ANALISIS PENGARUH RATA-RATA LAMA SEKOLAH, JUMLAH KEMATIAN ORANG DEWASA PER 1000 PENDUDUK, KONSUMSI ALKOHOL YANG DICATAT DALAM LITER ALKOHOL MURNI PER KAPITA DENGAN USIA 15+ TAHUN, DAN UKURAN STATUS GIZI PADA ORANG DEWASA TERHADAP RATA - RATA HARAPAN HIDUP PADA TAHUN 2008 DI WILAYAH ASIA MENGGUNAKAN REGRESI LINEAR BERGANDA

A. PENDAHULUAN

——————————————————————————————————————————————————————————————

Angka Harapan Hidup (AHH) adalah rata-rata usia yang diharapkan dapat dijalani oleh seseorang pada saat lahir, berdasarkan tingkat kematian pada masa tersebut yang cenderung tidak berubah di masa mendatang. AHH merupakan indikator penting untuk mengukur tingkat kesehatan dan kesejahteraan penduduk di suatu negara. Faktor yang dapat mempengaruhi AHH terkadang meliputi akses terhadap layanan kesehatan, asupan gizi, gaya hidup sehat, kualitas udara, air, sanitasi, tingkat pendapatan dan kesejahteraan, tingkat pendidikan, akses terhadap pendidikan, serta jaminan sosial. Memahami faktor-faktor yang memengaruhinya, dapat membantu merumuskan kebijakan yang efektif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Penelitian ini menggunakan data dari wilayah Asia, yang merupakan wilayah dengan populasi terbesar dan keragaman tingkat kesehatan yang tinggi. Hal ini memungkinkan untuk menguji generalisasi temuan dan mengidentifikasi faktor-faktor spesifik yang relevan dengan konteks regional. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda untuk meneliti hubungan antara variabel independen dan harapan hidup. Regresi linear berganda memungkinkan untuk memperkirakan pengaruh individual dari setiap variabel independen terhadap harapan hidup, sambil mengontrol pengaruh variabel independen lainnya.

B. LANDASAN TEORI

——————————————————————————————————————————————————————————————

1. Rata-Rata Lama Sekolah

Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) adalah rata-rata jumlah tahun belajar yang telah diselesaikan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas dalam pendidikan formal (tidak termasuk tahun mengulang). RLS merupakan indikator penting untuk mengukur tingkat pendidikan karena semakin tinggi RLS di suatu wilayah, maka semakin tinggi pula tingkat pendidikan masyarakat di suatu daerah. Lalu digunakan juga untuk mengukur kualitas sumber daya manusia (SDM) karena RLS yang tinggi menunjukkan bahwa masyarakat memiliki tingkat pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik, yang dapat mendukung kemajuan ekonomi dan sosial. Serta RLS juga dapat mengukur kesejahteraan masyarakat, dimana biasanya RLS yang tinggi umumnya dikaitkan dengan tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Faktor yang Mempengaruhi RLS yaitu akses terhadap pendidikan, dimana semakin mudah akses terhadap pendidikan, semakin tinggi pula RLS, lalu kualitas pendidikan, dimana semakin tinggi kualitas pendidikan, semakin tinggi pula RLS, dan juga dapat mempengaruhi kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan, dimana semakin tinggi kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan, dan semakin tinggi pula RLS suatu wilayah, serta juga dapat mempengaruhi kondisi ekonomi, dimana kondisi ekonomi yang baik dapat mendukung masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

2. Jumlah Kematian

Jumlah kematian adalah angka yang menunjukkan berapa banyak orang yang meninggal dalam suatu populasi selama periode waktu tertentu. Biasanya dihitung per 1.000 penduduk per tahun. Faktor yang mempengaruhi jumlah kematian yaitu meliputi:

  1. Usia, dimana semakin tua usia seseorang, semakin tinggi risiko kematiannya.
  2. Jenis kelamin, dimana laki-laki umumnya memiliki angka kematian yang lebih tinggi daripada perempuan.
  3. Kesehatan, dimana orang dengan penyakit kronis atau kondisi kesehatan lainnya memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.
  4. Gaya hidup, gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan kurang olahraga, dapat meningkatkan risiko kematian.
  5. Lingkungan, dimana pencemaran lingkungan, akses terhadap layanan kesehatan yang buruk, dan kondisi sanitasi yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko kematian.

Jumlah kematian adalah indikator penting untuk mengukur kesehatan masyarakat dan membantu dalam membuat kebijakan kesehatan yang efektif. Dengan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kematian, kita dapat bekerja untuk mengurangi angka kematian dan meningkatkan harapan hidup.

