Analisis Regresi Linear Berganda Pengaruh Adult Mortality, Alcohol Consumption dan GDP per capita terhadap Life Expectancy di Asia Pada Tahun 2015

- Devi Endang Pratiwi -

M0722032

1.Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Kondisi kesehatan dan harapan hidup penduduk suatu negara menjadi perhatian utama dalam pembangunan dan kebijakan publik. Sebagai indikator utama dari kesejahteraan masyarakat, harapan hidup (life expectancy) tidak hanya mencerminkan tingkat kesehatan penduduk, tetapi juga keberhasilan program-program kesehatan, infrastruktur, dan sosial-ekonomi suatu negara.

Asia, sebagai benua yang heterogen dengan beragam kondisi sosial, ekonomi, dan kesehatan, menawarkan studi yang menarik dan relevan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi harapan hidup penduduknya. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang pesat dan perubahan demografis yang signifikan di berbagai negara di Asia, penelitian tentang faktor-faktor yang berkontribusi terhadap harapan hidup menjadi semakin penting.

Beberapa faktor yang telah diidentifikasi memiliki pengaruh signifikan terhadap harapan hidup adalah mortalitas dewasa (adult mortality), konsumsi alkohol (alcohol consumption), dan pendapatan per kapita (Gross Domestic Product per capita). Mortalitas dewasa, yang mengukur angka kematian pada populasi usia dewasa, dapat memberikan gambaran tentang kualitas sistem kesehatan dan aksesibilitasnya. Konsumsi alkohol, meskipun bukanlah faktor langsung yang terkait dengan kesehatan, dapat mempengaruhi harapan hidup melalui dampaknya terhadap kesehatan mental, perilaku, dan kesehatan fisik. Sedangkan pendapatan per kapita mencerminkan tingkat kemakmuran dan kualitas hidup suatu negara, yang pada gilirannya dapat memengaruhi akses terhadap layanan kesehatan dan gaya hidup masyarakat.

Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh mortalitas dewasa, konsumsi alkohol, dan pendapatan per kapita terhadap harapan hidup di negara-negara Asia pada tahun 2015. Melalui analisis regresi linear berganda, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang berperan dalam menentukan harapan hidup penduduk di kawasan Asia, serta implikasinya terhadap kebijakan pembangunan dan kesehatan di masa depan.

1.2 Dasar Teori

1.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda

Regresi linear berganda merupakan model regresi yang melibatkan lebih dari satu variabel independen yang digunakan untuk mengetahui arah dan seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Rumus dari regresi linear berganda adalah:

𝒀=𝜷𝟎 +𝜷𝟏 𝒙𝟏 +𝜷𝟐 𝒙𝟐 +…+𝜷𝒏 𝒙𝐧 +𝝐

Keterangan:

Y                           : Variabel dependen

X1 , X2 , …,X3     : Variabel independen

𝛽0                          : Konstanta

𝛽1,𝛽2, …, 𝛽𝑛         : Koefisien regresi

𝜖                            : Error

Dalam analisis regresi linear berganda, beberapa asumsi model regresi yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut.

• Linearitas

• Residu berdistribusi normal (asumsi normalitas)

• Tidak ada autokorelasi (asumsi non-autokorelasi)

• Tidak ada multikolinearitas (asumsi non-multikolinearitas)

• Homoskedastisitas atau non heterosdekastisitas, artinya varian kesalahan sama untuk periode dinyatakan dalam bentuk matematis, Var (εi 𝑋i) = 𝜎2 (asumsi non-heteroskedastisitas).

