Library:
> # install.packages("knitr")
> # install.packages("rmarkdown")
> # install.packages("prettydoc")
> # install.packages("equatiomatic")1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Regresi linear berganda adalah salah satu metode analisis statistik yang digunakan untuk mengukur hubungan antara satu variabel terikat (dependen) dengan dua atau lebih variabel bebas (independen). Tujuannya adalah untuk memahami seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dan untuk memprediksi nilai variabel terikat berdasarkan nilai variabel bebas. Promosi dapat meningkatkan kesadaran dan mendorong pembelian, sedangkan harga yang tepat dapat menarik konsumen tanpa mengorbankan persepsi nilai. Manajer pemasaran JOYKO ingin mengetahui sejauh mana promosi (X1) dan harga (X2) mempengaruhi keputusan pembelian konsumen (Y). Dengan menggunakan data dari 30 responden, analisis regresi berganda akan digunakan untuk menentukan pengaruh kedua variabel ini. Hasilnya akan membantu JOYKO mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif.
2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Statistika Deskriptif
Statistik deskriptif adalah cabang ilmu statistik yang berfokus pada pengumpulan, penyusunan, dan penyajian data dari suatu penelitian. Bidang ini merangkum, menyajikan, dan menggambarkan data dalam format yang mudah dipahami, sehingga informasi yang disajikan menjadi lebih komprehensif. Statistik deskriptif hanya berkaitan dengan penjelasan atau pemberian keterangan mengenai suatu data atau fenomena, dengan kata lain, ia hanya memberikan gambaran umum dari data yang diperoleh.
2.1.1 Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi berganda adalah metode statistik yang digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara satu variabel terikat (dependent variable) dan dua atau lebih variabel bebas (independent variables). Tujuan utamanya adalah untuk memahami seberapa besar variabel bebas mempengaruhi variabel terikat dan untuk memprediksi nilai variabel terikat berdasarkan nilai variabel bebas.
Persamaan regresi linier berganda : \[ Y= a + b_{1}X_{1}+b_{2}X_{2} +...+ b_{n}X_{n}+\epsilon\]
Keterangan :
Y = Variabel tak bebas (nilai variabel yang aka diprediksi)
a = Konstanta
\(b_{1},b_{2},...,b_{n}\) = Nilai koefisien regresi
\(X_{1},X_{2},...,X_{n}\) = Variabel bebas
Notasi Persamaan matriks : \[ Y_{(n×1)}= X_{(n×(k+1))}\beta_{((k+1)×1)} +\epsilon_{(n×1)}\]
Keterangan :
n = Banyaknya observasi
k = banyaknya variabel prediktor
Dengan menggunakan matriks, penduga \(\beta\) dapat ditentukan dengan rumus : \[ \beta =~(X^TX)^{-1}(X^tY)\]
Koefisien regresi \(b_{1}~dan~b_{2}\) serta konstanta a dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
\[ a = \frac{(\Sigma Y)-(b_{1}×\Sigma_{X_{1}})-(b_{2}×\Sigma_{X_{2}})}{n} \]