3. Konsumsi Alkohol

Alkohol adalah senyawa kimia yang terdapat dalam minuman beralkohol, seperti bir, anggur, dan spirits. Konsumsi alkohol dapat memiliki berbagai dampak pada kesehatan, baik positif maupun negatif. Konsumsi alkohol dalam jumlah moderat dapat memiliki beberapa manfaat kesehatan, tetapi konsumsi alkohol berlebihan dapat memiliki konsekuensi serius. Penting untuk minum alkohol secara bertanggung jawab dan mengikuti pedoman konsumsi alkohol yang sehat.

4. Ukuran Gizi

Kekurangan berat badan pada usia anak-anak dan remaja adalah masalah serius yang dapat berdampak negatif pada kesehatan dan perkembangan mereka. Kekurangan berat badan terjadi ketika anak-anak (5-9 tahun) atau remaja (10-19 tahun) memiliki berat badan yang lebih rendah dari standar yang sehat untuk usia dan tinggi badan mereka. Salah satu penyebab utama kekurangan berat badan adalah kurangnya asupan gizi yang memadai atau gizi buruk. Gizi buruk adalah kondisi di mana seseorang tidak mendapatkan nutrisi yang cukup dari makanan yang mereka konsumsi. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gizi buruk pada anak dan remaja meliputi kurangnya akses terhadap makanan yang bergizi, kurangnya pengetahuan tentang gizi yang seimbang, kemiskinan, perubahan pola makan yang tidak sehat, dan gangguan makan seperti anoreksia nervosa atau bulimia. Dampak kesehatan dari kekurangan berat badan pada usia anak-anak dan remaja sangat signifikan. Anak-anak dan remaja yang kekurangan berat badan sering kali mengalami pertumbuhan yang terhambat, kelemahan otot, penurunan daya tahan tubuh, dan risiko tinggi terhadap infeksi dan penyakit. Selain itu, kekurangan gizi juga dapat memengaruhi fungsi otak dan kemampuan kognitif, menghambat perkembangan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan.

5. Regresi Linear Berganda

Bentuk umum model regresi linear ganda dengan k variabel independen adalah:

\(Y=\beta_{0}+\beta_{1}X_{1}+\beta_{2}X_{2}+...+\beta_{k}X_{k}+\varepsilon\)

dimana Y adalah variabel dependen, \(X_1,X_2,…,X_k\) adalah variabel-variabel independen, \(\varepsilon\) adalah galat acak (random error) dan \(β_0,β_1,…,β_k\) adalah parameter-parameter populasi yang nilainya tidak diketahui.

Secara umum, diantara varibel-variabel \(X_1,X_2,…,X_k\) boleh merupakan fungsi dari variabel yang lain, tapi tidak boleh memuat parameter.

6. Uji Asumsi Klasik


a. Uji Normalitas

Uji normalitas berfungsi untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi memiliki residual yang berdistribusi normal. Uji statistik yang paling sering digunakan adalah uji Kolmogorof-Smirnov Test(Gujarati, 2003).

1. Hipotesis

\({H_0}\) : Residu model regresi berdistribusi normal.

\({H_1}\) : Residu model regresi tidak berdistribusi normal.

2. Taraf Signifikansi

\(\alpha\)

3. Daerah Kritis

\({H_0}\) ditolak jika \(p-value < \alpha\) atau \(D > D(\alpha,n)\)

4. Statistik Uji

\(D=MAX_x[F_n(X)-F_0(X)]\)

dengan

\(F_n(X)\) :Probabilitas Kumulatif Normal.

\(F_0(X)\) :Probabilitas Kumulatif Empiris.

Uji normalitas yang lain adalah uji kenormalan Shapiro Wilk, dimana uji dikembangkan oleh Samuel Shapiro dan Martin Wilk pada tahun 1965. Uji ini tergantung pada korelasi antara data yang diberikan dan kecocokan angka normalnya. Nilai dari uji statistik Shapiro-Wilk ini adalah positif, yaitu lebih kecil atau sama dengan satu (antara 0 dan 1) (Shapiro et al, 1965).

Statistik uji untuk Shapiro-Wilk dirumuskan dengan (Marques de Sa, 2007):

\(SW= \frac{[\Sigma_{i=1}^{k}a_i(X_{(n-i+1)}-X_i)]^2}{\Sigma_{i=1}^{n}(X_i-\bar{X})^2}\)

dimana \(X_1\leq X_2\leq ...\leq X_n\) adalah pengamatan tertata yang bebas dari skala dan titik pusat.

