1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Orkestra adalah salah satu bentuk seni musik yang terdiri dari berbagai jenis alat musik yang dimainkan bersama untuk menciptakan harmoni yang kompleks dan indah. Dalam setiap konser orkestra, berbagai alat musik memainkan peran penting dalam menyajikan komposisi musik yang utuh. Tiga alat musik yang sering kali menjadi fokus dalam orkestra adalah piano, violin, dan oboe. Masing-masing alat musik ini memiliki karakteristik unik dan sering kali dipilih oleh komposer untuk menyampaikan emosi tertentu dalam sebuah karya musik.
Metode penelitian ANOVA digunakan untuk menguji hipotesis bahwa jenis alat musik (piano, violin, dan oboe) berpengaruh terhadap jumlah konser yang diselenggarakan oleh sebuah orkestra. Dengan menggunakan data jumlah konser yang melibatkan masing-masing jenis alat musik, ANOVA dapat memberikan gambaran tentang bagaimana setiap alat musik berkontribusi terhadap frekuensi pertunjukan dalam setting orkestra.
1.2 Rumusan Masalah
- Apakah terdapat perbedaan signifikan dalam jumlah konser yang melibatkan piano, violin, dan oboe.
- Alat musik mana yang paling sering digunakan dalam konser orkestra.
1.3 Tujuan
- Mengetahui apakah terdapat perbedaan signifikan dalam jumlah konser yang melibatkan piano, violin, dan oboe.
- Mengidentifikasi alat musik mana yang paling sering digunakan dalam konser orkestra.
Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengaruh jenis alat musik terhadap jumlah konser, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan strategi penyusunan program konser yang lebih efektif dan menarik bagi audiens.
2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Asumsi dalam ANOVA
2.1.1 Asumsi Normalitas
Asumsi normalitas adalah salah satu syarat dalam analisis ANOVA yang menyatakan bahwa data yang digunakan harus berdistribusi normal. Hal ini penting karena ANOVA menggunakan metode statistik yang menganggap data mengikuti distribusi normal. Jika data tidak berdistribusi normal, hasil analisis bisa menjadi tidak akurat dan menyesatkan.
Untuk memeriksa asumsi normalitas dalam ANOVA, kita dapat menggunakan berbagai uji statistik. Dalam penelitian ini, akan digunakan uji Jarque-Bera dan uji Shapiro-Wilk.
Uji Jarque-Bera adalah metode yang menguji apakah data berdistribusi normal dengan memeriksa skewness (kecondongan) dan kurtosis (keruncingan) data. Data yang berdistribusi normal akan memiliki skewness dan kurtosis yang mendekati nol.
Uji Shapiro-Wilk adalah metode lain untuk menguji normalitas. Uji ini mengukur seberapa dekat data yang diuji dengan distribusi normal yang diharapkan, berdasarkan koefisien korelasi. Hasil dari uji ini akan menunjukkan apakah data berdistribusi normal atau tidak.
Dengan menggunakan kedua uji ini, kita dapat lebih memastikan apakah data yang digunakan dalam ANOVA memenuhi asumsi normalitas atau tidak.
2.1.2 Asumsi Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah beberapa varian populasi adalah sama atau tidak. Uji ini dilakukan sebagai prasyarat dalam analisis independent sample t test dan Anova. Asumsi yang mendasari dalam analisis varian (Anova) adalah bahwa varian dari populasi adalah sama. Uji kesamaan dua varians digunakan untuk menguji apakah sebaran data tersebut homogen atau tidak, yaitu dengan membandingkan kedua variansnya. Jika dua kelompok data atau lebih mempunyai varians yang sama besarnya, maka uji homogenitas tidak perlu dilakukan lagi karena datanya sudah dianggap homogen. Uji homogenitas dapat dilakukan apabila kelompok data tersebut dalam distribusi normal.
