Rumus Uji Kruskal-Wallis \[H = \frac{12}{N(N+1)} \sum_{j=1}^k \frac{R^2_j}{n_j} - 3(N+1)\]
Keterangan :
H: nilai Kruskal-Wallis dari hasil perhitungan
\(R_j\): jumlah rank dari kelompok/kategori ke-j
\(n_j\): banyaknya kasus dalam sampel pada kelompok/kategori ke-j
k: banyaknya kelompok/kategori
N: jumlah seluruh observasi( N = \(n_1 + n_2 + ... + n_k\) )
Daerah Penolakan pada Uji Kruskal-Wallis
\(H_0\) ditolak jika \(H_{hit} > H_{tabel}\) dengan syarat \(n_i \leq 3; k = 3\) atau
\(H_0\) ditolak jika \(H_{hit} > \chi^2_{k-1} (\alpha)\) dengan syarat \(n_i \neq 5; k = 3\) atau
\(H_0\) ditolak jika \(p-value < \alpha\)
Sumber Tabel
Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam mencegah penyakit menular, termasuk Hepatitis B. Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyerang hati dan dapat menyebabkan penyakit akut serta kronis, yang pada akhirnya dapat berujung pada sirosis hati atau kanker hati. Pemberian vaksin Hepatitis B secara rutin pada bayi baru lahir atau anak berusia 1 tahun merupakan strategi utama untuk mengurangi beban penyakit ini secara global.
Tiga negara di Asia, yaitu Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka, telah menerapkan program imunisasi Hepatitis B dalam upaya untuk menekan angka kejadian penyakit tersebut. Meskipun ketiga negara ini berada di kawasan yang sama, tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan dalam cakupan imunisasi Hepatitis B dari tahun 2000 hingga 2015. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor-faktor seperti kebijakan kesehatan, infrastruktur medis, kesadaran masyarakat, dan dukungan internasional yang di setiap negara pasti berbeda-beda. Salah satu metode statistik yang cocok untuk menganalisis perbedaan adalah uji Kruskal-Wallis, sebuah uji non-parametrik yang digunakan untuk membandingkan median dari tiga atau lebih kelompok yang tidak berdistribusi normal.
Analisis perbedaan cakupan imunisasi antar negara sangat penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program imunisasi. Oleh karena itu, untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan cakupan imunisasi Hepatitis B di ketiga negara tersebut, dilakukan pengujian menggunakan Uji Kruskal-Wallis melalui R-Studio.Aktifkan library yang akan digunakan dalam analisis data menggunakan R.
library(rmarkdown)
library(knitr)
library(readxl)
library(dplyr)
library(kableExtra)
library(ggpubr)
Data yang digunakan merupakan data persentase cakupan imunisasi Hepatitis B (HepB3) pada anak usia 1 tahun pada tahun 2000-2015 di Negara Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.
Country : 3 Negara, yaitu Filipinia, Vietnam, dan Sri Lanka
Region : Asia
Year : 2000-2015
Hepatitis_B : Persentase cakupan imunisasi Hepatitis B (HepB3) pada anak usia 1 tahun
# Mengimpor file excel
data = read_excel("D:/AAAAULAAAA/SEMESTER 4/SIM/CM 2/dataset_CM.xlsx")
# Data Persentase Cakupan Imunisasi Hepatitis B pada Anak Usia 1 Tahun pada Tahun 2000-2015 di Filipina
Data_Filipina = data %>%
filter(Region == "Asia") %>%
filter(Country == "Philippines") %>%
select(Year, Hepatitis_B) %>%