\[ b_{1} = \frac{[(\Sigma_{{X_{2}^2}}×{\Sigma_{X_{1}Y}})-(\Sigma_{{X_{2}Y}}×{\Sigma_{X_{1}X_{2}}})]}{[(\Sigma_{{X_{1}^2}}×{\Sigma_{X_{2}^2}})-(\Sigma_{{X_{1}×X_{2}}})^2]}\]
\[ b_{2} = \frac{[(\Sigma_{{X_{1}^2}}×{\Sigma_{X_{2}Y}})-(\Sigma_{{X_{1}Y}}×{\Sigma_{X_{1}X_{2}}})]}{[(\Sigma_{{X_{1}^2}}×{\Sigma_{X_{2}^2}})-(\Sigma_{{X_{1}×X_{2}}})^2]}\]
Koefisien Determinasi (\(r^2\))
\[ r^2 = \frac{(b_{1}\Sigma_{X_{1}Y})-(b_{2}\Sigma_{X_{2}Y})}{\Sigma_{Y^2}} \]
Apabila \(r^2\) bernilai 0, maka dalam model persamaan regresi yang terbentuk, variabel takbebas Y tidak sedikitpun dapat dijelaskan oleh variabel bebas \(X_{1}~dan~X_{2}\)
Apabila \(r^2\) bernilai 1, maka dalam model persamaan regresi yang terbentuk, variabel takbebas Y secara sempurna dapat dijelaskan oleh variabel bebas \(X_{1}~dan~X_{2}\)
2.1.2 Pembahasan Uji T
2.1.2.1 Uji Parsial
Hipotesis (untuk \(\beta_{1}\)) \[ H_{0}: \beta_{1}=0 \]
\[ H_{1} : \beta_{1}≠ 0 \]
Statistik Uji T :
- \[ T_{hit}=\frac{\beta_{1}-\beta_{0}}{\sqrt{(KTg)×(X^TX)^{-1}_{[1,1]}}} \]
Hipotesis (untuk \(\beta_{1}\)) \[ H_{0}: \beta_{2}=0 \]
\[ H_{1} : \beta_{2}≠ 0 \]
Statistika Uji T :
- \[ T_{hit}=\frac{\beta_{2}-\beta_{0}}{\sqrt{(KTg)×(X^TX)^{-1}_{[2,2]}}} \]
2.1.2.2 Keputusan
Jika \(P_{value} > \alpha_{0.05}\), maka tolak \(H_{0}\)
Jika \(P_{value} < \alpha_{0.05}\), maka terima \(H_{0}\)
2.1.3 Pembahasan Uji F
2.1.3.1 Uji Simultan
Hipotesis
\[H_{0}: \beta_{1} =\beta_{2}=0 \]
\[H_{1} : Minimal~terdapat~salah~satu~\beta_{i}≠ 0, ~dimana~ i=1,2\]
Menghitung JKT, JKP, dan JKR :
\[ JK_{R}=\beta^T(X^TY)-n\bar{Y}^2 \]
\[ JK_{T}=(Y^TY)-n\bar{Y}^2 \]
\[ JK_{G}=JK_{T}-JK_{R} \]
2.1.3.2 Keputusan
Jika \(P_{value} > \alpha_{0.05}\), maka tolak \(H_{0}\)
Jika \(P_{value} < \alpha_{0.05}\), maka terima \(H_{0}\)
2.2 Uji Asumsi
2.2.1 Asumsi Normalitas
Uji asumsi normalitas pada regresi linier berganda menggunakan Uji Saphiro Wilk
Hipotesis
\[ H_{0} : Data~berasal~dari~distribusi~normal \]
\[ H_{1} : Data~tidak~berasal~dari~distribusi~normal \]
Statistik Uji
\[ T = \frac{1}{D}[\Sigma^k_{i=1}a_{i}(X_{n-i+1}-X_{i})]^2 \]
Cara baca hasil perhitungan uji shapiro wilk adalah dengan melihat nilai shapiro wilk hitung dan tingkat Signifikansinya.
Keputusan
Jika \(P_{value} > \alpha_{0.05}\), maka tolak \(H_{0}\)
Jika \(P_{value} < \alpha_{0.05}\), maka terima \(H_{0}\)
2.2.2 Asumsi Homoskedastisitas
Homoskedastisitas adalah suatu keadaan di mana error variance sama (konstan) pada setiap varibel. Sebaliknya, jika error variance tidak konstan maka disebut Heteroskedastisitas. Uji asumsi homoskedastisitas pada regresi linier berganda menggunakan Uji Rank Spearman
Hipotesis
\[ H_0 : Tidak~terjadi~heteroskedastisitas \]
\[ H_1 : Terjadi~heteroskedastisitas \]
Langkah-Langkah :
Mencari nilai \(\bar{y}\)
Mencari nilai residual dan dimutlakkan
Menghittung korelasi antara residual dan variabel prediktor
