Tugas Pertemuan 4, STA1222-Rancangan Percobaan, IPB University
Link RPubs: http://rpubs.com/ali1618/1276662
Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan harga barang dan jasa. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) untuk menganalisis bagaimana harga barang dan jasa mempengaruhi inflasi di Sumatera Utara. Data yang digunakan mencakup delapan kelompok barang dan jasa yang diklasifikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk periode Januari hingga Juni 2023.
Metode RAKL diterapkan untuk menguji pengaruh kelompok harga terhadap inflasi, dengan melakukan uji asumsi untuk memastikan validitas model yang digunakan. Hasil analisis ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang dinamika inflasi dan menjadi referensi bagi penelitian lebih lanjut terkait kebijakan ekonomi di Sumatera Utara.
Referensi
Sitorus, Y., Saragih, S.D., Simamora, D.S., &
Berasa, W.S.S. (2024). Pengaruh Rancangan Acak Kelompok Lengkap
(RAKL) Pada Pengaruh Harga Barang Dan Jasa (Studi Kasus: Pematang
Siantar). Interdisciplinary Explorations in Research Journal,
2(3), 1455-1473. https://doi.org/10.62976/ierj.v2i3.721
data <- data.frame(
Bulan = rep(c("Jan", "Feb", "Mar", "Apr", "Mei", "Jun"), 8),
Perlakuan = rep(c("Bahan Makanan", "Makanan Jadi", "Perumahan", "Sandang", "Kesehatan", "Pendidikan", "Transport", "Umum"), each = 6),
Inflasi = c(
2.20, -0.58, 0.69, -0.94, 0.30, 1.62,
2.17, -0.71, -1.04, -0.81, 1.02, 1.39,
0.68, 0.31, 0.32, -0.17, 0.29, 0.05,
0.26, 0.28, 0.00, 0.35, 0.00, 0.00,
0.00, 0.00, 1.10, 0.00, 0.30, -0.04,
0.00, 0.30, 0.21, 0.53, 0.00, 0.00,
-0.29, 0.00, 0.13, 0.22, 0.17, -0.22,
0.87, 2.15, 0.08, 0.01, 0.02, 0.01)
)
data$Perlakuan <- as.factor(data$Perlakuan)
data$Bulan <- as.factor(data$Bulan)
model <- aov(Inflasi ~ Bulan + Perlakuan, data = data)
residuals <- model$residualspar(mfrow = c(1,2))
hist(residuals, main="Histogram Residual", col="lightblue", border="black")
qqnorm(residuals); qqline(residuals, col="red")
Uji Normalitas Residual Secara Visual:
Histogram residual
menunjukkan distribusi yang mendekati normal, meskipun sedikit condong
ke kiri.
Q-Q plot menunjukkan bahwa sebagian besar titik mengikuti
garis diagonal, tetapi ada sedikit penyimpangan di ekor kanan dan
kiri.
Kesimpulan:
Secara subjektif, residual dapat dianggap
mendekati normal, tetapi ada beberapa penyimpangan
kecil di bagian ekstrem.
Untuk kepastian, uji normalitas formal
seperti Shapiro-Wilk atau
Kolmogorov-Smirnov bisa digunakan.
shapiro_results <- shapiro.test(residuals)
ks_results <- ks.test(residuals, "pnorm", mean(residuals), sd(residuals))
lilliefors_results <- lillie.test(residuals)
jarque_bera_results <- jarque.bera.test(residuals)
anderson_darling_results <- ad.test(residuals)
list(Shapiro = shapiro_results, Kolmogorov = ks_results,
Lilliefors = lilliefors_results, Jarque_Bera = jarque_bera_results,
Anderson_Darling = anderson_darling_results)## $Shapiro
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: residuals
## W = 0.97012, p-value = 0.256
##
##
## $Kolmogorov
##
## Exact one-sample Kolmogorov-Smirnov test
##
## data: residuals
## D = 0.15146, p-value = 0.1994
## alternative hypothesis: two-sided
##
##
## $Lilliefors
##
## Lilliefors (Kolmogorov-Smirnov) normality test
##
## data: residuals
## D = 0.15146, p-value = 0.007584
##
##
## $Jarque_Bera
##
## Jarque Bera Test
##
## data: residuals
## X-squared = 1.5366, df = 2, p-value = 0.4638
##
##
## $Anderson_Darling
##
## Anderson-Darling normality test
##
## data: residuals
## A = 0.6128, p-value = 0.1048
Hasil Uji Normalitas Residual:
Shapiro-Wilk: p = 0.256 (tidak
menolak H0, normalitas terpenuhi)
Kolmogorov-Smirnov: p = 0.1994
(tidak menolak H0, normalitas terpenuhi)
Lilliefors: p = 0.007584
(menolak H0, normalitas tidak terpenuhi)
Jarque-Bera: p = 0.4638
(tidak menolak H0, normalitas terpenuhi)
Anderson-Darling: p =
0.1048 (tidak menolak H0, normalitas terpenuhi)
Kesimpulan: Mayoritas uji menunjukkan residual tidak berbeda
signifikan dari distribusi normal.
