Oleh: Anindya Salsabila (M0722013)
Hepatitis B dan Polio merupakan dua penyakit menular yang dapat berakibat fatal, terutama pada anak-anak. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan hati kronis, kelumpuhan, dan kematian. Imunisasi adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyakit ini dan meningkatkan harapan hidup. Analisis Regresi dapat menjadi salah satu cara untuk membuktikan adanya pengaruh Imunisasi Hepatitis B dan Polio terhadap Harapan Hidup. Analisis regresi merupakan teknik analisis data yang digunakan untuk mengkaji hubungan antara beberapa variabel dan meramal suatu variabel.Analisis regresi terbagi menjadi dua jenis yaitu regresi linear sederhana dan regresi linear berganda. Pada regresi linear berganda, variabel independennya berjumlah lebih dari satu dan memengaruhi variabel dependen.
Tujuan dari analisi regresi linear berganda adalah untuk memprediksi nilai variabel dependen atau response \((Y)\), apabila nilai-nilai variabel independennya atau prediktor \((X_1, X_2, ..., X_n)\) diketahui.
Secara umum model persamaannya sebagai berikut:
\(Y_i = \beta_0+\beta_ix_{i1} + \beta_2x_{i2}+...+\beta_kx_{ik}+\epsilon_i, i= 1,2,.....,n; \epsilon \sim N(0,\sigma^2)\)
dengan
\(Y_i\) : nilai variabel dependen pada pengamatan ke i
\(x_{i1}, x_{i2},...,x_{nk}\) : nilai variabel dependen ke-\(j\), \(j\) = \(1,2,...,k\) pada pengamatan ke i = 1,2,…,n
\(\beta_0,\beta_1,...,\beta_p\) : parameter koefisien regresi ke-j, j = 1,2,…,k
\(\epsilon_i\) : \(eror\) untuk pengamatan ke \(i\) yang berdisribusi normal dengan mean nol dan varians konstan \(\sigma^2\) \((\epsilon_i \sim N(0,\sigma^2))\) dimana \(eror\) tidak saling berkorelasi
Uji normalitas berfungsi untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi memiliki residual yang berdistribusi normal. Banyak metode statistik yang memerlukan asumsi bahwa data berdistribusi normal. Jika data tidak berdistribusi normal, analisis yang dilakukan dapat menghasilkan kesimpulan yang tidak akurat atau tidak valid. Oleh karena itu, uji normalitas perlu dilakukan sebelum menerapkan metode statistik tertentu. Terdapat beberapa macam uji normalitas, seperti uji Kolmogorov-Smirnov, uji Shapiro Wilk, dll.
Uji Kolmogorov-Smirnov umumnya lebih cocok untuk sampel berukuran besar (lebih dari 50). Dengan sampel yang lebih kecil, uji ini mungkin kurang berdaya untuk mendeteksi penyimpangan dari normalitas.
Hipotesis
\(H_0\): Residu berdistribusi normal
\(H_1\): Residu tidak berdistribusi normal
Daerah Kritis
\(H_0\) ditolak jika nilai \(D > D_\alpha,_n\) (nilai pada tabel Kolmogorov Smirnov)
dengan
\(n\) : banyaknya observasi/nilai pengamatan
\(\alpha\) : tingkat signifikansi yang dipilih untuk pengujian hipotesis (probabilitas maksimum untuk membuat kesalahan tipe I/kesalahan menolak hipotesis nol ketika sebenarnya benar). Nilai \(\alpha\) yang umum digunakan adalah 0.05 atau 0.01.
Statistik Uji
\(D = \max_x \left| F_n(x) - F_0(x) \right|\)
dengan
\(F_n(x)\) : probabilitas kumulatif normal.
\(F_0(x)\) : probabilitas kumulatif empiris.
Uji Shapiro Wilk lebih sesuai untuk sampel berukuran kecil (kurang dari 50). Uji ini lebih sensitif terhadap non-normalitas bahkan dengan ukuran sampel yang lebih kecil.
Hipotesis
\(H_0\): Residu berdistribusi normal
\(H_1\): Residu tidak berdistribusi normal
Daerah Kritis
\(H_0\) ditolak jika nilai \(...\)
dengan
\(\alpha\) : tingkat signifikansi yang dipilih untuk pengujian hipotesis (probabilitas maksimum untuk membuat kesalahan tipe I/kesalahan menolak hipotesis nol ketika sebenarnya benar). Nilai \(\alpha\) yang umum digunakan adalah 0.05 atau 0.01.