Uji korelasi rank spearman menggunakan uji T
Statistik Uji
\[ T = 1-\frac{6~\Sigma d^2_{i}}{n(n^2-1)} \]
Keputusan
Jika \(Stat_{uji} > T_{tabel}\), maka tolak \(H_{0}\)
Jika \(Stat_{uji} < T_{tabel}\), maka terima \(H_{0}\)
2.2.3 Asumsi AutoKorelasi
Autokorelasi adalah adanya korelasi atau hubungan antara residual pengamatan yang satu dengan yang lain. Pada regresi apabila terjadi autokorelasi, maka dapat mengganggu suatu model. Autokorelasi mengakibatkan penaksir OLS tidak lagi memiliki varians yang minimum. Uji asumsi AutoKorelasi pada regresi linier berganda menggunakan Uji Durbin Watson
- Hipotesis
\[ H_0 : Tidak~terjadi~kasus~autokorelasi \]
\[ H_1 : Terjadi~kasus~autokorelasi \]
Statistik Uji
\[ DW= \frac{\Sigma d^T_{t-2}(e_t-e_{t-1})}{\Sigma^T_{t-1}~e_t^2} \]
Keputusan
Jika \(DW\)< \(D_L\) dan \((4-d_u)\), Maka \(H_0\) ditolak(ada korelasi)
Jika \(DW\) terletak antara \(D_u\) dan \((4-d_u)\), Maka \(H_0\) ditolak(ada korelasi)
2.2.4 Asumsi NonMultiKolinearitas
Model regresi yang baik jika tidak terjadi multikolinieritas. Multikolinieritas berarti terdapat korelasi atau hubungan yang sangat tinggi di antara variabel independen. Ada beberapa tanda suatu regresi linier berganda memiliki masalah dengan multikolinieritas, yaitu nilai R Square tinggi, tetapi hanya ada sedikit variabel independen yang signifikan atau bahkan tidak signifikan.
Hipotesis
\[ H_0 : Tidak~terdapat~hubungan~kolinearitas \]
\[ H_1 : Terdapat~hubungan~kolinearitas \]
Statistik Uji
Tolerance (TOL)\[ TOL_j= \frac{1}{VIF_j}=1-R_j^2 \]
Wariance Inflating Factor (VIF)
\[ VIF_j= \frac{1}{1-R_j^2}, j=1,2,3,...k \]
3 SOURCE CODE
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Statistik Deskriptif
> summary(data)
X1 X2 Y
Min. : 2.000 Min. :2.000 Min. : 7.50
1st Qu.: 4.250 1st Qu.:3.000 1st Qu.:13.95
Median : 6.000 Median :5.500 Median :19.85
Mean : 6.133 Mean :5.167 Mean :18.78
3rd Qu.: 7.750 3rd Qu.:7.000 3rd Qu.:23.68
Max. :10.000 Max. :9.000 Max. :30.50 Berdasarkan Data yang digunakan, diperoleh nilai rataan sebesar
\(\mu_{X_{1}} = 6.133\)
\(\mu_{X_{2}} = 5.167\)
\(\mu_{Y} = 18.78\)
4.2 Analisis Regresi Berganda
> y <- data$Y
> x1 <- data$X1
> x2 <- data$X2
> regresi <- lm(y~x1+x2, data = data)
> regresi
Call:
lm(formula = y ~ x1 + x2, data = data)
Coefficients:
(Intercept) x1 x2
12.4310 0.5000 0.6359 Berdasarkan analisis regresi linier berganda dengan data tersebut hasil persamaan regresi linier berganda sebagai berikut.
Y=12.4301+0.5000X1+0.6359X2
Berdasarkan persamaan diatas maka, nilai konstanta 12.431. Artinya, apabila variabel keputusan konsumen tidak ada makapengaruh promosi akan bertambah sebesar 12.4301. Jika promosi meningkat 1%, maka keputusan konsumen mengalami kenaikan sebesar 0.5000 kasus. Jika harga bertambah 1 variabel, maka keputusan konsumen meningkat sebesar 0.6359 kasus.