5. Kesimpulan


b. Uji Homogenitas

Uji homokedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan lain. Syarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas (Gujarati, 2003). Pengujian kali ini menggunakan uji Breusch-Pagan.

1. Hipotesis

\({H_0}\) : \(\sigma_1^2=\sigma_2^2=...=\sigma_k^2=\sigma^2\) :variansi residu homogen.

\({H_1}\) : Paling tidak terdapat satu \(\sigma^2j=\sigma^2,j=1,2,...,k\) :paling tidak terdapat satu variansi sisaan yang tidak homogen.

2. Taraf Signifikansi

\(\alpha\)

3. Daerah Kritis

\({H_0}\) ditolak jika \(p-value < \alpha\) atau \(\phi_{hitung} > X^2(\alpha,k)\)

k :banyaknya variabel independen

4. Statistik Uji

\(\phi=\frac{1}{2}(JKR)\)

dengan JKR :jumlah kuadrat regresi.

5. Kesimpulan


c. Uji Non Autokorelasi

Menurut Gujarati (1995) autokorelasi dapat didefinisikan sebagai hubungan yang terjadi antara anggota observasi yang diurutkan menurut waktu dan ruang. Dalam konteks regresi, model regresi linear klasik mengasumsikan bahwa autokorelasi seperti itu tidak terdapat dalam sesatan \(\varepsilon_i\), yang disebut kondisi non autokorelasi. Salah satu cara mendeteksi autokorelasi, yaitu dengan uji Durbin-Watson (Gujarati, 1995).

1. Hipotesis

\({H_0}\) : Tidak ada autokorelasi antar residu.

\({H_1}\) : Ada autokorelasi antar residu.

2. Taraf Signifikansi

\(\alpha\)

3. Daerah Kritis

\({H_0}\) ditolak jika \(p-value < \alpha\) atau \(DW < DL\) atau \(DW > 4-DL\)

4. Statistik Uji

\(d= \frac{ \Sigma_{i=2}^n(e_i-e_{i-1})^2}{ \Sigma_{i=1}^ne_i^2}\)
5. Kesimpulan


d. Uji Non Multikolinearitas

Menurut Montgomery dan Peck (1992), salah satu cara mendeteksi adanya multikolinearitas dalam model adalah dengan nilai tolerance dan VIF (Variance Inflation Factors).

1. Hipotesis

\({H_0}\) : Tidak terjadi gejala multikolinearitas.

\({H_1}\) : Terjadi gejala multikolinearitas.

2. Taraf Signifikansi

\(\alpha\)

3. Daerah Kritis

\({H_0}\) ditolak jika \(VIF>10\)

4. Statistik Uji

\(VIF_j=C_{jj}=\frac{1}{(1-R_j^2)},j=1,2,...,k\)

dengan \(R_j^2\) :nilai koefisien determinasi

5. Kesimpulan


7. Uji Simultan

Uji parameter secara serempak digunakan untuk mengetahui bahwa variabel bebas berpengaruh terhadap model. Uji ini mempunyai hipotesis yang dapat dituliskan sebagai:

1. Hipotesis

\({H_0}\) : \(\beta_0=\beta_1=...=\beta_k=0\) (seluruh variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen).

k= banyaknya variabel independen.

\({H_1}\) : \(\beta_0\neq0\) atau \(\beta_1\neq0\) atau \(\beta_k\neq0\) (paling tidak ada satu variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen).

2. Taraf Signifikansi

\(\alpha\)

3. Daerah Kritis

\({H_0}\) ditolak jika \(p-value < \alpha\) \(F_{value} > F_{tabel}(a;k;n-k-1)\)

4. Statistik Uji

5. Kesimpulan

8. Uji Parsial

Uji parameter parsial digunakan untuk mengetahui bahwa variabel independen mana saja dalam model regresi linier yang variabel dependennya. Uji ini mempunyai hipotesis yang dapat dituliskan sebagai:

1. Hipotesis

\({H_0}\) : \(\beta_k=0, k=1,2,3,...\) (variabel independen ke-k tidak berpengaruh terhadap variabel dependen).

\({H_1}\) : \(\beta_k\neq0, k=1,2,3,...\) (variabel independen ke-k berpengaruh terhadap variabel dependen).