Statistik Uji
\(SW = \frac{[\sum_{i=1}^k a_i(x_{n-i+1} - x_i)]^2}{[\sum_{i=1}^n x_i - \bar{x}]^2}\)
dengan
\(a_i\) : konstanta yang dihasilkan dari kovarians, varians, dan mean sampel
\(x_n-_i+_1\) : nilai pengamatan ke n-i+1
\(x_i\) : nilai pengamatan ke i
\(\bar{x}\) : rata-rata nilai pengamatan
Uji homogenitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan lain. Syarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas (Gujarati, 2003). Pengujian kali ini menggunakan uji Breusch-Pagan.
Hipotesis
\(H_0\): Variansi residu homogen
\(H_1\): Paling tidak terdapat satu variansi residu tidak homogen
Daerah kritis:
\(H_0\) ditolak apabila nilai \(\phi_{hitung}\) > \(X^2_{(\alpha;k)}\) atau nilai p-value < \(\alpha\) = 0,05
dengan k = banyaknya variabel independen
\(\alpha\) : tingkat signifikansi yang dipilih untuk pengujian hipotesis (probabilitas maksimum untuk membuat kesalahan tipe I/kesalahan menolak hipotesis nol ketika sebenarnya benar). Nilai \(\alpha\) yang umum digunakan adalah 0.05 atau 0.01.
Statistik Uji :
\(\phi\) = \(\frac{1}{2}\) \((JKR)\)
dengan JKR : Jumlah Kuadrat Regresi
Menurut Gujarati (1995) autokorelasi dapat didefinisikan sebagai hubungan yang terjadi antara anggota observasi yang diurutkan menurut waktu dan ruang. Dalam konteks regresi, model regresi linear klasik mengasumsikan bahwa autokorelasi seperti itu tidak terdapat dalam sesatan \(\epsilon_i\) , yang disebut kondisi non autokorelasi. Salah satu cara mendeteksi autokorelasi, yaitu dengan uji Durbin Watson (Gujarati, 1995). Hipotesis dalam pengujian ini adalah:
Hipotesis
\(H_0\): Tidak ada autokorelasi antar residu
\(H_1\): Ada autokorelasi antar residu
Adapun mekanismenya adalah sebagai berikut
i). Melakukan perhitungan metode kuadrat terkecil untuk memperoleh nilai \(\epsilon_i\)
ii). Mencari besarnya nilai d yang diperoleh dengan rumus \[d=\frac{\sum_{i=2}^{n}(e_{i}-e_{i-1})^{2}}{\sum_{i=1}^{n}e_{i}^{2}}\]
iii). Untuk ukuran sampel 𝑛 dan 𝑘 = 𝑝−1, dengan 𝑝 adalah banyaknya parameter sehingga diperoleh nilai kritis \(d_L\) dan \(d_U\) (dapat dilihat pada Tabel Statistik 𝑑 )
iv). Jika diberikan tingkat signifikansi sebesar \(\alpha\), maka keputusan yang diambil adalah dengan membandingkan antara nilai d pengujian dengan nilai \(d_U\) (nilai batas atas dari tabel Durbin-Watson) dan \(d_L\) (nilai batas bawah dari tabel Durbin-Watson). Selanjutnya aturan keputusannya adalah sebagai berikut:
\(d_w\) < \(d_L\) : \(H_0\) ditolak
\(d_w\) > (4-\(d_L\)): \(H_0\) ditolak
\(d_U\) < \(d_w\) < (4-\(d_U\)) : \(H_0\) tidak ditolak
\(d_L\) ≤ \(d_w\) ≤ \(d_U\) atau (4-\(d_U\)) ≤ \(d_w\) ≤(4-\(d_L\)) :pengujian tidak dapat diambil keputusan.
Uji non-multikolinearitas merupakan salah satu asumsi dalam analisis regresi yang penting untuk memastikan bahwa variabel independen dalam model tidak saling berkorelasi tinggi. Dalam konteks regresi berganda atau ketika kita menggunakan lebih dari satu variabel independen, uji ini membantu mengidentifikasi apakah terdapat multikolinearitas antara variabel-variabel tersebut. Menurut Montgomery dan Peck (1992), salah satu cara mendeteksi adanya multikolinearitas dalam model adalah dengan nilai tolerance dan VIF (Variance Inflation Factors).