Analisis ini penting untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi harapan hidup di Asia pada tahun 2015. Kematian orang dewasa, konsumsi alkohol, dan GDP per capita adalah faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi kesejahteraan masyarakat dan kualitas hidup. Dengan mempelajari hubungan antara faktor-faktor ini dan harapan hidup, kita dapat mengidentifikasi area-area di mana perbaikan atau intervensi diperlukan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di Asia

1.2.2 Asumsi Klasik Model Regresi

Uji asumsi klasik merupakan persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi linear berganda yang berbasis Ordinary Least Square (OLS). Melakukan uji asumsi sebelum menguji hipotesis merupakan salah satu syarat penelitian kuantitatif. Jika hasil pengujian hipotesis tidak sesuai dengan asumsi maka akan terjadi reaksi yang berbeda. Oleh karena itu, menguji asumsi penting dalam penelitian kuantitatif. Analisis regresi yang tidak didasarkan pada OLS, maka demikian itu tidak memerlukan persyaratan asumsi klasik, misalnya regresi logistik atau regresi ordinal. Uji asumsi klasik terhadap model regresi linear yang digunakan dilakukan agar dapat diketahui apakah model regresi baik atau tidak. Tujuan pengujian asumsi klasik adalah untuk memberikan kepastian bahwa persamaan regresi yang diperoleh memiliki ketepatan dalam estimasi, tidak bias, dan konsisten.

a. Asumsi Linearitas

Uji linieritas adalah uji yang dilakukan untuk menentukan apakah ada hubungan linier antara variabel bebas dengan variabel terikat. Tes linieritas ini diperlukan dalam analisis korelasi maupun regresi. Model regresi yang bagus mensyaratkan ada hubungan linier antara veriabel bebas dengan variabel terikatnya. Salah satu Uji lineritas yang paling populer adalah uji Ramsey Regression Equation Specification Error Test atau sering disingkat dengan uji Ramsey RESET. Uji ini dikembangkan oleh James B. Ramsey sebagai bagian dari diraihnya gelar Ph.D. di University of Wisconsin. Uji Ramsey RESET adalah tes spesifikasi umum untuk model regresi linier. Uji ini dilakukan untuk membuktikan apakah kombinasi non-linear dari nilai-nilai yang dipasang membantu menjelaskan variabel respons.

• Hipotesis

H0: Adanya hubungan linearitas antara variabel prediktor dan variabel respon

H1: Tidak adanya hubungan linearitas antara variabel prediktor dan variabel respon

• Taraf signifikansi

α = 5% = 0,05

• Daerah kritis

H0 ditolak jika P-value < α = 0,05

• Statistik uji

• Kesimpulan

Jika P-Value > 0,05maka H0 tidak ditolak yang berarti ada hubungan linearitas antara variabel prediktor dan variabel respon.

b. Asumsi Normalitas Residu

Uji normalitas merupakan suatu bentuk analisis data yang termasuk dalam uji asumsi klasik. Uji ini memiliki peran penting sebagai penilaian terhadap kualitas data sebelum memasuki tahap analisis data lebih lanjut. Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji Shapiro-wilk. Model regresi yang baik adalah memiliki residu yang berdistribusi normal atau mendekati normal. Salah satu cara untuk melihat apakah residu berdistribusi normal atau tidak adalah dengan melihat probabilitas plot residu. Adapun uji asumsinya adalah sebagai berikut.

• Hipotesis

H0: data berdistribusi normal

H1: data tidak berdistribusi normal

• Taraf signifikansi

α = 5% = 0,05

• Daerah kritis

H0 ditolak jika P-value < α = 0,05

• Statistik uji (P-Value pada probability plot)

• Kesimpulan Jika P-value > 0,05, maka H0 tidak ditolak yang berarti data berdistribusi normal.

c. Asumsi Multikolinearitas

Uji multikolinearitas adalah suatu metode statistik yang digunakan untuk mengidentifikasi tingkat keparalelanan (correlatedness) antara variabel independen dalam sebuah model regresi. Multikolinearitas terjadi karena terdapat korelasi yang cukup tinggi di antara variabel independent. VIF (Variance Inflation Factor) merupakan salah satu cara untuk mengukur besar multikolinearitas dan didefinisikan sebagai berikut.

\[ \text{VIF} = \frac{1}{1 - R_j^2} \]

