretasi deskriptif untuk variabel ini akan lebih
tepat jika dilakukan melalui tabulasi frekuensi atau visualisasi
kategori.
Variabel Profit merupakan salah satu fokus utama karena menjadi
indikator langsung dari keberhasilan finansial setiap cabang. Rata-rata
profit sebesar 61,1 dengan median sebesar 40 menunjukkan bahwa sebagian
besar cabang memiliki profit di bawah rata-rata, yang mengindikasikan
distribusi data yang cenderung miring ke kanan. Nilai minimum profit
sebesar -638 menunjukkan adanya cabang yang mengalami kerugian cukup
besar, sedangkan nilai maksimum mencapai 778, yang menunjukkan adanya
cabang yang sangat menguntungkan. Rentang nilai profit yang cukup lebar
ini mencerminkan adanya variasi kinerja yang tinggi antar cabang.
Variabel Date menunjukkan bahwa data dikumpulkan dalam rentang waktu
antara 1 Januari 2012 hingga 1 Desember 2013. Nilai median berada pada
16 Desember 2012, yang menandakan bahwa data tersebar cukup merata dalam
kurun waktu dua tahun pengamatan. Keberadaan variabel waktu ini juga
membuka peluang untuk analisis tren terhadap perubahan profit dari waktu
ke waktu.
Melalui statistik deskriptif ini, dapat diperoleh pemahaman awal yang
penting terkait struktur dan karakteristik data yang digunakan dalam
penelitian. Hasil ini juga menjadi dasar untuk melanjutkan ke tahap
analisis lanjutan seperti analisis hubungan antar variabel atau
pemodelan prediktif.
## Warning: Using `size` aesthetic for lines was deprecated in ggplot2 3.4.0.
## ℹ Please use `linewidth` instead.
## This warning is displayed once every 8 hours.
## Call `lifecycle::last_lifecycle_warnings()` to see where this warning was
## generated.
Kinerja Market Size
Uji Normalitas
Untuk menguji apakah distribusi profit pada masing-masing kategori
Market Size berdistribusi normal, dilakukan uji normalitas menggunakan
Shapiro-Wilk test. Hasil uji menunjukkan nilai p-value
sebesar 5.10e-33 untuk kategori Major Market, dan
3.78e-56 untuk kategori Small Market.
# Pastikan Market.Size adalah factordata_coffee$Market.Size <-as.factor(data_coffee$`MarketSize`)# Uji normalitas per grup Market Sizedata_coffee %>%group_by(Market.Size) %>%shapiro_test(Profit)
## # A tibble: 2 × 4
## Market.Size variable statistic p
## <fct> <chr> <dbl> <dbl>
## 1 Major Market Profit 0.892 5.10e-33
## 2 Small Market Profit 0.687 3.78e-56
Karena kedua nilai p-value jauh lebih kecil dari taraf signifikansi
0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data profit pada kedua kategori
market size tidak berdistribusi normal. Hal ini
mengindikasikan bahwa asumsi normalitas tidak terpenuhi.
Dengan demikian, analisis perbandingan profit antara kelompok market
size tidak dapat menggunakan uji parametrik seperti ANOVA, dan harus
dilanjutkan dengan uji non-parametrik, seperti uji
Kruskal-Wallis.
Uji Kruskal-Wallis
Setelah diketahui bahwa data profit tidak berdistribusi normal pada
masing-masing kategori Market Size, maka dilakukan uji Kruskal-Wallis,
yaitu uji non-parametrik yang digunakan untuk mengetahui apakah terdapat
perbedaan signifikan antara dua atau lebih kelompok independen. Untuk
Kriteria uji menurut Steel dan Torrie (1993) adalah: \[H=\frac{12}{n(n+1)}\sum_{i=1}\frac{R_i^2}{n_i}-3(n+1)\]
dimana : \(n_1\) = banyaknya pengamatan
ke-\(i\)\(i\) = \(1,...,k\); \(n\) = \(\sum
n_i\); \(R_i\) = jumlah pangkat
ke-\(i\)
# Uji Kruskal-Wallis kruskal.test(Profit ~ Market.Size, data = data_coffee)
##
## Kruskal-Wallis rank sum test
##
## data: Profit by Market.Size
## Kruskal-Wallis chi-squared = 424.94, df = 1, p-value < 2.2e-16
Hasil uji menunjukkan nilai statistik Kruskal-Wallis sebesar 424.94
dengan derajat kebebasan (df) = 1, dan nilai p-value <
2.2e-16. Karena nilai p jauh lebih kecil dari taraf
signifikansi 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
profit yang signifikan antara kelompok Market Size.
