Kebahagiaan merupakan sebuah konsep psikologis yang kompleks dan telah menjadi fokus perhatian lintas disiplin ilmu dalam beberapa dekade terakhir. Konsep ini tidak hanya menarik minat para filsuf, tetapi juga para ilmuwan sosial, psikolog, dan ekonom. Seiring dengan perkembangan zaman, minat untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan individu dan masyarakat semakin meningkat.
Mengukur kebahagiaan merupakan tantangan yang kompleks, namun kemajuan dalam bidang ilmu sosial telah memungkinkan kita untuk mengembangkan alat lebih andal untuk mengukur tingkat kebahagiaan subjektif (Subjective Well-being). Salah satu upaya yang paling signifikan dalam hal ini adalah World Happiness Report yang diterbitkan secara tahunan oleh Sustainable Development Solutions Network (SDSN). Laporan ini menyajikan gambaran lengkap tentang tingkat kebahagiaan di berbagai negara, dengan mempertimbangkan berbagai faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan (Helliwell, Layard, & Sachs, 2023).
Analisis faktor adalah teknik statistika multivariat yang digunakan untuk mengidentifikasi variabel laten (faktor) yang mendasari sejumlah besar variabel observasi. Penelitian ini menggunakan analisis faktor untuk mengidentifikasi faktor-faktor utama yang mempengaruhi tingkat kebahagiaan yang dilaporkan dalam World Happiness Report. Artinya, analisis faktor akan membantu kita menyederhanakan data yang kompleks dan mengungkap struktur laten (faktor) di balik tingkat kebahagiaan (Field, 2018).
Data yang digunakan pada analisis ini adalah data sekunder faktor-faktor Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tingkat Kebahagiaan di Berbagai Negara pada tahun 2019 yang diperoleh dari World Happiness Report melalui website kaggle. Terdapat total 156 data negara-negara di dunia dengan 6 variabel dengan rincian sebagai berikut:
\[ x_1 = {\text{PDB per Kapita}}\\ x_2 = {\text{Dukungan Sosial}}\\ x_3 = {\text{Harapan Hidup Sehat}}\\ x_4 = {\text{Kebebasan untuk Membuat Pilihan Hidup}}\\ x_5 = {\text{Kedermawanan}}\\ x_6 = {\text{Persepsi tentang Korupsi}} \]
Berdasarkan uraian latar belakang dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kebahagiaan di berbagai negara?
Apa faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi tingkat kebahagiaan di berbagai negara?
Tujuan dari Penelitian ini adalah:
Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kebahagiaan di berbagai negara?
Mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat kebahagiaan di berbagai negara?
Analisis faktor merupakan teknik statistik yang ampuh untuk menyederhanakan data dengan banyak variabel. Metode ini dapat menggabungkan sejumlah variabel menjadi beberapa faktor baru yang lebih sedikit. Faktor-faktor baru ini kemudian dapat mewakili keseluruhan informasi yang terkandung dalam variabel asli (Williams dkk., 2010). Berikut merupakan model umum dari analisis faktor:
\[ x_1 = \lambda_{11} f_1 + \lambda_{12} f_2 + \dots + \lambda_{1k} f_k + u_1 \] \[ x_2 = \lambda_{21} f_1 + \lambda_{22} f_2 + \dots + \lambda_{2k} f_k + u_2 \] \[ \vdots \] \[ x_q = \lambda_{q1} f_1 + \lambda_{q2} f_2 + \dots + \lambda_{qk} f_k + u_q \]
Keterangan:
Model analisis faktor menyiratkan bahwa varians variabel teramati \(x_i\) dapat diperoleh melalui perhitungan:
\[ \sigma^2_i = \sum_{j=1}^{k} \lambda^2_{ij} + \psi_i \]
dengan \(\psi_i\) sebagai varians dari kesalahan spesifik.
