Penerapan Analisis Regresi Linier Berganda pada Angka Harapan Hidup di Nigeria Tahun 2000-2015

Pendahuluan

Latar Belakang

Harapan hidup merupakan indikator penting kesehatan dan kesejahteraan suatu bangsa. Di Nigeria, harapan hidup telah meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir, namun masih jauh dari rata-rata global. Faktor-faktor yang mempengaruhi harapan hidup di Nigeria kompleks dan multidimensional, dan penelitian ini bertujuan untuk meneliti peran tiga faktor utama: BMI, Konsumsi Alkohol, dan Hepatitis-B. BMI (Body Mass Index) adalah ukuran berat badan dan tinggi badan yang digunakan untuk menilai status gizi. Di Nigeria, terdapat prevalensi obesitas dan kekurangan gizi yang signifikan. Kedua kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis dan kematian dini, sehingga berdampak negatif pada harapan hidup. Konsumsi alkohol yang berlebihan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di Nigeria. Penelitian telah menunjukkan hubungan antara konsumsi alkohol yang berlebihan dan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular, kanker, dan sirosis hati. Hal ini dapat berdampak negatif pada harapan hidup secara keseluruhan. Hepatitis-B adalah infeksi virus yang menyerang hati. Di Nigeria, prevalensi Hepatitis-B cukup tinggi, terutama di daerah pedesaan. Infeksi kronis Hepatitis-B dapat menyebabkan sirosis hati dan kanker hati, yang dapat memperpendek harapan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Konsumsi Alkohol, Hepatitis-B, dan BMI terhadap harapan hidup di Nigeria pada periode tahun 2000-2015

Kajian Teori

2.1 Analisis Regresi Linier Berganda

Regresi linier berganda merupakan model persamaan yang menjelaskan hubungan satu variabel tak bebas/response (\(Y\)) dengan dua atau lebih variabel bebas/predictor (\(X_1, X_2, ..., X_n\)). Tujuan dari uji regresi linier berganda adalah untuk memprediksi nilai variabel tak bebas/response (\(Y\)) apabila nilai-nilai variabel bebasnya/predictor (\(X_1, X_2, ..., X_n\)) diketahui. Disamping itu juga untuk dapat mengetahui bagaimana arah hubungan variabel tak bebas dengan variabel bebasnya.

Persamaan regresi linier berganda secara matematik diekspresikan sebagai berikut:

\[Y = \beta_0 + \beta_1X_1 + \beta_2X_2 +...+\beta_pX_p +\epsilon_i\] dimana:

\(Y=\) variabel tak bebas/dependen (nilai variabel yang akan diprediksi)

\(\beta_0=\) konstanta

\(\beta_1,\beta_2,...,\beta_n=\) nilai koefisien regresi

\(X_1,X_2,...,X_n=\) variabel bebas/independen

\(\epsilon_i=\) galat

2.2 Uji Signifikansi

2.2.1 Uji Simultan (Uji F)

Uji F diperlukan untuk mengetahui adanya pengaruh simultan dari semua variabel independen yang dirumuskan terhadap variabel dependennya.

2.2.2 Uji Parsial (Uji t)

Uji t pada dasarnya dilakukan untuk menguji pengaruh dari masing-masing variabel independennya terhadap variabel dependennya.

2.3 Uji Asumsi Klasik

Pada model regresi linear berganda, perlu dilakukan uji asumsi klasik untuk mengetahui apakah model memenuhi asumsi klasik atau tidak. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah asumsi-asumsi yang penting telah dilanggar atau tidak. Suatu model regresi linear harus memenuhi beberapa asumsi yaitu sisaan berdistribusi normal, variansi sisaan homogen, tidak ada autokorelasi, dan tidak terjadi multikolinearitas.

2.3.1 Uji Normalitas

Regresi linier mengasumsikan bahwa sisaan berdistribusi normal dengan rata-rata nol dan variansi konstan \((\epsilon\)~\(N(0,\sigma^2))\) (Gujarati, 2004). Apabila nilai p-value < \(\alpha\) = 0.05, maka sisaan tidak berdistribusi normal.

2.3.2 Uji Homoskedastisitas

Uji homokedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual, dari suatu pengamatan ke pengamatan lain. Syarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas (Gujarati, 2003). Jika p-value < \(\alpha\) = 0.05 maka variansi sisaan tidak homogen.

2.3.3 Uji Non Autokorelasi

Pengujian non autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah terdapat korelasi antara sisaan dalam model regresi linier pada periode waktu atau ruang sebelumnya. Jika p-value < \(\alpha\) = 0.05, maka terdapat autokorelasi.