Dengan \(j = 1, 2, \ldots, k\) dan \(k\) adalah banyaknya variabel independen, sedangkan \(R_j^2\) adalah koefisien determinasi yang dihasilkan dari regresi variabel independen \(X_j\) dengan variabel independen lain. Jadi, nilai toleransi dari nilai VIF tinggi (karena \(\text{VIF} = \frac{1}{\text{tolerance}}\)). Nilai yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai toleransi < 0.10 atau nilai VIF > 10. Hipotesis nol (\(H_0\)) pengujian multikolinearitas adalah tidak terdapat multikolinearitas, dengan kriteria keputusan jika nilai maka \(H_0\) diterima artinya tidak terdapat multikolinearitas.

d. Asumsi Autokorelasi

    Uji asumsi autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah di dalam model regresi linear tersebut terdapat autokorelasi atau tidak. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Bebas autokorelasi yang dimaksud adalah tidak autokorelasi positif maupun autokorelasi negative. Cara untuk mengetahuinya yaitu dengan uji Durbin Watson (Uji DW). Pengambilan keputusan dengan menggunakan uji ini dapat dilakukan dengan acuan sebagai berikut. Autokorelasi pada model regresi artinya ada korelasi antar anggota sampel yang diurutkan berdasarkan waktu saling berkorelasi. Untuk mengetahui adanya autokorelasi dalam suatu model regresi dilakukan melalui pengujian terhadap nilai uji Durbin Watson (Uji DW), dengan ketentuan sebagai berikut.



e. Asumsi Homoskedastisitas

Uji Homoskedastisitas adalah suatu uji statistik yang digunakan untuk memeriksa apakah varians dari residual (error) dalam model regresi adalah konstan, atau homokedastis. Dalam analisis regresi, salah satu asumsi penting yang harus dipenuhi adalah homokedastisitas. Homokedastisitas mengacu pada konstan-nya varians dari error (residuals) dalam model regresi. Secara matematis, jika kita memiliki model regresi:

\[ y_i = \beta_0 + \beta_1 x_i + \epsilon_i \]

Asumsi homokedastisitas menyatakan bahwa varians dari error (\(\epsilon_i\)) adalah konstan untuk semua nilai \(x_i\):

\[ \text{Var}(\epsilon_i | x_i) = \sigma^2 \]

Ketika asumsi ini dilanggar, kita menghadapi heterokedastisitas, di mana varians residual berubah-ubah tergantung pada nilai variabel independen. Hal ini dapat menyebabkan estimasi parameter menjadi tidak efisien dan tes hipotesis menjadi tidak valid.

Uji Breusch-Pagan adalah salah satu metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya heterokedastisitas. Uji ini mengevaluasi apakah varians dari residual bergantung pada variabel independen.Langkah-langkah untuk melakukan uji Breusch-Pagan adalah sebagai berikut:

  1. Regress residuals squared (\(e_i^2\)) terhadap variabel independen.

  2. Hitung statistik uji:

\[ BP = \frac{n}{2} \cdot R^2 \]

Di mana \(n\) adalah jumlah observasi dan \(R^2\) adalah koefisien determinasi dari regresi residual squared terhadap variabel independen.

  1. Bandingkan statistik uji dengan distribusi \(\chi^2\) dengan derajat kebebasan sebesar jumlah variabel independen. Jika statistik uji lebih besar dari nilai kritis, kita menolak hipotesis nol homokedastisitas.

f. Uji Simultan (Uji F)

Uji F bertujuan untuk mencari apakah variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama (simultan). Uji ini dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh dari seluruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Tingkatan yang digunakan sebesar 0,05 atau 5%, jika nilai signifikan F < 0,05 maka variabel independen secara simultan mempengaruhi variabel dependen atau sebaliknya

g. Uji Signifikasi Parsial (Uji t)

Uji t atau biasa dikenal dengan uji parsial merupakan proses analisis data secara parsial. Uji t ini nantinya akan menunjukkan berapa banyak pengaruh variabel independent secara parsial terhadap variabel dependen. Tujuan dari uji parsial ini adalah untuk melihat sejauh mana pengaruh secara parsial dari variabel bebas terhadap variabel terikat.