Uji Bartlett merupakan uji statistik yang digunakan dalam analisis faktor untuk menguji hipotesis nol bahwa matriks kovarians pada sampel identik dengan matriks identitas. Uji Bartlett dipakai untuk menguji homogenitas dari matriks kovarians, dengan asumsi bahwa variabel-variabel dalam dataset saling independen. Tujuan utama dari uji Bartlett yakni untuk menentukan apakah korelasi antara variabel-variabel tersebut signifikan atau tidak. Jika pada Bartletts Test of Sphericity diperoleh nilai signifikan kurang dari 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa korelasi antar variabel bebasnya telah signifikan dan dianggap layak untuk dianalisis lebih lanjut. Adapun rumus manual dari Bartletts Test of Sphericity adalah:
\[ X^2 = -((N - 1) - \frac{2p + 5}{6}) \cdot \ln|R| \]
Keterangan:
Dengan Hipotesis yang digunakan:
Jika p-value < 0.05, maka \(H_0\) ditolak dan analisis faktor terpenuhi.
Pengujian validasi sampling penelitian melalui kesesuaian matriks korelasi dapat diukur menggunakan Kaiser-Meyer-Olkin (KMO). Suatu data dikatakan sudah valid dilanjutkan analisis faktor jika koefisien korelasi sampel teramati dengan koefisien korelasi parsial memiliki selang nilai antara 0.5 hingga 1 (Subagja dan Disan, 2020).
Nilai MSA (nilai korelasi matriks anti-image) digunakan untuk menentukan apakah variabel sudah layak untuk dianalisis lebih lanjut. Jika nilai MSA suatu variabel lebih besar dari 0,5, maka variabel tersebut layak untuk dianalisis lebih lanjut. Jika nilai MSA suatu variabel kurang dari 0,5, variabel tersebut harus dikeluarkan dari analisis secara keseluruhan, diurutkan dari variabel yang memiliki nilai MSA terkecil dan tidak lagi digunakan dalam analitis.
Perhitungan manual KMO dan MSA adalah:
\[ \text{KMO} = \frac{\sum \sum r_{ij}^2}{\sum \sum r_{ij}^2 + \sum \sum a_{ij}^2} \]
Keterangan:
Keterangan:
library(readxl) digunakan untuk menginput dan
membaca data dari file Excel (.xls atau .xlsx) ke dalam syntax
R.
library(REdaS) digunakan untuk melakukan estimasi
reliabilitas dan validitas data. Package ini memungkinkan analisis
statistik untuk mengukur dan menyediakan fungsi-fungsi untuk menghitung
koefisien reliabilitas dan mengukur validitas dari instrumen
pengukuran.
library(psych) digunakan untuk analisis psikometri
dan statistik terapan. Package ini difokuskan pada analisis faktor,
pengukuran, dan analisis statistik yang relevan dalam ilmu perilaku dan
sosial.
Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019 <- read_excel("Data Tingkat Kebahagiaan 2019.xls",
col_types = c("skip", "text", "skip", "numeric", "numeric","numeric", "numeric", "numeric", "numeric"))
str(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019)
Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019
Keterangan:
read_excel digunakan untuk membaca file
Excel.
col_types digunakan untuk menentukan tipe data dari
masing-masing kolom dalam file Excel.
str digunakan untuk menampilkan struktur data dari
variabel.
summary(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019)
Keterangan:
summary digunakan untuk memberikan ringkasan statistik
dasar dari setiap kolom dalam data.numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019 <- Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019[, sapply(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, is.numeric)]
cor_matrix <- cor(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019)
print(cor_matrix)
Keterangan:
numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019 digunakan
untuk menyimpan kolom-kolom yang bersifat numerik dari data berdasarkan
hasil sapply.
cor_matrix digunakan untuk menyimpan matriks
korelasi, yang menunjukkan kekuatan dan arah hubungan antara setiap
pasangan variabel numerik.
numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019 <- Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019[, sapply(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, is.numeric)]
kmo_result <- KMO(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019)
print(kmo_result)
Keterangan:
KMO digunakan untuk mengukur kecukupan sampel dalam
analisis faktor. Nilai KMO berkisar dari 0 hingga 1, semakin tinggi
nilainya maka semakin cocok data untuk analisis faktor.
kmo_result digunakan untuk menyimpan hasil uji KMO,
termasuk nilai KMO dan informasi tambahan lainnya.
numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019 <- Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019[, sapply(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, is.numeric)]
bartlett_result <- cortest.bartlett(cor(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019), n = nrow(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019))
print(bartlett_result)
Keterangan:
cortest.bartlett digunakan untuk melakukan Uji
Bartlett’s Sphericity.
cor(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019) merupakan
matriks korelasi dari variabel numerik dalam data kemudian dihitung dan
menjadi input untuk fungsi
cortest.bartlett.
n digunakan untuk menentukan jumlah observasi atau
baris dalam data.
numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019 <- Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019[, sapply(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, is.numeric)]
R <- cor(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019)
print(R)
Keterangan:
cor digunakan untuk menghitung matriks korelasi
antar kolom numerik dalam data.
R digunakan untuk menyimpan matriks korelasi yang
dihitung.
pca_result <- prcomp(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, scale. = TRUE)
summary(pca_result)
Keterangan:
pca_result digunakan untuk menyimpan hasil dari PCA,
termasuk informasi tentang komponen utama yang dihasilkan dan kontribusi
masing-masing komponen terhadap variasi total dalam data.
summary digunakan untuk menampilkan ringkasan dari
objek pca_result, yang mencakup proporsi variansi dan
variansi kumulatif.
eigenvalues <- pca_result$sdev^2
print(eigenvalues)
Keterangan:
eigenvalues digunakan untuk menyimpan hasil dari
pengkuadratan standar deviasi, yaitu nilai eigen dari setiap komponen
utama dalam PCA.plot(pca_result, type = "lines", main = "Scree Plot")
Keterangan:
plot digunakan untuk membuat grafik. plot
digunakan untuk menghasilkan grafik berdasarkan hasil PCA yang tersimpan
dalam objek pca_result.numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019 <- Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019[, sapply(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, is.numeric)]
hasil_faktor <- factanal(x = numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, factors = 2)
Keterangan:
factanal digunakan untuk melakukan factor analysis
(analisis faktor) pada data.
factors = 2 berarti analisis akan mencoba mereduksi
data ke dalam dua faktor utama yang mendasarinya.
hasil_faktor digunakan untuk menyimpan hasil dari
analisis faktor.
cov.mat = cov(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019)
round(cov.mat, 2)
Keterangan:
cov digunakan untuk menghitung matriks kovarians
pada data numerik yang diberikan.
cov.mat digunakan untuk menyimpan matriks kovarians
yang dihasilkan, di mana setiap elemen di dalamnya adalah nilai
kovarians antara dua variabel.
round digunakan untuk membulatkan nilai dalam
cov.mat hingga dua desimal.
factanal(covmat=cov.mat, factors = 2, n.obs = nrow(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019))
Keterangan:
n.obs digunakan untuk menetapkan jumlah observasi atau
jumlah baris data yang dianalisis.output <- factanal(x = numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, factors = 2, scores = 'regression')
head(output$scores)
Keterangan:
output digunakan untuk menyimpan hasil dari analisis
faktor, termasuk muatan faktor (factor loadings), skor faktor,
dan statistik lainnya.
head digunakan untuk menampilkan enam baris pertama
dari `output$scores.
varimax <- factanal(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, factors = 2, rotation="varimax", scores="regression")
head(varimax$scores)
Keterangan:
varimax digunakan untuk menyimpan hasil dari
analisis faktor dengan rotasi varimax.
head digunakan untuk menampilkan enam baris pertama
dari varimax$scores.
output2 <- fa(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019,
nfactors = 2,
rotate = "varimax",
scores = "regression")
output2$loadings
Keterangan:
fa digunakan untuk melakukan analisis faktor dan
fungsi ini berasal dari paket psych.
nfactors = 2: digunkan untuk menentukan jumlah
faktor yang diinginkan.
output2 digunakan untuk menyimpan hasil dari
analisis faktor, termasuk factor loadings, skor faktor, dan
statistik lainnya.
output2$loadings digunakan untuk mengakses *factor
loadingsI dari hasil analisis faktor.
output2$communalities
Keterangan:
output2 digunakan untuk menyimpan hasil dari analisis
faktor yang dilakukan dengan fungsi fa (dari paket psych).loads <- output2$loadings
fa.diagram(loads)
Keterangan:
loads digunakan untuk menyimpan factor
loadings dari hasil analisis faktor, yang selanjutnya akan
digunakan untuk membuat diagram.
fa.diagram digunakan untuk membuat diagram visual
dari hasil analisis faktor dan berasal dari paket psych.
> Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019 <- read_excel("Data Tingkat Kebahagiaan 2019.xls",
+ col_types = c("skip", "text", "skip", "numeric", "numeric","numeric", "numeric", "numeric", "numeric"))
> str(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019)
tibble [156 × 7] (S3: tbl_df/tbl/data.frame)
$ Country or region : chr [1:156] "Finland" "Denmark" "Norway" "Iceland" ...
$ GDP per capita : num [1:156] 1340 1383 1488 1380 1396 ...
$ Social support : num [1:156] 1587 1573 1582 1624 1522 ...
$ Healthy life expectancy : num [1:156] 0.986 0.996 1028 1026 0.999 ...
$ Freedom to make life choices: num [1:156] 0.596 0.592 0.603 0.591 0.557 0.572 0.574 0.585 0.584 0.532 ...
$ Generosity : num [1:156] 0.153 0.252 0.271 0.354 0.322 0.263 0.267 0.33 0.285 0.244 ...
$ Perceptions of corruption : num [1:156] 0.393 0.41 0.341 0.118 0.298 0.343 0.373 0.38 0.308 0.226 ...
> Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019
# A tibble: 156 × 7
`Country or region` `GDP per capita` `Social support` Healthy life expectan…¹
<chr> <dbl> <dbl> <dbl>
1 Finland 1340 1587 0.986
2 Denmark 1383 1573 0.996
3 Norway 1488 1582 1028
4 Iceland 1380 1624 1026
5 Netherlands 1396 1522 0.999
6 Switzerland 1452 1526 1052
7 Sweden 1387 1487 1009
8 New Zealand 1303 1557 1026
9 Canada 1365 1505 1039
10 Austria 1376 1475 1016
# ℹ 146 more rows
# ℹ abbreviated name: ¹`Healthy life expectancy`
# ℹ 3 more variables: `Freedom to make life choices` <dbl>, Generosity <dbl>,
# `Perceptions of corruption` <dbl>
> summary(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019)
Country or region GDP per capita Social support Healthy life expectancy
Length:156 Min. : 0.0000 Min. : 0 Min. : 0.0000
Class :character 1st Qu.: 0.6028 1st Qu.:1056 1st Qu.: 0.5478
Mode :character Median : 0.9600 Median :1272 Median : 0.7890
Mean : 591.9994 Mean :1047 Mean : 128.0977
3rd Qu.:1232.5000 3rd Qu.:1452 3rd Qu.: 0.8818
Max. :1684.0000 Max. :1624 Max. :1141.0000
Freedom to make life choices Generosity Perceptions of corruption
Min. :0.0000 Min. :0.0000 Min. :0.0000
1st Qu.:0.3080 1st Qu.:0.1087 1st Qu.:0.0470
Median :0.4170 Median :0.1775 Median :0.0855
Mean :0.3926 Mean :0.1848 Mean :0.1106
3rd Qu.:0.5072 3rd Qu.:0.2482 3rd Qu.:0.1412
Max. :0.6310 Max. :0.5660 Max. :0.4530 Pembahasan:
Pendapatan per kapita menunjukkan korelasi positif dengan Dukungan sosial (0.56), Harapan hidup sehat (0.46), Kebebasan dalam membuat pilihan hidup (0.30), dan Persepsi korupsi (0.36). Ini menunjukkan bahwa pendapatan per kapita yang lebih tinggi cenderung terkait dengan dukungan sosial, harapan hidup sehat, kebebasan membuat pilihan, dan persepsi yang lebih baik terhadap korupsi.
Dukungan sosial menunjukkan korelasi positif dengan Pendapatan per kapita (0.56), Kebebasan dalam membuat pilihan hidup (0.35), dan Harapan hidup sehat (0.26). Dukungan sosial yang lebih baik cenderung terjadi di negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi dan harapan hidup sehat yang lebih baik.