Hipotesis
\(H_0\): Tidak terjadi multikolinearitas
\(H_1\): Terjadi multikolinearitas
Daerah kritis: \(H_0\) ditolak apabila nilai \(VIF > 10\)
\(\alpha\) : tingkat signifikansi yang dipilih untuk pengujian hipotesis (probabilitas maksimum untuk membuat kesalahan tipe I/kesalahan menolak hipotesis nol ketika sebenarnya benar). Nilai \(\alpha\) yang umum digunakan adalah 0.05 atau 0.01.
Statistik Uji:
\(VIF_j\) = \(C_{jj}\) = \(\frac{1}{1-R_j^2}\) , \(j = 1,2,...k\)
Menurut Ghozali (2012: 98), uji simultan F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen atau variabel dependen. Uji simultan dilakukan secara bersamasama dengan analisis varians (ANOVA).
Hasil uji F ini semakin diperkuat dengan hasil dari uji kesesuaian model \((R^2)\). Menurut Trijono (2015:77), keputusan untuk menerima model sebagai baik atau tepat harus dilihat bersama antara besarnya nilai F dan \(R^2\).
Nilai \(R^2\) terletak antara 0 – 1. Nilai \(R^2\) yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.
Hipotesis
\(H_0\): \(\beta_1 = \beta_2 = \beta_3 = ... = \beta_k = 0\) (tidak ada pengaruh secara simultan variabel independen terhadap variabel dependen)
\(H_1\): minimal ada satu \(\beta_k \neq 0\) (ada pengaruh secara simultan variabel independen terhadap variabel dependen)
Daerah Kritis
\(H_0\) ditolak jika nilai \(F_{hitung} > F_{(k-1,n-k,\alpha)}\)
Statistik Uji
\(F = \frac{RKR}{RKS}\)
dimana
\(RKR = \frac{JKR}{k-1}\)
\(JKR = \sum_{i=1}^n (\hat{Y_i} - \bar{Y})^2\)
\(RKS = \frac{JKS}{n-k}\)
\(JKS = \sum_{i=1}^n (Y_i - \hat{Y_i})^2\)
dengan
k : banyaknya pengamatan
n : jumlah sampel
JKR : jumlah Kuadrat Regresi
JKS : jumlah Kuadrat Galat
RKR : rataan Kuadrat untuk Regresi
RKS : rataan Kuadrat untuk Galat
k-1 : derajat keindependenan JKR
n-1 : derajat keindependenan JKG
Menurut Ghozali (2013) Uji statistik t pada dasarnya digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen. Hipotesis dari masing masing variabel yang akan di uji dengan statistik ini lebih dahulu ditentukan nilai \(t_{hitung}\) dengan rumus:
\(t_{hitung} = \frac{b_i}{S(b_i)}\)
dengan
\(b_i\) : koefisien regresi
\(S(b_i)\) : kesalahan baku koefisien regresi
Hipotesis dalam pengujian ini adalah:
Hipotesis
\(H_0\): \(\beta_i\) = 0 (parameter regresi ke-i tidak berpengaruh signifikan terhadap model)
\(H_1\): \(\beta_i\) \(\neq\) 0, untuk \(i\) = 0,1 (variabel independen ke-i berpengaruh signifikan terhadap model)
Adapun penerimaan atau penolakan hipotesis dalam uji t berdasarkan pada kriteria berikut:
i). Apabila \(t_{hitung} > t_{tabel}\) dan nilai signifikan \(<0,05\) maka variabel independen dapat menerangkan variabel dependennya atau dengan kata lain terdapat pengaruh yang signifikan diantara dua variabel yang diteliti.
ii). Apabila \(t_{hitung} < t_{tabel}\) dan nilai signifikan \(>0,05\) maka variabel independen tidak dapat menerangkan variabel dependennya atau dengan kata lain tidak terdapat pengaruh yang signifikan diantara dua variabel yang diteliti.
iii). Diberikan tingkat signifikansi sebesar \(alpha = 0,05\), maka keputusan yang diambil adalah dengan membandingkan antara nilai \(t_{hitung}\) dengan \(t_{tabel}\) Selanjutnya aturan keputusannya adalah sebagai berikut:
\(H_0\) ditolak apabila nilai p-value < \(\alpha = 0.05\)
library(readxl)
library (car)
library (MASS)
library (lmtest)
library(dplyr)
library(ggplot2)
Sebelum melakukan analisis data, kita harus mengimport data terlebih dahulu.