2. Taraf Signifikansi

\(\alpha\)

3. Daerah Kritis

\({H_0}\) ditolak jika \(p-value < \alpha\)

4. Statistik Uji

5. Kesimpulan

9. Deteksi Pencilan

Pencilan adalah data yang memiliki karakteristik unik yang terlihat sangat berbeda jauh dari pengamatan-pengamatan lainnya dan muncul dalam bentuk nilai ekstrim, baik untuk sebuah variabel tunggal maupun variabel kombinasi. Pencilan berpengaruh terhadap proses analisis data, misalnya terhadap nilai mean dan standar deviasi. Beberapa metode yang dapat dilakukan dalam pendeteksian pencilan antara lain Difference in Fitted Value (DFFITS).

DFFITS merupakan suatu ukuran berpengaruh yang ditimbulkan oleh pengamatan ke-i terhadap nilai estimasi \(\hat{y_i}\). Suatu data dikatakan memiliki pencilan jika nilai \(|(DFFITS)_i| > 2 √\frac{p}{n}\) dengan \(p=k+1\) dan k adalah banyaknya variabel independen (Neter et al., 2004).

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

——————————————————————————————————————————————————————————————

1. Library

Sebelum melakukan analisis dengan uji Regresi Linear Berganda, terdapat beberapa library yang perlu disiapkan. Berikut merupakan library yang perlu dipersiapkan:

# Library yang Diperlukan
library(knitr)
library(rmarkdown)
library(readxl)
library(rlang)
library(dplyr)
library(stats)
library(lmtest)

2. Menginput Data

Data yang digunakan pada laporan ini adalah data pengaruh rata-rata lama sekolah, jumlah kematian orang dewasa per 1000 penduduk, konsumsi alkohol yang dicatat dalam liter alkohol murni per kapita dengan usia 15+ tahun, dan ukuran status gizi pada orang dewasa terhadap rata-rata harapan hidup pada tahun 2008 di Wilayah Asia dengan syntax seperti di bawah:

library(readxl)
SIM <- read_excel("C:/Users/TOSHIBA/Downloads/Asia.xlsx")
SIM
## # A tibble: 27 × 7
##    Negara            Wilayah Kematian_Dewasa Konsumsi_Alko…¹   BMI Harap…²   RLS
##    <chr>             <chr>             <dbl>           <dbl> <dbl>   <dbl> <dbl>
##  1 Brunei Darussalam Asia               91.9           0.65   26.2    74.5   8.7
##  2 Indonesia         Asia              187.            0.071  22.3    68.5   7.1
##  3 Afghanistan       Asia              260.            0.028  22.5    59.9   3  
##  4 Kazakhstan        Asia              257.            3.42   25.9    67.1  11.5
##  5 Nepal             Asia              187.            0.2    21.6    66.7   3.1
##  6 Kyrgyz Republic   Asia              214.            7.29   25.6    68.5  10.3
##  7 Myanmar           Asia              216.            0.79   21.9    62.7   3.9
##  8 Tajikistan        Asia              149.            0.56   25      67.9  11  
##  9 Mongolia          Asia              240.            8.92   25.2    66.4   9  
## 10 Maldives          Asia               78.1           1.52   24.2    75.1   4.3
## # … with 17 more rows, and abbreviated variable names ¹​Konsumsi_Alkohol,
## #   ²​Harapan_Hidup

3. Analisis Regresi

Dalam melakukan analisis regresi berganda, melakukan analisis regresi untuk \(Y\) sebagai fungsi dari \(X_1,X_2,X_3,...,X_k\) dapat menggunakan perintah lm(), karena sintaks lm() dalam bahasa pemrograman R digunakan untuk membangun model regresi linier seperti di bawah ini:

library(lmtest)
MKT <-lm(Harapan_Hidup ~ RLS + Kematian_Dewasa + Konsumsi_Alkohol + BMI, data = SIM)
MKT
## 
## Call:
## lm(formula = Harapan_Hidup ~ RLS + Kematian_Dewasa + Konsumsi_Alkohol + 
##     BMI, data = SIM)
## 
## Coefficients:
##      (Intercept)               RLS   Kematian_Dewasa  Konsumsi_Alkohol  
##          86.9603            0.4578           -0.0751            0.4073  
##              BMI  
##          -0.3816

Berdasarkan hasil analisis diatas, model regresi dari data adalah sebagai berikut:

\(\hat{Y}=86,9603+0,4578X_1-0,0751X_2+0,4073X_3-0,3816X_4\)

Analisis Estimasi Model Persamaan Regresi :

  1. Pada hasil output didapatkan nilai intercept (\(Y\)) sebesar 86,9603. Hal ini berarti bahwa ketika nilai semua variabel independennya nol, maka rata-rata harapan hidup pada tahun 2008 di Wilayah Asia diperkirakan mencapai sekitar \(86,9603\).

