Analisis Deskriptif Keuntungan pada Coffee Chain Tahun 2012-2013

Zulfan Aufa Dhiyaulhaq - M0723095

Case Method SIM

Daftar Isi: DESKRIPSI DATA UKURAN PEMUSATAN DATA - Rata-Rata - Median - Modus UKURAN PENYEBARAN DATA - Range - Varians dan Standar Deviasi - Jangkauan Antarkuartil & Simp. Kuartil VISUALISASI DATA DAN INTERPRETASI - Histogram - Boxplot - Dotplot

Deskripsi Data

Data profit merupakan data numerik yang mencerminkan keuntungan bersih yang diperoleh dari penjualan suatu produk dalam periode tertentu. Data ini biasanya diukur dalam satuan mata uang dan digunakan sebagai indikator kinerja keuangan suatu produk atau lini bisnis. Dalam hal ini, kita akan menganalisis data profit berdasarkan product dan product type pada dataset coffee chain.

Data profit tersebut dianalisis menggunakan salah satu metode statistika, yaitu analisis deskriptif, untuk mengevaluasi ukuran pemusatan dan penyebaran dari profit tiap produk dan jenis produk. Statistik deskriptif bertujuan untuk menggambarkan dan meringkas data dalam bentuk yang mudah dipahami. Melalui analisis ini, kita dapat memahami rata-rata profit, variasi antar produk, serta mengidentifikasi produk atau jenis produk yang paling menguntungkan maupun yang memiliki kontribusi paling kecil. Selain itu, visualisasi juga akan digunakan untuk mempermudah interpretasi data. Informasi ini berguna untuk memberikan gambaran tentang distribusi profit serta membantu pengambilan keputusan dalam strategi bisnis dan pengelolaan produk.

Package yang digunakan

library(readxl)
library(ggplot2)
library(rmarkdown)
library(knitr)
library(tinytex)

import data

data_cm <- read_excel("C:/Users/zulfa/Downloads/3. CM1 - Coffee Chain Datasets/3. CM1 - Coffee Chain Datasets.xlsx")

variabel yang digunakan

data_cm1 <- subset(data_cm, select = c(Product, Product_Type, Profit))
data_cm1
## # A tibble: 4,248 × 3
##    Product           Product_Type Profit
##    <chr>             <chr>         <dbl>
##  1 Amaretto          Coffee           94
##  2 Colombian         Coffee           68
##  3 Decaf Irish Cream Coffee          101
##  4 Green Tea         Tea              30
##  5 Caffe Mocha       Espresso         54
##  6 Decaf Espresso    Espresso         53
##  7 Chamomile         Herbal Tea       99
##  8 Lemon             Herbal Tea        0
##  9 Mint              Herbal Tea       33
## 10 Darjeeling        Tea              17
## # ℹ 4,238 more rows

Ukuran Pemusatan Data

Ukuran pemusatan data, atau yang sering disebut sebagai ukuran tendensi sentral, merupakan nilai yang dapat menggambarkan letak pusat dari sekelompok data. Ukuran ini bertujuan untuk memberikan representasi umum dari keseluruhan data dalam bentuk satu nilai yang paling mewakili. Dalam analisis ini, akan digunakan tiga ukuran utama, yaitu rata-rata (mean) sebagai nilai rata dari seluruh data, median sebagai nilai tengah yang membagi data menjadi dua bagian sama besar, dan modus sebagai nilai yang paling sering muncul dalam kumpulan data.

Rata-Rata

Rata-rata dilakukan dengan menjumlahkan seluruh nilai dalam kumpulan data, kemudian membaginya dengan jumlah sampel atau data yang tersedia. Ukuran ini memberikan gambaran umum mengenai nilai pusat dari data yang dianalisis. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata (mean) adalah sebagai berikut: \[\bar{x} = \frac{1}{n} \sum_{i=1}^{n} x_i\]

R menyediakan function untuk menghitung nilai rata-rata, yaitu function mean. berikut contoh perhitungan dengan function tersebut:

#Menghitung rata-rata profit setiap product type
product_type.avg <- aggregate(Profit ~ Product_Type, data_cm1, mean)
product_type.avg
##   Product_Type   Profit
## 1       Coffee 70.72254
## 2     Espresso 58.35034
## 3   Herbal Tea 59.89962
## 4          Tea 55.19375

Interpretasi

Produk Coffee memiliki rata-rata profit tertinggi (±70.72), menunjukkan bahwa secara umum produk ini memberikan keuntungan terbesar dibandingkan yang lain. Di sisi lain, Tea memiliki rata-rata profit terendah (±55.19), menandakan bahwa produk ini paling rendah kontribusinya terhadap keuntungan rata-rata. Espresso dan Herbal Tea berada di tengah, dengan profit yang cukup berimbang, meskipun Herbal Tea sedikit lebih tinggi.

Secara keseluruhan, Coffee dapat dianggap sebagai produk paling menguntungkan, sementara Tea berpotensi dipertimbangkan untuk evaluasi strategi penjualannya.

Median (Nilai Tengah)

Nilai median merupakan nilai tengah dari data yang telah diurutkan. Jika data ganjil, median merupakan data ke \(\frac{n+1}{2}\). Apabila banyak data genap, median merupakan rata-rata dari data ke \(\frac{n}{2}\) dan \(\frac{n}{2}+1\). R telah menyediakan function untuk menghitung median, yaitu function median. Berikut contoh perhitungan dengan menggunakan function tersebut:

# Hitung median Profit per Product Type
product_type_median <- aggregate(Profit ~ Product_Type, data_cm1, median)
product_type_median
##   Product_Type Profit
## 1       Coffee     39
## 2     Espresso     40
## 3   Herbal Tea     40
## 4          Tea     44

Interpretasi

Produk Tea memiliki median profit tertinggi (44), yang berarti setengah dari data profit-nya berada di atas 44. Ini menunjukkan bahwa meskipun rata-ratanya rendah (dari data sebelumnya), distribusi keuntungan Tea lebih condong ke nilai yang tinggi di tengah. Sebaliknya, Coffee memiliki median terendah (39), mengindikasikan bahwa setengah dari nilai profit-nya berada di bawah 39, meskipun rata-ratanya paling tinggi menandakan kemungkinan adanya nilai ekstrem tinggi (outlier) yang mendorong rata-rata naik.

Espresso dan Herbal Tea memiliki median yang sama (40), menunjukkan bahwa distribusi keuntungan mereka relatif simetris dan stabil di sekitar nilai tersebut.

Modus (Nilai yang Paling Sering Muncul)

Modus merupakan salah satu ukuran tendensi sentral (selain mean/rata-rata dan median) yang menunjukkan nilai yang paling sering muncul atau memiliki frekuensi tertinggi dalam sebuah data.

R tidak menyediakan function untuk menghitung modus Berikut contoh perhitungan dengan menggunakan function yang dibangun sendiri pada R:

#Menghitung Modus
modus <- function(x) {
  tab <- table(x)
  mode <- as.numeric(names(tab)[which.max(tab)])
  return(mode)}
modus.profit <- aggregate(Profit ~ Product_Type, data_cm1, modus)
colnames(modus.profit) <- c("Product Type", "modus Profit")
modus.profit
##   Product Type modus Profit
## 1       Coffee           24
## 2     Espresso           31
## 3   Herbal Tea           26
## 4          Tea           47

Interpretasi

Produk Tea memiliki modus tertinggi (47), artinya profit sebesar 47 paling sering terjadi, mencerminkan bahwa profit umum atau paling sering dicapai oleh Tea tergolong tinggi.

Produk Coffee, Espresso, dan Herbal Tea memiliki modus yang lebih rendah (masing-masing 24, 31, dan 26), menunjukkan bahwa keuntungan yang paling sering dicapai oleh ketiga produk ini lebih kecil dibandingkan Tea.

Produk Tea tidak hanya memiliki median tertinggi, tapi juga modus tertinggi, menandakan bahwa profit umumnya lebih tinggi dan sering tercapai. Sementara itu, Coffee memiliki modus profit terendah, mengindikasikan bahwa nilai profit yang paling umum terjadi relatif rendah meskipun rata-rata profit-nya tinggi.