1.3 Library

Pada kesempatan ini, akan dilakukan uji regresi linear berganda pada data life expectancy di Asia pada tahun 2015. Sebelum melanjutkan, terlebih dahulu kita siapkan library yang akan digunakan.
# Memuat paket yang diperlukan
library(readxl)
library(dplyr)
library(lmtest)
library(car)
library(ggplot2)
library(rmarkdown)
library(knitr)
library(kableExtra)

2. Pengolahan Data

Variabel dependen yang akan digunakan adalah Life_Expectancy yang merupakan angka harapan hidup laki-laki dan perempuan di Asia pada tahun 2015. Kemudian, akan diambil 3 variabel independen yaitu:

  • Alcohol_consumption : Konsumsi alkohol murni (dalam liter) per kapita pada usia 15+ tahun

  • Adult_mortality : Kematian orang dewasa per 1000 populasi

  • GDP_Per_Capita : Gross Domestic Product dalam USD (GDP adalah indikator penting untuk mengukur kondisi perekonomian suatu negara)

Sebelum melakukan analisis regresi kita perlu mengimpor data terlebih dahulu.

Berikut data yang akan digunakan dalam analisis regresi linear berganda dari Life expectancy, Alcohol_consumption, Adult_mortality, GDP_Per_Capita di Asia pada tahun 2015.

# Membaca data dari file Excel
library(readxl)
DATASET_CASEMETHOD2 <- read_excel("C:/Users/DEVI ENDANG PRATIWI/Desktop/KULIAH UNS/SEMESTER 4/SIM/CaseMethod2Data.xlsx")
Data Life expectancy, Alcohol consumption, Adult mortality, GDP per capita di Asia pada tahun 2015
Life Expectancy Adult Mortality Alcohol Consumption GDP per capita
75.1 124.5470 2.98 2582
69.5 154.6040 0.24 902
70.8 175.5640 0.08 3332
75.9 82.2730 5.66 8016
68.6 177.9465 3.00 1606
67.7 189.9280 3.36 6433
65.8 196.0530 1.47 1197
72.3 124.8970 0.51 5500
76.1 148.8890 6.95 5840
69.1 212.8410 8.35 3875
77.7 68.3620 1.26 9033
66.6 160.1410 0.04 1357
63.4 227.7350 0.00 556
83.8 53.5860 8.55 34961
70.1 134.7150 0.92 978
70.7 165.7935 5.37 1121
72.0 182.1110 3.33 10511
75.3 88.0930 0.67 31164
71.5 129.7530 0.01 1248
70.9 140.8150 2.59 2754
82.7 50.9615 1.82 55647
68.6 175.6540 3.34 1163
70.4 208.0030 0.04 2753
66.5 195.6250 7.09 2140
70.6 199.7365 4.52 3001
76.3 109.1795 2.72 3844
75.5 121.7230 0.55 9955

2.1 Statistika Deskriptif

Pada langkah ini, dilakukan penghitungan statistika deskriptif untuk empat variabel, yaitu Life_expectancy, Adult_mortality, Alcohol_consumption, dan GDP_per_capita. Statistika deskriptif ini memberikan gambaran tentang sebaran dan karakteristik data pada variabel-variabel tersebut.

Rumus-rumus untuk statistik deskriptif

Mean

\[ \begin{equation} \begin{split} \bar{x} & =\frac{\sum_{i=1}^n x_i}{n}\\ & =\frac{1}{n} \sum_{i=1}^n x_i \end{split} \end{equation} \]

Median
Data ganjil

\[ x_{\left(\frac{n+1}{2}\right)} \]

Data Genap

\[ \frac{x_{\left(\frac{n}{2}\right)} + x_{\left(\frac{n}{2} + 1\right)}}{2} \]

Kuartil atas(Q3)

\[ Q3 = \left(\frac{3(n + 1)}{4}\right) \]

di mana \(n\) adalah jumlah total data.

Kuartil bawah (Q1)

\[ Q1 = \left(\frac{n + 1}{4}\right) \]

di mana \(n\) adalah jumlah total data.

Minimum

\[ \min(x_1, x_2, \ldots, x_n) \]

Maksimum

\[ \max(x_1, x_2, \ldots, x_n) \] di mana \(x_1, x_2, \ldots, x_n\) adalah elemen-elemen dalam dataset.