  1. Koefisien dari \(X_1\) (rata-rata lama sekolah) sebesar \(0,4578\). Hal ini berarti setiap kenaikan 1% variabel rata-rata lama sekolah akan menyebabkan peningkatan rata-rata harapan hidup pada tahun 2008 di Wilayah Asia sebesar \(0,4578\).

  1. Koefisien dari \(X_2\) (jumlah kematian orang dewasa per 1000 penduduk) sebesar \(-0,0751\). Hal ini berarti setiap kenaikan 1% variabel jumlah kematian orang dewasa per 1000 penduduk akan menyebabkan penurunan rata-rata harapan hidup pada tahun 2008 di Wilayah Asia diperkirakan mencapai sekitar \(-0,0751\).

  1. Koefisien dari \(X_3\) (konsumsi alkohol) sebesar \(0,4073\). Hal ini berarti setiap kenaikan 1% variabel konsumsi alkohol akan menyebabkan peningkatan rata-rata harapan hidup pada tahun 2008 di Wilayah Asia diperkirakan mencapai sekitar \(0,4073\).

  1. Koefisien dari \(X_4\) (ukuran status gizi) sebesar \(-0,3816\). Hal ini berarti setiap kenaikan 1% variabel ukuran status gizi akan menyebabkan penurunan rata-rata harapan hidup pada tahun 2008 di Wilayah Asia diperkirakan mencapai sekitar \(-0,3816\).

4. Koefisien Determinasi

summary(MKT)
## 
## Call:
## lm(formula = Harapan_Hidup ~ RLS + Kematian_Dewasa + Konsumsi_Alkohol + 
##     BMI, data = SIM)
## 
## Residuals:
##     Min      1Q  Median      3Q     Max 
## -3.5846 -1.2615 -0.3232  0.9912  5.6495 
## 
## Coefficients:
##                   Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)    
## (Intercept)      86.960302   6.177456  14.077 1.75e-12 ***
## RLS               0.457828   0.197612   2.317   0.0302 *  
## Kematian_Dewasa  -0.075098   0.007738  -9.705 2.08e-09 ***
## Konsumsi_Alkohol  0.407299   0.170273   2.392   0.0257 *  
## BMI              -0.381591   0.300079  -1.272   0.2168    
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## 
## Residual standard error: 2.054 on 22 degrees of freedom
## Multiple R-squared:  0.8751, Adjusted R-squared:  0.8524 
## F-statistic: 38.54 on 4 and 22 DF,  p-value: 1.226e-09

Didapatkan hasil output bahwa nilai intercept (\(Y\)) sebesar \(86,960302\) dengan nilai \(p- value\) sebesar \(1,75e-12\).

Didapatkan juga nilai untuk setiap variabel independen yaitu:

\(X_1\) (rata-rata lama sekolah) sebesar \(0,457828\) dengan nilai \(p-value\) sebesar \(0,0302\).

\(X_2\) (jumlah kematian orang dewasa per 1000 penduduk) sebesar \(-0.075098\) dengan nilai \(p-value\) sebesar \(2,08e-09\).

\(X_3\) (konsumsi alkohol ) sebesar \(0.407299\) dengan nilai \(p-value\) sebesar \(0.0257\).

\(X_4\) (ukuran status gizi) sebesar \(-0,381591\) dengan nilai \(p-value\) sebesar \(0.2168\).

Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen yaitu rata-rata lama sekolah, jumlah kematian orang dewasa per 1000 penduduk, dan konsumsi alkohol mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap rata-rata harapan hidup.

Pada hasil output didapatkan juga nilai Multiple R-squared sebesar \(0,8751\) dan nilai Adjusted R-squared sebesar \(0.8524\). Dapat diartikan bahwa sebesar \(85,24\%\) dari variasi dalam rata-rata harapan hidup dapat dijelaskan dalam model ini, sedangkan sebanyak \(14,76\%\) dijelaskan oleh faktor lain.

5. Signifikansi Model

1. Uji Simultan (F)

1. Hipotesis

\({H_0}\) : \(\beta_0=\beta_1=\beta_2=\beta_3=\beta_4=0\) (\(X_1,X_2,X_3,X_4\) secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap Y).

\({H_1}\) : \(\beta_0\neq0\) atau \(\beta_1\neq0\) atau \(\beta_2\neq0\) atau \(\beta_3\neq0\) atau \(\beta_4\neq0\) (paling tidak ada satu variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen).