Ukuran Penyebaran Data

Ukuran penyebaran data digunakan untuk mengetahui sejauh mana nilai-nilai dalam suatu kumpulan data tersebar dari nilai rata-ratanya. Ukuran ini penting untuk memahami tingkat variasi atau keragaman data yang dianalisis. Dalam bagian ini, akan dibahas beberapa ukuran penyebaran utama, yaitu jangkauan (range) yang menunjukkan selisih antara nilai maksimum dan minimum, ragam (variance) yang mengukur rata-rata kuadrat deviasi tiap nilai terhadap rata-rata, serta simpangan baku (standard deviation) yang merupakan akar kuadrat dari ragam dan memberikan ukuran sebaran dalam satuan yang sama dengan data aslinya.

Range (Jangkauan)

Range merupakan ukuran penyebaran yang paling sederhana, yaitu selisih antara nilai data terbesar dan nilai data terkecil. Nilai ini memberikan gambaran kasar mengenai seberapa lebar sebaran data. Adapun rumus untuk menghitung range adalah: \[R=X_{(n)}-X_{(1)}\]

Dalam R, tersedia fungsi bawaan untuk menghitung nilai maksimum dan minimum, yaitu range(). Selain itu, kita juga dapat menggunakan fungsi max() dan min() secara terpisah, atau membuat fungsi sendiri untuk menghitung range. Berikut contoh penggunaannya dalam R:

# Mencari min, max, dan range profit setiap product type
range.profit <- aggregate(Profit ~ Product_Type, data_cm1, function(x) c(min = min(x), max = max(x), range = max(x) - min(x)))
range.profit <- do.call(data.frame, range.profit)
print(range.profit)
##   Product_Type Profit.min Profit.max Profit.range
## 1       Coffee       -221        778          999
## 2     Espresso       -392        646         1038
## 3   Herbal Tea       -420        536          956
## 4          Tea       -638        362         1000

Interpretasi

Produk Espresso memiliki jangkauan profit terbesar (1038), menunjukkan variasi keuntungan dan kerugian yang paling luas, sehingga fluktuasi profitnya tinggi. Tea memiliki kerugian paling besar (profit minimum -638), menandakan risiko tertinggi meskipun jangkauannya hampir sama dengan produk lain. Sebaliknya, Herbal Tea memiliki jangkauan profit terkecil (956), mencerminkan variasi profit yang lebih sempit dan relatif stabil dibandingkan produk lainnya.

Varians dan Standar Deviasi

Varians adalah ukuran penyebaran data yang menunjukkan seberapa jauh nilai-nilai dalam suatu kumpulan data menyimpang dari nilai rata-ratanya. Varians dihitung sebagai rata-rata dari kuadrat selisih setiap data terhadap rata-rata. Ukuran ini berguna untuk menggambarkan tingkat keragaman dalam data, di mana semakin besar nilai varians, maka semakin besar pula penyebaran data dari rata-rata.

Adapun rumus varians populasi adalah: \[\sigma^2 = \sum_{i=1}^{N} \frac {(x_i - \mu)^2}{N}\]

Untuk sampel (bukan populasi penuh), rumus varians sedikit dimodifikasi menjadi:

\[s^2 = \sum_{i=1}^{n} \frac {(x_i - \bar{x})^2}{n-1}\]

Sedangkan standard deviasi atau simpangan baku merupakan akar kuadrat dari varians. Ukuran ini menunjukkan seberapa besar penyimpangan nilai-nilai data dari rata-ratanya dalam satuan yang sama dengan data aslinya. Standard deviasi memberikan informasi yang lebih intuitif dibanding varians karena nilainya berada pada skala yang sama dengan data.