# Statistik deskriptif untuk semua variabel
desc <-summary(DATASET_CASEMETHOD2)
Statistik Deskriptif Masing-Masing Variabel
Life_expectancy Adult_mortality Alcohol_consumption GDP_per_capita
Min. :63.40 Min. : 50.96 Min. :0.000 Min. : 556
1st Qu.:68.85 1st Qu.:123.14 1st Qu.:0.530 1st Qu.: 1302
Median :70.80 Median :154.60 Median :2.590 Median : 3001
Mean :71.98 Mean :148.13 Mean :2.793 Mean : 7832
3rd Qu.:75.40 3rd Qu.:186.02 3rd Qu.:3.940 3rd Qu.: 7224
Max. :83.80 Max. :227.74 Max. :8.550 Max. :55647

Dari output diatas didapatkan nilai minimum, kuartil bawah, median, mean, kuartil atas dan nilai maximum dari masing-masing variabel.

2.2 Nilai Korelasi Masing-Masing Variabel

Selanjutnya, untuk melihat hubungan dari masing-masing variabel, maka dicari nilai korelasinya.

Rumus manual dari Korelasi

\[ r = \frac{n \sum{xy} - \sum{x} \sum{y}}{\sqrt{(n \sum{x^2} - (\sum{x})^2)(n \sum{y^2} - (\sum{y})^2)}} \] di mana:

\(r\) adalah koefisien korelasi Pearson.

\(n\) adalah jumlah pasangan data.

\(x\) dan \(y\) adalah nilai dari dua variabel.


Berikut Korelasi dari Masing-Masing Variabel

# Korelasi antar Variabel
cor_matrix <- cor(DATASET_CASEMETHOD2)
cor_matrix <- round(cor_matrix, 3)
cor_matrix
##                     Life_expectancy Adult_mortality Alcohol_consumption
## Life_expectancy               1.000          -0.877               0.230
## Adult_mortality              -0.877           1.000              -0.003
## Alcohol_consumption           0.230          -0.003               1.000
## GDP_per_capita                0.739          -0.666               0.110
##                     GDP_per_capita
## Life_expectancy              0.739
## Adult_mortality             -0.666
## Alcohol_consumption          0.110
## GDP_per_capita               1.000

Berdasarkan output diatas, dapat disimpulkan bahwa:

  • Adult_mortality dan Life_Expectancy memiliki nilai korelasi -0.877. Artinya kedua variabel memiliki hubungan yang berkebalikan dan kuat.

  • Alcohol_consumption dan Life_Expectancy memiliki nilai korelasi 0.230. Artinya kedua variabel memiliki hubungan yang searah dan lemah.

  • GDP_per_capita dan Life_Expectancy memiliki nilai korelasi 0.739. Artinya kedua variabel memiliki hubungan yang searah dan kuat.

2.3 Uji Asumsi Klasik

Menentukan Model Regresi Linear Berganda
#Menentukan model regresi
model <- lm(Life_expectancy~ Alcohol_consumption+ Adult_mortality +GDP_per_capita, data = DATASET_CASEMETHOD2)
model
## 
## Call:
## lm(formula = Life_expectancy ~ Alcohol_consumption + Adult_mortality + 
##     GDP_per_capita, data = DATASET_CASEMETHOD2)
## 
## Coefficients:
##         (Intercept)  Alcohol_consumption      Adult_mortality  
##           8.065e+01            3.642e-01           -7.022e-02  
##      GDP_per_capita  
##           9.137e-05

Berdasarkan output persamaan regresinya yaitu:

Life expectancy = 80,65 - 0,0702 Adult mortality + 0,364 Alcohol consumption + 0,000091 GDP per capita

1.Uji Asumsi Linearitas

• Hipotesis

H0: Adanya hubungan linearitas antara variabel prediktor dan variabel respon

H1: Tidak adanya hubungan linearitas antara variabel prediktor dan variabel respon

• Taraf signifikansi

α = 5% = 0,05

• Daerah kritis

H0 ditolak jika P-value < α = 0,05

• Statistik uji
# Uji Asumsi Linearitas menggunkan Ramsey RESET 
ramsey_test <- resettest(model, power = 2)
ramsey_test
## 
##  RESET test
## 
## data:  model
## RESET = 0.00052276, df1 = 1, df2 = 22, p-value = 0.982

• Kesimpulan

Karena P-value dari variabel prediktor 0,982 > α = 0,05 maka H0 tidak ditolak yang berarti ada hubungan linearitas antara variabel prediktor dan variabel respon.