Namun, uji Lilliefors
memberikan hasil signifikan (p < 0.05), yang berarti ada indikasi
sedikit penyimpangan.
Secara keseluruhan,
residual dapat dianggap cukup normal, dan asumsi
normalitas masih layak digunakan dalam analisis lebih
lanjut.
##
## One Sample t-test
##
## data: residuals
## t = 4.5443e-16, df = 47, p-value = 1
## alternative hypothesis: true mean is not equal to 0
## 95 percent confidence interval:
## -0.1868644 0.1868644
## sample estimates:
## mean of x
## 4.221048e-17
Hasil Uji t (Nilai Harapan Sisaan = 0):
t = 4.5443e-16, df =
47, p-value = 1
CI 95%: [-0.1868644, 0.1868644]
Rata-rata
residual: 4.221048e-17 (mendekati 0)
Kesimpulan:
Dengan p-value = 1, kita tidak menolak
H0, yang berarti rata-rata residual tidak berbeda
secara signifikan dari nol.
Interval kepercayaan juga
mencakup nol, memperkuat bahwa harapan sisaan = 0
terpenuhi.
Tidak ada indikasi bias sistematis dalam
model.
Uji Homoskedastisitas Secara Visual:
- Titik-titik residual
tersebar cukup random di sekitar garis nol, tetapi ada pola sedikit
melengkung.
- Tidak ada pola funnel (mengembang/mengerucut) yang
mencolok, tetapi ada beberapa outlier (misal, titik 44, 7, dan 9).
- Garis merah (loess smooth) menunjukkan sedikit pola non-linear.
Kesimpulan:
Secara subjektif, homoskedastisitas cukup
terpenuhi, namun ada sedikit indikasi pola melengkung yang bisa
menunjukkan heteroskedastisitas ringan.
Untuk kepastian lebih
lanjut, perlu dicek dengan uji formal seperti Bartlett, Levene,
atau Breusch-Pagan.
bartlett_results_Bulan <- bartlett.test(Inflasi ~ Bulan, data = data)
bartlett_results_Perlakuan <- bartlett.test(Inflasi ~ Perlakuan, data = data)
hartley_results_Bulan <- hartleyTest(Inflasi ~ Bulan, data = data)
hartley_results_Perlakuan <- hartleyTest(Inflasi ~ Perlakuan, data = data)
levene_results_Bulan <- leveneTest(Inflasi ~ Bulan, data = data)
levene_results_Perlakuan <- leveneTest(Inflasi ~ Perlakuan, data = data)
bp_results <- bptest(lm(Inflasi ~ Bulan + Perlakuan, data = data))
list(
Bartlett_Bulan = bartlett_results_Bulan,
Bartlett_Perlakuan = bartlett_results_Perlakuan,
Hartley_Bulan = hartley_results_Bulan,
Hartley_Perlakuan = hartley_results_Perlakuan,
Levene_Bulan = levene_results_Bulan,
Levene_Perlakuan = levene_results_Perlakuan,
Breusch_Pagan = bp_results
)## $Bartlett_Bulan
##
## Bartlett test of homogeneity of variances
##
## data: Inflasi by Bulan
## Bartlett's K-squared = 8.317, df = 5, p-value = 0.1396
##
##
## $Bartlett_Perlakuan
##
## Bartlett test of homogeneity of variances
##
## data: Inflasi by Perlakuan
## Bartlett's K-squared = 39.619, df = 7, p-value = 1.489e-06
##
##
## $Hartley_Bulan
##
## Hartley's maximum F-ratio test of homogeneity of variances
##
## data: Inflasi by Bulan
## F Max = 8.4127, df = 7, k = 6, p-value = 0.09988
##
##
## $Hartley_Perlakuan
##
## Hartley's maximum F-ratio test of homogeneity of variances
##
## data: Inflasi by Perlakuan
## F Max = 67.724, df = 5, k = 8, p-value = 0.003909
##
##
## $Levene_Bulan
## Levene's Test for Homogeneity of Variance (center = median)
## Df F value Pr(>F)
## group 5 0.9148 0.4808
## 42
##
## $Levene_Perlakuan
## Levene's Test for Homogeneity of Variance (center = median)
## Df F value Pr(>F)
## group 7 5.1159 0.0003251 ***
## 40
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## $Breusch_Pagan
##
## studentized Breusch-Pagan test
##
## data: lm(Inflasi ~ Bulan + Perlakuan, data = data)
## BP = 21.881, df = 12, p-value = 0.03887
Hasil Uji Homoskedastisitas:
Bartlett (Bulan): p = 0.1396
(tidak signifikan, varians homogen)
Bartlett (Perlakuan): p =
1.489e-06 (signifikan, varians tidak homogen)
Hartley (Bulan): p =
0.09988 (tidak signifikan, varians homogen)
Hartley (Perlakuan): p
= 0.003909 (signifikan, varians tidak homogen)
Levene (Bulan): p =
0.4808 (tidak signifikan, varians homogen)
Levene (Perlakuan): p =
0.0003251 (signifikan, varians tidak homogen)
Breusch-Pagan: p =
0.03887 (signifikan, indikasi heteroskedastisitas)
Kesimpulan:
- Untuk Bulan, semua uji
menunjukkan homoskedastisitas terpenuhi.