Dalam R, tersedia fungsi bawaan untuk menghitung varians dan simpangan baku, yaitu var() dan sd(). Berikut contoh perhitungannya:

#Menghitung varians dan standar deviasi profit untuk setiap product type
var.sd.profit <- aggregate(Profit~Product_Type, data_cm1, function(x) c(var=var(x),sd=sd(x)))
col_names1<- c("Product Type", "Variance", "Standard Deviation")
var.sd.profit <- do.call(data.frame, var.sd.profit)
print(var.sd.profit)
##   Product_Type Profit.var Profit.sd
## 1       Coffee  14121.863 118.83545
## 2     Espresso   8323.011  91.23054
## 3   Herbal Tea   7286.714  85.36225
## 4          Tea  11914.880 109.15530

Interpretasi

Variansi dan simpangan baku mengukur tingkat penyebaran data profit terhadap nilai rata-rata.Produk Coffee memiliki simpangan baku tertinggi (±118.84), menunjukkan profitnya paling bervariasi atau tidak konsisten.Tea juga memiliki penyebaran profit yang besar (SD = 109.16), meskipun lebih kecil dari Coffee.Produk Herbal Tea memiliki simpangan baku terkecil (±85.36), artinya profitnya paling stabil dan dekat dengan nilai rata-rata.Nilai variansi sejalan dengan simpangan baku karena simpangan baku adalah akar dari variansi. Dapat disimpulkan bahwa produk Coffee dan Tea memiliki profit yang paling tidak stabil, sedangkan Herbal Tea dan Espresso cenderung lebih stabil dengan fluktuasi profit yang lebih kecil.

Jangkauan Antarkuartil dan Simpangan Kuartil

Jangkauan antarkuartil (Interquartile Range / IQR) merupakan selisih antara kuartil ketiga (Q3) dan kuartil pertama (Q1), yang menunjukkan sebaran data pada 50% tengah.

Simpangan kuartil atau jangkauan semikuartil adalah setengah dari jangkauan antarkuartil, dan berguna untuk menggambarkan penyebaran data di sekitar median.

Adapun rumus keduanya adalah: \[JAK=Q_3-Q_1\] \[Q_3= \frac{Q_3 - Q_1}{2}\]

R menyediakan fungsi bawaan untuk menghitung nilai kuartil, yaitu quantile(). Dengan menggunakan fungsi ini, kita dapat memperoleh nilai kuartil pertama (Q1​) dan kuartil ketiga (𝑄3), lalu menghitung jangkauan antar kuartil (IQR) dan simpangan kuartil menggunakan fungsi buatan sendiri.

Berikut contoh penggunaannya dalam R:

# Mencari kuartil 1, kuartil 3, jangkauan antarkuartil, dan simpangan kuartil
sum.kuartil <- aggregate(Profit~ Product_Type, data = data_cm1, 
          FUN = function(x) {
            Q1 <- quantile(x, probs = 0.25)
            Q3 <- quantile(x, probs = 0.75)
            IQR <- Q3 - Q1
            Quartile.deviation <- IQR / 2
            c(Q1, Q3, IQR, Quartile.deviation)
          })

sum.kuartil <- do.call(data.frame, sum.kuartil)
print(sum.kuartil)
##   Product_Type Profit.25. Profit.75. Profit.75..1 Profit.75..2
## 1       Coffee         17      91.00        74.00       37.000
## 2     Espresso         16      84.00        68.00       34.000
## 3   Herbal Tea         19      92.25        73.25       36.625
## 4          Tea         15     103.00        88.00       44.000

Interpretasi

Keempat jenis produk menunjukkan variasi profit yang berbeda di bagian tengah data. Tea memiliki simpangan kuartil tertinggi (44), menandakan penyebaran profitnya paling besar, sehingga fluktuasi keuntungannya lebih tinggi. Espresso memiliki simpangan kuartil terendah (34), yang berarti variasi profitnya paling kecil dan lebih konsisten. Coffee dan Herbal Tea berada di tengah, masing-masing dengan simpangan kuartil 37, menunjukkan penyebaran profit yang sedang. Data ini memberikan gambaran tentang stabilitas keuntungan antar jenis produk.