Uji homogenitas variansi sangat diperlukan dalam membandingkan dua kelompok atau lebih agar perbedaan yang ada bukan disebabkan oleh adanya perbedaan data dasar. Uji homogenitas yang digunakan adalah Uji Levene. Uji Levene digunakan untuk menguji kesamaan varians dari beberapa populasi. Uji Levene merupakan uji alternatif dari uji Bartlett. Jika ada bukti yang kuat bahwa data berdistribusi normal atau mendekati normal, maka uji Bartlett lebih baik digunakan. Uji Levene menggunakan analisis varian satu arah. Data ditransformasikan dengan jalan mencari selisih masing-masing skor dengan rata-rata kelompoknya.
Hipotesis
\(H_0 : \sigma_1^2 = \sigma_2^2\) (Ragam Galat Homogen)
\(H_1 : \sigma_1^2 \neq \sigma_2^2\) (Ragam Galat Tidak Homogen)
Kriteria Uji:
Jika P-value > α , maka H0 diterima
Jika P-value ≤ α, maka H0 ditolak
2.2 ANOVA
Analisis ragam atau analysis of variance (ANOVA), adalah metode untuk memaparkan keragaman total data menjadi bagian bagian yang mengukur berbagai sumber keragaman. ANOVA merupakan pengembangan masalah Bahrens-Fisher, sehingga menggunakan statistik uji F sebagai pengambilan keputusannya. ANOVA pertama kali dikenalkan oleh Sir Ronald Fisher. Dalam praktinya, analisis varians ini digunakan untuk uji hipotesis maupun pendugaan. Tujuan dari ANOVA sendiri adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan signifikan (nyata) antara rata- rata dari beberapa kelompok data.
Hipotesis dalam ANOVA dituliskan sebagai berikut :
\(H_0 : \mu_1 = \mu_2 = ... = \mu_n\) (Tidak ada perbedaan yang nyata antara rata-rata hitung dari n kelompok)
\(H_1 : \mu_1 \neq \mu_2 \neq ... \neq \mu_n\) (Ada perbedaan yang nyata antara rata rata hitung dari n kelompok)
Untuk pengujian \(H_0\), perlu dilakukan pengukuran dari sampel yang diambil secara acak dari sampel. Hasil pengukuran sampel dapatdilihat apakah ada perbedaan untuk berbagai kondisi, ketika ada perbedaan maka tolak \(H_0\). Kita dapat melihat pada hasil uji statistik F bila \(F_hitung\) > \(F_tabel\) , maka \(H_0\) ditolak. Selain membandingkan hasil uji F, kita dapat membandingkan antara p-value (nilai probabilitas) dengan alpha. Taraf nyata \(\alpha\) adalah besar toleransi untuk menerima kesalahan hasil hipotesis terhadap nilai parameter populasinya. Taraf nyata dinayatakan dalan bentuk \(\alpha\), pada umumnya sebesar 1%, 5%, dan 10%. Ketika p- value < dari \(\alpha\) maka, tolak \(H_0\).
2.2.1 ANOVA Satu Arah
Menurut Ilhamzen (2013), ANOVA Satu Arah atau One-way ANOVA adalah jenis uji statistic yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rata- rata dua atau lebih grub sampel dengan sumber keragaman yang dianalisis berlangsung satu arah yaitu antar perlakuan. Langkah- langkah untuk menguji hipotesis dapat dilakukan sebagai berikut:
Hipotesis dalam ANOVA Satu Arah dituliskan sebagai berikut : \(H_0 : \mu_1 = \mu_2 = ... = \mu_n\) (Tidak ada perbedaan yang nyata antara rata-rata hitung dari n kelompok) \(H_1 : \mu_1 \neq \mu_2 \neq ... \neq \mu_n\) (Ada perbedaan yang nyata antara rata rata hitung dari n kelompok)