2. Taraf Signifikansi

\(\alpha\) :0,05

3. Daerah Kritis

\({H_0}\) ditolak jika \(p-value < \alpha\) \(F_{value} > F_{tabel}(\alpha;k;n-k-1)=F_{tabel}(0,05;4;22)=2,82\)

4. Statistik Uji

Untuk menampilkan summary dari hasil analisis sebelumnya dapat digunakan perintah summary(), karena sintaks summary() dalam bahasa pemrograman R digunakan untuk menampilkan ringkasan statistik dari suatu objek. Objek ini dapat berupa data frame, vektor, model statistik, atau hasil analisis lainnya. Ringkasan yang ditampilkan oleh summary() tergantung pada jenis objek yang diinputkan.

summary(MKT)
## 
## Call:
## lm(formula = Harapan_Hidup ~ RLS + Kematian_Dewasa + Konsumsi_Alkohol + 
##     BMI, data = SIM)
## 
## Residuals:
##     Min      1Q  Median      3Q     Max 
## -3.5846 -1.2615 -0.3232  0.9912  5.6495 
## 
## Coefficients:
##                   Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)    
## (Intercept)      86.960302   6.177456  14.077 1.75e-12 ***
## RLS               0.457828   0.197612   2.317   0.0302 *  
## Kematian_Dewasa  -0.075098   0.007738  -9.705 2.08e-09 ***
## Konsumsi_Alkohol  0.407299   0.170273   2.392   0.0257 *  
## BMI              -0.381591   0.300079  -1.272   0.2168    
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## 
## Residual standard error: 2.054 on 22 degrees of freedom
## Multiple R-squared:  0.8751, Adjusted R-squared:  0.8524 
## F-statistic: 38.54 on 4 and 22 DF,  p-value: 1.226e-09

5. Kesimpulan

Berdasarkan hasil output diatas, didapatkan nilai \(F_{value}\) sebesar \(38,54>F_{tabel}=2,82\), maka dapat disimpulkan bahwa \(H_0\) ditolak yang berarti bahwa paling tidak ada satu variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

2. Uji Parsial (t)

1. Hipotesis

\({H_0}\) : \(\beta_i=0, i=1,2,3,4\) (\(X_i\) tidak berpengaruh signifikan terhadap \(Y\)).

\({H_1}\) : \(\beta_i\neq0, i=1,2,3,4\) (\(X_i\) berpengaruh signifikan terhadap \(Y\)).

2. Taraf Signifikansi

\(\alpha\) :0,05

3. Daerah Kritis

\({H_0}\) ditolak jika \(p-value < \alpha\)

4. Statistik Uji

Untuk menampilkan summary dari hasil analisis sebelumnya dapat digunakan perintah summary(), karena sintaks summary() dalam bahasa pemrograman R digunakan untuk menampilkan ringkasan statistik dari suatu objek. Objek ini dapat berupa data frame, vektor, model statistik, atau hasil analisis lainnya. Ringkasan yang ditampilkan oleh summary() tergantung pada jenis objek yang diinputkan.

summary(MKT)
## 
## Call:
## lm(formula = Harapan_Hidup ~ RLS + Kematian_Dewasa + Konsumsi_Alkohol + 
##     BMI, data = SIM)
## 
## Residuals:
##     Min      1Q  Median      3Q     Max 
## -3.5846 -1.2615 -0.3232  0.9912  5.6495 
## 
## Coefficients:
##                   Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)    
## (Intercept)      86.960302   6.177456  14.077 1.75e-12 ***
## RLS               0.457828   0.197612   2.317   0.0302 *  
## Kematian_Dewasa  -0.075098   0.007738  -9.705 2.08e-09 ***
## Konsumsi_Alkohol  0.407299   0.170273   2.392   0.0257 *  
## BMI              -0.381591   0.300079  -1.272   0.2168    
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## 
## Residual standard error: 2.054 on 22 degrees of freedom
## Multiple R-squared:  0.8751, Adjusted R-squared:  0.8524 
## F-statistic: 38.54 on 4 and 22 DF,  p-value: 1.226e-09

5. Kesimpulan

Untuk variabel \(X_1\), nilai \(p-value = 0,0302< α\), maka \(H_0\) ditolak sehingga variabel \(X_1\) (rata-rata lama sekolah) berpengaruh signifikan terhadap variabel \(Y\) (rata-rata harapan hidup).

Untuk variabel \(X_2\), nilai \(p-value = 2,08e-09< α\), maka \(H_0\) ditolak sehingga variabel \(X_2\) (jumlah kematian orang dewasa per 1000 penduduk) berpengaruh signifikan terhadap variabel \(Y\) (rata-rata harapan hidup).