- Untuk
Perlakuan, semua uji menunjukkan
heteroskedastisitas (varians tidak homogen).
-
Uji Breusch-Pagan juga menunjukkan indikasi heteroskedastisitas
global (p = 0.03887).
par(mfrow = c(1,3))
plot(residuals, type="o", main="Plot Sisaan vs Order")
acf(residuals, main="ACF Plot")
pacf(residuals, main="PACF Plot")
Uji Independensi Secara Visual:
1. Plot Sisaan vs Order:
-
Tidak terlihat pola jelas atau tren tertentu.
- Sisaan menyebar
secara acak, mengindikasikan tidak ada autokorelasi yang
kuat.
2. ACF Plot:
- Sebagian besar lag berada
dalam batas kritis (garis biru).
- Tidak ada pola yang jelas dalam
ACF, mengindikasikan autokorelasi lemah.
3. PACF
Plot:
- Tidak ada lag signifikan di luar batas kritis.
-
Tidak menunjukkan pola autoregresif yang jelas.
Kesimpulan:
Secara subjektif, tidak ada indikasi kuat
adanya autokorelasi dalam residual.
Asumsi independensi
kemungkinan besar terpenuhi, tetapi perlu dikonfirmasi
dengan uji Durbin-Watson.
##
## Durbin-Watson test
##
## data: model
## DW = 1.8135, p-value = 0.05467
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0
Hasil Uji Independensi (Durbin-Watson):
DW = 1.8135, p-value =
0.05467 (tidak signifikan, residual independen)
Kesimpulan:
- Nilai DW mendekati 2, yang
mengindikasikan autokorelasi rendah atau tidak ada autokorelasi
signifikan.
- p-value = 0.05467, sedikit di atas 0.05,
menunjukkan bahwa tidak cukup bukti untuk menolak H0
(residual bersifat independen).
Hasil Uji Keaditifan (Plot Interaksi):
- Garis tidak sejajar
menunjukkan adanya interaksi antara faktor Bulan dan
Perlakuan.
- Pola yang berubah-ubah dan saling
bersilangan mengindikasikan bahwa efek perlakuan tidak konstan
di semua bulan.
- Variasi antar bulan cukup signifikan,
terutama pada kategori Bahan Makanan, Pendidikan, dan
Umum.
Kesimpulan:
Ada indikasi pelanggaran asumsi aditivitas, karena
interaksi antara bulan dan perlakuan tampak cukup berpengaruh.
Namun, untuk kepastian lebih lanjut, perlu dikonfirmasi dengan uji
formal seperti Tukey’s test for additivity.
modelWide <- dcast(data, Bulan ~ Perlakuan, value.var = "Inflasi")
Y <- as.matrix(modelWide[-1])
tukey_additivity_results <- tukey.test(Y, alpha = 0.05)
tukey_additivity_results##
## Tukey test on 5% alpha-level:
##
## Test statistic: 10.61
## Critival value: 4.13
## The additivity hypothesis was rejected.
Hasil Tukey’s Test for Additivity:
- Test Statistic = 10.61,
Critical Value = 4.13
- Hipotesis aditivitas
ditolak (pada tingkat signifikansi 5%).
Kesimpulan:
- Asumsi aditivitas tidak
terpenuhi.
- Ada interaksi signifikan antara
faktor Bulan dan Perlakuan, yang berarti efek perlakuan berbeda
tergantung pada bulan.
- Model yang hanya mengasumsikan efek utama
(tanpa interaksi) tidak cukup akurat.