#Input data
data_cm_2 <- read_excel("D:/data_cm_2.xlsx")
data_cm_2
## # A tibble: 2,864 × 22
## No Country Region Year Infant_deaths Under_five_deaths Adult_mortality
## <dbl> <chr> <chr> <dbl> <dbl> <dbl> <dbl>
## 1 1 Turkiye Middl… 2015 11.1 13 106.
## 2 2 Spain Europ… 2015 2.7 3.3 57.9
## 3 3 India Asia 2007 51.5 67.9 201.
## 4 4 Guyana South… 2006 32.8 40.5 222.
## 5 5 Israel Middl… 2012 3.4 4.3 58.0
## 6 6 Costa Rica Centr… 2006 9.8 11.2 95.2
## 7 7 Russian F… Rest … 2015 6.6 8.2 223
## 8 8 Hungary Europ… 2000 8.7 10.1 193.
## 9 9 Jordan Middl… 2001 22 26.1 130.
## 10 10 Moldova Rest … 2008 15.3 17.8 218.
## # ℹ 2,854 more rows
## # ℹ 15 more variables: Alcohol_consumption <dbl>, Hepatitis_B <dbl>,
## # Measles <dbl>, BMI <dbl>, Polio <dbl>, Diphtheria <dbl>,
## # Incidents_HIV <dbl>, GDP_per_capita <dbl>, Population_mln <dbl>,
## # Thinness_ten_nineteen_years <dbl>, Thinness_five_nine_years <dbl>,
## # Schooling <dbl>, Economy_status_Developed <dbl>,
## # Economy_status_Developing <dbl>, Life_expectancy <dbl>
Selanjutnya kita akan memilih variabel yang akan digunakan dalam analisis yaitu wilayah, harapan hidup, imunisasi hepatitis B, dan imunisasi polio di tahun 2015.
#Memilih Tahun 2015 dan variabel yg dipakai
data <- subset(data_cm_2, Year == 2015, select = c(Region, Life_expectancy,Hepatitis_B,Polio))
data
## # A tibble: 179 × 4
## Region Life_expectancy Hepatitis_B Polio
## <chr> <dbl> <dbl> <dbl>
## 1 Middle East 76.5 97 97
## 2 European Union 82.8 97 97
## 3 Rest of Europe 71.2 97 97
## 4 Africa 57.6 84 77
## 5 Africa 60.9 97 96
## 6 Africa 76.1 95 95
## 7 Middle East 76.9 99 99
## 8 Africa 65.5 69 68
## 9 Rest of Europe 82.3 88 95
## 10 Asia 75.1 97 97
## # ℹ 169 more rows
Kemudian kita menentukan wilayah yang akan digunakan dalam analisis ini yaitu Asia.
#memilih region asia
datasim <- data%>% filter(Region == "Asia")
datasim
## # A tibble: 27 × 4
## Region Life_expectancy Hepatitis_B Polio
## <chr> <dbl> <dbl> <dbl>
## 1 Asia 75.1 97 97
## 2 Asia 69.5 91 90
## 3 Asia 70.8 78 85
## 4 Asia 75.9 99 99
## 5 Asia 68.6 87 86
## 6 Asia 67.7 99 99
## 7 Asia 65.8 89 89
## 8 Asia 72.3 96 98
## 9 Asia 76.1 99 99
## 10 Asia 69.1 99 99
## # ℹ 17 more rows
Setelah kita melakukan filter pada data, kita dapat menghapus kolom region dan menggunakan data Harapan hidup sebagai variabel dependen dan data Imunisasi Hepatitis B dan Polio sebagai variabel independen.