Menghitung JKT, JKG, JKP dan FK
Jumlah Kuadrat Perlakuan (JKP)
\[ JKP = \Sigma(\frac {\Sigma (Y_ij)^2}{n})- \frac{(\Sigma\Sigma Y_ij)^2}{np} \]
Jumlah Kuadrat Total (JKT) \[ JKT = \Sigma \Sigma Y_ij^2 - \frac{(\Sigma\Sigma Y_ij)^2}{np} \] Jumlah Kuadrat Galat (JKG) \[ JKG = JKT-JKP \] Faktor Koreksi (FK) \[ FK = \frac {(Y_ij^2)}{n} \]
- Memasukan hasil perhitungan ke tabel analisis ragam sebagai berikut:
| Sumber Keragaman | db | Jumlah Kuadrat | Kuadrat Tengah | F hitung |
|---|---|---|---|---|
| Perlakuan | p-1 | JKP | \(\frac {JKP}{k-1}\) | \(\frac {KTP}{KTG}\) |
| Galat | N-p | JKG | \(\frac {JKG}{N-k}\) | |
| Total | N-1 | JKT |
- Menentukan keputusan
Kriteria Uji:
Jika P-value > α atau \(F_hitung\) \(\le\) \(F_tabel\), maka \(H_0\) diterima
Jika P-value ≤ α atau \(F_hitung\) > \(F_tabel\), maka \(H_0\) ditolak
2.3 Uji Lanjut ANOVA
Beberapa metode yang dapat digunakan untuk membandingkan nilai tengah perlakuaN yaitu Beda Nyata Jujur (BNJ), Beda Nyata Terkecil (BNT) dan Duncan (DMRT). Ada metode lainnya, misalnya metode Dunnet, Newman Keuls,LSD, dan sebagainya.
Penggunaan uji lanjut dilakukan setelah diketahui hasil uji F pada ANOVA, yaitu tolak H0. Uji ini digunakan untuk mengetahui pasangan perlakuan mana yang mempunyai nilai tengah berbeda.
2.3.1 Uji BNT
Uji BNT (Beda Nyata Terkecil) adalah metode yang digunakan sebagai uji lanjutan setelah One Way ANOVA, Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial, dan RAL Faktorial. Pemilihan antara BNT, DMRT, dan BNJ bergantung pada jumlah perlakuan yang dibandingkan dalam penelitian. Jika jumlah perlakuan yang dibandingkan kurang dari atau sama dengan 3, maka uji lanjutan yang tepat adalah BNT. Berikut ini adalah rumus uji BNT:
\[ BNT = \sqrt{\frac{2*KTG}{r}} \]
Kesimpulan dari uji BNT dibuat dengan cara membandingkan nilai BNT dengan perbedaan rata-rata antara dua perlakuan. Jika perbedaan rata-rata lebih besar dari nilai BNT, maka perlakuan tersebut dianggap berbeda secara signifikan. Sebaliknya, jika perbedaannya lebih kecil atau sama dengan nilai BNT, maka perlakuan tersebut tidak dianggap berbeda nyata.
2.3.2 Uji BNJ
Uji BNJ (Beda Nyata Jujur) adalah metode uji lanjutan yang digunakan ketika ada lebih dari 3 perlakuan yang dibandingkan, sama seperti uji DMRT. Namun, uji BNJ hanya memerlukan satu nilai tabel, mirip dengan uji BNT. Jika dibandingkan dengan DMRT, uji BNJ memiliki perbedaan nilai yang tidak seketat DMRT. Berikut adalah rumus uji BNJ:
\[ BNJ =\sqrt{\frac{KTG}{r}}\]
Kesimpulan dari uji BNJ dilakukan dengan membandingkan nilai BNJ dengan perbedaan rata-rata antara dua perlakuan. Jika selisih rata-rata perlakuan lebih besar dari nilai BNJ, maka perlakuan tersebut dianggap berbeda secara signifikan. Sebaliknya, jika selisihnya lebih kecil atau sama dengan nilai BNJ, maka perlakuan tersebut tidak dianggap berbeda nyata.