Visualisasi Data dan Interpretasi

Histogram

Histogram merupakan salah satu bentuk visualisasi data yang digunakan untuk menggambarkan distribusi frekuensi dari data numerik dalam bentuk grafik batang. Setiap batang dalam histogram menunjukkan jumlah data yang berada dalam suatu interval nilai tertentu. Dengan menggunakan histogram, kita dapat dengan mudah melihat pola distribusi data, apakah data tersebar secara merata, membentuk distribusi normal, atau condong ke arah tertentu. Histogram juga membantu dalam mengidentifikasi adanya pencilan (outlier) atau konsentrasi nilai pada rentang tertentu. Tujuan utama dari penggunaan histogram dalam analisis data adalah untuk mempermudah interpretasi pola penyebaran data secara visual, sehingga dapat memberikan wawasan awal terhadap karakteristik umum dari data yang dianalisis.

Berikut merupakan histogram rata-rata profit setiap product type:

# Membuat histogram tiap product type
ggplot(data = product_type.avg, aes(x = Product_Type, y = Profit, fill = Product_Type)) +
  geom_bar(stat = "identity") + geom_text(aes(label = round(Profit, 2)), vjust = -0.5, color = "black") +
  labs(x = "Product_Type", y = "Mean Profit") +
  ggtitle("Histogram of Rata-Rata Profit Tiap Product Type") +
  theme(axis.text.x = element_text(angle = 45, hjust = 1)) +
  scale_fill_discrete(name = "Product_Type")

Interpretasi

  • Coffee memiliki rata-rata profit tertinggi dibandingkan jenis produk lainnya, yaitu sekitar 68. Hal ini menunjukkan bahwa produk kopi merupakan kontributor utama terhadap profit dalam rantai bisnis coffee chain tersebut.

  • Espresso memiliki rata-rata profit sebesar 58.35. Meskipun lebih rendah dari Coffee, angka ini menunjukkan bahwa produk espresso juga memberikan kontribusi profit yang cukup signifikan.

  • Herbal Tea memiliki rata-rata profit sebesar 59.9, sedikit lebih tinggi dari Espresso, yang menunjukkan bahwa meskipun termasuk jenis teh, varian ini memiliki potensi profit yang baik dan bahkan melebihi Espresso.

  • Tea (teh biasa) mencatatkan rata-rata profit terendah di antara semua jenis produk, yaitu sebesar 55.19. Hal ini menunjukkan bahwa produk teh memberikan kontribusi profit paling rendah, yang mungkin disebabkan oleh harga jual yang lebih rendah atau margin keuntungan yang kecil.

Secara keseluruhan, visualisasi ini membantu menunjukkan bahwa produk kopi mendominasi profit, sementara produk teh relatif memberikan margin keuntungan yang lebih rendah, sehingga informasi ini dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam pengelolaan portofolio produk.

Boxplot

Boxplot atau diagram kotak adalah salah satu bentuk visualisasi statistik yang digunakan untuk menggambarkan penyebaran dan sebaran data dalam satu grafik ringkas. Boxplot menunjukkan lima nilai penting dari suatu kumpulan data, yaitu nilai minimum, kuartil pertama (Q1), median (Q2), kuartil ketiga (Q3), dan nilai maksimum, serta sering kali menampilkan outlier atau pencilan sebagai titik-titik terpisah. Bentuk visualisasi ini sangat berguna untuk memahami persebaran data, mendeteksi adanya asimetri, serta mengidentifikasi apakah terdapat pencilan dalam data. Dengan membandingkan boxplot antar kategori, kita dapat dengan mudah melihat perbedaan distribusi data dan konsistensinya, menjadikannya alat yang efektif dalam eksplorasi data dan analisis perbandingan antar kelompok.

Berikut adalah boxplot yang terdiri dari nilai minimal dan maksimal, Q1 dan Q3, median, jangkauan antarkuartil:

ggplot(data_cm1, aes(x = Product_Type, y = Profit ,color = Product_Type)) +
  geom_boxplot() +
  labs(x = "Product_Type", y = "Profit", color = "Product_Type") +
  ggtitle("Boxplot Profit Tiap Product Type")

Interpretasi

  • Boxplot pada grafik menunjukkan persebaran profit untuk masing-masing jenis produk: Coffee, Espresso, Herbal Tea, dan Tea.

  • Coffee memiliki distribusi data yang tidak simetris dan cenderung miring ke kanan (positif skewness). Hal ini terlihat dari garis median yang berada di bawah tengah kotak dan whisker atas yang lebih panjang, serta banyaknya outlier di bagian atas. Ini mengindikasikan bahwa terdapat beberapa transaksi dengan profit yang sangat tinggi pada produk Coffee.