Harapan hidup sehat menunjukkan korelasi positif dengan Pendapatan per kapita (0.46), Dukungan sosial (0.26), dan Persepsi korupsi (0.44). Negara dengan harapan hidup sehat yang tinggi cenderung memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi, dukungan sosial yang lebih baik, dan persepsi korupsi yang lebih baik.
Kebebasan dalam membuat pilihan hidup menunjukkan korelasi positif dengan Dukungan sosial (0.35), Persepsi korupsi (0.44), dan Kedermawanan (0.27).Kebebasan dalam membuat pilihan hidup berhubungan dengan dukungan sosial yang lebih baik, persepsi yang baik terhadap korupsi, dan kedermawanan.
Kedermawanan menunjukkan korelasi rendah dengan semua variabel lain, tetapi positif dengan Kebebasan dalam membuat pilihan hidup (0.27) dan Persepsi korupsi (0.33). Kedermawanan menunjukkan hubungan yang lemah dengan kebebasan hidup dan persepsi korupsi.
Persepsi korupsi menunjukkan korelasi positif dengan Pendapatan per kapita (0.36), Harapan hidup sehat (0.44), Kebebasan dalam membuat pilihan hidup (0.44), dan Kedermawanan (0.33). Persepsi korupsi yang lebih baik berhubungan dengan pendapatan per kapita yang lebih tinggi, harapan hidup sehat yang lebih baik, kebebasan dalam hidup, dan tingkat kedermawanan yang lebih tinggi.
> numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019 <- Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019[, sapply(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, is.numeric)]
> kmo_result <- KMO(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019)
> print(kmo_result)
Kaiser-Meyer-Olkin factor adequacy
Call: KMO(r = numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019)
Overall MSA = 0.64
MSA for each item =
GDP per capita Social support
0.65 0.59
Healthy life expectancy Freedom to make life choices
0.72 0.65
Generosity Perceptions of corruption
0.58 0.65 Pembahasan:
-Harapan hidup sehat memiliki nilai MSA tertinggi, yaitu 0.72, menunjukkan bahwa variabel ini paling cocok untuk analisis faktor.Pendapatan per kapita, Kebebasan dalam membuat pilihan hidup, dan Persepsi korupsi Memiliki nilai MSA sebesar 0.65, yang dapat diterima namun tidak terlalu tinggi. Dukungan sosial dan Kedermawanan memiliki nilai MSA di bawah 0.60 (masing-masing 0.59 dan 0.58), yang menunjukkan bahwa variabel-variabel ini kurang cocok untuk analisis faktor.
> numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019 <- Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019[, sapply(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, is.numeric)]
> bartlett_result <- cortest.bartlett(cor(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019), n = nrow(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019))
> print(bartlett_result)
$chisq
[1] 219.3912
$p.value
[1] 2.372363e-38
$df
[1] 15Pembahasan:
Nilai Chi-Square yang diperoleh adalah 219.3912. Nilai yang tinggi ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara matriks korelasi dan matriks identitas.
Nilai p sangat mendekati nol menunjukkan bahwa hasilnya signifikan secara statistik. Karena p-value sangat kecil, kita menolak hipotesis nol yang menyatakan bahwa matriks korelasi adalah matriks identitas. Dengan kata lain, ada cukup bukti bahwa korelasi antar variabel signifikan dan berbeda dari nol.
-Derajat kebebasan adalah 15, yang merupakan jumlah pasangan variabel unik dalam analisis ini.
> numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019 <- Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019[, sapply(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, is.numeric)]
> # Menghitung matriks korelasi
> R <- cor(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019)
> print(R)
GDP per capita Social support
GDP per capita 1.00000000 0.5555940
Social support 0.55559397 1.0000000
Healthy life expectancy 0.46017300 0.2625636
Freedom to make life choices 0.30052452 0.3539091
Generosity -0.06298545 -0.1001120
Perceptions of corruption 0.35770679 0.1156306
Healthy life expectancy
GDP per capita 0.4601730
Social support 0.2625636
Healthy life expectancy 1.0000000
Freedom to make life choices 0.2035505
Generosity 0.1767788
Perceptions of corruption 0.4408951
Freedom to make life choices Generosity
GDP per capita 0.3005245 -0.06298545
Social support 0.3539091 -0.10011202
Healthy life expectancy 0.2035505 0.17677879
Freedom to make life choices 1.0000000 0.26974181
Generosity 0.2697418 1.00000000
Perceptions of corruption 0.4388433 0.32653754
Perceptions of corruption
GDP per capita 0.3577068
Social support 0.1156306
Healthy life expectancy 0.4408951
Freedom to make life choices 0.4388433
Generosity 0.3265375
Perceptions of corruption 1.0000000
> # Melakukan Principal Component Analysis (PCA)
> pca_result <- prcomp(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, scale. = TRUE)
> # Menampilkan ringkasan hasil PCA
> summary(pca_result)
Importance of components:
PC1 PC2 PC3 PC4 PC5 PC6
Standard deviation 1.5670 1.1594 0.9206 0.76865 0.65232 0.57988
Proportion of Variance 0.4093 0.2240 0.1412 0.09847 0.07092 0.05604
Cumulative Proportion 0.4093 0.6333 0.7746 0.87304 0.94396 1.00000
> # Menampilkan nilai eigen
> eigenvalues <- pca_result$sdev^2
> print(eigenvalues)
[1] 2.4556134 1.3442987 0.8474820 0.5908237 0.4255203 0.3362619Pembahasan:
Nilai korelasi berkisar antara -1 hingga 1, yang menunjukkan tingkat dan arah hubungan antar variabel.
PC1 memiliki standar deviasi tertinggi (1.5670), menunjukkan bahwa PC1 menjelaskan sebagian besar variasi dalam data.
PC1 menjelaskan 40.89% dari variasi dalam data, sementara PC2 menjelaskan 25.63%, dan seterusnya. Dua komponen pertama (PC1 dan PC2) bersama-sama menjelaskan sekitar 66.52% dari variasi total, yang cukup tinggi dan berarti dua komponen ini bisa memberikan ringkasan yang baik dari data.
Empat komponen pertama (PC1 hingga PC4) menjelaskan sekitar 87.30% dari variasi total dalam data, yang menunjukkan bahwa empat komponen ini cukup untuk merepresentasikan sebagian besar informasi dalam data.
> # Visualisasi scree plot untuk melihat varians yang dijelaskan oleh setiap komponen utama
> plot(pca_result, type = "lines", main = "Scree Plot")Pembahasan:
> numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019 <- Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019[, sapply(Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, is.numeric)]
> # Melakukan analisis faktor dengan 2 faktor
> hasil_faktor <- factanal(x = numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, factors = 2)
> # Menampilkan hasil analisis faktor
> print(hasil_faktor)
Call:
factanal(x = numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, factors = 2)
Uniquenesses:
GDP per capita Social support
0.231 0.569
Healthy life expectancy Freedom to make life choices
0.646 0.713
Generosity Perceptions of corruption
0.726 0.313
Loadings:
Factor1 Factor2
GDP per capita 0.862 0.164
Social support 0.657
Healthy life expectancy 0.437 0.404
Freedom to make life choices 0.299 0.445
Generosity -0.152 0.501
Perceptions of corruption 0.257 0.788
Factor1 Factor2
SS loadings 1.543 1.260
Proportion Var 0.257 0.210
Cumulative Var 0.257 0.467
Test of the hypothesis that 2 factors are sufficient.
The chi square statistic is 21.72 on 4 degrees of freedom.
The p-value is 0.000228 Pembahasan:
Analisis menunjukkan bahwa ada dua faktor utama yang dapat menjelaskan variasi dalam data kebahagiaan. Faktor pertama tampaknya lebih terkait dengan Pendapatan per kapita dan Dukungan sosial, sedangkan Faktor kedua lebih terkait dengan Persepsi korupsi.
Chi-square statistik sebesar 21.72 dengan 4 derajat kebebasan dan p-value 0.000228 menunjukkan hasil yang signifikan. Artinya, hipotesis bahwa dua faktor sudah cukup untuk menjelaskan varians dalam data dapat diterima.
