Load Dataset
podes24 <- read_sav("Podes 2024.sav")
sakernas24 <- read_sav("Merged DBF.sav")
kor_rt <- read.dbf("53_ssn_202403_kor_rt.dbf")
kp3_rt <- read.dbf("53_ssn_202403_kp_blok43.dbf")
Distribusi PDRB Sumba Tengah menunjukkan bahwa sektor pertanian mendominasi ekonomi daerah, dengan kontribusi sekitar 42% dari total PDRB dalam tiga tahun terakhir. Dibandingkan dengan Kota Kupang (hanya 2,5%) dan Flores Timur (sekitar 29%), ketergantungan Sumba Tengah pada pertanian jauh lebih tinggi.
Dominasi sektor pertanian ini menunjukkan bahwa perekonomian daerah sangat bergantung pada aktivitas pertanian, baik dalam bentuk pertanian tanaman pangan, perkebunan, maupun peternakan. Namun, besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB belum tentu mencerminkan kesejahteraan penduduk, terutama jika tidak diiringi dengan produktivitas tenaga kerja yang memadai. Selanjutnya akan dilihat struktur ketenagakerjaan di Sumba Tengah berdasarkan Hasil Sakernas Agustus 2024.
Dari garfik diatas, terlihat bahwa 61,1 % tenaga kerja di Sumba Tengah bekerja di sektor pertanian. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk menggantungkan mata pencahariannya pada sektor ini, yang juga menjadi sektor dominan dalam struktur ekonomi daerah.
Dapat kita lihat bahwa 99,2% tenaga kerja di sektor pertanian di Sumba Tengah merupakan pekerja informal. Hal ini tidak mengherankan mengingat sektor pertanian secara umum didominasi oleh sistem kerja informal, di mana pekerja cenderung tidak memiliki kontrak kerja yang jelas, perlindungan sosial yang memadai, atau akses ke tunjangan ketenagakerjaan. Tingginya proporsi pekerja informal ini menjadi salah satu indikator rendahnya tingkat jaminan sosial dan kestabilan ekonomi bagi tenaga kerja di sektor ini.
Selain itu, jika dilihat lebih dalam, sebanyak 56,9% tenaga kerja di sektor pertanian tergolong sebagai pekerja “Berusaha”, sedangkan 43,1% merupakan Buruh & Pekerja Keluarga. Menariknya, tenaga kerja yang berstatus sebagai Buruh & Pekerja Keluarga mencakup hampir setengah dari total tenaga kerja sektor pertanian. Kelompok ini lebih rentan terhadap ketidakpastian pendapatan karena bergantung pada sistem kerja upahan atau bekerja dalam usaha keluarga tanpa memperoleh upah. Struktur tenaga kerja seperti ini berpotensi memengaruhi kesejahteraan rumah tangga serta akses mereka terhadap perlindungan sosial dan program bantuan pemerintah.
Berdasarkan gambar diatas, rata-rata upah pekerja sektor pertanian di Sumba Tengah untuk Pekerja berusaha sebesar Rp. 979,041 sedangkan buruh/pekerja bebas pertanian sebesar Rp. 1,708,838.Dengan kata lain, pekerja berusaha memiliki rata-rata upah yang lebih rendah dibandingkan karyawan/buruh/pekerja bebas pertanian.
Selain itu, jika dibandingkan dengan Upah Minimum Regional (UMR) Sumba Tengah tahun 2024 yang sebesar Rp 2,186,826, maka rata-rata upah pekerja pertanian masih berada di bawah standar ini. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas pekerja pertanian—terutama buruh dan pekerja informal—masih menghadapi tantangan dalam memperoleh penghasilan yang layak dan susah keluar dari lingkaran kemiskinan.
## # A tibble: 2 × 4
## education_group total_unemployed total_labor_force TPT
## <chr> <dbl> <dbl> <dbl>
## 1 < SMA 237 28877 0.821
## 2 >= SMA 657 18313 3.59
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk kelompok lulusan di bawah SMA adalah sebesar 0,82, sedangkan untuk kelompok lulusan SMA ke atas mencapai 3,59. Angka ini menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok tersebut.
Peningkatan TPT yang cukup tinggi pada lulusan SMA/Universitas mengindikasikan bahwa meskipun mereka memiliki kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi, lapangan kerja yang tersedia bagi tenaga terampil terbatas. Kondisi ini dapat mencerminkan adanya mismatch antara keterampilan yang dimiliki oleh lulusan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang, sehingga kemampuan dan keahlian mereka tidak sepenuhnya terserap oleh pasar kerja. Selain itu, situasi ini juga bisa mengindikasikan kurangnya pertumbuhan lapangan usaha yang mampu menyerap tenaga kerja terampil.
Akses terhadap infrastruktur dasar seperti listrik memiliki dampak signifikan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Podes 2024, Sumba Tengah menempati menempati posisi ke-3 dalam peringkat persentase rumah tangga yang tidak menggunakan listrik. Meskipun bukan yang tertinggi, posisi ini tetap mengindikasikan bahwa masalah akses listrik masih cukup signifikan di wilayah tersebut yang mana berdampak pada produktivitas ekonomi, pendidikan dan akses informasi, kesehatan dan kualitas hidup.