2.3.4 Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah situasi di mana terdapat korelasi yang tinggi antara variabel independen dalam model regresi linear berganda. Uji multikolinearitas bertujuan untuk menentukan apakah terdapat korelasi yang tinggi antara variabel independen dalam model regresi. Jika nilai VIF > 10 menunjukkan adanya multikolinearitas.

2.4 Koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi (R-squared/ \(R^2\)) merupakan statistik yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara variabel independen dan variabel dependen dalam model regresi linier. Nilai R-squared menunjukkan seberapa besar persentase variasi variabel dependen yang dijelaskan oleh variabel independen. Nilai R-squared berada di antara 0 dan 1, semakin tinggi nilai R-squared maka semakin kuat hubungan antara variabel independen dan variabel dependen, serta menunjukkan hubungan linier sempurna antara variabel independen dan variabel dependen.

Data

2.1 Library

Dalam melakukan analisis regresi berganda di Software RStudio terdapat beberapa package library yang diperlukan. Jika belum memiliki library yang akan digunakan, dapat menginstalnya terlebih dahulu atau menuliskan syntax install.packages(). Beberapa library yang akan digunakan dalam analisis regresi berganda ini diantaranya adalah sebagai berikut:

library(lmtest)
library(car)
library(ggplot2)
library(dplyr)
library(knitr)
library(stats)
library(base)
library(rmarkdown)

2.2 Input Data

Data yang akan digunakan dalam analisis ini adalah data BMI, Konsumsi Alkohol, Hepatitis B dan Angka Harapan Hidup di Nigeria yang diambil dari tahun 2000 - 2015.

Variabel dependen yang akan digunakan adalah Angka Harapan Hidup : Rata-rata harapan hidup kedua jenis kelamin pada tahun yang berbeda dari tahun 2010 - 2015.

Variabel independen yang digunakan dalam analisis ini yaitu:

  1. BMI : ukuran status gizi pada orang dewasa. Didefinisikan sebagai berat badan seseorang dalam (\(kg/m^2\))
  2. Konsumsi Alkohol : Konsumsi alkohol murni (dalam liter) per kapita pada usia 15+ tahun
  3. Hepatitis B : Mewakili persentase cakupan imunisasi Hepatitis B (HepB3) pada anak usia 1 tahun.

Syntax yang akan digunakan untuk menginput data adalah sebagai berikut:

Tahun <- c(2000,2001,2002,2003,2004,2005,2006,2007,2008,2009,2010,2011,2012,2013,2014,2015)
Angka_Harapan_Hidup <- c(46.3,46.5,46.8,47.2,47.7,48.3,48.8,49.4,49.9,50.4,50.9,51.3,51.8,52.2,52.7,53.1)
BMI <- c(22.3,22.4,22.5,22.5,22.6,22.7,22.8,22.8,22.9,22.9,23,23,23.1,23.1,23.2,23.2)
Konsumsi_Alkohol <- c(11.47,11.17,11.09,11.33,11.33,11.24,11.18,11.04,10.79,10.58,5.22,4.99,4.73,4.45,4.45,4.51)
Hepatitis_B <- c(29,29,29,29,29,18,27,42,41,63,49,46,42,46,49,49)
data_filter <- data.frame(Angka_Harapan_Hidup, BMI, Konsumsi_Alkohol, Hepatitis_B)
data <- data.frame(Tahun, Angka_Harapan_Hidup, BMI, Konsumsi_Alkohol, Hepatitis_B)
knitr::kable(
  head(data, 16),
  "pipe", 
  col.name = c("Tahun", "Angka Harapan Hidup", "BMI", "Konsumsi Alkohol", "Hepatitis B"),
  align = "lcccc"
  )
Tahun Angka Harapan Hidup BMI Konsumsi Alkohol Hepatitis B
2000 46.3 22.3 11.47 29
2001 46.5 22.4 11.17 29
2002 46.8 22.5 11.09 29
2003 47.2 22.5 11.33 29
2004 47.7 22.6 11.33 29
2005 48.3 22.7 11.24 18
2006 48.8 22.8 11.18 27
2007 49.4 22.8 11.04 42
2008 49.9 22.9 10.79 41
2009 50.4 22.9 10.58 63
2010 50.9 23.0 5.22 49
2011 51.3 23.0 4.99 46
2012 51.8 23.1 4.73 42
2013 52.2 23.1 4.45 46
2014 52.7 23.2 4.45 49
2015 53.1 23.2 4.51 49

2.3 Hubungan Variabel Independen dengan Variabel Dependen

2.3.1 Plot Angka Harapan Hidup (Y) dengan BMI (X1)

plot(data$BMI, data$Angka_Harapan_Hidup)

Berdasarkan plot di atas, diduga variabel BMI memiliki hubungan dengan variabel Angka Harapan Hidup karena titik-titik tersebut seperti membentuk suatu pola garis lurus.