  • Espresso memperlihatkan distribusi yang cenderung miring ke kiri (negatif skewness). Garis median berada di atas tengah kotak, whisker bawah lebih panjang, dan terdapat banyak outlier di bagian bawah. Artinya, terdapat sejumlah transaksi dengan profit yang sangat rendah atau bahkan negatif pada produk ini.

  • Herbal Tea menunjukkan data yang relatif simetris, dengan garis median berada hampir di tengah kotak, dan panjang whisker atas serta bawah yang hampir seimbang. Namun, tetap terdapat beberapa outlier, baik di atas maupun di bawah, yang menunjukkan adanya variasi ekstrem pada profit produk ini.

  • Tea memiliki distribusi yang juga cenderung simetris, namun dengan jangkauan antar kuartil yang lebih lebar dibandingkan Espresso dan Herbal Tea. Median berada di tengah kotak dan whisker atas serta bawah hampir seimbang, meskipun terdapat beberapa outlier ekstrem terutama di sisi bawah.

Secara keseluruhan, produk Coffee dan Espresso menunjukkan variasi profit yang lebih ekstrem (terlihat dari banyaknya outlier), sementara Herbal Tea dan Tea lebih stabil dalam hal distribusi profit. Median profit tertinggi terlihat pada Herbal Tea, sedangkan yang paling rendah adalah pada Espresso.

Dotplot

Dotplot adalah salah satu bentuk visualisasi data yang digunakan untuk menunjukkan distribusi frekuensi dari suatu variabel secara sederhana. Setiap titik pada dotplot mewakili satu data atau sekelompok data yang memiliki nilai yang sama. Dotplot cocok digunakan untuk data kuantitatif atau data kategorik dengan jumlah pengamatan yang tidak terlalu besar, sehingga pola distribusinya mudah diamati.

Tujuan utama penggunaan dotplot adalah untuk memvisualisasikan sebaran data dan mendeteksi pola seperti pemusatan, penyebaran, serta kemungkinan adanya pencilan (outlier). Dibandingkan histogram atau boxplot, dotplot memberikan tampilan yang lebih terperinci terhadap nilai individual karena tidak mengelompokkan data ke dalam kelas-kelas tertentu.

Dalam konteks analisis data di R, dotplot sering digunakan untuk mengevaluasi persebaran nilai suatu variabel berdasarkan kategori tertentu, dan dapat dikombinasikan dengan warna atau posisi untuk membandingkan antar grup.

Berikut merupakan dotplot profit setiap product type

ggplot(data_cm1, aes(x = Profit, y = Product_Type, color = Product_Type)) +
  geom_point() +
  labs(x = "Profit", y = "Product Type", color = "Product Type") +
  ggtitle("Dot Plot Angka Harapan Hidup Setiap Region")

Interpretasi

  • Produk Coffee memiliki persebaran profit yang cukup luas, mulai dari sekitar -500 hingga lebih dari 800. Hal ini menunjukkan adanya variabilitas profit yang tinggi, dengan beberapa titik yang ekstrem (kemungkinan outlier) di kedua arah (negatif dan positif).

  • Produk Espresso menunjukkan persebaran yang lebih sempit dibanding Coffee, dengan sebagian besar titik terkonsentrasi di sekitar 0 hingga 100. Ini mengindikasikan profit yang relatif lebih stabil, meskipun tetap terdapat nilai negatif.

  • Produk Herbal Tea memiliki pola persebaran yang mirip dengan Espresso, namun cenderung sedikit lebih tersebar, dengan nilai profit dari sekitar -200 hingga 400. Ini menunjukkan tingkat profit yang bervariasi namun masih moderat.

  • Produk Tea memiliki sebaran yang agak lebar, berkisar dari sekitar -400 hingga 400. Namun, titik-titiknya terlihat lebih merata di sepanjang sumbu X, menunjukkan bahwa profit produk ini bervariasi cukup besar tanpa konsentrasi kuat di satu nilai tertentu.