3 SOURCE CODE
3.1 Library
Beberapa Library yang digunakan untuk membantu proses
analisis data
3.2 Data
3.2.1 Input Data
> #Input data
> alat_musik = rep(c("1","2","3"), times =10)
> konser = c(50,63,71,45,55,67,48,54,68,
+ 47,49,62,45,65,65,49,46,58,
+ 50,53,63,54,67,69,57,58,70,
+ 55,50,61)
> data = data.frame(alat_musik,konser)
> data$alat_musik = as.factor(data$alat_musik)
> data
alat_musik konser
1 1 50
2 2 63
3 3 71
4 1 45
5 2 55
6 3 67
7 1 48
8 2 54
9 3 68
10 1 47
11 2 49
12 3 62
13 1 45
14 2 65
15 3 65
16 1 49
17 2 46
18 3 58
19 1 50
20 2 53
21 3 63
22 1 54
23 2 67
24 3 69
25 1 57
26 2 58
27 3 70
28 1 55
29 2 50
30 3 61
> rmarkdown::paged_table(data)Jenis Alat Musik
> library(rmarkdown)
> Kode_alat_Musik = c("1", "2", "3")
> Alat_Musik = c("Piano", " Oboe", "Viola ")
> tabel = data_frame("Kode Alat Musik " = Kode_alat_Musik, "Alat Musik" = Alat_Musik)
> library(rmarkdown)
> knitr::kable(tabel, caption = "Tabel Jenis Alat Musik")| Kode Alat Musik | Alat Musik |
|---|---|
| 1 | Piano |
| 2 | Oboe |
| 3 | Viola |
3.3 Plot
> library(ggplot2)
> plot1 <- ggplot(data = data,
+ aes(x = alat_musik, y = konser, fill = alat_musik)) +
+ geom_boxplot()+
+ scale_fill_hue(direction = 1) +
+ theme_minimal() +
+ theme(legend.position = "none")
> plot13.4 Langkah Manual Uji ANOVA
3.4.1 Perhitungan Derajat Bebas (DB)
3.4.2 Menghitung Jumlah Kuadrat (JK)
> #menghitung jumlah kuadrat
> perlakuan.mean = aggregate(konser~alat_musik, data,mean)[,2]
> perlakuan.mean
[1] 50.0 56.0 65.4
> n = aggregate(konser~alat_musik,data, length)[,2]
> grand.mean = mean(data$konser)
> JKt = sum((data$konser-grand.mean)^2)
> JKp = sum (n*(perlakuan.mean-grand.mean)^2)
> JKg = JKt- JKp3.4.4 Menghitung Statistik F
3.5 Perhitungan Menggunakan Fungsi aov()
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Uji ANOVA
Hipotesis :
\(H_0: \mu_1\) = \(\mu_2\) = \(\mu_3\) = 0 ( Tidak terdapat perbedaan jumlah konser antar alat musik)
\(H_1: \mu_i \neq 0\) ( Terdapat perbedaan jumlah konser antar alat musik) i=1,2,3
Kriteria Uji: Jika P-value > α , maka H0 diterima
Jika P-value ≤ α, maka H0 ditolak
- Tabel ANOVA manual
> Tabel
SK DB JK KT Fhit P.Val
1 Perlakuan 2 1205.067 602.53333 21.00775 3.145079e-06
2 Galat 27 774.400 28.68148 NA NA
3 Total 29 1979.467 NA NA NA- Tabel ANOVA dengan fungsi aov()
> summary(model)
Df Sum Sq Mean Sq F value Pr(>F)
alat_musik 2 1205.1 602.5 21.01 3.15e-06 ***
Residuals 27 774.4 28.7
---
Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1Melalui kedua tabet di atas, tidak ditemukan hasil yang berbeda jauh.
Diperoleh P-Value = 3.15e-16
Karena P- Value (3.16e-16) < \(\alpha\) , maka Tolak \(H_0\)
Dengan taraf nyata 5% memiliki cukup bukti bila jenis alat musik memiliki pengaruh dalam jumlah konser suatu orkestra.