> cov.mat = cov(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019)
> round(cov.mat, 2)
GDP per capita Social support
GDP per capita 402372.10 201314.34
Social support 201314.34 326292.07
Healthy life expectancy 100254.62 51511.84
Freedom to make life choices 27.32 28.97
Generosity -3.81 -5.45
Perceptions of corruption 21.45 6.24
Healthy life expectancy
GDP per capita 100254.62
Social support 51511.84
Healthy life expectancy 117961.05
Freedom to make life choices 10.02
Generosity 5.78
Perceptions of corruption 14.32
Freedom to make life choices Generosity
GDP per capita 27.32 -3.81
Social support 28.97 -5.45
Healthy life expectancy 10.02 5.78
Freedom to make life choices 0.02 0.00
Generosity 0.00 0.01
Perceptions of corruption 0.01 0.00
Perceptions of corruption
GDP per capita 21.45
Social support 6.24
Healthy life expectancy 14.32
Freedom to make life choices 0.01
Generosity 0.00
Perceptions of corruption 0.01Pembahasan:
MGDP per capita memiliki korelasi positif yang cukup tinggi dengan “Dukungan sosial” (201314.34) dan “Harapan hidup sehat” (100254.62), menunjukkan bahwa ketika “Pendapatan per kapita” meningkat, biasanya “Dukungan sosial” dan “Harapan hidup sehat” juga cenderung meningkat.
Dukungan sosial memiliki korelasi tinggi dengan “Harapan hidup sehat” (51511.84) dan “Persepsi Korupsi” (6.24). Ini mengindikasikan hubungan yang kuat antara dukungan sosial dan persepsi terhadap korupsi.
Kebebasan dalam memilih hidup memiliki korelasi negatif dengan “Kedermawanan” (-3.81), menunjukkan bahwa ada hubungan terbalik antara kebebasan membuat pilihan hidup dengan kedermawanan dalam data ini.
Persepsi korupsi memiliki korelasi yang cukup tinggi dengan “Pendapatan per kapita” (21.45), yang mungkin mengindikasikan bahwa persepsi korupsi meningkat seiring dengan peningkatan GDP.
Nilai-nilai yang berada di bawah 1 (seperti 0.01 atau 0.00) mengindikasikan korelasi yang sangat rendah atau hampir tidak ada antara beberapa variabel, misalnya antara “Kedermawanan” dan “Persepsi korupsi” (0.00).
Korelasi positif tinggi antara variabel utama seperti “Pendapatan per kapita” dan “Dukungan sosial” bisa menunjukkan bahwa negara-negara dengan pendapatan yang tinggi cenderung memiliki dukungan sosial yang baik juga.
> output <- factanal(x = numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, factors = 2, scores = 'regression')
> head(output$scores)
Factor1 Factor2
[1,] 0.9715492 1.8106281
[2,] 0.9040885 2.1397500
[3,] 1.2875083 2.0712241
[4,] 1.1872645 0.7243875
[5,] 0.8619237 1.5004063
[6,] 1.2314829 2.0602569
> varimax <- factanal(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019, factors = 2, rotation="varimax", scores="regression")
> head(varimax$scores)
Factor1 Factor2
[1,] 0.9715492 1.8106281
[2,] 0.9040885 2.1397500
[3,] 1.2875083 2.0712241
[4,] 1.1872645 0.7243875
[5,] 0.8619237 1.5004063
[6,] 1.2314829 2.0602569Pembahasan:
> output2 <- fa(numeric_Data_Tingkat_Kebahagiaan_2019,
+ nfactors = 2,
+ rotate = "varimax",
+ scores = "regression")
> output2$loadings
Loadings:
MR1 MR2
GDP per capita 0.848 0.149
Social support 0.679
Healthy life expectancy 0.417 0.389
Freedom to make life choices 0.329 0.451
Generosity -0.147 0.559
Perceptions of corruption 0.270 0.740
MR1 MR2
SS loadings 1.557 1.235
Proportion Var 0.259 0.206
Cumulative Var 0.259 0.465
> output2$communalities
GDP per capita Social support
0.7406049 0.4616370
Healthy life expectancy Freedom to make life choices
0.3250215 0.3113242
Generosity Perceptions of corruption
0.3336757 0.6199931 Pembahasan:
Faktor pertama (MR1) mungkin berhubungan dengan dimensi ekonomi atau kesehatan (karena GDP per capita dan Social support memiliki loadings tinggi).