Dengan demikian, ukuran pasar (Market Size) memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap profit yang diperoleh, dan hal ini dapat menjadi
dasar pertimbangan strategis dalam evaluasi kinerja penjualan
berdasarkan klasifikasi pasar.
Visualisasi
# visualisasi 1ggplot(data_coffee, aes(x = Market.Size, y = Profit, fill = Market.Size)) +geom_boxplot(alpha =0.7) +theme_minimal() +labs(title ="Distribusi Profit Berdasarkan Ukuran Pasar") +theme(plot.title =element_text(hjust =0.5) )
Berdasarkan boxplot distribusi profit terhadap ukuran pasar (Market
Size), terlihat bahwa kelompok Major Market cenderung memiliki profit
yang lebih tinggi dibandingkan kelompok Small Market. Median profit
Major Market secara visual lebih besar, serta memiliki sebaran data
(interkuartil) yang lebih lebar. Selain itu, Major Market juga
menunjukkan adanya nilai profit ekstrem (outlier) yang lebih tinggi
dibandingkan Small Market.
Sebaliknya, Small Market memiliki persebaran data yang lebih sempit
dan median yang lebih rendah, menunjukkan performa profit yang cenderung
lebih rendah secara keseluruhan. Visualisasi ini mendukung hasil uji
Kruskal-Wallis sebelumnya, yang menyatakan terdapat perbedaan profit
yang signifikan berdasarkan ukuran pasar.
data_coffee %>%group_by(Market.Size) %>%summarise(mean_profit =mean(Profit)) %>%ggplot(aes(x = Market.Size, y = mean_profit, fill = Market.Size)) +geom_col() +theme_minimal() +labs(title ="Rata-rata Profit Berdasarkan Ukuran Pasar",y ="Mean Profit") +theme(plot.title =element_text(hjust =0.5) )
Berdasarkan diagram batang, terlihat bahwa rata-rata profit pada
Major Market jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Small Market. Hal ini
mendukung hasil analisis sebelumnya, baik dari uji statistik
Kruskal-Wallis maupun visualisasi boxplot, yang menunjukkan bahwa ukuran
pasar memiliki pengaruh terhadap profit. Perbedaan rata-rata yang
mencolok ini menegaskan bahwa bisnis yang beroperasi di pasar besar
(Major Market) cenderung menghasilkan profit lebih besar daripada yang
berada di pasar kecil (Small Market).
Kinerja Berdasarkan Region
Uji Normalitas
Untuk menguji apakah distribusi Profit pada masing-masing negara
bagian dalam data berdistribusi normal, dilakukan uji normalitas
menggunakan Shapiro-Wilk test. Namun, sebelum itu variabel State pada
data_coffee diubah dulu menjadi tipe data faktor.
data_coffee$State <-as.factor(data_coffee$State)table(data_coffee$State) # Harus >= 5 per grup
##
## California Colorado Connecticut Florida Illinois
## 288 264 168 216 216
## Iowa Louisiana Massachusetts Missouri Nevada
## 216 168 144 216 264
## New Hampshire New Mexico New York Ohio Oklahoma
## 168 168 192 216 168
## Oregon Texas Utah Washington Wisconsin
## 264 168 288 240 216
Uji normalitas dilakukan hanya untuk kelompok dengan jumlah data
minimal 3. Hasil menunjukkan bahwa semua negara bagian memiliki nilai
p-value yang sangat kecil (seluruhnya < 0.05), yang
berarti data profit pada tiap negara bagian tidak berdistribusi normal.
Maka, dapat disimpulkan bahwa asumsi normalitas tidak terpenuhi pada
seluruh kelompok negara bagian, sehingga analisis selanjutnya dapat
dilakuan uji Kruskal-Wallis.