## # A tibble: 21 × 3
## nama_kab tanpa_listrik persen_tanpa_listrik
## <chr> <dbl> <dbl>
## 1 SUMBA BARAT DAYA 28031 30.1
## 2 TIMOR TENGAH SELATAN 14654 11.0
## 3 SUMBA TENGAH 2141 10.4
## 4 SUMBA BARAT 2863 8.57
## 5 MANGGARAI TIMUR 6818 8.26
## 6 MALAKA 3733 6.77
## 7 MANGGARAI BARAT 4049 5.35
## 8 SIKKA 4736 5.03
## 9 SUMBA TIMUR 2963 4.14
## 10 ROTE NDAO 1538 3.92
## # ℹ 11 more rows
## # A tibble: 23 × 2
## Kode_Kab persen_sanitasi_layak
## <chr> <dbl>
## 1 16 52.5
## 2 17 52.6
## 3 19 55.8
## 4 1 60.8
## 5 2 65.9
## 6 13 66.3
## 7 4 70.7
## 8 3 73.3
## 9 21 73.7
## 10 NTT 77.7
## # ℹ 13 more rows
Berdasarkan Susenas Maret 2024, meskipun sanitasi layak di NTT secara keseluruhan mungkin sudah cukup tinggi(77,66%), di Sumba Tengah hanya sebesar 52,51%, menjadikannya kabupaten dengan akses sanitasi layak yang terendah di antara kabupaten di provinsi NTT.
## # A tibble: 23 × 2
## `Kode Kabupaten` `Persentase Air Minum Layak (%)`
## <chr> <dbl>
## 1 16 59.6
## 2 20 73.0
## 3 2 73.3
## 4 4 75.5
## 5 14 82.5
## 6 1 84
## 7 17 86.1
## 8 6 86.4
## 9 7 87.3
## 10 19 88.2
## # ℹ 13 more rows
Berdasarkan Susenas Maret 2024, meskipun akses terhadap air minum layak di NTT secara keseluruhan sebesar 88,55%, di Sumba Tengah hanya sebesar 59,59%, menjadikannya kabupaten dengan akses air minum layak yang terendah di antara kabupaten di provinsi NTT.
## # A tibble: 23 × 2
## `Nama Kabupaten` `Persentase Hunian Layak (%)`
## <chr> <dbl>
## 1 16 23.2
## 2 1 27.3
## 3 4 31.3
## 4 17 32.1
## 5 2 33.4
## 6 6 35.0
## 7 20 36.2
## 8 10 37.7
## 9 19 39.0
## 10 21 41.5
## # ℹ 13 more rows
Berdasarkan Susenas Maret 2024, Sumba Tengah merupakan kabupaten dengan persentase akses tempat tinggal atau hunian layak terendah se-NTT sebesar 23,20 persen.
## # A tibble: 22 × 4
## r102 total tidak_ada persen_tidak_ada
## <chr> <int> <dbl> <dbl>
## 1 71 51 0 0
## 2 05 193 4 2.07
## 3 18 113 4 3.54
## 4 03 177 7 3.95
## 5 08 151 7 4.64
## 6 06 81 4 4.94
## 7 20 63 4 6.35
## 8 16 65 5 7.69
## 9 09 250 22 8.8
## 10 10 194 20 10.3
## # ℹ 12 more rows
| Kabupaten/Kota | IPM |
|---|---|
| Sabu Raijua | 58.89 |
| Malaka | 62.06 |
| Alor | 62.99 |
| Manggarai Timur | 63.24 |
| Sumba Tengah | 63.48 |
| Timor Tengah Selatan | 63.58 |
| Sumba Barat Daya | 63.74 |
| Belu | 63.83 |
| Rote Ndao | 64.00 |
| Timor Tengah Utara | 65.16 |
| Sumba Barat | 65.22 |
| Flores Timur | 65.79 |
| Manggarai Barat | 65.81 |
| Kupang | 65.82 |
| Lembata | 66.12 |
| Manggarai | 66.42 |
| Nusa Tenggara Timur | 66.68 |
| Sikka | 66.89 |
| Sumba Timur | 67.05 |
| Nagekeo | 67.07 |
| Ende | 68.63 |
| Ngada | 69.14 |
| Kota Kupang | 80.62 |
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Sumba Tengah tercatat sebesar 63,48, menempatkannya di urutan kelima terendah di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
## # A tibble: 22 × 2
## R102 mean_kalori
## <int> <dbl>
## 1 14 1623.
## 2 8 1660.
## 3 7 1698.
## 4 18 1705.
## 5 3 1794.
## 6 1 1796.
## 7 71 1818.
## 8 17 1848.
## 9 10 1888.
## 10 4 1906.
## # ℹ 12 more rows
## # A tibble: 22 × 2
## R102 mean_protein
## <int> <dbl>
## 1 14 44.7
## 2 18 47.2
## 3 8 48.0
## 4 4 50.7
## 5 3 50.7
## 6 7 51.1
## 7 1 51.4
## 8 17 51.7
## 9 11 52.7
## 10 6 55.0
## # ℹ 12 more rows
## # A tibble: 22 × 2
## R102 mean_karbo
## <int> <dbl>
## 1 71 275.
## 2 14 279.
## 3 7 284.
## 4 8 285.
## 5 18 294.
## 6 3 301.
## 7 1 309.
## 8 10 317.
## 9 6 321.
## 10 17 323.
## # ℹ 12 more rows