4.2 Uji Asumsi
4.2.1 Uji Normalitas Galat
Hipotesis:
\(H_0\) : Galat Perlakuan Menyebar Normal
\(H_1\) : Galat Perlakuan tidak menyebar Normal
Kriteria Uji:
Jika P-value > α , maka H0 diterima
Jika P-value ≤ α, maka H0 ditolak
> Statistik_Uji = c("Shapiro- Wilk", "Jarque Bera")
> P_Value_Norm = c(normalitas_galat$p.value, normalitas_galat_1$p.value)
> Tabel_Uji_Normalitas = data_frame("Statistik Uji" = Statistik_Uji, "P-Value"= P_Value_Norm)
> knitr::kable(Tabel_Uji_Normalitas, caption = "Tabel Uji Normalitas")| Statistik Uji | P-Value |
|---|---|
| Shapiro- Wilk | 0.9410395 |
| Jarque Bera | 0.6886847 |
Karena nilai p-value dari kedua statistik uji lebih besar dari \(\alpha\) = 0.05, Shapiro wilk (0.941) dan Jarque bera (0.688) maka terima \(H_0\) Dengan taraf nyata 5% memiliki cukup bukti bila galat perlakuan menyebar secara normal
4.2.2 Uji Homogenitas Ragam Galat
Hipotesis:
\(H_0\) : Ragam Galat Perlakuan Homogen
\(H_1\) : Ragam Galat Perlakuan Tidak Homogen
Kriteria Uji:
Jika P-value > α , maka H0 diterima
Jika P-value ≤ α, maka H0 ditolak
> Statistik_Uji_HOM = c("Breush-Pagan", "Lavene", NaN,"Bartlett")
> P_Value_HOM = c(Homogenitas_1$p.value, Homogenitas_2$`Pr(>F)`,Homogenitas_3$p.value)
> Tabel_Uji_Homogenitas = data.frame("Statistik Uji" = Statistik_Uji_HOM, "P-Value" = P_Value_HOM)
> knitr::kable(Tabel_Uji_Homogenitas, caption = "Tabel Uji Homogenitas")| Statistik.Uji | P.Value |
|---|---|
| Breush-Pagan | 0.0419045 |
| Lavene | 0.1956209 |
| NaN | NA |
| Bartlett | 0.1870025 |
Statistik Uji Breush- Pagen memiliki nilai P-Value yang kecil daripada statistik uji Lavene dan Bartlett Karena nilai p-value dari kedua statistik uji lebih besar dari \(\alpha\) = 0.05, Lavene (0.195) dan Jarque bera (0.187) maka terima \(H_0\) Dengan taraf nyata 5% memiliki cukup bukti bila ragam galat perlakuan menyebar homogen
4.3 Uji Lanjutan
4.3.1 Uji BNT
> BNT$means
konser std r se LCL UCL Min Max Q25 Q50 Q75
1 50.0 4.136558 10 1.693561 46.5251 53.4749 45 57 47.25 49.5 53.00
2 56.0 7.102425 10 1.693561 52.5251 59.4749 46 67 50.75 54.5 61.75
3 65.4 4.299871 10 1.693561 61.9251 68.8749 58 71 62.25 66.0 68.75
> BNT$groups
konser groups
3 65.4 a
2 56.0 b
1 50.0 c
> plot(BNT)5 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telat dilakukan dapat dibuktikan bila pemilihan alat musik memiliki pengaruh yang nyata dalam mempengaruhi jumlah konser suatu orkestra. Terpenuhinya asumsi normalitas galat perlakuan dan homogenitas varians galat perlakuan menunjukkan bila hasil tidak bias. Melalui uji lanjutan ANOVA, dapat dilihat bila setiap alat musik sangat berbeda nyata dalam mempengaruhi jumlah konser suatu orkestar. Alat musik violin memiliki pengaruh yang besar untuk mempengaruhi jumlah konser suatu orkestra.
6 Daftar Pustaka
Dataset dapat diakses pada (https://www.performingmusicresearch.com/datasets/)
Sudjana. (1996). Metoda Statistika. Bandung : Tarsito
Riduwan. (2008). Dasar-dasar Statistika. Bandung: Alfabeta
Usman, H. (2006). Pengantar Statistika. Jakarta: PT Bumi Aksara
Furqon. (2009). Statistika Terapan Untuk Penelitian. Bandung : ALFABETA