Untuk variabel \(X_3\), nilai \(p-value = 0,0257< α\), maka \(H_0\) ditolak sehingga variabel \(X_3\) (konsumsi alkohol) berpengaruh signifikan terhadap variabel \(Y\) (rata-rata harapan hidup).

Untuk variabel \(X_4\), nilai \(p-value = 0,2168< α\), maka \(H_0\) gagal ditolak sehingga variabel \(X_4\) (ukuran status gizi) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel \(Y\) (rata-rata harapan hidup).

6. Uji Asumsi

1. Uji Normalitas

1. Hipotesis

\({H_0}\) : Residu model regresi berdistribusi normal.

\({H_1}\) : Residu model regresi tidak berdistribusi normal.

2. Taraf Signifikansi

\(\alpha\) :0,05

3. Daerah Kritis

\({H_0}\) ditolak jika \(p-value < \alpha=0,05\)

4. Statistik Uji

Sintaks shapiro.test() digunakan dalam library stats bahasa pemrograman R untuk melakukan Shapiro-Wilk test, sebuah uji normalitas data. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah distribusi data sampel berasal dari distribusi normal (Gaussian). Berikut hasil dari uji normalitas Shapiro-Wilk:

library(stats)
shapiro.test(MKT$residuals)
## 
##  Shapiro-Wilk normality test
## 
## data:  MKT$residuals
## W = 0.96036, p-value = 0.3767

5. Kesimpulan

Dari hasil output diatas, didapatkan nilai \(p-value=0,3767>\alpha=0,05\), maka dapat disimpulkan bahwa \(H_0\) gagal ditolak yang berarti bahwa residu model regresi berdistribusi normal.

2. Uji Homogenitas

1. Hipotesis

\({H_0}\) : \(\sigma_1^2=\sigma_2^2=...=\sigma_k^2=\sigma^2\) (variansi sisaan homogen).

\({H_1}\) : Paling tidak terdapat satu \(\sigma^2j=\sigma^2,j=1,2,...,k\) :paling tidak terdapat satu variansi sisaan yang tidak homogen).

2. Taraf Signifikansi

\(\alpha\) :0,05

3. Daerah Kritis

\({H_0}\) ditolak jika \(p-value < \alpha\)

4. Statistik Uji

Sintaks bptest() dalam library lmtest bahasa pemrograman R digunakan untuk melakukan uji Breusch-Pagan / Durbin-Watson test untuk mendeteksi heteroskedastisitas dalam model regresi linear. Berikut hasil dari uji homogenitas Breusch-Pagan:

library(lmtest)
bptest(MKT)
## 
##  studentized Breusch-Pagan test
## 
## data:  MKT
## BP = 3.3366, df = 4, p-value = 0.5032

5. Kesimpulan

Dari hasil output diatas, didapatkan nilai \(p-value=0,5032>\alpha=0,05\), maka dapat disimpulkan bahwa \(H_0\) gagal ditolak yang berarti bahwa variansi sisaan dalam model regresi homogen.

3. Uji Non Autokorelasi

1. Hipotesis

\({H_0}\) : Tidak ada autokorelasi antar residu.

\({H_1}\) : Ada autokorelasi antar residu.

2. Taraf Signifikansi

\(\alpha\) :0,05

3. Daerah Kritis

\({H_0}\) ditolak jika \(p-value < \alpha\) atau \(DW < DL\) atau \(DW > 4-DL\)

4. Statistik Uji

Sintaks dwtest() dalam library lmtest bahasa pemrograman R digunakan untuk melakukan uji Durbin-Watson untuk mendeteksi autokorelasi dalam model regresi linear. Berikut hasil dari uji non autokorelasi Durbin-Watson:

library(lmtest)
dwtest(MKT)
## 
##  Durbin-Watson test
## 
## data:  MKT
## DW = 2.2076, p-value = 0.7167
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0

5. Kesimpulan

Dari hasil output diatas, didapatkan nilai \(p-value=0,7167>\alpha=0,05\) atau nilai \(DW=2,2076>DL=1,0836\), maka dapat disimpulkan bahwa \(H_0\) gagal ditolak yang berarti bahwa tidak terjadi autokorelasi antar residu.

4. Uji Non Multikolinearitas

1. Hipotesis

\({H_0}\) : Tidak terjadi gejala multikolinearitas.

\({H_1}\) : Terjadi gejala multikolinearitas.