2.3.2 Plot Angka Harapan Hidup (Y) dengan Konsumsi Alkohol (X2)

plot(data$Konsumsi_Alkohol, data$Angka_Harapan_Hidup)

Berdasarkan plot di atas, diduga variabel Konsumsi Alkohol tidak memiliki hubungan dengan variabel Angka Harapan Hidup karena titik-titik tersebut menyebar tidak beraturan.

2.3.3 Plot Angka Harapan Hidup (Y) dengan Hepatitis B (X3)

plot(data$Hepatitis_B, data$Angka_Harapan_Hidup)

Berdasarkan plot di atas, diduga variabel Hepatitis B tidak memiliki hubungan dengan variabel Angka Harapan Hidup karena titik-titik tersebut menyebar tidak beraturan serta tidak membentuk suatu pola garis lurus.

Hasil dan Pembahasan

3.1 Statistika Deskriptif

summary(data_filter)
##  Angka_Harapan_Hidup      BMI        Konsumsi_Alkohol  Hepatitis_B   
##  Min.   :46.30       Min.   :22.30   Min.   : 4.450   Min.   :18.00  
##  1st Qu.:47.58       1st Qu.:22.57   1st Qu.: 4.925   1st Qu.:29.00  
##  Median :49.65       Median :22.85   Median :10.915   Median :41.50  
##  Mean   :49.58       Mean   :22.81   Mean   : 8.723   Mean   :38.56  
##  3rd Qu.:51.42       3rd Qu.:23.02   3rd Qu.:11.195   3rd Qu.:46.75  
##  Max.   :53.10       Max.   :23.20   Max.   :11.470   Max.   :63.00

Melalui statistik deskriptif diatas, didapatkan nilai minimum, kuartil bawah, median, mean, kuartil atas, dan nilai maksimum dari keempat variabel.

boxplot(data_filter)

Berdasarkan boxplot di atas tidak menunjukkan adanya outlier data.

3.2 Nilai korelasi dari setiap Variabel

cor_matrix <- cor(data_filter)
cor_matrix <- round(cor_matrix, 2)
cor_matrix
##                     Angka_Harapan_Hidup   BMI Konsumsi_Alkohol Hepatitis_B
## Angka_Harapan_Hidup                1.00  0.99            -0.88        0.76
## BMI                                0.99  1.00            -0.83        0.71
## Konsumsi_Alkohol                  -0.88 -0.83             1.00       -0.60
## Hepatitis_B                        0.76  0.71            -0.60        1.00

Melalui output diatas, terlihat bahwa:

  1. Variabel BMI dan variabel Angka Harapan Hidup memiliki nilai korelasi sebesar 0.99. Artinya kedua variabel memiliki hubungan yang sangat kuat.
  2. Variabel Konsumsi Alkohol dan variabel Angka Harapan Hidup memiliki nilai korelasi sebesar -0.88. Artinya kedua variabel memiliki hubungan yang kuat dan berkebalikan.
  3. Variabel Hepatitis B dan variabel Angka Harapan Hidup memiliki nilai korelasi sebesar 0.76. Artinya kedua variabel memiliki hubungan yang kuat.

3.3 Analisis Regresi Berganda

regresi <- lm(Angka_Harapan_Hidup ~ BMI + Konsumsi_Alkohol + Hepatitis_B, data=data)
regresi
## 
## Call:
## lm(formula = Angka_Harapan_Hidup ~ BMI + Konsumsi_Alkohol + Hepatitis_B, 
##     data = data)
## 
## Coefficients:
##      (Intercept)               BMI  Konsumsi_Alkohol       Hepatitis_B  
##        -90.10432           6.13565          -0.12301           0.02046

Diperoleh model regresi adalah sebagai berikut:

\[Y=-90.10432 + 6.13565X_1-0.12301X_2+0.02046X_3\]

Berdasarkan persamaan di atas, interpretasinya adalah sebagai berikut:

  1. Jika BMI, Konsumsi Alkohol dan Hepatitis B adalah nol atau tetap, maka Angka Harapan Hidup adalah -90.10432. Nilai negatif menunjukkan bahwa terdapat hubungan berlawanan arah.
  2. Setiap kenaikan satu \((kg/m^2)\) BMI akan menaikkan Angka Harapan Hidup sebesar 6.13565 satuan.
  3. Setiap kenaikan satu liter alkohol murni per kapita akan menurunkan Angka Harapan Hidup sebesar 0.12301 satuan.
  4. Setiap kenaikan satu persen Hepatitis B akan menaikkan Angka Harapan Hidup sebesar 0.02046 satuan.

mkt <- lm(Angka_Harapan_Hidup ~ BMI + Konsumsi_Alkohol + Hepatitis_B, data = data)
summary(mkt)
## 
## Call:
## lm(formula = Angka_Harapan_Hidup ~ BMI + Konsumsi_Alkohol + Hepatitis_B, 
##     data = data)
## 
## Residuals:
##     Min      1Q  Median      3Q     Max 
## -0.4762 -0.0725 -0.0059  0.1174  0.4093 
## 
## Coefficients:
##                    Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)    
## (Intercept)      -90.104324  11.091165  -8.124 3.21e-06 ***
## BMI                6.135648   0.481853  12.733 2.49e-08 ***
## Konsumsi_Alkohol  -0.123010   0.037892  -3.246    0.007 ** 
## Hepatitis_B        0.020464   0.008124   2.519    0.027 *  
## ---
## Signif. codes:  0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
## 
## Residual standard error: 0.2594 on 12 degrees of freedom
## Multiple R-squared:  0.9898, Adjusted R-squared:  0.9872 
## F-statistic: 386.7 on 3 and 12 DF,  p-value: 3.362e-12

Summary di atas digunakan untuk mengetahui hasil analisis regresi secara lengkap dari sisi uji signifikansi dan juga uji asumsinya.

3.4 Uji Signifikansi

3.4.1 Uji Simultan (Uji-F)

Hipotesis

\(H_0:\) Semua variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen

\(H_1:\) Paling tidak satu variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen

Taraf Signifikansi, \(\alpha=0.05\)

Daerah kritis, \(H_0\) ditolak jika p-value < 0.05

Kesimpulan : Berdasarkan summary MKT sebelumnya, diketahui bahwa p-value = 3.362e-12 < 0.05, maka \(H_0\) ditolak, yang artinya adalah terdapat variabel di antara BMI, Konsumsi Alkohol, dan Hepatitis B berpengaruh signifikan terhadap Angka Harapan Hidup.

3.4.2 Uji Parsial (Uji-t)

Hipotesis BMI

\(H_0:\) Variabel BMI tidak berpengaruh signifikan terhadap Angka Harapan Hidup

\(H_1:\) Variabel BMI berpengaruh signifikan terhadap Angka Harapan Hidup

Hipotesis Konsumsi Alkohol

\(H_0:\) Variabel Konsumsi Alkohol tidak berpengaruh signifikan terhadap Angka Harapan Hidup

\(H_1:\) Variabel Konsumsi Alkohol berpengaruh signifikan terhadap Angka Harapan Hidup

Hipotesis Hepatitis B

\(H_0:\) Variabel Hepatitis B tidak berpengaruh signifikan terhadap Angka Harapan Hidup

\(H_1:\) Variabel Hepatitis B berpengaruh signifikan terhadap Angka Harapan Hidup

Taraf Signifikansi, \(\alpha=0.05\)

Daerah kritis, \(H_0\) ditolak jika t-value < 0.05

Kesimpulan : Berdasarkan summary MKT sebelumnya, diketahui bahwa t-value BMI = 2.49e-08 < 0.05, t-value Konsumsi Alkohol = 0.007 < 0.05, dan t-value Hepatitis B = 0.027 < 0.05, maka \(H_0\) ditolak, yang artinya adalah variabel BMI, Konsumsi Alkohol, dan Hepatitis B berpengaruh signifikan terhadap Angka Harapan Hidup.

3.5 Uji Asumsi

3.5.1 Uji Normalitas

Hipotesis

\(H_0:\) Residu berdistribusi normal

\(H_1:\) Residu tidak berdistribusi normal

Taraf Signifikansi, \(\alpha=0.05\)

Daerah kritis, \(H_0\) ditolak jika p-value < 0.05

Statistik Uji,

residu = resid(mkt)
shapiro.test(residu)
## 
##  Shapiro-Wilk normality test
## 
## data:  residu
## W = 0.9496, p-value = 0.4834

Kesimpulan : Berdasarkan uji Saphiro-Wilk di atas dengan p-value = 0.4834 > 0.05, maka \(H_0\) gagal ditolak dan disimpulkan bahwa residu berdistribusi normal.