Plot Life Expectancy dengan Adult Mortality

ggplot(DATASET_CASEMETHOD2, aes(x = Adult_mortality, y = Life_expectancy)) +
  geom_point() +
  labs(title = "Scatter Plot of Life Expectancy vs Adult Mortality",
       x = "Adult Mortality",
       y = "Life Expectancy") +
  theme_minimal()+
  theme(panel.background = element_rect(fill = "pink"))

Plot Life Expectancy dengan Adult Mortality

ggplot(DATASET_CASEMETHOD2, aes(x = Alcohol_consumption, y = Life_expectancy)) +
  geom_point() +
  labs(title = "Scatter Plot of Life Expectancy vs Alcohol Cnsumption",
       x = "Alcohol Cnsumption",
       y = "Life Expectancy") +
  theme_minimal()+
  theme(panel.background = element_rect(fill = "pink"))

Plot Life Expectancy dengan Adult Mortality

ggplot(DATASET_CASEMETHOD2, aes(x = GDP_per_capita, y = Life_expectancy)) +
  geom_point() +
  labs(title = "Scatter Plot of Life Expectancy vs GDP per capita",
       x = "GDP per capita",
       y = "Life Expectancy") +
  theme_minimal()+
  theme(panel.background = element_rect(fill = "pink"))



2. Uji Normalitas Residual

● Hipotesis

H0: Data residual berdistribusi normal

H1: Data residual tidak berdistribusi normal

● Tingkat signifikansi

α = 5% = 0,05

● Daerah kritis

H0 ditolak jika P-value < α = 0,05

● Statistik Uji Visualisasi Uji Normalitas Shapiro-Wilk Menggunakan Histogram

par(bg = "lavenderblush")
# Histogram dari residual
ggplot(data.frame(Residual=resid(model)), aes(x=Residual)) +
  geom_histogram(binwidth=0.5, fill="pink", color="black") +
  labs(x = "Residual", y = "Count", title = "Histogram of Residuals")



Visualisasi Uji Normalitas Shapiro-Wilk Menggunakan Q-Q Plot

# Grafik QQ Plot untuk normalitas residual
qqnorm(resid(model), col = "deeppink")
qqline(resid(model))



Uji Normalitas menggunakan Uji Shapiro-wilk

# Uji Normalitas residual model
shapiro.test(resid(model))
## 
##  Shapiro-Wilk normality test
## 
## data:  resid(model)
## W = 0.9621, p-value = 0.4121

● Kesimpulan

  1. Melalui histogram, terlihat bahwa bentuknya sesuai dengan kurva distribusi normal.

  2. Melalui plot normal Q-Q, terlihat bahwa plot menunjukkan pola normal. Hal ini terlihat dari titik yang menyebar di sekitar grafik normal dan penyebarannya mengikuti garis diagonal.

  3. Melalui Uji Shapiro-Wilk, karena nilai P-Value = 0.4121 > α = 0,05 maka dapat disimpulkan H0 tidak ditolak yang artinya data residual berdistribusi normal.

3. Uji asumsi Non-autokorelasi

● Hipotesis

H0: Tidak terdapat autokorelasi

H1: Terdapat autokorelasi

● Tingkat signifikansi

α = 5% = 0,05

● Daerah kritis

H0 ditolak jika P-value < α = 0,05

● Statistik Uji
# Uji autokorelasi residual
durbinWatsonTest(model)
##  lag Autocorrelation D-W Statistic p-value
##    1      -0.2171159      2.337256   0.374
##  Alternative hypothesis: rho != 0

Diketahui:

DW (nilai durbin watson)    : 2,337256

n (banyaknya data)              : 27

k (banyaknya variabel)        : 3

dU        : 1,6510

dL         : 1,1624

4-dU     : 4-1,6510 = 2,349


● Kesimpulan

  1. Melalui tabel Durbin Watson, H0 tidak ditolak apabila dU < dW <4-dU = 1.6510 < 2,337256 < 2.349 yang berarti tidak ada autokorelasi positif atau negatif.