> summary(regresi)
Call:
lm(formula = y ~ x1 + x2, data = data)
Residuals:
Min 1Q Median 3Q Max
-11.6825 -5.1138 0.2573 3.9855 13.1612
Coefficients:
Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
(Intercept) 12.4310 4.3413 2.863 0.00801 **
x1 0.5000 0.5564 0.899 0.37678
x2 0.6359 0.5864 1.084 0.28775
---
Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
Residual standard error: 6.345 on 27 degrees of freedom
Multiple R-squared: 0.0803, Adjusted R-squared: 0.01217
F-statistic: 1.179 on 2 and 27 DF, p-value: 0.323
> lm(formula = y~x1+x2, data = data)
Call:
lm(formula = y ~ x1 + x2, data = data)
Coefficients:
(Intercept) x1 x2
12.4310 0.5000 0.6359 Fungsi summary digunakan untuk melihat hasil analisis regresi secara lengkap. Berdasarkan output di atas dapat diketahui:
- Uji Simultan
Uji simultan atau disebut uji-F digunakan untuk melihat seberapa pengaruh keputusan konsumen dengan promosi secara bersamaan. Berikut hasil uji-F dari data tersebut. Berdasarkan Rstudio di atas, nilai signifikansi dari uji-F sebesar 0,323 bernilai lebih dari α=0,05. Artinya, tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama diantara keputusan konsumen dan promosi dengan harga yang terjadi.
- Uji Parsial
Berdasarkan hasil diatas, didapatkan nilai signifikansi dari masing-masing variabel penelitian. Nilai signifikansi dari promosi sebesar 0.37678. Nilai signifikansi tersebut lebih dari α=0.05 maka terima H0. Artinya, dari variabel keputusan konsumen tidak terdapat pengaruh signifikan dengan promosi. Sedangkan, nilai signifikan dari harga sebesar 0.28775. Nilai signfikan tersebut bernilai lebih dari α=0.05 maka terima H0. Artinya, dari variabel keputusan konsumen tidak terdapat pengaruh secara signifikan dengan harga.
4.3 Uji Asumsi
Uji Asumsi Normalitas
> sisa <- residuals(regresi) > jarque.bera.test(sisa) Jarque Bera Test data: sisa X-squared = 0.70328, df = 2, p-value = 0.7035 > shapiro.test(sisa) Shapiro-Wilk normality test data: sisa W = 0.96923, p-value = 0.5183Berdasarkan hasil di atas, didapatkan nilai p-value (0.5183) lebih dari alpha (0.05) maka dapat dikatakan terindikasi adanya pelanggaran normalitas sisa
Uji homogenitas ragam galat
Berdasarkan hasil di atas, nilai p-value (0.769) lebih dari alpha (0.05) maka dapat dikatakan tidak terbukti ada pelanggaran asumsi homogenitas ragam galat.
Uji NonAutoKorelasi
> dwtest(regresi) Durbin-Watson test data: regresi DW = 2.012, p-value = 0.4847 alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0Berdasarkan hasil di atas, nilai p-value (0.4847) kurang dari alpha (0.05) maka dapat dikatakan tidak terdeteksi adanya non autokorelasi galat atau dengan kata lain terdeteksi adanya masalah autokorelasi.
Uji MultiKolinieritas
Uji non multikolinieritas yaitu uji yang digunakan untuk mengindikasi bahwa tidak ada hubungan linier antar variabel prediktor. Berdasarkan hasil di atas, diketahui nilai VIF dari kedua variabel prediktor kurang dari 10 yaitu 1.026461. Oleh karena itu, dikatakan tidak ada multikolinieritas.
5 DAFTAR PUSTAKA
CFI Team. (n.d). Durbin Watson Statistic - Overview, How to Calculate and Interpret. Corporate Finance Institute. Retrieved June 4, 2024, from https://corporatefinanceinstitute.com/resources/data-science/durbin-watson-statistic/
Pelatihan Universitas Indonesia. (2023, August 15). UJI AUTOKORELASI BERDASARKAN NILAI DURBIN WATSON MENGGUNAKAN SPSS. Pelatihan Statistik. Retrieved June 4, 2024, from https://pelatihan-ui.com/uji-autokorelasi-berdasarkan-nilai-durbin-watson-dengan-spss-18/
Rohman, M. A. (n.d.). Mengapa kita harus memenuhi asumsi non multikolinearitas dalam regresi linier? Wikipedia. Retrieved June 4, 2024, from https://sekolahstata.com/mengapa-kita-harus-memenuhi-asumsi-non-multikolinearitas-dalam-regresi-linier/
Yuliara, I. M. (n.d.). REGRESI LINIER BERGANDA, 18.
questionpro. (n.d.). Spearman correlation coefficient: Formula + Calculation. QuestionPro. Retrieved June 4, 2024, from https://www.questionpro.com/blog/spearmans-rank-coefficient-of-correlation/