#menghapus kolom region
datacm2 <- datasim[-c(1)]
datacm2
## # A tibble: 27 × 3
## Life_expectancy Hepatitis_B Polio
## <dbl> <dbl> <dbl>
## 1 75.1 97 97
## 2 69.5 91 90
## 3 70.8 78 85
## 4 75.9 99 99
## 5 68.6 87 86
## 6 67.7 99 99
## 7 65.8 89 89
## 8 72.3 96 98
## 9 76.1 99 99
## 10 69.1 99 99
## # ℹ 17 more rows
#Model Regresi
model.mkt=lm(Life_expectancy~.,data=datacm2)
summary (model.mkt)
##
## Call:
## lm(formula = Life_expectancy ~ ., data = datacm2)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -5.573 -2.078 -0.119 2.369 10.453
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 39.4287 7.5000 5.257 2.17e-05 ***
## Hepatitis_B -0.5770 0.2037 -2.833 0.009193 **
## Polio 0.9189 0.2243 4.097 0.000412 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 3.542 on 24 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.5068, Adjusted R-squared: 0.4657
## F-statistic: 12.33 on 2 and 24 DF, p-value: 0.0002072
Berdasarkan hasil tersebut, didapatkan model regresi : Y = 39,4287 - 0,5770 \(X_1\) + 0,9189 \(X_2\)
Hipotesis
\(H_0\): Residu berdistribusi normal
\(H_1\): Residu tidak berdistribusi normal
Taraf signifkansi: \(\alpha\) = 5%
Daerah kritis: \(H_0\) ditolak apabila nilai p-value < \(\alpha\) = 0,05
Statistik Uji:
#UJI NORMALITAS (sampel kecil <50)
shapiro.test(model.mkt$residuals)
##
## Shapiro-Wilk normality test
##
## data: model.mkt$residuals
## W = 0.92865, p-value = 0.06405
Kesimpulan
Berdasarkan uji Shapiro-Wilk diatas, diperoleh nilai p-value = 0.06405 > \(\alpha\) = 0.05 sehingga \(H_0\) diterima. Dapat disimpulkan bahwa residu berdistribusinormal, yang artinya asumsi normalitas terpenuhi.
Hipotesis
\(H_0\): Variansi residu homogen
\(H_1\): Paling tidak terdapat satu variansi residu tidak homogen
Taraf signifkansi: \(\alpha\) = 5%
Daerah kritis: \(H_0\) ditolak apabila nilai p-value < \(\alpha\) = 0,05
Statistik Uji:
bptest(model.mkt)
##
## studentized Breusch-Pagan test
##
## data: model.mkt
## BP = 0.95167, df = 2, p-value = 0.6214
Kesimpulan
Berdasarkan uji Breushch-Pagan diatas, diperoleh nilai p-value = 0.6214 > \(\alpha\) = 0.05 sehingga \(H_0\) diterima. Dapat disimpulkan bahwa variansi residu homogen dan uji homogenitas terpenuhi.
Hipotesis \(H_0\): Tidak ada autokorelasi antar residu
\(H_1\): Ada autokorelasi antar residu
Taraf signifkansi: \(\alpha\) = 5%
Daerah kritis: \(H_0\) ditolak apabila nilai p-value < \(\alpha\) = 0,05
Statistik Uji:
dwtest(model.mkt)
##
## Durbin-Watson test
##
## data: model.mkt
## DW = 2.2583, p-value = 0.7419
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0
Kesimpulan Berdasarkan uji Durbin-Watson diatas, diperoleh nilai p-value = 0.7419 > \(\alpha\) = 0.05 sehingga \(H_0\) diterima. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada autokorelasi antar residu, yang artinya asumsi non autokorelasi terpenuhi.
Hipotesis
\(H_0\): Tidak terjadi multikolinearitas
\(H_1\): Terjadi multikolinearitas
Taraf signifkansi: \(\alpha\) = 5%
Daerah kritis: \(H_0\) ditolak apabila nilai VIF > 10
Statistik Uji:
vif(model.mkt)
## Hepatitis_B Polio
## 7.927364 7.927364
Kesimpulan Berdasarkan uji VIF diatas, diperoleh nilai VIF dari \[X_1,X_2\] < 10 sehingga \(H_0\) diterima. Dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas, yang artinya asumsi multikolinearitas terpenuhi.