Uji Kruskall-wallis
Setelah diketahui bahwa data profit tidak berdistribusi normal pada
masing-masing kategori State, maka dilakukan uji Kruskal-Wallis, yaitu
uji non-parametrik yang digunakan untuk mengetahui apakah terdapat
perbedaan signifikan antara dua atau lebih kelompok independen. Untuk
Kriteria uji menurut Steel dan Torrie (1993) adalah: \[H=\frac{12}{n(n+1)}\sum_{i=1}\frac{R_i^2}{n_i}-3(n+1)\]
dimana : \(n_1\) = banyaknya pengamatan
ke-\(i\)\(i\) = \(1,...,k\); \(n\) = \(\sum
n_i\); \(R_i\) = jumlah pangkat
ke-\(i\)
# UJI KRUSKAL-WALLISkruskal.test(Profit ~ State, data = data_coffee)
##
## Kruskal-Wallis rank sum test
##
## data: Profit by State
## Kruskal-Wallis chi-squared = 950.82, df = 19, p-value < 2.2e-16
Hasil uji menunjukkan nilai statistik Kruskal-Wallis sebesar 950.82
dengan derajat kebebasan (df) = 19, dan nilai p-value <
2.2e-16. Karena nilai p jauh lebih kecil dari taraf
signifikansi 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
profit yang signifikan antara kelompok State.
Dengan demikian, lokasi geografis (State) memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap profit yang diperoleh, dan hal ini dapat menjadi
dasar pertimbangan strategis dalam analisis wilayah penjualan dan
perencanaan bisnis berdasarkan negara bagian.
Uji Bonferoni
Setelah diketahui bahwa terdapat perbedaan profit yang signifikan
antara kelompok State berdasarkan uji Kruskal-Wallis, maka dilakukan uji
lanjutan (post-hoc) Dunn dengan koreksi Bonferroni untuk mengetahui
pasangan negara bagian mana saja yang memiliki perbedaan signifikan.
# Melakukan uji Dunnhasil_dunn <-dunnTest(Profit ~ State, data = data_coffee, method ="bonferroni")# Mengambil hasil dalam bentuk data framedunn_df <- hasil_dunn$res# Menampilkan hasil sebagai tabeldatatable(dunn_df, options =list(scrollX =TRUE), rownames =FALSE)
Hasil uji menunjukkan bahwa beberapa pasangan State memiliki nilai p
yang lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 setelah dilakukan
penyesuaian dengan metode Bonferroni. Misal pasangan :
California – Connecticut (p.adj = 7.71e-10)
California – Illinois (p.adj = 2.79e-06)
California – Iowa (p.adj = 4.40e-03)
California – Louisiana (p.adj = 6.10e-07)
Colorado – Illinois (p.adj = 5.16e-18)
Connecticut – Illinois (p.adj = 2.44e-28)
Florida – Illinois (p.adj = 3.85e-18)
Pasangan-pasangan tersebut menunjukkan perbedaan profit yang
signifikan secara statistik. Di sisi lain, beberapa pasangan seperti
Colorado – Florida (p.adj = 1.000), Connecticut – Iowa (p.adj = 0.852),
dan Connecticut – Florida (p.adj = 0.859) tidak menunjukkan perbedaan
yang signifikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan
profit antar negara bagian tidak merata, dan terdapat negara bagian
tertentu (misalnya Illinois dan California) yang secara konsisten
berbeda secara signifikan dibandingkan negara bagian lainnya.
Visualisasi
# Hitung median profit per negara bagianmedian_profit <- data_coffee %>%group_by(State) %>%summarise(median_profit =median(Profit, na.rm =TRUE)) %>%arrange(desc(median_profit))# Buat grafik batang (bar chart)ggplot(median_profit, aes(x =reorder(State, median_profit), y = median_profit, fill = median_profit)) +geom_bar(stat ="identity") +coord_flip() +scale_fill_gradient(low ="#F76C6C", high ="#00C2C7") +labs(title ="Median Profit per Negara Bagian",x ="State",y ="Median Profit" ) +theme_minimal() +theme(plot.title =element_text(hjust =0.5) )
Visualisasi di atas menunjukkan perbandingan median profit untuk
masing-masing negara bagian. Terlihat bahwa Illinois dan New York
memiliki median profit tertinggi, diikuti oleh California dan Texas.
Sementara itu, negara bagian seperti New Mexico, New Hampshire, dan
Missouri berada di posisi terbawah dengan median profit yang jauh lebih
rendah.
Pola yang tampak dalam grafik ini mendukung hasil uji statistik
sebelumnya. Negara bagian dengan median profit yang tinggi seperti
Illinois dan California terbukti memiliki perbedaan profit yang
signifikan jika dibandingkan dengan sebagian besar negara bagian lain,
sebagaimana terlihat dalam hasil uji Dunn dengan koreksi Bonferroni.
