data <- read.csv("D:/Shabrina/College/Semester 4/Analisis Regresi/Pertemuan 2/data liver.csv", sep=";")
y<-data$Y
x1<-data$X1
x2<-data$X2
x3<-data$X3
x4<-data$X4
x5<-data$X5
x6<-data$X6
data<-data.frame(cbind(y,x1,x2,x3,x4,x5,x6))
head(data)
n <- nrow(data)
n
## [1] 36
p <- ncol(data)
p
## [1] 7
plot(x4, y)
Berdasarkan scatter plot di atas, dapat dilihat bahwa data membentuk garis linear positif yang menandakan hubungan positif antara variabel x4 dan y. Selain itu, sebaran data dari kiri bawah menuju kanan atas semakin menyebar yang juga menunjukkan keragaman yang semakin besar. Adapun, korelasi antara variabel x4 dan y cenderung tidak terlalu erat.
summary(y)
## Min. 1st Qu. Median Mean 3rd Qu. Max.
## 120.9 143.9 160.7 169.7 191.8 247.4
boxplot(y)
Berdasarkan boxplot peubah acak x di atas, dapat dilihat bahwa distribusi data menjulur ke kanan.
summary(x4)
## Min. 1st Qu. Median Mean 3rd Qu. Max.
## 2.060 4.065 6.095 6.811 8.998 15.000
b1 <- (sum(x4*y)-(sum(x4)*sum(y)/n))/(sum(x4^2)-((sum(x4)^2)/n))
b1
## [1] 5.812239
b0 <- mean(y)-b1*mean(x4)
b0
## [1] 130.1367
r <- (sum(x4*y)-sum(x4)*sum(y)/n)/sqrt((sum(x4^2)-(sum(x4)^2/n))*(sum(y^2)-(sum(y)^2/n)))
Koef_det <- r^2
Koef_det
## [1] 0.317748
Koefisien determinasi atau R-squared yang diperoleh sebesar 0.317748 yang menunjukkan korelasi yang cenderung lemah karena mendekati 0 dan menjauhi 1. Dalam model regresi linear sederhana ini, ragam dalam peubah acak y yang dapat dijelaskan oleh peubah tetap x4 sebesar 31.78%.
Adj_R2 <- 1-((1-Koef_det)*(n-1)/(n-1-1))
Adj_R2
## [1] 0.2976818
Adjusted R-squared memberikan indikasi bahwa sekitar 29.77% ragam dalam peubah acak Y dapat dijelaskan oleh model regresi yang telah diperoleh.
galat <- y-(b0+b1*x4)
ragam_galat <- sum(galat^2)/(n-2)
se_b1 <- sqrt(ragam_galat/sum((x4-mean(x4))^2))
se_b1
## [1] 1.460612
Dengan dugaan b1 sebesar 5.812, terdapat ketidakpastian sekitar 1.461.
se_b0 <- sqrt(ragam_galat*(1/n+mean(x4)^2/sum((x4-mean(x4))^2)))
se_b0
## [1] 10.95912
Dengan dugaan b0 sebesar 130.137, terdapat ketidakpastian sekitar 10.959.
t_b0 <- b0/se_b0
t_b0
## [1] 11.87473
t_b1 <- b1/se_b1
t_b1
## [1] 3.979316
2*pt(-abs(t_b0), df<-n-2)
## [1] 1.202686e-13
2*pt(-abs(t_b1), df<-n-2)
## [1] 0.0003435874
galat <- y-(b0+b1*x4)
JKG <- sum((y-(b0+b1*x4))^2)
JKReg <- sum(((b0+b1*x4)-mean(y))^2)
JKT <- sum((y-mean(y))^2)
JKT <- JKReg+JKG
dbReg <- 1
dbg <- n-2
dbt <- n-1
Fhit <- (JKReg/dbReg)/(JKG/dbg)
Fhit
## [1] 15.83496
P.value<-1-pf(Fhit, dbReg, dbg, lower.tail=F)
P.value
## [1] 0.9996564
model<-lm(y~x4,data<-data)
summary(model)
##
## Call:
## lm(formula = y ~ x4, data = data <- data)
##
## Residuals:
## Min 1Q Median 3Q Max
## -44.630 -13.162 -4.809 15.601 63.697
##
## Coefficients:
## Estimate Std. Error t value Pr(>|t|)
## (Intercept) 130.137 10.959 11.875 1.2e-13 ***
## x4 5.812 1.461 3.979 0.000344 ***
## ---
## Signif. codes: 0 '***' 0.001 '**' 0.01 '*' 0.05 '.' 0.1 ' ' 1
##
## Residual standard error: 27.58 on 34 degrees of freedom
## Multiple R-squared: 0.3177, Adjusted R-squared: 0.2977
## F-statistic: 15.83 on 1 and 34 DF, p-value: 0.0003436
Berdasarkan model regresi linear sederhana yang diperoleh melalui fungsi lm maupun manual didapatkan nilai yang sama, mulai dari b0, b1, R^2, Adjusted R^2, F-hitung, standard error, t-value, dan p-value. Hal tersebut membuktikan kedua cara valid untuk digunakan. Interpretasi parameter model regresi di atas yakni, nilai dugaan rataan y ketika x4 bernilai 0 (jika x4=0 berada dalam selang pengamatan) adalah 130.1367. Namun, karena x4=0 tidak berada dalam selang pengamatan, b0 tidak memiliki interpretasi. Ada kemungkinan b0 memiliki interpretasi/makna ketika konteks data yang digunakan diketahui lebih lanjut. Adapun, nilai dugaan rataan y akan meningkat sebesar 5.812239 ketika x4 berubah satu satuan.