arrange(Year)%>%
rename(Filipina = Hepatitis_B)
# Data Persentase Cakupan Imunisasi Hepatitis B pada Anak Usia 1 Tahun pada Tahun 2000-2015 di Vietnam
Data_Vietnam = data %>%
filter(Region == "Asia") %>%
filter(Country == "Vietnam") %>%
select(Year, Hepatitis_B) %>%
arrange(Year)%>%
rename(Vietnam = Hepatitis_B)
# Data Persentase Cakupan Imunisasi Hepatitis B pada Anak Usia 1 Tahun pada Tahun 2000-2015 di Sri Lanka
Data_Sri_Lanka = data %>%
filter(Region == "Asia") %>%
filter(Country == "Sri Lanka") %>%
select(Year, Hepatitis_B) %>%
arrange(Year) %>%
rename(Sri_Lanka = Hepatitis_B)
# Menggabungkan kolom Hepatitis_B dari ketiga dataset
Tabel_data = cbind(Data_Filipina$Filipina, Data_Vietnam$Vietnam, Data_Sri_Lanka$Sri_Lanka)
# Mengubah nama kolom dari tabel hasil cbind()
colnames(Tabel_data) = c("Filipina", "Vietnam", "Sri Lanka")
# Mengubah Tabel_data menjadi data frame
Tabel_data = as.data.frame(Tabel_data)
# Menampilkan Tabel
knitr::kable(Tabel_data, format = "html", col.names = c("Filipina", "Vietnam", "Sri Lanka"), align = "c")%>%
kable_styling (full_width = TRUE)%>%
scroll_box(width="100%", height="300px")
| Filipina | Vietnam | Sri Lanka |
|---|---|---|
| 46 | 85 | 86 |
| 45 | 87 | 86 |
| 42 | 89 | 86 |
| 52 | 78 | 86 |
| 48 | 94 | 62 |
| 49 | 94 | 99 |
| 77 | 93 | 98 |
| 87 | 67 | 98 |
| 88 | 87 | 98 |
| 85 | 94 | 97 |
| 77 | 88 | 99 |
| 87 | 95 | 99 |
| 88 | 97 | 99 |
| 89 | 59 | 99 |
| 67 | 95 | 99 |
| 75 | 97 | 99 |
ggqqplot(Tabel_data$Filipina)
Berdasarkan persebaran yang diperoleh dari hasil probability plot di atas, pada bagian tengah plot terlihat bahwa titik-titik data cukup dekat dengan garis linear (garis referensi) yang berarti kuantil tengah dari data mengikuti distribusi normal. Namun, pada bagian ujung kiri dan kanan plot terlihat bahwa terdapat titik-titik data yang berada di luar pita bayangan yang berarti data di ekor distribusi mungkin tidak mengikuti distribusi normal dengan baik. Hal ini menandakan bahwa data memiliki outlier atau tidak sepenuhnya normal.
Asumsi ini dapat dibuktikan lebih lanjut melalui perhitungan menggunakan Uji Normalitas Shapiro-Wilk dengan R-Studio.Hipotesis
\(H_0\) : Data berdistribusi normal
\(H_1\) : Data tidak berdistribusi normal
Taraf Signifikansi
\(\alpha = 0,05\)
Daerah Kritis \(H_0\) ditolak jika p-value < \(\alpha\)
Statistik Uji
shapiro.test(Tabel_data$Filipina)
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: Tabel_data$Filipina
## W = 0.83208, p-value = 0.007506Kesimpulan
ggqqplot(Tabel_data$Vietnam)
Berdasarkan persebaran yang diperoleh dari hasil probability plot di atas, pada bagian tengah plot terlihat bahwa titik-titik data cukup dekat dengan garis linear (garis referensi) yang berarti kuantil tengah dari data mengikuti distribusi normal. Namun, pada bagian ujung kiri plot terdapat tiga titik data dan pada ujung kanan plot terdapat satu titik data yang berada di luar pita bayangan. Artinya, data di ekor distribusi mungkin tidak mengikuti distribusi normal dengan baik. Hal ini menandakan bahwa data memiliki outlier atau tidak sepenuhnya normal.