3.5.2 Uji Homogenitas

Hipotesis

\(H_0:\) Variansi sisaan homogen

\(H_1:\) Variansi sisaan tidak homogen

Taraf Signifikansi, \(\alpha=0.05\)

Daerah kritis, \(H_0\) ditolak jika p-value < 0.05

Statistik Uji,

bptest(mkt)
## 
##  studentized Breusch-Pagan test
## 
## data:  mkt
## BP = 3.039, df = 3, p-value = 0.3857

Kesimpulan : Berdasarkan uji Breusch-Pagan di atas dengan p-value = 0.3857 > 0.05, maka \(H_0\) gagal ditolak dan disimpulkan bahwa variansi sisaan homogen.

3.5.3 Uji Autokorelasi

Hipotesis

\(H_0:\) Tidak terdapat autokorelasi

\(H_1:\) Terdapat autokorelasi

Taraf Signifikansi, \(\alpha=0.05\)

Daerah kritis, \(H_0\) ditolak jika p-value < 0.05

Statistik Uji,

dwtest(mkt)
## 
##  Durbin-Watson test
## 
## data:  mkt
## DW = 1.7783, p-value = 0.1029
## alternative hypothesis: true autocorrelation is greater than 0

Kesimpulan : Berdasarkan uji Durbin-Watson di atas dengan p-value = 0.4323 > 0.05, maka \(H_0\) gagal ditolak dan disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi.

3.5.4 Uji Multikolinearitas

Hipotesis

\(H_0:\) Tidak terdapat multikolinearitas antar variabel independen

\(H_1:\) Terdapat multikolinearitas antar variabel independen

Taraf Signifikansi, \(\alpha=0.05\)

Daerah kritis, \(H_0\) ditolak jika VIF > 10

Statistik Uji,

vif(mkt)
##              BMI Konsumsi_Alkohol      Hepatitis_B 
##         4.271486         3.300122         2.038679

Kesimpulan : Berdasarkan nilai VIF di atas dengan BMI = 4.271486, Konsumsi Alkohol = 3.300122, dan Hepatitis B = 2.038679, yang mana ketiganya < 10 maka \(H_0\) gagal ditolak dan disimpulkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas antar variabel independen.

3.6 Koefisien Determinasi

Berdasarkan summary dari MKT sebelumnya, diketahui bahwa Adjusted R-squared adalah 0.9872, sehingga diambil kesimpulan bahwa 98,72% variabel Angka Harapan Hidup dipengaruhi oleh variabel BMI, Konsumsi Alkohol, dan Hepatitis B, serta sisanya 0.0128 atau sebesar 1,28% dipengaruhi oleh variabel lain yang belum termasuk ke dalam model.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya, diperoleh model regresinya adalah sebagai berikut:

\[Y=-90.10432 + 6.13565X_1-0.12301X_2+0.02046X_3\]

Dari persamaan di atas, interpretasinya adalah sebagai berikut:

  1. Jika BMI, Konsumsi Alkohol dan Hepatitis B adalah nol atau tetap, maka Angka Harapan Hidup adalah -90.10432. Nilai negatif menunjukkan bahwa terdapat hubungan berlawanan arah.
  2. Setiap kenaikan satu \((kg/m^2)\) BMI akan menaikkan Angka Harapan Hidup sebesar 6.13565 satuan.
  3. Setiap kenaikan satu liter alkohol murni per kapita akan menurunkan Angka Harapan Hidup sebesar 0.12301 satuan.
  4. Setiap kenaikan satu persen Hepatitis B akan menaikkan Angka Harapan Hidup sebesar 0.02046 satuan.

Model memenuhi semua uji signifikansi, yaitu variabel BMI, Konsumsi Alkohol, dan Hepatitis B berpengaruh signifikan terhadap Angka Harapan Hidup. Selain itu juga model memenuhi semua uji asumsi, yaitu residu berditribusi normal, variansi sisaan homogen, tidak terdapat autokorelasi, dan tidak terdapat multikolinearitas.

Selain itu, diketahui bahwa Adjusted R-squared adalah 0.9872, sehingga diambil kesimpulan bahwa 98,72% variabel Angka Harapan Hidup dipengaruhi oleh variabel BMI, Konsumsi Alkohol, dan Hepatitis B, serta sisanya 0.0128 atau sebesar 1,28% dipengaruhi oleh variabel lain yang belum termasuk ke dalam model.