  2. Berdasarkan nilai p-value = 0.36 > α = 0,05, maka H0 tidak ditolak yang berarti tidak terdapat autokorelasi negatif atau positif, sehingga memenuhi asumsi regresi.

4. Uji Non-Multikolinearitas

  • Jika nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

  • Jika nilai VIF > 10 maka dapat disimpulkan bahwa ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

# Uji Multikolinearitas
vif(model)
## Alcohol_consumption     Adult_mortality      GDP_per_capita 
##            1.021361            1.813619            1.835749

● Kesimpulan

Dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95% atau menggunakan tingkat signifikansi 5% (nilai α = 0,05), diperoleh nilai VIF untuk variabel prediktor < 10, karena VIF < 10 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas.

5. Uji Non-Heteroskedastisitas

● Uji Hipotesis

H0: Tidak terjadi heterokesdatisitas residu

H1: Terjadi heteroskesdatisitas residu

● Tingkat signifikansi

α = 5% = 0,05

● Daerah kritis

H0 ditolak jika P-value < α = 0,05

● Statistik Uji

Visualisasi Uji Heteroskedastisitas Menggunakan Grafik Residual Plot

par(bg = "lavenderblush")
# Grafik Residual Plot untuk non-heteroskedastisitas
plot(model, which = 1, col = "deeppink")



Uji Heteroskedastisitas Menggunakan Studentized Breusch-Pagan test (bptest)

# Uji non-Heteroskedastisitas
bptest(model)
## 
##  studentized Breusch-Pagan test
## 
## data:  model
## BP = 2.6717, df = 3, p-value = 0.4451

● Kesimpulan

  1. Melalui plot residu untuk non-heteroskedastisitas, terlihat bahwa titik-titik data tersebar dan tidak membentuk pola tertentu, sehingga tidak terjadi perbedaan variansi residual yang artinya model regresi memenuhi uji asumsi non-heteroskedastisitas.

  2. Melalui Uji Breusch-Pagan, diperoleh nilai p-value variabel prediktor 0,4451 > α = 0,05 maka dapat disimpulkan H0 tidak ditolak yang artinya tidak terjadi heterokesdatisitas residu.

2.4 Uji F (Uji Kelayakan Model)

• Hipotesis

H0: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan (Model tidak layak digunakan)

H1: Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan (Model layak digunakan)

• Taraf Signifikansi

α = 5% = 0,05

• Daerah Kritis

H0 ditolak jika P-value < α = 0,05


• Statistik Uji

summary(model)
## 
## Call:
## lm(formula = Life_expectancy ~ Alcohol_consumption + Adult_mortality + 
##     GDP_per_capita, data = DATASET_CASEMETHOD2)
## 
## Residuals:
##     Min      1Q  Median      3Q     Max 
## -3.1912 -1.3674 -0.2682  1.9193  4.0894 
## 
## Coefficients:
##                       Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)    
## (Intercept)          8.065e+01  1.841e+00  43.808  < 2e-16 ***
## Alcohol_consumption  3.642e-01  1.465e-01   2.486   0.0206 *  
## Adult_mortality     -7.022e-02  1.057e-02  -6.646 8.84e-07 ***
## GDP_per_capita       9.137e-05  4.148e-05   2.203   0.0379 *  
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## 
## Residual standard error: 1.98 on 23 degrees of freedom
## Multiple R-squared:  0.8523, Adjusted R-squared:  0.833 
## F-statistic: 44.23 on 3 and 23 DF,  p-value: 1.032e-09