Perbedaan visual antar kelompok semakin menegaskan bahwa profit tidak
tersebar merata di seluruh wilayah, dan terdapat perbedaan mencolok
antar kelompok geografis.
data_coffee %>%group_by(State) %>%summarise(total_profit =sum(Profit, na.rm =TRUE)) %>%arrange(desc(total_profit)) %>%ggplot(aes(x =reorder(State, total_profit), y = total_profit)) +geom_bar(stat ="identity", fill ="#00C2C7") +coord_flip() +labs(title ="Total Profit per Negara Bagian",x ="State",y ="Total Profit" ) +theme_minimal() +theme(plot.title =element_text(hjust =0.5) )
Visualisasi tersebut menunjukkan total profit yang diperoleh dari
masing-masing negara bagian. California menempati posisi tertinggi
dengan total profit terbesar, diikuti oleh Illinois dan Iowa.
Negara-negara bagian seperti New York, Colorado, dan Massachusetts juga
menyumbang profit yang cukup besar. Sementara itu, negara bagian seperti
New Mexico, New Hampshire, dan Missouri memiliki total profit yang
paling rendah.
Data ini melengkapi hasil analisis sebelumnya, khususnya setelah
diketahui adanya perbedaan signifikan antar negara bagian berdasarkan
uji Kruskal-Wallis dan uji post-hoc Dunn dengan koreksi Bonferroni.
Meskipun median profit menunjukkan bahwa Illinois dan New York berada di
urutan teratas dalam hal profit per transaksi, total profit yang lebih
tinggi di California menunjukkan bahwa volume transaksi atau cakupan
bisnis di negara bagian ini sangat besar, sehingga menghasilkan
akumulasi keuntungan yang dominan secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, median profit mencerminkan kualitas keuntungan
per transaksi, sedangkan total profit mencerminkan kontribusi
keseluruhan wilayah terhadap pendapatan perusahaan. Oleh karena itu,
untuk pengambilan keputusan strategis, perusahaan perlu mempertimbangkan
kedua aspek ini: negara bagian dengan median profit tinggi untuk menjaga
margin keuntungan, dan negara bagian dengan total profit besar untuk
mendorong volume dan pertumbuhan pasar.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis terhadap data Coffee Chain, diketahui
bahwa profit cabang secara signifikan dipengaruhi oleh dua faktor utama,
yaitu ukuran pasar (Market Size) dan lokasi geografis (State). Cabang
yang beroperasi di pasar besar (Major Market) cenderung menghasilkan
profit yang lebih tinggi dibandingkan yang berada di pasar kecil (Small
Market). Selain itu, terdapat perbedaan profit yang signifikan antar
negara bagian, dengan California, Illinois, dan New York menjadi wilayah
dengan performa tertinggi, baik dari segi total maupun median
profit.
Temuan ini menunjukkan bahwa faktor eksternal seperti potensi pasar
dan lokasi operasional berperan penting dalam keberhasilan finansial
suatu cabang. Oleh karena itu, beberapa langkah strategis dapat diambil.
Pertama, perusahaan sebaiknya memprioritaskan ekspansi ke wilayah dengan
karakteristik Major Market, karena potensi keuntungannya lebih besar.
Kedua, cabang di pasar kecil perlu dievaluasi lebih lanjut untuk
meningkatkan efisiensi operasional atau menyesuaikan strategi pemasaran.
Ketiga, wilayah dengan profit rendah seperti New Mexico dan New
Hampshire perlu ditinjau ulang keberlanjutannya, apakah masih layak
dipertahankan atau perlu dilakukan restrukturisasi.
Selain itu, negara bagian dengan profit tinggi dapat dijadikan pusat
penguatan strategi jangka panjang, misalnya melalui inovasi produk,
promosi intensif, atau pengembangan program loyalitas pelanggan. Hasil
studi ini juga menggarisbawahi pentingnya penggunaan data dalam
pengambilan keputusan bisnis yang lebih akurat dan tepat sasaran. Dengan
mempertimbangkan hasil analisis secara menyeluruh, Coffee Chain
diharapkan dapat meningkatkan profitabilitas dan daya saingnya secara
berkelanjutan.