Hipotesis
\(H_0\) : Kedua variabel secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap Umur Harapan Hidup
\(H_1\) : Paling tidak ada satu variabel yang berpengaruh signifikan terhadap Umur Harapan Hidup
Taraf signifkansi: \(\alpha\) = 5%
Daerah kritis: \(H_0\) ditolak apabila nilai p-value < \(\alpha\) = 0,05
Statistik Uji:
model.mkt = lm(Life_expectancy~.,data=datacm2)
summary(model.mkt)
##
## Call:
## lm(formula = Life_expectancy ~ ., data = datacm2)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -5.573 -2.078 -0.119 2.369 10.453
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 39.4287 7.5000 5.257 2.17e-05 ***
## Hepatitis_B -0.5770 0.2037 -2.833 0.009193 **
## Polio 0.9189 0.2243 4.097 0.000412 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 3.542 on 24 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.5068, Adjusted R-squared: 0.4657
## F-statistic: 12.33 on 2 and 24 DF, p-value: 0.0002072
Kesimpulan
Berdasarkan output diperoleh nilai p-value : 0,0002072 , dimana p-value : 0,0002072 < \(\alpha\) = 0.05, maka \(H_0\) ditolak yang berarti bahwa paling tidak ada satu variabel yang berpengarauh signifikan terhadap Umur Harapan Hidup
Hipotesis
Variabel \(X_1\) = Imunisasi Hepatitis B
\(H_0\): Imunisasi Hepatitis B tidak berpengaruh signifikan terhadap Umur Harapan Hidup
\(H_1\): Imunisasi Hepatitis B berpengaruh signifikan terhadap Umur Harapan Hidup
Variabel \(X_2\) = Imunisasi Polio
\(H_0\): Imunisasi Polio tidak berpengaruh signifikan terhadap Umur Harapan Hidup
\(H_1\): Imunisasi Polio Sekolah berpengaruh signifikan terhadap Umur Harapan Hidup
Taraf signifkansi: \(\alpha\) = 5%
Daerah kritis: \(H_0\) ditolak apabila nilai p-value < \(\alpha\) = 0.05
Statistik Uji:
summary(model.mkt)
##
## Call:
## lm(formula = Life_expectancy ~ ., data = datacm2)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -5.573 -2.078 -0.119 2.369 10.453
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 39.4287 7.5000 5.257 2.17e-05 ***
## Hepatitis_B -0.5770 0.2037 -2.833 0.009193 **
## Polio 0.9189 0.2243 4.097 0.000412 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 3.542 on 24 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.5068, Adjusted R-squared: 0.4657
## F-statistic: 12.33 on 2 and 24 DF, p-value: 0.0002072
Kesimpulan
Untuk Imunisasi Hepatitis B: Karena p-value = 0,009193 < \(\alpha = 0,05\), maka \(H_0\) ditolak yang artinya Imunisasi Hepatitis B berpengaruh signifikan terhadap Umur Harapan Hidup.
Untuk Imunisasi Polio: Karena p-value = 0,000412 < \(\alpha = 0,05\), maka \(H_0\) ditolak yang artinya Imunisasi Polio Sekolah berpengaruh signifikan terhadap Umur Harapan Hidup.
Cara lainnya dapat dilihat menggunakan scatter plot
Scatterplot for Hepatitis_B vs Life_expectancy
# Scatterplot for Hepatitis_B vs Life_expectancy
ggplot(data, aes(x = Hepatitis_B, y = Life_expectancy)) +
geom_point() +
labs(x = "Hepatitis_B", y = "Life_expectancy)) +
geom_point() +", title = "Scatterplot of Life expectancy vs Hepatitis B")
Berdasarkan plot dapat dilihat bahwa plot linear ke kanan sehingga dapat
disimpulkan bahwa Imunisasi Hepatitis B memiliki
hubungan positif dengan Umur harapan Hidup.
Scatterplot for Polio vs Life_expectancy
# Scatterplot for Polio vs Life_expectancy
ggplot(data, aes(x = Polio, y = Life_expectancy)) +
geom_point() +
labs(x = "Polio", y = "Life_expectancy)) +
geom_point() +", title = "Scatterplot of Life expectancy vs Polio")
Berdasarkan plot dapat dilihat bahwa plot linear ke kanan sehingga dapat
disimpulkan bahwa Imunisasi Polio memiliki hubungan
positif dengan Umur harapan Hidup.
#Model Regresi
model.mkt=lm(Life_expectancy~.,data=datacm2)
summary (model.mkt)
##
## Call:
## lm(formula = Life_expectancy ~ ., data = datacm2)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -5.573 -2.078 -0.119 2.369 10.453
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 39.4287 7.5000 5.257 2.17e-05 ***
## Hepatitis_B -0.5770 0.2037 -2.833 0.009193 **
## Polio 0.9189 0.2243 4.097 0.000412 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 3.542 on 24 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.5068, Adjusted R-squared: 0.4657
## F-statistic: 12.33 on 2 and 24 DF, p-value: 0.0002072
Interpretasi
Dapat disimpulkan bahwa setiap kenaikan satu persen Imunisasi Hepatitis B akan menurunkan Umur Harapan Hidup sebesesar 0,5770, setiap kenaikan satu persen imunisasi Polio akan menaikan Umur Harapan Hidup sebesesar 0,9189. Apabila nilai koefisien dari Imunisasi Hepatitis B dan imunisasi Polio bernilai tetap, maka Umur Harapan Hidup bernilai 39,4287.