Asumsi ini dapat dibuktikan lebih lanjut melalui perhitungan menggunakan Uji Normalitas Shapiro-Wilk dengan R-Studio.Hipotesis
\(H_0\) : Data berdistribusi normal
\(H_1\) : Data tidak berdistribusi normal
Taraf Signifikansi
\(\alpha = 0,05\)
Daerah Kritis \(H_0\) ditolak jika p-value < \(\alpha\)
Statistik Uji
shapiro.test(Tabel_data$Vietnam)
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: Tabel_data$Vietnam
## W = 0.78761, p-value = 0.001874Kesimpulan
C. Uji Normalitas Persentase Cakupan Imunisasi Hepatitis
B (HepB3) pada Anak Usia 1 Tahun pada Tahun 2000-2015 di Negara Sri
Lanka
ggqqplot(Tabel_data$`Sri Lanka`)
Berdasarkan persebaran yang diperoleh dari hasil probability plot di atas, pada bagian tengah plot terlihat bahwa terdapat titik-titik data yang jauh dari garis linear (garis referensi) dan berada di luar pita bayangan yang berarti bahwa kuantil tengah dari data tidak mengikuti distribusi normal. Selain itu, pada bagian ujung kiri dan kanan plot juga terdapat titik-titik data yang berada di luar pita bayangan. Artinya, data di ekor distribusi juga tidak mengikuti distribusi normal dengan baik. Hal ini menandakan bahwa data memiliki outlier atau tidak normal.
Asumsi ini dapat dibuktikan lebih lanjut melalui perhitungan menggunakan Uji Normalitas Shapiro-Wilk dengan R-Studio.Hipotesis
\(H_0\) : Data berdistribusi normal
\(H_1\) : Data tidak berdistribusi normal
Taraf Signifikansi
\(\alpha = 0,05\)
Daerah Kritis \(H_0\) ditolak jika p-value < \(\alpha\)
Statistik Uji
shapiro.test(Tabel_data$`Sri Lanka`)
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: Tabel_data$`Sri Lanka`
## W = 0.63756, p-value = 3.744e-05Kesimpulan
Uji Kruskal-Wallis Data Persentase Cakupan Imunisasi
Hepatitis B (HepB3) pada Anak Usia 1 Tahun pada Tahun 2000-2015 di
Negara Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka
Hipotesis
\(H_0\) : Tidak terdapat perbedaan persentase cakupan imunisasi Hepatitis B (HepB3) pada anak usia 1 tahun pada tahun 2000-2015 di ketiga negara
\(H_1\) : Terdapat perbedaan persentase cakupan imunisasi Hepatitis B (HepB3) pada anak usia 1 tahun pada tahun 2000-2015 di ketiga negara
Taraf Signifikansi
\(\alpha = 0,05\)
Daerah Kritis
\(H_0\) ditolak jika p-value < \(\alpha\)
Statistik Uji
kruskal.test(Tabel_data, alternative = "two.sided", conf.level = 0.95)
##
## Kruskal-Wallis rank sum test
##
## data: Tabel_data
## Kruskal-Wallis chi-squared = 19.487, df = 2, p-value = 5.867e-05Kesimpulan
Karena \(p-value = 5,867e^{-05}\) < 0,05 maka \(H_0\) ditolak yang berarti bahwa terdapat perbedaan persentase cakupan imunisasi Hepatitis B (HepB3) pada anak usia 1 tahun pada tahun 2000-2015 di ketiga negara.
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan menggunakan RStudio, diperoleh bahwa data persentase cakupan imunisasi Hepatitis B (HepB3) pada anak usia 1 tahun pada tahun 2000-2015 di Negara Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka tidak berdistribusi normal. Karena data tidak normal, maka cocok untuk Metode Statistika Nonparametrik yaitu Uji Kruskal-Wallis. Berdasarkan hasil Uji Kruskal-Wallis, diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam persentase cakupan imunisasi antara ketiga negara selama periode waktu tersebut. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa di Negara Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka terdapat perbedaan persentase cakupan imunisasi Hepatitis B (HepB3) pada anak usia 1 tahun pada tahun 2000-2015.
Dengan ditemukannya perbedaan yang signifikan mengenai cakupan imunisasi Hepatitis B di ketiga negara, penting bagi pembuat kebijakan kesehatan untuk memahami dan mengatasi faktor-faktor yang mempengaruhi cakupan imunisasi di masing-masing negara. Analisis lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi pasangan negara mana yang memiliki perbedaan signifikan.