Faktor kedua (MR2) mungkin berhubungan dengan persepsi sosial atau kebebasan (karena Generosity dan Perceptions of corruption memiliki loadings tinggi).
Kedua faktor ini dapat digunakan untuk menganalisis lebih lanjut hubungan antar variabel dalam konteks tingkat kebahagiaan, di mana sekitar 46.5% dari total varians dalam data dapat dijelaskan oleh kedua faktor ini.
Pembahasan:
Faktor MR1 memiliki hubungan yang kuat dengan variabel Pendapatan per kapita (loading sebesar 0.8) dan Dukungan sosial (loading sebesar 0.7). Ini menunjukkan bahwa MR1 kemungkinan besar berhubungan dengan aspek ekonomi dan dukungan sosial dalam masyarakat. Variabel Harapan hidup sehat juga sedikit terkait dengan MR1 dengan loading yang lebih rendah (0.4), yang menunjukkan bahwa faktor MR1 mungkin juga mencakup beberapa elemen kesehatan, meskipun tidak dominan.
Faktor MR2 memiliki hubungan kuat dengan variabel Persepsi korupsi (loading sebesar 0.7) dan Kedermawanan (loading sebesar 0.6). Hal ini menunjukkan bahwa MR2 berkaitan dengan persepsi sosial, khususnya terkait persepsi tentang korupsi dan tingkat kemurahan hati atau kedermawanan dalam masyarakat. Variabel Kebebasan dalam memilih hidup juga memiliki hubungan dengan MR2 (loading sebesar 0.5), yang menambahkan dimensi kebebasan dalam faktor ini.
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ada dua kelompok faktor utama yang mempengaruhi tingkat kebahagiaan:
Faktor Ekonomi dan Dukungan Sosial (F1) yang terdiri dari variabel Pendapatan per kapita, Dukungan sosial, dan sebagian Harapan hidup sehat. Faktor ini menunjukkan bahwa kesejahteraan ekonomi dan dukungan sosial berkontribusi penting terhadap kebahagiaan.
Faktor Persepsi Sosial dan Kebebasan: Meliputi variabel Persepsi tentang korupsi, Kedermawanan, dan Kebebasan untuk membuat pilihan hidup. Faktor ini menunjukkan bagaimana persepsi masyarakat tentang korupsi, kemurahan hati, dan kebebasan memengaruhi tingkat kebahagiaan.
Hasil analisis juga menunjukkan bahwa Faktor Ekonomi dan Dukungan Sosial adalah faktor yang paling dominan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai loading tinggi pada variabel GDP per capita (0.8) dan Social support (0.7) dalam faktor pertama (MR1). Faktor ini memberikan kontribusi terbesar terhadap varians dalam data, menunjukkan bahwa kesejahteraan ekonomi dan dukungan sosial merupakan elemen penting dalam memengaruhi kebahagiaan di berbagai negara.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, saran yang dapat diberikan adalah dengan mencoba untuk meneliti variabel-variabel yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang topik penelitian. Sehingga dapat diketahui faktor-faktor apa saja yang mungkin mempengaruhi kebahagiaan di berbagai negara.
Field, A.P. (2018) Discovering Statistics Using IBM SPSS Statistics. 5th Edition, Sage, Newbury Park.
Helliwell, J. F., Layard, R., Sachs, J. D., Aknin, L. B., De Neve, J.-E., & Wang, S. (Eds.). (2023). World Happiness Report 2023 (11th ed.). Sustainable Development Solutions Network.
Subagja, Disan (2020) Analisis Motivasi Karyawan Terhadap Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Menggunakan Analisis Faktor Di PT. Perkebunan Nusantara VIII. Other thesis, Universitas Komputer Indonesia.
Sumber Data: https://www.kaggle.com/datasets/unsdsn/world-happiness?select=2019.csv