• Kesimpulan

Karena P value < α = 0,05, maka H0 ditolak, sehingga model layak digunakan

2.5 Uji t (Uji Parsial)

• Hipotesis

H0: Variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap model

H1: Variabel independen berpengaruh signifikan terhadap model

• Taraf signifikansi

α = 5% = 0,05

• Daerah kritis

H0 ditolak jika P-value < α = 0,05


• Statistik uji

summary(model)
## 
## Call:
## lm(formula = Life_expectancy ~ Alcohol_consumption + Adult_mortality + 
##     GDP_per_capita, data = DATASET_CASEMETHOD2)
## 
## Residuals:
##     Min      1Q  Median      3Q     Max 
## -3.1912 -1.3674 -0.2682  1.9193  4.0894 
## 
## Coefficients:
##                       Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)    
## (Intercept)          8.065e+01  1.841e+00  43.808  < 2e-16 ***
## Alcohol_consumption  3.642e-01  1.465e-01   2.486   0.0206 *  
## Adult_mortality     -7.022e-02  1.057e-02  -6.646 8.84e-07 ***
## GDP_per_capita       9.137e-05  4.148e-05   2.203   0.0379 *  
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## 
## Residual standard error: 1.98 on 23 degrees of freedom
## Multiple R-squared:  0.8523, Adjusted R-squared:  0.833 
## F-statistic: 44.23 on 3 and 23 DF,  p-value: 1.032e-09

• Kesimpulan

  1. P-value Alcohol_consumption = 0.0206 < α = 0,05 maka H0 ditolak sehingga variabel Alcohol_consumption berpengaruh signifikan terhadap variabel Life_expectancy

  2. P-value Adult_mortality = 0.000 < α = 0,05 maka H0 ditolak sehingga variabel Adult_mortality berpengaruh signifikan terhadap variabel Life_expectancy

  3. P-value GDP_per_capita = 0.0379 < α = 0,05 maka H0 ditolak sehingga variabel GDP_per_capita berpengaruh signifikan terhadap variabel Life_expectancy

3. Kesimpulan

3.1 Ringkasan model

• Model regresi linear berganda yaitu:

Life Expectancy = 80,65 - 0,0702 Adult Mortality + 0,364 Alcohol Consumption + 0,000091 GDP per capita

Artinya, jika variabel Life Expectancy naik sebanyak 1 tahun, maka akan menurunkan Adult Mortality sebesar 0.0702, menaikkan Alcohol Consumption sebesar 0.364, , dan menaikkan GDP per capita sebesar 0,000091

• Uji Simultan (Uji F): nilai P value < α = 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel independen secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen (Life Expectancy). Dengan kata lain, Adult Mortality, Alcohol Consumption, dan GDP per capita secara bersama-sama mempengaruhi Life Expectancy.

• Uji Parsial (Uji t): Variabel Adult_mortality, Alcohol Consumption, dan GDP per capita memiliki p- value < 0.05 yang berarti bahwa variabel Adult Mortality, Alcohol Consumption, dan GDP per capita masing-masing memiliki P-value < dari 0.05. Ini mengindikasikan bahwa masing-masing variabel ini secara individu berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Life Expectancy). Dengan kata lain, setiap variabel independen tersebut secara parsial memiliki kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan atau penurunan Life Expectancy.

• Nilai Koefisien Determinasi (diperoleh dari Adjusted R-Square) memiliki nilai 0.833 atau 83.3% menunjukkan bahwa model regresi ini mampu menjelaskan 83.3% variasi dari variabel dependen (Life Expectancy). Artinya, variasi dalam Life Expectancy dapat dijelaskan oleh variasi dalam Adult Mortality, Alcohol Consumption, dan GDP per capita. Sisanya, sebesar 16.7%, dapat dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak termasuk dalam model ini.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model regresi ini cukup baik dalam menjelaskan pengaruh variabel-variabel independen terhadap Life Expectancy. Variabel Adult Mortality, Alcohol Consumption, dan GDP per capita memiliki pengaruh signifikan baik secara simultan maupun parsial terhadap Life Expectancy, dan model ini dapat menjelaskan sebagian besar variasi dalam Life Expectancy.

Author Icon Devi Endang Pratiwi (M0722032)