2. Taraf Signifikansi

\(\alpha\) :0,05

3. Daerah Kritis

\({H_0}\) ditolak jika \(VIF>10\)

4. Statistik Uji

Sintaks vif() dalam library car bahasa pemrograman R digunakan untuk menghitung Variance Inflation Factor (VIF) untuk setiap variabel independen dalam model regresi linier. VIF mengukur tingkat keparahan multikolinearitas dalam model. Berikut hasil dari uji non multikolinearitas:

library(car)
vif(MKT)
##              RLS  Kematian_Dewasa Konsumsi_Alkohol              BMI 
##         2.203687         1.235754         1.235861         1.695027

5. Kesimpulan

Dari hasil output diatas, didapatkan semua nilai \(VIF<10\), maka dapat disimpulkan bahwa \(H_0\) gagal ditolak yang berarti bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas.

7. Deteksi Pencilan

Sintaks dffits() dalam library car bahasa pemrograman R digunakan untuk menghitung pengaruh leverage dan pengaruh Cook’s distance untuk setiap titik data dalam model regresi linier. Leverage mengukur berapa besar pengaruh satu titik data terhadap estimasi koefisien regresi dalam model. Sedangkan, Cook’s distance mengukur berapa besar pengaruh satu titik data terhadap keseluruhan model regresi. Berikut hasil analisinya:

library(car)
dffits(MKT)
##           1           2           3           4           5           6 
##  0.06436673  0.14846682 -0.08910694  1.02383695  0.09592757 -0.09144922 
##           7           8           9          10          11          12 
## -0.31449248 -0.87215242 -0.27173513  0.30682487  0.06837373  0.40429102 
##          13          14          15          16          17          18 
##  0.31530569 -0.24743873 -0.08939891 -0.24311700 -0.57997808  0.20780004 
##          19          20          21          22          23          24 
## -0.40113529  0.43309513  0.52164772 -0.32565741  1.98989420 -0.20598996 
##          25          26          27 
##  0.41151247 -0.46592311 -0.14243265
nilai.pembanding.dffits= 2*(sqrt(5/27)) 
#|DEFFITS|>pembanding deffits
nilai.pembanding.dffits
## [1] 0.860663

Dari hasil output diatas dihasilkan nilai pembanding sebesar \(0.7698004\). Sehingga dari hasil output didapatkan nilai pencilan terdapat pada data \(ke-4\), data \(ke-8\), data \(ke-23\) dimana residunya sebesar \(1.02383695\), \(0.87215242\), dan \(1.98989420\). Sehingga \(ke-3\) data tersebut melebihi nilai pembanding sebesar \(0.7698004\) dan berarti bahwa data memiliki pencilan.

D. KESIMPULAN

——————————————————————————————————————————————————————————————

Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda mengenai pengaruh rata-rata lama sekolah, jumlah kematian orang dewasa per 1000 penduduk, konsumsi alkohol yang dicatat dalam liter alkohol murni per kapita dengan usia 15+ tahun, dan ukuran status gizi pada orang dewasa terhadap rata-rata harapan hidup pada tahun 2008 di Wilayah Asia, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Berdasarkan hasil analisis didapatkan model regresi sebagai berikut:

\(\hat{Y}=86,9603+0,4578X_1-0,0751X_2+0,4073X_3-0,3816X_4\)

  1. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa tidak semua variabel berpengaruh signifikan terhadap rata-rata harapan hidup. Variabel independen yang berpengaruh terhadap rata-rata harapan hidup yaitu rata-rata lama sekolah, jumlah kematian orang dewasa per 1000 penduduk, dan konsumsi alkohol.

  1. Pada hasil analisis didapatkan juga nilai Multiple R-squared sebesar \(0,8751\) dan nilai Adjusted R-squared sebesar \(0.8524\). Dapat diartikan bahwa sebesar \(85,24\%\) dari variasi dalam rata-rata harapan hidup dapat dijelaskan dalam model ini, sedangkan sebanyak \(14,76\%\) dijelaskan oleh faktor lain.

  1. Untuk syarat uji asumsi, didapat kesimpulan bahwa model regresi linear berganda pada data laporan ini sudah memenuhi syarat uji asumsi, seperti uji normalitas, uji homogenitas, uji non autokorelasi, dan uji non multikolinearitas.

E. REFERENSI

——————————————————————————————————————————————————————————————

  1. https://www-evanlray-com.translate.goog/stat242_f2019/resources/R/MathinRmd.html?_x_tr_sch=http&_x_tr_sl=auto&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
  2. Efendi, A., Wardani, N. W. S., Fitriani, R., Sumarminingsih, E. 2020. Analisis Regresi Teori dan Aplikasi dengan R. Malang: UB Press
  3. Materi Kuliah Analisis Regresi